Studi Peradaban India dalam Kitāb al-Hind Karya Al-Bīrūnī: Analisis Komprehensif
Konteks Historis dan Latar Belakang Intelektual
Kehadiran Al-Bīrūnī di anak benua India pada awal milenium kedua masehi merupakan hasil dari pergeseran peta politik di Asia Tengah dan Asia Selatan. Al-Bīrūnī, yang lahir di Khwarizm pada tahun 973 M, pada awalnya merupakan ilmuwan terkemuka di wilayah asalnya sebelum wilayah tersebut ditaklukkan oleh Sultan Maḥmūd dari Ghaznī pada tahun 1017 M. Sebagai bagian dari "harta karun manusia" yang dibawa ke Ghaznī setelah penaklukan tersebut, Al-Bīrūnī dipekerjakan dalam retribusi kerajaan, sering kali sebagai astrolog pribadi sultan, meskipun secara intelektual ia sering mencemooh praktik astrologi yang bersifat prediktif tanpa dasar ilmiah.
Penulisan Kitab al-Hind terjadi dalam kurun waktu antara tahun 1017 hingga 1030 M, periode di mana pasukan Ghaznavid melakukan serangkaian kampanye militer ke wilayah Punjab dan pusat-pusat populasi lainnya di India Utara. Meskipun berada di bawah perlindungan sultan, Al-Bīrūnī tidak ragu untuk mengkritik dampak destruktif dari invasi militer Maḥmūd terhadap kemakmuran dan pusat-pusat pendidikan Hindu. Kerusakan fisik dan trauma sosiopsikologis yang ditimbulkan oleh peperangan tersebut dicatat oleh Al-Bīrūnī sebagai salah satu hambatan utama bagi terciptanya dialog yang jujur antara peradaban Islam dan India, karena masyarakat Hindu cenderung menutup diri dan membenci bangsa asing yang dianggap telah menghancurkan tanah air mereka.
Dalam kerangka intelektual yang lebih luas, Al-Bīrūnī termotivasi untuk menulis karya ini karena ia merasa literatur Muslim pada masanya mengenai India sangatlah dangkal, tidak sistematis, dan dipenuhi oleh informasi tangan kedua yang tidak teruji. Ia berupaya menyediakan sumber informasi yang otoritatif bagi pembaca Muslim yang ingin berdialog dengan orang India mengenai masalah agama, sains, dan sastra tanpa prasangka. Keinginannya untuk memahami kebenaran membawanya mempelajari bahasa Sanskerta, bahasa suci dan ilmiah India yang pada masa itu sangat tertutup bagi orang asing, terutama mereka yang dianggap mleccha (tidak murni) oleh tradisi ortodoks Hindu.
Analisis Judul dan Kerangka Filosofis
Judul Taḥqīq mā li-l-Hind min maqūlah maqbūlah fī al-ʿaql aw mardhūlah secara harfiah mencerminkan metode taḥqīq atau verifikasi kritis yang menjadi inti dari karya Al-Bīrūnī. Penggunaan kata maqbūlah (yang diterima) dan mardhūlah (yang ditolak atau tercela) tidak merujuk pada penilaian moral atau keagamaan sempit, melainkan pada evaluasi rasional berdasarkan standar logika dan fakta empiris.
Kerangka epistemik Al-Bīrūnī didasarkan pada keyakinan bahwa kebenaran harus dicari dari mana pun asalnya, sebuah prinsip yang ia dukung dengan kutipan dari Al-Qur'an mengenai kewajiban untuk mengatakan kebenaran meskipun itu memberatkan diri sendiri. Dalam membagi informasi menjadi dua kategori tersebut, Al-Bīrūnī menerapkan "saringan kritis" sebagai berikut:
1. Kategori Maqbūlah (Rasional/Dapat Diterima): Ini mencakup pencapaian intelektual India yang memiliki dasar logika yang kuat atau bukti empiris, seperti sistem angka, konsep nol dalam matematika, observasi astronomi yang akurat, serta prinsip-prinsip monoteisme abstrak yang dipegang oleh kaum intelektual Hindu.
2. Kategori Mardhūlah (Irasional/Tertolak): Kategori ini mencakup mitologi rakyat yang bertentangan dengan hukum alam, takhayul yang tidak memiliki dasar ilmiah, serta praktik-praktik sosial yang ia anggap melanggar hukum alam, seperti konsep polusi sosial yang permanen dalam sistem kasta.
Meskipun ia mengategorikan beberapa hal sebagai irasional, Al-Bīrūnī tetap mencatatnya dengan kejujuran intelektual yang tinggi agar pembaca dapat memahami struktur berpikir masyarakat India secara utuh.
Metodologi Penelitian dan Pendekatan Fenomenologis
Al-Bīrūnī dianggap sebagai pionir fenomenologi karena ia menerapkan metode "penangguhan penilaian" (epoche atau bracketing) saat mendeskripsikan kepercayaan orang lain. Ia menegaskan bahwa bukunya bukanlah karya polemik atau perdebatan yang bertujuan untuk menyalahkan penganut agama lain. Sebaliknya, ia menyajikan pandangan umat Hindu sebagaimana mereka memahaminya sendiri, menggunakan teks-teks primer sebagai dasar argumen.
Pendekatan metodologis Al-Bīrūnī melibatkan beberapa langkah sistematis:
Penguasaan Bahasa Sanskerta
Al-Bīrūnī menyadari bahwa bahasa adalah kunci untuk memahami peradaban. Ia menghabiskan bertahun-tahun untuk menguasai Sanskerta, yang ia gambarkan sebagai bahasa dengan kosa kata yang luar biasa luas dan sistem infleksi yang sangat kompleks, sehingga menyulitkan penerjemahan konsep-konsep filosofis ke dalam bahasa Arab atau Persia. Penguasaan bahasa ini memungkinkannya membaca langsung naskah-naskah penting seperti Bhagavad Gita, Patanjali, Purana, Manusmriti, serta teks-teks ilmiah karya Aryabhata dan Brahmagupta.
Kritik Sumber dan Empirisme
Ia sangat kritis terhadap para penulis Muslim sebelumnya yang hanya mengandalkan kabar angin atau salinan dari karya-karya lain yang tidak diverifikasi. Al-Bīrūnī mengedepankan observasi langsung, wawancara dengan para sarjana Brahmana, dan studi teks primer. Jika ia tidak menemukan bukti yang cukup atau menghadapi ketidakpastian, ia tidak segan untuk menyatakan ketidaktahuannya secara terbuka.
Studi Perbandingan (Comparative Study)
Untuk membantu pembaca Muslim memahami konsep-konsep India yang asing, Al-Bīrūnī sering menarik paralel dengan kebudayaan Yunani kuno. Ia berargumen bahwa baik orang Yunani maupun orang India memiliki spektrum pemikiran yang serupa, di mana kaum terpelajar mencapai kesimpulan filosofis yang abstrak sementara masyarakat awam terjebak dalam mitologi dan penyembahan berhala. Perbandingan ini juga mencakup aspek sosial, seperti membandingkan kasta India dengan struktur kelas di Persia kuno.
Struktur Organisasi Kitab al-Hind
Karya ini disusun secara sangat sistematis dalam 80 bab yang mencakup berbagai aspek kehidupan di India. Struktur naratifnya mengikuti pola yang konsisten: dimulai dengan pertanyaan atau tema tertentu, diikuti oleh deskripsi berdasarkan tradisi Sanskerta, dan diakhiri dengan analisis kritis atau perbandingan lintas budaya.
Teologi dan Konsep Ketuhanan dalam Pemikiran India
Salah satu kontribusi paling mencerahkan dari Al-Bīrūnī adalah pembedaannya yang tajam antara keyakinan kaum terpelajar (al-khāṣṣ) dan masyarakat awam (al-ʿāmm).
Monoteisme Kaum Intelektual (Isvara)
Melalui studi mendalam atas Patanjali dan Bhagavad Gita, Al-Bīrūnī menyimpulkan bahwa pada tingkat tertinggi, agama Hindu bersifat monoteis. Kaum terpelajar percaya bahwa Tuhan, yang mereka sebut Isvara, adalah satu, kekal, mahakuasa, mahatahu, tidak berawal dan tidak berakhir, bertindak atas kehendak bebas-Nya sendiri, dan melampaui segala bentuk penyerupaan (antropomorfisme). Al-Bīrūnī mengutip sebuah dialog di mana murid bertanya tentang sifat Tuhan, dan guru menjawab bahwa Tuhan adalah "kebaikan yang murni dan mutlak" yang tidak membutuhkan tindakan manusia untuk menjadi besar.
Fenomena Idolatri (Murti Puja)
Al-Bīrūnī mengamati bahwa penyembahan berhala adalah fenomena yang terutama ditemukan di kalangan massa yang tidak terdidik. Ia berargumen bahwa berhala berfungsi sebagai simbol fisik untuk memfokuskan pikiran manusia yang terbatas pada sesuatu yang suci. Al-Bīrūnī menelusuri asal-usul penyembahan gambar ini hingga ke zaman kuno, di mana monumen didirikan untuk menghormati nabi atau orang bijak, yang seiring berjalannya waktu disalahpahami oleh generasi berikutnya sebagai tuhan itu sendiri. Ia mencatat bahwa masyarakat awam memiliki persepsi yang sangat antropomorfis tentang Tuhan, bahkan membayangkan Tuhan memiliki dimensi fisik atau pasangan, sebuah gagasan yang ia anggap sangat keliru namun umum ditemukan dalam sejarah agama-agama.
Doktrin Reinkarnasi (Metempsikosis)
Menurut Al-Bīrūnī, konsep reinkarnasi atau siklus kelahiran kembali adalah "syahadat" atau identitas pengenal agama Hindu, sebagaimana tauhid bagi Islam dan trinitas bagi Kristen. Jiwa (Atman) dianggap bersifat abadi dan terus-menerus berganti wadah fisik berdasarkan akumulasi perbuatan (karma). Proses ini bertujuan untuk mendewasakan jiwa hingga mencapai tingkat intelegensi absolut di mana ia menyadari hakikat dirinya dan Tuhan, yang pada akhirnya mengarah pada pembebasan atau moksha.
Analisis Struktur Sosial: Varna dan Kasta
Al-Bīrūnī memberikan deskripsi sosiologis yang sangat rinci mengenai sistem kasta India, yang ia sebut sebagai varna (warna) atau jataka (kelahiran).
Empat Kasta Utama dan Asal-usul Mitologisnya
Ia mencatat bahwa stratifikasi sosial Hindu didasarkan pada teks-teks keagamaan yang menyatakan bahwa kasta-kasta tersebut diciptakan dari bagian tubuh Dewa Brahma.
1. Brahmana: Tercipta dari kepala Brahma, merupakan kelas tertinggi yang bertugas mempelajari ilmu pengetahuan dan menjalankan upacara kurban.
2. Kshatriya: Tercipta dari tangan dan bahu Brahma, bertugas untuk memerintah dan melindungi rakyat.
3. Vaishya: Tercipta dari paha Brahma, merupakan kelas petani, pedagang, dan tulang punggung ekonomi.
4. Shudra: Tercipta dari kaki Brahma, bertugas melayani tiga kasta di atasnya.
Al-Bīrūnī mengamati bahwa meskipun mereka tinggal di kota yang sama, interaksi sosial diatur secara ketat, terutama dalam hal makan bersama dan perkawinan. Ia mencatat sebuah tren sosiologis di mana pada abad ke-11, perbedaan antara kasta Vaishya dan Shudra mulai menyempit, baik secara hukum maupun praktik sosial.
Kelompok Antyaja dan Luar Kasta
Di luar sistem empat varna, terdapat kelompok yang disebut Antyaja yang dianggap berada di luar struktur masyarakat formal namun memiliki peran ekonomi yang krusial. Al-Bīrūnī mengidentifikasi delapan kategori profesional dalam kelompok ini:
- Penyamak kulit (fuller atau pembersih kain).
- Pembuat sepatu.
- Pemain sulap atau akrobat (juggler).
- Pembuat keranjang dan perisai.
- Pelaut dan nelayan.
- Pemburu hewan liar dan burung.
- Penenun.
Selain itu, terdapat kelompok yang lebih rendah lagi seperti Hodi, Doma, dan Chandala yang dianggap sebagai anak-anak haram menurut opini publik dan bertugas membersihkan desa atau pekerjaan kotor lainnya. Al-Bīrūnī secara kritis menolak konsep polusi atau ketidaksucian bawaan ini, dengan menyatakan bahwa gagasan tersebut bertentangan dengan hukum alam yang selalu mengupayakan pemurnian kembali atas segala sesuatu yang ternoda.
Kontribusi Sains: Matematika, Astronomi, dan Geodesi
Dalam Kitab al-Hind, Al-Bīrūnī mendedikasikan banyak bab untuk mengevaluasi kemajuan ilmiah India, yang ia nilai sebagai salah satu yang paling maju di dunia pada masanya, meski terkadang terhambat oleh tradisi agama.
Matematika dan Angka Nol
Al-Bīrūnī mengakui kejeniusan matematikawan India dalam menemukan sistem nilai tempat (decimal place-value) dan simbol untuk angka nol. Ia menjelaskan bahwa angka-angka yang digunakan di dunia Islam berasal dari bentuk terbaik tanda-tanda Hindu. Al-Bīrūnī secara detail mendeskripsikan penggunaan titik atau lingkaran kecil untuk melambangkan kekosongan atau ketiadaan, sebuah konsep filosofis yang berakar pada meditasi Hindu dan Buddha mengenai kehampaan (sunya).
Ia mengagumi aturan-aturan aritmatika yang dikembangkan oleh Brahmagupta dalam teks Brahmasphutasiddhanta, terutama mengenai operasi dengan angka negatif dan nol.
Astronomi dan Kritik Terhadap Dogmatisme
Al-Bīrūnī mempelajari teks-teks Siddhanta dan mengakui keakuratan observasi India mengenai gerak planet, koordinat selestial, serta metode prediksi gerhana matahari dan bulan. Namun, ia melontarkan kritik pedas terhadap ilmuwan besar seperti Brahmagupta yang menurutnya melakukan "pengkhianatan intelektual" dengan menerima penjelasan religius yang irasional (seperti naga Rahu yang menelan matahari) hanya demi menghindari tuduhan bid'ah dari kaum Brahmana, padahal secara matematis Brahmagupta mengetahui kebenaran penyebab gerhana. Al-Bīrūnī menganggap kemunduran sains India di masa itu disebabkan oleh sikap isolasi diri dan arogansi kaum Brahmana yang menolak belajar dari bangsa lain.
Pengukuran Jari-jari Bumi (Geodesi)
Meskipun metode ini dijelaskan secara lebih rinci dalam karyanya yang lain (Al-Qanun al-Mas'udi), Al-Bīrūnī mencatat pengalaman dan perhitungannya saat berada di wilayah Punjab. Ia mengembangkan metode trigonometri yang sangat efisien untuk mengukur jari-jari bumi dari puncak gunung yang menghadap dataran luas.
Metode Al-Bīrūnī melibatkan pengukuran sudut depresi atau sudut celup (dip angle) cakrawala dari puncak gunung yang telah diketahui tingginya. Dengan menggunakan rumus trigonometri berbasis hukum sinus, ia menghitung jari-jari bumi (R) sebagai berikut:
R = h cos 0/1 - cos 0
Di mana h adalah tinggi gunung dan 0 adalah sudut depresi cakrawala. Hasil perhitungannya (sekitar 6.340 km) hanya berselisih sekitar 1% dari nilai modern (6.371 km), sebuah pencapaian yang spektakuler untuk abad ke-11. Al-Bīrūnī juga menggunakan data ini untuk memprediksi keberadaan daratan lain di samudera luas antara Asia dan Eropa, sebuah spekulasi ilmiah yang sering dianggap sebagai prediksi tentang keberadaan benua Amerika berabad-abad sebelum penemuannya oleh bangsa Eropa.
Geografi, Kronologi, dan Pengetahuan Alam
Al-Bīrūnī menyajikan informasi geografis yang sangat mendalam mengenai wilayah-wilayah yang ia kunjungi atau pelajari, termasuk deskripsi sistem sungai di India Utara, iklim, dan topografi. Ia mencatat peran penting sungai Indus dan anak-anak sungainya bagi peradaban Punjab dan Sindh.
Pengetahuan Paleontologi dan Geologi
Menariknya, Al-Bīrūnī mencatat temuan fosil di dataran tinggi India dan menyimpulkan bahwa wilayah tersebut dulunya merupakan dasar laut yang kemudian terangkat oleh proses geologi yang sangat lama. Ini menunjukkan pemahamannya yang mendalam tentang sejarah bumi yang melampaui mitologi penciptaan tradisional.
Sistem Pengukuran dan Satuan (Metrologi)
Satu bab khusus didedikasikan untuk sistem pengukuran India yang sangat beragam. Ia mendefinisikan satuan jarak Yojana sebagai setara dengan 32.000 yard atau sekitar 8 mil, meskipun ia juga mencatat adanya variasi standar di lokasi yang berbeda. Satuan berat seperti Bharat dan Palas juga dijelaskan secara rinci untuk kepentingan perdagangan dan sains.
Hukum, Adat Istiadat, dan Kehidupan Sosial
Dalam bab-bab terakhir, Al-Bīrūnī mengeksplorasi norma hukum dan kebiasaan sehari-hari yang membedakan masyarakat India dari masyarakat Muslim.
Hukum Perkawinan dan Keluarga
Al-Bīrūnī mengamati bahwa pernikahan di India sering dilakukan pada usia dini dan perceraian tidak dikenal dalam sistem hukum mereka. Pernikahan sedarah sangat dilarang, dan kepatuhan terhadap batasan kasta adalah mutlak; seorang pria dari kasta rendah tidak dapat menikahi wanita dari kasta tinggi. Ia juga mencatat fenomena poligami yang diatur berdasarkan status kasta, serta praktik StreeDhan, yaitu harta yang diberikan oleh orang tua kepada mempelai wanita sebagai bekal masa depannya.
Tata Cara Makan dan Diet
Ia sangat terkesan dengan ketatnya aturan mengenai makanan. Anggota kasta yang berbeda tidak diperbolehkan makan dari piring yang sama atau duduk dalam satu kelompok makan yang bercampur. Selain itu, terdapat larangan keras untuk memakan sisa makanan orang lain; setiap individu harus memiliki porsi makannya sendiri. Al-Bīrūnī juga mencatat penggunaan sirih (betel nut) yang sangat umum di masyarakat India sebagai bagian dari etiket sosial dan kesehatan mulut.
Hukum Pidana dan Keadilan
Sistem peradilan India dijelaskan sebagai sistem yang didasarkan pada kesaksian lisan dan sumpah suci. Hukumannya cenderung bervariasi tergantung pada kasta pelaku. Sebagai contoh, seorang Brahmana tidak akan dihukum mati meskipun melakukan pembunuhan; hukuman bagi mereka biasanya berupa pengasingan atau denda berat serta kewajiban melakukan pertobatan keagamaan. Untuk pencuri atau pelaku kekerasan dari kasta rendah, hukuman fisik seperti pemotongan anggota tubuh atau eksekusi adalah hal yang umum.
Kalender dan Festival Keagamaan
Al-Bīrūnī memberikan perhatian besar pada sistem kronologi India, yang ia anggap sangat kompleks karena ketergantungan mereka pada siklus bulan dan matahari secara bersamaan.
Perayaan Tahunan
Ia mendokumentasikan lebih dari 28 festival keagamaan, yang banyak di antaranya masih dirayakan hingga saat ini.
- Basant: Perayaan musim semi yang jatuh pada bulan Februari, di mana masyarakat berpakaian cerah dan memberikan jamuan kepada para Brahmana.
- Denbally (Diwali): Perayaan cahaya pada hari pertama bulan Agustus (dalam penanggalan yang ia catat), yang melibatkan pembersihan ritual, pertukaran hadiah sirih, dan penyalaan lampu di seluruh penjuru kota.
- Sivaratri: Perayaan yang didedikasikan untuk pemujaan Dewa Siwa.
Al-Bīrūnī mencatat bahwa perayaan ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai sarana integrasi sosial di mana perempuan memainkan peran yang sangat aktif dalam persiapan dan pelaksanaan upacara.
Kritik Terhadap Penjajahan dan Kondisi Politik
Meskipun Al-Bīrūnī berada di bawah perlindungan dinasti Ghaznavid, ia bersikap kritis terhadap tindakan militer Sultan Maḥmūd. Ia mencatat bahwa serangan Maḥmūd ke pusat-pusat kemakmuran seperti Multan, Somnath, dan Thanesar telah menyebabkan kehancuran ekonomi yang luar biasa dan melumpuhkan kehidupan intelektual di wilayah tersebut. Ia menyesalkan bahwa tindakan tersebut membuat orang India memandang semua Muslim sebagai penjajah yang najis, sehingga menghambat pertukaran ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kedua belah pihak. Al-Bīrūnī menggambarkan India pada masanya sebagai kumpulan kerajaan-kerajaan kecil yang terpecah-pecah (seperti Malwa, Kannauj, dan Kashmir) yang sering kali lebih sibuk berperang satu sama lain daripada bersatu menghadapi ancaman luar.
Kesimpulan dan Signifikansi Historis
Karya Taḥqīq mā li-l-Hind tetap menjadi monumen abadi bagi kecemerlangan intelektual Al-Bīrūnī dan semangat penemuan abad pertengahan. Karyanya tidak hanya memberikan data primer yang tak ternilai bagi para sejarawan mengenai kondisi India abad ke-11, tetapi juga meletakkan dasar bagi etika penelitian lintas budaya yang berbasis pada rasa hormat, kejujuran, dan ketelitian ilmiah.
Beberapa poin utama yang menjadikan karya ini sebagai puncak pencapaian Indologi meliputi:
1. Objektivitas Tanpa Prasangka: Al-Bīrūnī berhasil melepaskan diri dari bias polemik agama untuk menyajikan kebudayaan India secara apa adanya, sebuah pencapaian yang bahkan sulit dilakukan oleh banyak peneliti modern.
2. Integrasi Sains dan Humaniora: Karyanya secara mulus menggabungkan pengamatan sosiologis dengan perhitungan matematis dan astronomis yang presisi, menunjukkan bahwa pemahaman yang utuh tentang suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dari pencapaian ilmiah mereka.
3. Lembaga Dialog Peradaban: Melalui penerjemahan teks Sanskerta ke bahasa Arab dan sebaliknya, Al-Bīrūnī bertindak sebagai jembatan intelektual yang memastikan bahwa warisan pengetahuan India tidak hilang namun justru diperkaya melalui interaksi dengan dunia Islam dan Yunani.
Hingga hari ini, Kitab al-Hind tetap menjadi bukti bahwa di tengah konflik militer dan perbedaan keyakinan yang tajam, akal manusia mampu menjangkau melampaui batas-batas identitas sempit untuk menemukan kebenaran yang bersifat universal. Al-Bīrūnī telah menunjukkan bahwa untuk memahami "yang lain", seseorang harus bersedia mempelajari bahasa mereka, membaca buku mereka, dan melihat dunia melalui mata mereka tanpa kehilangan integritas kritisnya sendiri. Karyanya adalah pengingat yang kuat akan pentingnya empati intelektual dalam membangun dunia yang lebih terhubung dan berpengetahuan.
Sitasi:
Al-Bīrūnī. (2007). Taḥqīq mā li-l-hind min maqūlah maqbūlah fī al-‘aql aw mardhūlah. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Biruni. (n.d.). Al-Biruni’s India: Part I. Self Study History. Retrieved January 25, 2026, from https://selfstudyhistory.com/2015/09/30/al-birunis-india/
Al-Biruni. (n.d.). Al Biruni – Part II. Dr. Sanjay Garg. Retrieved January 25, 2026, from http://sanjaygarg.wikidot.com/al-biruni-part-ii
Al-Biruni. (n.d.). Al Biruni [AD 973–AD 1048]. Prepp. Retrieved January 25, 2026, from https://prepp.in/news/e-492-al-biruni-art-and-culture-notes
Al-Biruni. (n.d.). Al Biruni on India’s caste system. Nimc. Retrieved January 25, 2026, from https://vault.nimc.gov.ng/blog/al-biruni-on-indias-caste-system-class-12-history-insights-1764796944
Al-Biruni. (n.d.). Al-Biruni’s India. Scribd. Retrieved January 25, 2026, from https://www.scribd.com/document/706890359/Al-Birunis-India
Al-Biruni. (n.d.). Al-Biruni’s Kitab al-Hind: Insights into Indian society. PWOnlyIAS. Retrieved January 25, 2026, from https://pwonlyias.com/udaan/al-biruni/
Al-Biruni. (n.d.). Al-Biruni’s Kitab al-Hind: Religion, caste & culture. The World Financial Review. Retrieved January 25, 2026, from https://worldfinancialreview.com/al-birunis-kitab-al-hind-a-study-of-religion-caste-and-culture-in-eleventh-century-india/
Al-Biruni. (n.d.). Al-Biruni’s “Book of India”: A geography ahead of its time. ResearchGate. Retrieved January 25, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/395817998
Al-Biruni. (n.d.). Chapter 4 – Al-Biruni’s Arabic account of the Hindu religion. Ibiblio. Retrieved January 25, 2026, from https://www.ibiblio.org/britishraj/Jackson9/chapter04.html
Al-Biruni. (n.d.). Exploring Alberuni’s legacy: A critical review of “Kitab al-Hind”. Remittances Review. Retrieved January 25, 2026, from https://remittancesreview.com/menu-script/index.php/remittances/article/download/1570/986/3074
Al-Biruni. (n.d.). Indian calendar and festivals through al-Bīrūnī’s eyes. Academia.edu. Retrieved January 25, 2026, from https://www.academia.edu/38999473
Al-Biruni. (n.d.). Indian calendar and festivals through al-Biruni’s eyes. ResearchGate. Retrieved January 25, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/335617449
Al-Biruni. (n.d.). Kitab-ul-Hind. Prepp. Retrieved January 25, 2026, from https://prepp.in/news/e-492-kitab-ul-hind-art-and-culture-notes
Al-Biruni. (n.d.). Kitab-ul-Hind: Summary, author, history, caste system & legacy. Testbook. Retrieved January 25, 2026, from https://testbook.com/ugc-net-history/alberuni-accounts
Al-Biruni. (n.d.). Making sense of an alien world: Al-Biruni and the Sanskritic tradition. GeeksforGeeks. Retrieved January 25, 2026, from https://www.geeksforgeeks.org/social-science/making-sense-of-an-alien-world-al-biruni-and-the-sanskritic-tradition-class-12-history/
Al-Biruni. (n.d.). Reading al-Biruni’s “Kitab al-Hind” as phenomenology of religion. Project Noon. Retrieved January 25, 2026, from https://projectnoon.in/2024/03/06/reading-al-birunis-kitab-al-hind-as-phenomenology-of-religion/
Al-Biruni. (n.d.). Taḥqīq mā li-l-hind min maqūlah maqbūlah fī al-‘aql aw mardhūlah. Encyclopaedia Britannica. Retrieved January 25, 2026, from https://www.britannica.com/topic/Tahqiq-ma-li-l-hind-min-maqulah-maqbulah-fi-al-aql-aw-mardhulah
Al-Biruni. (n.d.). Travelogue of Al-Biruni on India. International Journal of Research in Engineering, Science and Management. Retrieved January 25, 2026, from https://www.ijresm.com/Vol.2_2019/Vol2_Iss7_July19/IJRESM_V2_I7_64.pdf
Al-Biruni. (n.d.). Who was Al-Biruni? Wikipedia. Retrieved January 25, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/India_(Al-Biruni)
Insight Journal of Mathematics. (n.d.). Biruni’s contribution to the comparative study of religion. Retrieved January 25, 2026, from https://vfast.org/journals/index.php/VTIR/article/download/276/327/0
Universiti Sains Islam Malaysia. (n.d.). Al-Biruni as a pioneer of indology and the science of religions. Retrieved January 25, 2026, from https://oarep.usim.edu.my/server/api/core/bitstreams/511cbc60-854e-465e-96f2-d62ddfd0aa88/content




Post a Comment