Metafisika Islam Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas: Analisis Pemikiran dalam Prolegomena to the Metaphysics of Islam
Pandangan Alam Islam sebagai Visi Realitas dan Kebenaran
Analisis mendalam al-Attas dalam bab pendahuluan dimulai dengan redefinisi fundamental terhadap konsep "pandangan alam" (worldview). Beliau menolak keras penyamaan istilah pandangan alam Islam dengan terminologi modern seperti nazrat al-Islām li al-kawn, yang menurutnya hanya merujuk pada pandangan akal terhadap dunia fisik dan keterlibatan historis manusia di dalamnya. Al-Attas mengusulkan istilah yang lebih akurat secara metafisika, yaitu ru’yat al-Islām li al-wujūd—visi Islam terhadap keberadaan atau eksistensi secara totalitas. Visi ini tidak terbatas pada apa yang tampak (shahādah), tetapi mencakup dimensi yang tidak tampak (ghayb), di mana dunia fisik dipandang sebagai jembatan menuju akhirat yang memiliki signifikansi final.
Perbedaan mendasar antara pandangan alam Islam dan Barat terletak pada sumber dan sifat permanensinya. Pandangan alam Islam bukan merupakan produk spekulasi filosofis yang berkembang melalui proses dialektis tesis-antitesis-sintesis, melainkan sebuah visi yang telah mencapai kematangannya sejak masa wahyu. Hal ini kontras dengan pandangan alam Barat yang terus-menerus "menjadi" (becoming) tanpa pernah benar-benar "ada" (being), karena dasarnya adalah pengalaman indrawi dan rasionalitas yang terputus dari bimbingan wahyu. Al-Attas menekankan bahwa realitas dalam Islam adalah ḥaqīqah, sebuah istilah yang mencakup kebenaran (ḥaqq) dan kenyataan, berbeda dengan penggunaan kata wāqi’iyyah dalam kamus bahasa Arab modern yang sering kali hanya merujuk pada kejadian faktual tanpa mempedulikan apakah kejadian tersebut benar secara ontologis atau salah secara moral.
Ketidakmampuan membedakan antara yang benar (ḥaqq) dan yang sekadar faktual (wāqi’) telah menyebabkan apa yang disebut al-Attas sebagai hilangnya adab, yaitu hilangnya kemampuan untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya yang benar. Hilangnya adab ini merupakan konsekuensi langsung dari kerusakan ilmu pengetahuan, yang kemudian berujung pada munculnya pemimpin-pemimpin yang tidak kompeten secara intelektual dan spiritual di dunia Islam. Oleh karena itu, Prolegomena berfungsi sebagai fondasi untuk mengembalikan tatanan berpikir yang benar melalui pemahaman metafisika yang jernih.
Dīn: Dinamika Keberutangan dan Peradaban
Dalam bab pertama, al-Attas menyajikan analisis semantik yang luar biasa mendalam terhadap kata dīn. Beliau membongkar lapisan makna dari akar kata D-Y-N untuk menunjukkan bahwa agama dalam Islam bukanlah sekadar institusi sosial, melainkan sebuah kondisi eksistensial yang inheren dalam sifat dasar manusia. Terdapat empat makna utama yang saling bertautan: keberutangan (dayn), penyerahan diri (dāna), kekuasaan yudisial (dayyān), dan kecenderungan untuk membangun peradaban beradab (madīnah). Konsep keberutangan eksistensial ini merujuk pada fakta bahwa manusia berutang atas keberadaannya sendiri kepada Sang Pencipta. Manusia tidak memiliki apa pun pada dirinya sendiri; segala sesuatu, termasuk hidupnya, adalah milik Tuhan.
Puncak dari keberutangan ini terjadi pada peristiwa Mīthāq atau Perjanjian Primordial di alam ruh, sebagaimana terekam dalam Surah Al-A'raf ayat 172. Ketika Tuhan bertanya, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?", ruh manusia menjawab, "Ya, kami bersaksi" (Balā shāhidnā). Jawaban ini, menurut al-Attas, merupakan kontrak primordial yang menetapkan status manusia sebagai hamba (‘abd) secara permanen. Pengabdian atau ‘ibādah bukanlah sebuah beban yang dipaksakan dari luar, melainkan pemenuhan secara sukarela terhadap kontrak tersebut. Dalam konteks ini, Islam didefinisikan sebagai penyerahan diri yang sadar dan tahu, di mana aspek spiritual manusia memerintah aspek hewaninya.
Kaitan antara dīn dan madīnah memberikan wawasan mendalam bahwa Islam adalah agama yang secara inheren mendorong pembentukan peradaban. Kota yang beradab (madīnah) adalah tempat di mana hukum Tuhan (dīn) ditegakkan, dan penghuninya adalah orang-orang yang memiliki adab. Keadilan (‘adl) dalam kerangka ini adalah kondisi di mana segala sesuatu berada pada tempatnya yang benar, mulai dari penempatan Tuhan sebagai pusat realitas hingga penempatan diri manusia dalam hierarki ciptaan. Kezaliman (ẓulm), sebaliknya, adalah tindakan meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, yang paling fatal adalah ketika manusia melupakan kontrak primordialnya dengan Tuhan.
Implikasi dari pemahaman ini adalah bahwa etika dalam Islam tidak bersifat otonom atau terpisah dari teologi. Etika adalah ekspresi dari pengenalan manusia terhadap tempatnya di hadapan Tuhan. Al-Attas mengkritik sistem etika Barat modern yang berusaha memisahkan moralitas dari metafisika, yang akhirnya terjebak dalam relativisme karena tidak memiliki jangkar pada kebenaran yang permanen.
Metafisika Kebahagiaan: Sa’ādah dan Ketenangan Jiwa
Bab kedua dalam Prolegomena membahas salah satu konsep yang paling sering disalahpahami dalam dunia modern: kebahagiaan. Al-Attas menggunakan istilah sa’ādah untuk membedakannya dari konsep kesenangan (pleasure) atau kegembiraan (joy) yang bersifat ephemera dan fisik. Beliau merumuskan teori orisinal bahwa kebahagiaan dalam Islam bukan merupakan akhir dalam dirinya sendiri (end in itself) di dunia, melainkan sebuah orientasi jiwa menuju akhirat. Kebahagiaan sejati adalah ketenangan jiwa (itmi’nān al-qalb) yang diperoleh melalui pengenalan terhadap Kebenaran Mutlak dan kepatuhan kepadanya.
Al-Attas melakukan kritik tajam terhadap pandangan Aristoteles tentang Eudaimonia. Meskipun Aristoteles mengaitkan kebahagiaan dengan kebajikan, ia membatasi realisasinya hanya pada kehidupan duniawi dan memandangnya sebagai tujuan akhir manusia di sini. Dalam Islam, kebahagiaan mencakup dua dimensi: dunyawiyyah (dunia) dan ukhrawiyyah (akhirat). Namun, dimensi ukhrawi adalah yang utama, di mana kebahagiaan tertinggi adalah visi terhadap Allah (ru’yat Allāh). Beliau juga memperkenalkan konsep tragedi dalam perspektif Islam, di mana tragedi tidak dipandang sebagai nasib buruk yang menimpa pahlawan sebagaimana dalam mitologi Yunani, melainkan sebagai akibat dari kegagalan jiwa dalam memenuhi janji setianya kepada Tuhan—sebuah penderitaan spiritual akibat menjauh dari fitrah.
Lawan dari sa’ādah adalah shaqāwah, yang berarti kesengsaraan besar, kecelakaan, atau penderitaan. Al-Attas menjelaskan bahwa orang yang berpaling dari zikir kepada Allah akan menjalani kehidupan yang sempit (ma’īshatan dhankā), terlepas dari seberapa banyak kekayaan material yang ia miliki. Hal ini memberikan penjelasan faktual mengapa di masyarakat Barat yang maju secara material, tingkat depresi dan bunuh diri tetap tinggi; mereka kehilangan dimensi spiritual dari kebahagiaan.
Kebahagiaan dalam Islam, oleh karena itu, merupakan hasil dari pencapaian kebajikan-kebajikan internal yang dipandu oleh iman dan ilmu. Tanpa ilmu yang benar tentang siapa manusia dan ke mana ia menuju, kebahagiaan hanyalah fatamorgana yang dikejar melalui akumulasi materi tanpa henti.
Filsafat Ilmu: Islamisasi sebagai Restorasi Makna
Salah satu bagian paling krusial dari Prolegomena adalah analisis al-Attas mengenai hakikat ilmu pengetahuan. Beliau menantang asumsi netralitas ilmu pengetahuan yang diusung oleh Barat modern. Al-Attas menegaskan bahwa ilmu pengetahuan yang dikembangkan di Barat telah disusupi oleh elemen-elemen kebudayaan, filosofi, dan prasangka keagamaan (atau anti-keagamaan) mereka sendiri. Ilmu pengetahuan modern cenderung mendewakan rasio dan pengalaman indrawi sambil mengabaikan wahyu, yang mengakibatkan "disenchantment of nature"—pengosongan alam dari makna spiritual.
Definisi ilmu yang diajukan al-Attas adalah "tibanya makna ke dalam jiwa sekaligus tibanya jiwa pada makna". Definisi ganda ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan melibatkan peran aktif Tuhan sebagai pemberi makna dan peran aktif manusia sebagai penerima yang bersiap diri melalui penyucian jiwa. Ilmu diklasifikasikan menjadi dua:
1. Ilmu Pemberian (Given Knowledge): Ilmu tentang nilai, tujuan hidup, dan realitas metafisika yang diwahyukan. Ini adalah kewajiban setiap individu (fardhu ‘ain) untuk mengetahuinya.
2. Ilmu Perolehan (Acquired Knowledge): Ilmu tentang dunia fisik, sains, dan teknologi yang didapat melalui observasi dan eksperimen. Ini adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah).
Proses Islamisasi ilmu pengetahuan melibatkan dua tahap: isolasi elemen-elemen Barat dari ilmu pengetahuan yang ada saat ini, dan infus elemen-elemen Islam ke dalamnya. Ini bukan sekadar penambahan label agama, melainkan rekonstruksi fondasi metafisika ilmu tersebut agar sejalan dengan tauhid. Al-Attas memperingatkan bahwa tanpa Islamisasi, umat Islam akan terus mengonsumsi ilmu yang mengandung "racun" sekularisme yang perlahan-lahan merusak iman dan tatanan sosial mereka.
Psikologi Islam: Struktur Jiwa dan Kapasitas Intelektual
Al-Attas menawarkan pemahaman antropologis yang mendalam mengenai hakikat manusia, yang beliau definisikan sebagai al-hayawān al-nāṭiq (makhluk yang berbicara/rasional). Beliau menekankan bahwa istilah nāṭiq bukan sekadar merujuk pada kemampuan bahasa lahiriah, melainkan pada fakultas jiwa yang mampu menangkap makna-makna universal dan melakukan artikulasi intelektual. Jiwa manusia memiliki dua aspek: aspek yang cenderung ke arah jasmani untuk mengelola tubuh, dan aspek yang cenderung ke arah ruhani untuk menangkap cahaya ilahi.
Dalam Prolegomena, al-Attas menjelaskan berbagai fakultas jiwa dengan presisi tinggi. Beliau mengidentifikasi lima indra batin (al-ḥawāss al-bāṭinah): indra bersama (al-hiss al-mushtarak), imajinasi (al-khayāl), estimasi (al-wahm), memori (al-dhikr), dan fakultas representatif. Khusus mengenai imajinasi, al-Attas memberikan perhatian besar karena fungsinya sebagai jembatan antara dunia fisik dan dunia ruhani (‘ālam al-mithāl). Imajinasi mampu memvisualisasikan kebenaran abstrak sehingga dapat dipahami oleh akal manusia yang masih terikat tubuh.
Penyakit jiwa yang paling mendasar menurut al-Attas adalah nisyān (lupa). Manusia lupa akan perjanjiannya dengan Tuhan, yang mengakibatkan ketidakadilan terhadap dirinya sendiri. Pendidikan Islam yang benar, dalam hal ini, berfungsi sebagai tadhkirah atau pengingat. Puncak dari fungsi intelektual manusia adalah ketika akal (‘aql) tidak lagi hanya bekerja secara diskursif (setahap demi setahap), tetapi mampu menerima iluminasi langsung dari Intelegensia Aktif, yang dalam tradisi sufi dikaitkan dengan cahaya kenabian.
‘Aql = Substansi Spiritual yang Menangkap Realitas
Berpikir = Gerakan Jiwa dari yang Diketahui menuju yang Belum Diketahui
Al-Attas menegaskan bahwa manusia adalah muḥkamāt dari kosmos—titik paling jelas dan stabil dari seluruh penciptaan untuk memahami Tuhan. Alam semesta adalah mutashābihāt (ambigu) jika dilihat tanpa keterkaitannya dengan Pencipta, namun menjadi jelas ketika dipandang melalui kacamata jiwa manusia yang telah mengenal Tuhannya.
Ontologi Islam: Primasi Wujūd dan Dinamika Keberadaan
Pembahasan mengenai keberadaan (wujūd) dalam Prolegomena merupakan puncak dari spekulasi metafisika al-Attas. Beliau secara tegas mengambil posisi aṣālat al-wujūd (primasi keberadaan) atas māhiyyah (esensi/kuiditas). Beliau berargumen bahwa dalam realitas nyata, yang benar-benar "ada" adalah eksistensi itu sendiri, sementara esensi hanyalah konstruksi mental yang digunakan pikiran untuk membatasi dan mengidentifikasi bagian-bagian dari eksistensi tersebut.
Tuhan didefinisikan sebagai Wujud Mutlak yang keberadaannya tidak terbatas dan identik dengan esensinya. Segala sesuatu selain Tuhan adalah "wujud yang mungkin" (possible beings) yang keberadaannya bergantung sepenuhnya pada pancaran (tajallī) dari Wujud Mutlak. Al-Attas mengadopsi teori penciptaan kembali yang terus-menerus (al-khalq al-jadīd), di mana alam semesta senantiasa dimusnahkan dan diciptakan kembali pada setiap saat oleh Tuhan. Hal ini memberikan penjelasan tentang perubahan dalam alam semesta tanpa harus mengasumsikan adanya substansi material yang independen.
Beliau juga membedakan antara "intuisi eksistensi" yang bersifat diskursif dengan "intuisi eksistensi" yang bersifat langsung atau shuhūd. Shuhūd memungkinkan manusia untuk menyaksikan kesatuan di balik keragaman ciptaan—bahwa semua makhluk adalah cermin yang memantulkan asma dan sifat Tuhan dengan derajat intensitas yang berbeda-beda. Pandangan ontologis ini memberikan dasar bagi sains Islam yang tidak memisahkan antara hukum alam dan kehendak ilahi.
Analisis al-Attas menunjukkan bahwa kegagalan sains Barat dalam memahami realitas disebabkan oleh obsesi mereka terhadap māhiyyah (benda sebagai benda) sambil mengabaikan wujūd (benda sebagai ayat atau tanda). Hal ini mengakibatkan sains yang canggih secara teknis tetapi buta secara spiritual.
Tingkatan Eksistensi dan Aplikasi Diagnostik Peradaban
Al-Attas menyusun skema hierarki keberadaan yang disebut "Degrees of Existence" untuk memberikan panduan praktis dalam mendiagnosis masalah sosial dan peradaban. Hierarki ini bukan sekadar abstraksi, melainkan alat untuk melihat di mana letak kerusakan dalam suatu sistem. Beliau membagi realitas menjadi tingkatan-tingkatan mulai dari yang paling spiritual (dekat dengan Tuhan) hingga yang paling material.
Aplikasi praktis dari kerangka ini terlihat dalam diagnosis korupsi. Al-Attas berpendapat bahwa korupsi bukan sekadar masalah teknis atau administratif (tingkat rendah), melainkan gejala dari rusaknya orientasi metafisika dan karakter (tingkat tinggi). Jika korupsi diatasi hanya dengan perbaikan sistem pengawasan tanpa memperbaiki pemahaman pelaku tentang hakikat amanah dan akhirat, maka korupsi akan terus bermutasi dalam bentuk lain. Solusi yang benar harus menyasar strata ontologis di mana penyebab masalah itu berada.
Demikian pula dalam dunia pendidikan, al-Attas mengkritik kecenderungan modern yang mereduksi pendidikan menjadi sekadar pelatihan keterampilan kerja (job training). Beliau menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah pembentukan jiwa manusia agar mampu mengenali tempatnya yang benar dalam hierarki keberadaan. Pendidikan harus melahirkan "orang baik" sebelum melahirkan "pekerja ahli", karena seorang ahli tanpa integritas spiritual hanya akan menjadi alat perusak peradaban.
Kerangka ini juga relevan dalam menghadapi isu-isu modern seperti Big Data. Al-Attas mengingatkan bahwa data hanyalah sekumpulan informasi yang berada pada tingkat rendah. Tanpa bimbingan adab dan nilai-nilai Islam pada tingkat yang lebih tinggi, penggunaan Big Data dapat disalahgunakan untuk manipulasi dan pelanggaran privasi yang merusak keadilan sosial.
Epilog: Tafsir Metafisis Penciptaan dalam Enam Hari
Karya ini diakhiri dengan interpretasi mendalam terhadap ayat-ayat Al-Qur'an mengenai penciptaan dalam enam hari. Al-Attas menyatakan bahwa seluruh isi buku Prolegomena sebenarnya merupakan persiapan intelektual untuk memahami rahasia di balik ayat-ayat tersebut. Beliau menolak pandangan yang menyamakan "enam hari" dengan periode waktu kronologis semata. Baginya, enam hari merujuk pada tahap-tahap deskensus ontologis dari Wujud Mutlak menuju manifestasi dunia materi.
Setiap "hari" mewakili tingkatan keberadaan tertentu di mana asma dan sifat Tuhan bermanifestasi dalam kompleksitas yang semakin meningkat. Interpretasi ini menegaskan bahwa alam semesta adalah sebuah kesatuan yang harmonis dan penuh makna, bukan hasil dari kebetulan evolusioner yang tanpa tujuan. Pemahaman ini memberikan rasa hormat yang mendalam terhadap alam semesta sebagai "Buku Terbuka" Tuhan yang harus dibaca dengan penuh kekhidmatan.
Al-Attas menekankan bahwa kemampuan manusia untuk memahami tafsir ini adalah bukti dari kemuliaan jiwanya yang telah dilengkapi dengan ‘aql. Keseluruhan proyek metafisika al-Attas bermuara pada kesimpulan bahwa satu-satunya cara bagi umat Islam untuk bangkit kembali adalah dengan menguasai kembali ilmu pengetahuan metafisika ini dan menjadikannya sebagai basis bagi seluruh aktivitas kehidupan, mulai dari pendidikan hingga pemerintahan.
Kesimpulan: Urgensi Restorasi Metafisika Islam
Melalui Prolegomena to the Metaphysics of Islam, Syed Muhammad Naquib al-Attas telah menyusun sebuah arsitektur pemikiran yang kokoh dan komprehensif. Karya ini memberikan jawaban fundamental terhadap tantangan sekularisasi yang telah menggerus identitas intelektual Muslim selama berabad-abad. Beberapa poin kunci yang menjadi warisan intelektual karya ini meliputi:
- Worldview sebagai Basis: Pentingnya memiliki visi realitas yang utuh (ru’yat al-Islām) agar tidak terjebak dalam fragmentasi pengetahuan sekuler.
- Kedaulatan Bahasa: Perlunya menjaga kemurnian makna istilah-istilah kunci Islam dari distorsi semantik modern yang dapat merusak akidah.
- Integrasi Ilmu: Penegasan bahwa ilmu pengetahuan tidak netral dan harus diislamkan pada level metafisikanya agar mendatangkan rahmat bagi semesta.
- Primasi Spiritual: Pengakuan bahwa keberadaan manusia bukan hanya fisik, tetapi spiritual, dan kebahagiaan sejati hanya dapat ditemukan dalam kedekatan dengan Tuhan.
Prolegomena bukan sekadar teks sejarah pemikiran, melainkan sebuah panduan operasional bagi siapa saja yang ingin membangun kembali peradaban Islam di atas fondasi yang benar. Dengan kejelasan argumen dan kedalaman analisisnya, al-Attas telah membuktikan bahwa metafisika Islam tetap relevan dan bahkan sangat diperlukan untuk menavigasi kompleksitas dunia modern. Karya ini berdiri sebagai mercusuar bagi para intelektual Muslim untuk kembali kepada keaslian tradisi mereka sambil tetap kritis terhadap segala bentuk pemikiran asing yang merusak. Panggilan al-Attas untuk restorasi metafisika adalah panggilan untuk kembali menjadi manusia yang beradab—manusia yang mengenal Tuhannya, mengenal dirinya, dan mampu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang benar.
Sitasi:
Al-Attas, S. M. N. (2014). Prolegomena to the metaphysics of Islam: An exposition of the fundamental elements of the worldview of Islam. Johor Bahru: UTM Press.
Albalagh Bookstore. (n.d.). Prolegomena to the metaphysics of Islam. Diakses Maret 10, 2026, dari https://www.albalaghbooks.com/general/contemporary-issues/science-and-philosophy/prolegomena-to-the-metaphysics-of-islam/
Al-Andalus Academy. (n.d.). Prolegomena to the metaphysics of Islam. Diakses Maret 10, 2026, dari https://alandalusacademy.com/product/prolegomena-to-the-metaphysics-of-islam/
Arif, S., & Hidayatullah, E. A. (n.d.). Syed Muhammad Naquib al-Attas' exposition on the concept of ethics. Diakses Maret 10, 2026, dari https://ejournal.um.edu.my/index.php/afkar/article/download/37689/14768/91853
Asian Public Administration Network. (n.d.). Al-Attas on action, thinking framework and the human soul. Diakses Maret 10, 2026, dari https://www.asianpa.net/assets/upload/articles/j1iisoWLfPd3stmd.pdf
European Proceedings. (2020). Social and behavioural sciences. Diakses Maret 10, 2026, dari https://www.europeanproceedings.com/pdf/article/10.15405/epsbs.2020.10.02.8
Fondazione Giorgio Cini. (2024). Sufi metaphysics of Syed Muhammad Naquib al-Attas. Diakses Maret 10, 2026, dari https://www.cini.it/wp-content/uploads/2025/03/Ezzat_2024_Sufi-Metaphysics_2.pdf
Hidayatullah, E. A., & Arif, S. (n.d.). The concept of science in Islamic tradition: Analytical studies. Diakses Maret 10, 2026, dari https://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/tasfiyah/article/download/8456/10589
IKIM. (n.d.). Al-Attas's view on the importance of man in our understanding of the cosmos. Diakses Maret 10, 2026, dari https://tafhim.ikim.gov.my/index.php/tafhim/article/download/149/70/778
IKIM. (n.d.). Al-Attas, Husserl, and critique of modern science: A critical engagement of Ramon Harvey's “Islamic Theology and the Crisis”. Diakses Maret 10, 2026, dari https://tafhim.ikim.gov.my/index.php/tafhim/article/download/226/185/2186
Kawah Buku. (n.d.). Prolegomena to the metaphysics of Islam: An exposition of the fundamental elements of the worldview of Islam. Diakses Maret 10, 2026, dari https://kawahbuku.com/shop/prolegomena-to-the-metaphysics-of-islam-an-exposition-of-the-fundamental-elements-of-the-worldview-of-islam-i.8104/
Krisis & Praxis. (2025). A corrective to Syed Muhammad Naquib al-Attas’ misreading of Aquinas’ philosophy in his book “Islam and Secularism”. Diakses Maret 10, 2026, dari https://krisispraxis.com/archives/2025/01/a-corrective-to-syed-muhammad-naquib-al-attas-misreading-of-aquinas-philosophy-in-his-book-islam-and-secularism/
Medium. (n.d.). The missing metaphysics: Syed Naquib al-Attas’s map for rekindling meaning in a hollow modernity. Diakses Maret 10, 2026, dari https://medium.com/@rasyidaulmri/the-missing-metaphysics-syed-naquib-al-attass-map-for-rekindling-meaning-in-a-hollow-modernity-bea7dcaaeae2
Reddit. (n.d.). Al Attas’ Prolegomena, I don’t understand what he’s going on about in the intro? Diakses Maret 10, 2026, dari https://www.reddit.com/r/islam/comments/4571eo/al_attas_prolegomana_i_dont_understand_what_hes/
ResearchGate. (n.d.). Al-Attas's view on the importance of man in our understanding of the cosmos. Diakses Maret 10, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/370032426_AL-ATTAS'S_VIEW_ON_THE_IMPORTANCE_OF_MAN_IN_OUR_UNDERSTANDING_OF_THE_COSMOS
ResearchGate. (n.d.). Syed Muhammad Naquib al-Attas’ critics toward secularism. Diakses Maret 10, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/364133045_SYED_MUHAMMAD_NAQUIB_AL_ATTAS'_CRITICS_TOWARD_SECULARISM
ResearchGate. (n.d.). The Islamization of the science of Syed Muhammad Naquib al-Attas and its implications for the interpretation of the Qur'an. Diakses Maret 10, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/396632034_THE_ISLAMIZATION_OF_THE_SCIENCE_OF_SYED_MUHAMMAD_NAQUIB_AL_ATTAS_AND_ITS_IMPLICATIONS_FOR_THE_INTERPRETATION_OF_THE_QUR'AN
ResearchGate. (n.d.). The meaning and experience of happiness in Islam: An overview. Diakses Maret 10, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/335987311_The_Meaning_And_Experience_Of_Happiness_In_Islam_An_Overview
Scribd. (n.d.). Prolegomena to the metaphysics of Islam – Syed Muhammad Naquib al-Attas. Diakses Maret 10, 2026, dari https://www.scribd.com/doc/195531499/Prolegomena-to-the-Metaphysics-of-Islam-Syed-Muhammad-Naquib-Al-Attas
Scribd. (n.d.). Prof. Al-Attas: Prolegomena to the metaphysics of Islam. Diakses Maret 10, 2026, dari https://www.scribd.com/document/335228868/Prof-Al-Attas-Prolegomena-to-the-Metaphysics-of-Islam
Turkistani Library. (n.d.). Prolegomena to the metaphysics of Islam (PDF). Diakses Maret 10, 2026, dari https://turkistanilibrary.com/sites/default/files/prolegomena_to_the_metaphysics_of_islam.pdf
University of Indonesia Scholars Hub. (n.d.). Navigating big data ethics: An analysis through Al-Attas's Islamic worldview. Diakses Maret 10, 2026, dari https://scholarhub.ui.ac.id/cgi/viewcontent.cgi?article=1103&context=meis
Wardah Books. (n.d.). The nature of man and the psychology of the human soul. Diakses Maret 10, 2026, dari https://wardahbooks.com/products/the-nature-of-man-and-the-psychology-of-the-human-soul
Wikipedia. (n.d.). Syed Muhammad Naquib al-Attas. Diakses Maret 10, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Syed_Muhammad_Naquib_al-Attas
WordPress. (2015). Prolegomena to the metaphysics of Islam – Syed Muhammad Naquib al-Attas (PDF). Diakses Maret 10, 2026, dari https://ibnughony.files.wordpress.com/2015/02/prolegomena-to-the-metaphysics-of-islam-syed-muhammad-naquib-al-attas.pdf







Post a Comment