Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Michel Foucault. Sejarah Kegilaan

Sejarah Kegilaan Michel Foucault
Michel Foucault
Kita sudah melihat bahwa Foucault mempunyai keahlian sebagai sejarawan. Dan itu suatu hal yang jarang terlihat antara filsuf-filsuf. Kebanyakan filsuf yang berbicara tentang sejarah amatir saja dalam ilmu sejarah. Tetapi buku Kegilaan dan Unreason. Sejarah Kegilaan dalam Zaman Klasik tidak merupakan sebuah buku sejarah dalam arti yang biasa. Lebih cocok dari sejarah adalah istilah arkeologi, seperti dikemudian hari dipakai oleh Foucault dan akan dibicarakan lagi di bawah ini. Dalam Sejarah Kegilaan (1963), yang sudah kita kenal sebagai singkatan dan edisi murah dari disertasinya, istilah itu muncul sepintas lalu. Dalam kata pengantar buku itu, setelah mengatakan bahwa pada akhir abad ke-18 dialog antara kegilaan dan rasio sudah terputus, Foucault melanjutkan: Bahasa psikiatri, yang merupakan monolog rasio tentang kegilaan, didasarkan hanya pada keheningan semacam itu. Saya tidak berusaha melukiskan sejarah bahasa psikiatri itu, melainkan terutama arkeologi keheningan itu. Kutipan ini menunjukkan inti program Foucault dalam desertasinya. Ia ingin memperlihatkan bahwa selama Zaman Klasik kegilaan dipisahkan dari dan dilawankan dengan rasio.

Kegilaan menjadi deraison (Inggris: unreason), keadaan tanpa rasio. Keheningan dalam kutipan tadi menunjuk kepada terputusnya dialog antara rasio dan kegilaan itu. Yang dimaksud dengan Zaman Klasik ialah periode yang meliputi paruh kedua abad ke-17 dan abad ke-18 sampai kira-kira Revolusi Prancis. Periode itu memang mendapat paling banyak perhatian, tetapi bukunya diawali dengan tinjauan tentang Renaissance dan diakhiri dengan sepatah kata tentang perubahan sesudah Zaman Klasik. Dengan demikian, uraian selanjutnya dapat dibagi atas tiga bagian, tetapi dengan pengertian bahwa bagian kedua merupakan pokok pembicaraan yang sebenarnya dalam buku Foucault.

Renaissance
Pada akhir Abad Pertengahan di Eropa Barat hampir tidak ada lagi penderita kusta. Tempat-tempat mereka ditampung dulu menjadi kosong. Perbaikan ini sebagian besar dicapai justru karena mereka disendirikan dari masyarakat. Tetapi, kata Foucault, gambaran tentang orang yang dikeluarkan dari masyarakat akan tinggal dan arti pengisolasian itu sendiri akan tinggal pula dan akan diwujudkan kembali sesudah dua atau tiga abad lagi. Orang kusta hilang, namun struktur-struktur untuk menangani dia tetap tinggal. Kegilaan akan menjadi ahli waris penyakit kusta. Akan tetapi marilah kita memandang lebih dahulu bagaimana keadaan orang gila dalam zaman Renaissance.

Salah satu gejala yang amat mengherankan dalam Renaisance adalah stulifera nafis atau Narrenschiff: kapal yang membawa orang-orang gila. Pada abad ke-15 kita melihat kapal-kapal melewati sungai-sungai dan terusan-terusan dari Rheinland (Jerman) dan Flandria (Belgia), penuh dengan orang gila. Pada waktu yang sama tema ini banyak muncul pula dalam kesusastraan dan ikonografi (pada pelukis Belanda Jeroen Bosch umpamanya. Waktu itu orang gila tidak dikurung. Mereka sering diusir dari kota (mungkin karena mereka datang dari tempat lain), tetapi di luar kota mereka boleh bergerak secara bebas. Agar jangan sampai mereka pulang, orang-orang itu dititipkan kepada rombongan peziarah atau pedagang. Atau digunakan juga kapal-kapal yang disebut tadi. Pertimbangan di belakang praktek itu ialah agar orang-orang gila itu tidak lagi akan mengganggu masyarakat. Tetapi gejala ini jauh lebih kompleks. Pasti ada arti simbolis juga. Air tidak saja membawa ke tempat jauh tetapi membersihkan juga. Lagi pula, dengan berlayar, orang gila menuju ke suatu dunia lain dan bila ia turun dari kapal, ia datang dari dunia lain. Bagaimanapun juga, dalam sejarah Eropa cukup lama terdapat perkaitan erat antara air dan kegilaan pada taraf imaginasi.

Kegilaan dan orang gila menjadi tema penting dalam kesusastraan dan kesenian dari kira-kira pertengahan abad ke-15 sampai pertengahan abad ke-17. Misalnya dalam cerita-cerita kosmis dan cerita-cerita moral. Kegilaan dianggap dekat dengan kebahagiaan dan kebenaran; lebih dekat dengan rasio daripada rasio itu sendiri. Kegilaan menjadi cermin yang mencopot kedok dari pengetahuan semu dengan segala pretensi dan ilusinya. Dalam zaman ini misalnya Erasmus menulis Laus stultitiae (Pujian pada Kegilaan)

Serentak juga Renaissance mengungkapkan ketakutannya terhadap kegilaan, di samping merasa terpesona karena pengetahuan misterius yang dinyatakan oleh kegilaan. Bagi penyair-penyair dan filsuf-filsuf humanistis, kegilaan dikaitkan dengan manusia itu sendiri; kegilaan tidak datang dari luar tetapi bersarang di dalam manusia. Kegilaan mempunyai suatu segi tragis, seperti juga ada suatu segi kosmis, yaitu hubungan dengan alam semesta. Foucault mempelajari seluruh suasana ini dengan antara lain menganalisa kesusastraan zaman itu, khususnya Cervantes (Don Quixote) dan Shakespeare (terutama Macbeth dan King Lear)

Zaman Klasik
Sekitar pertengahan abad ke-17 kesadaran kritis sudah mencapai kepenuhannya dan dengan itu lahirlah zaman rasio. Kira-kira seabad sesudah menghilangnya kapal orang-orang gila, kita menyaksikan munculnya hospital orang-orang gila. Kegilaan dipertentangkan dengan rasio. Manusia bisa menjadi gila, tetapi tidak mungkin bahwa pemikiran itu sendiri kurang waras. Bagi Descartes kegilaan termasuk kekeliruan, bersama dengan mimpi dan bentuk-bentuk kekeliruan lainnya. Tetapi bertentangan dengan mimpi dan ilusi, kegilaan tidak dapat diatasi dengan nampaknya kebenaran; kegilaan hanya dapat disingkirkan oleh subjek yang menyangsikan. Kegilaan dikeluarkan dari kehidupan intelektual; kegilaan diberi status unreason; kegilaan disamakan dengan keadaan tanpa rasio. Dan akibatnya kegilaan disuruh bungkam.

Pandangan baru tentang kegilaan ini disertai dengan penanganan baru pada taraf kemasyarakatan: orang gila dikurung . Simbol bagi perkembangan ini adalah didirikannya Hospital general di Paris oleh raja Prancis pada tahun 1656. Hospital ini bukan suatu instansi kesehatan, melainkan instansi yang menyangkut tata tertib. Bukan saja orang-orang gila diinternir di sana, tetapi hospital seperti itu menampung semua unsur yang mengganggu tata tertib dalam masyarakat: pemalas, pengemis, gelandangan, dan narapidana. Pendeknya, semua orang yang mengacaukan taraf rasionalitas; semua orang yang tidak berguna. Foucault menghitung bahwa sesudah beberapa waktu satu persen dari seluruh penduduk kota Paris dikurung dengan cara demikian. Hal itu dapat dimengerti, bila kita ketahui tentang krisis ekonomi yang melanda Prancis pada abad ke-17. Hospital merupakan jawaban pemerintah Prancis atas krisis tersebut. Semua yang dikurung tentu kehilangan kebebasan mereka, tetapi sebagai ganti kesejahteraan mereka dijamin oleh negara. Hospital-hospital semacam itu timbul dimana-mana di Prancis. Di negara-negara lain kita melihat lembaga-lembaga yang sejenis: workhouses di Inggris dan Zuchthauser di Jerman.

Tempat orang kusta dari Abad Pertengahan, dalam Zaman Klasik dihuni oleh orang terlantar yang merupakan sumber ketidakteraturan dalam masyarakat dan orang gila termasuk mereka itu. Maka dalam hospital-hospital itu orang-orang yang dikurung diwajibkan bekerja. Pekerjaan pada waktu itu tidak begitu dilihat sebagai suatu usaha produktif, tetapi terutama sebagai suatu kewajiban moral. Ditarik suatu garis pemisah tajam antara pekerjaan dan kelengahan. Jika dalam Renaissance kegilaan masih dikaitkan dengan suatu realitas fantastis dan luar-duniawi, maka dalam Zaman Klasik kegilaan dinilai sebagai ketidakgunaan sosial dan dihukum karena alasan-alasan etis.

Itu tidak berarti bahwa ilmu kedokteran dalam zaman itu tidak berurusan dengan kegilaan. Seorang dokter misalnya umumnya menentukan apakah orang gila dikurung dalam hospital atau tidak. Ada beberapa lembaga yang secara ekslusif menangani orang gila. Ada juga pengobatan bagi sekurang-kurangnya beberapa jenis kegilaan. Tetapi hal itu tidak boleh ditafsirkan sebagai permulaan sikap modern terhadap penyakit jiwa. Sebaliknya, sikap dokter terhadap kegilaan pada waktu itu hanya melanjutkan praktek Renaissance dan Abad Pertengahan. Yang baru bagi Zaman Klasik ialah bahwa kegilaan dilihat sebagai unreason dan akibatnya ditangani dengan pengurungan. Berhubungan dengan itu kita melihat pula bahwa kegilaan sering ditafsirkan sebagai kemunduran ke taraf binatang. Orang gila yang ganas dipasung atau diikat bagaikan binatang buas. Tidak jarang orang gila dipertontonkan juga untuk khalayak ramai; di Paris dan London pada hari Minggu masyarakat berbondong-bondong ke tempat orang gila dipamerkan, sebagaimana dewasa ini orang mengunjungi kebun binatang. Dalam zaman Renaissance orang gila juga dipandang sebagai binatang; tetapi dalam hal itu Renaisance melihat tanda bahwa orang gila termasuk suatu dunia di seberang, suatu dunia lain. Bagi Zaman Klasik persamaan orang gila dengan binatang menunjukkan bahwa mereka terpisah dari rasio. Statusnya selaku binatang dipandang semata-mata negatif: sebagai bukti bahwa ia tidak lagi suatu makhluk yang berasio. Banyak cerita pada waktu itu tentang orang gila dalam kurungan yang sanggup menahan kelaparan, kedinginan, atau nyeri secara mengherankan, menunjukkan kepada hal yang sama. Orang-orang gila ternyata termasuk taraf lain dari manusia, yaitu taraf binatang. Karena alasan itu pula mereka tidak begitu menarik perhatian ilmu kedokteran, tetapi terutama harus dijinakkan dan diperlakukan dengan kejam.

Dari didirikannya Hospital general di Paris dan lembaga-lembaga sejenis di Inggris dan Jerman sekitar pertengahan abad ke-17, para sejarawan biasanya menyimpulkan bahwa Zaman Klasik belum mengerti hakikat kegilaan. Foucault tidak setuju dengan pandangan itu. Orang yang mengatakan demikian mengandaikan bahwa kita sekarang ini mempunyai pengertian yang benar tentang kegilaan, sedangkan zaman-zaman terdahulu belum mencapai pengertian itu. Mengenai Zaman Klasik, buktinya ialah-orang berpikir-bahwa orang gila masih dikurung bersama narapidana dan unsur asosial lainnya. Seolah-olah kegilaan merupakan suatu paham yang abadi dan tak terubahkan, yang harus menunggu sampai zaman untuk akhirnya ditemukan. Pada kenyataannya pengurungan yang dipraktekan dalam Zaman Klasik berasal dari suatu pandangan yang sama sekali koheren, yaitu kegilaan sebagai unreason, di samping bentuk-bentuk unreason lainnya. Seluruh pandangan ini didasarkan pada kekuasaan rasio. Praktek pengurungan yang berlangsung selama kira-kira satu setengah abad itu tidak berasal dari kekeliruan atau cara berpikir yang masih kabur, tetapi merupakan konsekuensi logis dari sistem pemikiran (episteme, kata Foucalut dengan meminjam sebuah kata Yunani) yang menandai Zaman Klasik. Bagi Foucault, pandangan kita sekarang tentang kegilaan (atau penyakit jiwa) merupakan juga buah hasil suatu sistem pemikiran yang tertentu.

Periode Pascaklasik
Sebagaimana Zaman Klasik mulai dengan suatu kejadian simbolis, yaitu didirikannya Hospital general (1656), demikian pula zaman ini berakhir dengan suatu peristiwa lain, yaitu dilepaskannya orang-orang gila dari hospital Bicotre (Paris) oleh Philippe Pinel tahun 1790. Ketika ditanyai Apakah Anda sendiri gila, karena mau melepaskan binatang-binatang macam itu dari rantai mereka?, Pinel menjawab dengan tenang: Saudara, saya yakin orang-orang ini menjadi seperti itu karena udara segar dan kebebasan telah dirampas dari mereka. Dimana-mana pada waktu itu kita mendengar protes terhadap keadaan bahwa orang-orang gila dikurung bersama narapidana. Tidak selalu karena alasan perikemanusiaan terhadap orang-orang gila, sering kali juga karena rasa kasihan dengan orang-orang narapidana yang diganggu dengan rupa-rupa cara oleh orang-orang yang kurang waras dan kadang-kadang berbahaya itu. Bersamaan dengan Pinel di Paris, Samuel Tuke (pemimpin jemaat Quakers di York) membebaskan orang-orang gila di Inggris. Tetapi pembebasan dari kurungan di penjara itu tidak berarti bahwa orang-orang gila dikembalikan ke dalam masyarakat; mereka ditampung dalam rumah-rumah yang disediakan khusus bagi mereka. Dengan demikian telah lahir asylum (asil) atau tempat penampungan untuk orang-orang gila (The Retreat adalah nama untuk rumah yang didirikan Tuke).

Dipindahkannya orang gila ke asylum merupakan langkah penting menuju penanganan kegilaan oleh ilmu kedokteran. Tetapi Pinel dan Tuke bukan dokter atau psikiater. Foucault tidak setuju dengan begitu banyak pengarang yang memandang perbuatan Pinel yang termasyur itu sebagai permulaan pengobatan modern terhadap pasien-pasien psikiatris. Memang benar, Foucault mengatakan juga bahwa pada akhir abad ke-18 kegilaan menjadi penyakit jiwa, tetapi tidak langsung dengan Pinel dan Tuke. Jadi, masih ada sebuah mata rantai yang tidak boleh dilewati, yaitu moralitas. Sesudah Zaman Klasik selesai, oleh Pinel dan kawan-kawannya kegilaan ditempatkan dalam konteks moral. Orang gila telah menyimpang dari keadaan kodrati yang wajar. Kegilaan dilihat sebagai salah satu konsekuensi yang menyertai kemajuan: orang beradab lebih mudah menjadi gila karena semakin menjauhkan diri dari alam kodrati. Antara suku-suku primitif yang masih dekat dengan alam kodrat, tidak terdapat orang gila. Pendirian ini diperkukuh karena pada waktu itu jumlah orang-orang gila semakin besar. Pada tahun 1780 dengan tiba-tiba muncul panik besar di antara rakyat Paris karena mereka mengira bahwa kegilaan akan menular dari hospital-hospital ke seluruh kota; sampai-sampai ada pikiran mau membakar gedung-gedung Bicetre.

Jika sepanjang Zaman Klasik kegilaan dipertentangkan dengan unreason, maka pada akhir abad ke-18 kegilaan mulai dipertentangkan dengan moralitas yang semestinya. Tempat-tempat penampungan orang gila menjadi lembaga-lembaga pedagogis; penghuni-penghuninya dianggap sebagai anak-anak yang harus diliputi dengan suasana kekeluargaan. Orang-orang gila harus belajar menunduk pada Hukum Moral. Tuke di Inggris menggunakan agama untuk itu, sedangkan Pinel menolak agama, sebab menurut dia membawa ke halusinasi. Juga ketakutan merupakan suatu cara yang penting untuk mencapai tujuan yang sama; suatu ketakutan yang berasal dari hati nurani orang yang bersangkutan supaya ia tidak melanggar hukum. Dengan demikian asylum menjadi semacam lembaga yuridis di mana orang dituduh serta diadili dan hanya bisa keluar jika ia menyesal.

Dan bagaimana fungsi dokter? Dalam suasana moral ini dokter seakan berperan sebagai hakim. Ia mendapat suatu kuasa yang hampir magis. Pasien harus berdiam diri terhadap dia. Bila pada abad ke-19 positivisme telah meresapi ilmu kedokteran dan psikiatri (seperti juga seluruh wilayah ilmiah lain), dokter tetap mempertahankan status yang diwarisinya dari konteks moral itu. Di mata pasien, dokter menjadi tukang sihir. Pasien begitu saja tunduk pada kemauannya yang magis dan pada ilmu yang dianggapnya semacam kepandaian bertenung. Apa yang kita sebut praktek psikiatris merupakan suatu taktik moral yang berasal dari akhir abad ke-18, disimpan dalam ritus-ritus yang menandai kehidupan dalam asylum dan diselubungi dengan mitos-mitos positivisme.  Dalam perkembangan kemudian peranan Freud cukup penting. Tentu saja, dalam cara memandang psikoanalisanya ia masih terjerat dalam suasana pemikiran positivistis. Tetapi ia adalah orang pertama yang memperhatikan relasi antara dokter dan pasiennya. Ia memutuskan keheningan pasien; pasien diajak bicara. Ia menghentikan observasi seperti dipraktekan dalam asylum: pasien tidak lagi menjadi objek di bawah tatapan sang dokter. Pasien tidak lagi dihukum. Tetapi dilain pihak Freud mengembangkan citra dokter sebagai orang yang memiliki kekuasaan kuasi-magis. Struktur-struktur yang dibentuk Pinel dan Tuke dalam asylum, oleh Freud dialihkan pada dokter. Dalam arti tertentu ia membebaskan pasien dari asylum, tetapi tidak membebaskannya dari hal yang paling hakiki, yaitu alienasi, karena alienasi itu diejawantahkan oleh dokter sendiri. Kesimpulan Foucault tentang psikoanalisa: ...psikoanalisa tidak sanggup untuk mendengarkan suara-suara unreason atau membaca tanda sandi dari orang gila. Psikoanalisa dapat membongkar seluk-beluk beberapa bentuk kegilaan; tetapi tetap tinggal asing terhadap pekerjaan unreason yang otonom itu. Psikoanalisa tidak dapat membebaskan, mentranskripsikan, apa lagi menerangkan, apa yang bersifat hakiki dalam pekerjaan itu.


Ket. klik warna biru untuk link

Download di Sini


Sumber

Bertens, Kees. 2001. Filsafat Barat Kontemporer: Prancis. Jakarta. Gramedia

Baca Juga
1. Michel Foucault. Biografi dan Karya
2. Strukturalisme dan Epistemologi. Michel Foucault
3. Michel Foucault. Arkeologi Pengetahuan
4. Michel Foucault. Pemikiran tentang Kuasa
5. Strukturalisme dan Poststrukturalisme
Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Michel Foucault. Sejarah Kegilaan"