Rasā’il Ikhwān al-Ṣafā’ wa Khullān al-Wafā’: Analisis Sintesis Intelektual dan Transformasi Spiritual dalam Filsafat Islam

Table of Contents

Rasā’il Ikhwān al-Ṣafā’ wa Khullān al-Wafā’
Karya monumental yang bertajuk Rasā’il Ikhwān al-Ṣafā’ wa Khullān al-Wafā’ (Risalah Saudara-Saudara Kesucian dan Sahabat-Sahabat Setia) merupakan salah satu pencapaian intelektual paling ambisius dan berpengaruh dalam sejarah peradaban Islam abad pertengahan. Disusun oleh sebuah persaudaraan rahasia yang berbasis di Basra dan Baghdad pada abad ke-10 atau ke-11 Masehi, ensiklopedia ini mencakup 52 risalah yang dirancang secara sistematis untuk mensintesiskan filsafat Yunani, kearifan Persia, tradisi India, dan wahyu Islam ke dalam satu kesatuan doktrin yang koheren. Fokus utama dari korpus ini bukanlah sekadar akumulasi informasi faktual, melainkan sebuah proyek soteriologis—penyelamatan jiwa melalui ilmu pengetahuan—di mana pembelajaran dianggap sebagai proses pemurnian jiwa dari keterikatan materi demi mencapai kebahagiaan abadi di akhirat.

Landasan Historis dan Identitas Persaudaraan Ikhwān al-Ṣafā’

Munculnya Ikhwān al-Ṣafā’ terjadi pada periode transisi politik dan intelektual yang kompleks di dunia Islam, khususnya di bawah pengaruh dinasti Buyid yang cenderung memberikan ruang bagi pemikiran Syiah dan filsafat rasional. Identitas para penulisnya tetap menjadi misteri yang disengaja; mereka memilih untuk tetap anonim guna menghindari persekusi politik dan memastikan bahwa pembaca berfokus pada kebenaran pesan tersebut daripada otoritas pribadi penulisnya. Meskipun demikian, beberapa sumber sejarah seperti Abū Ḥayyān al-Tawḥīdī mengidentifikasi kelompok ini sebagai perhimpunan para cendekiawan di Basra, termasuk tokoh-tokoh seperti Abū Sulaymān al-Maqdisī, Abū al-Ḥasan al-Zanjānī, dan lainnya. Kelompok ini beroperasi sebagai sebuah persaudaraan esoteris yang meyakini bahwa syariat agama telah dicemari oleh kebodohan dan fanatisme, sehingga membutuhkan pemurnian melalui filsafat rasional.

Doktrin Ikhwān al-Ṣafā’ sangat dipengaruhi oleh tradisi Ismā‘īlīyah, yang menekankan interpretasi batin (bāṭin) terhadap teks-teks suci. Mereka memandang alam semesta sebagai rangkaian emanasi atau pancaran dari Tuhan yang Maha Esa, sebuah konsep yang diambil dari Neoplatonisme namun diadaptasi ke dalam kerangka monoteisme Islam. Dengan mengadopsi prinsip Pythagoras bahwa angka adalah kunci untuk memahami harmoni alam semesta, Ikhwān al-Ṣafā’ membangun sebuah sistem pengetahuan yang menjembatani jurang antara logika Aristotelian, mistisisme Hermetik, dan wahyu profetik.

Struktur Makro Ensiklopedia: Tangga Menuju Pencerahan

Ensiklopedia ini terdiri dari 52 risalah yang disusun dalam urutan menaik berdasarkan tingkat kesulitan dan abstraksinya, mencerminkan perjalanan jiwa dari dunia material menuju realitas spiritual. Selain 52 risalah utama, terdapat satu risalah penutup yang disebut al-Risālah al-Jāmi‘ah (Risalah Komprehensif), yang berfungsi sebagai ringkasan esoteris dari seluruh doktrin mereka.

Rasā’il Ikhwān al-Ṣafā’ wa Khullān al-Wafā’
Struktur empat bagian ini bukanlah kebetulan; angka empat memegang peranan penting dalam kosmologi Ikhwān al-Ṣafā’ karena dianggap sebagai angka kuadrat pertama dan mencerminkan struktur dasar alam semesta, seperti empat unsur, empat musim, dan empat cairan tubuh.

Bagian I: Propaedeutika Matematis dan Harmoni Kosmis

Bagi Ikhwān al-Ṣafā’, matematika adalah gerbang pertama menuju filsafat karena ia melatih jiwa untuk beralih dari pengamatan konkret ke pemikiran abstrak. Mereka mengadopsi pandangan Pythagoras bahwa angka adalah esensi dari segala sesuatu dan bahwa harmoni angka mencerminkan tatanan ilahi di alam semesta.

Aritmatika, Geometri, dan Astronomi

Dalam risalah tentang aritmatika, mereka menjelaskan bahwa sebagaimana angka "satu" adalah asal-usul dari seluruh deret angka, Tuhan adalah asal-usul dari seluruh eksistensi. Pengetahuan tentang properti angka dianggap sebagai langkah awal untuk mengenal diri sendiri dan Sang Pencipta. Geometri, di sisi lain, membantu jiwa memahami dimensi ruang dan bentuk, sementara astronomi—yang didasarkan pada sistem Ptolemeus—digunakan untuk memahami gerak bola-bola langit sebagai manifestasi dari kehendak Tuhan. Mereka meyakini bahwa bintang-bintang adalah entitas spiritual atau malaikat yang mengatur urusan di dunia di bawah bulan (sublunary) melalui siklus dan konjungsi planet, seperti siklus Saturnus dan Jupiter yang menandai peristiwa besar dalam sejarah agama.

Musik dan Terapi Jiwa

Risalah tentang musik (Risalah ke-5) adalah salah satu bagian yang paling menonjol karena menekankan aspek spiritual dan terapeutik dari suara. Ikhwān berpendapat bahwa harmoni musik adalah pantulan dari harmoni kosmis. Mereka menjelaskan bagaimana melodi tertentu dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit fisik dan mental dengan cara menyeimbangkan empat cairan tubuh (humours) manusia.

Rasā’il Ikhwān al-Ṣafā’ wa Khullān al-Wafā’
Seorang tabib yang bijaksana, menurut Ikhwān, harus menggunakan musik sebagai instrumen medis untuk mengembalikan keseimbangan jiwa dan raga, menyesuaikan melodi dengan waktu hari atau kondisi emosional pasien. Musik dianggap mampu mengangkat jiwa ke keadaan transenden, memberikan sekilas pengalaman tentang kebahagiaan di alam surgawi.

Bagian II: Fisika, Biologi, dan Dinamika Alam

Bagian kedua berfokus pada ilmu-ilmu alam, mengeksplorasi bagaimana jiwa berinteraksi dengan materi di dunia material. Ikhwān al-Ṣafā’ menggunakan kerangka Aristotelian untuk menjelaskan konsep materi, bentuk, gerak, ruang, dan waktu, namun mereka memberikan sentuhan teologis pada setiap fenomena tersebut.

Mineralogi, Botani, dan Rantai Keberadaan

Ikhwān memandang alam sebagai sebuah tangga evolusi spiritual di mana setiap tingkatan merupakan persiapan bagi tingkatan berikutnya.
1. Mineral: Sebagai tingkat terendah, mineral memiliki bentuk tetapi tidak memiliki kehidupan aktif. Namun, pada titik tertingginya, mineral berbatasan dengan tumbuhan, contohnya adalah karang yang memiliki sifat seperti batu tetapi tumbuh seperti pohon.
2. Tumbuhan: Memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang biak. Ikhwān memberikan contoh pohon kurma sebagai puncak dari kerajaan tumbuhan karena ia memiliki perbedaan jenis kelamin (jantan dan betina), sebuah sifat yang lebih dekat dengan dunia hewan.
3. Hewan: Memiliki indra dan gerak sukarela. Puncak dari kerajaan hewan adalah manusia, yang merupakan satu-satunya makhluk di bumi yang memiliki potensi untuk menjadi malaikat melalui pengembangan inteleknya.

Kasus Hewan Melawan Manusia (Risalah 22)

Risalah ke-22 adalah bagian paling terkenal dan paling panjang dalam seluruh korpus, disajikan dalam bentuk fabel alegoris yang mendalam. Cerita ini dimulai dengan sekelompok manusia yang terdampar di sebuah pulau yang dihuni oleh hewan-hewan yang dapat berbicara. Manusia mencoba memperbudak hewan-hewan tersebut, yang kemudian memicu sebuah gugatan hukum di hadapan Raja Jin.

Debat ini sangat kaya akan argumen filosofis dan ekologis:

  • Argumen Manusia: Manusia mengklaim keunggulan berdasarkan anatomi mereka, kemampuan berbahasa, dan peran mereka sebagai pengelola bumi yang disebutkan dalam kitab suci.
  • Argumen Hewan: Hewan-hewan membantah dengan menyatakan bahwa manusia sering kali lebih kejam daripada predator paling buas sekalipun. Mereka berargumen bahwa Tuhan menciptakan bumi untuk semua makhluk, bukan hanya untuk kepentingan manusia semata, mengutip ayat-ayat Al-Qur'an untuk mendukung hak-hak mereka atas kehidupan dan kebebasan.
  • Keputusan Akhir: Meskipun hewan-hewan berhasil menunjukkan cacat moral manusia, keputusan akhirnya tetap memihak manusia. Namun, hal ini bukan karena manusia secara inheren lebih baik, melainkan karena dari spesies manusia lah lahir para nabi dan orang-orang suci yang mampu mencapai tingkat malaikat.

Fabel ini berfungsi sebagai kritik tajam terhadap antroposentrisme dan mengingatkan manusia akan tanggung jawab moral mereka terhadap makhluk hidup lainnya.

Bagian III: Psikologi dan Teori Makrokosmos-Mikrokosmos

Bagian ketiga mengeksplorasi hubungan mendalam antara manusia dan alam semesta melalui lensa psikologi dan metafisika. Konsep inti yang diajukan adalah bahwa manusia adalah "dunia kecil" (mikrokosmos) dan alam semesta adalah "manusia besar" (makrokosmos).

Analogi Mikrokosmos-Makrokosmos

Ikhwān al-Ṣafā’ menguraikan korespondensi yang sangat detail antara bagian-bagian tubuh manusia dan fenomena kosmik untuk menunjukkan kesatuan penciptaan.

Analogi Mikrokosmos-Makrokosmos
Melalui analogi ini, Ikhwān berargumen bahwa dengan mempelajari diri sendiri—baik secara fisiologis maupun psikologis—seseorang dapat memahami cara kerja seluruh alam semesta. Pengetahuan diri dianggap sebagai kunci utama untuk mengenal Tuhan.

Intelek dan Proses Epistemologis

Teori pengetahuan Ikhwān al-Ṣafā’ menggabungkan elemen Platonis dan Aristotelian. Mereka percaya bahwa jiwa manusia pada awalnya bersifat "potensial dalam pengetahuan" dan menjadi "aktual" melalui proses belajar. Mereka membagi sumber pengetahuan menjadi tiga:
1. Panca Indra: Untuk menangkap fenomena material yang berada dalam ruang dan waktu.
2. Rasio atau Akal: Untuk melakukan abstraksi dan berpikir logis tanpa bantuan indra.
3. Inisiasi dan Otoritas: Menerima pengetahuan esoteris dari seorang guru atau Imam yang memiliki silsilah pengetahuan hingga ke Nabi dan Tuhan.

Proses ini bertujuan untuk melepaskan jiwa dari penjara tubuh dan membimbingnya kembali ke "Jiwa Universal" (al-Nafs al-Kulliyyah) melalui cinta spiritual (‘ishq) terhadap keindahan dan kebenaran ilahi.

Bagian IV: Teologi, Kenabian, dan Ilmu-Ilmu Okultisme

Bagian terakhir dari ensiklopedia ini membahas masalah-masalah yang paling abstrak dan rahasia, termasuk hakikat hukum agama, kenabian, dan kekuatan spiritual yang bekerja di balik layar realitas material.

Doktrin Kenabian dan Syariat

Ikhwān al-Ṣafā’ memandang agama sebagai institusi yang diperlukan untuk menjaga ketertiban sosial dan membimbing jiwa-jiwa awam. Namun, mereka menekankan bahwa setiap hukum lahiriyah memiliki makna batiniah yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang telah mencapai tingkat kesucian tertentu. Mereka menyerukan "kerjasama antar agama" dengan mengklaim bahwa semua agama pada intinya mengajarkan kebenaran yang sama, meskipun diekspresikan melalui bahasa dan simbol yang berbeda-beda.

Okultisme, Sihir, dan Jimat

Kehadiran risalah tentang sihir dan astrologi (Risalah 51 dan 52) menunjukkan sifat komprehensif dari pencarian mereka akan pengetahuan. Bagi Ikhwān, sihir bukanlah sesuatu yang bersifat jahat, melainkan ilmu tentang bagaimana memanipulasi energi spiritual dari planet dan bintang untuk kepentingan penyembuhan atau perlindungan. Mereka memandang alam semesta sebagai sebuah organisme hidup yang saling terhubung secara telepatis dan magnetis, di mana tindakan manusia dapat memengaruhi tatanan kosmik jika dilakukan dengan pengetahuan yang benar.

Metafisika Pancaran: Sembilan Tingkat Realitas

Kosmologi Ikhwān al-Ṣafā’ didasarkan pada model emanasional yang menempatkan Tuhan sebagai sumber segala sesuatu tanpa membagi esensi-Nya. Mereka menjelaskan proses penciptaan sebagai pancaran cahaya yang semakin menjauh dari sumbernya menjadi semakin material dan terbatas.

Rasā’il Ikhwān al-Ṣafā’ wa Khullān al-Wafā’
Skema sembilan tingkat ini mencerminkan struktur hierarkis dunia di mana manusia berada di posisi yang unik: ia memiliki tubuh yang terbuat dari unsur-unsur (tingkat 8) namun memiliki potensi intelektual yang terhubung kembali ke Intelek Universal (tingkat 2).

Organisasi Persaudaraan: Hierarki dan Inisiasi

Ikhwān al-Ṣafā’ bukan hanya sebuah kelompok penulis, melainkan sebuah masyarakat rahasia dengan struktur organisasi yang sangat teratur. Keanggotaan mereka dibagi menjadi empat tingkatan berdasarkan usia, kemurnian jiwa, dan tingkat pengetahuan yang telah dicapai.

Empat Tingkatan Keanggotaan

1. Tingkat Pertama (al-Abrār wa al-Ruḥamā’): Anggota berusia 15 hingga 30 tahun. Fokus utama mereka adalah ketaatan mutlak kepada guru dan penguasaan ilmu-ilmu dasar atau propaedeutika. Mereka dianggap sebagai fase tunas dalam perkembangan spiritual.
2. Tingkat Kedua (al-Akhyār wa al-Fuḍalā’): Anggota berusia 30 hingga 40 tahun. Pada tahap ini, anggota mulai diperkenalkan dengan kebijaksanaan filosofis sekuler dan pengamatan mendalam terhadap fenomena alam secara rasional.
3. Tingkat Ketiga (al-Fuḍalā’ al-Kirām): Anggota berusia 40 hingga 50 tahun. Mereka diajarkan tentang hukum-hukum ilahi dan esoterisme agama. Pada tahap ini, mereka diharapkan memiliki wawasan tentang bagaimana Tuhan mengatur alam semesta melalui perantara spiritual.
4. Tingkat Keempat: Anggota berusia di atas 50 tahun. Ini adalah tingkat tertinggi di mana seorang anggota dianggap telah mencapai "pencerahan langsung" atau ma‘rifah. Mereka dipandang sebagai manusia yang telah mencapai potensi malaikat dan memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan realitas metafisika secara intuitif.

Persaudaraan ini sangat menekankan nilai persahabatan (khullān) dan gotong royong, di mana setiap anggota memandang saudaranya sebagai refleksi dari dirinya sendiri. Mereka mengadakan pertemuan rutin yang bersifat rahasia, biasanya tiga malam dalam sebulan, untuk mendiskusikan berbagai masalah sains, filsafat, dan teologi.

Kesimpulan: Warisan Intelektual dan Relevansi Abadi

Rasā’il Ikhwān al-Ṣafā’ merupakan sebuah monumen bagi keterbukaan intelektual Islam klasik. Dengan merangkul pengetahuan dari berbagai peradaban dan menyatukannya dalam kerangka spiritual yang koheren, Ikhwān al-Ṣafā’ berhasil menciptakan sebuah "Kapal Keselamatan" bagi mereka yang mencari kebenaran di luar batas-batas dogma sempit. Pengaruh karya ini sangat luas, mulai dari perkembangan sains di Andalusia hingga pemikiran mistis para sufi besar seperti al-Ghazālī dan Ibn 'Arabī.

Secara keseluruhan, isi dari Rasā’il mengajarkan bahwa alam semesta adalah sebuah entitas yang harmonis dan teratur, di mana setiap bagian saling berhubungan dalam sebuah simfoni agung penciptaan. Melalui penguasaan matematika, pemahaman terhadap alam fisik, penyucian jiwa melalui psikologi, dan akhirnya penyingkapan misteri teologis, manusia dapat mencapai tujuan tertingginya: kembali bersatu dengan Sang Pencipta dalam keadaan suci dan tercerahkan. Warisan mereka tetap relevan sebagai contoh awal dari upaya manusia untuk mendamaikan sains, filsafat, dan agama dalam satu visi dunia yang terpadu.

Sitasi:

Al-Islam.org. (n.d.). Chapter 15: Ikhwan al-Safa | A history of Muslim philosophy volume 1, book 3. Retrieved February 3, 2026, from https://al-islam.org/history-muslim-philosophy-volume-1-book-3/chapter-15-ikhwan-al-safa

Al-Islam.org. (n.d.). The Safa brotherhood | The role of Islamic scientists in the advancement of science. Retrieved February 3, 2026, from https://al-islam.org/role-islamic-scientists-advancement-science-muhammad-mofatteh/safa-brotherhood

Archive.org. (n.d.). An Arabic critical edition and English translation of Epistle 52a. Retrieved February 3, 2026, from https://archive.org/download/on-magic/On%20Magic-%20EPISTLES%20OF%20THE%20BRETHREN%20OF%20PURITY.pdf

Archive.org. (n.d.). Microcosm macrocosm analogy in Rasāʾil Ikhwān al-Ṣafāʾ and certain related texts. Retrieved February 3, 2026, from https://archive.org/stream/MICROCOSMMACROCOSMANALOGYINRASILIKHWNAAFANDCERTAINRELATEDTEXTS/MICROCOSM-%20MACROCOSM%20ANALOGY%20IN%20RAS%C4%80%20%CA%BE%20IL%20IKHW%C4%80N%20A%E1%B9%A2-%20%E1%B9%A2AF%C4%80%20%CA%BE%20AND%20CERTAIN%20RELATED%20TEXTS_djvu.txt

Britannica. (n.d.). Ikhwān aṣ-Ṣafāʾ | Muslim brotherhood, Islamic enlightenment. Retrieved February 3, 2026, from https://www.britannica.com/topic/Ikhwan-as-Safa

Encyclopaedia Iranica. (n.d.). EḴWĀN AL-ṢAFĀʾ. Retrieved February 3, 2026, from https://www.iranicaonline.org/articles/ekwan-al-safa/

Encyclopaedia Iranica. (n.d.). Microcosm and macrocosm. Retrieved February 3, 2026, from https://www.iranicaonline.org/articles/microcosm-and-macrocosm/

Fatemidawat. (2014). The philosophy of life in the Rasail Ikhwan al Safa: Ishq & love. Retrieved February 3, 2026, from https://fatemidawat.files.wordpress.com/2014/08/ikhwanus-safa-rasail-ishq.pdf

Goodreads. (n.d.). The case of the animals versus man before the king of the jinn: An English translation of Epistle 22. Retrieved February 3, 2026, from https://www.goodreads.com/book/show/14828519-the-case-of-the-animals-versus-man-before-the-king-of-the-jinn

Ikhwān al-Ṣafāʾ. (2010–). Rasā’il Ikhwān al-Ṣafāʾ wa khullān al-wafāʾ (N. El-Bizri & T. Khalidi, Eds.). Oxford University Press in association with the Institute of Ismaili Studies.

Internet Encyclopedia of Philosophy. (n.d.). Ikhwan al-Safa’. Retrieved February 3, 2026, from https://iep.utm.edu/ikhwan-al-safa/

Isamveri.org. (2011). [Conference paper]. Retrieved February 3, 2026, from https://isamveri.org/pdfdrg/D202458/2011/2011_SHAHJOUEIM.pdf

Ismaili.NET. (n.d.). The Rasail Ikhwan as-Safa. Retrieved February 3, 2026, from https://www.ismaili.net/histoire/history04/history428.html

Muslim Heritage. (n.d.). Ikhwan al-Safa’, brothers of purity. Retrieved February 3, 2026, from https://muslimheritage.com/people/scholars/ikhwan-al-safa-brothers-purity/

Muslim Philosophy Online. (n.d.). Ikhwan al-Safa’. Retrieved February 3, 2026, from http://www.muslimphilosophy.com/ip/rep/H051

Nimirasblog. (2019). The Ikhwan al-Safa was an intellectual catalyst in the development of the history of ideas. Retrieved February 3, 2026, from https://nimirasblog.wordpress.com/2019/07/30/the-ikhwan-al-safa-was-an-intellectual-catalyst-in-the-development-of-the-history-of-ideas-2/

Nimirasblog. (2024). Ikhwan al-Safa, a tenth century scholarly brotherhood, prescribed music therapy for good health. Retrieved February 3, 2026, from https://nimirasblog.wordpress.com/2024/10/04/ikhwan-al-safa-a-tenth-century-scholarly-brotherhood-prescribed-music-therapy-for-good-health/

Philosophy Documentation Center. (2019). The Ikhwan al-Safa’s animal accusers: An Islamic debate on animal slavery. Retrieved February 3, 2026, from https://www.pdcnet.org/envirophil/content/envirophil_2019_0016_0002_0319_0338

Renaissance Astrology. (n.d.). Ikhwan al-Safa: Astrology and magic. Retrieved February 3, 2026, from https://www.renaissanceastrology.com/ikhwanalsafaastrology.html

Stanford Encyclopedia of Philosophy. (n.d.). Ikhwān al-Ṣafāʾ. Retrieved February 3, 2026, from https://plato.stanford.edu/entries/ikhwan-al-safa/

The Institute of Ismaili Studies. (n.d.). Brethren of purity. Retrieved February 3, 2026, from https://www.iis.ac.uk/scholarly-contributions/brethren-of-purity/

The Institute of Ismaili Studies. (n.d.). The case of the animals versus man before the king of the jinn. Retrieved February 3, 2026, from https://www.iis.ac.uk/publications-listing/the-case-of-the-animals-versus-man-before-the-king-of-the-jinn/

The Institute of Ismaili Studies. (n.d.). The Ikhwān al-Ṣafāʾ and their Rasāʾil: An introduction. Retrieved February 3, 2026, from https://www.iis.ac.uk/publications-listing/the-ikhwan-al-%E1%B9%A3afa%CA%BE-and-their-rasa%CA%BEil/

UiO Journals. (n.d.). The Ikhwān al-Ṣafāʾ on animals: A focus on the non-narrative part of Epistle 22. Retrieved February 3, 2026, from https://journals.uio.no/JAIS/article/download/9879/8264

UM eJournal. (n.d.). The classical Islamic concept of man as a “small world”. Retrieved February 3, 2026, from https://ejournal.um.edu.my/index.php/afkar/article/download/6010/3724/13203

Wikipedia. (n.d.). Brethren of purity. Retrieved February 3, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/Brethren_of_Purity

Wikipedia. (n.d.). Encyclopedia of the brethren of purity. Retrieved February 3, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/Encyclopedia_of_the_Brethren_of_Purity

Wikipedia. (n.d.). List of rasa’il in the Encyclopedia of the Brethren of Purity. Retrieved February 3, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_rasa%27il_in_the_Encyclopedia_of_the_Brethren_of_Purity

Wikipedia. (n.d.). The case of the animals versus man. Retrieved February 3, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/The_Case_of_the_Animals_versus_Man

AAR Papers. (n.d.). The case of the animals versus man: A medieval critique of anthropocentrism. Retrieved February 3, 2026, from https://papers.aarweb.org/attached-paper/107156-case-animals-versus-man-medieval-critique-anthropocentrism

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment