Sunk Cost Fallacy dalam Konflik Geopolitik: Mengapa Perang AS–Israel vs Iran Terus Eskalatif? Analisis Psikologi dan Politik

Table of Contents

Sunk Cost Fallacy dalam Konflik Geopolitik
Dinamika konflik geopolitik modern sering kali menantang asumsi dasar teori pilihan rasional yang mendasari studi hubungan internasional konvensional. Dalam teater perang yang melibatkan aktor-aktor besar seperti Amerika Serikat, Israel, dan Iran, pengambil kebijakan sering kali terjebak dalam apa yang disebut sebagai "perangkap keputusan," di mana investasi masa lalu dalam bentuk sumber daya finansial, nyawa manusia, dan reputasi politik menjadi faktor penentu utama dalam kelanjutan konflik, melampaui perhitungan strategis yang murni berbasis pada manfaat masa depan. 

Fenomena ini, yang secara teoretis dikenal sebagai sunk cost fallacy dan escalation of commitment, menjelaskan mengapa negara-negara sering kali memilih untuk memperdalam keterlibatan mereka dalam konflik yang secara objektif merugikan, daripada menarik diri dan membatasi kerugian. Konflik antara blok AS-Israel dan Iran pada periode 2024–2026 memberikan gambaran nyata tentang bagaimana bias kognitif kolektif dapat memicu eskalasi yang tidak terkendali, mengubah ketegangan regional menjadi krisis global yang mengancam stabilitas energi dan ekonomi dunia.

1. Landasan Teoretis: Psikologi Kognitif dan Ekonomi Perilaku

Memahami perilaku negara dalam konflik bersenjata memerlukan pembedahan mendalam terhadap mekanisme internal pengambilan keputusan manusia. Meskipun negara sering dianggap sebagai aktor rasional tunggal dalam teori Realisme, pada kenyataannya, keputusan negara adalah hasil dari proses kognitif individu dan kelompok elite yang rentan terhadap distorsi psikologis.

Defini Akademik: Sunk Cost Fallacy dan Escalation of Commitment

Secara akademik, sunk cost fallacy atau sesat pikir biaya tertanam didefinisikan sebagai kecenderungan irasional untuk melanjutkan suatu usaha atau rencana karena investasi yang telah dilakukan sebelumnya—baik berupa waktu, uang, maupun upaya—tidak dapat dipulihkan kembali. Dalam model ekonomi klasik, biaya tertanam seharusnya tidak relevan bagi keputusan masa depan; rasionalitas menuntut agar individu hanya mempertimbangkan biaya dan manfaat tambahan di masa depan. Namun, psikologi perilaku menunjukkan bahwa manusia memiliki keengganan yang mendalam terhadap kerugian (loss aversion), di mana rasa sakit akibat kehilangan sesuatu dirasakan dua kali lebih kuat daripada kesenangan akibat mendapatkan sesuatu yang setara nilainya.

Escalation of commitment (eskalasi komitmen), atau yang sering disebut sebagai bias komitmen, adalah pola pengambilan keputusan di mana individu atau kelompok terus menginvestasikan sumber daya tambahan ke dalam arah tindakan yang gagal, meskipun terdapat bukti empiris yang kuat bahwa keputusan tersebut tidak lagi efektif atau kemungkinan keberhasilannya sangat rendah. Perbedaan halus antara keduanya terletak pada manifestasinya: sunk cost fallacy adalah alasan internal di balik keputusan tersebut (fokus pada apa yang sudah hilang), sedangkan eskalasi komitmen adalah perilaku yang dapat diamati secara eksternal (peningkatan investasi pada strategi yang gagal).

Integrasi Teori dalam Pengambilan Keputusan Strategis

Hubungan antara kedua konsep ini menciptakan siklus umpan balik yang merusak. Ketika seorang pemimpin menginvestasikan sumber daya besar ke dalam sebuah kampanye militer, kegagalan awal tidak dianggap sebagai sinyal untuk berhenti, melainkan sebagai tantangan yang menuntut lebih banyak komitmen untuk membenarkan investasi awal tersebut. Barry M. Staw, pionir dalam penelitian ini melalui studi klasiknya "Knee Deep in the Big Muddy," menunjukkan bahwa individu yang merasa bertanggung jawab secara pribadi atas keputusan awal lebih cenderung melakukan eskalasi dibandingkan mereka yang mewarisi keputusan dari orang lain. Dalam konteks militer, ini berarti seorang presiden atau perdana menteri yang memulai perang akan merasa jauh lebih sulit untuk menghentikannya karena hal itu berarti mengakui kesalahan penilaian yang fatal di hadapan publik.

Perbandingan Karakteristik Psikologis dalam Pengambilan Keputusan

Perbandingan Karakteristik Psikologis dalam Pengambilan Keputusan

Teori Subjective Expected Utility (SEU) dalam ekonomi juga memberikan perspektif tambahan. Pengambil keputusan menilai probabilitas bahwa alokasi sumber daya tambahan akan mengarah pada pencapaian tujuan, dikalikan dengan nilai tujuan tersebut. Namun, dalam situasi konflik, penilaian probabilitas ini sering kali terdistorsi oleh bias optimisme dan bias konfirmasi, di mana pemimpin hanya mencari informasi yang mendukung keyakinan mereka bahwa kemenangan "sudah dekat".

2. Aplikasi dalam Konteks Negara dan Dinamika Perang

Negara bukanlah entitas abstrak, melainkan organisasi kompleks yang dipimpin oleh manusia. Oleh karena itu, bias kognitif yang memengaruhi individu dapat teramplifikasi di tingkat kolektif melalui struktur birokrasi dan tekanan politik.

Bagaimana Negara Mengalami Bias Kognitif

Negara sering kali mengalami bias kognitif secara lebih ekstrem daripada individu karena adanya faktor "Ego Kolektif" dan "Kebanggaan Nasional". Mundur dari konflik sering kali dibingkai bukan sebagai penyesuaian strategis yang rasional, melainkan sebagai "penghinaan nasional" atau pengakuan akan kelemahan moral. Dalam lingkungan internasional yang anarkis, reputasi negara untuk ketangguhan (resolve) dianggap sebagai mata uang strategis. Jika sebuah negara dianggap mudah mundur, ada ketakutan bahwa lawan lain akan mengeksploitasi kelemahan tersebut di masa depan.

Peran Tekanan Politik Domestik dan Biaya Audiens

Audience costs (biaya audiens) merujuk pada hukuman politik domestik yang dihadapi oleh seorang pemimpin jika mereka meningkatkan krisis luar negeri namun kemudian terlihat mundur. Pemimpin dalam sistem demokrasi sangat rentan terhadap biaya ini karena mereka harus memenangkan pemilihan kembali. Mengakui bahwa ribuan nyawa tentara telah hilang tanpa hasil nyata dapat memicu kejatuhan pemerintahan. Akibatnya, pemimpin lebih memilih untuk melakukan "perjudian demi penebusan" (gambling for resurrection)—meningkatkan intensitas perang dengan harapan kecil akan kemenangan ajaib yang dapat membenarkan semua biaya yang telah dikeluarkan.

Ideologi dan Identitas Nasional sebagai Pengunci Strategis

Ideologi sering kali berfungsi sebagai kacamata yang mendistorsi realitas. Dalam konflik dengan Iran, narasi ideologis seperti "Poros Perlawanan" atau "Pertahanan Demokrasi" menciptakan beban moral yang membuat kompromi tampak seperti pengkhianatan terhadap nilai-nilai dasar negara. Identitas nasional yang terbentuk melalui sejarah panjang konflik—seperti memori Revolusi 1979 bagi Iran atau memori Holocaust bagi Israel—menciptakan apa yang disebut sebagai anchoring bias, di mana persepsi awal tentang musuh sebagai ancaman eksistensial menjadi sangat sulit untuk diubah, bahkan ketika fakta di lapangan telah berubah.

Mengapa Negara Sulit "Mundur"

1. Inersia Birokrasi: Organisasi militer dan intelijen memiliki anggaran, doktrin, dan karier yang terikat pada kelanjutan misi tertentu.
2. Reputasi dan Kredibilitas: Ketakutan bahwa penarikan diri akan menghancurkan kredibilitas aliansi dan mengundang agresi lebih lanjut.
3. Disonansi Kognitif: Ketidakmampuan elite politik untuk mendamaikan citra diri mereka sebagai pemimpin yang kompeten dengan kenyataan bahwa kebijakan mereka gagal.
4. Kewajiban Moral terhadap Korban: Narasi bahwa menghentikan perang adalah "pengkhianatan" terhadap mereka yang sudah gugur.

3. Analisis Kasus: AS–Israel vs Iran (2024–2026)

Konflik antara blok AS-Israel dan Iran pada periode 2024–2026 menunjukkan pola eskalasi yang sangat sesuai dengan model psikologi sunk cost. Ini bukan sekadar perang wilayah, melainkan perang komitmen di mana setiap pihak merasa telah menginvestasikan terlalu banyak untuk dapat mundur.

Indikator Sunk Cost dalam Konflik

Salah satu indikator utama adalah investasi militer yang tidak proporsional dibandingkan dengan hasil strategis yang dicapai. Sebagai contoh, dalam satu hari serangan rudal pada Oktober 2024, Iran mengeluarkan biaya material sebesar $2,3 miliar—setara dengan 22% dari anggaran pertahanan tahunannya. Meskipun serangan tersebut tidak melumpuhkan kemampuan pertahanan Israel secara permanen, besarnya biaya tersebut memaksa rezim Teheran untuk terus melanjutkan konfrontasi guna menunjukkan bahwa investasi tersebut bukan merupakan pemborosan sumber daya negara yang sedang dilanda sanksi.

Di sisi lain, keterlibatan Amerika Serikat melalui "Operation Epic Fury" pada awal 2026 menunjukkan beban biaya yang sangat masif bagi pembayar pajak AS. Dalam 12 hari pertama operasi, biaya yang dikeluarkan mencapai $16,5 miliar. Penggunaan rudal Tomahawk yang mahal (sekitar 319 rudal dalam enam hari) hampir mengosongkan magasin kapal-kapal Angkatan Laut AS di kawasan tersebut. Ketika inventaris senjata mulai menipis dan biaya meningkat setengah miliar dolar per hari, administrasi Washington terjebak dalam dilema: menarik diri sekarang berarti mengakui kegagalan operasi bernilai miliaran dolar, atau terus menyerang dengan harapan Iran akan runtuh terlebih dahulu.

Analisis Fenomena: Eskalasi Bertahap dan Escalation Trap

Konflik ini berkembang melalui siklus retalisi yang tidak langsung meledak menjadi perang total, melainkan melalui eskalasi bertahap yang semakin dalam. Setiap serangan dianggap sebagai "respons defensif" terhadap agresi sebelumnya, namun secara kolektif, tindakan-tindakan ini menciptakan "perangkap eskalasi" (escalation trap).

Analisis Fenomena: Eskalasi Bertahap dan Escalation Trap
Fenomena "eskalasi vertikal" Iran—menargetkan infrastruktur sipil, pusat data, dan desalinasi air di negara-negara Teluk—menunjukkan bahwa ketika sebuah pihak merasa sudah kehilangan segalanya (termasuk pimpinan tertingginya), mereka tidak lagi memiliki insentif untuk menahan diri. Iran berupaya membebankan biaya ekonomi global yang begitu tinggi melalui penutupan Selat Hormuz sehingga memaksa lawan untuk berhenti, namun logika ini sering kali bumerang karena lawan justru merasa harus membalas lebih keras untuk menjaga kredibilitas mereka.

4. Dimensi Psikologis dan Sosiologis

Eskalasi perang bukan hanya masalah angka, tetapi juga masalah narasi dan persepsi. Dimensi psikologis memainkan peran kunci dalam mempertahankan dukungan terhadap perang yang secara objektif merusak.

Cognitive Dissonance dan Loss Aversion

Disonansi kognitif muncul ketika para pengambil kebijakan di Tel Aviv dan Washington menghadapi kenyataan bahwa strategi "tekanan maksimum" tidak menghasilkan keruntuhan rezim Iran, melainkan justru radikalisasi lebih lanjut. Untuk mengurangi disonansi ini, mereka melakukan "penyangkalan terhadap kegagalan" dan terus memproyeksikan citra kemenangan yang akan segera datang.

Loss aversion juga menjelaskan mengapa Iran memilih untuk menutup Selat Hormuz meskipun hal itu merugikan ekonomi mereka sendiri. Bagi Teheran, kehilangan kedaulatan dan keamanan rezim dianggap sebagai kerugian yang jauh lebih besar daripada kerugian ekonomi akibat sanksi atau blokade. Mereka lebih bersedia mengambil risiko perang total (perjudian risiko tinggi) daripada menerima kerugian pasti berupa tunduk pada tuntutan Barat.

Collective Ego dan Legitimasi Perang

Narasi propaganda memainkan peran vital dalam menyatukan publik di bawah bendera nasional. Di Iran, narasi "Syahid" dan pengorbanan suci digunakan untuk membingkai kematian warga sipil dan kerusakan infrastruktur sebagai bagian dari perjuangan spiritual melawan "Setan Besar". Di Israel, trauma sejarah masa lalu diaktifkan untuk memastikan bahwa setiap ancaman dipandang sebagai potensi Holocaust kedua, yang membenarkan eskalasi militer tanpa batas.

Legitimasi perang ini juga diperkuat melalui manipulasi persepsi. Pihak-pihak yang berkonflik berusaha mendominasi narasi informasi untuk menciptakan anchoring bias di mata publik global. Mossad, misalnya, meluncurkan saluran Telegram berbahasa Farsi untuk menghasut kerusuhan domestik di Iran, sementara Iran menggunakan aktor siber dan proksi untuk menyebarkan disinformasi yang merusak kepercayaan pada sistem keuangan Barat.

5. Dinamika Eskalasi (Escalation Trap)

Eskalasi komitmen dalam konflik modern menciptakan dinamika di mana perang menjadi semakin mahal, kompleks, dan sulit dihentikan karena struktur kepentingannya yang saling mengunci.

Peningkatan Biaya dan Kompleksitas

Perang di tahun 2026 tidak lagi terbatas pada medan tempur fisik, tetapi mencakup dimensi siber, ekonomi, dan energi. Kompleksitas ini berarti bahwa pengambil kebijakan sering kali tidak memiliki gambaran utuh tentang dampak dari tindakan mereka. Serangan siber terhadap pelabuhan Iran dapat memicu serangan balasan terhadap jaringan listrik di Eropa atau Amerika Serikat, menciptakan efek riam yang tak terduga.

Biaya konflik juga meningkat secara eksponensial. Selain biaya militer langsung, terdapat biaya peluang (opportunity costs) yang masif. Dana yang seharusnya digunakan untuk pembangunan ekonomi atau transisi energi dialihkan untuk membiayai amunisi dan rekonstruksi infrastruktur yang hancur. Ketegangan ini menciptakan tekanan inflasi global, terutama di sektor energi dan pangan, yang pada gilirannya memicu ketidakstabilan politik di negara-negara yang bahkan tidak terlibat langsung dalam konflik.

Mekanisme "Melemparkan Uang Baik setelah Uang Buruk"

Dalam perang Iran, fenomena ini terlihat pada permintaan anggaran tambahan sebesar $200 miliar oleh Pentagon setelah satu bulan operasi militer yang tidak menunjukkan tanda-tanda kemenangan telak. Logikanya adalah: "Kita sudah menghabiskan $16 miliar dan kehilangan banyak peralatan; jika kita tidak menambah $200 miliar lagi, maka $16 miliar yang sudah keluar akan sia-sia". Ini adalah esensi dari eskalasi komitmen yang tidak rasional secara strategis namun sangat kuat secara psikologis dan politik.

6. Perbandingan Historis

Melihat ke belakang, pola sunk cost fallacy telah menjadi noda dalam sejarah kebijakan luar negeri Amerika Serikat selama beberapa dekade terakhir.

Perang Vietnam: Peringatan George Ball

Kasus Vietnam adalah contoh klasik di mana peringatan tentang sunk cost diabaikan demi menjaga reputasi. George Ball, dalam memorandunnya tahun 1965, memperingatkan Presiden Johnson bahwa pengerahan pasukan darat dalam skala besar akan memulai proses yang "hampir tidak dapat diubah". Ball memprediksi dengan tepat bahwa begitu pasukan AS mulai mengambil korban besar, keterlibatan akan menjadi begitu besar sehingga AS tidak dapat berhenti tanpa "penghinaan nasional". Namun, administrasi Johnson tetap melakukan eskalasi dari 10 batalion menjadi lebih dari 540.000 tentara, terjebak dalam kebutuhan untuk membenarkan pengorbanan yang sudah dilakukan.

Perang Irak dan Afghanistan: "Tyranny of Sunk Costs"

Di Irak dan Afghanistan, pola yang sama muncul kembali. Keputusan untuk melakukan "surge" (lonjakan pasukan) di Irak tahun 2007 dan di Afghanistan tahun 2009 sering kali dipandang sebagai upaya untuk menyelamatkan misi yang gagal demi menghormati mereka yang telah gugur. Di Afghanistan, argumentasi "Apakah Anda ingin kematian mereka tidak berarti apa-apa?" menjadi alat politik yang ampuh untuk memperpanjang perang selama 20 tahun. Penarikan diri AS pada tahun 2021 baru bisa terjadi setelah ada kepemimpinan yang berani mengakui bahwa biaya masa depan jauh melampaui manfaat yang mungkin didapat, terlepas dari triliunan dolar yang sudah tertanam.

Tabel Perbandingan Kasus Sunk Cost dalam Perang

Tabel Perbandingan Kasus Sunk Cost dalam Perang

7. Analisis Rasional vs Irasional

Apakah eskalasi selalu merupakan hasil dari bias yang tidak rasional? Dalam studi hubungan internasional, ada perdebatan penting mengenai hal ini.

Rasionalitas Strategis dan Costly Signaling

Eskalasi terkadang dianggap "rasional secara strategis" dalam kerangka costly signaling (pensinyalan berbiaya tinggi). Agar sebuah ancaman dianggap kredibel oleh lawan, pengirim ancaman harus bersedia menanggung biaya yang nyata. Jika sebuah negara tidak bersedia menanggung biaya sunk cost, maka ancamannya akan dianggap sebagai "omong kosong" (cheap talk). Dalam konteks ini, eskalasi komitmen adalah cara untuk mengomunikasikan tekad yang tak tergoyahkan (resolve) kepada musuh, dengan harapan mereka akan menjadi pihak yang pertama kali mundur dalam permainan "chicken game".

Perbedaan antara Deterrence Rasional dan Bias Psikologis

Perbedaan kuncinya terletak pada kemampuan aktor untuk berhenti. Rational deterrence (pencegahan rasional) melibatkan eskalasi yang terukur dengan tujuan diplomatik yang jelas dan dapat dicapai. Sebaliknya, bias psikologis terjadi ketika eskalasi menjadi tujuan itu sendiri, didorong oleh emosi dan kebutuhan untuk menyelamatkan muka, tanpa adanya strategi keluar yang masuk akal. Dalam perang Iran 2026, analisis menunjukkan adanya "disorientasi strategis" di mana tindakan militer diambil dengan tergesa-gesa tanpa artikulasi tujuan akhir yang jelas, menunjukkan dominasi bias kognitif di atas perhitungan strategis yang matang.

8. Implikasi Global

Kegagalan untuk mengenali dan memitigasi bias sunk cost dalam konflik Iran memiliki konsekuensi bencana bagi seluruh dunia.

Dampak terhadap Ekonomi dan Energi Global

Penutupan Selat Hormuz pada Maret 2026 menyebabkan gangguan pasokan minyak dan gas terbesar dalam sejarah. Sekitar 20% pasokan minyak dunia dan 20% perdagangan LNG global terhenti, menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak ke $120-$150 per barel.
1. Krisis Energi Eropa: Terhentinya LNG dari Qatar menyebabkan harga gas di Eropa naik 60% dalam satu bulan, memicu ancaman deindustrialisasi dan kerusuhan sosial.
2. Krisis Pangan Asia: Terhentinya ekspor pupuk (urea, amonia) dari Teluk mengancam hasil panen di Asia dan Amerika Utara, memicu inflasi pangan global yang parah.
3. Guncangan Pasar Keuangan: Ketidakpastian menyebabkan volatilitas ekstrem di pasar saham, dengan negara-negara seperti Korea Selatan harus mengaktifkan dana stabilisasi sebesar $68 miliar untuk mencegah kolapsnya pasar.

Risiko Konflik Berkepanjangan
Bias keputusan menciptakan risiko "perang selamanya" (forever war) di mana tidak ada pihak yang bersedia menyerah meskipun biaya yang ditanggung telah melampaui total nilai keuntungan apapun yang bisa didapat. Iran, yang terjepit dalam perjuangan eksistensial, beralih ke taktik asimetris dan terorisme global untuk menekan AS, sementara Israel terjebak dalam kampanye "memotong rumput" yang tidak pernah berakhir.

9. Solusi & Mitigasi

Menghindari sunk cost fallacy memerlukan perubahan struktural dalam cara negara mengambil keputusan militer dan diplomatik.

Decision-Making Framework yang Lebih Sehat

Negara perlu mengadopsi kerangka kerja yang memisahkan antara pengambil keputusan awal dan pengevaluasi kelanjutan kebijakan.

  • External Oversight: Melibatkan pihak ketiga atau badan pengawas independen yang tidak memiliki kepentingan pribadi dalam kesuksesan awal proyek untuk memberikan penilaian yang jujur.
  • Structured Analytic Techniques (SATs): Menggunakan teknik seperti "Analysis of Competing Hypotheses" (ACH) dan "Red Teaming" untuk secara sistematis menantang asumsi pimpinan dan mengeksplorasi skenario di mana kebijakan saat ini gagal.
  • Future-Based Cost-Benefit Analysis: Mengharuskan setiap permintaan anggaran militer baru didasarkan pada proyeksi manfaat masa depan secara ketat, dengan secara eksplisit mengabaikan biaya yang sudah dikeluarkan.

Peran Diplomasi dan "Face-Saving" Off-Ramps

Salah satu cara terpenting untuk de-eskalasi adalah dengan menyediakan "off-ramps" (jalan keluar) yang memungkinkan semua pihak untuk menarik diri tanpa merasa kehilangan muka di depan audiens domestik mereka. Ini bisa melibatkan:

  • Mediator Netral: Menggunakan negara-negara seperti Oman atau Qatar (sebelum mereka menjadi target) untuk memfasilitasi komunikasi rahasia yang mengurangi risiko audience costs dari diplomasi publik.
  • Strategi De-eskalasi Bertahap: Mengganti tuntutan "penyerahan tanpa syarat" dengan kesepakatan teknis kecil yang membangun kepercayaan kembali, seperti moratorium serangan terhadap infrastruktur sipil.
  • Checks and Balances: Memperkuat peran parlemen dalam menyetujui anggaran perang tambahan, memastikan bahwa ada debat publik yang kritis mengenai kelanjutan konflik yang merugi.

Tabel Ringkasan Strategi Mitigasi Bias Keputusan

Tabel Ringkasan Strategi Mitigasi Bias Keputusan
Analisis terhadap konflik AS–Israel vs Iran menegaskan bahwa dalam geopolitik modern, musuh terbesar sering kali bukanlah kekuatan militer lawan, melainkan keterbatasan kognitif dari para pengambil keputusan itu sendiri. Dengan memahami bagaimana sunk cost fallacy dan escalation of commitment bekerja, para pemimpin memiliki peluang kecil namun krusial untuk menghentikan "penggalian lubang" sebelum ia menjadi kuburan bagi stabilitas dunia. Keberanian sejati dalam kepemimpinan bukanlah tentang kegigihan dalam kesalahan, melainkan tentang kemampuan untuk mengakui kegagalan dan mengubah arah demi kepentingan masa depan yang lebih baik. Tanpa perubahan radikal dalam proses pengambilan keputusan strategis, dunia akan terus menyaksikan pengulangan tragedi Vietnam dan Afghanistan dalam skala yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya di Timur Tengah.

Sitasi:

Afghanistan and the sunk cost fallacy. (n.d.). FEE. Diakses April 25, 2026, dari https://fee.org/articles/afghanistan-and-the-sunk-cost-fallacy/

After Khamenei: Regional reckoning and the future of Iran's proxy networks. (2026). Stimson Center. Diakses April 25, 2026, dari https://www.stimson.org/2026/after-khamenei-regional-reckoning-and-the-future-of-irans-proxy-networks/

Audience cost. (n.d.). Wikipedia. Diakses April 25, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Audience_cost

Audience costs and the credibility of public versus private threats in international crises. (n.d.). APSA Preprints. Diakses April 25, 2026, dari https://preprints.apsanet.org/engage/api-gateway/apsa/assets/orp/resource/item/64dff605694bf1540c97644b/original/audience-costs-and-the-credibility-of-public-versus-private-threats-in-international-crises.pdf

Audience costs and the credibility of public versus private threats in international crises. (2024). Oxford Academic. Diakses April 25, 2026, dari https://academic.oup.com/isq/article/68/3/sqae091/7708162

A vocabulary of escalation: A primer on the escalation literature for military planners. (n.d.). RAND Corporation. Diakses April 25, 2026, dari https://www.rand.org/pubs/research_reports/RRA1933-1.html

Commitment bias (escalation of commitment). (n.d.). The Decision Lab. Diakses April 25, 2026, dari https://thedecisionlab.com/biases/commitment-bias

Cognitive biases in intelligence analysis and their mitigation (debiasing). (n.d.). Viborc. Diakses April 25, 2026, dari https://viborc.com/cognitive-biases-intelligence-analysis-mitigation/

Economic impact of the 2026 Iran war. (n.d.). Wikipedia. Diakses April 25, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Economic_impact_of_the_2026_Iran_war

Economic impact of the Iran–Israel proxy conflict. (n.d.). Wikipedia. Diakses April 25, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Economic_impact_of_the_Iran%E2%80%93Israel_proxy_conflict

Economic science, sunk costs, and the withdrawal of U.S. troops from Afghanistan. (2021). Independent Institute. Diakses April 25, 2026, dari https://www.independent.org/article/2021/07/16/economic-science-sunk-costs-and-the-withdrawal-of-u-s-troops-from-afghanistan/

Escalation of commitment. (n.d.). Wikipedia. Diakses April 25, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Escalation_of_commitment

Escalation of commitment | Psychology | Research starters. (n.d.). EBSCO. Diakses April 25, 2026, dari https://www.ebsco.com/research-starters/psychology/escalation-commitment

Escalation without exit: Strategic disorientation and potential scenarios US–Israeli war. (n.d.). Al Jazeera Studies. Diakses April 25, 2026, dari https://studies.aljazeera.net/en/analyses/escalation-without-exit-strategic-disorientation-and-potential-scenarios-us%E2%80%93israeli-war

Fog, proxies and uncertainty: Cyber in US-Israeli operations in Iran. (n.d.). RUSI. Diakses April 25, 2026, dari https://www.rusi.org/explore-our-research/publications/commentary/fog-proxies-and-uncertainty-cyber-us-israeli-operations-iran

Foreign relations of the United States, 1964–1968, volume III, Vietnam, June–December 1965. (n.d.). Office of the Historian. Diakses April 25, 2026, dari https://history.state.gov/historicaldocuments/frus1964-68v03/d40

Full article: Mind on the battlefield: What can cognitive science add to the military lessons-learned process? (2024). Taylor & Francis. Diakses April 25, 2026, dari https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/14702436.2024.2316138

Full article: “Offending the audience: A normative account of democratic audience costs”. (2026). Taylor & Francis. Diakses April 25, 2026, dari https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/16544951.2026.2626115

Heuristics and biases in military decision making. (2012). Army University Press. Diakses April 25, 2026, dari https://www.armyupress.army.mil/Portals/7/military-review/Archives/English/MilitaryReview_20120630MC_art011.pdf

Introduction and overview. (n.d.). Sage Publications. Diakses April 25, 2026, dari https://cmn-cdn-001.sagepub.com/books/titles/255432/att_sb1_107812.pdf

Iran war cost estimate update: $11.3 billion at day 6, $16.5 billion at day 12. (2026). CSIS. Diakses April 25, 2026, dari https://www.csis.org/analysis/iran-war-cost-estimate-update-113-billion-day-6-165-billion-day-12

Iran’s war strategy: Don’t calibrate—escalate. (2026). CSIS. Diakses April 25, 2026, dari https://www.csis.org/analysis/irans-war-strategy-dont-calibrate-escalate

On exit strategies: The need for public debate. (n.d.). The Fulcrum. Diakses April 25, 2026, dari https://thefulcrum.us/civic-engagement-education/trump-and-foreign-policy-war

PERSPECTIVE: The strategic logic of land chokepoints in modern warfare. (n.d.). HSToday. Diakses April 25, 2026, dari https://www.hstoday.us/subject-matter-areas/border-security/perspective-the-strategic-logic-of-land-chokepoints-in-modern-warfare/

Promoting de-escalation of commitment: A regulatory-focus perspective on sunk costs. (2011). Northwestern University. Diakses April 25, 2026, dari https://psychology.northwestern.edu/documents/faculty-publications/molden-%20hui_2011.pdf

Restructuring structured analytic techniques in intelligence. (n.d.). HSDL. Diakses April 25, 2026, dari https://www.hsdl.org/c/view?docid=804875

Revolution, resistance and trust limits in Iran's geopolitics. (2026). Modern Ghana. Diakses April 25, 2026, dari https://www.modernghana.com/news/1487786/revolution-resistance-and-trust-limits-in-irans.html

Sunk cost fallacy: Escalation of commitment explained. (n.d.). Arab Psychology. Diakses April 25, 2026, dari https://db.arabpsychology.com/escalation-of-commitment-2/

The armed conflict survey 2025: Editor's introduction. (2025). IISS. Diakses April 25, 2026, dari https://www.iiss.org/publications/armed-conflict-survey/2025/armed-conflict-survey-2025/editors-introduction/

The end of managed escalation in the Gulf. (n.d.). War on the Rocks. Diakses April 25, 2026, dari https://warontherocks.com/the-end-of-managed-escalation-in-the-gulf/

The escalation of commitment: An update and appraisal. (n.d.). Cambridge University Press. Diakses April 25, 2026, dari https://resolve.cambridge.org/core/services/aop-cambridge-core/content/view/7663E2239498497827200EFA1C8763DA/9780511584169c9_p191-215_CBO.pdf/escalation_of_commitment_an_update_and_appraisal.pdf

The global price tag of war in the Middle East. (2026). World Economic Forum. Diakses April 25, 2026, dari https://www.weforum.org/stories/2026/03/the-global-price-tag-of-war-in-the-middle-east/

The Iran war and the global terrorism threat. (2026). Vision of Humanity. Diakses April 25, 2026, dari https://www.visionofhumanity.org/wp-content/uploads/2026/03/The-Iran-War-and-The-Global-Terrorism-Threat.pdf

The Middle East and global energy markets. (n.d.). IEA. Diakses April 25, 2026, dari https://www.iea.org/topics/the-middle-east-and-global-energy-markets

The Middle East conflict begins to cast a shadow on the global economy. (n.d.). Deloitte. Diakses April 25, 2026, dari https://www.deloitte.com/us/en/insights/topics/economy/iran-middle-east-conflict-impacts-global-economy.html

The sunk cost fallacy. (n.d.). The Decision Lab. Diakses April 25, 2026, dari https://thedecisionlab.com/biases/the-sunk-cost-fallacy

The sunk cost fallacy in the war on terror. (n.d.). The Daily Economy. Diakses April 25, 2026, dari https://thedailyeconomy.org/article/the-sunk-cost-fallacy-in-the-war-on-terror/

The two surges: Iraq and Afghanistan in comparison. (2022). ResearchGate. Diakses April 25, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/362977467_The_two_surges_Iraq_and_Afghanistan_in_comparison

The US decision to withdraw from Afghanistan is the right one. (2021). Brookings Institution. Diakses April 25, 2026, dari https://www.brookings.edu/articles/the-us-decision-to-withdraw-from-afghanistan-is-the-right-one/

Visualizing Iran's escalation strategy. (2026). CSIS. Diakses April 25, 2026, dari https://www.csis.org/analysis/visualizing-irans-escalation-strategy

War, cognitive biases and perception management: The time has come. (n.d.). Military Strategy Magazine. Diakses April 25, 2026, dari https://www.militarystrategymagazine.com/article/war-cognitive-biases-and-perception-management-the-time-has-come/

What is the difference between the sunk cost fallacy and escalation of commitment? (n.d.). Scribbr. Diakses April 25, 2026, dari https://www.scribbr.com/frequently-asked-questions/difference-between-sunk-cost-fallacy-and-escalation-of-commitment/

Winning an unpopular war: U.S. strategy in the Iran conflict. (2026). Small Wars Journal. Diakses April 25, 2026, dari https://smallwarsjournal.com/2026/04/03/winning-an-unpopular-war/

“It was an unwinnable war”. (n.d.). ADST. Diakses April 25, 2026, dari https://adst.org/oral-history/fascinating-figures/it-was-an-unwinnable-war/

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment