Transformasi Ontologi Geografi dalam Aḥsan al-Taqāsīm fī Ma‘rifat al-Aqālīm Karya Al-Muqaddasī

Table of Contents

buku Aḥsan al-Taqāsīm fī Ma‘rifat al-Aqālīm Karya Al-Muqaddasī
Karya monumental berjudul Aḥsan al-Taqāsīm fī Ma‘rifat al-Aqālīm, yang secara harfiah berarti "Pembagian Terbaik untuk Mengenal Wilayah-Wilayah," merupakan sebuah titik balik fundamental dalam sejarah intelektual Islam pada abad ke-10 Masehi. Disusun oleh Shams al-Dīn Abū ‘Abd Allāh Muḥammad ibn Aḥmad ibn Abī Bakr al-Bannā’ al-Shāmī al-Muqaddasī, naskah ini tidak hanya berfungsi sebagai catatan perjalanan atau deskripsi topografi, melainkan sebuah risalah ilmiah yang mengintegrasikan sosiologi, etnografi, ekonomi, dan politik ke dalam satu kerangka geografis yang sistematis. Al-Muqaddasī, yang lahir di Yerusalem sekitar tahun 945 Masehi, menghabiskan lebih dari dua puluh tahun untuk mengelilingi hampir seluruh penjuru dunia Islam, melakukan observasi langsung, dan melakukan verifikasi data sebelum akhirnya memformulasikan temuannya dalam karya ini.

Ketertarikan para akademisi kontemporer terhadap karya ini berakar pada metodologinya yang sangat maju, yang melampaui tradisi geografi klasik sebelumnya yang seringkali hanya mengandalkan pengulangan informasi dari sumber tertulis tanpa verifikasi empiris. Al-Muqaddasī memperkenalkan prinsip autopsia, di mana kebenaran geografis harus didasarkan pada pengalaman langsung dan keterlibatan aktif peneliti dengan objek studinya. Hal ini menjadikan Aḥsan al-Taqāsīm bukan sekadar literatur adab yang penuh dengan keajaiban (aja’ib), melainkan sebuah dokumen sosiologis primer yang menangkap dinamika masyarakat Islam pada masa transisi kekuasaan dari Kekhalifahan Abbasiyah menuju kemunculan dinasti-dinasti regional seperti Samaniyah dan Fatimiyah.

Konteks Sosio-Biografis dan Visi Intelektual Penulis

Pemahaman mendalam mengenai isi karya ini harus dimulai dengan meninjau latar belakang personal Al-Muqaddasī yang sangat berpengaruh terhadap perspektifnya. Ia lahir di Yerusalem, sebuah kota yang menjadi pusat spiritual dan intelektual, yang secara langsung membentuk identitas dan nama nisbahnya. Kakeknya, Abu Bakr al-Banna, adalah seorang arsitek dan pembangun terkemuka yang mendapatkan kepercayaan dari penguasa Dinasti Tuluniyah, Ahmad ibn Tulun, untuk merancang benteng maritim di Akko. Warisan keluarga pengrajin dan insinyur ini memberikan Al-Muqaddasī kepekaan teknis yang unik dalam menilai kualitas bangunan, perencanaan kota, dan infrastruktur pertahanan yang ia temui selama pengembaraannya.

Motivasi di balik penulisan karya ini bersifat multidimensional, mencakup dorongan spiritual untuk mengagungkan ciptaan Tuhan serta keinginan intelektual untuk meninggalkan warisan memori yang abadi. Al-Muqaddasī tidak memosisikan dirinya sebagai pelancong pasif, melainkan sebagai pengamat partisipan yang terlibat dalam berbagai peran sosial selama dua dekade perjalanannya. Ia pernah menjadi fakih, ahli waris, sufi, pedagang, penyalin buku, hingga imam dan muazin di berbagai kota yang ia kunjungi. Keberagaman peran ini memungkinkannya untuk menembus berbagai lapisan masyarakat, dari kalangan elit penguasa hingga masyarakat bawah di pasar-pasar, memberikan kedalaman informasi yang jarang ditemukan pada karya geografer sezamannya.

Al-Muqaddasī menyelesaikan draf pertama bukunya di Shiraz sekitar tahun 375 H/985 M, dengan revisi besar yang dilakukan tiga tahun kemudian. Proses penulisan ini dilakukan setelah ia mencapai usia empat puluh tahun, sebuah usia yang ia anggap sebagai puncak kematangan intelektual. Menariknya, karya ini muncul dalam dua resensi utama: edisi pertama yang cenderung menunjukkan simpati kepada Dinasti Samaniyah di Bukharo, dan edisi kedua yang lebih berfokus pada dinamika di bawah pengaruh Dinasti Fatimiyah di Mesir. Fluktuasi orientasi politik ini seringkali ditafsirkan sebagai bentuk adaptasi sosiopolitik atau bahkan misi intelijen terselubung, meskipun integritas ilmiah datanya tetap diakui sangat tinggi.

Revolusi Metodologi: Autopsia dan Kritik Terhadap Sekolah Balkhi

Sebelum Al-Muqaddasī, disiplin geografi Islam didominasi oleh "Sekolah Balkhi" yang dipelopori oleh Abu Zayd al-Balkhi, Al-Istakhri, dan Ibn Hawqal. Sekolah ini berfokus pada pembuatan atlas atau peta dengan komentar singkat yang bersifat deskriptif. Al-Muqaddasī, meskipun sering dikelompokkan dalam tradisi ini, sebenarnya melakukan kritik tajam terhadap para pendahulunya. Ia menganggap karya-karya sebelumnya seringkali membingungkan, dangkal dalam komentar, dan gagal melakukan klasifikasi yang sistematis terhadap wilayah-wilayah yang dideskripsikan.

Inovasi utama Al-Muqaddasī terletak pada standarisasi terminologi dan pengumpulan data berbasis bukti. Ia mendefinisikan geografi sebagai sains yang mandiri (original science), bukan sekadar pelengkap peta atau buku petunjuk jalan bagi pedagang. Metodologi yang ia terapkan meliputi beberapa pilar utama:

Pilar Empirisme dan Verifikasi Data

Al-Muqaddasī menekankan pentingnya pengamatan langsung (eyewitness) sebagai basis otoritas ilmiah. Penggunaan frasa seperti "Saya melihat," "Saya mendengar," "Saya hadir," dan "Saya bertanya" tersebar di seluruh teks, memberikan pembaca kepastian bahwa informasi tersebut bukan sekadar desas-desus. Ia secara sadar menolak informasi yang bersifat mitos atau ajaib yang tidak masuk akal, lebih memilih untuk mengevaluasi kualitas udara, mencicipi air, dan mengamati dialek penduduk setempat.

Kritik Sumber dan Wawancara Mendalam

Dalam kasus di mana ia tidak dapat mengunjungi suatu wilayah secara langsung, Al-Muqaddasī tidak sembarangan menerima informasi tertulis. Ia mencari informan yang ia deskripsikan sebagai "orang-orang berintelijensi tinggi" untuk diwawancarai. Ia juga melakukan komparasi antara data lapangan dengan literatur klasik seperti karya Al-Jayhani dan Ibn Khordadbeh, seringkali melakukan koreksi terhadap kesalahan jarak atau karakteristik fisik wilayah yang dicatat oleh para pendahulunya tersebut.

buku Aḥsan al-Taqāsīm fī Ma‘rifat al-Aqālīm Karya Al-Muqaddasī

Struktur Sistematika: Pembagian 14 Aqālīm dan Wilayah Islam

Al-Muqaddasī membagi dunia dalam pandangannya menjadi tujuh iklim besar, namun ia memfokuskan seluruh energinya pada "Mamlaka al-Islam" atau Domain Islam. Ia memandang wilayah Islam sebagai satu kesatuan yang koheren namun memiliki keragaman internal yang kaya. Dunia Islam ini dibagi menjadi empat belas wilayah atau aqālīm, yang kemudian dikelompokkan lagi menjadi dua kategori besar berdasarkan identitas bahasa dan budaya: wilayah Arab (mamlakat al-ʿArab) dan wilayah non-Arab atau Ajam (mamlakat al-ʿAjam).

Wilayah Arab (Mamlakat al-ʿArab)

Terdapat enam wilayah utama yang dikategorikan sebagai Arab dalam naskah ini. Al-Muqaddasī memulai deskripsinya dari Semenanjung Arabia, yang ia anggap sebagai jantung spiritual Islam. Wilayah-wilayah tersebut meliputi:
1. Semenanjung Arabia: Mencakup Mekkah, Madinah, Yaman, dan wilayah pesisir seperti Oman.
2. Irak: Berpusat pada wilayah Mesopotamia Selatan, termasuk Baghdad, Kufah, dan Basra.
3. Aqur (Mesopotamia Utara): Juga dikenal sebagai Al-Jazira, wilayah di antara sungai Tigris dan Eufrat bagian utara.
4. Syam (Syria): Wilayah Levant yang mencakup Palestina, Suriah, dan Lebanon saat ini.
5. Mesir: Wilayah sepanjang lembah Nil yang digambarkan sangat makmur.
6. Maghrib: Mencakup seluruh Afrika Utara dari Libya hingga Maroko, termasuk wilayah Al-Andalus.

Wilayah Ajam (Mamlakat al-ʿAjam)

Delapan wilayah lainnya diklasifikasikan sebagai wilayah non-Arab, yang sebagian besar berada di bawah pengaruh budaya Persia dan Asia Tengah. Wilayah ini menunjukkan ketertarikan mendalam Al-Muqaddasī terhadap kemajuan intelektual dan ekonomi di Timur:
1. Mashriq: Meliputi Khorasan, Transoxiana, Sistan, dan sebagian Afghanistan.
2. Sind: Wilayah lembah Indus dan Makran.
3. Kirman: Wilayah di Persia Selatan.
4. Fars: Berpusat di Shiraz, tempat ia menyusun sebagian besar karyanya.
5. Khuzistan: Wilayah kaya di Persia Barat Daya yang terkenal dengan sistem irigasinya.
6. Jibal: Wilayah Media kuno di dataran tinggi Iran.
7. Daylam: Wilayah di sepanjang pegunungan Alborz hingga pesisir Kaspia.
8. Rihab: Dataran tinggi yang mencakup Azerbaijan, Armenia, dan Aran.

Pembagian ini tidak hanya bersifat geografis, tetapi juga administratif. Al-Muqaddasī berusaha menerapkan "rigorous parallelism" dalam mengorganisir informasi di setiap wilayah, memastikan bahwa data mengenai iklim, pajak, madzhab, dan komoditas disajikan secara konsisten.

Geografi Perkotaan: Hierarki, Administrasi, dan Arsitektur

Kontribusi Al-Muqaddasī yang paling presien adalah pengembangan hierarki pemukiman berdasarkan fungsi sosial dan administratifnya. Ia tidak hanya mendeskripsikan kota secara visual, tetapi juga secara sosiologis, menciptakan terminologi teknis yang mendefinisikan hubungan antara pusat dan pinggiran.

Terminologi Hierarki Pemukiman

Al-Muqaddasī mengklasifikasikan pemukiman dalam beberapa tingkatan yang sangat teratur:

  • Miṣr (Metropolis): Tingkat tertinggi dalam hierarki, yaitu ibu kota provinsi (iqlim) yang menjadi pusat pemerintahan dan memiliki otoritas penuh.
  • Kūra (Distrik): Wilayah administratif besar di bawah naungan metropolis.
  • Madīna (Kota Utama): Kota pusat dari sebuah distrik (kūra) yang harus memiliki masjid jami' dan mimbar sebagai syarat formal statusnya sebagai kota.
  • Qaṣaba (Benteng/Sitadel): Kota berbenteng yang biasanya berfungsi sebagai pusat administrasi militer atau pelindung perbatasan.
  • Nāḥiya dan Rustāq: Unit pemukiman yang lebih kecil; nāḥiya merupakan sub-distrik khusus, sementara rustāq adalah wilayah pedesaan yang menunjang kebutuhan ekonomi kota.


Ketajaman Al-Muqaddasī dalam membedakan kota berdasarkan fungsinya ini dianggap mendahului teori lokasi sentral dalam geografi modern. Baginya, status sebuah tempat ditentukan oleh kemampuan institusionalnya dalam menyelenggarakan keadilan (pengadilan) dan ibadah (masjid jami').

Analisis Kasus Kota-Kota Terkemuka

Deskripsi faktual Al-Muqaddasī tentang kota-kota besar memberikan gambaran visual dan fungsional yang sangat detail:

Yerusalem (Bayt al-Maqdis)

Sebagai kota kelahirannya, Yerusalem digambarkan dengan penuh kebanggaan namun tetap objektif. Ia mencatat bahwa Yerusalem dibangun dengan batu-batu kokoh dan tidak ada konstruksi yang lebih solid daripada di sana. Ia memberikan detail teknis mengenai tata letak jalan, kebersihan pasar, dan luasnya Masjid al-Aqsa. Namun, ia juga mengungkapkan sisi gelapnya: kemiskinan intelektual karena minimnya sarjana Muslim dibandingkan dominasi komunitas Kristen dan Yahudi, serta pajak yang memberatkan bagi peziarah di penginapan-penginapan kota.

Baghdad (Madinat al-Salam)

Al-Muqaddasī melihat Baghdad sebagai simbol persatuan dunia Islam, namun ia adalah seorang realis yang mencatat degradasi politik dan fisiknya pada akhir abad ke-10. Ia mengamati bahwa kemegahan Baghdad sebagai kota bundar Al-Mansur mulai memudar seiring dengan meningkatnya persaingan dari Kairo di Barat dan Bukharo di Timur. Meskipun demikian, ia tetap memuji sistem kanal Irak yang menghubungkan Tigris dan Eufrat, yang memungkinkan perdagangan maritim skala besar mencapai jantung daratan.

Derbent (Bab al-Abwab)

Dalam laporannya tentang Kaukasus Timur, ia memberikan gambaran militeristik tentang Derbent sebagai benteng terdepan Islam melawan bangsa Khazar. Ia mendeskripsikan tembok raksasa yang membentang dari pegunungan hingga tenggelam ke dalam laut, lengkap dengan menara pengawas dan pintu gerbang yang dijaga ketat. Ia mencatat penggunaan batu ashlars yang sangat besar dalam konstruksinya, menunjukkan keahlian teknik sipil yang luar biasa pada masa itu.

Geografi Ekonomi: Moneter, Komoditas, dan Fiskal

Al-Muqaddasī adalah seorang pengamat ekonomi yang jeli. Ketertarikannya pada detail keuangan menjadikan Aḥsan al-Taqāsīm sebagai sumber primer bagi sejarah ekonomi Abad Pertengahan. Ia mendokumentasikan sistem mata uang, variasi berat dan ukuran, serta pajak yang diberlakukan di setiap wilayah yang ia kunjungi.

Sistem Mata Uang dan Fluktuasi Nilai

Ia mencatat bahwa setiap provinsi memiliki standar mata uang yang unik, yang seringkali menyebabkan kerumitan bagi para pedagang lintas wilayah. Al-Muqaddasī secara rinci menjelaskan unit-unit tersebut:

buku Aḥsan al-Taqāsīm fī Ma‘rifat al-Aqālīm Karya Al-Muqaddasī
Selain mata uang, ia juga menaruh perhatian besar pada sanja atau pemberat timbangan yang terbuat dari kaca yang telah dicap secara resmi untuk mencegah kecurangan di pasar. Ia memuji kejujuran pasar di beberapa kota namun mengecam praktik timbangan yang tidak adil di kota lainnya.

Sumber Daya, Produk Regional, dan Pajak

Al-Muqaddasī mengidentifikasi keunggulan ekonomi setiap wilayah, memberikan gambaran tentang jaringan perdagangan global saat itu:

  • Mesir: Kemakmuran Mesir didasarkan pada Sungai Nil. Ia memberikan deskripsi teknis tentang Nilometer, instrumen kunci yang menentukan kebijakan fiskal berdasarkan tingkat kenaikan air. Harga barang di Kairo dicatat sangat murah, yang ia anggap sebagai tanda manajemen stok yang baik.
  • Oman: Ia mencatat pajak khusus yang dikenakan pada setiap pohon kurma, menunjukkan bahwa pertanian kurma adalah tulang punggung ekonomi wilayah tersebut.
  • Aden: Digambarkan sebagai "granary of Al-Maghrib" dan pintu gerbang menuju Tiongkok (corridor of Al-Sin), sebuah pelabuhan transit internasional di mana barang-barang mewah dari Timur bertemu dengan komoditas dari Barat.
  • Fars dan Jibal: Wilayah ini terkenal dengan kerajinan tekstil dan obat-obatan herbal yang diekspor ke seluruh dunia Islam.

Etnografi dan Sosiologi Agama: Madzhab, Bahasa, dan Adat

Aḥsan al-Taqāsīm menonjol karena nuansa sosiologisnya. Al-Muqaddasī tidak hanya melihat tanah, tetapi juga manusia yang mendiaminya. Ia merekam keberagaman bahasa, warna kulit, sekte keagamaan, hingga perilaku sosial yang unik.

Distribusi Sekte dan Madzhab Keagamaan

Bagi sejarawan agama, karya ini adalah tambang emas karena menyajikan data tentang kelompok-kelompok keagamaan yang informasinya jarang ditemukan di tempat lain.

  • Karramiya: Al-Muqaddasī adalah sumber utama yang menjelaskan luasnya jaringan khanqah (pusat kegiatan sufi) milik sekte Karramiya di wilayah Nishapur dan Khorasan.
  • Khawarij: Ia mencatat sisa-sisa kelompok Khawarij yang masih eksis di wilayah Herat dan Badghis.
  • Mu'tazilah dan Syi'ah: Ia secara terbuka mendeskripsikan perselisihan teologis di Wasit dan menunjukkan simpati terhadap ajaran Mu'tazilah, sebuah posisi intelektual yang berisiko pada zamannya.
  • Hadis 73 Sekte: Ia mengomentari tradisi pembelahan umat menjadi 73 golongan. Menariknya, ia mendukung versi hadis yang menyatakan bahwa 72 golongan akan masuk surga dan hanya satu yang ke neraka—sebuah interpretasi yang sangat inklusif dan berbeda dari mayoritas literatur heresiografi.

Linguistik dan Karakteristik Etnis

Al-Muqaddasī memiliki ketajaman dalam mengamati dialek bahasa Arab dan Persia. Ia mencatat perbedaan aksen antara penduduk Irak dan Syam, serta penggunaan bahasa-bahasa lokal di wilayah perbatasan. Dalam hal antropologi, ia mencatat adat istiadat unik, seperti ketegasan masyarakat Daylam dalam menjaga tradisi pernikahan endogami, di mana pelanggaran terhadap aturan ini bisa berujung pada hukuman mati. Ia juga mengkritik karakter penduduk Kristen di Palestina yang ia anggap kasar dan tidak ramah di tempat umum, mencerminkan ketegangan inter-religius yang ia rasakan di Yerusalem.

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Lingkungan

Ketertarikan Al-Muqaddasī pada aspek teknis juga mencakup manajemen sumber daya alam dan teknologi hidrolik. Ia melihat air sebagai indikator stabilitas dan kualitas hidup masyarakat.

Inovasi Teknologi Air dan Pertanian

Ia memberikan beberapa contoh factual tentang kehebatan teknik sipil di masa itu:

  • Nilometer (Mesir): Ia mendeskripsikan struktur ini sebagai kolam dengan tiang pusat yang ditandai dengan ukuran hasta dan jari. Pengukuran dilakukan dengan presisi tinggi dan hanya diumumkan kepada penguasa untuk menghindari kepanikan pasar.
  • Sistem Kincir Air (Ahwaz): Ia mencatat penggunaan na`ura (kincir air) yang sangat besar di sungai-sungai Ahwaz, yang mengangkat air ke saluran-saluran di atas batu untuk dialirkan ke kota dan penggilingan.
  • Manajemen Air di Gurun (Biyar): Di daerah gersang, ia mengamati penggunaan jam air untuk mendistribusikan aliran air ke penggilingan bawah tanah secara adil di antara para petani.

Al-Muqaddasī juga mengembangkan semacam "biometer" kualitas air: ia menyarankan para pelancong untuk melihat kesegaran wajah penduduk setempat; jika penduduknya tampak sehat, maka air di sana kemungkinan besar berkualitas baik. Sebaliknya, jika wajah penduduk tampak kuyu, ia menyarankan agar pelancong segera meninggalkan tempat tersebut.

Inovasi Kartografi: Peta Berwarna dan Representasi Ruang

Meskipun sebagian besar peta asli Al-Muqaddasī telah hilang, teksnya memberikan petunjuk yang jelas tentang inovasi kartografinya. Ia adalah orang pertama yang menggunakan peta berwarna secara sistematis dalam karya geografi Arab untuk mempermudah persepsi pembaca.

buku Aḥsan al-Taqāsīm fī Ma‘rifat al-Aqālīm Karya Al-Muqaddasī
Penggunaan warna ini bukan sekadar dekorasi, melainkan sebuah lompatan epistemologis dalam visualisasi data geografis. Dengan menggunakan warna, Al-Muqaddasī memungkinkan para pejabat negara dan pedagang untuk memahami struktur wilayah secara intuitif, menjadikannya pionir dalam desain informasi visual.

Warisan Intelektual dan Relevansi Sejarah

Aḥsan al-Taqāsīm fī Ma‘rifat al-Aqālīm merupakan puncak dari tradisi geografi Islam klasik. Karya ini berhasil mengubah geografi dari sekadar ilmu navigasi menjadi ilmu sosial yang komprehensif. Pengaruhnya terasa dalam beberapa bidang:
1. Sosiologi dan Etnografi: Al-Muqaddasī dianggap sebagai pendahulu sosiologi perkotaan, berabad-abad sebelum Ibnu Khaldun merumuskan Muqaddimah-nya.
2. Arkeologi: Catatan detailnya mengenai benteng, masjid, dan monumen kuno (seperti benteng Akko atau tembok Derbent) memberikan referensi krusial bagi para arkeolog modern untuk merekonstruksi situs-situs yang kini telah hancur.
3. Filologi: Rekamannya tentang dialek bahasa Arab dan Persia abad ke-10 memberikan data berharga bagi studi perkembangan bahasa di Timur Tengah.

Karya ini baru mendapatkan pengakuan luas di dunia Barat setelah diterjemahkan sebagian oleh Aloys Sprenger pada abad ke-19, yang memuji Al-Muqaddasī sebagai "geografer terbesar sepanjang masa". Penilaian ini didasarkan pada ketajaman observasi, kejujuran ilmiah, dan visi holistik Al-Muqaddasī dalam melihat dunia—sebuah visi yang tidak hanya melihat batas-batas negara, tetapi juga denyut nadi kehidupan manusia di dalamnya.

Melalui eksplorasi yang mendalam terhadap isi Aḥsan al-Taqāsīm, menjadi jelas bahwa Al-Muqaddasī bukan sekadar seorang penjelajah, melainkan seorang ilmuwan yang berusaha memahami dasar-dasar fungsi masyarakat Islam. Ia mengintegrasikan elemen fisik dan manusiawi ke dalam sebuah narasi yang cair, di mana fakta-fakta keras tentang pajak dan mata uang bersanding harmonis dengan observasi halus tentang perilaku sosial dan sentimen keagamaan. Karyanya tetap menjadi mercusuar bagi siapa pun yang ingin memahami kejayaan dan kompleksitas peradaban Islam pada masa keemasannya.

Sitasi:

Al-Maqdisi. (n.d.). Al-Maqdisi (or Muqaddas). Encyclopedia.com. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.encyclopedia.com/science/dictionaries-thesauruses-pictures-and-press-releases/al-maqdisi-or-muqaddas

Al-Maqdisi. (n.d.). Al-Maqdisi travels throughout the Muslim world. Encyclopedia.com. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.encyclopedia.com/science/encyclopedias-almanacs-transcripts-and-maps/al-maqdisi-travels-throughout-muslim-world

Al-Muqaddasī, M. b. A. (2014). Aḥsan al-taqāsīm fī maʿrifat al-aqālīm. Leiden: Brill.

Al-Muqaddasi. (n.d.). Al-Muqaddasi. Brown University. Diakses Februari 8, 2026, dari https://webhelper.brown.edu/joukowsky/courses/islamicarch2011/14131.html

Al-Muqaddasi. (n.d.). Al-Muqaddasi: An encyclopaedic scholar. Muslim Heritage. Diakses Februari 8, 2026, dari https://muslimheritage.com/al-muqaddasi-an-encyclopaedic-scholar/

Al-Muqaddasi. (n.d.). Al-Muqaddasi and human geography: An early contribution to social sciences. Muslim Heritage. Diakses Februari 8, 2026, dari https://muslimheritage.com/al-muqaddasi-human-geo/

Al-Muqaddasi. (n.d.). Al-Muqaddasi: The geographer from Palestine. Muslim Heritage. Diakses Februari 8, 2026, dari https://muslimheritage.com/al-muqaddasi-the-geographer-from-palestine/

Al-Muqqadasi. (n.d.). Al-Muqqadasi [PDF]. Scribd. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.scribd.com/document/802418812/Al-muqqadasi

Ancient Origins. (n.d.). The punctilious planning, design, and construction of the ancient round city of Baghdad. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.ancient-origins.net/ancient-places-asia/round-city-baghdad-0011898

Balkhi, A. Z. A. ibn S. (n.d.). 10th–11th century author: Abu Zayd Ahmad ibn Sahl al-Balkhi [PDF]. Cartographic Images. Diakses Februari 8, 2026, dari http://www.myoldmaps.com/early-medieval-monographs/2142-balkhi-world-maps/2142balkhi.pdf

Encyclopaedia Iranica. (n.d.). Aḥsan al-taqāsīm. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.iranicaonline.org/articles/ahsan-al-taqasim-fi-marefat-al-aqalim-celebrated-geographical-work/

Encyclopaedia Iranica. (n.d.). Aḥsan al-taqāsīm [PDF]. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.iranicaonline.org/articles/ahsan-al-taqasim-fi-marefat-al-aqalim-celebrated-geographical-work/?generate_pdf=1

Google Books. (n.d.). The best divisions for knowledge of the regions. Diakses Februari 8, 2026, dari https://books.google.com/books/about/The_Best_Divisions_for_Knowledge_of_the.html?id=LBO1PijX1qsC

Institute for Palestine Studies. (n.d.). The books in my life: A memoir. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.palestine-studies.org/sites/default/files/jq-articles/Pages_from_JQ_74_-_Khalidi_0.pdf

Journals RUDN. (n.d.). The Arab geographer Al-Muqaddasi’s reports on the 10th century. Diakses Februari 8, 2026, dari https://journals.rudn.ru/world-history/article/download/40244/23734

Medium. (n.d.). Terence, A. Ancient Baghdad: The round city. Diakses Februari 8, 2026, dari https://antonyterence.medium.com/ancient-baghdad-the-round-city-6dd64ced2ac7

Muqaddasi. (n.d.). Muqaddasi: A Muslim native of Jerusalem. Boston University. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.bu.edu/mzank/Jerusalem/tx/muqqadasi.htm

Open Library. (n.d.). The best divisions for knowledge of the regions. Diakses Februari 8, 2026, dari https://openlibrary.org/books/OL8654515M/The_Best_Divisions_for_Knowledge_of_the_Regions

ResearchGate. (n.d.). Wells, markets, and forts: Al-Muqaddasī’s fourth/tenth-century geography of the Arabian Red Sea. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/393620376_Wells_Markets_and_Forts_Al-Muqaddasi's_FourthTenth-century_Geography_of_the_Arabian_Red_Sea

Shepard, J., & Treadwell, L. (Eds.). (2023). Muslims on the Volga in the Viking Age: In the footsteps of Ibn Faḍlān. Scribd. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.scribd.com/document/743702210/J-Shepard-L-Treadwell-eds-Muslims-on-the-Volga-in-the-Viking-Age-In-the-Footsteps-of-Ibn-Fadlan-2023

Stanford Libraries. (n.d.). The best divisions for knowledge of the regions: A translation of Aḥsan al-taqāsīm fī maʿrifat al-aqālīm. Diakses Februari 8, 2026, dari https://searchworks.stanford.edu/view/4710895

The History of Cartography. (n.d.). The Balkhi School of Geographers. University of Chicago Press. Diakses Februari 8, 2026, dari https://press.uchicago.edu/books/hoc/HOC_V2_B1/HOC_VOLUME2_Book1_chapter5.pdf

The People of Gibraltar. (2020). Born in Jerusalem (946–991)… Al-Muqaddasi. Diakses Februari 8, 2026, dari https://gibraltar-intro.blogspot.com/2020/09/once-upon-time-in-islamic-gibraltar_29.html

University of London. (n.d.). Pluralism and Islamic traditions of sectarian divisions. Diakses Februari 8, 2026, dari https://journals.lub.lu.se/STK/article/download/6545/5635

University of London. (n.d.). Glossary of measures, weights, and monetary units. Diakses Februari 8, 2026, dari https://projects.history.qmul.ac.uk/ruralsocietyislam/database/glossary-of-measures-weights-and-monetary-units/

Wikipedia. (n.d.). Al-Maqdisi. Diakses Februari 8, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Maqdisi

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment