Teknogenesis dan Arkeologi Kognitif: Analisis Pergeseran Moda Perhatian dalam Pemikiran N. Katherine Hayles
Arkeologi Kognitif: Membedah Anatomi Perhatian Mendalam dan Perhatian Hiper
Analisis Hayles dimulai dengan memetakan koordinat dua moda kognitif yang saling kontras namun hidup berdampingan dalam spektrum perhatian manusia. Perhatian mendalam, sebagai gaya kognitif yang secara tradisional menjadi landasan utama dalam bidang humaniora dan pendidikan klasik, dicirikan oleh konsentrasi pada satu objek tunggal dalam jangka waktu yang sangat lama. Individu yang beroperasi dalam moda ini memiliki kemampuan untuk mengabaikan rangsangan luar secara total, lebih menyukai aliran informasi tunggal, dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap waktu fokus yang panjang, seperti yang terlihat pada seseorang yang tenggelam dalam pembacaan novel karya Dickens atau penyelesaian soal matematika yang kompleks. Keunggulan utama dari perhatian mendalam adalah efektivitasnya yang luar biasa dalam memecahkan masalah rumit yang memerlukan kedalaman analisis dalam satu medium tunggal. Namun, kemewahan kognitif ini harus dibayar dengan berkurangnya kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar dan fleksibilitas respons terhadap perubahan situasi yang mendadak.
Di sisi lain, perhatian hiper didefinisikan sebagai gaya kognitif yang dicirikan oleh peralihan fokus yang cepat di antara berbagai tugas yang berbeda, preferensi yang kuat terhadap aliran informasi ganda, pencarian tingkat stimulasi yang intens, dan toleransi yang sangat rendah terhadap kebosanan. Individu dengan kecenderungan perhatian hiper unggul dalam menavigasi lingkungan yang berubah dengan cepat di mana berbagai fokus perhatian bersaing secara konstan. Meskipun moda ini memberikan fleksibilitas adaptif yang tinggi, ia memiliki kelemahan inheren berupa ketidaksabaran terhadap objek-objek non-interaktif atau statis yang menuntut fokus berkepanjangan.
Perspektif Evolusioner dan Konsep Teknogenesis
Salah satu argumen paling provokatif dari Hayles adalah tinjauan arkeologisnya terhadap asal-usul kedua moda perhatian ini. Dalam konteks evolusioner, ia berpendapat bahwa perhatian hiper kemungkinan besar merupakan moda yang berkembang lebih dulu dalam sejarah manusia. Kemampuan untuk tetap waspada terhadap bahaya yang mengancam dari berbagai arah—sebuah bentuk perhatian hiper primordial—merupakan prasyarat fundamental bagi kelangsungan hidup spesies manusia di alam liar. Sebaliknya, perhatian mendalam adalah sebuah "kemewahan relatif" yang hanya mungkin berkembang setelah manusia mampu menciptakan lingkungan yang aman melalui kerja sama kelompok, di mana individu tidak lagi diharuskan untuk terus-menerus waspada terhadap predator atau ancaman fisik lainnya.
Institusi pendidikan tradisional, pada dasarnya, adalah spesialis dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perhatian mendalam, menggabungkan suasana tenang dengan tugas-tugas yang dirancang untuk menuntut fokus linier yang panjang. Namun, kemunculan media digital yang bersifat ubiquitus (ada di mana-mana) telah menciptakan kembali lingkungan stimulasi yang menyerupai kondisi awal manusia, namun dalam bentuk informasi elektronik yang jenuh. Hayles menggunakan istilah "teknogenesis" untuk menjelaskan fenomena di mana manusia dan teknologi digital berevolusi bersama dalam lingkaran umpan balik yang saling memperkuat. Karena otak manusia memiliki plastisitas saraf yang luar biasa, interaksi konstan dengan media digital secara harfiah mengubah "kabel" atau koneksi sinaptik di otak, sebuah proses yang jauh lebih intensif terjadi pada generasi muda yang otaknya masih dalam tahap perkembangan.
Dampak dari teknogenesis ini terlihat jelas pada perubahan kecepatan persepsi masyarakat. Data menunjukkan adanya peningkatan nafsu makan terhadap stimulasi visual yang cepat: jika pada tahun 1960-an penonton film dianggap membutuhkan waktu sekitar 20 detik untuk mengenali sebuah citra sinematik, pada era sekarang angka tersebut telah menyusut menjadi hanya dua atau tiga detik saja. Perubahan ini menandakan bahwa sistem kognitif manusia sedang beradaptasi untuk memproses informasi dalam fragmen-fragmen yang lebih pendek namun dengan frekuensi yang lebih tinggi.
Hubungan Antara Perhatian Hiper dan Spektrum AD/HD
Hayles melakukan analisis mendalam terhadap kaitan antara pergeseran ke arah perhatian hiper dengan peningkatan diagnosis Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (AD/HD) di negara-negara industri. Ia merujuk pada pemikiran Les Linet, seorang psikiater anak, yang mengusulkan hipotesis bahwa sistem saraf individu dengan AD/HD bertindak seolah-olah memiliki "perisai" (shield) terhadap stimulasi normal. Akibatnya, rangsangan yang dianggap cukup bagi orang lain dirasakan sebagai kebosanan yang tak tertahankan oleh mereka, sehingga mereka membutuhkan tingkat stimulasi yang jauh lebih tinggi agar merasa "hidup" atau terlibat. Dalam pandangan ini, AD/HD mungkin lebih tepat dipahami bukan sebagai gangguan defisit perhatian, melainkan sebagai "gangguan pencarian stimulasi" (search for stimulation disorder).
Hayles mengajukan hipotesis bahwa pergeseran generasional ke arah perhatian hiper dapat dipahami sebagai pergeseran nilai rata-rata (mean) populasi ke arah ujung spektrum AD/HD. Gejala-gejala yang tercantum dalam DSM-IV—seperti kesulitan memperhatikan detail, ketidakmampuan mempertahankan fokus pada tugas sekolah, atau penghindaran terhadap proyek yang membutuhkan upaya mental tinggi—tidak lagi dipandang hanya sebagai perilaku menyimpang, melainkan sebagai manifestasi dari moda kognitif yang sedang beradaptasi dengan lingkungan yang jenuh informasi.
Mitos Multitasking dan Realitas Konsumsi Media
Salah satu pilar pendukung argumen Hayles adalah data empiris mengenai pola konsumsi media generasi muda. Merujuk pada laporan "Generation M" dari Kaiser Family Foundation, ditemukan bahwa kaum muda menghabiskan rata-rata 6,5 jam setiap hari dengan media. Namun, yang lebih mengejutkan adalah prevalensi perilaku multitasking: sekitar 60% pemuda melaporkan bahwa mereka melakukan tugas sekolah sambil menggunakan media lain (seperti televisi, musik, atau pesan instan) baik "sebagian besar waktu" maupun "beberapa waktu".
Hayles mengklarifikasi bahwa apa yang secara umum disebut multitasking sebenarnya adalah "alternasi cepat" (rapid alternation) di antara berbagai tugas. Studi psikologis (seperti yang dilakukan oleh Rubinstein, Meyer, dan Evans) menunjukkan bahwa efisiensi kognitif sebenarnya menurun secara signifikan ketika seseorang melakukan tugas secara simultan dibandingkan dengan melakukannya secara berurutan. Namun, bagi generasi yang terbiasa dengan perhatian hiper, pendorong utama perilaku ini bukanlah efisiensi waktu, melainkan pemuasan nafsu akan stimulasi tinggi. Kehilangan efisiensi dianggap sebagai harga yang pantas dibayar demi menghindari rasa bosan yang muncul saat mengerjakan satu tugas tunggal dalam waktu lama.
Dampak dari pola konsumsi ini juga terlihat pada struktur bahasa. Terdapat bukti bahwa entropi kata dalam bahasa Inggris Amerika telah meningkat secara stabil sejak tahun 1900, dengan media bentuk pendek seperti berita dan majalah memiliki entropi yang lebih tinggi dibandingkan media bentuk panjang, dan umpan media sosial memiliki tingkat entropi yang paling tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa produksi informasi juga menyesuaikan diri dengan selera konsumen yang menginginkan konten yang lebih padat, cepat, dan penuh kejutan.
Inkompatibilitas Pendidikan: Antara Tradisi dan Realitas Baru
Krisis utama yang diidentifikasi oleh Hayles terjadi di ruang kelas, di mana terjadi ketidakcocokan yang mendalam antara ekspektasi pendidik dan kecenderungan kognitif siswa. Para pendidik, yang umumnya dilatih dalam moda perhatian mendalam dan memiliki asumsi kuat tentang keunggulan moral dan intelektual dari moda tersebut, merasa frustrasi ketika siswa mereka tampak tidak mampu lagi membaca novel panjang atau mengikuti argumen yang kompleks secara linier. Hayles menggambarkan situasi ini sebagai pemaksaan siswa ke dalam "tempat tidur Prokrustean"—sebuah kiasan tentang pemaksaan keseragaman yang menyakitkan terhadap sesuatu yang secara alami berbeda.
Pendidikan tradisional telah menganggap perhatian mendalam sebagai norma de facto, sementara perhatian hiper dipandang hanya sebagai perilaku bermasalah yang hampir tidak diakui sebagai moda kognitif yang sah. Hal ini menciptakan hambatan bagi siswa neurodivergen atau mereka yang memiliki kecenderungan perhatian hiper yang kuat, karena kriteria "mahasiswa teladan" dan "keunggulan akademik" secara eksklusif dikaitkan dengan kemampuan untuk duduk diam dan fokus dalam waktu lama. Hayles mencatat bahwa beberapa fakultas telah mulai menyerah pada tekanan ini dengan mengganti tugas membaca novel utuh menjadi hanya cerita pendek, sebuah langkah yang meskipun adaptif, juga mencerminkan kekhawatiran akan hilangnya kedalaman berpikir.
Eksperimen Pedagogis di University of Southern California (USC)
Alih-alih sekadar meratapi penurunan perhatian mendalam, Hayles mengusulkan agar para pendidik secara aktif mencari cara untuk menciptakan "sintesis sinergis" antara kedua moda perhatian tersebut. Ia menyoroti beberapa eksperimen yang dilakukan di Interactive Media Division di University of Southern California (USC), khususnya di Zemeckis Media Lab yang dipimpin oleh Scott Fisher. Laboratorium ini merupakan ruang seluas 1200 kaki persegi yang dilengkapi dengan empat belas layar proyeksi besar yang mengelilingi ruangan dalam bentuk tapal kuda, memungkinkan peserta untuk berbagi berbagai aliran data secara simultan.
Dalam lingkungan laboratoris ini, dikembangkan model-model pengajaran yang memanfaatkan karakteristik perhatian hiper untuk mencapai tujuan pendidikan yang mendalam:
1. Google Jockeying: Dalam metode ini, saat seorang dosen atau mahasiswa memberikan presentasi, siswa lain yang disebut sebagai "joki" bertugas mencari informasi tambahan, gambar, definisi, atau bahkan pandangan yang kontradiktif di internet secara real-time. Hasil pencarian ini ditampilkan di layar-layar yang mengelilingi ruangan, memberikan aliran stimulasi konstan yang memperkaya materi yang sedang dibahas. Hal ini mengubah audiens yang biasanya pasif menjadi partisipan aktif yang berkontribusi pada pembangunan pengetahuan kolektif.
2. Backchanneling: Metode ini melibatkan penggunaan perangkat lunak percakapan (chat) yang memungkinkan siswa untuk memberikan komentar, mengajukan pertanyaan, atau berdiskusi secara digital saat kuliah berlangsung. Ini menciptakan aliran diskusi paralel yang tidak mengganggu ceramah verbal tetapi memungkinkan ekspresi pemikiran secara instan, sangat sesuai dengan kebutuhan stimulasi ganda pada perhatian hiper.
Model-model ini menantang hierarki kekuasaan tradisional di ruang kelas dan memaksa dosen untuk tidak lagi menjadi pusat transmisi informasi satu arah, melainkan menjadi fasilitator yang "menanam benih ide" dalam ekosistem informasi yang dinamis. Meskipun menjanjikan, eksperimen ini juga menghadapi tantangan besar dalam menemukan konfigurasi yang tepat agar teknologi tersebut benar-benar mendukung misi pendidikan dan tidak hanya menjadi sumber gangguan semata.
Transformasi Literasi: Membaca Mendalam, Hiper, dan Mesin
Hayles memperluas analisisnya dalam karya-karya selanjutnya (seperti dalam buku "How We Think") dengan mengeksplorasi bagaimana pergeseran perhatian ini memengaruhi praktik literasi. Ia membedakan tiga jenis pembacaan:
- Close Reading (Membaca Dekat): Terkait erat dengan perhatian mendalam, berfokus pada analisis mendalam terhadap teks linier, biasanya pada media cetak. Ini adalah teknik dasar dalam humaniora tradisional yang memungkinkan pemahaman nuansa bahasa dan struktur naratif yang kompleks.
- Hyper Reading (Membaca Hiper): Terkait dengan perhatian hiper, melibatkan teknik pemindaian (scanning), penyaringan (filtering), dan pengambilan sampel (sampling) dari berbagai sumber digital secara cepat. Pembacaan hiper memungkinkan seseorang untuk mendapatkan gambaran umum dari volume informasi yang sangat besar dalam waktu singkat.
- Machine Reading (Membaca Mesin): Melibatkan penggunaan algoritma digital untuk menganalisis pola-pola dalam korpus data yang sangat besar yang tidak mungkin dibaca secara manual oleh manusia.
Hayles berargumen bahwa ketiga jenis pembacaan ini tidak seharusnya dilihat sebagai musuh satu sama lain. Sebaliknya, ia menyarankan agar mereka digunakan secara sinergis. Misalnya, pembacaan hiper dapat digunakan untuk menyaring ribuan teks guna menemukan bagian-bagian yang paling relevan, yang kemudian dapat dianalisis secara mendalam menggunakan pembacaan dekat. Ketegangan institusional yang muncul akibat metode baru ini (seperti kritik terhadap Digital Humanities) mencerminkan ketakutan akan hilangnya esensi manusiawi dalam interpretasi sastra, namun Hayles menegaskan bahwa kognisi manusia saat ini sudah tidak dapat dipisahkan lagi dari sistem teknis yang mendukungnya.
Dampak pada Narativitas dan Kebangkitan Antinaratif
Pergeseran ke arah perhatian hiper juga membawa konsekuensi transformatif terhadap cara cerita diceritakan dan dikonsumsi. Terdapat kecenderungan menurunnya kemampuan dan kesediaan individu untuk terlibat dengan struktur naratif tradisional yang memiliki plot linier, pengembangan karakter yang lambat, dan resolusi yang jelas. Hal ini mendorong kemunculan apa yang disebut sebagai "antinaratif"—sebuah bentuk produksi informasi yang menolak konvensi naratif klasik dan lebih menyerupai aliran data atau fragmen yang tidak berhubungan secara kronologis.
Perhatian hiper yang terbiasa dengan rangsangan instan dari pesan singkat, tweet, dan umpan media sosial cenderung merasa terasing dari narasi panjang yang membutuhkan ketabahan kognitif. Sebagai akibatnya, literasi digital mulai berevolusi melalui e-book, fiksi hiperteks, dan penceritaan interaktif yang memungkinkan pembaca untuk memilih jalan ceritanya sendiri, yang lebih sesuai dengan moda perhatian hiper yang aktif dan mencari stimulasi. Fenomena ini menantang konsep tradisional tentang kepenulisan (authorship) dan peran pembaca dalam membangun makna teks.
Debat Intelektual: Kritik Stiegler dan Carr Terhadap Hayles
Hipotesis Hayles tentang perhatian mendalam dan hiper telah memicu debat intelektual yang luas. Salah satu kritikus yang paling vokal adalah Bernard Stiegler, yang menentang pandangan Hayles bahwa perhatian hiper adalah moda kognitif yang sah dan berharga. Stiegler berpendapat bahwa perhatian mendalam bukan hanya soal durasi, melainkan dasar dari rasionalitas Barat yang terbentuk melalui teknik penulisan. Ia memandang perhatian hiper sebagai bentuk "infra-atensi" yang dangkal, yang tidak memungkinkan pembentukan sirkuit mental yang kompleks.
Stiegler menganggap pergeseran ini sebagai krisis hubungan antar generasi yang disebabkan oleh "psikopower"—kekuatan korporasi media yang mengeksploitasi neurobiologi manusia untuk mengubah perhatian menjadi komoditas pasar konsumsi. Baginya, apa yang disebut Hayles sebagai adaptasi sebenarnya adalah kerusakan kapasitas sosial untuk konsentrasi dan refleksi yang harus dilawan dengan kembali ke pengasuhan perhatian mendalam.
Kritik serupa datang dari Nicholas Carr dalam "The Shallows," yang berpendapat bahwa penggunaan internet secara berlebihan membuat manusia kehilangan kemampuan untuk berpikir secara linier dan mendalam. Carr merujuk pada eksperimen pada primata yang menunjukkan betapa cepatnya sirkuit otak berubah berdasarkan pengalaman, dan ia memperingatkan bahwa kita sedang melatih otak kita untuk berpikir seperti mesin yang memproses fragmen data tanpa pemahaman yang utuh.
Hayles menanggapi kritik ini dengan posisi yang lebih nuansa. Ia tidak menyangkal risiko kedangkalan dalam perhatian hiper, namun ia menolak pandangan deterministik yang hanya melihat teknologi sebagai perusak. Melalui konsep teknogenesis, Hayles menegaskan bahwa manusia selalu terintegrasi dengan lingkungannya. Alih-alih meratapi masa lalu, ia mendesak agar kita memahami cara kerja sistem baru ini agar dapat mengarahkannya ke arah yang lebih produktif, daripada membiarkan diri kita terjebak dalam nostalgia kognitif yang tidak lagi relevan dengan realitas biologis dan teknis generasi masa depan.
Kesimpulan: Navigasi Masa Depan Pendidikan dan Kognisi
Karya N. Katherine Hayles mengenai pergeseran generasional dari perhatian mendalam ke perhatian hiper memberikan peta navigasi yang krusial bagi dunia pendidikan dan masyarakat secara luas. Kesimpulan utama dari analisisnya adalah bahwa pergeseran kognitif ini adalah fakta biologis dan sosial yang tidak dapat dihindari di tengah perkembangan teknologi media. Pendidikan tidak lagi bisa berjalan dengan asumsi bahwa semua siswa akan secara alami memiliki kapasitas untuk perhatian mendalam tanpa adanya desain lingkungan yang disengaja dan strategis.
Penerimaan terhadap perhatian hiper sebagai moda kognitif yang sah tidak berarti meninggalkan perhatian mendalam, melainkan mengakui bahwa kekuatan masing-masing moda dapat saling melengkapi. Perhatian hiper sangat berharga untuk fleksibilitas, navigasi informasi cepat, dan adaptasi dalam lingkungan yang kacau, sementara perhatian mendalam tetap diperlukan untuk pemecahan masalah yang kompleks dan refleksi filosofis yang matang.
Tantangan bagi para pendidik di masa depan adalah mengembangkan pedagogi yang dapat melatih siswa untuk "berpindah gigi" di antara kedua moda perhatian tersebut sesuai dengan kebutuhan tugas yang dihadapi. Eksperimen seperti di USC menunjukkan bahwa teknologi digital dapat digunakan bukan sebagai gangguan, melainkan sebagai alat untuk membangun jembatan kognitif yang memungkinkan kedalaman berpikir dicapai melalui cara-cara yang baru dan interaktif. Dengan memahami bahwa kita semua sedang berada dalam proses teknogenesis, masyarakat dapat lebih bijaksana dalam merancang lingkungan teknis yang mendukung pertumbuhan kognitif yang seimbang, sehat, dan adaptif bagi generasi yang akan datang.
Referensi:
Bartleby. (n.d.). Hyper attentive summary. Diakses Januari 10, 2026, dari https://www.bartleby.com/essay/Hyper-Attentive-Summary-6B8DBC0A5CDF04B7
Design Research Society. (n.d.). The challenge of hyperdistraction for design education. Diakses Januari 10, 2026, dari https://dl.designresearchsociety.org/cgi/viewcontent.cgi?article=1082&context=iasdr
DVDL. (n.d.). From deep to hyper attention, and back. Diakses Januari 10, 2026, dari https://dvdl.co/from-deep-to-hyper-attention-and-back/
ERIC. (n.d.). Look closer: Scrutinizing higher education’s…. Diakses Januari 10, 2026, dari https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1458672.pdf
Érudit. (2012). Hyper attention and the rise of the antinarrative: Reconsidering the future of narrativity. New Writing, 2(2). Diakses Januari 10, 2026, dari https://www.erudit.org/en/journals/nw/2012-v2-n2-nw2_2/nw2_2art05.pdf
Frelik. (n.d.). Review essays. Diakses Januari 10, 2026, dari https://www.depauw.edu/sfs/review_essays/frelik121.html
Hayles, N. K. (2007). Hyper and deep attention: The generational divide in cognitive modes. Diakses Januari 10, 2026, dari https://da.english.ufl.edu/wp-content/uploads/sites/47/hayles_hyper-deep.pdf
Hayles, N. K. (2007). Hyper and deep attention: The generational divide in cognitive modes. Scribd. Diakses Januari 10, 2026, dari https://www.scribd.com/document/648204057/Hayles-Hyper-and-deep-attention
Hayles, N. K. (2007). Hyper and deep attention: The generational divide in cognitive modes. Diakses Januari 10, 2026, dari https://rws511.pbworks.com/w/file/fetch/84598561/01_Hayles_hyper_and_deep_attention.pdf
Hayles, N. K. (2007). Hyper and deep attention: The generational divide in cognitive modes. ResearchGate. Diakses Januari 10, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/250061169_Hyper_and_Deep_Attention_The_Generational_Divide_in_Cognitive_Modes
Hayles, N. K. (n.d.). Hyper deep extracts. Scribd. Diakses Januari 10, 2026, dari https://www.scribd.com/document/718974230/Hayles-hyper-deep-extracts
Macfarlane, I.-L. (n.d.). Transformation of curricula via new media (Final essay). Diakses Januari 10, 2026, dari https://scalar.usc.edu/works/water-sustainability-and-indigenous-knowledge/media/Digital%20Literacy%20Final%20Essay.pdf
Neumann, L. (n.d.). How does the changed media environment influence young people’s attention and education? Dalam A. N. Shapiro (Ed.), Hypermodernism, hyperreality, posthumanism. Diakses Januari 10, 2026, dari https://www.alan-shapiro.com/how-does-the-changed-media-environment-influence-young-peoples-attention-and-educational-contexts-by-lena-neumann/
Potzsch, H., & Hayles, N. K. (n.d.). Posthumanism, technogenesis, and digital technologies. Fibreculture Journal. Diakses Januari 10, 2026, dari http://twentythree.fibreculturejournal.org/wp-content/pdfs/FCJ-172PotzchHayles.pdf
PubMed Central. (2023). Digital pedagogies post-COVID-19: The future of teaching with/in new technologies. Diakses Januari 10, 2026, dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9899669/
ResearchGate. (n.d.). Computer multitasking in the classroom: Training to attend or…. Diakses Januari 10, 2026, dari https://aura.antioch.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1457&context=etds
ResearchGate. (n.d.). Experiments in backchannel: Collaborative presentations using social software, Google Jockeys, and immersive environments. Diakses Januari 10, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/332083238_Experiments_in_Backchannel_Collaborative_Presentations_Using_Social_Software_Google_Jockeys_and_Immersive_Environments
ResearchGate. (n.d.). Millennial university: Today’s learners – tomorrow’s leaders. Diakses Januari 10, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/255963468_Millennial_University_Today's_Learners_-_Tomorrow's_Leaders
University of New Brunswick. (2012). Hyper attention and the rise of the antinarrative: Reconsidering the future of narrativity. Diakses Januari 10, 2026, dari https://journals.lib.unb.ca/index.php/NW/article/view/20173/23270
University of New Brunswick. (2012). Hyper attention and the rise of the antinarrative: Reconsidering the future of narrativity. Diakses Januari 10, 2026, dari https://journals.lib.unb.ca/index.php/NW/article/download/20173/23271/28478
WSU Vancouver. (n.d.). Katherine Hayles: Exploring language, texts, and technology. Diakses Januari 10, 2026, dari https://dtc-wsuv.org/wp/375-spring14-mbrookman/katherine-hayles/




Post a Comment