Uraian Lengkap Buku The Social System Karya Talcott Parsons: Konsep, Teori, dan Analisis Mendalam

Table of Contents

Buku The Social System Karya Talcott Parsons
I. Pengantar: Konteks Intelektual, Tujuan, dan Signifikansi The Social System

Buku The Social System yang diterbitkan pada tahun 1951 adalah salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah sosiologi, menempatkan Talcott Parsons sebagai salah satu tokoh sosiologi paling sentral di abad ke-20. Untuk memahami kedudukan buku ini, penting untuk melihatnya dalam evolusi pemikiran Parsons. 

Karir intelektualnya diawali dengan karya seminalnya, The Structure of Social Action (1937), di mana ia menganalisis dan menyatukan pemikiran dari para sosiolog klasik Eropa seperti Max Weber, Émile Durkheim, dan Vilfredo Pareto. Karya perintis tersebut meletakkan "fondasi yang kokoh" untuk teori aksi (action theory) dengan tujuan membangun teori sosial yang sistematis dan dapat digeneralisasi.

The Social System merupakan eksposisi definitif dan "kemajuan ilmiah dan intelektual besar" dari teori aksi yang ia rintis sebelumnya. Tujuan utamanya adalah untuk menyajikan skema konseptual yang sistematis dan tergeneralisasi untuk menganalisis struktur dan proses sistem sosial. Parsons mengambil inspirasi dari Vilfredo Pareto dan berupaya merealisasikan niat Pareto untuk menganalisis sistem sosial sebagai sebuah sistem.

Dengan demikian, buku ini tidak hanya merangkum ide-ide sosiologis, tetapi secara sadar membangun sebuah kerangka teoretis yang koheren, di mana setiap konsep — mulai dari unit aksi hingga mekanisme perubahan — saling terhubung dalam sebuah tatanan logis.

Kompleksitas gaya penulisannya sering kali dikaitkan dengan ambisi Parsons untuk menjadikan sosiologi sebagai ilmu analitis yang setara dengan ilmu-ilmu lain, sebuah tujuan yang secara fundamental memengaruhi cara ia menyajikan argumennya.

Signifikansi buku ini dalam sosiologi modern tidak dapat dilebih-lebihkan. Parsons adalah yang pertama kali merumuskan teori sistem sosial secara sistematis, dan karyanya meletakkan dasar bagi studi teori sistem sosial, memicu perdebatan tentang kerangka kerja yang seharusnya digunakan untuk menganalisis masyarakat. Konsepnya tentang sistem sosial menawarkan pandangan holistik terhadap masyarakat, menekankan saling ketergantungan dan keterkaitan antar elemen-elemennya. 

Pendekatan tingkat-sistem ini memungkinkan sosiolog untuk tidak hanya fokus pada elemen individu, tetapi juga memeriksa bagaimana struktur sosial, institusi, dan proses bekerja sama untuk membentuk dan mempertahankan stabilitas serta tatanan masyarakat seiring waktu.

II. Landasan Teoretis: Kerangka Aksi dan Interpenetrasi Sistem Tindakan

Kerangka teoretis yang mendasari seluruh analisis Parsons adalah "Kerangka Acuan Aksi" (Action Frame of Reference). Parsons menolak pandangan reduksionis yang menyatakan bahwa perilaku manusia sepenuhnya ditentukan oleh proses psikologis internal atau faktor biologis semata. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa tindakan sosial adalah "voluntaristis" — artinya, aktor memiliki pilihan — namun pilihan ini dibatasi dan dibentuk oleh nilai-nilai budaya dan struktur sosial. 

Unit dasar analisis Parsons adalah "unit act," yang memiliki beberapa komponen kunci: seorang aktor aktif dan sadar; tujuan atau sasaran yang ingin dicapai; serangkaian pilihan atau cara yang mungkin; kendala lingkungan; dan, yang paling penting, orientasi normatif yang memandu tindakan.

Secara lebih luas, Parsons melihat realitas sosial sebagai bagian dari "sistem tindakan umum" yang terdiri dari empat subsistem utama yang saling berinteraksi. Keempat subsistem ini adalah:
1. Sistem Budaya (Cultural System): Berada di puncak hierarki kontrol sibernektik, sistem ini diorganisasikan di sekitar kompleks makna simbolis, termasuk kode, nilai, dan kepercayaan. Parsons melihat budaya sebagai "kekuatan utama yang mengikat berbagai unsur dunia sosial".
2. Sistem Sosial (Social System): Inilah subsistem yang menjadi fokus utama buku ini. Sistem sosial didefinisikan sebagai jaringan interaksi antaraktor. Fungsi utamanya adalah integrasi, yaitu mengoordinasikan unit-unit penyusunnya — individu atau kolektivitas — untuk menjaga kohesi sosial.
3. Sistem Kepribadian (Personality System): Subsistem yang berpusat pada motivasi dan orientasi tindakan individu. Fungsi utamanya adalah pencapaian tujuan (goal attainment), yaitu implementasi prinsip-prinsip dan persyaratan budaya melalui tindakan.
4. Organisme Perilaku (Behavioral Organism): Merupakan aspek biologis dan fisik manusia. Fungsi utamanya adalah adaptasi terhadap lingkungan fisik, berfungsi sebagai titik kontak antara sistem aksi dan dunia fisik.

Sebuah wawasan krusial dalam teori ini adalah konsep "interpenetrasi" dan "sistem terbuka". Parsons berpendapat bahwa sistem sosial bukanlah entitas yang tertutup, melainkan "sistem terbuka" yang secara rumit berinteraksi dan bertukar dengan sistem-sistem di lingkungannya. Batas (boundaries) yang ada di antara sistem-sistem ini tidaklah statis, melainkan memiliki "zona interpenetrasi" di mana komponen dari satu sistem dapat menjadi bagian dari sistem lain. 

Contoh utamanya adalah bagaimana nilai-nilai budaya dapat "diinternalisasi" ke dalam kepribadian individu, sehingga menghubungkan sistem budaya dan sistem kepribadian melalui mekanisme sosialisasi. Konsep ini adalah jembatan kausal antara struktur sosial yang lebih besar dengan motivasi dan tindakan individu.

III. Anatomi Sistem Sosial: Struktur, Komponen, dan Variabel Pola

Parsons mendefinisikan sistem sosial sebagai sebuah jaringan hubungan antaraktor yang terstruktur. Untuk menganalisisnya, ia menyediakan serangkaian kategori struktural, dari yang paling mikro hingga paling makro:

  • Peran (Role): Merupakan pola perilaku yang diharapkan dan dapat diterima secara sosial yang terkait dengan posisi atau status tertentu. Peran adalah unit dasar interaksi sosial.
  • Kolektivitas (Collectivity): Kelompok individu yang berinteraksi berdasarkan peran dan norma yang sama, seperti keluarga atau organisasi.
  • Norma (Norms): Aturan-aturan yang mengatur interaksi dan perilaku dalam sebuah kolektivitas.
  • Nilai (Values): Standar budaya yang lebih luas yang menjadi dasar bagi norma-norma dan memberikan orientasi dasar bagi seluruh sistem sosial.

Sebagai alat analitis untuk memahami bagaimana nilai dan norma memengaruhi tindakan aktor, Parsons mengembangkan konsep "Variabel Pola" (Pattern Variables). Ini adalah serangkaian "konstruksi dikotomi" yang mengkategorikan jenis-jenis pilihan dan orientasi bagi aktor sosial. 

Variabel-variabel ini berfungsi sebagai "tipe ideal" yang membantu memetakan orientasi nilai dan norma yang menjadi karakteristik hubungan atau masyarakat tertentu. Dalam praktiknya, tindakan nyata sering kali merupakan kombinasi atau berada di antara dua kutub dikotomi ini.

Berikut adalah uraian mendalam dari lima pasangan dikotomi utama:

  • Afektivitas vs. Netralitas Afektif (Affectivity vs. Affective Neutrality): Dikotomi ini berkaitan dengan sejauh mana ekspresi emosi diperbolehkan atau diharapkan dalam sebuah interaksi. Hubungan yang dicirikan oleh afektivitas (misalnya, hubungan orang tua-anak) melibatkan ekspresi emosi yang spontan. Sebaliknya, hubungan yang dicirikan oleh netralitas afektif (misalnya, hubungan birokrat-warga) menuntut pengendalian emosi dan sikap yang objektif.
  • Partikularisme vs. Universalisme (Particularism vs. Universalism): Ini mengacu pada dasar perlakuan terhadap individu lain dalam suatu interaksi. Pilihan partikularistik didasarkan pada hubungan khusus (misalnya, perlakuan orang tua terhadap anaknya), sedangkan pilihan universalistik didasarkan pada norma dan aturan umum yang berlaku untuk semua orang (misalnya, perlakuan dokter terhadap pasien, tanpa memandang hubungan personal).
  • Difusitas vs. Spesifisitas (Diffuseness vs. Specificity): Variabel ini berfokus pada ruang lingkup atau jangkauan kewajiban dalam sebuah hubungan sosial. Hubungan difus memiliki kewajiban yang luas dan tidak terbatas (misalnya, hubungan persahabatan), sementara hubungan spesifik memiliki kewajiban yang jelas dan terbatas pada tujuan tertentu (misalnya, hubungan antara pelanggan dan kasir).
  • Askripsi vs. Pencapaian (Ascription vs. Achievement): Dikotomi ini menyangkut dasar penentuan status individu dalam masyarakat. Askripsi (Ascription) mengacu pada kualitas bawaan seperti jenis kelamin, etnis, atau status keluarga yang menentukan posisi seseorang, sering ditemukan dalam masyarakat tradisional. Pencapaian (Achievement) mengacu pada prestasi, kinerja, atau apa yang berhasil dicapai individu melalui usaha mereka sendiri, yang menjadi ideal dalam masyarakat modern.
  • Kolektivitas vs. Diri (Collectivity vs. Self): Pasangan ini berpusat pada orientasi motivasi aktor. Pilihan kolektivitas (Collectivity) menempatkan kepentingan kelompok atau masyarakat di atas kepentingan pribadi, seperti dalam konteks keluarga atau masyarakat tradisional. Sebaliknya, pilihan diri (Self) berorientasi pada pengejaran kepentingan dan kesuksesan individu, yang dominan dalam tindakan ekonomi modern.

Parsons menganggap belahan pertama dari setiap pasangan sebagai karakteristik "ekspresif" dan belahan kedua sebagai "instrumental". Karakteristik ekspresif berkaitan dengan integrasi dan manajemen ketegangan internal (seperti peran perempuan dalam keluarga), sementara karakteristik instrumental berkaitan dengan pencapaian tujuan dan adaptasi (seperti peran laki-laki dalam ranah publik, ekonomi, atau politik).

Buku The Social System Karya Talcott Parsons

IV. Model AGIL: Kerangka Fungsional untuk Kelangsungan Hidup Sistem Sosial

Untuk lebih lanjut menganalisis bagaimana sistem sosial mempertahankan dirinya, Parsons mengembangkan paradigma fungsional yang dikenal sebagai model AGIL. AGIL adalah akronim untuk empat prasyarat fungsional (functional prerequisites) yang harus dipenuhi oleh setiap sistem sosial agar dapat bertahan dan stabil.

  • A - Adaptation (Adaptasi): Fungsi ini adalah kemampuan sistem untuk berinteraksi dengan lingkungan eksternal, mengumpulkan sumber daya, dan memproduksi komoditas yang diperlukan untuk kelangsungan hidupnya. Fungsi adaptasi ini terutama dipenuhi oleh subsistem ekonomi dan institusi yang mengatur produksi, pertukaran, dan alokasi sumber daya.
  • G - Goal Attainment (Pencapaian Tujuan): Fungsi ini adalah kemampuan sistem untuk menetapkan tujuan kolektif di masa depan dan mengambil keputusan yang diperlukan untuk mencapainya. Fungsi ini terutama dipenuhi oleh subsistem politik, yang bertanggung jawab atas resolusi politik dan mobilisasi sumber daya untuk mencapai tujuan bersama.
  • I - Integration (Integrasi): Integrasi adalah harmonisasi seluruh masyarakat, yang mengharuskan nilai dan norma sosialnya cukup solid dan konvergen. Fungsi ini menjamin kohesi sosial dan solidaritas antaranggota. Integrasi terutama dipenuhi oleh subsistem hukum dan sistem normatif yang mengatur interaksi sosial dan mengelola konflik.
  • L - Latency / Pattern Maintenance (Latensi / Pemeliharaan Pola): Fungsi ini adalah kemampuan masyarakat untuk memelihara dan menularkan pola-pola budaya, nilai, dan norma kepada generasi berikutnya. Fungsi ini terutama dipenuhi oleh institusi keluarga, pendidikan, dan agama, yang berfungsi sebagai agen sosialisasi.

Pemahaman mendalam tentang model AGIL juga mencakup wawasan tentang hierarki kontrol sibernektik. Parsons berpendapat bahwa subsistem-subsistem ini tidak memiliki kekuatan yang sama. Sebaliknya, mereka beroperasi dalam hierarki kontrol di mana informasi (berupa nilai dan norma) mengontrol energi (berupa sumber daya). 

Hierarki kontrol bergerak dari Latensi (L) ke Adaptasi (A), dengan urutan L-I-G-A. Ini berarti nilai-nilai budaya (L) memiliki kontrol terbesar dalam membentuk dan membatasi subsistem lainnya, sementara ekonomi (A) memiliki energi terbesar tetapi kontrol terkecil. Akibatnya, perubahan pada tingkat nilai (L) dapat memicu efek riak yang mengubah seluruh sistem, sementara perubahan pada tingkat ekonomi (A) tidak secara otomatis mengubah nilai-nilai inti masyarakat.

Buku The Social System Karya Talcott Parsons

V. Dinamika Internal Sistem Sosial: Sosialisasi, Kontrol Sosial, dan Perubahan

Buku The Social System tidak hanya berfokus pada struktur statis, tetapi juga secara sistematis menganalisis proses dinamis yang mempertahankan dan mengubah sistem sosial. Salah satu proses paling penting adalah sosialisasi. Sosialisasi adalah proses di mana nilai dan norma sosial (yang berasal dari sistem budaya) diinternalisasi oleh individu ke dalam sistem kepribadian mereka. Proses ini adalah jembatan kausal yang memungkinkan aktor untuk bertindak sesuai dengan ekspektasi peran sosial, yang pada gilirannya menjaga stabilitas sistem sosial. Aksi ini bukanlah bawaan lahir, melainkan dipelajari melalui interaksi komplementer dan penguatan motivasi.

Parsons juga secara eksplisit mengkaji fenomena "perilaku menyimpang" (deviant behavior). Ia melihat penyimpangan sebagai suatu tindakan yang berpotensi mengganggu keseimbangan sistem sosial. Untuk mengatasi ancaman ini, setiap sistem sosial memiliki "mekanisme kontrol sosial" yang berfungsi sebagai "mekanisme penyeimbang kembali" (reequilibrating mechanisms). Mekanisme ini bertujuan untuk mengembalikan sistem ke keadaan keseimbangan yang teratur. Keteraturan sosial, dalam pandangan Parsons, sudah tercipta dalam struktur sistem sosial itu sendiri, dan mekanisme kontrol hanyalah bagian dari proses pemeliharaan keseimbangan ini.

Meskipun sering dikritik sebagai teori yang statis, Parsons juga menganalisis proses perubahan sosial. Ia mendefinisikan perubahan sebagai "proses di mana suatu sistem menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan yang berubah tanpa perubahan esensial dalam strukturnya, atau gagal menyesuaikan diri dan mengalami proses lain, seperti perubahan struktural". 

Kasus paling penting dari perubahan ini adalah "diferensiasi struktural," yaitu reorganisasi mendasar dari subsistem-subsistem dan hubungan di antara mereka. Diferensiasi struktural menunjukkan bahwa Parsons melihat perubahan sebagai sebuah proses yang teratur dan bertahap, bukan revolusioner, yang terjadi melalui penyesuaian-penyesuaian dalam sistem.

VI. Signifikansi dan Warisan Kritis The Social System

Pengaruh The Social System tidak dapat diragukan. Buku ini menempatkan Parsons sebagai figur sentral dalam teori sosiologi dan structural functionalism. Kerangka kerja yang ia kembangkan telah meletakkan dasar bagi banyak penelitian sosiologis dan memicu perdebatan penting tentang bagaimana masyarakat seharusnya dipahami. Namun, seiring dengan dominasinya, muncul pula kritik-kritik yang tajam.

Sejak tahun 1960-an, pemikiran Parsons menghadapi kritik bahwa pandangannya terhadap masyarakat bersifat "konservatif" karena terlalu memprioritaskan konsensus dan tatanan sistematis daripada konflik dan perubahan sosial. Kritik ini sering kali memiliki agenda politis, menuduh Parsons mengabaikan demokrasi dan mengorbankan kebebasan individu demi fungsi sistem. Namun, analisis konteks historis menunjukkan bahwa tuduhan ini mengabaikan partisipasi aktif Parsons dalam perdebatan politik pada masanya. Ia adalah pembela demokrasi liberal terhadap kekuatan-kekuatan destruktif seperti imperialisme rasis Nazi dan komunisme. 

Dengan demikian, fokusnya pada tatanan bukanlah tanda ketidakpedulian terhadap konflik, melainkan keyakinan bahwa tatanan yang stabil adalah prasyarat untuk mempertahankan masyarakat bebas. Kritiknya terhadap utilitarisme dan teori pilihan rasional juga menunjukkan bahwa ia melihat tindakan sosial lebih dari sekadar kalkulasi egoistik, melainkan berakar pada dimensi moral dan nilai budaya.

Kritik lain menargetkan gaya penulisannya yang dianggap "terlalu kompleks" dan "teori yang kosong secara historis" ("grand theory"). Kritik ini seringkali berasumsi bahwa teori-teori Parsons tidak memiliki landasan empiris. Namun, kerangka laporan dan struktur logis dari The Social System justru memperlihatkan bahwa kompleksitas tersebut bukanlah suatu kebetulan atau kelemahan, melainkan hasil dari ambisi Parsons yang disengaja untuk membangun sebuah "skema konseptual" yang sangat sistematis dan koheren. Setiap bab dan konsep dirancang untuk saling melengkapi, sehingga pemahaman penuh hanya bisa dicapai dengan melihatnya sebagai satu kesatuan.

Pada akhirnya, meskipun popularitasnya menurun sejak tahun 1970-an, warisan The Social System tetap relevan. Parsons tidak hanya menyediakan sebuah model untuk menganalisis masyarakat, tetapi juga sebuah tantangan metodologis untuk berpikir secara sistematis tentang fenomena sosial. Meskipun beberapa asumsinya telah ditinjau ulang, pendekatannya yang holistik dan struktural terus membentuk dasar bagi banyak perdebatan dan teori sosiologi kontemporer.

Karya yang dikutip

Balon, J. (2017). Confrontations and controversies in the theory of Talcott Parsons. Czech Sociological Review, 53(3), 369–392. https://sreview.soc.cas.cz/artkey/csr-201703-0006_confrontations-and-controversies-in-the-theory-of-talcott-parsons.php

Camic, C. (2017). The social system (Chapter 10). Dalam The theory and scholarship of Talcott Parsons to 1951. Cambridge University Press. https://www.cambridge.org/core/books/theory-and-scholarship-of-talcott-parsons-to-1951/social-system/ACBA5EE873F4A4F2CDE58962F488E670

EBSCO. (n.d.). History of sociology: Contemporary sociology. EBSCO Research Starters. https://www.ebsco.com/research-starters/history/history-sociology-contemporary-sociology

Fiveable. (n.d.). The social system – Vocab, definition, explanations. Fiveable Library. Diakses 13 Agustus 2025, dari https://library.fiveable.me/key-terms/intro-to-sociology/social-system

Gingrich, P. (2006). Notes on structural functionalism and Parsons. University of Regina. https://uregina.ca/~gingrich/319j2006.htm

Gingrich, P. (2006). Notes on structural functionalism and Parsons. University of Regina. https://uregina.ca/~gingrich/319j1806.htm

Goodreads. (n.d.). The social system by Talcott Parsons. Goodreads. Diakses 13 Agustus 2025, dari https://www.goodreads.com/book/show/1108176.The_Social_System

IAIN Kediri. (n.d.). Bab II Landasan teori: Teori struktural fungsional Talcott Parsons. Etheses IAIN Kediri. https://etheses.iainkediri.ac.id/7307/3/933100616_bab2.pdf

Parsons, T. (1951). The social system. Glencoe, IL: The Free Press.

Parsons, T. (1951). The social system. Taylor & Francis eBooks. https://www.taylorfrancis.com/books/mono/10.4324/9780203992951/social-system-talcott-parsons

Parsons, T. (1951). The social system. Void Network. https://voidnetwork.gr/wp-content/uploads/2016/10/The-Social-System-by-Talcott-Parsons.pdf

Parsons, T. (1961). Action systems and social systems. California State University, Northridge. http://www.csun.edu/~snk1966/Talcott%20Parsons%20-%20Action%20Systems%20and%20Social%20Systems.htm

Parsons, T. (1961). An outline of the social system. California State University, Northridge. http://www.csun.edu/~snk1966/Talcott%20Parsons%20-%20An%20Outline%20of%20the%20Social%20System.pdf

Parsons, T. (1961). An outline of the social system. Portland State University. https://web.pdx.edu/~tothm/theory/Student%20Working%20Notes.doc

Parsons, T. (1991). The social system. London: Routledge. (Original work published 1951)

Scribd. (n.d.). Perkembangan kerangka AGIL dan struktur prasyarat. Scribd. https://id.scribd.com/doc/283804390/Perkembangan-Kerangka-Agil-Dan-Struktur-Prasyarat

Scribd. (n.d.). Teori sistem Talcott Parson. Scribd. https://id.scribd.com/doc/29074033/Teori-Sistem-Talcott-Parson

Testbook. (n.d.). Pattern variables. Testbook. Diakses 13 Agustus 2025, dari https://testbook.com/ias-preparation/pattern-variables#:~:text=Pattern%20variables%2C%20as%20conceived%20by,human%20action%20within%20social%20systems

UIN Sunan Ampel. (n.d.). Bab II Talcott Parsons: Teori struktural fungsional. Digilib UIN Sunan Ampel. http://digilib.uinsa.ac.id/3955/2/BAB%20%20II.pdf

UIN Sunan Ampel. (n.d.). Bab II teori AGIL Talcott Parson: Teori fungsionalisme struktural. Digilib UIN Sunan Ampel. http://digilib.uinsa.ac.id/13350/5/Bab%202.pdf

UPSC Sociology. (n.d.). How can Parsons’ AGIL framework be used to analyse key problems in a society? UPSC Sociology. https://upscsociology.in/how-can-parsons-agil-framework-be-used-to-analyse-key-problems-is-a-society-discuss/

Wikipedia. (n.d.). AGIL paradigm. Dalam Wikipedia. Diakses 13 Agustus 2025, dari https://en.wikipedia.org/wiki/AGIL_paradigm

Wikipedia. (n.d.). Social system. Dalam Wikipedia. Diakses 13 Agustus 2025, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Social_system

Wikipedia. (n.d.). Talcott Parsons. Dalam Wikipedia. Diakses 13 Agustus 2025, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Talcott_Parsons

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment