Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk Karya Al-Ṭabarī: Puncak Historiografi Islam Klasik dan Dinamika Sosial Umat

Table of Contents

buku Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk Karya Al-Ṭabarī
Karya monumental Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir al-Ṭabarī yang berjudul Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk (Sejarah Para Rasul dan Raja) berdiri sebagai pencapaian intelektual tertinggi dalam tradisi penulisan sejarah dunia Islam. Kitab ini tidak sekadar berfungsi sebagai catatan kronologis peristiwa masa lalu, melainkan merupakan prisma kodifikasi identitas Muslim pada abad ke-9 dan ke-10 Masehi, yang muncul selama periode intens kanonisasi sejarah Islam. Dengan cakupan narasi yang membentang luas dari saat penciptaan alam semesta oleh Tuhan hingga tahun 302 Hijriah (915 Masehi), al-Ṭabarī berhasil menyatukan tradisi profetik, sejarah imperium-imperium kuno, dan dinamika politik kekhalifahan ke dalam satu narasi universal yang otoritatif dan tak tertandingi.

Pentingnya karya ini diakui secara luas oleh para sarjana kontemporer; Fred Donner menyatakan bahwa Tārīkh al-Ṭabarī adalah produk representatif sekaligus "mahkota kemuliaan" dari tradisi historiografi Islam awal. Kitab ini bukan hanya menjadi sumber utama bagi rekonstruksi sejarah Islam awal, tetapi juga merepresentasikan upaya untuk mendemonstrasikan bahwa Islam adalah agama yang benar melalui narasi sejarah induk yang komprehensif. Dalam konteks dunia Islam abad pertengahan, apresiasi terhadap karya ini sangat besar hingga dilaporkan terdapat setidaknya dua puluh salinan di setiap perpustakaan besar, dan ratusan penyalin naskah menggantungkan hidup mereka dengan menyalin karya bervolume besar ini untuk kepentingan perpustakaan maupun individu.

Profil Biografis: Sang Polimatik dari Tabaristan

Memahami kedalaman Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk memerlukan tinjauan mendalam terhadap sosok penulisnya, al-Ṭabarī, yang merupakan seorang polimatik dengan disiplin ilmu yang luas. Lahir di Amol, sebuah distrik pegunungan di Persia yang berbatasan dengan Laut Kaspia, pada tahun 225 H (sekitar 838-839 M), al-Ṭabarī menunjukkan bakat intelektual yang luar biasa sejak usia dini. Ayahnya, setelah bermimpi melihat al-Ṭabarī berdiri di depan Nabi Muhammad SAW dengan tas penuh batu kecil yang ia sebarkan, menafsirkan mimpi tersebut sebagai pertanda bahwa anaknya akan menjadi pembela agama Allah. Keyakinan ini mendorong sang ayah untuk memberikan pendidikan terbaik di bawah bimbingan para ulama terkemuka.

Al-Ṭabarī mencapai kematangan intelektual melalui pengembaraan ilmu yang sangat luas. Ia meninggalkan rumahnya pada usia dua belas tahun untuk menimba ilmu di pusat-pusat peradaban seperti Ray, Baghdad, Basra, Kufa, Mesir, dan Beirut. Di Baghdad, ia awalnya berniat untuk berguru pada Ahmad ibn Hanbal, namun sang imam wafat tepat sebelum al-Ṭabarī tiba. Meskipun demikian, ia melanjutkan studinya dan menguasai hukum Islam dari berbagai mazhab, termasuk Hanafi, Syafii, Maliki, dan Zahiri, sebelum akhirnya mengembangkan ijtihad mandiri dan mendirikan mazhabnya sendiri yang dikenal sebagai Mazhab Jariri.

Kemandirian ekonomi al-Ṭabarī, yang diperoleh dari warisan keluarganya di Tabaristan, memungkinkannya untuk menolak posisi hakim atau jabatan pemerintahan lainnya. Hal ini memberikan kebebasan luar biasa baginya untuk fokus sepenuhnya pada penulisan dan pengajaran. Ia digambarkan sebagai sosok yang memiliki disiplin kerja yang sangat tinggi; para muridnya menghitung bahwa ia menulis rata-rata empat puluh lembar (delapan puluh halaman) setiap hari selama delapan puluh lima tahun hidupnya. Kedudukannya tidak hanya sebagai sejarawan, tetapi juga sebagai ahli tafsir al-Qur'an terkemuka, ahli hadis, juru hukum, dan filsuf yang memiliki pandangan holistik terhadap ilmu pengetahuan.

buku Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk Karya Al-Ṭabarī

Metodologi Epistemologis: Integrasi Ilmu Hadis dalam Historiografi

Inovasi metodologis al-Ṭabarī dalam Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk terletak pada transformasi aparatus yuridis-teologis dari ilmu hadis menjadi fondasi empiris bagi penulisan sejarah. Al-Ṭabarī tidak bertindak sebagai pengarang yang membangun narasi tunggal yang otoriter, melainkan sebagai seorang editor dan kritikus sumber yang menyajikan sejarah sebagai korpus laporan (khabar) yang masing-masing didukung oleh rantai transmisi (isnad). Pendekatan ini menciptakan ruang dialogis di mana kebenaran sejarah harus dikonstruksi oleh pembaca melalui proses evaluasi kritis terhadap sumber-sumber yang disajikan.

Penggunaan isnad dalam karya sejarah merupakan langkah revolusioner karena sebelumnya genre tārīkh dianggap kurang memiliki ketelitian ilmiah jika dibandingkan dengan ilmu hadis. Dengan mencantumkan isnad yang lengkap untuk setiap laporan, al-Ṭabarī menerapkan standar kritik perawi ('ilm al-rijal) ke dalam narasi sejarah. Ia secara sadar memprioritaskan kesetiaan terhadap materi sumber daripada koherensi naratif. Hal ini sering kali menghasilkan penyajian beberapa versi dari peristiwa yang sama yang terkadang saling bertentangan, namun al-Ṭabarī membiarkannya tanpa resolusi untuk memungkinkan pembaca memahami spektrum tradisi lisan yang ada pada masanya.

Penggunaan Terminologi dan Struktur Naratif

Dalam menyampaikan laporan, al-Ṭabarī menggunakan istilah teknis seperti haddathanā (telah menceritakan kepada kami) dan haddathanī (telah menceritakan kepadaku). Perbedaan halus dalam terminologi ini sangat penting; haddathanī menunjukkan bahwa informasi diterima secara pribadi, sedangkan haddathanā menunjukkan penerimaan dalam forum kolektif. Al-Ṭabarī juga secara ekstensif menggunakan kutipan puisi kuno, orasi, khotbah, dan korespondensi resmi untuk memberikan kredibilitas pada peristiwa sejarah serta memberikan "vitalitas" pada narasi yang disampaikan. Penggunaan puisi, khususnya, dianggap penting untuk mendokumentasikan peristiwa atau mengklarifikasi poin-poin tertentu dalam sejarah suku-suku Arab.

Meskipun ia berusaha untuk bersikap netral dan tidak memihak dalam menyajikan perbedaan pendapat, kecenderungan pribadinya terkadang muncul melalui pemilihan laporan yang ia sertakan atau abaikan. Namun, secara umum, ia tetap berkomitmen pada metode penyajian peristiwa secara kronologis (tahun demi tahun) untuk periode Islam, sementara untuk periode pra-Islam ia menggunakan pendekatan tematik berdasarkan kehidupan para nabi dan suksesi raja-raja.

Kosmogoni dan Prasejarah: Dari Penciptaan hingga Era Para Nabi

Bagian awal dari Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk didedikasikan untuk sejarah universal sebelum Islam, yang oleh al-Ṭabarī dipandang sebagai sejarah keselamatan monoteisme asli yang kemudian menjadi kabur oleh penyembahan berhala sebelum akhirnya dimurnikan kembali oleh Nabi Muhammad SAW. Narasi dimulai dengan diskusi mendalam tentang sifat waktu dan penciptaan alam semesta oleh Allah. Volume pertama dari terjemahan modern karya ini mencakup periode dari penciptaan hingga banjir besar pada masa Nuh, yang menyinkronkan spekulasi tentang sejarah awal umat manusia dengan fokus Muslim yang tajam.

Al-Ṭabarī memberikan perhatian yang luar biasa pada kisah para nabi dan patriarki, yang ia sajikan bukan sebagai narasi linier sederhana, melainkan sebagai subjek perdebatan ilmiah di kalangan ahli tradisi. Contoh faktual yang menonjol adalah perdebatan mengenai siapa putra Ibrahim yang hendak dikurbankan—apakah Ishak atau Ismail—di mana al-Ṭabarī menyusun otoritas pendukung dari kedua belah pihak secara sistematis. Sebaliknya, kisah Yusuf disajikan dalam narasi yang lebih linier dan sangat mirip dengan akun biblika, dengan tambahan detail yang sering kali tidak ditemukan dalam al-Qur'an, seperti nama rekan-rekan Yusuf di penjara atau warna anjing para pemuda gua (Ashabul Kahfi).

buku Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk Karya Al-Ṭabarī

Epik Persia dan Sassanid: Transisi Kekuasaan Timur Kuno

Salah satu aspek paling unik dari Tārīkh al-Ṭabarī adalah cakupannya yang sangat luas mengenai sejarah Persia, khususnya Dinasti Sassanid yang memerintah selama empat abad sebelum kebangkitan Islam. Fokus ini mencerminkan latar belakang budaya al-Ṭabarī sebagai orang Persia serta pentingnya sejarah Iran sebagai salah satu pilar peradaban yang memicu lahirnya tatanan baru di bawah Islam. Al-Ṭabarī menggunakan sumber-sumber Persia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab untuk menyusun sejarah yang sangat detail mengenai asal-usul, peperangan, dan intrik istana para penguasa Sassanid.

Volume lima dari sejarah al-Ṭabarī secara khusus mendokumentasikan peperangan yang berlangsung berabad-abad antara Imperium Sassanid dan Bizantium Yunani. Al-Ṭabarī melihat perjuangan titanik ini sebagai jalan yang membuka ruang bagi kemunculan iman baru. Ia merinci suksesi raja-raja mulai dari Ardashir I hingga Yazdegerd III, serta kebijakan mereka terhadap negara-negara penyangga seperti kerajaan Lakhmid di Al-Hirah yang bertugas melindungi perbatasan dari serangan suku Bedouin. Deskripsi tentang Battle of Dhu Qar, di mana suku Arab berhasil mengalahkan pasukan Persia, disajikan sebagai tanda awal pergeseran kekuasaan yang kelak akan disempurnakan oleh tentara Islam.

Ketelitian al-Ṭabarī dalam menyusun kronologi pra-Islam juga patut dicatat. Ia mencoba menghitung jarak waktu antara tokoh-tokoh besar, misalnya memperkirakan 303 tahun antara Alexander Agung dan Yesus, serta 920 tahun antara Alexander dan peristiwa Hijrah. Meskipun fokus utamanya adalah Persia, ia juga memberikan ruang bagi sejarah kerajaan-kerajaan Yaman (Tababi'ah) meskipun ia mengakui kesulitan dalam menyusun urutan raja yang tidak terputus karena kurangnya data kronologis yang konsisten dari wilayah tersebut.

Fajar Islam: Sīrah Nabawiyyah dan Transformasi Arab

Transisi naratif al-Ṭabarī dari sejarah kuno ke era Islam ditandai dengan perubahan format penulisan. Jika periode pra-Islam bersifat tematis-biografis, maka periode Islam disajikan secara annalistik atau tahun demi tahun. Al-Ṭabarī memulai sejarah Islam dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW di Mekkah, merinci silsilahnya dalam suku Quraisy, masa mudanya, dan awal menerima wahyu. Ia mengandalkan karya-karya awal seperti milik Ibn Ishaq, namun dengan pendekatan hadis yang lebih ketat dalam penyajian isnad.

Fokus utama pada masa kenabian mencakup peristiwa-peristiwa transformatif seperti Hijrah ke Madinah, pembangunan komunitas Muslim pertama, dan peperangan besar (Maghazi) seperti Badar, Uhud, dan Khandaq. Al-Ṭabarī mendokumentasikan dengan sangat rinci berbagai delegasi kesukuan yang datang menyatakan tunduk pada otoritas Islam serta surat-surat diplomatik yang dikirimkan Nabi kepada penguasa dunia seperti Kaisar Bizantium dan Kisra Persia. Salah satu momen faktual yang disajikan dengan sangat detail adalah pernikahan Nabi dengan Zaynab bint Jahsh dan "Kisah Kebohongan" (Hadith al-Ifk) yang melibatkan fitnah terhadap Aisyah RA, yang ia gunakan untuk menunjukkan dinamika internal komunitas Madinah.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 11 H, al-Ṭabarī merinci krisis suksesi di Saqifah Bani Sa'idah dan pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Narasi berlanjut pada Perang Ridda (perang melawan kemurtadan) yang krusial untuk mempertahankan integritas negara Islam yang baru lahir. Al-Ṭabarī melihat periode ini sebagai ujian fundamental bagi keberlangsungan risalah Islam setelah wafatnya sang pembawa wahyu.

Era Rashidun: Suksesi, Penaklukan, dan Fitnah Pertama

Pemerintahan empat khalifah pertama (Al-Khulafa al-Rashidun) menempati ruang yang signifikan dalam Tārīkh al-Ṭabarī. Ia mendokumentasikan ekspansi militer yang luar biasa di bawah Umar bin Khattab, termasuk penaklukan Suriah, Irak, dan Mesir. Al-Ṭabarī cenderung memberikan lebih banyak ruang untuk mendokumentasikan pertempuran dan pemberontakan politik (bahkan yang kecil sekalipun) dibandingkan dengan masalah-masalah sosial sehari-hari seperti perpajakan atau industri, meskipun data mengenai administrasi wilayah penaklukan tetap tersirat dalam narasinya.

Salah satu kontribusi terbesar al-Ṭabarī untuk periode ini adalah catatannya tentang transisi kekuasaan dan munculnya benih-benih konflik internal. Ia memberikan laporan mendalam tentang pembunuhan Utsman bin Affan yang memicu Perang Saudara Pertama (Al-Fitnah al-Kubra). Pertempuran Jamal (Battle of the Camel) dan Pertempuran Siffin antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan disajikan melalui serangkaian pidato dan dialog yang dramatis. Al-Ṭabarī menggunakan dialog-dialog ini bukan hanya untuk menginformasikan pembaca tentang peristiwa militer, tetapi juga untuk mengungkapkan argumen legal dan teologis dari masing-masing pihak yang terlibat.

buku Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk Karya Al-Ṭabarī

Hegemoni Umayyah: Dinasti, Karbala, dan Perlawanan

Pembentukan Dinasti Umayyah di bawah Muawiyah I menandai pergeseran dari kepemimpinan berbasis konsensus ke sistem kekaisaran turun-temurun. Al-Ṭabarī mencatat pengambilan sumpah setia untuk Yazid bin Muawiyah sebagai peristiwa kontroversial yang mengubah sifat kekhalifahan. Salah satu bagian paling emosional dan mendalam dalam seluruh karya al-Ṭabarī adalah laporannya mengenai Tragedi Karbala pada tahun 61 H. Ia melestarikan beberapa tulisan sejarah paling awal mengenai subyek ini, yang menunjukkan betapa pentingnya peristiwa tersebut dalam memori kolektif Muslim pada abad ke-10.

Laporan faktual al-Ṭabarī mengenai Karbala mencakup detail tentang penolakan Husayn bin Ali untuk memberikan baiat kepada Yazid, korespondensi dengan penduduk Kufah, hingga pengepungan di padang Karbala. Ia menggambarkan kesedihan dan keberanian keluarga Nabi di hadapan pasukan Umayyah dengan sangat detail, termasuk kata-kata terakhir Husayn dan pengorbanan para pengikutnya. Ruang yang diberikan untuk peristiwa ini menunjukkan bahwa al-Ṭabarī, meskipun seorang Sunni, mengakui sentralitas penderitaan keluarga Nabi dalam narasi sejarah Islam.

Selain Karbala, al-Ṭabarī juga mencatat pemberontakan serius lainnya terhadap Umayyah, seperti gerakan Abdullah bin al-Zubayr di Mekkah dan kebangkitan gerakan pro-Alid di timur. Ia mendokumentasikan reformasi administratif di bawah Abdul Malik bin Marwan dan perluasan wilayah ke arah timur hingga Transoxiana dan barat hingga Andalusia. Namun, ia juga menyoroti melemahnya dinasti ini akibat pertikaian internal di antara para pangeran Marwanid, yang akhirnya membuka jalan bagi Revolusi Abbasid.

Puncak dan Krisis Abbasid: Perang Saudara dan Pemberontakan Zanj

Historiografi al-Ṭabarī mencapai detail puncaknya pada periode Abbasid, di mana ia memiliki akses ke catatan resmi, korespondensi diplomatik, dan kesaksian lisan yang melimpah. Ia mendokumentasikan dengan cermat kejatuhan Umayyah melalui gerakan rahasia Abu Muslim al-Khurasani dan berdirinya Baghdad sebagai pusat kekuasaan baru. Era Harun al-Rashid disajikan sebagai masa keseimbangan kekuatan dengan Byzantium, namun juga ditandai dengan intrik internal yang dramatis seperti kejatuhan keluarga wazir Barmakid yang sangat kuat.

Perang Saudara Al-Amin dan Al-Ma'mun

Salah satu contoh faktual paling komprehensif adalah laporan al-Ṭabarī mengenai perang saudara antara dua putra Harun al-Rashid, yaitu al-Amin dan al-Ma'mun (809-813 M). Al-Ṭabarī merinci dokumen suksesi yang ditandatangani di Mekkah dan disimpan di dalam Ka'bah, yang kemudian dirobek oleh al-Amin untuk mencalonkan putranya sendiri sebagai pewaris. Konflik ini digambarkan sebagai perang yang menghancurkan, dengan detail tentang pengepungan Baghdad yang berlangsung selama setahun lebih (812-813 M).

Al-Ṭabarī mencatat penggunaan taktik perang kota yang brutal, termasuk penggunaan mesin pengepung yang menghujani Baghdad dengan naphtha (api cair). Ia juga mendokumentasikan aspek ekonomi dari perang tersebut, seperti pajak paksa yang dikenakan pasukan al-Ma'mun kepada para pedagang kapal kargo yang menyebabkan lonjakan harga pangan. Laporan saksi mata tentang jam-jam terakhir al-Amin sebelum dieksekusi oleh pasukan Tahir bin Husayn memberikan gambaran yang sangat intim dan tragis tentang keruntuhan otoritas khalifah di Baghdad.

Pemberontakan Zanj dan Anarki di Samarra

Al-Ṭabarī memberikan laporan unik dan tak tertandingi mengenai Pemberontakan Zanj (869-883 M), sebuah perlawanan besar oleh budak-budak Afrika dan petani di rawa-rawa Irak Selatan. Karena ia hadir di Baghdad selama pemberontakan berlangsung, laporannya didasarkan pada laporan banyak saksi mata langsung. Ia merinci bagaimana pemimpin pemberontakan, Ali bin Muhammad, mengklaim keturunan Alid untuk memobilisasi massa dan membangun ibu kota pemberontak yang disebut al-Mukhtara.

Deskripsi al-Ṭabarī tentang pertempuran sungai di kanal-kanal Irak Selatan mencakup detail teknis tentang pembangunan bendungan tanah dan jembatan, serta penggunaan "perang kimia" menggunakan naphtha untuk membakar kapal kayu lawan. Ia juga mencatat konsekuensi sosial yang mengerikan dari konflik ini, termasuk pembebasan ribuan tawanan wanita setelah jatuhnya al-Mukhtara dan dampak jangka panjang terhadap ekonomi pertanian di Basra. Bagian ini menunjukkan ketajaman al-Ṭabarī dalam mendokumentasikan krisis yang mengancam jantung kekhalifahan.

buku Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk Karya Al-Ṭabarī

Dimensi Sastra dan Budaya: Puisi, Orasi, dan Diplomasi

Meskipun sering dianggap sebagai karya sejarah yang "kering" karena ketergantungannya pada fakta, Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk sebenarnya kaya akan elemen sastra. Al-Ṭabarī sering memasukkan teks-teks lengkap dari korespondensi resmi, pidato, dan khotbah untuk memberikan nuansa autentik pada narasinya. Misalnya, ia menyertakan surat nasihat Tahir bin Husayn kepada putranya, yang dianggap sebagai salah satu contoh awal genre "Cermin bagi Pangeran" (Mirrors for Princes) dalam sastra Muslim.

Penggunaan puisi kuno juga menjadi ciri khas yang menonjol. Al-Ṭabarī berpendapat bahwa merujuk pada puisi sangat membantu dalam mendokumentasikan peristiwa sejarah atau mengklarifikasi dialek dan budaya Arab pra-Islam. Ia bahkan menyatakan bahwa jika bukan karena risiko membuat bukunya terlalu tebal, ia akan memasukkan semua puisi tentang suku 'Ad dan Thamud dari penyair masa jahiliyah. Puisi-puisi ini berfungsi untuk menghidupkan suasana masa lalu dan memberikan konteks emosional yang sering kali tidak tertangkap oleh narasi kronologis murni.

Selain itu, al-Ṭabarī sangat teliti dalam mempertahankan kata-kata non-Arab dalam bahasa aslinya saat menyalin teks sejarah, yang menunjukkan penghormatannya terhadap integritas sumber. Ia juga mencatat anekdot-anekdot sastra tentang karakter tokoh-tokoh sejarah, seperti anekdot tentang sifat al-Amin atau gaya hidup para khalifah di Samarra, yang memberikan dimensi manusiawi pada tokoh-tokoh politik tersebut.

Analisis Kritik Sumber dan Verifikasi Data

Keandalan Tārīkh al-Ṭabarī sebagai sumber sejarah sering menjadi perdebatan karena pendekatannya yang memasukkan semua narasi yang sampai kepadanya tanpa melakukan penyaringan ketat berdasarkan kriteria kebenaran modern. Al-Ṭabarī sendiri memberikan peringatan di bagian pendahuluan bahwa karyanya mungkin berisi informasi yang dianggap tidak menyenangkan atau salah oleh pembaca. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab atas kebenaran laporan tersebut terletak pada para perawinya, sementara ia hanya bertugas melaporkan apa yang telah dilaporkan kepadanya.

Kritik terhadap al-Ṭabarī mencakup:

  • Penggunaan Narasi Isrā’īliyyāt: Al-Ṭabarī menggunakan materi dari tradisi Yahudi dan Kristen untuk mengisi kekosongan narasi tentang para nabi, yang oleh sebagian ulama dianggap mencemari kemurnian sejarah Islam.
  • Perawi yang Tidak Tepercaya: Kitab ini mengandung ribuan tradisi dari perawi yang dituduh berbohong oleh para ahli hadis, seperti Sayf bin Umar (700 tradisi) dan Abu Mikhnaf (612 tradisi).
  • Kurangnya Penilaian Kritis: Al-Ṭabarī sering kali menyajikan laporan yang kontradiktif tanpa memberikan resolusi atau komentar kritis, sehingga menyerahkan interpretasi sepenuhnya kepada pembaca.

Namun, dari perspektif historiografi modern, pendekatan ini justru dianggap sebagai kelebihan karena al-Ṭabarī berhasil melestarikan teks-teks kuno yang mungkin akan hilang jika ia melakukan sensor. Fred Donner berpendapat bahwa al-Ṭabarī memprioritaskan transparansi bukti di atas koherensi naratif, menjadikannya pionir dalam metode kritik sumber berbasis data.

Kritik dan Penerimaan: Dari Hanbali hingga Orientalis Modern

Masa-masa terakhir kehidupan al-Ṭabarī ditandai dengan konflik tajam dengan kelompok Hanbali di Baghdad. Konflik ini dipicu oleh pandangan al-Ṭabarī bahwa Ahmad ibn Hanbal bukanlah seorang fakih (ahli hukum), melainkan hanya seorang pengumpul hadis. Selain itu, al-Ṭabarī menolak beberapa doktrin Hanbali yang ia anggap inovasi agama. Akibatnya, rumah al-Ṭabarī sering dilempari batu oleh pengikut al-Barbahari, seorang tokoh Hanbali radikal, dan ia praktis terisolasi di rumahnya sendiri hingga wafat. Pihak berwenang Abbasid bahkan harus menguburkannya secara rahasia untuk menghindari kekerasan massa.

Meskipun menghadapi penganiayaan di akhir hayatnya, pengaruh karya al-Ṭabarī tetap abadi. Para sejarawan besar generasi berikutnya seperti Ibn al-Athir dan Ibn Khaldun mengakui al-Ṭabarī sebagai otoritas utama mereka. Ibn al-Athir dalam karyanya Al-Kamil fi al-Tarikh mengambil al-Ṭabarī sebagai sumber utama untuk periode awal Islam. Di dunia Barat, upaya penyuntingan edisi Leiden oleh M.J. de Goeje pada abad ke-19 dan terjemahan SUNY Press sebanyak 40 volume pada abad ke-20 telah menjadikan karya ini dapat diakses oleh sarjana internasional.

Sarjana modern seperti Michael Fishbein dan Franz Rosenthal memuji ketelitian al-Ṭabarī dalam mempertahankan keaslian dialek dan gaya bahasa sumber-sumbernya. Meskipun ada kritik tentang bias yang mungkin muncul dari pemilihan sumbernya, konsensus ilmiah tetap memandang Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk sebagai sumber primer yang paling lengkap untuk memahami formasi peradaban Islam.

buku Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk Karya Al-Ṭabarī

Kesimpulan: Warisan Abadi Al-Ṭabarī bagi Peradaban Dunia

Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk bukan sekadar kronik masa lalu; ia adalah sebuah monumen intelektual yang mendefinisikan cara umat Muslim melihat diri mereka sendiri dalam arus sejarah dunia. Dengan mengintegrasikan tradisi kenabian, kejayaan imperium kuno, dan realitas politik kekhalifahan ke dalam satu kerangka metodologis yang disiplin, al-Ṭabarī menciptakan sebuah standar historiografi yang tidak pernah benar-benar terlampaui selama berabad-abad. Kekuatan utamanya terletak pada komitmennya terhadap pelestarian narasi—bahkan yang paling kontroversial sekalipun—melalui sistem isnad yang transparan.

Meskipun al-Ṭabarī harus membayar harga yang mahal atas kemandirian intelektualnya melalui penganiayaan oleh kelompok tradisionalis di Baghdad, karyanya melampaui batasan zamannya. Ia memberikan data yang memungkinkan setiap generasi sarjana berikutnya, baik Muslim maupun non-Muslim, untuk mengevaluasi kembali akar-akar peradaban Islam. Dalam dunia yang sering kali didominasi oleh narasi sejarah tunggal yang disederhanakan, al-Ṭabarī menawarkan sebuah model sejarah yang pluralistik, berdasar pada bukti, dan mengakui kompleksitas perjalanan manusia di bawah naungan ketetapan Ilahi. Warisan al-Ṭabarī akan terus menjadi titik referensi yang tak terhindarkan bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana fajar Islam menyinari transisi dari dunia kuno menuju peradaban modern.

Sitasi:

AbeBooks. (n.d.). The history of al-Ṭabarī Vol. 31: The war between brothers. Retrieved January 23, 2026, from https://www.abebooks.com/9780791410868/History-al-abar%C4%AB-Vol-Brothers-Caliphate-0791410862/plp

Advice for Paradise. (n.d.). The history of al-Tabari. Retrieved January 23, 2026, from https://adviceforparadise.com/media/books/Tabari_Volume_05.pdf

Ahmed Amiruddin, S. (2016). Tragedy of Karbala as reported by Al-Tabari. Retrieved January 23, 2026, from https://ahmedamiruddin.wordpress.com/wp-content/uploads/2016/07/karbala.pdf

Al-Ṭabarī, M. ibn J. (2010). Tārīkh al-rusul wa al-mulūk (M. J. de Goeje, Ed.). Brill.

Al-Islam.org. (n.d.). Karbala, the chain of events. Retrieved January 23, 2026, from https://al-islam.org/articles/karbala-chain-events

Al-Munir. (n.d.). Analysis and critique of the isra'iliyat narratives. Retrieved January 23, 2026, from https://jurnalalmunir.com/index.php/al-munir/article/download/953/103/

Archive.org. (n.d.). The history of al-Tabari. Retrieved January 23, 2026, from https://archive.org/download/tabarivolume05/Tabari_Volume_05.pdf

Barnes & Noble. (n.d.). The history of al-Ṭabarī Vol. 36: The revolt of the Zanj. Retrieved January 23, 2026, from https://www.barnesandnoble.com/w/the-history-of-al-abari-vol-36-david-waines/1143051148

Britannica. (n.d.). Muhammad ibn Jarir al-Tabari. Retrieved January 23, 2026, from https://www.encyclopedia.com/people/history/historians-miscellaneous-biographies/tabari

Digilib UIN Sunan Kalijaga. (n.d.). Classical Islamic historiography in early Moslem and orientalist historiographical works. Retrieved January 23, 2026, from https://digilib.uin-suka.ac.id/57291/1/Classical%20Islamic%20Historiography%20in%20Early%20Moslem%20and%20Orientalist%20Historiographical%20Works.pdf

Diva Portal. (n.d.). Governance and economics in early Islamic historiography. Retrieved January 23, 2026, from http://www.diva-portal.org/smash/get/diva2:607864/FULLTEXT01.pdf

EBSCO. (n.d.). History of al-Tabarī. Retrieved January 23, 2026, from https://www.ebsco.com/research-starters/literature-and-writing/history-al-tabari

GAJRC. (n.d.). Biography and historical works of Imam Abu Ja'afar Ibn Jarir Al-Tabari. Retrieved January 23, 2026, from https://www.gajrc.com/media/articles/GAJHSS_11_1-5_kF4WLeY.pdf

Goodreads. (n.d.). The history of al-Tabari, volume 31. Retrieved January 23, 2026, from https://www.goodreads.com/book/show/532299

Gulf News. (n.d.). Al Tabari: A life dedicated to history and law. Retrieved January 23, 2026, from https://gulfnews.com/lifestyle/al-tabari-a-life-dedicated-to-history-and-law-1.1293439

Hampton Institute. (n.d.). Against ignoring race: The Zanj revolution as Black slave revolt. Retrieved January 23, 2026, from https://www.hamptonthink.org/read/against-ignoring-race-the-zanj-revolution-as-black-slave-revolt

ICEHM. (n.d.). The methods of research used by Ibn Jarir Al-Tabari in his Qur’anic exegesis. Retrieved January 23, 2026, from https://icehm.org/images/upload/8387ED0115073.pdf

iscience.uz. (n.d.). Fundamental historical events in the book Tarikh ar-rusul wa-l-muluk. Retrieved January 23, 2026, from https://ijpsss.iscience.uz/index.php/ijpsss/article/download/199/184/344

Islamic Sciences. (2006). Israiliyyat in tafsir: Shaykh Ahmad Shakir’s view. Retrieved January 23, 2026, from https://islamicsciences.wordpress.com/2006/09/03/israiliyat-in-tafsir-shaykh-ahmad-shakirs-view/

Kalamullah.com. (n.d.). The history of al-Tabari. Retrieved January 23, 2026, from https://www.kalamullah.com/Books/The%20History%20Of%20Tabari/Tabari_Volume_31.pdf

Leiden University Libraries. (n.d.). The history of al-Ṭabarī Vol. I. Retrieved January 23, 2026, from https://catalogue.leidenuniv.nl/discovery/fulldisplay?vid=31UKB_LEU%3AUBL_V1&docid=alma990002101250302711

Mahajjah. (n.d.). Section three: His methodology in writing his Tarikh. Retrieved January 23, 2026, from https://mahajjah.com/section-three-his-methodology-in-writing-his-tarikh/

Mahajjah. (n.d.). Module three: Tarikh al-rusul wa al-muluk of Imam al-Tabari. Retrieved January 23, 2026, from https://mahajjah.com/module-three-tarikh-al-rusul-wa-al-muluk-of-imam-al-tabari-section-one-the-nature-of-the-tarikh-of-imam-al-tabari-and-its-academic-significance/

New Age Islam. (n.d.). How reliable is Tarikh al-Tabari? Retrieved January 23, 2026, from https://www.newageislam.com/islamic-personalities/ghulam-ghaus-siddiqi-new-age-islam/how-reliable-tarikh-al-tabari-history-tabari/d/130157

Open Library. (n.d.). Tarikh al-rusul wa al-muluk. Retrieved January 23, 2026, from https://openlibrary.org/books/OL22894973M/Tarikh_al-rusul_wa_al-muluk

Reddit. (n.d.). Is the history of al-Tabari an historically reliable source? Retrieved January 23, 2026, from https://www.reddit.com/r/AcademicQuran/comments/1i83ntm/is_the_history_of_altabari_an_historically/

Semantic Scholar. (n.d.). The life and work of Muhammad Ibn Jarir al-Tabari. Retrieved January 23, 2026, from https://pdfs.semanticscholar.org/2d16/ffb0c3abcf4625931115d494bf1c4d397ca3.pdf

Wikipedia. (n.d.). Al-Tabari. Retrieved January 23, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Tabari

Wikipedia. (n.d.). History of the Prophets and Kings. Retrieved January 23, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_Prophets_and_Kings

Wikipedia. (n.d.). Tafsir al-Tabari. Retrieved January 23, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/Tafsir_al-Tabari

YasSarNalQuR’aN. (2016). Library update: The history of al-Tabari. Retrieved January 23, 2026, from https://yassarnalquran.wordpress.com/2016/09/17/library-update-the-history-of-al-tabari/

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment