Teologi Pembebasan Islam Asghar Ali Engineer: Analisis Islam and Liberation Theology
Konteks Historis dan Biografis Pembentukan Pemikiran
Memahami isi karya ini tidak dapat dipisahkan dari latar belakang pribadi Asghar Ali Engineer. Lahir pada 10 Maret 1939 di Salumbar, Rajasthan, Engineer dibesarkan dalam keluarga pemuka agama Dawoodi Bohra, sebuah sekte Syiah Ismailiyah. Ayahnya, Sheikh Qurban Husain, adalah seorang amil (pendeta lokal) yang melatihnya dalam ilmu-ilmu Islam klasik seperti tafsir Al-Qur'an, ta’wil (interpretasi batin), fiqh, dan hadis. Namun, di sisi lain, Engineer juga menempuh pendidikan sekuler dalam bidang teknik sipil di Vikram University, yang membentuk cara berpikir rasional dan sistematis dalam dirinya.
Pengalaman masa kecilnya menyaksikan dialog antara ayahnya dengan seorang pendeta Hindu Brahmin, serta pengamatan langsung terhadap eksploitasi yang dilakukan oleh otoritas keagamaan di komunitasnya sendiri, menumbuhkan benih skeptisisme terhadap institusi agama yang mapan. Engineer melihat bahwa agama sering kali disalahgunakan oleh para pemimpin agama (ulama) dan politik untuk mempertahankan status quo dan mengeksploitasi umat yang miskin. Hal ini diperparah oleh situasi sosiopolitik di India, termasuk kerusuhan komunal pasca-partisi 1947, yang mendorongnya untuk mencari formula Islam yang dapat menjamin harmoni dan keadilan sosial.
Karya "Islam and Liberation Theology" lahir sebagai respons terhadap kebuntuan dogmatis yang dialami masyarakat Muslim. Engineer merasa bahwa teologi Islam tradisional telah kehilangan "spirit profetik"-nya karena terlalu fokus pada ritualitas dan abstraksi teologis yang tidak memiliki relevansi dengan penderitaan nyata manusia. Dengan mengintegrasikan analisis materialisme historis Marxis dan rasionalisme Ismailiyah, Engineer membangun sebuah teologi yang ia sebut sebagai "Engaged Islam" atau Islam yang terlibat aktif dalam sejarah.
Landasan Teologis: Tiga Pilar Utama
Dalam esai-esainya, Engineer membangun kerangka teologi pembebasan Islam di atas tiga pilar fundamental yang saling berkaitan secara dialektis. Pilar-pilar ini berfungsi sebagai landasan teoretis sekaligus panduan praktis bagi gerakan perubahan sosial.
1. Tauhid sebagai Prinsip Kesetaraan Radikal
Tauhid dalam perspektif Engineer bukan sekadar pengakuan akan keberadaan Tuhan yang satu, melainkan sebuah pernyataan kemerdekaan manusia dari segala bentuk perbudakan selain kepada Allah. Jika Allah adalah satu-satunya entitas yang absolut, maka tidak ada manusia, sistem ekonomi, atau otoritas politik yang berhak mengklaim kedaulatan absolut atas manusia lainnya. Dominasi manusia atas manusia dalam bentuk ekonomi (kapitalisme), politik (kediktatoran), atau sosial (patriarki) dipandang sebagai bentuk kemusyrikan (syirik) terselubung karena menempatkan ego atau sistem ciptaan manusia sejajar dengan otoritas ketuhanan.
Implikasi dari Tauhid adalah kesatuan kemanusiaan (wahdat al-bashariyah). Karena pencipta itu satu, maka ciptaan-Nya juga satu dan sederajat. Segala bentuk hierarki sosial yang didasarkan pada ras, kelas, atau gender merupakan distorsi terhadap prinsip Tauhid. Oleh karena itu, teologi pembebasan dimulai dengan pengembalian hak-hak manusia yang dirampas oleh para berhala modern (taghut) seperti akumulasi modal yang tidak terkendali atau kekuasaan despotik.
2. Gerakan dan Praxis (Amal)
Engineer menekankan bahwa kebenaran sebuah teologi tidak terletak pada kecanggihan argumen metafisikanya, melainkan pada efektivitasnya dalam mengubah realitas sosial yang tidak adil. Ia membedakan antara iman yang pasif dan iman yang transformatif. Iman yang benar (iman yang berasal dari akar kata 'amn' yang berarti rasa aman dan damai) harus mampu memberikan perlindungan bagi mereka yang lemah dan menciptakan tatanan yang stabil melalui keadilan.
Praxis atau aksi nyata ('aml) adalah kunci utama. Engineer mengkritik teologi tradisional yang terjebak dalam perdebatan tentang esensi Tuhan sementara ribuan manusia mati kelaparan. Baginya, teologi pembebasan adalah "refleksi kritis atas praxis historis dalam situasi konkret penindasan". Hal ini menuntut umat Islam untuk tidak hanya berdoa, tetapi juga melakukan perjuangan (jihad) untuk menghapus eksploitasi, korupsi, dan ketidakadilan ekonomi. Jihad dalam konteks ini didefinisikan kembali sebagai kegiatan dinamis dan progresif untuk memerangi struktur yang menindas, bukan sekadar peperangan fisik.
3. Keadilan Sosial ('Adl dan Qist)
Tujuan akhir dari teologi pembebasan adalah perwujudan keadilan sosial yang menyeluruh. Engineer merujuk pada istilah Al-Qur'an "qist" (keadilan distributif) yang muncul berkali-kali dalam teks suci untuk menunjukkan bahwa keadilan adalah jiwa dari ajaran Islam. Keadilan ini mencakup hak setiap individu untuk mendapatkan akses yang sama terhadap sumber daya ekonomi dan martabat sosial.
Engineer berargumen bahwa tatanan dunia tidak dapat dipertahankan tanpa keadilan, bahkan jika penguasanya beriman. Sebaliknya, dunia dapat bertahan dengan keadilan meskipun di huni oleh mereka yang tidak beriman. Pandangan ini menempatkan keadilan sebagai nilai transenden yang melampaui batas-batas identitas agama formal. Dalam esainya mengenai ekonomi, Engineer secara tegas menyatakan bahwa harta kekayaan tidak boleh hanya berputar di kalangan orang kaya saja (QS. 59:7), dan penumpukan harta yang menyebabkan penderitaan bagi orang lain adalah tindakan jahat yang harus dihentikan melalui kebijakan sosial yang radikal.
Metodologi Hermeneutika: "The Here and Now"
Salah satu aspek paling inovatif dalam karya Engineer adalah metodologi hermeneutikanya yang membedakan antara pernyataan "normatif" dan "kontekstual" dalam teks suci. Metodologi ini menjadi alat untuk membebaskan Al-Qur'an dari penafsiran yang membeku (frozen mind) dan menjadikannya teks yang hidup bagi masyarakat modern.
Antara Nilai Universal dan Ketentuan Temporal
Engineer berargumen bahwa Al-Qur'an memiliki dua dimensi utama:
1. Elemen Normatif: Merupakan prinsip-prinsip universal yang abadi, seperti keadilan, kesetaraan, kasih sayang, dan kejujuran. Nilai-nilai ini melampaui batas ruang dan waktu.
2. Elemen Kontekstual: Merupakan implementasi dari nilai-nilai normatif tersebut dalam situasi sosio-historis masyarakat Arab abad ke-7. Misalnya, aturan mengenai perbudakan, hukuman fisik tertentu, atau pembagian waris yang saat itu sangat dipengaruhi oleh struktur kesukuan patriarki.
Menurut Engineer, kegagalan banyak mufassir tradisional adalah menganggap elemen kontekstual sebagai hukum Tuhan yang permanen (immutable laws), sementara spirit normatifnya justru terabaikan. Sebagai contoh, dalam masalah poligami, Engineer berargumen bahwa nilai normatifnya adalah perlindungan terhadap janda dan anak yatim dalam situasi darurat perang (pasca-Uhud). Namun, karena Al-Qur'an sendiri menyatakan sulitnya berlaku adil (4:129), maka tujuan jangka panjang (normatif) Islam adalah monogami. Dengan metodologi ini, Engineer mampu memberikan interpretasi yang sangat progresif tanpa harus meninggalkan otoritas Al-Qur'an.
Hermeneutika Materialisme Historis
Engineer juga menerapkan pendekatan sosiologis yang kuat dalam membaca sejarah turunnya wahyu. Ia melihat bahwa Al-Qur'an turun sebagai tanggapan terhadap krisis kelas di Mekkah, di mana para saudagar besar (mustakbirun) mendominasi perdagangan dan menelantarkan kaum dhuafa. Wahyu Al-Qur'an, dalam pandangan ini, adalah instrumen "revolusi sosial" yang bertujuan mendobrak monopoli kekuasaan elit Quraisy dan memberikan martabat kembali kepada kaum budak dan orang-orang pinggiran.
Pendekatan ini menggeser interlocutor (lawan bicara) teologi dari kalangan elit intelektual dan ulama istana ke pinggiran (margins) masyarakat. Teologi tidak lagi berbicara dari atas ke bawah, melainkan dari bawah ke atas, berdasarkan pengalaman penderitaan kaum miskin. Inilah yang ia sebut sebagai hermeneutika "the here and now" (disini dan sekarang), yang mendahulukan kesejahteraan manusia di dunia sebelum berbicara tentang keselamatan di akhirat.
Analisis Esai Utama: Muhammad sebagai Pembebas
Dalam esai "Muhammad as Liberator", Engineer melakukan dekonstruksi terhadap citra Nabi Muhammad SAW. Ia tidak menampilkan Muhammad hanya sebagai sosok mistikus yang menerima wahyu, melainkan sebagai seorang pemimpin revolusioner yang memiliki kesadaran kelas yang tajam.
Perlawanan Terhadap Kapitalisme Suku Mekkah
Engineer menganalisis bahwa pada masa kenabian, Mekkah sedang mengalami transisi dari ekonomi nomaden menuju pusat perdagangan komersial yang makmur. Namun, kemakmuran ini hanya dinikmati oleh segelintir elit suku yang mengabaikan nilai-nilai kolektivisme suku tradisional demi keuntungan pribadi. Pesan-pesan awal Al-Qur'an di Mekkah, seperti dalam surah Al-Ma'un, sangat keras mengecam mereka yang menghimpun harta namun menelantarkan anak yatim.
Muhammad SAW dilihat sebagai pembebas karena ia memberikan suara kepada kaum budak (seperti Bilal bin Rabah) dan kelompok-kelompok mustad'afun lainnya untuk menantang struktur kekuasaan para pemuka Quraisy. Gerakan yang dipimpinnya bukan sekadar perubahan keyakinan dari politeisme ke monoteisme, melainkan perubahan tatanan sosial dari sistem yang eksploitatif menuju sistem yang didasarkan pada persaudaraan universal dan keadilan ekonomi.
Piagam Madinah sebagai Charter Pembebasan
Keberhasilan di Madinah juga dianalisis Engineer sebagai upaya pembentukan masyarakat baru yang melampaui ikatan darah suku. Piagam Madinah dipandang sebagai dokumen politik yang menjamin hak-hak kelompok minoritas dan menciptakan sistem pertahanan kolektif yang adil. Bagi Engineer, periode Madinah menunjukkan bahwa Islam mampu mengintegrasikan visi spiritual dengan struktur politik yang demokratis dan egaliter. Nabi Muhammad membangun sebuah paradigma perjuangan di mana agama menjadi katalisator bagi transformasi sosial yang konkret.
Paradigma Karbala dalam Teologi Pembebasan
Sebagai seorang intelektual dengan latar belakang Ismailiyah, Engineer memberikan tafsir revolusioner terhadap peristiwa Karbala (680 M) dalam kerangka teologi pembebasan. Baginya, Karbala bukan sekadar peristiwa duka yang harus diratapi setiap tahun, melainkan simbol perlawanan abadi terhadap despotisme.
Husain bin Ali versus Yazid bin Muawiyah
Engineer membingkai pemberontakan Husain bin Ali bukan sebagai konflik kekuasaan pribadi, melainkan sebagai perlawanan terhadap sistem monarki absolut yang didirikan oleh Yazid bin Muawiyah. Yazid direpresentasikan sebagai simbol dari "kontra-revolusi" yang mencoba mengembalikan Islam ke dalam bentuk sistem jahiliyah yang otokratis, di mana agama digunakan sebagai alat legitimasi kekuasaan.
Husain, dengan menolak memberikan baiat, menegaskan bahwa seorang Muslim memiliki kewajiban moral untuk menentang penguasa yang zalim meskipun harus mengorbankan nyawa. Engineer menyebut Husain sebagai pejuang yang berusaha mengembalikan Islam ke jalur revolusioner dan etisnya semula. Peristiwa Karbala menjadi paradigma bagi teologi pembebasan untuk tidak pernah berkompromi dengan ketidakadilan sistemik.
Dari Ratapan menuju Transformasi Sosial
Engineer mengkritik keras tradisi keagamaan yang hanya memfokuskan Karbala pada aspek ritual penyiksaan diri dan tangisan. Ia berargumen bahwa energi emosional tersebut harus diubah menjadi kesadaran sosial untuk melawan "Yazid-Yazid modern" yang saat ini menjelma dalam rupa struktur ekonomi kapitalis yang menindas atau rezim otoriter. Karbala mengajarkan bahwa penderitaan kaum tertindas adalah locus (tempat) di mana Tuhan menyatakan kehadiran-Nya melalui perjuangan pembebasan.
Keadilan Gender dan Kritik Patriarki
Salah satu tema sentral dalam buku ini dan karya-karya Engineer lainnya adalah pembelaan terhadap hak-hak perempuan dalam Islam. Engineer sering disebut sebagai "Muslim Feminist" karena keberaniannya membongkar struktur patriarki yang telah lama dianggap sebagai bagian dari ajaran agama.
Dekonstruksi Hukum Keluarga Islam (Fiqh)
Engineer berpendapat bahwa rendahnya status perempuan dalam masyarakat Muslim saat ini adalah hasil dari "pembekuan" interpretasi Al-Qur'an oleh para ulama abad pertengahan yang hidup dalam budaya patriarki yang kaku. Ia mencatat bahwa banyak hadis misoginis (membenci perempuan) yang muncul belakangan sebenarnya bertentangan dengan spirit kesetaraan yang dibawa oleh Al-Qur'an.
Dalam esai-esainya, ia menekankan bahwa Al-Qur'an memberikan perempuan posisi sebagai subjek hukum yang mandiri, memiliki hak waris, hak memiliki properti, dan hak untuk bercerai. Namun, hak-hak ini sering kali "disabotase" melalui interpretasi hukum yang berpihak pada laki-laki. Sebagai contoh, Engineer secara tegas menentang praktik "Talak Tiga" sekaligus yang marak di India, karena ia menganggap hal itu tidak memiliki landasan dalam Al-Qur'an dan sangat merugikan martabat perempuan.
Kesetaraan Esensial versus Keunggulan Fungsional
Engineer menerapkan metodologi hermeneutikanya pada ayat-ayat yang sering digunakan untuk menjustifikasi superioritas laki-laki, seperti QS. An-Nisa (4):34. Ia berargumen bahwa ayat tersebut memberikan kepemimpinan kepada laki-laki berdasarkan alasan fungsional-ekonomi pada masa itu (karena laki-laki adalah pencari nafkah tunggal), bukan karena keunggulan biologis atau spiritual yang melekat secara permanen. Di era modern di mana perempuan juga berpartisipasi dalam sektor publik dan ekonomi, dasar fungsional tersebut hilang, dan prinsip normatif "kesetaraan manusia" (QS. 4:1) harus menjadi rujukan utama.
Ia menuntut adanya kodifikasi hukum syariah yang modern dan adil gender, yang mencerminkan spirit Al-Qur'an tentang martabat manusia tanpa memandang jenis kelamin. Baginya, perjuangan untuk hak perempuan adalah bagian integral dari teologi pembebasan karena perempuan adalah kelompok mustad'afin yang paling lama tertindas dalam sejarah manusia.
Ekonomi Islam: Zakat sebagai Hak, Bukan Belas Kasihan
Dalam pandangan Engineer, teologi pembebasan harus mampu menawarkan solusi bagi masalah kemiskinan dan kesenjangan ekonomi. Ia melakukan analisis tajam terhadap sistem ekonomi kapitalis dan mengusulkan reinterpretasi terhadap konsep-konsep ekonomi Islam klasik.
Kritik Terhadap Akumulasi Modal
Engineer mengecam praktik penimbunan harta (kanzul mal) yang sering dilakukan oleh para elit ekonomi. Berdasarkan prinsip Tauhid, ia berargumen bahwa pemilik mutlak dari segala sumber daya di alam semesta adalah Allah, sementara manusia hanya bertindak sebagai pengelola (khalifah) yang harus menggunakan sumber daya tersebut untuk kesejahteraan bersama. Ia merujuk pada ayat-ayat Al-Qur'an yang melarang peredaran harta hanya di kalangan orang kaya (QS. 59:7) sebagai dasar bagi sistem ekonomi distributif.
Zakat sebagai Instrumen Transformasi Struktural
Engineer menolak pemahaman zakat yang hanya dianggap sebagai bentuk filantropi sukarela atau "sisa-sisa makanan dari meja orang kaya". Dalam teologi pembebasan, zakat adalah instrumen negara atau komunitas untuk melakukan redistribusi kekayaan secara paksa demi menjamin kebutuhan dasar bagi setiap anggota masyarakat.
Ia menekankan bahwa dalam harta orang kaya terdapat "hak" bagi si miskin (QS. 51:19). Oleh karena itu, ketika si miskin mengambil haknya melalui sistem zakat atau kebijakan sosial lainnya, ia tidak sedang meminta bantuan, melainkan sedang menuntut hak yang secara ilahi telah ditetapkan baginya. Engineer mengusulkan agar sistem zakat dikelola secara modern untuk membiayai proyek-proyek pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan bagi kaum mustad'afin, sehingga mereka dapat keluar dari lingkaran kemiskinan sistemik.
Pluralisme dan Harmoni Komunal di India
Karya Engineer sangat kental dengan nuansa perjuangan melawan komunalitas (konflik antar-agama) di India. Ia percaya bahwa teologi pembebasan tidak boleh eksklusif bagi umat Islam saja, melainkan harus mampu membangun solidaritas antar-iman untuk melawan penindasan bersama.
Kesatuan Din dan Keragaman Syariat
Engineer memperkenalkan konsep perbedaan antara "Din" (agama dalam esensinya yang satu) dan "Syariat" (hukum praktis yang beragam sesuai konteks zaman dan budaya). Ia berargumen bahwa semua nabi dikirim dengan Din yang sama, yaitu pengabdian kepada Tuhan dan pengabdian kepada kemanusiaan, namun mereka membawa Syariat yang berbeda-beda untuk memenuhi kebutuhan spesifik umatnya.
Dengan pemahaman ini, Engineer mempromosikan pluralisme yang aktif. Ia menekankan bahwa keragaman bahasa, warna kulit, dan agama adalah "tanda-tanda" kekuasaan Allah yang harus dihargai (QS. 30:22). Kerjasama antar-agama dalam memperjuangkan hak-hak buruh, keadilan ekonomi, dan perdamaian adalah bentuk nyata dari pengabdian kepada Tuhan.
Kritik Terhadap Politisasi Agama
Sebagai aktivis perdamaian, Engineer sangat vokal menentang penggunaan agama sebagai alat untuk memicu kebencian terhadap kelompok lain. Ia berargumen bahwa kerusuhan komunal di India sering kali bukan disebabkan oleh perbedaan keyakinan teologis, melainkan oleh manipulasi elit politik yang menggunakan identitas agama untuk memperebutkan kekuasaan. Teologi pembebasan yang ia usung menawarkan visi "Islam sebagai rahmat bagi semesta alam" (Rahmatan Lil Alamin) yang merangkul semua manusia tanpa memandang latar belakang etnis atau agamanya.
Implikasi bagi Pendidikan Islam dan Transformasi Sosial
Salah satu esai dalam karyanya membahas relevansi teologi pembebasan dengan tujuan pendidikan Islam. Engineer melihat bahwa sistem pendidikan Islam saat ini sering kali gagal karena terlalu berorientasi pada kepatuhan ritualistik dan hafalan dogma.
Pendidikan sebagai Praktik Pembebasan
Menurut Engineer, pendidikan Islam harus bertransformasi dari sekadar "pembentukan individu yang saleh secara ritual" menjadi "pembentukan agen perubahan sosial yang sadar kritis". Pendidikan harus mampu:
1. Humanisasi: Mengembalikan martabat manusia dari perbudakan dogma dan materialisme.
2. Kesadaran Kritis: Membekali siswa dengan kemampuan untuk menganalisis struktur sosial yang menyebabkan kemiskinan dan ketidakadilan.
3. Praxis Liberatif: Menghubungkan antara teori (iman) dan praktik (amal) dalam kehidupan nyata.
Ia menolak model pembelajaran otoriter di madrasah-madrasah yang membungkam daya kritis siswa. Sebaliknya, ia mengusulkan metodologi pembelajaran yang dialogis dan demokratis, di mana nilai-nilai kebebasan berpikir dan tanggung jawab sosial menjadi inti dari kurikulum. Pendidikan Islam harus menjadi instrumen untuk membebaskan masyarakat dari fanatisme sempit dan kemiskinan intelektual.
Kritik Terhadap Otoritas Keagamaan: "The Liberation of Theology"
Engineer menegaskan bahwa sebelum Islam dapat menjadi kekuatan pembebasan, teologi itu sendiri harus "dibebaskan" dari cengkeraman otoritas keagamaan yang mapan. Ia menggunakan istilah "The Liberation of Theology" untuk mendeskripsikan proses pembersihan agama dari kepentingan-kepentingan elit.
Melawan Monopoli Kebenaran para Ulama
Engineer sangat curiga terhadap klaim-klaim otoritas ulama yang sering kali bertindak sebagai "custodians of the status quo" (penjaga status quo). Pengalamannya di komunitas Dawoodi Bohra, di mana kepala pendeta memiliki kekuasaan ekonomi dan sosial yang mutlak, membuatnya menyadari bahwa struktur hirarki agama sering kali menjadi hambatan terbesar bagi pembebasan umat.
Ia menuntut adanya demokratisasi interpretasi. Al-Qur'an harus dibaca sebagai teks yang terbuka bagi setiap Muslim yang memiliki komitmen pada keadilan, bukan hanya bagi mereka yang memiliki gelar formal dari lembaga-lembaga ortodoks. Engineer berargumen bahwa "semakin abstrak sebuah teologi, semakin besar kemungkinan ia digunakan untuk melegitimasi penindasan," karena teologi yang terlalu metafisika cenderung mengabaikan realitas penderitaan fisik manusia di dunia.
Peran Intelektual sebagai Pembaru (Mujaddid)
Engineer sendiri mengambil peran sebagai intelektual yang berani mengambil risiko. Ia menghadapi berbagai serangan fisik, pengusiran (baraat), dan tantangan hukum karena pandangan-pandangannya yang dianggap sesat oleh kaum konservatif. Namun, baginya, seorang mujaddid (pembaru) sejati harus memiliki keberanian untuk membedakan antara "inti agama" (essence) dengan "tradisi sosial" yang telah mengeras dan menindas. Ia memanggil para intelektual Muslim untuk meninggalkan menara gading akademis dan terlibat langsung dalam perjuangan rakyat untuk mewujudkan visi etis Islam.
Warisan dan Relevansi Kontemporer
Karya "Islam and Liberation Theology" tetap menjadi salah satu teks paling penting dalam studi Islam progresif hingga hari ini. Pengaruhnya meluas dari India hingga ke Indonesia, Afrika Selatan, dan Amerika, menginspirasi gerakan-gerakan yang memperjuangkan hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan keadilan ekonomi dalam kerangka iman Islam.
Pengaruh Global dan Perbandingan
Engineer sering dibandingkan dengan pemikir teologi pembebasan lainnya seperti Farid Esack dari Afrika Selatan, Amina Wadud dari Amerika, atau Ali Shari'ati dari Iran. Meskipun memiliki kemiripan dalam semangat perlawanan terhadap penindasan, Engineer memiliki kekhasan dalam pendekatannya yang sangat menekankan pada harmoni komunal dan rasionalitas Ismailiyah.
Berikut adalah perbandingan singkat antara fokus beberapa tokoh teologi pembebasan:
Tantangan di Masa Depan
Di era globalisasi dan bangkitnya populisme agama, gagasan Engineer mengenai "Engaged Islam" menghadapi tantangan baru. Namun, inti dari pesannya—bahwa Islam harus menjadi kekuatan yang memanusiakan manusia—tetap relevan. Engineer mengingatkan kita bahwa keberhasilan suatu bangsa tidak diukur dari kemegahan bangunan ibadahnya, melainkan dari sejauh mana ia mampu melindungi mereka yang paling lemah di antara penduduknya.
Sebagai kesimpulan dari analisis mendalam ini, karya Asghar Ali Engineer bukan sekadar buku esai biasa. Ia adalah sebuah peta jalan bagi transformasi keagamaan. Ia menantang kita untuk bertanya: apakah agama kita memperkuat rantai penindasan ataukah ia menjadi kunci yang membukanya? Melalui rekonstruksi Tauhid, pengembangan hermeneutika kontekstual, dan pembelaan terhadap kaum mustad'afun, Engineer telah memberikan kontribusi yang tak ternilai bagi upaya membangun dunia yang lebih adil, damai, dan bermartabat.
Sitasi:
Afeksi.id. (n.d.). Revitalizing Islamic liberation theology according to Asghar Ali Engineer: Insights into human equality, gender injustice, and. Diakses 12 Februari 2026, dari https://afeksi.id/journal3/index.php/nasir/article/download/77/66/163
A-Z Quotes. (n.d.). Top 24 quotes by Asghar Ali Engineer. Diakses 12 Februari 2026, dari https://www.azquotes.com/author/56545-Asghar_Ali_Engineer
Centre for Study of Society and Secularism. (n.d.). Dr Asghar Ali Engineer. Diakses 12 Februari 2026, dari https://csss-isla.com/about-us/dr-asghar-ali-engineer/
Dialogosphere. (2016). Religion, liberation and reform: An introduction to the key thoughts of Asghar Ali Engineer. Diakses 12 Februari 2026, dari https://dialogosphere.wordpress.com/2016/01/07/religion-liberation-and-reform-an-introduction-to-the-key-thoughts-of-asghar-ali-engineer/
DOKUMEN.PUB. (n.d.). Qur'an of the oppressed: Liberation theology and gender justice in Islam. Diakses 12 Februari 2026, dari https://dokumen.pub/quran-of-the-oppressed-liberation-theology-and-gender-justice-in-islam-oxford-theology-and-religion-monographs-9780198796480-019879648x.html
Engineer, A. A. (1990). Islam and liberation theology: Essays on liberative elements in Islam. Sterling Publishers.
Engineer, A. A. (1999). Islam dan teologi pembebasan. Pustaka Pelajar.
e-Journal UIN Suska. (n.d.). The hermeneutic thoughts of Ashgar Ali Engineer in the interpretation of feminism. Diakses 12 Februari 2026, dari https://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/ushuludin/article/download/2120/2145
ICR Journal. (n.d.). Islam and civilisational renewal. Diakses 12 Februari 2026, dari https://icrjournal.org/index.php/icr/issue/download/12/13
Internet Archive. (n.d.). The hope of liberation in world religions. Diakses 12 Februari 2026, dari https://archive.org/download/MiguelA.DeLaTorreTheHopeOfLiberationInWorldReligions/Miguel%20A.%20De%20La%20Torre%20The%20Hope%20of%20Liberation%20in%20World%20Religions.pdf
MDPI. (n.d.). The egalitarian principle of “Qist” as lived ethic: Towards a liberational tafsir. Diakses 12 Februari 2026, dari https://www.mdpi.com/2077-1444/14/9/1087
MDPI. (n.d.). The future of Islamic liberation theology. Diakses 12 Februari 2026, dari https://mdpi-res.com/bookfiles/book/7969/The_Future_of_Islamic_Liberation_Theology.pdf
ResearchGate. (n.d.). Asghar Ali Engineer and his thoughts: Introduction and over-all analysis. Diakses 12 Februari 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/366952296
ResearchGate. (n.d.). The hermeneutic thoughts of Ashgar Ali Engineer in the interpretation of feminism. Diakses 12 Februari 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/318210698
Scribd. (2017). Duderija, A. The imperatives of progressive Islam. Routledge. Diakses 12 Februari 2026, dari https://www.scribd.com/document/819999721/Adis-Duderija-The-Imperatives-of-Progressive-Islam-Routledge-2017
SciSpace. (n.d.). Islamic liberation theology: Qur'anic hermeneutics for. Diakses 12 Februari 2026, dari https://scispace.com/pdf/islamic-liberation-theology-qur-anic-hermeneutics-for-the-14r7wrd356.pdf
Semantic Scholar. (n.d.). Islamic justice in Indonesia: Polygamy regulation on Asghar Ali Engineer's perspective. Diakses 12 Februari 2026, dari https://pdfs.semanticscholar.org/1045/23ba1f7999aade12b9a85818d7af344be82c.pdf
Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. (n.d.). The relevance of gender equality from Asghar Ali Engineer's feminist perspective on the SDGs. Diakses 12 Februari 2026, dari https://ejournal.uinbukittinggi.ac.id/index.php/belief/article/download/8527/2193
Wikipedia. (n.d.). Asghar Ali Engineer. Diakses 12 Februari 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Asghar_Ali_Engineer
Zendy. (n.d.). The liberation theology of Asghar Ali Engineer and its relevance to Islamic education objectives. Diakses 12 Februari 2026, dari https://zendy.io/pdf-viewer/10.14421/skijier.2018.2018.21.01





Post a Comment