Fenomenologi dan Dialektika Pyrrhonian dalam Pemikiran Sextus Empiricus: Puncak Skeptisisme Yunani-Romawi
Lanskap Historis dan Intelektual: Skeptisisme di Bawah Naungan Imperium Romawi
Kehidupan Sextus Empiricus berlangsung pada periode yang sering disebut sebagai masa "Kedua Sofistik" atau periode sinkretisme intelektual di bawah Kekaisaran Romawi. Meskipun kronologi pastinya diperdebatkan, para ahli umumnya menempatkan masa aktifnya antara tahun 160 hingga 210 Masehi. Identitasnya sebagai seorang dokter sangat krusial; gelar "Empiricus" menunjukkan afiliasinya dengan sekolah medis Empiris, sebuah aliran yang menekankan pengalaman praktis di atas teori-teori fisiologis yang spekulatif. Namun, dalam sebuah kejutan filosofis, Sextus sendiri menyatakan dalam Outlines of Pyrrhonism (PH 1.236) bahwa skeptisisme Pyrrhonian sebenarnya lebih selaras dengan sekolah medis Metodis, karena sekolah Empiris masih terjebak dalam dogmatisme tertentu mengenai ketidaktahuan penyebab penyakit.
Konteks Romawi pada masa itu ditandai oleh kelelahan intelektual terhadap sistem-sistem metafisika besar yang saling bertentangan. Stoisisme telah menjadi filsafat semi-resmi kekaisaran, namun klaimnya tentang "persepsi kataleptik"—kemampuan pikiran untuk menangkap realitas secara objektif dan tak terbantahkan—menjadi sasaran empuk bagi kritik skeptis. Sextus muncul di akhir tradisi panjang ini, memberikan sintesis terakhir bagi gerakan yang dimulai oleh Pyrrho berabad-abad sebelumnya. Skeptisisme pada era Romawi bukan sekadar permainan logika, melainkan respons terhadap kebutuhan akan stabilitas psikologis dalam dunia yang secara intelektual terpecah.
Silsilah Intelektual Pyrrhonisme: Dari Pyrrho hingga Aenesidemus
Akar dari pemikiran Sextus bermuara pada Pyrrho dari Elis (360–270 SM), seorang tokoh yang dikisahkan telah mencapai ketenangan luar biasa dengan menangguhkan semua penilaian tentang hakikat benda. Pyrrho tidak meninggalkan tulisan; ajarannya diteruskan oleh Timon dari Phlius namun kemudian meredup selama masa dominasi Skeptisisme Akademik di bawah Arcesilaus dan Carneades. Kebangkitan Pyrrhonisme secara formal terjadi pada abad ke-1 SM melalui Aenesidemus, yang memisahkan diri dari Akademi Plato karena menganggap sekolah tersebut telah menjadi dogmatis dalam menyatakan bahwa "tidak ada yang bisa diketahui".
Sextus Empiricus bertindak sebagai penyempurna dari tradisi yang dihidupkan kembali ini. Ia mengintegrasikan "Sepuluh Tropus" dari Aenesidemus, yang berfokus pada keragaman persepsi sensorik, dengan "Lima Tropus" dari Agrippa yang lebih menekankan pada kegagalan logis dari pembuktian dogmatis. Dalam pandangan Sextus, Pyrrhonisme adalah satu-satunya jalan tengah yang benar: sementara kaum dogmatis mengklaim telah menemukan kebenaran, dan kaum Akademik mengklaim kebenaran tidak mungkin ditemukan, kaum Pyrrhonian terus mencari (zetetic) tanpa membuat klaim definitif tentang kemungkinan penemuan tersebut.
Arsitektur Literer: Analisis Karya-Karya Utama
Warisan Sextus tertuang dalam dua kumpulan karya besar yang berfungsi sebagai ensiklopedia argumen skeptis. Karya paling fundamental adalah Outlines of Pyrrhonism (PH), yang terdiri dari tiga buku. Buku I memberikan gambaran umum tentang sifat skeptisisme, prinsip-prinsip dasarnya, dan metodologi tropus. Buku II dan III merupakan aplikasi dari metode skeptis terhadap tiga cabang filsafat tradisional: logika, fisika, dan etika.
Kumpulan karya kedua, Adversus Mathematicos (M), secara harfiah berarti "Melawan para Guru" atau "Melawan para Ahli". Karya ini terbagi secara internal menjadi dua bagian yang sangat berbeda:
1. Against the Professors (M 1–6): Sextus menyerang disiplin-disiplin khusus seperti tata bahasa (grammarians), retorika, geometri, aritmatika, astrologi, dan musik. Ia tidak menolak kegunaan praktis dari bidang-bidang ini, melainkan menyerang klaim para ahli yang menganggap mereka memiliki akses terhadap prinsip-prinsip teoretis yang universal dan tak terbantahkan.
2. Against the Dogmatists (M 7–11): Bagian ini merupakan pembahasan yang jauh lebih mendalam dan teknis dibandingkan PH. M 7–8 berfokus pada Logika, M 9–10 pada Fisika, dan M 11 pada Etika. Dalam teks-teks ini, Sextus menunjukkan ketajaman dialektisnya dalam membedah teori-teori kriteria kebenaran, kausalitas, dan hakikat kebaikan.
Fenomenologi Skeptis: Konsep Dasar Epoché dan Ataraxia
Inti dari sistem Sextus bukan terletak pada penolakan terhadap dunia, melainkan pada perubahan sikap terhadap dunia. Ia mendefinisikan skeptisisme sebagai "kemampuan" (dunamis) untuk menciptakan oposisi antara hal-hal yang tampak (phenomena) dan hal-hal yang dipikirkan (noumena) dengan kekuatan yang setara (isostheneia). Ketika seorang pencari kebenaran menemukan bahwa alasan untuk menerima sebuah proposisi sama kuatnya dengan alasan untuk menolaknya, ia secara otomatis memasuki keadaan epoché (penangguhan penilaian).
Sextus menggunakan metafora medis untuk menjelaskan efek dari epoché. Bagi kaum dogmatis, upaya tak henti-hentinya untuk menemukan kebenaran absolut justru menimbulkan kecemasan dan kegelisahan batin (turmoil). Sebaliknya, seorang skeptis yang menangguhkan penilaian akan secara tidak sengaja memperoleh ataraxia (ketenangan batin). Sextus mengilustrasikan hal ini dengan kisah pelukis Apelles yang, setelah gagal melukis busa di mulut kuda, melemparkan spons pembersih kuasnya ke kanvas sebagai bentuk keputusasaan. Secara mengejutkan, bercak yang dihasilkan spons tersebut justru membentuk gambar busa yang sempurna. Demikian pula, ketenangan datang kepada skeptis bukan melalui penemuan kebenaran, melainkan melalui penerimaan bahwa kebenaran tersebut mungkin tidak dapat dicapai.
Skeptisisme Sextus tidak bersifat nihilistik; ia tidak meragukan perasaan internalnya sendiri (pathos). Seorang skeptis tidak akan berkata "madu itu manis," tetapi ia akan mengakui bahwa "madu terasa manis bagi saya saat ini". Pembedaan antara penampilan dan realitas objektif inilah yang memungkinkan skeptis untuk tetap hidup dalam dunia fenomena tanpa terjerat dalam spekulasi dogmatis yang menyesatkan.
Metodologi Keraguan: Analisis Kritis terhadap Tropus Aenesidemus dan Agrippa
Sextus mendokumentasikan serangkaian teknik formal untuk menginduksi isostheneia. Yang paling komprehensif adalah Sepuluh Tropus dari Aenesidemus, yang berfokus pada relativitas subjektif dari persepsi. Melalui tropus ini, Sextus menunjukkan bagaimana objek yang sama dapat tampak berbeda berdasarkan:
1. Keragaman spesies hewan (bagaimana mata burung melihat warna berbeda dari manusia).
2. Perbedaan individu antar manusia (bagaimana makanan yang lezat bagi satu orang terasa hambar bagi yang lain).
3. Perbedaan dalam organ indra dan kondisi fisiologis (sakit vs sehat).
4. Posisi, jarak, dan tempat (bagaimana menara persegi tampak bulat dari jauh).
5. Adat istiadat, hukum, dan keyakinan mitos (bagaimana perilaku yang dianggap suci di satu budaya dianggap tabu di budaya lain).
Namun, fondasi logis yang lebih kokoh disediakan oleh Lima Tropus dari Agrippa, yang sering disebut sebagai "Trilema Agrippa". Tropus ini menyerang kemungkinan adanya dasar yang pasti bagi pengetahuan:
- Perselisihan (Diaphōnia): Setiap klaim kebenaran selalu menghadapi klaim tandingan yang tak terpecahkan.
- Regresi Tak Terbatas: Setiap bukti membutuhkan bukti lain, tanpa akhir yang pasti.
- Relativitas: Pengetahuan selalu bergantung pada perspektif subjek dan objek.
- Hipotesis: Upaya menghentikan regresi dengan membuat asumsi tanpa bukti adalah tindakan sewenang-wenang.
- Sirkularitas (Diallelus): Seringkali bukti yang digunakan untuk mendukung klaim justru bergantung pada klaim itu sendiri.
Analisis Epistemologis: Kritik terhadap Kriteria, Induksi, dan Silogisme
Sextus meluncurkan serangan frontal terhadap instrumen-instrumen utama dogmatisme filosofis. Salah satu target utamanya adalah konsep "Kriteria Kebenaran" (kriterion). Kaum dogmatis mengklaim bahwa baik indra maupun akal dapat bertindak sebagai hakim untuk menentukan apa yang benar. Sextus menanggapi dengan argumen yang sangat modern: jika kriteria tersebut digunakan untuk menilai kebenaran, siapa yang akan menilai validitas kriteria itu sendiri? Jika kita membutuhkan kriteria kedua untuk menilai kriteria pertama, kita terjebak dalam regresi tak terbatas.Sextus juga merupakan kritikus awal terhadap logika induksi dan deduksi. Ia meragukan validitas induksi (generalitas dari kasus-kasus khusus) jauh sebelum David Hume mempopulerkannya. Menurut Sextus, induksi tidak akan pernah pasti kecuali jika kita memeriksa setiap kasus di alam semesta—sesuatu yang mustahil secara praktis. Terhadap silogisme Aristotelian, ia berargumen bahwa kesimpulan seringkali sudah terkandung secara implisit dalam premis mayor. Dalam pernyataan "Semua manusia fana; Socrates adalah manusia; maka Socrates fana," Sextus berpendapat bahwa kita tidak bisa menyatakan "semua manusia fana" tanpa terlebih dahulu mengetahui bahwa Socrates (dan semua manusia lainnya) memang fana. Jadi, silogisme hanyalah sebuah bentuk sirkularitas logis yang tidak menghasilkan pengetahuan baru.
Kritik ini meluas ke teori "tanda" (signs) dalam Stoisisme. Sextus membedakan antara "tanda peringatan" (commemorative signs) yang didasarkan pada asosiasi pengalaman masa lalu (seperti asap menandakan api) dan "tanda indikatif" (indicative signs) yang diklaim menunjukkan realitas yang tidak dapat diamati (seperti pori-pori kulit sebagai tanda penguapan). Ia menerima tanda peringatan sebagai instrumen praktis untuk bertahan hidup, namun menolak tanda indikatif sebagai spekulasi teoretis yang tidak dapat diverifikasi secara empiris.
Konfrontasi dengan Sekolah Dogmatik: Stoisisme, Epikureanisme, dan Peripatetik
Sextus memandang filsafat pada zamannya sebagai medan perang bagi sistem-sistem yang tertutup. Target utamanya adalah Stoisisme, yang ia anggap sebagai bentuk dogmatisme paling canggih dan berbahaya. Ia menyerang teori Stoik tentang "representasi kataleptik" dengan menunjukkan bahwa tidak ada tanda intrinsik pada persepsi yang dapat menjamin kebenarannya secara objektif. Terhadap Epikureanisme, ia mengkritik atomisme sebagai spekulasi tentang hal-hal yang tidak tampak (non-evident) yang melampaui data sensorik yang tersedia.Terhadap Aristoteles dan Plato, Sextus menunjukkan rasa hormat tertentu namun tetap teguh dalam kritiknya. Ia menolak teori "Form" atau "Idea" Plato sebagai konstruksi mental yang tidak memiliki korespondensi dengan pengalaman nyata. Terhadap tradisi Aristotelian, ia menyerang definisi-definisi esensial (seperti "manusia adalah hewan rasional") dengan menunjukkan bahwa definisi tersebut seringkali gagal mencakup variasi individu atau justru bergantung pada konsep yang sama kaburnya dengan apa yang didefinisikan. Inti dari kritiknya terhadap semua sekolah ini adalah satu: mereka semua mengklaim telah mengakhiri pencarian akan kebenaran, sebuah sikap yang bagi Sextus mematikan semangat penyelidikan intelektual yang sesungguhnya.
Skeptisisme dan Kehidupan Praktis: Bagaimana Hidup Tanpa Keyakinan Absolut
Masalah utama yang dihadapi oleh seorang skeptis adalah tuduhan apraxia: jika seseorang menangguhkan semua penilaian, bagaimana ia bisa bertindak atau membuat keputusan? Sextus memberikan jawaban yang sangat praktis dan membumi melalui "Panduan Hidup Empat Kali Lipat" (Fourfold Guide). Seorang skeptis tidak hidup dalam vakum, melainkan hidup sesuai dengan penampilan (phenomena) dan tradisi tanpa keterikatan dogmatis:1. Bimbingan Alam: Skeptis makan karena ia merasa lapar dan minum karena ia merasa haus, mengikuti dorongan biologis alami tanpa perlu teori metafisika tentang nutrisi.
2. Paksaan Perasaan: Merespons rangsangan indra secara langsung (misalnya, menyingkir dari api karena merasa panas).
3. Tradisi Hukum dan Adat Istiadat: Skeptis mengikuti hukum negaranya dan merayakan ritual agama masyarakatnya sebagai bagian dari keterlibatan sosial, bukan karena ia yakin pada kebenaran doktrinal di baliknya.
4. Instruksi Keahlian/Seni: Melakukan pekerjaan atau profesi (seperti kedokteran) berdasarkan apa yang telah terbukti secara empiris memberikan hasil yang diinginkan, bukan berdasarkan deduksi dari prinsip-prinsip teoretis yang abstrak.
Dengan cara ini, skeptis Pyrrhonian dapat menjalani kehidupan yang normal, bermoral, dan aktif di masyarakat, sambil tetap mempertahankan ketenangan batin yang berasal dari penolakan untuk berdebat tentang kebenaran absolut dari tindakan-tindakan tersebut.
Pyrrhonisme vs. Skeptisisme Akademik: Perbandingan Analitis
Sextus sangat eksplisit dalam membedakan dirinya dari pengikut Arcesilaus dan Carneades dari Akademi Baru. Baginya, kaum Akademik telah jatuh ke dalam "dogmatisme negatif". Perbedaan ini dapat diringkas dalam tabel berikut:Bagi Sextus, mengeklaim bahwa "tidak ada yang bisa diketahui" adalah sebuah kontradiksi, karena klaim itu sendiri merupakan sebuah bentuk pengetahuan. Pyrrhonisme yang sejati harus tetap "terbuka" dan tidak terikat bahkan pada pernyataan skeptisnya sendiri.
Pengaruh Terhadap Filsafat Barat: Dari Montaigne ke Hume
Setelah berabad-abad tenggelam selama Abad Pertengahan, penemuan kembali teks-teks Sextus pada abad ke-16 memicu revolusi intelektual di Eropa. Richard Popkin menyebut periode ini sebagai "krisis skeptis" yang memaksa para pemikir untuk mencari landasan baru bagi kepastian.Michel de Montaigne adalah penerjemah pertama semangat Sextus ke dalam bahasa modern. Dalam esainya Apology for Raymond Sebond, Montaigne menggunakan argumen relativitas dari Sepuluh Tropus untuk meruntuhkan keangkuhan rasio manusia dan mempromosikan bentuk iman yang didasarkan pada pengakuan akan keterbatasan akal.
René Descartes, meskipun bertujuan untuk mengalahkan skeptisisme, justru menggunakan metode keraguan radikal Sextus sebagai langkah awal dalam Meditations on First Philosophy. Descartes mencoba membangun kepastian di atas fondasi "aku berpikir, maka aku ada," sebuah upaya untuk menghentikan regresi tak terbatas yang diajukan oleh tropus skeptis.
David Hume mewarisi skeptisisme terhadap induksi dan kausalitas dari tradisi Pyrrhonian. Hume menunjukkan bahwa keyakinan kita pada hukum alam bukan didasarkan pada bukti rasional, melainkan pada kebiasaan psikologis—sebuah pandangan yang sangat selaras dengan penekanan Sextus pada kehidupan menurut tradisi dan pengalaman sensorik.
Analisis Kritis: Masalah Relativisme dan Kontradiksi Internal
Kritik paling tajam terhadap Sextus adalah tuduhan bahwa skeptisisme bersifat merusak diri sendiri (self-refuting). Jika seorang skeptis mengatakan "tidak ada argumen yang lebih valid daripada yang lain," apakah argumen ini sendiri lebih valid? Sextus mengantisipasi hal ini dengan sangat cerdik. Ia berpendapat bahwa slogan-slogan skeptis bersifat seperti obat pencahar yang mengeluarkan racun dari tubuh dan kemudian ikut keluar bersama racun tersebut.Sextus juga dituduh jatuh ke dalam relativisme moral yang berbahaya. Namun, ia akan menjawab bahwa ia tidak mengeklaim "segala sesuatu itu relatif" sebagai kebenaran objektif, melainkan hanya melaporkan bahwa sejauh ini, semua nilai tampak relatif terhadap pengamatnya. Kontradiksi internal ini justru dikelola oleh Sextus dengan menjadikannya bagian dari metode skeptis: bahkan skeptisisme itu sendiri harus diragukan, sehingga menjaga pikiran tetap dalam kondisi penyelidikan yang konstan.
Relevansi Modern: Skeptisisme di Era Budaya Digital dan Fanatisme
Dalam konteks abad ke-21, pemikiran Sextus Empiricus menawarkan alat yang sangat relevan untuk menghadapi tantangan informasi global.Berpikir Kritis di Era Disinformasi
Di dunia yang dibanjiri oleh berita palsu dan "ruang gema" (echo chambers) media sosial, praktik epoché (penangguhan penilaian) menjadi keterampilan bertahan hidup yang esensial. Sextus mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru menyetujui sebuah klaim hanya karena klaim tersebut tampak meyakinkan pada pandangan pertama. Menggunakan metode isostheneia—mencari argumen tandingan yang sama kuatnya—dapat membantu memecahkan bias konfirmasi yang seringkali memicu polarisasi.Sains dan Fallibilisme
Skeptisisme Sextus tidak anti-sains; sebaliknya, ia sangat mirip dengan prinsip fallibilisme dalam metode ilmiah modern (seperti yang diajukan oleh Karl Popper). Ilmu pengetahuan yang sehat adalah ilmu yang tidak pernah mengeklaim telah menemukan kebenaran absolut, melainkan terus menguji hipotesis dan tetap terbuka terhadap bukti baru yang mungkin menyangkal teori saat ini. Pendekatan zetetic (terus mencari) dari Sextus adalah jiwa dari penyelidikan ilmiah yang sejati.Menghadapi Fanatisme Ideologis
Fanatisme, baik politik maupun agama, berakar pada keyakinan dogmatis bahwa seseorang memiliki kebenaran tunggal dan absolut. Sextus menawarkan jalan keluar menuju toleransi melalui kesadaran akan keterbatasan epistemik kita. Dengan mengakui bahwa argumen lawan mungkin memiliki kekuatan yang setara, kita dipaksa untuk beralih dari konflik ideologis menuju dialog yang lebih rendah hati dan damai.Kesimpulan Filosofis
Sextus Empiricus bukan sekadar penyusun argumen kuno yang sudah usang; ia adalah arsitek dari sebuah metode intelektual yang membebaskan manusia dari perbudakan dogmatisme. Melalui sistematisasi Skeptisisme Pyrrhonian, ia menunjukkan bahwa ketenangan batin (ataraxia) tidak dicapai dengan menaklukkan kebenaran, melainkan dengan mengakui bahwa pencarian manusia akan kepastian absolut seringkali merupakan sumber penderitaan itu sendiri. Meskipun ia tidak menawarkan sistem metafisika baru, "kemampuan" skeptis yang ia wariskan tetap menjadi instrumen paling tajam dalam kotak peralatan berpikir kritis manusia hingga hari ini. Warisannya adalah sebuah pengingat abadi bahwa kecerdasan tertinggi seringkali ditemukan dalam keberanian untuk berkata, "Saya menangguhkan penilaian".Sitasi:
A Defense of Pyrrhonian Skepticism. (n.d.). Digital Commons @ Connecticut College. Diakses Mei 13, 2026, dari Digital Commons @ Connecticut College
Ancient Greek Skepticism. (n.d.). Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses Mei 13, 2026, dari Internet Encyclopedia of Philosophy
Ancient Skepticism. (n.d.). Stanford Encyclopedia of Philosophy. Diakses Mei 13, 2026, dari Stanford Encyclopedia of Philosophy
Ancient Wisdom for the Modern Information Age: How Pyrrhonian Skepticism Can Save Us from Ourselves. (n.d.). Medium. Diakses Mei 13, 2026, dari Medium
ANCIENT SCEPTICISM. (n.d.). eClass UoA. Diakses Mei 13, 2026, dari eClass UoA
Apology for Raymond Sebond by Michel de Montaigne. (n.d.). EBSCO Research Starters. Diakses Mei 13, 2026, dari EBSCO
Arcesilaus: Socratic skepticism in Plato's academy. (n.d.). CNR. Diakses Mei 13, 2026, dari CNR
Did Descartes Read Sextus's Outlines of Pyrrhonism? A “Sceptical” Response. (2024). Taylor & Francis Online. Diakses Mei 13, 2026, dari Taylor & Francis Online
Did Descartes Read Sextus's Outlines of Pyrrhonism? A “Sceptical” Response. (2024). UL Research Repository - University of Limerick. Diakses Mei 13, 2026, dari University of Limerick Repository
E-Texts: Epicurea. (n.d.). Epicurus.info. Diakses Mei 13, 2026, dari Epicurus.info
Epicurus. (n.d.). Stanford Encyclopedia of Philosophy. Diakses Mei 13, 2026, dari Stanford Encyclopedia of Philosophy
Epistemology After Sextus Empiricus. (n.d.). Diakses Mei 13, 2026, dari PagePlace Preview
From Pyrrho to Sextus Empiricus: The Philosophical Roots of Postmodern Political Theory in Ancient Greek Skepticism. (n.d.). MDPI. Diakses Mei 13, 2026, dari MDPI
Full article: “Did Descartes Read Sextus's Outlines of Pyrrhonism?” A “Sceptical” Response. (2024). Taylor & Francis Online. Diakses Mei 13, 2026, dari Taylor & Francis Online
Greek Philosophy – Sextus Empiricus – Thought Itself. (n.d.). Eric Gerlach. Diakses Mei 13, 2026, dari Eric Gerlach
Handout 1: Montaigne's Skepticism. (n.d.). Geoff Pynn. Diakses Mei 13, 2026, dari Geoff Pynn
Inferential Modes of (Stoic) Apprehension in Sextus Empiricus. (2023). CEU Events. Diakses Mei 13, 2026, dari CEU Events
Is Pyrrhonian Skepticism taken seriously in contemporary philosophy? Why / why not? (2024). Reddit. Diakses Mei 13, 2026, dari Reddit
Logical sense in the skeptical self-refutation problem: Sextus Empiricus' logos and pathos. (n.d.). UTC Scholar. Diakses Mei 13, 2026, dari UTC Scholar
Montaigne and Human Folly. (2016). The American Plutarch. Diakses Mei 13, 2026, dari The American Plutarch
Montaigne and the Coherence of Eclecticism. (n.d.). Columbia University. Diakses Mei 13, 2026, dari Columbia University
Montaigne's Apology for Raymond Sebond. (n.d.). Scribd. Diakses Mei 13, 2026, dari Scribd
Outlines of Pyrrhonism. (n.d.). Harvard University Press. Diakses Mei 13, 2026, dari Harvard University Press
Pyrrhonian Skepticism: Suspending Judgment. (2024). 1000-Word Philosophy. Diakses Mei 13, 2026, dari 1000-Word Philosophy
Pyrrhonism. (n.d.). Routledge Encyclopedia of Philosophy. Diakses Mei 13, 2026, dari Routledge Encyclopedia of Philosophy
Pyrrhonism in Ancient, Modern, and Contemporary Philosophy. (n.d.). ResearchGate. Diakses Mei 13, 2026, dari ResearchGate
Pyrrhonism | Skepticism, Skeptics & Pyrrhonists. (n.d.). Britannica. Diakses Mei 13, 2026, dari Britannica
Renaissance Skepticism. (n.d.). Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses Mei 13, 2026, dari Internet Encyclopedia of Philosophy
SCEPTUS EMPIRICUS: Against the Physicists. (n.d.). Diakses Mei 13, 2026, dari PagePlace Preview
Sextus Empiricus. (n.d.). Stanford Encyclopedia of Philosophy. Diakses Mei 13, 2026, dari Stanford Encyclopedia of Philosophy
Sextus Empiricus. (n.d.). Wikipedia. Diakses Mei 13, 2026, dari Wikipedia
Sextus Empiricus and Modern Empiricism. (n.d.). The Temple of Nature. Diakses Mei 13, 2026, dari The Temple of Nature
Sextus Empiricus and Neurophilosophy. (n.d.). MedCrave Online. Diakses Mei 13, 2026, dari MedCrave Online
Sextus Empiricus, Philosopher-Doctor: One Vocation or Two? (n.d.). Johns Hopkins University. Diakses Mei 13, 2026, dari Johns Hopkins University
Sextus Empiricus, the Sceptic, On Not Being Dogmatic. (n.d.). New Learning Online. Diakses Mei 13, 2026, dari New Learning Online
Sextus Empiricus: Against the Logicians. (n.d.). Notre Dame Philosophical Reviews. Diakses Mei 13, 2026, dari Notre Dame Philosophical Reviews
Sextus Empiricus: Against Those in the Disciplines. (n.d.). Johns Hopkins University Philosophy. Diakses Mei 13, 2026, dari Johns Hopkins University Philosophy
Sextus Empiricus: Outlines of Skepticism. (n.d.). Philosophy: A Short History. Diakses Mei 13, 2026, dari Pressbooks CUNY
Sextus Empiricus | History | Research Starters. (n.d.). EBSCO. Diakses Mei 13, 2026, dari EBSCO
Sextus Empiricus | Sceptic, Pyrrhonism, Skepticism. (n.d.). Britannica. Diakses Mei 13, 2026, dari Britannica
Sextus Empiricus on the Third Unproved. (n.d.). Princeton University. Diakses Mei 13, 2026, dari Princeton University
Sextus Empiricus' Moral Scepticism Revisited. (n.d.). Kilikya Journal of Philosophy. Diakses Mei 13, 2026, dari DergiPark
SEXTUS EMPIRICUS AND THE SCIENTIFIC SCEPTICISM. (n.d.). Encephalos Journal. Diakses Mei 13, 2026, dari Encephalos Journal
SEXTUS EMPIRICUS. (n.d.). Cambridge University Press. Diakses Mei 13, 2026, dari Cambridge University Press
Skeptical Ethics. (n.d.). The Cambridge Companion to Ancient Ethics. Diakses Mei 13, 2026, dari Cambridge University Press
Skeptics | Early European History and Religion. (n.d.). Facts and Details. Diakses Mei 13, 2026, dari Facts and Details
Some further rough and loose notes on Pyrrho or Pyrrhonian skepticism in modern times (Updated version). (n.d.). Steemit. Diakses Mei 13, 2026, dari Steemit
The origin of the Stoic theory of signs in Sextus Empiricus. (n.d.). eClass UoA. Diakses Mei 13, 2026, dari eClass UoA
The Stoic Theory of Sign and Proof. (n.d.). Notre Dame Philosophical Reviews. Diakses Mei 13, 2026, dari Notre Dame Philosophical Reviews
UC Davis Philosophy 22 Lecture Notes: The Skeptical Crisis in European Philosophy. (n.d.). UC Davis. Diakses Mei 13, 2026, dari UC Davis




Post a Comment