Dinamika Intelektual dan Konstruksi Etika dalam Tahdhīb al-Akhlāq wa Taṭhīr al-A‘rāq: Analisis Komprehensif

Table of Contents

buku Tahdhīb al-Akhlāq wa Taṭhīr al-A‘rāq karya ibnu miskawayh
Karya monumental Abu ‘Ali Ahmad bin Muhammad bin Ya‘qub Miskawayh, yang lebih dikenal dengan judul Tahdhīb al-Akhlāq wa Taṭhīr al-A‘rāq, merepresentasikan puncak dari sintesis intelektual antara filsafat Helenistik dan nilai-nilai moralitas Islam pada abad ke-10 dan ke-11 Masehi. Ditulis pada masa keemasan Dinasti Buwayhid di Baghdad, teks ini tidak hanya berfungsi sebagai risalah etika sistematis pertama dalam tradisi Islam, tetapi juga sebagai panduan praktis bagi para pencari kebijaksanaan yang ingin menyelaraskan kehidupan rasional mereka dengan tuntutan spiritualitas. 

Miskawayh, seorang polimatik yang menjabat sebagai pustakawan dan pejabat istana, memanfaatkan akses luasnya terhadap naskah-naskah kuno untuk merumuskan sebuah teori tentang jiwa dan karakter yang tetap relevan hingga milenium berikutnya. Penekanan utama karya ini terletak pada "tahdhīb" atau penyempurnaan akhlak dan "taṭhīr" atau pembersihan akar watak, sebuah terminologi yang menyiratkan bahwa karakter manusia bukanlah entitas statis, melainkan sebuah disposisi yang dapat dibentuk melalui pendidikan, kebiasaan, dan disiplin rasional yang ketat.

Latar Belakang Sosio-Intelektual dan Signifikansi Historis

Munculnya Tahdhīb al-Akhlāq terjadi dalam konteks di mana dunia Islam sedang mengalami proses asimilasi besar-besaran terhadap ilmu-ilmu Yunani, Persia, dan India. Miskawayh hidup di lingkungan intelektual yang sangat dinamis, berinteraksi dengan pemikir besar seperti Abu Hayyan al-Tawhidi dan al-Sijistani. Sebagai seorang sejarawan yang juga menulis Tajarib al-Umam, Miskawayh memiliki pemahaman yang mendalam tentang bagaimana karakter pemimpin dan masyarakat membentuk jatuh bangunnya sebuah peradaban. Hal ini memberikan dimensi praktis dan historis pada pemikiran etikanya; baginya, etika bukanlah sekadar latihan intelektual yang abstrak, melainkan fondasi bagi stabilitas politik dan kebahagiaan sosial.

buku Tahdhīb al-Akhlāq wa Taṭhīr al-A‘rāq karya ibnu miskawayh
Secara metodologis, Miskawayh mengadopsi pendekatan humanistik yang menempatkan rasio sebagai alat utama untuk menginterpretasikan prinsip-prinsip Syariat. Ia berargumen bahwa hukum agama dan hukum akal sebenarnya merujuk pada kebenaran yang sama, namun filsafat memberikan kerangka analitis yang memungkinkan individu untuk memahami mengapa suatu perbuatan dianggap baik atau buruk. Inilah yang membuat karyanya disebut sebagai etika filosofis (ilm al-akhlaq), yang membedakannya dari literatur adab atau makarim al-akhlaq yang lebih bersifat dogmatis atau puitis.

Struktur Epistemologis: Enam Wacana Utama

Kitab Tahdhīb al-Akhlāq disusun secara logis dalam enam hingga tujuh wacana (maqalāt) yang bergerak dari teori metafisika jiwa menuju aplikasi klinis kesehatan mental. Struktur ini mencerminkan keyakinan Miskawayh bahwa seseorang tidak dapat memperbaiki akhlaknya tanpa terlebih dahulu memahami hakikat subjek yang akan diperbaiki, yaitu jiwa manusia itu sendiri.

Diskursus pertama difokuskan pada prinsip-prinsip etika dan metafisika jiwa, di mana Miskawayh berusaha membuktikan bahwa jiwa adalah substansi yang tak berjasad dan abadi. Diskursus kedua membahas hakikat karakter (khuluq) dan kemungkinan perubahannya melalui pendidikan. Diskursus ketiga mengeksplorasi konsep kebaikan dan kebahagiaan, membedakan antara kenikmatan sementara dan kebahagiaan hakiki. Diskursus keempat didedikasikan sepenuhnya untuk keadilan, baik dalam skala individu maupun sosial. Diskursus kelima membahas dinamika cinta dan persahabatan sebagai perekat sosial. Akhirnya, diskursus keenam dan ketujuh berfungsi sebagai bagian terapi, membahas cara menjaga kesehatan jiwa dan mengobati berbagai penyakit moral.

Teori Jiwa: Landasan Psikologis Moralitas

Bagi Miskawayh, jiwa (nafs) adalah pusat dari seluruh aktivitas moral. Ia menolak pandangan materialis yang menganggap jiwa sebagai produk sampingan atau kecelakaan dari tubuh. Sebaliknya, jiwa adalah substansi sederhana yang tidak dapat diindra, yang berasal dari alam yang lebih tinggi dan menggunakan tubuh sebagai instrumen untuk berinteraksi dengan dunia materi. Pemahaman ini krusial karena tujuan akhir dari etika adalah memungkinkan jiwa untuk kembali ke asalnya yang suci dengan melepaskan diri dari belenggu keinginan fisik yang berlebihan.

Miskawayh mengadopsi trikotomi jiwa dari tradisi Platonis, namun memberikan interpretasi yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Ia membagi daya jiwa menjadi tiga fakultas utama yang masing-masing memiliki fungsi dan lokasi anatomi tertentu:
1. Al-Quwwah al-Nātiqah (Fakultas Rasional). Terletak di otak, daya ini bertanggung jawab atas pemikiran, diskriminasi antara yang benar dan salah, serta pencarian pengetahuan sejati. Ini adalah unsur ketuhanan dalam diri manusia yang harus memimpin fakultas lainnya.
2. Al-Quwwah al-Ghadhabiyyah (Fakultas Irasibel). Terletak di jantung, daya ini berkaitan dengan keberanian, kemarahan, keinginan untuk berkuasa, dan pertahanan diri. Jika dikendalikan oleh akal, ia menjadi sumber keberanian; jika tidak, ia menjadi sumber kebuasan.
3. Al-Quwwah al-Syahwaniyyah (Fakultas Konkupisibel). Terletak di hati atau liver, daya ini berkaitan dengan kebutuhan biologis seperti makan, minum, dan reproduksi. Ini adalah daya terendah yang seringkali menarik manusia ke derajat binatang jika tidak dijaga oleh disiplin moral.

Keseimbangan antara ketiga daya ini bukan berarti menghilangkan daya amarah atau nafsu, melainkan menempatkan mereka di bawah komando fakultas rasional. Miskawayh berargumen bahwa manusia yang sempurna adalah mereka yang mampu mengharmonisasikan tuntutan ketiga daya ini sehingga masing-masing menjalankan fungsinya secara proporsional.

Ontologi Karakter: Dinamika Antara Fitrah dan Iktisab

Pertanyaan mendasar dalam etika Miskawayh adalah apakah karakter (khuluq) dapat diubah. Ia mendefinisikan khuluq sebagai suatu keadaan jiwa yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan tanpa pertimbangan rasional yang panjang. Ia mengakui adanya karakter yang bersifat alamiah (fitrah), di mana seseorang mungkin dilahirkan dengan kecenderungan temperamental tertentu. Namun, kontribusi besar Miskawayh adalah penegasannya bahwa karakter dapat diubah melalui latihan (riyāḍah) dan pembiasaan (iktisab).

Miskawayh menolak pandangan deterministik yang menyatakan bahwa orang jahat akan selamanya jahat. Baginya, setiap manusia dilahirkan dalam keadaan yang mampu menerima pendidikan moral. Melalui nasihat yang berulang-ulang, disiplin diri, dan lingkungan yang baik, disposisi jiwa seseorang dapat dibentuk kembali. Inilah inti dari "taṭhīr al-a‘rāq"—pembersihan akar atau benih karakter yang terdistorsi. Proses ini dimulai dari tindakan yang dilakukan dengan sengaja dan penuh pemikiran, yang kemudian melalui pengulangan, menjadi karakter yang menetap dan spontan.

Doktrin Jalan Tengah (Al-Wasath) dan Klasifikasi Kebajikan

Mengikuti tradisi Aristotelian, Miskawayh merumuskan kebajikan sebagai titik tengah (al-wasath) antara dua ekstrem yang merusak: kelebihan (ifrāth) dan kekurangan (tafrīth). Setiap fakultas jiwa memiliki satu kebajikan utama yang muncul ketika fakultas tersebut berfungsi pada titik moderasi yang tepat.

buku Tahdhīb al-Akhlāq wa Taṭhīr al-A‘rāq karya ibnu miskawayh
Kebajikan tertinggi, yaitu keadilan (‘adalah), bukan sekadar satu bagian dari kebajikan, melainkan harmoni total dari seluruh jiwa. Seseorang tidak dapat disebut adil jika ia tidak bijaksana, berani, dan mampu mengendalikan nafsunya. Keadilan menciptakan keseimbangan internal yang memungkinkan individu untuk berinteraksi secara sehat dengan dunia luar.

Taksonomi Sub-Kebajikan: Detail dan Penjelasan

Miskawayh tidak berhenti pada empat kebajikan kardinal, melainkan merinci berbagai sub-kebajikan yang merupakan turunan atau aplikasi praktis dari kebajikan utama tersebut. Rincian ini memberikan gambaran yang sangat spesifik tentang perilaku ideal seorang Muslim yang berkarakter filosofis.

Kebajikan Hikmah (Kebijaksanaan)

Hikmah muncul ketika daya rasional berfungsi secara optimal dalam mencari kebenaran. Sub-kebajikannya mencakup aspek intelektual dan kognitif yang mendukung moralitas.

  • Al-Dhakā’ (Kecerdasan). Kemampuan jiwa untuk berpindah dari apa yang diketahui menuju apa yang tidak diketahui secara cepat dan akurat.
  • Al-Dhikr (Daya Ingat). Kemampuan untuk menyimpan konsep-konsep yang telah dipelajari agar tetap tersedia saat dibutuhkan.
  • Al-Ta‘aqqul (Inteleksi). Kapasitas untuk memahami esensi segala sesuatu dan membedakannya dari aksiden.
  • Sūr‘at al-Fahm (Kecepatan Pemahaman). Ketajaman intuisi dalam menangkap makna tanpa proses yang berbelit-belit.
  • Safā’ al-Dhihn (Kejernihan Pikiran). Kondisi jiwa yang bebas dari prasangka dan kebingungan dalam menilai suatu perkara.
  • Suhūlat al-ta‘allum (Kemudahan Belajar). Kesiapan jiwa untuk menyerap pengetahuan baru tanpa hambatan internal.

Kebajikan Syaja‘ah (Keberanian)

Syaja‘ah muncul ketika daya amarah tunduk pada perintah akal. Ini bukan sekadar keberanian fisik di medan perang, melainkan kekuatan mental untuk mempertahankan prinsip.

  • Kibr al-nafs (Kebesaran Jiwa). Memiliki standar moral yang tinggi sehingga enggan merendahkan diri dalam perbuatan hina.
  • Al-Najda (Keteguhan). Keberanian dalam menghadapi situasi berbahaya dengan kepala dingin dan perhitungan yang matang.
  • ‘Azm al-himma (Tekad Kuat). Fokus yang tidak tergoyahkan dalam mengejar tujuan mulia meskipun menghadapi rintangan besar.
  • Al-Sabr (Kesabaran). Kemampuan menahan diri dari keluhan saat menghadapi kesulitan fisik atau mental.
  • Al-Hilm (Santun/Pemaaf). Kekuatan untuk tidak membalas dendam saat memiliki kesempatan untuk melakukannya, demi menjaga harmoni.
  • Al-Sukūn (Ketenangan). Ketenteraman batin yang mencegah seseorang bertindak impulsif di bawah tekanan emosi.

Kebajikan ‘Iffah (Kesucian Diri)

‘Iffah muncul ketika daya nafsu dikelola secara moderat. Ini berkaitan erat dengan pengendalian keinginan terhadap makanan, harta, dan kenikmatan biologis lainnya.

  • Al-Hayā’ (Rasa Malu). Kesadaran internal yang mencegah seseorang melakukan perbuatan yang melanggar norma sosial dan agama.
  • Al-Dī‘a (Kewibawaan). Penampilan dan perilaku yang mencerminkan pengendalian diri dan ketenangan.
  • Al-Sakhā’ (Kedermawanan). Sikap moderat dalam penggunaan harta; tidak kikir namun juga tidak boros.
  • Al-Hurriyya (Kemerdekaan Batin). Keadaan di mana seseorang tidak diperbudak oleh keinginan materinya.
  • Al-Qanā‘a (Merasa Cukup). Kepuasan terhadap apa yang dimiliki sehingga terhindar dari sifat rakus.
  • Al-Wara‘ (God-consciousness). Ketelitian dalam menjaga diri dari hal-hal yang syubhat atau tidak jelas halalnya.

Kebajikan ‘Adalah (Keadilan)

Keadilan adalah hasil dari harmoni ketiga kebajikan sebelumnya. Dalam konteks sosial, ia memanifestasikan dirinya dalam berbagai bentuk interaksi yang seimbang.

  • Al-Sadāqa (Persahabatan Tulus). Hubungan yang didasarkan pada kesamaan kebajikan, bukan sekadar kepentingan.
  • Al-Ulfa (Keakraban). Kemampuan untuk hidup rukun dan harmoni dengan berbagai lapisan masyarakat.
  • Wafā’ (Kesetiaan). Keteguhan dalam memegang janji dan komitmen sosial.
  • Al-Mukāfa’a (Timbal Balik). Kesadaran untuk membalas kebaikan orang lain secara proporsional.
  • Husn al-syarika (Kemitraan yang Baik). Integritas dalam menjalankan urusan bersama atau bisnis.
  • Silat al-rahm (Menyambung Silaturahmi). Menjaga hubungan baik dengan kerabat sebagai basis stabilitas sosial.

Teori Keadilan: Dimensi Sosial dan Material

Miskawayh memberikan perhatian khusus pada keadilan karena perannya sebagai penyeimbang tatanan dunia. Ia membagi keadilan menjadi dua kategori besar yang dipengaruhi oleh Aristoteles, namun diintegrasikan dengan hukum Islam.

Keadilan distributif berfokus pada pembagian sumber daya publik seperti kehormatan, uang, dan layanan. Prinsipnya adalah "memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya" berdasarkan kontribusi dan kelayakan mereka. Ini menggunakan proporsi geometris, di mana rasio antara jasa dan penghargaan harus setara bagi setiap individu.

Keadilan rektifikatori atau komutatif berfokus pada pemulihan keseimbangan setelah terjadinya transaksi yang tidak adil atau kerugian. Dalam perdagangan, ini berarti pertukaran nilai yang setara. Dalam hukum pidana, ini berarti hukuman yang setimpal dengan pelanggaran yang dilakukan. Miskawayh menggunakan analogi garis yang dibagi secara tidak sama: tugas hakim adalah mengambil "kelebihan" dari satu pihak dan menambahkannya ke "kekurangan" pihak lain untuk mencapai titik tengah atau kesamaan.

buku Tahdhīb al-Akhlāq wa Taṭhīr al-A‘rāq karya ibnu miskawayh
Miskawayh juga menekankan peran uang sebagai mediator dalam keadilan komutatif. Karena tidak mungkin menukar satu rumah dengan satu pasang sepatu secara langsung, uang berfungsi sebagai alat ukur universal yang menyamakan nilai dari barang-barang yang berbeda tersebut.

Kebahagiaan (As-Sa‘ādah): Tujuan Akhir Kehidupan Moral

Miskawayh membedakan secara tegas antara kebaikan (al-khair) dan kebahagiaan (as-sa‘ādah). Kebaikan adalah tujuan universal yang dikejar oleh segala sesuatu, sementara kebahagiaan adalah pencapaian kebaikan tersebut oleh individu manusia sesuai dengan kapasitas spesifiknya, yaitu akal.

Kebahagiaan memiliki tingkatan. Tingkatan terendah adalah kebahagiaan jasmani yang berkaitan dengan kesehatan, kekayaan, dan pemenuhan nafsu. Meskipun perlu untuk kelangsungan hidup, kebahagiaan ini tidak sempurna karena bersifat fana dan seringkali diikuti oleh penyesalan atau rasa sakit. Tingkatan tertinggi adalah kebahagiaan intelektual dan spiritual, di mana jiwa mampu merenungkan kebenaran abadi dan menyatu dengan kehendak Ilahi. Ini adalah kebahagiaan yang tidak bergantung pada faktor eksternal dan memberikan ketenangan yang menetap.

Bagi Miskawayh, kebahagiaan sejati tidak dapat dicapai melalui isolasi diri (uzlah). Manusia adalah makhluk sosial (madaniyyun bi al-thab‘i), dan kesempurnaannya hanya dapat diraih melalui interaksi dengan sesamanya. Kedermawanan tidak bisa dipraktikkan sendirian di gunung; keberanian tidak bisa diuji tanpa tantangan sosial. Oleh karena itu, masyarakat dan negara adalah sarana yang niscaya untuk mencapai kebahagiaan moral.

Etika Sosial: Cinta, Persahabatan, dan Persaudaraan

Persahabatan (shadaqah) dan cinta (mahabbah) menempati posisi sentral dalam sistem etika Miskawayh. Ia membagi motif cinta menjadi tiga: kenikmatan, manfaat, dan kebaikan. Cinta yang didasarkan pada kenikmatan dan manfaat bersifat rapuh dan akan berakhir segera setelah motif tersebut hilang. Namun, cinta yang didasarkan pada kebaikan—di mana dua individu mencintai satu sama lain karena kesamaan karakter mulia dan tujuan intelektual—adalah cinta yang abadi dan merupakan puncak dari hubungan manusia.

Miskawayh berargumen bahwa cinta adalah perekat yang menyatukan masyarakat lebih kuat daripada sekadar hukum formal. Dalam masyarakat yang ideal, setiap individu harus memandang sesamanya sebagai bagian dari tubuh yang sama. Wawasan sosiologis ini menunjukkan bahwa etika Miskawayh bukan sekadar pengembangan diri yang egois, melainkan upaya untuk membangun komunitas yang harmonis berlandaskan kasih sayang dan keadilan.

Kedokteran Jiwa: Diagnosis dan Terapi Penyakit Moral

Sebagai seorang tabib (dokter), Miskawayh menerapkan pendekatan klinis dalam menangani cacat moral. Ia menganggap maksiat dan karakter buruk sebagai "penyakit jiwa" yang harus didiagnosis penyebabnya sebelum diberikan terapi yang tepat. Kesehatan jiwa didefinisikan sebagai kondisi di mana daya-daya jiwa berada dalam harmoni dan menjalankan fungsinya di bawah kendali akal.

Penyakit jiwa muncul ketika salah satu daya jiwa melampaui batasnya atau gagal menjalankan fungsinya. Miskawayh membahas beberapa penyakit utama secara mendalam:

Kemarahan dan Pengendaliannya

Kemarahan (ghadhab) dipandang sebagai gejolak jiwa yang sangat merusak, yang seringkali menyebabkan hilangnya akal sehat secara sementara. Miskawayh mengidentifikasi penyebab kemarahan seperti kesombongan, rasa bangga yang berlebihan, olok-olok, dan ketidakadilan.

Terapi untuk kemarahan melibatkan pendekatan kognitif dan perilaku. Secara kognitif, seseorang harus merenungkan akibat buruk dari kemarahan dan menyadari bahwa banyak pemicu marah sebenarnya adalah hal-hal yang sepele dan tidak layak merusak ketenangan jiwa. Secara perilaku, Miskawayh menyarankan untuk mengubah posisi fisik—duduk jika sedang berdiri, atau diam ketika ingin berbicara—untuk memberikan waktu bagi akal guna mengambil kembali kendali. Ia juga menekankan pentingnya sifat hilm (santun) sebagai penawar kemarahan.

Ketakutan akan Kematian

Miskawayh memberikan analisis filosofis yang tajam mengenai rasa takut akan kematian. Ia berargumen bahwa ketakutan ini biasanya bersumber dari ketidaktahuan tentang hakikat jiwa atau keterikatan yang berlebihan pada dunia materi.

Obat untuk ketakutan ini adalah pengetahuan sejati. Seseorang harus memahami bahwa jiwa adalah substansi yang tidak dapat hancur bersama hancurnya tubuh. Kematian hanyalah transisi dari kondisi yang sempit menuju kebebasan intelektual yang lebih luas. Jika ketakutan bersumber dari dosa, maka terapinya adalah tobat dan perbaikan amal. Miskawayh menegaskan bahwa bagi orang yang bijaksana, kematian bukanlah akhir, melainkan puncak dari perjalanan menuju keabadian.

Kesedihan dan Keputusasaan

Kesedihan (huzn) didefinisikan sebagai penderitaan mental akibat kehilangan sesuatu yang dicintai atau kegagalan meraih ambisi materi. Miskawayh mendiagnosis bahwa kesedihan berakar pada pandangan yang salah tentang dunia; seseorang mengharapkan keabadian pada hal-hal yang secara alamiah bersifat fana.

Terapinya adalah restrukturisasi kognitif: menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah pinjaman dan perubahan adalah hukum alam. Seseorang harus melatih diri untuk tidak terlalu terpaku pada kenikmatan luar dan mencari kebahagiaan dalam kekayaan batin dan kedekatan dengan Tuhan. Ia juga menyarankan interaksi dengan teman yang baik sebagai dukungan emosional untuk mengatasi depresi dan kesedihan.

Pedagogi Karakter: Pendidikan Sejak Dini

Miskawayh adalah salah satu pemikir Muslim pertama yang merumuskan teori pendidikan karakter anak secara sistematis. Ia menekankan bahwa masa kanak-kanak adalah masa di mana jiwa masih bersifat plastis dan mudah dibentuk. Jika diabaikan, benih karakter buruk akan mengakar dan sulit dihilangkan di masa dewasa.

Ia mengidentifikasi munculnya rasa malu (hayā’) pada anak sebagai tanda pertama dari berfungsinya intelek. Rasa malu menunjukkan bahwa anak mulai peduli pada penilaian orang lain dan memiliki keinginan untuk terlihat baik. Guru dan orang tua harus memanfaatkan momentum ini untuk menanamkan nilai-nilai luhur.

Metode pendidikan yang disarankan meliputi:

  • Pemberian Keteladanan. Anak-anak lebih banyak belajar melalui pengamatan daripada instruksi verbal. Orang tua dan guru harus menjadi model kebajikan yang nyata.
  • Pembiasaan dan Disiplin. Melalui pengulangan ritual agama (seperti shalat dan puasa) dan tata krama sosial, perilaku baik akan menjadi otomatis.
  • Pengaturan Pola Makan. Miskawayh berargumen bahwa pendidikan nafsu dimulai dari kontrol terhadap makanan dan minuman. Anak yang dibiasakan makan secukupnya dan tidak rakus akan lebih mudah mengendalikan keinginan lainnya saat dewasa.
  • Sanjungan dan Teguran. Perbuatan baik harus diapresiasi dengan pujian di depan umum untuk membangun harga diri positif. Kesalahan harus ditegur secara halus secara privat, dan hukuman fisik hanya boleh menjadi pilihan terakhir jika semua metode persuasif gagal.

Kode Etik Pribadi: 15 Wasiat (Wasiyyah) Miskawayh

Dalam biografi dan karya-karyanya, disebutkan bahwa Miskawayh menerapkan kode etik yang ketat pada dirinya sendiri untuk mencapai transformasi moral. Kode ini dikenal sebagai Wasiyyah atau wasiat perilaku yang mencakup dimensi intelektual, emosional, dan sosial.

buku Tahdhīb al-Akhlāq wa Taṭhīr al-A‘rāq karya ibnu miskawayh
Wasiat-wasiat ini menunjukkan bahwa Miskawayh adalah seorang praktisi etika yang percaya bahwa filosofi harus mewujud dalam tindakan nyata. Ia sendiri mengakui bahwa proses transformasi karakternya dari masa muda yang mungkin kurang disiplin menuju kematangan moral adalah hasil dari penerapan prinsip-prinsip ini secara konsisten.

Perbandingan dan Pengaruh: Miskawayh dan Al-Ghazali

Karya Miskawayh menjadi fondasi bagi perkembangan etika Islam selanjutnya, yang paling terkenal adalah pengaruhnya terhadap Imam al-Ghazali. Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, khususnya pada bab Riyāḍat al-Nafs, al-Ghazali mengadopsi struktur kebajikan kardinal, trikotomi jiwa, dan teori jalan tengah dari Miskawayh.

Namun, terdapat perbedaan mendasar dalam penekanan mereka. Miskawayh lebih bercorak rasional-filosofis, di mana ia memandang etika sebagai pencapaian kesempurnaan manusia melalui akal yang selaras dengan syariat. Pendidik ideal bagi Miskawayh adalah seorang filosof yang memahami logika dan hukum alam. Di sisi lain, al-Ghazali memberikan nuansa sufistik yang lebih kental, menekankan pada penyucian hati (tazkiyat al-nafs) dari penyakit-penyakit batin melalui bimbingan seorang guru spiritual (mursyid). Bagi al-Ghazali, tujuan etika bukan sekadar kesempurnaan rasional, melainkan kedekatan mistis (makrifat) kepada Allah.

Meskipun demikian, al-Ghazali tetap mengakui keabsahan analisis psikologis Miskawayh. Hal ini membuktikan bahwa Tahdhīb al-Akhlāq berhasil merumuskan aspek-aspek universal dari karakter manusia yang dapat diterima baik oleh jalur filosofis maupun jalur sufistik dalam Islam.

Kesimpulan: Warisan Abadi Etika Miskawayh

Tahdhīb al-Akhlāq wa Taṭhīr al-A‘rāq tetap menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran Islam karena kemampuannya menyatukan ketajaman logika Yunani dengan kedalaman spiritual Islam. Miskawayh berhasil menunjukkan bahwa moralitas bukanlah sekadar tumpukan aturan tradisional, melainkan sebuah disiplin ilmu yang berakar pada pemahaman tentang hakikat manusia. Dengan mendefinisikan kebajikan sebagai titik tengah dan kebahagiaan sebagai aktualisasi intelek, ia memberikan peta jalan bagi individu untuk mencapai martabat kemanusiaan yang tertinggi.

Karya ini juga menegaskan pentingnya tanggung jawab sosial. Etika Miskawayh adalah etika yang aktif, sosial, dan optimistis. Ia percaya pada kemungkinan perubahan, pada kekuatan pendidikan, dan pada peran cinta serta keadilan sebagai perekat peradaban. Di tengah tantangan moralitas modern yang seringkali terfragmentasi, pemikiran Miskawayh menawarkan kerangka kerja holistik yang mengintegrasikan kesehatan mental, integritas pribadi, dan harmoni sosial dalam satu kesatuan yang koheren.

Sitasi:

Al-Islam.org. (n.d.). Chapter 3: Comparative study of Ibn Miskawayh and Aquinas’s shared views on philosophy. Diakses Februari 7, 2026, dari https://al-islam.org/comparative-study-shared-views-muslim-and-non-muslim-scholars-philosophy-and-education-hamid-reza-3

Al-Islam.org. (n.d.). Chapter 24: Miskawaih. Diakses Februari 7, 2026, dari https://al-islam.org/history-muslim-philosophy-volume-1-book-3/chapter-24-miskawaih

Archive.org. (n.d.). Refinement of character: Tahdhīb al-akhlāq (Ibn Miskawayh). Diakses Februari 7, 2026, dari https://archive.org/details/ibn-miskawayh-refinement-of-character-tahdhib-al-akhlaq_202209

Diksima. (n.d.). Konsep karakter dalam pandangan Islam menurut Ibnu Miskawaih. Diakses Februari 7, 2026, dari https://diksima.pubmedia.id/index.php/diksima/article/download/6/9

E-Jurnal IAIN Sorong. (n.d.). Pemikiran pendidikan Islam Ibnu Miskawaih. Diakses Februari 7, 2026, dari https://e-jurnal.iainsorong.ac.id/index.php/Al-Riwayah/article/download/187/185

Examining the concept of justice in Greek philosophy and Islam: A comparative analysis. (n.d.). International Journal of Research and Innovation in Social Science. Diakses Februari 7, 2026, dari https://rsisinternational.org/journals/ijriss/articles/examining-the-concept-of-justice-in-greek-philosophy-and-islam-a-comparative-analysis/

Five tips to manage your anger in Islam. (n.d.). Yaqeen Institute. Diakses Februari 7, 2026, dari https://yaqeeninstitute.org/read/post/five-tips-to-manage-your-anger-in-islam

Greek thought in Arab ethics: Miskawayh’s theory of justice. (2000). Diakses Februari 7, 2026, dari https://repository.up.ac.za/bitstream/handle/2263/11435/Mohamed_Greek%282000%29.pdf

How to overcome my fear of death? (n.d.). SeekersGuidance. Diakses Februari 7, 2026, dari https://seekersguidance.org/answers/general-counsel/how-to-overcome-my-fear-from-death/

Ibn Miskawayh, Ahmad ibn Muhammad (c. 940–1030). (n.d.). Islamic Philosophy Online. Diakses Februari 7, 2026, dari https://www.muslimphilosophy.com/ip/rep/H042.htm

Islamic Social Ethics: An analysis of Miskawayh’s thought. (n.d.). Revistia. Diakses Februari 7, 2026, dari https://revistia.com/files/articles/ejms_v1_i1_16/Omar.pdf

Islamic psychotherapy: Isfahani’s treatment of anger, fear, and sorrow. (n.d.). Afkar Journal. Diakses Februari 7, 2026, dari https://mjs.um.edu.my/index.php/afkar/article/download/2227/517/7215

Jurnal Ilmiah Guru Madrasah. (n.d.). Konsep akhlak menurut Ibnu Miskawaih dan penerapannya dalam pendidikan karakter Islami. Diakses Februari 7, 2026, dari https://jigm.lakaspia.org/jigm/article/download/71/58/474

Journal of Education Research. (n.d.). Konsep pendidikan karakter dalam pemikiran Ibnu Miskawaih. Diakses Februari 7, 2026, dari https://jer.or.id/index.php/jer/article/download/1831/1052/8963

Living Islam: Journal of Islamic Discourses. (n.d.). Pemikiran etika Ibnu Miskawaih. Diakses Februari 7, 2026, dari https://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/li/article/view/3863

Library of Congress. (n.d.). Refinement of character. Diakses Februari 7, 2026, dari https://www.loc.gov/item/2021666282/

Miskawayh, I. (2006). Tahdhīb al-akhlāq wa taṭhīr al-a‘rāq. Beirut: Dār Ṣādir.

Muslim Heritage. (n.d.). The ethical theory of education of Ahmad Miskawayh. Diakses Februari 7, 2026, dari https://muslimheritage.com/ethical-theory-education-ahmad-miskawayh/

Neliti. (n.d.). Pemikiran etika Ibnu Miskawaih. Diakses Februari 7, 2026, dari https://media.neliti.com/media/publications/240912-pemikiran-etika-ibnu-miskawaih-af38ffe2.pdf

Neliti. (n.d.). Dialektika pendidikan akhlak dalam pandangan Ibnu Miskawaih dan Al-Ghazālī. Diakses Februari 7, 2026, dari https://media.neliti.com/media/publications/268749-dialektika-pendidikan-akhlak-dalam-panda-21e97055.pdf

Penn State World Campus. (n.d.). Components of justice. Diakses Februari 7, 2026, dari https://courses.worldcampus.psu.edu/welcome/crimj465/moral_05.html

Putri, Y., Nurhuda, A., & Ni’am, S. (n.d.). The concepts of Islamic education from the perspective of Ibnu Miskawaih. Diakses Februari 7, 2026, dari https://journal.literasisains.id/index.php/sabana/article/download/1836/976

ResearchGate. (n.d.). Development of character education on Ibn Miskawaih’s thought. Diakses Februari 7, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/350465576

ResearchGate. (n.d.). Miskawayh’s ethical thought and its sources. Diakses Februari 7, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/308073823

UM Students’ Repository. (n.d.). The analysis of book two of Tahdhīb al-Akhlāq wa Taṭhīr al-A‘rāq. Diakses Februari 7, 2026, dari http://studentsrepo.um.edu.my/4993/9/9_CHAPTER_4%2BFinal_.pdf

Yaqeen Institute. (n.d.). Perspectives on Islamic psychology: Al-Raghib al-Isfahani on the healing of emotions. Diakses Februari 7, 2026, dari https://yaqeeninstitute.org/read/paper/perspectives-on-islamic-psychology-healing-of-emotions-in-the-quran

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment