Sintesis Etika dan Hukum Islam dalam Al-Dharī‘ah ilā Makārim al-Sharī‘ah Karya Al-Rāghib al-Iṣfahānī
Konteks Historis dan Sosok Al-Rāghib al-Iṣfahānī
Memahami Al-Dharī‘ah memerlukan pemahaman terhadap sosok penulisnya dan iklim intelektual Isfahan pada abad ke-11. Meskipun rincian biografis tentang Al-Iṣfahānī sering kali kabur dalam kamus-kamus biografi besar, pengaruh tulisannya menunjukkan bahwa ia adalah tokoh sentral yang berada di antara era Miskawayh yang sangat dipengaruhi Yunani dan era Imam al-Ghazali yang lebih bercorak sufi. Al-Iṣfahānī hidup pada masa di mana perdebatan antara rasionalitas filosofis dan ortodoksi agama mencapai puncaknya. Identitas mazhabnya sering menjadi subjek perdebatan; beberapa menganggapnya berafiliasi dengan Shafi'i dalam yurisprudensi dan Ash'ari dalam teologi, sementara yang lain sempat mencurigainya memiliki kecenderungan Mu'tazilah atau Syiah karena kecintaannya pada Ahl al-Bayt. Namun, dalam karyanya al-I'tiqadat, ia secara eksplisit mengkritik pandangan Mu'tazilah dan Syiah, yang menegaskan kemandirian pemikirannya.
Sebagai seorang filolog terkemuka yang menyusun Mufradāt alfāẓ al-Qurʾān, Al-Iṣfahānī membawa ketajaman linguistik ke dalam diskursus etika. Pendekatannya terhadap moralitas selalu berakar pada makna kata dan konsep dalam wahyu, yang kemudian ia sintesiskan dengan kategori-kategori etika Aristotelian. Kitab Al-Dharī‘ah sendiri mencerminkan visi ini, di mana etika tidak dipandang sebagai disiplin sekuler yang terpisah, melainkan sebagai inti dari pengalaman beragama yang benar. Hal ini membedakannya dari karya Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, yang cenderung lebih mengandalkan sumber-sumber Yunani tanpa integrasi yang mendalam dengan tradisi tekstual Islam.
Struktur Tematik dan Metodologi Integrasi Pengetahuan
Kitab Al-Dharī‘ah disusun secara sangat sistematis, mengikuti alur yang bergerak dari pemahaman diri internal menuju interaksi sosial eksternal. Struktur ini dirancang untuk membimbing pembaca melalui proses pemurnian jiwa yang bertahap. Al-Iṣfahānī membagi karyanya menjadi tujuh bab utama yang mencakup spektrum luas eksistensi manusia, mulai dari psikologi hingga ekonomi dan pendidikan.
Antropologi Filosofis: Manusia sebagai Khalifah dan Mikrokosmos
Dalam bab pembuka, Al-Iṣfahānī membangun fondasi etisnya dengan mendefinisikan hakikat manusia. Ia memperkenalkan konsep manusia sebagai al-‘ālam al-ṣaghīr atau mikrokosmos, sebuah ide yang berakar pada Neoplatonisme namun diadaptasi untuk menjelaskan kemuliaan manusia dalam skema penciptaan Ilahi. Sebagai mikrokosmos, manusia mengandung seluruh elemen alam semesta di dalam dirinya, baik dimensi spiritual maupun material.
Tiga Tugas Utama Eksistensi Manusia
Al-Iṣfahānī merumuskan bahwa keberadaan manusia di dunia memiliki tiga tujuan fungsional yang saling berkaitan. Kegagalan untuk memenuhi salah satu dari tugas ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap fitrah kemanusiaan.
1. Memakmurkan Bumi (‘imārat al-arḍ): Manusia bertugas mengelola dunia material, mengembangkan peradaban, dan mencari penghidupan yang halal. Ini adalah tugas horizontal yang menghubungkan manusia dengan alam semesta.
2. Ibadah kepada Allah: Pengakuan terhadap otoritas Ilahi melalui ketaatan pada ritual dan hukum-hukum formal syariat. Ibadah adalah sarana untuk menjaga hubungan vertikal antara hamba dan Pencipta.
3. Kekhalifahan (khilāfah): Tugas paling mulia di mana manusia bertindak sebagai representasi Tuhan di bumi. Kekhalifahan dicapai dengan meniru sifat-sifat mulia (makārim) Allah, seperti kebijaksanaan, kasih sayang, dan keadilan, sesuai dengan kapasitas manusia yang terbatas.
Al-Iṣfahānī memberikan contoh faktual menggunakan analogi fungsional: seekor kuda diciptakan untuk berperang, dan pedang diciptakan untuk menebas. Jika kuda tidak lagi bisa berlari atau pedang tidak lagi tajam, mereka kehilangan fungsinya dan harus diganti atau diturunkan derajatnya. Demikian pula, manusia yang tidak lagi mampu menjalankan fungsi ibadah, memakmurkan bumi, atau menjadi khalifah, secara esensial lebih rendah daripada hewan peliharaan karena ia telah mengabaikan potensi kemuliaan yang diberikan kepadanya.
Hubungan Jiwa dan Badan
Dalam pandangan Al-Iṣfahānī, penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) adalah prasyarat bagi validitas kekhalifahan, sebagaimana pembersihan badan adalah prasyarat bagi validitas ibadah lahiriah. Ia menekankan bahwa tindakan yang baik tidak mungkin lahir dari jiwa yang korup. Ia menggunakan metafora "rumah dan anjing" untuk menggambarkan kondisi hati: jika hati dipenuhi dengan "anjing-anjing" kemaksiatan seperti ketamakan dan kedengkian, maka cahaya Ilahi tidak akan pernah bisa masuk ke dalamnya. Oleh karena itu, etika dalam Al-Dharī‘ah bukan sekadar tentang etiket sosial, melainkan tentang transformasi ontologis dari dalam jiwa.
Epistemologi dan Peran Intelek dalam Praktis Keagamaan
Al-Iṣfahānī memberikan posisi yang sangat sentral bagi akal (‘aql) dalam sistem etisnya. Baginya, akal adalah instrumen utama yang memungkinkan manusia memahami pesan wahyu dan menerapkannya dalam realitas kehidupan. Ia menolak pandangan dikotomis yang mempertentangkan akal dengan wahyu. Sebaliknya, ia berargumen bahwa akal yang sehat akan selalu selaras dengan prinsip-prinsip syariat.
Akal berfungsi untuk mengendalikan dorongan-dorongan emosional dan instingtual. Al-Iṣfahānī membedakan antara saran yang datang dari akal dan saran yang datang dari hawa nafsu. Akal cenderung pada penundaan kepuasan (delayed gratification), mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang, dan membuat argumen berdasarkan bukti. Sementara itu, hawa nafsu menginginkan kepuasan instan, buta terhadap dampak negatif, dan didorong oleh angan-angan kosong. Dalam proses pendidikan karakter, peran akal adalah sebagai pendidik yang harus mendisiplinkan fakultas-fakultas lain dalam jiwa manusia.
Psikologi Moral: Struktur Jiwa dan Fakultas-Fakultasnya
Inti dari kitab Al-Dharī‘ah adalah analisis mendalam tentang fakultas jiwa manusia. Al-Iṣfahānī mengadaptasi model tripartit jiwa, namun ia memberikan nuansa teologis yang kuat pada masing-masing bagian tersebut. Keseimbangan antara ketiga fakultas ini adalah kunci bagi kesehatan mental dan keunggulan moral.
Fakultas Rasional (Quwwat al-Fikr)
Fakultas ini adalah pusat intelektual manusia. Jika dilatih dan disucikan, ia akan menghasilkan kebajikan Kebijaksanaan (ḥikmah) dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Kebijaksanaan dalam konteks Al-Iṣfahānī mencakup kemampuan untuk melihat kenyataan secara jernih dan fokus pada apa yang berada dalam kendali manusia. Sebaliknya, jika fakultas ini rusak, ia akan melahirkan kelicikan (slyness) atau kebodohan.
Fakultas Syahwat (Quwwat al-Shahwah)
Ini adalah daya yang mendorong manusia untuk mencari kenikmatan dan keuntungan materi. Al-Iṣfahānī tidak memandang syahwat sebagai sesuatu yang jahat secara inheren, karena ia diperlukan untuk kelangsungan hidup. Namun, ia harus ditundukkan agar menghasilkan kebajikan Kesucian (‘iffah) dan Kedermawanan (jūd). Kerusakan pada fakultas ini menyebabkan kerakusan (greed) atau hilangnya nafsu hidup yang tidak sehat.
Fakultas Amarah (Quwwat al-Ḥamiyyah)
Ini adalah energi yang digunakan untuk perlindungan diri dan penegasan prinsip. Jika fakultas ini dijinakkan oleh intelek, ia akan berubah menjadi Keberanian (shajā‘ah) dan Kesantunan (ḥilm). Keberanian di sini bukan sekadar keberanian fisik, melainkan keteguhan dalam memegang prinsip meskipun menghadapi kesulitan. Kerusakannya akan menyebabkan kecerobohan atau ketakutan yang melumpuhkan (cowardice).
Keadilan dan Cinta: Dimensi Sosial Etika Al-Iṣfahānī
Bab kelima dari Al-Dharī‘ah mengeksplorasi bagaimana karakter individu berinteraksi dengan struktur sosial yang lebih luas. Keadilan (‘adālah) dipandang sebagai fondasi dari keteraturan kosmik dan sosial. Al-Iṣfahānī mendefinisikan keadilan sebagai "pembalasan yang setara" dalam konteks hukum, namun dalam konteks moral, ia bermakna memberikan hak kepada setiap pihak sesuai dengan porsinya.
Ia menegaskan bahwa ketidakadilan (zulm) adalah keburukan yang paling merusak yang dapat dilakukan manusia. Dalam konteks kepemimpinan, Al-Iṣfahānī memberikan peringatan keras bahwa seorang penguasa yang tidak adil bukan hanya merusak dirinya sendiri, tetapi juga merusak tatanan masyarakat secara keseluruhan. Ia berargumen bahwa kepemimpinan adalah ujian bagi jiwa, yang menuntut tata kelola diri (self-governance) sebelum tata kelola negara.
Terkait dengan cinta (maḥabbah) dan kebencian, Al-Iṣfahānī menekankan pentingnya mengarahkan emosi-emosi ini berdasarkan prinsip-prinsip syariat. Cinta yang paling mulia adalah cinta yang didasarkan pada kekaguman terhadap kebajikan dan pengabdian kepada Allah. Persahabatan sejati, dalam pandangannya, adalah kemitraan dalam pertumbuhan moral di mana masing-masing individu saling bertanggung jawab atas perkembangan karakter satu sama lain.
Etika Ekonomi dan Kerja: Keunikan Pandangan Al-Iṣfahānī
Salah satu kontribusi yang paling membedakan Al-Iṣfahānī dari filosof etika lainnya adalah perhatiannya yang mendalam pada dunia kerja dan ekonomi dalam Bab keenam. Baginya, ekonomi bukan sekadar urusan duniawi, melainkan bagian integral dari tugas manusia untuk memakmurkan bumi (‘imārat al-arḍ).
Ia membahas berbagai jenis kerajinan dan profesi, menilai pentingnya masing-masing dalam struktur masyarakat. Kedermawanan (jūd) dalam ekonomi bukan berarti menghambur-hamburkan harta, melainkan menggunakannya sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang benar. Ia juga memperingatkan terhadap sifat kikir (niggardliness) dan kerakusan dalam menumpuk harta, yang ia pandang sebagai manifestasi dari kegagalan fakultas syahwat untuk tunduk pada akal. Pandangan ini menunjukkan bahwa spiritualitas dalam Islam, menurut Al-Iṣfahānī, harus termanifestasi dalam tindakan-tindakan praktis di pasar dan tempat kerja.
Makārim al-Sharī‘ah vs Ahkām al-Sharī‘ah: Inovasi Konseptual
Salah satu terobosan teoretis terpenting dalam kitab ini adalah pembedaan yang tegas namun integratif antara "ketentuan hukum" (ahkām) dan "kemuliaan karakter" (makārim) dalam syariat.
- Ahkām al-Sharī‘ah: Merupakan aturan-aturan legalistik yang bersifat fardu (wajib), seperti perintah untuk beribadah secara formal, hukum halal-haram, dan batasan-batasan perilaku yang kaku. Al-Iṣfahānī menyebut mereka yang hanya terpaku pada level ini sebagai orang yang "lemah" karena mereka hanya menjalankan kewajiban tanpa mencapai esensi.
- Makārim al-Sharī‘ah: Merupakan nilai-nilai keutamaan yang bersifat sunnah namun menjadi penyempurna bagi hukum. Contohnya adalah kebijaksanaan, kesabaran yang melampaui batas minimum, pengampunan saat mampu membalas, dan kedermawanan mutlak.
Al-Iṣfahānī berpendapat bahwa tujuan akhir dari syariat bukan sekadar kepatuhan pada ahkām, melainkan pencapaian makārim. Ibadah tetap menjadi fondasi utama, namun perilaku moral par excellence hanya akan muncul melalui internalisasi makārim al-sharī‘ah. Pemikiran ini memberikan ruang bagi umat Islam untuk tidak hanya menjadi subjek hukum yang patuh, tetapi menjadi pribadi yang memiliki keunggulan karakter yang dapat beradaptasi dengan kenyataan hidup yang multikultural dan kompleks.
Pengaruh Terhadap Imam al-Ghazali dan Pemikir Sesudahnya
Pentingnya kitab Al-Dharī‘ah tercermin dari dampaknya yang mendalam terhadap pemikiran Imam al-Ghazali, tokoh yang kemudian dikenal sebagai "Hujjatul Islam". Al-Ghazali dilaporkan sangat mengagumi karya Al-Iṣfahānī ini, bahkan sampai menghafalnya. Pengaruh ini terlihat jelas dalam karya agung Al-Ghazali, Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn, khususnya dalam bagaimana ia mengintegrasikan psikologi moral ke dalam praktik keagamaan.
Beberapa poin kesamaan dan pengaruh spesifik meliputi:
- Struktur Psikologis: Al-Ghazali mengadopsi analisis fakultas jiwa (akal, amarah, syahwat) yang dikembangkan oleh Al-Iṣfahānī untuk menjelaskan penyakit-penyakit hati dan cara penyembuhannya.
- Integrasi Rasio dan Wahyu: Al-Ghazali melanjutkan proyek Al-Iṣfahānī dalam menunjukkan bahwa filsafat moral yang benar tidak bertentangan dengan ajaran Al-Qur'an, melainkan merupakan penjelasan sistematis darinya.
- Konsep Kebahagiaan: Keduanya sepakat bahwa kebahagiaan sejati (sa‘ādah) hanya dapat dicapai melalui kombinasi ilmu dan amal, yang berujung pada kedekatan dengan Allah.
Selain Al-Ghazali, pemikiran Al-Iṣfahānī juga memberikan pengaruh pada tokoh-tokoh besar seperti Al-Razi dan Ibn Khaldun, menunjukkan bahwa Al-Dharī‘ah adalah teks dasar yang membentuk lintasan filsafat etika di dunia Islam selama berabad-abad.
Contoh Faktual dan Analogi dalam Al-Dharī‘ah
Al-Iṣfahānī sangat ahli dalam menggunakan analogi untuk menjelaskan konsep-konsep abstrak agar mudah dipahami oleh pembaca. Berikut adalah beberapa contoh faktual yang sering ia gunakan dalam narasinya:
- Analogi Bayangan: "Penguasa terhadap rakyatnya adalah seperti seseorang terhadap bayangannya. Bayangan tidak akan bisa lurus jika pemiliknya bengkok." Analogi ini menekankan bahwa reformasi sosial harus dimulai dari integritas kepemimpinan pribadi.
- Analogi Bejana: "Setiap bejana akan mengeluarkan isinya." Ini digunakan untuk menjelaskan bahwa tindakan lahiriah manusia hanyalah cerminan dari kondisi batinnya. Jika jiwa dipenuhi kebaikan, maka tindakannya akan bermanfaat bagi sesama.
- Analogi Rumah dan Anjing: Hati manusia diibaratkan sebagai rumah. "Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing." Di sini, anjing melambangkan sifat-sifat buruk seperti keserakahan dan dengki yang menghalangi masuknya hidayah atau cahaya Ilahi.
- Metafora Mikrokosmos: Ia merinci korespondensi antara bagian tubuh manusia dan elemen alam semesta: tulang seperti gunung, perut seperti laut, usus seperti sungai, dan rambut seperti tanaman. Napas manusia seperti angin, suaranya seperti petir, dan tangisnya seperti hujan. Metafora ini bertujuan untuk membuat manusia menyadari keterikatannya dengan alam dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari harmoni kosmik.
Relevansi Al-Dharī‘ah dalam Krisis Modernitas
Meskipun ditulis hampir seribu tahun yang lalu, Al-Dharī‘ah tetap memiliki relevansi yang luar biasa dalam menghadapi tantangan modernitas. Di era yang didominasi oleh pendekatan moral deontologis (kepatuhan pada aturan) atau konsekuensialis (menghitung hasil), karya Al-Iṣfahānī menghidupkan kembali tradisi etika kebajikan (virtue ethics).
Dalam menghadapi krisis mentalitas manusia modern, filsafat jiwa Al-Iṣfahānī menawarkan solusi melalui pengendalian nafsu dan penajaman akal untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya. Karyanya juga memberikan kerangka kerja moral yang kokoh bagi para pemimpin politik dan akademisi untuk bertindak sebagai "gembala" yang bertanggung jawab, bukan sekadar pelayan kepentingan materialistik atau politik praktis.
Penutup: Visi Kesempurnaan Manusia
Kitab Al-Dharī‘ah ilā Makārim al-Sharī‘ah adalah bukti kecemerlangan intelektual Al-Rāghib al-Iṣfahānī dalam menyintesiskan berbagai aliran pemikiran menjadi satu kesatuan yang utuh dan aplikatif. Melalui penekanan pada penyucian jiwa, penguasaan akal atas emosi, dan pencapaian kemuliaan karakter di atas sekadar kepatuhan hukum, Al-Iṣfahānī telah meletakkan peta jalan bagi setiap individu untuk mencapai derajat kekhalifahan yang sejati.
Integrasi yang ia tawarkan antara dimensi lahiriah dan batiniah agama memastikan bahwa syariat tidak pernah dipandang sebagai beban yang kaku, melainkan sebagai sarana (dharī‘ah) untuk mencapai kebahagiaan hakiki baik di dunia maupun di akhirat. Warisan ini terus menginspirasi para pencari kebenaran, akademisi, dan praktisi spiritual untuk terus memelihara integritas diri di tengah guncangan dunia yang terus berubah. Dengan demikian, Al-Dharī‘ah bukan hanya sebuah teks sejarah, melainkan sebuah panduan moral yang abadi bagi umat manusia dalam perjalanannya menuju kesempurnaan etis.
Sitasi:
Al-Iṣfahānī, A. R. (2007). Al-dharī‘ah ilā makārim al-sharī‘ah. Cairo: Dār al-Salām.
Al-Rāghib al-Iṣfahānī. (n.d.). Al-Dharīʿa ilā makārim al-Sharīʿa (The path to the noble qualities of the sacred law). Squarespace. Diakses Februari 8, 2026, dari https://static1.squarespace.com/static/54e6208ee4b05860a4600103/t/595a4c9a9f74562cf8fb1225/1768504627490/Raghib+Path+to+Virtue+Translation.pdf
Al-Raghib al-Isfahani. (n.d.). Al-Raghib al-Isfahani. Wikipedia. Diakses Februari 8, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Raghib_al-Isfahani
Alli, M. Y. (n.d.). The path to virtue: The ethical philosophy of Al-Raghib Al-Esfahani: An annotated translation with critical introduction of Kitab Al-Dharīʿah ilā Makārim al-Sharīʿah. Islamic Bookstore. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.islamicbookstore.com/b11055.html
Digilib UIN Sunan Kalijaga. (n.d.). Studi pemikiran filsafat moral Raghib al-Isfahani (W. 1108 M). Diakses Februari 8, 2026, dari https://digilib.uin-suka.ac.id/14305/
DailySunnah. (n.d.). The four pillars of virtue in Islam: Balance, courage, and inner beauty. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.oursunnah.com/p/four-pillars-of-virtue-in-islam
Encyclopaedia Iranica. (n.d.). Rāḡeb Eṣfahāni. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.iranicaonline.org/articles/rageb-esfahani/
Facchine, T. (n.d.). Al-Raghib al-Isfahani #01: Introduction to the path to virtue. Muslim Central. Diakses Februari 8, 2026, dari https://muslimcentral.com/tom-facchine-al-raghib-al-isfahani-01-introduction-to-the-path-to-virtue
Firdous Books. (n.d.). The art of cultivating noble character (Hardcover). Diakses Februari 8, 2026, dari https://firdousbooks.ca/the-art-of-cultivating-noble-character-hardcover/
IAIN Palopo. (n.d.). Konstruksi genealogi pemikiran Raghib al-Isfahani. Rumah Jurnal IAIN Palopo. Diakses Februari 8, 2026, dari https://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/palita/article/download/2576/1703/0
Journal of Muslim Mental Health. (n.d.). A reclassification of al-Ījī's Akhlāq al-ʿAḍudiyya into a model of traditional Islamic virtues (TIV). Michigan Publishing. Diakses Februari 8, 2026, dari https://journals.publishing.umich.edu/jmmh/article/id/6028/
Jurnal Syntax Imperatif. (n.d.). Tafsir falsafi: Integrasi rasionalitas dan spiritual dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an. Diakses Februari 8, 2026, dari https://jurnal.syntaximperatif.co.id/index.php/syntax-imperatif/article/download/556/450/3300
JoECY. (n.d.). Krisis mentalitas dan solusi spiritualitas Islam: Analisis filsafat jiwa al-Raghib al-Ashfahani. Diakses Februari 8, 2026, dari https://joecy.org/index.php/joecy/article/view/7700
Malaysian Journal of Science. (n.d.). A comparison between Ihyāʾ ʿUlūm al-Dīn. Diakses Februari 8, 2026, dari https://mjs.um.edu.my/index.php/JUD/article/download/3301/1361/8947
Mecca Books. (n.d.). The art of cultivating noble character: Raghib al-Isfahani's Kitab al-Dharīʿah ilā Makārim al-Sharīʿah. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.meccabooks.com/products/the-art-of-cultivating-noble-character-raghib-al-isfahanis-kitab-al-dharia-ila-makarim-al-sharia
Muslim Views. (n.d.). The abandoned compass: Al-Isfahani, noble character and the crisis of Muslim conscience. Diakses Februari 8, 2026, dari https://muslimviews.co.za/the-abandoned-compass-al-isfahani-noble-character-and-the-crisis-of-muslim-conscience/
Muslim Views. (n.d.). The rich tradition of virtue ethics within Islam. Diakses Februari 8, 2026, dari https://muslimviews.co.za/the-rich-tradition-of-virtue-ethics-within-islam/
ResearchGate. (n.d.). Al-Rāghib Al-Iṣfahānī dan sumbangannya terhadap falsafah ilmu. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/381859200_Al-Raghib_Al-Isfahani_Dan_Sumbangannya_Terhadap_Falsafah_Ilmu_Al-Raghib_Al-Isfahani_and_His_Contribution_Towards_Philosophy_of_Knowledge
Reddit. (n.d.). The 4 stoic virtues: Justice, temperance, courage & wisdom. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.reddit.com/r/Stoicism/comments/xaktm7/the_4_stoic_virtues_justice_temperance_courage/
Stoic Handbook. (n.d.). What are the 4 stoic virtues? A beginner's guide to living a good life with stoicism. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.stoichandbook.co/what-are-the-4-stoic-virtues-a-beginners-guide-to-living-a-good-life-with-stoicism/
UWC. (n.d.). The past virtue: The ethical philosophy of Al-Raghib al-Isfahani. Diakses Februari 8, 2026, dari https://international.uwc.ac.za/uncategorised/the-past-virtue-the-ethical-philosophy-of-al-raghib-al-isfahani/
Wardah Books. (n.d.). The art of cultivating noble character. Diakses Februari 8, 2026, dari https://wardahbooks.com/products/the-art-of-cultivating-noble-character
White Thread Press. (n.d.). The art of cultivating noble character. Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.whitethreadpress.com/products/the-art-of-cultivating-noble-character-pre-order
YouTube. (n.d.). Reforming the self from al-Raghib al-Isfahani’s Al-Dharīʿah ilā Makārim al-Sharīʿah (Part 9). Diakses Februari 8, 2026, dari https://www.youtube.com/watch?v=Lzn6EG2mNLI



Post a Comment