Al-Yasār al-Islāmī Karya Hasan Hanafi: Manifesto Islam Kiri dan Teologi Pembebasan Modern

Table of Contents

buku Al-Yasār al-Islāmī Karya Hasan Hanafi LKIS
Fenomena kebangkitan intelektual di dunia Muslim pada paruh kedua abad ke-20 tidak dapat dilepaskan dari guncangan sosiopolitik yang melanda kawasan Timur Tengah, terutama krisis identitas yang memuncak pasca-kekalahan negara-negara Arab dalam Perang Enam Hari tahun 1967. Di tengah kegagalan proyek-proyek modernisme sekuler, nasionalisme, dan sosialisme Arab, muncul sebuah tawaran intelektual yang sangat radikal dan provokatif dari seorang pemikir Mesir bernama Hasan Hanafi. Karya monumentalnya, Al-Yasār al-Islāmī: Kitābāt fī an-Nahḍah al-Islāmiyyah (Kiri Islam: Tulisan-tulisan tentang Kebangkitan Islam), bukan sekadar sebuah buku teks teologi, melainkan sebuah manifesto intelektual yang bertujuan untuk mendekonstruksi tatanan berpikir tradisional yang statis dan menggantinya dengan paradigma yang revolusioner, antroposentris, dan membebaskan.

Hasan Hanafi merumuskan Kiri Islam sebagai sebuah proyek besar untuk menjawab krisis multidimensi—politik, ekonomi, dan sosial—yang dihadapi oleh masyarakat Muslim yang terpinggirkan dan tertindas. Melalui karya ini, Hanafi mencoba melakukan "gerak ganda": di satu sisi ia melakukan kritik tajam terhadap tradisi internal Islam yang dianggapnya telah mengalami stagnasi dan keterpencilan dari realitas, dan di sisi lain ia melakukan perlawanan intelektual terhadap hegemoni peradaban Barat yang bersifat imperialistik. Inti dari pesan yang ingin disampaikan dalam Al-Yasār al-Islāmī adalah bahwa Islam harus kembali ke watak aslinya sebagai kekuatan pembebas, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam melawan penindasan, diskriminasi, dan eksploitasi pada masa awal kemunculannya.

Genealogi Intelektual dan Latar Belakang Kelahiran Kiri Islam

Untuk memahami secara mendalam isi dari Al-Yasār al-Islāmī, sangat penting untuk menelusuri latar belakang biografi dan perkembangan intelektual Hasan Hanafi. Lahir pada 13 Februari 1935 di Kairo, Hanafi tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan gejolak nasionalisme Mesir melawan penjajahan Inggris. Sejak usia lima tahun, ia telah dididik dalam tradisi Al-Qur'an, sebuah fondasi yang nantinya ia gunakan untuk melakukan pembacaan hermeneutik yang mendalam. Pengalaman masa kecilnya yang menyaksikan kekejaman tentara kolonial Inggris membunuh para pejuang Mesir menanamkan semangat patriotisme yang sangat kuat, yang kemudian bertransformasi menjadi semangat revolusioner dalam karya-karya ilmiahnya.

Pendidikan formal Hanafi di Universitas Kairo dan kemudian di Universitas Sorbonne, Prancis, memberikan bekal metodologis yang sangat kaya. Di Prancis, ia mendalami fenomenologi dari tokoh-tokoh seperti Jean Guitton dan Paul Ricoeur, serta menyerap tradisi pemikiran eksistensialisme dan Marxisme. Perjumpaan ini menghasilkan sebuah sintesis unik: Hanafi menggunakan pisau analisis fenomenologi Barat untuk membedah tradisi klasik Islam (turāth) dan realitas sosial umat Islam. Ia melihat bahwa teologi tradisional (Ilmu Kalam) yang diajarkan selama berabad-abad telah kehilangan daya dorongnya karena terlalu fokus pada perdebatan metafisik yang abstrak mengenai zat dan sifat Tuhan, sementara mengabaikan nasib manusia yang menderita akibat kemiskinan dan penindasan politik.

Penerbitan jurnal Al-Yasār al-Islāmī pada tahun 1981 merupakan kulminasi dari kegelisahan intelektualnya. Nama "Kiri" dipilih bukan untuk mengadopsi materialisme dialektika Marxisme secara buta, melainkan sebagai terminologi ilmu politik yang melambangkan keberpihakan kepada kaum miskin (mustad'afin), perlawanan terhadap status quo, dan kritisisme terhadap kekuasaan yang otoriter. Hanafi menegaskan bahwa dalam sebuah timbangan sosial, jika kondisi masyarakat terlalu berat ke arah "Kanan" (kapitalisme, feodalisme, dan pasivitas), maka untuk mencapai keseimbangan (tawāzun), pemikiran harus ditarik ke arah "Kiri".

Kronologi Perkembangan Intelektual Hasan Hanafi dan Kiri Islam

Kronologi Perkembangan Intelektual Hasan Hanafi dan Kiri Islam

Isi Utama dan Struktur Pemikiran Al-Yasār al-Islāmī

Karya Al-Yasār al-Islāmī dirancang sebagai sebuah kerangka pengetahuan transformatif yang bertujuan untuk membebaskan umat Islam dari penjajahan, baik secara fisik, ekonomi, maupun pemikiran. Hasan Hanafi menguraikan bahwa kebangkitan Islam (an-Nahḍah al-Islāmiyyah) hanya dapat tercapai jika umat melakukan dekonstruksi terhadap sistem teologi lama yang dianggapnya sebagai "teologi yang melangit" dan menggantinya dengan "teologi yang membumi" atau teologi antroposentris.

Dalam struktur pemikirannya, Hanafi menekankan bahwa teologi bukan lagi ilmu tentang Tuhan sebagai person yang tidak tersentuh, melainkan ilmu tentang wahyu sebagai petunjuk praktis bagi kehidupan manusia di dalam sejarah. Oleh karena itu, Al-Yasār al-Islāmī berisi serangkaian tulisan yang mencoba menghubungkan antara akidah dengan aksi sosial, antara iman dengan revolusi. Secara spesifik, isi karya ini dapat dibagi ke dalam tiga agenda besar yang ia sebut sebagai Tiga Pilar Proyek Tradisi dan Pembaruan (Al-Turāth wa al-Tajdīd).

Pilar Pertama: Revitalisasi Tradisi Klasik (Al-Turāth al-Qadim)

Pilar pertama fokus pada sikap kritis terhadap warisan masa lalu. Hanafi berpendapat bahwa tradisi Islam klasik—seperti Ilmu Kalam, Fiqh, Ushul Fiqh, dan Tasawuf—adalah produk sejarah yang lahir untuk menjawab persoalan pada zamannya, sehingga tidak boleh dianggap sebagai kebenaran absolut yang tidak dapat diubah. Dalam Al-Yasār al-Islāmī, ia mendorong dilakukannya rasionalisasi dan reaktualisasi terhadap khazanah ini agar mampu memecahkan masalah kemiskinan dan keterbelakangan saat ini.

Hanafi memberikan perhatian khusus pada Ilmu Kalam. Ia mengkritik teologi Asy'ariyah yang dianggap dominan namun terlalu menekankan pada takdir dan kepasrahan, yang menurutnya membuat umat menjadi pasif terhadap ketidakadilan sosial. Sebagai alternatif, ia menghidupkan kembali semangat rasionalisme Mu'tazilah dan pemikiran para filsuf seperti Ibnu Rusyd. Dalam pandangannya, teologi harus berubah dari orientasi teosentris ke antroposentris. Perubahan ini bukan berarti menghilangkan Tuhan dari agama, melainkan menempatkan martabat manusia dan agensinya sebagai fokus utama dalam menjalankan perintah Tuhan di muka bumi.

Pilar Kedua: Oksidentalisme dan Perlawanan terhadap Hegemoni Barat

Pilar kedua adalah pengembangan sikap kritis terhadap tradisi Barat atau kebudayaan asing. Hasan Hanafi memperkenalkan konsep "Oksidentalisme" sebagai jawaban intelektual terhadap Orientalisme Barat. Ia melihat bahwa selama ini Barat telah menjadikan Timur (Islam) sebagai objek penelitian untuk kepentingan imperialisme budaya, ekonomi, dan politik. Oksidentalisme bertujuan untuk membalikkan posisi ini: menjadikan Barat sebagai objek penelitian oleh para ilmuwan Muslim.

Hanafi mengingatkan bahaya imperialisme kultural yang cenderung menghapus identitas bangsa-bangsa Timur yang kaya sejarah. Melalui Oksidentalisme, umat Islam didorong untuk memahami struktur kesadaran Eropa secara kritis—dari masa Kant, Hegel, hingga Marx—untuk mengetahui batas-batas pemikiran mereka dan menolak klaim universalisme Barat yang dipaksakan. Dengan melakukan "relativisasi" terhadap peradaban Barat, umat Islam dapat membebaskan diri dari rasa rendah diri intelektual (inferiority complex) dan mulai membangun peradaban mereka sendiri secara mandiri.

Pilar Ketiga: Analisis Terhadap Realitas Dunia Islam (Wāqi' al-Muslimīn)

Pilar ketiga adalah analisis mendalam terhadap realitas konkret yang dihadapi oleh umat Islam saat ini. Hanafi mengkritik metode tradisional yang terlalu bertumpu pada teks (nash) dan mengabaikan fakta sosial yang terjadi di lapangan. Baginya, metode penafsiran harus bersifat "empiris" dan berangkat dari penderitaan nyata manusia.

Dalam Al-Yasār al-Islāmī, Hanafi menguraikan bahwa tantangan utama dunia Islam bukan hanya datang dari luar (imperialisme), tetapi juga dari dalam, yaitu:
1. Kemiskinan dan Ketimpangan: Adanya jurang yang lebar antara kaya dan miskin di negara-negara Muslim yang bertentangan dengan prinsip keadilan sosial Islam.
2. Otoritarianisme Politik: Penguasa yang menindas rakyatnya sendiri dan membungkam kebebasan berpendapat demi kepentingan elit dan kekuatan asing.
3. Keterbelakangan Mental: Sikap fatalistik dan ketidaksadaran hidup yang dihasilkan dari pemahaman agama yang salah.

Teologi Kiri Islam menuntut agar iman dimanifestasikan dalam bentuk aksi nyata untuk merobohkan struktur kekuasaan yang zalim dan membangun sistem sosial yang adil dan makmur. Agama harus berfungsi sebagai alat kritik sosial dan motor perubahan struktural, bukan sekadar pelipur lara individu.

Perbandingan Karakteristik Tiga Pilar Proyek Hasan Hanafi

Al-Yasār al-Islāmī Karya Hasan Hanafi

Hermeneutika Pembebasan: Metode Al-Manhaj Al-Ijtima'i fi At-Tafsir

Salah satu sumbangan paling orisinal Hasan Hanafi dalam Al-Yasār al-Islāmī adalah tawarannya mengenai metode penafsiran Al-Qur'an yang bersifat sosiologis-transformatif, yang ia sebut sebagai al-Manhaj al-Ijtima'i fi at-Tafsir. Hanafi menolak metode tafsir tradisional yang hanya fokus pada analisis kebahasaan (filologi) yang kering atau sekadar mengulang narasi otoritatif masa lalu. Baginya, hermeneutika adalah proses dialogis antara teks suci dengan realitas kontemporer.

Metode ini melibatkan tiga tahap kesadaran yang terintegrasi:
1. Kesadaran Historis-Kritis (Historical-Criticism): Meneliti latar belakang sejarah turunnya ayat (asbab al-nuzul) untuk memahami konteks sosial awal wahyu, sekaligus membedakan antara pesan yang bersifat makro-universal dengan instruksi yang bersifat mikro-kontekstual.
2. Kesadaran Eidetic (Eidetic-Consciousness): Mengidentifikasi esensi atau makna ideal dari teks yang melampaui batasan waktu. Misalnya, dalam ayat tentang perang, esensinya adalah perlawanan terhadap kezaliman, bukan kekerasan itu sendiri.
3. Kesadaran Praktis (Practical-Consciousness): Menghubungkan makna esensial tersebut dengan komitmen sosial penafsir untuk menjawab masalah saat ini. Di sini, penafsir harus memiliki keberpihakan yang jelas kepada kaum lemah sebelum melakukan penafsiran.

Hanafi menekankan bahwa penafsiran yang benar adalah penafsiran yang mampu menggerakkan manusia untuk bertindak. Jika sebuah tafsir hanya membuat orang semakin pasif, maka tafsir tersebut telah gagal menangkap ruh wahyu. Oleh karena itu, hermeneutika Kiri Islam bersifat antroposentris: ia menjadikan manusia dan kondisi sosialnya sebagai titik tolak pemahaman agama.

Contoh Faktual Penafsiran dalam Kiri Islam

Hasan Hanafi memberikan beberapa contoh bagaimana teks suci harus dipahami secara transformatif untuk menjawab realitas:

  • Tafsir mengenai Pencurian dan Keadilan Ekonomi: Dalam menafsirkan ayat tentang hukuman potong tangan bagi pencuri, Hanafi berargumen bahwa hukuman tersebut tidak boleh diterapkan secara membabi buta. Secara sosiologis, ia melihat bahwa mayoritas pencurian kecil terjadi karena kemiskinan sistemik. Maka, penafsiran transformatifnya adalah: negara berkewajiban menjamin kesejahteraan ekonomi rakyatnya terlebih dahulu; jika keadilan ekonomi belum ditegakkan, maka hukuman tersebut tidak memiliki landasan moral untuk dijalankan. Fokus utama agama adalah menghilangkan penyebab pencurian (kemiskinan), bukan sekadar menghukum pelaku.
  • Rekonstruksi Konsep Tauhid: Dalam Al-Yasār al-Islāmī, konsep Tauhid direkonstruksi dari sekadar pernyataan teologis tentang keesaan Tuhan menjadi prinsip kesatuan umat manusia dan kesetaraan kelas. Hanafi menyatakan bahwa Tauhid yang benar harus dimanifestasikan sebagai penolakan terhadap segala bentuk "tuhan-tuhan modern" seperti berhala ideologi, supremasi ras, dan eksploitasi ekonomi kapitalistik. Kesadaran akan keesaan Tuhan harus melahirkan kesadaran akan kesatuan eksistensial manusia di mana tidak boleh ada perbedaan hak antara kaya dan miskin, serta antara bangsa maju dan berkembang.
  • Makna Bumi (al-ard) dan Kedaulatan: Hanafi menganalisis kata al-ard (bumi/tanah) yang muncul sebanyak 462 kali dalam Al-Qur'an. Ia menafsirkan bahwa bumi adalah milik Tuhan yang diberikan kepada manusia sebagai tempat tinggal dan sumber kehidupan bagi semua, bukan untuk dimonopoli oleh segelintir elit penguasa atau kekuatan imperialis. Tafsir ini ia gunakan untuk mengkritik kebijakan agraria di Mesir era Anwar Sadat yang dinilainya terlalu menguntungkan pihak asing dan merugikan petani lokal. Bagi Hanafi, memperjuangkan kedaulatan tanah adalah bagian dari ibadah teologis.

Jurnal Al-Yasār al-Islāmī: Media Perlawanan dan Konsekuensi Politik

Gagasan-gagasan revolusioner Hanafi tidak hanya berhenti dalam bentuk buku, tetapi juga diaktualisasikan melalui penerbitan jurnal ilmiah Al-Yasār al-Islāmī pada tahun 1981. Jurnal ini diniatkan sebagai manifesto bagi sebuah gerakan pemikiran baru yang mampu menyatukan elemen-elemen progresif dalam Islam. Melalui media ini, Hanafi secara terbuka melontarkan kritik pedas terhadap kebijakan politik dan ekonomi rezim Mesir yang dianggapnya telah mengkhianati cita-cita kemerdekaan bangsa dan kesejahteraan rakyat.

Isi dari edisi-edisi jurnal tersebut mencakup:

  • Kritik terhadap normalisasi hubungan dengan Israel yang dianggap sebagai pengkhianatan terhadap solidaritas Islam dan Arab.
  • Seruan untuk melakukan revolusi teologi dari "iman yang statis" menuju "iman yang aktif-revolusioner".
  • Pembelaan terhadap hak-hak asasi manusia dan kebebasan sipil yang diberangus oleh undang-undang darurat.


Dampak dari penerbitan jurnal ini sangat dramatis. Pemerintah Anwar Sadat merasa terancam oleh potensi gerakan Kiri Islam yang mampu memberikan legitimasi keagamaan bagi gerakan oposisi kiri dan nasionalis. Sebagai hasilnya, Hasan Hanafi ditangkap dan dijebloskan ke penjara, dan publikasi jurnal tersebut dilarang secara permanen. Meskipun secara fisik jurnal tersebut mati muda, namun pemikiran yang tertuang di dalamnya justru menyebar luas ke mancanegara melalui saluran-saluran akademik dan aktivisme bawah tanah, menjadikannya salah satu teks paling berpengaruh dalam diskursus Islam kontemporer.

Implementasi dan Pengaruh Kiri Islam di Indonesia

Pemikiran Hasan Hanafi menemukan resonansi yang luar biasa kuat di Indonesia, terutama pada dekade 1990-an. Hal ini dipicu oleh kesamaan konteks sejarah, di mana kaum intelektual Muslim Indonesia tengah berjuang melawan otoritarianisme rezim Orde Baru dan mencari formula teologi yang mampu menjawab tantangan kemiskinan serta ketidakadilan struktural akibat pembangunan yang tidak merata. Penerjemahan buku Kiri Islam ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1993 menjadi tonggak penting yang memicu diskusi luas di kalangan akademisi, aktivis, dan mahasiswa.

Pengaruh tersebut tampak nyata pada beberapa tokoh dan gerakan berikut:

  • Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Ia memberikan pengantar yang simpatik pada edisi terjemahan karya Hanafi, menyebutnya sebagai sebuah "eksperimentasi" penting dalam pemikiran Islam kontemporer. Gus Dur melihat kesamaan visi antara Kiri Islam dengan upayanya dalam membela minoritas, menegakkan demokrasi, dan mengembangkan Islam yang ramah terhadap realitas sosial Indonesia.
  • Moeslim Abdurrahman dan Islam Transformatif: Sebagai tokoh Muhammadiyah, Moeslim Abdurrahman mengembangkan konsep "Islam Transformatif" yang sangat dipengaruhi oleh kerangka berpikir Hanafi. Ia menggunakan perspektif Kiri Islam untuk membela kaum miskin kota, buruh, dan petani yang tergusur oleh proyek-proyek modernisasi Orde Baru. Baginya, agama harus hadir dalam ranah ekonomi-politik sebagai pembela mereka yang teralienasi.
  • IAIN/UIN dan Kelompok Studi Mahasiswa: Proyek Al-Turāth wa al-Tajdīd Hanafi menjadi kurikulum tidak resmi di banyak fakultas ushuluddin dan filsafat di Indonesia. Mahasiswa Muslim Indonesia pada era tersebut menemukan "senjata intelektual" dalam Oksidentalisme Hanafi untuk mengkritik dominasi teori-teori sosial Barat yang dianggap tidak cocok dengan konteks lokal.
  • Luthfi Assyaukanie dan Tipologi Reformis: Ia menempatkan Hanafi sebagai prototipe pemikir reformis yang berani mendialogkan tradisi dengan modernitas secara jujur, tanpa terjebak dalam sikap apologetik maupun penolakan buta terhadap salah satunya.

Meskipun sangat berpengaruh di tingkat elit intelektual, beberapa pengamat mencatat bahwa Kiri Islam di Indonesia menghadapi kendala dalam menyentuh massa akar rumput. Hal ini disebabkan oleh sifat pemikiran Hanafi yang sangat filosofis dan penggunaan istilah-istilah teknis fenomenologi yang sulit dicerna oleh masyarakat awam yang lebih terbiasa dengan teologi Asy'ariyah yang bersifat tradisional-tekstual.

Perbandingan Pengaruh Tokoh Kiri Islam di Indonesia

Perbandingan Pengaruh Tokoh Kiri Islam di Indonesia

Kritik Intelektual Terhadap Kiri Islam Hasan Hanafi

Sebagaimana layaknya pemikiran yang bersifat radikal dan mendobrak kemapanan, Kiri Islam memancing badai kritik dari berbagai penjuru. Kritik ini datang baik dari kalangan ulama tradisional, intelektual sekuler, maupun sesama pemikir progresif.

Kritik dari Kalangan Konservatif dan Al-Azhar

Lembaga keagamaan tradisional seperti Al-Azhar di Mesir memandang pemikiran Hanafi sebagai bentuk penyimpangan atau bid'ah. Beberapa poin keberatan mereka antara lain:

  • Sekularisasi Makna Sakral: Upaya Hanafi untuk mengubah teologi menjadi antropologi dianggap telah mereduksi kesucian agama menjadi sekadar urusan duniawi yang profan. Usulannya untuk mengubah terminologi ketuhanan menjadi terminologi sosial dipandang sebagai ancaman terhadap akidah.
  • Kecenderungan Marxisme: Penggunaan istilah "Kiri" dan penekanan pada perjuangan kelas membuat Hanafi dituduh mencoba menyelundupkan ideologi materialisme ke dalam Islam, sebuah tuduhan yang sangat serius di mata kelompok konservatif.
  • Subjektivitas Penafsiran: Metode hermeneutikanya dianggap terlalu subjektif karena memberikan ruang bagi penafsir untuk memasukkan agenda ideologis pribadinya ke dalam ayat Al-Qur'an, sehingga dianggap mencederai objektivitas ilmu tafsir.

Kritik dari Sesama Intelektual (Debat Hanafi-Jabri)

Salah satu debat intelektual yang paling terkenal adalah antara Hasan Hanafi dengan filsuf Maroko, Mohammed Abed al-Jabri. Al-Jabri, melalui karyanya Naqd al-'Aql al-'Arabi, mengkritik Hanafi karena dianggap masih terlalu terikat pada struktur berpikir teologis lama meskipun ia mengaku ingin melakukan pembaruan. Al-Jabri berpendapat bahwa yang dibutuhkan umat Islam bukan sekadar mengubah "isi" teologi (dari teosentris ke antroposentris), melainkan membongkar "struktur berpikir" (episteme) Arab-Islam yang dianggapnya bermasalah. Hanafi dianggap terlalu fokus pada semangat revolusioner namun kurang dalam analisis epistemologis yang mendasar.

Kritik Mengenai Elitisme dan Kebebasan

Tokoh seperti Richard K. Khuri memberikan kritik bahwa proyek Hanafi, meskipun bertujuan membebaskan rakyat, tetap terjebak dalam wacana elitis yang hanya dipahami oleh para profesor dan mahasiswa filsafat. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa penekanan Hanafi pada "kesatuan umat" dan "ideologi negara" berpotensi menjadi alat baru bagi otoritarianisme jika tidak dibarengi dengan perlindungan terhadap kebebasan individu yang kuat.

Kesimpulan: Warisan dan Masa Depan Kiri Islam

Isi karya Al-Yasār al-Islāmī: Kitābāt fī an-Nahḍah al-Islāmiyyah karya Hasan Hanafi mewakili salah satu momen paling penting dalam sejarah intelektual Islam modern. Dengan keberanian yang luar biasa, Hanafi mencoba meruntuhkan tembok pemisah antara teks suci yang statis dengan realitas sosial yang dinamis. Melalui Tiga Pilar Proyeknya, ia menawarkan peta jalan bagi umat Islam untuk keluar dari keterpurukan: kembali ke rasionalisme tradisi sendiri, memahami dan melampaui peradaban Barat melalui Oksidentalisme, serta melakukan transformasi sosial berbasis pada penderitaan nyata rakyat.

Meskipun Hanafi telah tiada, warisan pemikirannya tetap hidup dalam berbagai gerakan Islam progresif di seluruh dunia. Relevansi Kiri Islam saat ini tampak pada semakin kuatnya tuntutan akan keadilan sosial, perlawanan terhadap ketimpangan ekonomi global, dan kebutuhan akan pemahaman agama yang inklusif serta memanusiakan manusia. Tantangan ke depan bagi para penerus Kiri Islam adalah bagaimana menerjemahkan gagasan-gagasan filosofis yang canggih ini ke dalam bahasa yang lebih membumi, sehingga ia tidak hanya menjadi diskusi di menara gading universitas, tetapi benar-benar menjadi kekuatan penggerak bagi jutaan orang yang mendambakan pembebasan di bawah panji Islam.

Teologi Kiri Islam mengajarkan bahwa iman yang sejati adalah iman yang gelisah melihat penindasan, dan ibadah yang paling utama adalah ibadah yang mampu memutus rantai kemiskinan serta menegakkan martabat manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Dalam narasi besar Hasan Hanafi, kebangkitan Islam bukan sekadar kembalinya simbol-simbol keagamaan di ruang publik, melainkan terwujudnya sebuah sistem sosial yang adil, setara, dan merdeka dari segala bentuk penghambaan sesama manusia.

Sitasi:

An analysis of Hasan Hanafi's tafsir method: Hermeneutics as an interpretative approach. (n.d.). INJIES. https://injies.unimika.ac.id/index.php/injies/article/download/22/15

Analisis sosial Hassan Hanafi dan implikasinya terhadap pendidikan Islam. (n.d.). https://ejournal.staialutsmani.ac.id/index.php/ihtirom/article/download/64/46

BAB II biografi dan pemikiran Hassan Hanafi. (n.d.). Digilib UIN Sunan Ampel Surabaya. http://digilib.uinsa.ac.id/2011/4/Bab%202.pdf

Biografi Hassan Hanafi dan sejarah kemunculan kiri Islam. (n.d.). Kalimah Sawa. https://kalimahsawa.id/biografi-hassan-sejarah-kiri-islam/

Contextual Islamic theology – Contemporary (A study of Hasan Hanafi's contextual theology). (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/365513823_Contextual_Islamic_Theology_-_Contemporary_A_Study_of_Hasan_Hanafi's_Contextual_Theology

Dinamika pemikiran Islam Indonesia. (n.d.). https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/download/191/461/1100

Hanafi intellectual development. (n.d.). Academia.edu. https://www.academia.edu/32767823/Hanafi_Intellectual_Development_doc

Hasan Hanafi's perspective soul theory. (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/371675274_Hasan_Hanafi's_Perspective_Soul_Theory

Hasan Hanafi's reformation in the Islamic world. (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/382256807_Hassan_Hanafi's_Reformation_in_The_Islamic_World

Hasan Hanafi and interpretation of materialism on Islamic tradition. (n.d.). E-Journal Portal of STAI Taruna Surabaya. https://journal.staitaruna.ac.id/index.php/ijith/article/view/438/327

Islam transformatif: Conceptualizing liberation theology for Indonesian Muslim society. (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/387143695_Islam_Transformatif_Conceptualizing_Liberation_Theology_for_Indonesian_Muslim_Society

Islamic leftism and the critique of modernism: An analysis of Hassan Hanafi's thought in a postmodern framework. (n.d.). INCOILS. https://incoils.or.id/index.php/INCOILS/article/download/281/217/267

Liberation theology of leftist Islam in the thought of Hassan Hanafi. (n.d.). https://ejournal.uinbukittinggi.ac.id/index.php/ITR/article/download/6444/1481/20515

Makalah Hassan Hanafi. (n.d.). Scribd. https://id.scribd.com/document/551739175/makalah-Hassan-Hanafi

Menyelami konsep teologi revolusioner Hassan Hanafi. (n.d.). Bandung Bergerak. https://bandungbergerak.id/article/detail/1598214/menyelami-konsep-teologi-revolusioner-hassan-hanafi

Occidentalistics. (n.d.). Trafo Verlag. http://www.trafoberlin.de/pdf-dateien/2008_12_24/Hasan%20Hanafi%20Muqaddima.pdf

Shimogaki, K. (1993). The Islamic left: Between modernity and postmodernism. LKiS.

Tawaran pemikiran “kiri Islam” Hassan Hanafi dan relevansinya dalam pendekatan metode dakwah di Sambas. (n.d.). https://journal.iaisambas.ac.id/index.php/Falsafah/article/download/890/710

Teologi sosial: Telaah pemikiran Hassan Hanafi. (n.d.). Repository Universitas Islam Riau. https://repository.uir.ac.id/1609/1/teologi.pdf

The Islamic left and the liberation of oppressed societies: A critical analysis of Hassan Hanafi's thought. (n.d.). https://ejournal.uinbukittinggi.ac.id/index.php/ITR/article/download/8773/2295

The relevance of Hassan Hanafi's anthropocentric theology ideas towards the re-actualization of Islamic thought in Indonesia. (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/339290132_The_Relevance_of_Hassan_Hanafi's_Anthropocentric_Theology_Ideas_towards_the_Re-Actualization_of_Islamic_Thought_in_Indonesia

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment