Patologi Positivitas dalam The Burnout Society: Analisis Komprehensif Pemikiran Byung-Chul Han

Table of Contents

buku The Burnout Society karya Byung-Chul Han
Abad kedua puluh satu ditandai oleh pergeseran tektonik dalam lanskap sosiopsikologis manusia, sebuah transisi yang tidak lagi didefinisikan oleh konflik eksternal atau ancaman biologis yang bersifat invasif, melainkan oleh kelebihan internal yang melumpuhkan. Dalam teks monumentalnya, The Burnout Society (Müdigkeitsgesellschaft), filsuf Korea-Jerman Byung-Chul Han menyajikan diagnosis radikal terhadap kondisi kontemporer yang ia sebut sebagai "masyarakat pencapaian" (Leistungsgesellschaft). Analisis Han melampaui sosiologi konvensional dengan menggabungkan antropologi filosofis, teori kekuasaan, dan psikopatologi untuk menjelaskan mengapa manusia modern, meskipun hidup dalam kelimpahan dan kebebasan formal, justru terjebak dalam spiral kelelahan kronis dan depresi yang menghancurkan.

Tesis utama Han menyatakan bahwa kita telah meninggalkan era "imunologis" yang dicirikan oleh pertentangan antara diri (self) dan yang lain (other), menuju era "neuronal" yang dicirikan oleh ekses positivitas. Di sini, musuh bukan lagi agen asing yang menyerang dari luar, melainkan intensitas aktivitas diri yang tidak terbatas. Analisis ini akan menguraikan secara mendalam setiap faset dari pemikiran Han, mengeksplorasi mekanisme kekuasaan neoliberal, transformasi perhatian manusia, hingga manifestasi faktualnya dalam budaya global dan konteks spesifik di Indonesia.

Paradigma Imunologis dan Kelahiran Era Neuronal

Han membuka argumennya dengan tinjauan sejarah medis dan filosofis tentang bagaimana masyarakat menangani ancaman. Abad ke-20 adalah era imunologis, sebuah zaman yang diatur oleh logika pertahanan terhadap entitas asing. Secara medis, ini adalah zaman antibiotik dan vaksin yang dirancang untuk mengidentifikasi dan memusnahkan penyerang eksternal seperti bakteri dan virus. Secara politis, logika ini tercermin dalam retorika Perang Dingin, di mana dunia dibagi secara tajam antara kawan dan lawan, domestik dan asing. Tindakan imunologis selalu didasarkan pada negativitas: penolakan terhadap yang lain karena dianggap sebagai ancaman bagi integritas diri.

Namun, Han berargumen bahwa model imunologis ini telah kehilangan relevansinya di abad ke-21. Ancaman kontemporer tidak lagi bersifat infeksius, melainkan infarktual. Penyakit-penyakit yang mendefinisikan zaman ini—depresi, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), Borderline Personality Disorder (BPD), dan sindrom burnout—bukanlah hasil dari serangan agen asing yang negatif, melainkan hasil dari positivitas yang berlebihan. Positivitas di sini merujuk pada ketiadaan hambatan, kelebihan rangsangan, dan akumulasi informasi yang tidak terbatas.

buku The Burnout Society karya Byung-Chul Han
Kekerasan positivitas tidak bekerja dengan cara merampas atau melarang, tetapi dengan cara memuaskan secara berlebihan dan menguras energi melalui partisipasi sukarela. Individu tidak lagi merasa ditindas oleh kekuatan luar; sebaliknya, mereka merasa terdorong oleh ambisi internal untuk terus berprestasi, mengonsumsi, dan berkomunikasi. Ketidakmampuan untuk mengelola negativitas—yakni ketidakmampuan untuk berkata "tidak" atau menarik diri—menjadi akar dari kelelahan massal yang melanda masyarakat modern.

Transformasi Arsitektur Kekuasaan: Dari Disiplin ke Pencapaian

Salah satu kontribusi teoritis Han yang paling tajam adalah kritiknya terhadap konsep "masyarakat disiplin" yang dirumuskan oleh Michel Foucault. Han berpendapat bahwa analisis Foucault tentang penjara, rumah sakit jiwa, dan pabrik sebagai instrumen normalisasi sudah tidak lagi memadai untuk menjelaskan dinamika kekuasaan neoliberal. Foucault mendeskripsikan masyarakat yang diatur oleh "negativitas larangan" (kata kerja modal: "tidak boleh" atau may not) dan ketaatan terhadap aturan eksternal.

Masyarakat pencapaian kontemporer telah mengganti negativitas tersebut dengan "positivitas kemampuan" (kata kerja modal: "bisa" atau can). Slogan-slogan seperti "Yes, We Can" atau narasi motivasi tentang potensi tanpa batas merangkum pergeseran ini. Individu tidak lagi dipandang sebagai "subjek ketaatan" (obedience-subject), melainkan sebagai "subjek pencapaian" (achievement-subject) yang merupakan wirausahawan bagi dirinya sendiri.

Pergeseran ini bukan berarti kekuasaan menghilang, melainkan menjadi lebih efisien. Subjek pencapaian jauh lebih produktif daripada subjek ketaatan karena ia tidak merasa dieksploitasi oleh pihak luar, melainkan merasa sedang mengaktualisasikan diri secara bebas. Han menyebut fenomena ini sebagai "eksploitasi diri sukarela" (voluntary self-exploitation). Dalam model ini, individu menjadi tuan dan budak bagi dirinya sendiri secara bersamaan. Kebebasan dan pemaksaan akhirnya menyatu: seseorang merasa bebas justru saat ia sedang mengeksploitasi dirinya sendiri hingga titik nadir.

Dialektika Subjek Pencapaian

Subjek pencapaian hidup dalam ilusi otonomi total. Namun, ketiadaan dominasi eksternal tidak serta merta menghasilkan kebebasan sejati. Sebaliknya, hal itu melahirkan "kebebasan yang memaksa" (compulsive freedom), di mana individu terdorong secara internal untuk terus mengoptimalkan kinerjanya. Ketika prestasi menjadi satu-satunya parameter harga diri, kegagalan tidak lagi dilihat sebagai akibat dari sistem yang tidak adil, melainkan sebagai cacat pribadi.

Ketidakmampuan untuk mencapai standar yang ditetapkan sendiri memicu apa yang disebut Han sebagai "konflik internal yang menghancurkan". Agresi yang di masa lalu diarahkan kepada penindas eksternal dalam bentuk revolusi, kini diarahkan ke dalam diri sendiri dalam bentuk depresi. Inilah sebabnya mengapa Han menyatakan bahwa "burnout dan revolusi saling eksklusif"; subjek yang terbakar habis tidak memiliki energi lagi untuk mengubah struktur sosial karena ia sibuk menyalahkan dirinya sendiri.

Patologi Neuronal: Depresi, ADHD, dan Burnout

Han memberikan penekanan khusus pada depresi sebagai penyakit khas masyarakat pencapaian. Merujuk pada pemikiran Alain Ehrenberg, Han melihat depresi bukan sekadar gangguan kimiawi di otak, melainkan manifestasi sosiologis dari tekanan untuk menjadi diri sendiri secara terus-menerus. Dalam masyarakat disiplin, gangguan jiwa sering kali berupa neurosis yang disebabkan oleh represi keinginan. Dalam masyarakat pencapaian, gangguan tersebut berupa depresi yang disebabkan oleh kelelahan karena harus terus berinisiatif.

Depresi adalah kondisi "ketidakmampuan untuk mampu" (no-longer-being-able-to-be-able). Individu yang depresi adalah animal laborans yang telah menggiling dirinya sendiri hingga hampa. Gejala-gejala neuronal lainnya juga dijelaskan melalui lensa ini:

  • ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder): Dilihat bukan sebagai kelainan medis semata, melainkan sebagai reaksi terhadap lingkungan yang terlalu jenuh dengan stimulasi dan informasi.
  • BPD (Borderline Personality Disorder): Mencerminkan ketidakstabilan identitas dalam dunia yang menuntut fleksibilitas tanpa batas dan perubahan konstan.
  • Burnout: Tahap akhir dari eksploitasi diri di mana jiwa mengalami "infark" karena tidak lagi mampu menanggung beban negativitas yang hilang dalam arus positivitas.

Han mengkritik kecenderungan medis modern yang mencoba menangani masalah-masalah ini melalui teknik "doping" atau farmakologi agar individu bisa kembali produktif dalam sistem yang sebenarnya membuat mereka sakit. Masyarakat pencapaian tidak mengizinkan adanya kerusakan atau jeda, sehingga individu dipaksa untuk terus berfungsi menggunakan bantuan eksternal, yang pada akhirnya hanya memperdalam siklus kelelahan tersebut.

Krisis Perhatian dan Hilangnya Kehidupan Kontemplatif

Salah satu argumen Han yang paling provokatif adalah mengenai degradasi perhatian manusia. Ia menyatakan bahwa kita sedang mengalami regresi ke keadaan hewan liar akibat tuntutan multitasking. Di alam liar, hewan tidak pernah bisa melakukan kontemplasi mendalam karena mereka harus selalu memproses berbagai rangsangan latar belakang demi kelangsungan hidup: mencari makanan sambil mewaspadai predator dan menjaga anak-anak.

Masyarakat pencapaian menuntut jenis perhatian yang serupa, yang disebut Han sebagai "hiperatensi" (hyperattention). Ini adalah perhatian yang dangkal, cepat berpindah-pindah, dan tidak toleran terhadap kebosanan. Sebaliknya, pencapaian-pencapaian besar manusia dalam budaya, seni, dan filsafat lahir dari "perhatian mendalam" (deep attention) atau vita contemplativa.

Han menghubungkan hilangnya kapasitas untuk berkontemplasi dengan hilangnya kemampuan untuk mendengarkan. Mendengarkan adalah sebuah "pemberian" (gift) yang membutuhkan perhatian kontemplatif yang dalam. Dalam masyarakat yang hiperaktif, individu kehilangan kemampuan untuk diam dan membiarkan dunia atau orang lain berbicara kepadanya. Tanpa ketenangan, komunitas yang sejati menjadi mustahil karena setiap orang terjebak dalam narsisme produktivitasnya masing-masing.

Kekuatan Kebosanan Mendalam

Han membela konsep "kebosanan mendalam" (profound boredom) sebagai sesuatu yang esensial bagi kreativitas. Jika tidur adalah puncak dari istirahat fisik, maka kebosanan mendalam adalah puncak dari istirahat spiritual. Dalam keadaan bosan, pikiran tidak lagi terikat pada tujuan praktis atau tuntutan produktivitas. Tanpa ruang kebosanan ini, hidup manusia hanya akan menjadi pengulangan aktivitas yang monoton dan mekanis tanpa adanya inovasi yang benar-benar baru.

Namun, teknologi modern dan budaya kenyamanan dirancang untuk menghilangkan setiap detik kebosanan melalui arus stimulasi digital yang konstan. Akibatnya, kita kehilangan kemampuan untuk "tarrying" atau tinggal lama dalam sebuah pemikiran atau pengalaman. Kita mengonsumsi informasi dengan kecepatan tinggi namun tidak pernah mencapai wawasan atau pengetahuan yang mendalam.

Pedagogi Melihat dan Negativitas Interupsi

Sebagai penawar bagi kekacauan masyarakat pencapaian, Han mengusulkan kembali "pedagogi melihat" (pedagogy of seeing) yang ia ambil dari pemikiran Nietzsche. Belajar untuk melihat berarti melatih mata untuk tenang, sabar, dan membiarkan sesuatu datang kepada kita tanpa harus segera bereaksi terhadap setiap rangsangan.

Dalam pandangan Han, hiperaktivitas sebenarnya adalah bentuk kepasifan yang ekstrem karena individu tidak mampu menolak impuls yang masuk. Kebebasan sejati justru terletak pada kedaulatan untuk tidak melakukan sesuatu (power of not-to) atau kemampuan untuk menghentikan aktivitas. Inilah yang ia sebut sebagai negativitas dalam arti positif: kemampuan untuk memberikan jeda, interupsi, dan jarak terhadap arus positivitas yang menelan segalanya.

Han membedakan antara aktivitas yang bertujuan (bekerja) dengan aktivitas yang tidak bertujuan (bermain). Masyarakat pencapaian mencoba mengolonisasi waktu luang dan mengubahnya menjadi waktu untuk pemulihan agar individu bisa bekerja kembali lebih keras. Han sebaliknya menekankan pentingnya aktivitas yang "suci" atau tidak berguna secara ekonomi sebagai cara untuk memulihkan martabat manusia sebagai makhluk yang lebih dari sekadar animal laborans.

Kelelahan yang Memisahkan vs. Kelelahan yang Mempersatukan

Han mengakhiri analisisnya dengan membedakan dua jenis kelelahan melalui tafsir terhadap karya Peter Handke. Perbedaan ini krusial untuk memahami bagaimana masyarakat bisa pulih dari kondisi burnout.
1. I-Tiredness (Ich-Müdigkeit): Ini adalah kelelahan yang bersifat soliter dan narsistik. Seseorang merasa lelah karena beban egonya sendiri, merasa terputus dari dunia, dan tidak mampu berinteraksi dengan orang lain. Kelelahan ini memisahkan individu, menciptakan kesunyian yang menyakitkan, dan merupakan precursor bagi depresi.
2. We-Tiredness (Wir-Müdigkeit): Disebut juga sebagai "kelelahan bersama" atau "kelelahan yang ramah." Ini adalah kondisi di mana individu melepaskan obsesi terhadap pencapaian diri dan berbagi ruang dalam ketenangan yang pasif. Kelelahan ini mempersatukan orang dalam keterbatasan manusiawi yang sama. Ini menciptakan jenis komunitas yang tidak didasarkan pada aktivitas atau produksi, melainkan pada kehadiran yang tenang dan penerimaan.

Han membayangkan sebuah "Masyarakat Kelelahan" (Müdigkeitsgesellschaft) yang positif, di mana manusia memiliki kekuatan untuk melangkah mundur dan membiarkan dunia ada sebagaimana adanya, tanpa harus selalu diubah menjadi proyek atau hasil yang terukur.

Perluasan Teori: Transparansi dan Panoptikon Digital

Meskipun The Burnout Society fokus pada kinerja, Han memperluas diagnosisnya dalam karya lain seperti The Transparency Society. Transparansi sering dianggap sebagai nilai demokratis yang positif, namun Han melihatnya sebagai mekanisme kontrol neoliberal yang sangat efisien. Transparansi menghapus misteri, nuansa, dan jarak yang diperlukan untuk kepercayaan dan hubungan yang mendalam.

Dalam era digital, kita tidak lagi diawasi oleh penjaga penjara di pusat menara (panoptikon tradisional), melainkan kita saling mengawasi dan secara sukarela memaparkan diri kita sendiri. Media sosial adalah panoptikon digital di mana individu bertindak sebagai sipir sekaligus narapidana bagi dirinya sendiri. Paparan diri ini (seperti dalam tren vlogging atau personal branding) bukan merupakan bentuk kebebasan, melainkan bentuk eksploitasi data dan kontrol sosial yang didorong oleh kebutuhan narsistik untuk diakui.

buku The Burnout Society karya Byung-Chul Han
Masyarakat transparansi adalah "neraka yang sama" (inferno of the same), di mana segala sesuatu yang berbeda atau asing disingkirkan demi kelancaran arus informasi dan modal. Han menekankan bahwa tanpa rahasia dan ketidakjelasan, politik menjadi sekadar obrolan pendek dan cinta menjadi sekadar transaksi seksual tanpa kedalaman.

Kematian Eros dan Dominasi Narsisme Digital

Dalam The Agony of Eros, Han menjelaskan bagaimana masyarakat pencapaian menghancurkan kapasitas manusia untuk mencintai. Cinta yang sejati membutuhkan perjumpaan dengan "Yang Lain" (The Other) yang benar-benar asing dan tidak dapat dikendalikan. Namun, dalam budaya narsistik kontemporer, "Yang Lain" dihilangkan dan diubah menjadi sekadar cermin bagi diri sendiri atau objek untuk dikonsumsi.

Aplikasi kencan digital, misalnya, mengubah pencarian pasangan menjadi proses belanja komoditas di mana orang lain dinilai berdasarkan poin data dan kriteria efisiensi. Pornografi juga dikritik Han sebagai bentuk transparansi gambar yang menghancurkan Eros karena menghilangkan misteri dan jarak yang diperlukan untuk hasrat yang sejati. Cinta sebagai peristiwa yang mendobrak identitas diri digantikan oleh hubungan yang aman, teroptimalkan, dan nyaman—yang pada akhirnya hanya memperdalam isolasi narsistik dan depresi.

Manifestasi Faktual dan Relevansi Global

Teori Han memberikan kerangka kerja untuk memahami berbagai fenomena kontemporer di luar teks filosofis:
1. Hustle Culture dan Gig Economy: Budaya mengagungkan kerja berlebihan sebagai simbol status adalah bentuk nyata dari subjek pencapaian yang mengeksploitasi diri sendiri. Di sektor kreatif dan teknologi, narasi "jadilah bos bagi dirimu sendiri" sering kali menutupi kenyataan jam kerja yang tidak manusiawi dan ketiadaan perlindungan sosial.
2. Film "The Substance" (2024): Film ini secara visual menggambarkan pembelahan diri subjek pencapaian. Karakter utama menggunakan zat untuk menciptakan versi dirinya yang lebih muda dan lebih optimal demi memenuhi standar industri kecantikan, yang berakhir pada penghancuran tubuh dan jiwanya secara mengerikan—sebuah alegori sempurna bagi kekerasan positivitas Han.
3. Media Sosial dan Depresi Remaja: Tekanan untuk terus-menerus memproduksi konten yang menarik ("likeable") menciptakan beban psikis di mana kegagalan untuk mendapatkan validasi digital dirasakan sebagai kegagalan eksistensial.
4. Gerakan "Great Resignation" dan "Quiet Quitting": Fenomena ini dapat dilihat sebagai upaya kolektif (meskipun terbatas) untuk menolak logika masyarakat pencapaian dan merebut kembali waktu untuk kehidupan yang bukan sekadar produksi.

Analisis Kontekstual di Indonesia: Masyarakat Kelelahan di Nusantara

Relevansi pemikiran Byung-Chul Han di Indonesia sangat terasa, terutama di pusat-pusat urban seperti Jakarta yang telah sepenuhnya mengadopsi logika neoliberalisme digital.

  • Pekerja Kreatif dan Startup: Ekosistem startup di Indonesia sering kali mengadopsi budaya kerja 24/7. Pekerja muda merasa bangga dengan kelelahan mereka, melihatnya sebagai tanda dedikasi. Namun, hal ini berujung pada tingginya angka burnout di usia dini, di mana kesehatan mental menjadi topik pembicaraan utama namun solusinya sering kali hanya bersifat kosmetik (seperti kelas yoga kantor atau aplikasi meditasi) yang bertujuan agar mereka bisa bekerja kembali dengan lebih efisien.
  • Fenomena "Flexing" dan Transparansi: Budaya pamer kekayaan dan kesuksesan di media sosial Indonesia mencerminkan kebutuhan akan transparansi dan validasi narsistik. Identitas tidak lagi ditemukan dalam kedalaman batin, melainkan dalam "konten" yang bisa dipamerkan. Hal ini menciptakan standar hidup yang tidak realistis bagi masyarakat luas, memicu rasa rendah diri dan depresi massal.
  • Gig Economy (Ojek Online): Pengemudi ojek daring di Indonesia adalah contoh nyata dari "wirausahawan diri" yang sebenarnya sangat rentan. Mereka merasa bebas menentukan jam kerja, namun sistem algoritma memaksa mereka untuk bekerja lebih lama dan lebih keras demi mencapai target poin, sering kali mengabaikan keselamatan dan kesehatan mereka sendiri.
  • Budaya "Rebahan" sebagai Resistensi: Menariknya, muncul tren istilah "rebahan" di kalangan netizen Indonesia yang dapat dimaknai sebagai upaya bawah sadar untuk mempraktikkan "tidak melakukan sesuatu" (power of not-to). Meskipun sering dianggap sebagai kemalasan, dalam perspektif Han, tindakan menarik diri dari tuntutan produktivitas adalah langkah awal untuk memulihkan kedaulatan diri atas waktu.

Kesimpulan: Rekonstruksi Kehidupan pasca-Pencapaian

Diagnosis Byung-Chul Han dalam The Burnout Society menawarkan kritik yang menghujam terhadap arah peradaban kita. Kita hidup dalam paradoks di mana janji kebebasan tanpa batas justru berakhir pada perbudakan diri yang paling efisien dalam sejarah manusia. Kekerasan positivitas, penghancuran ruang kontemplasi, dan penghilangan "Yang Lain" telah menciptakan masyarakat yang secara lahiriah tampak dinamis namun secara batiniah hancur dan kelelahan.

Untuk keluar dari kondisi ini, kita memerlukan lebih dari sekadar kebijakan kesehatan mental atau manajemen stres. Kita membutuhkan rekonstruksi antropologis yang menghargai kembali negativitas: hak untuk gagal, hak untuk rahasia, hak untuk bosan, dan hak untuk tidak menjadi apa pun dalam mesin produksi. Pemulihan kapasitas untuk berkontemplasi dan mendengarkan adalah kunci untuk membangun kembali komunitas yang didasarkan pada kehadiran yang tulus, bukan pada performa digital.

Pada akhirnya, Byung-Chul Han mengingatkan kita bahwa martabat manusia tidak terletak pada seberapa banyak yang bisa kita capai atau seberapa transparan hidup kita, melainkan pada kemampuan kita untuk memberikan jeda, menghargai misteri, dan berbagi kelelahan yang mempersatukan dalam dunia yang terus-menerus memaksa kita untuk terbakar habis. Masyarakat masa depan yang ideal bukanlah masyarakat yang terus-menerus memproduksi, melainkan masyarakat yang tahu kapan harus berhenti dan membiarkan kehidupan itu sendiri berbicara.

Referensi:

Achievement Society: Sebuah pengantar singkat psikopolitik Byung-Chul Han. (n.d.). Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang. Diakses Januari 8, 2026, dari https://fpsi.um.ac.id/achievement-society-sebuah-pengantar-singkat-psikopolitik-byung-chul-han/

Accelerate your exploitation – The burnout society. (2024, October 31). Words and Chaos. Diakses Januari 8, 2026, dari https://wordsandchaos.com/2024/10/31/byung-chul-han-burnout-society/

Assessing our frayed society with Byung-Chul Han. (n.d.). Law & Liberty. Diakses Januari 8, 2026, dari https://lawliberty.org/assessing-our-frayed-society-with-byung-chul-han/

Byung-Chul Han and the psychological dimensions of neoliberalism. (2024). Psychology Today. Diakses Januari 8, 2026, dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/philosophies-in-psychology/202411/byung-chul-han-and-the-psychological-dimensions-of

Byung-Chul Han: A noble culture. (2024, April 14). Engage!. Diakses Januari 8, 2026, dari https://engagedharma.net/2024/04/14/byung-chul-han-a-noble-culture/

Byung-Chul Han, beyond disciplinary society. (2017, February 12). Cahiers du Vertebrata. Diakses Januari 8, 2026, dari https://withagreenscarf.wordpress.com/2017/02/12/byung-chul-han-beyond-disciplinary-society/

Byung-Chul Han’s burnout society: Our only imperative is to achieve. (n.d.). Philosophy Break. Diakses Januari 8, 2026, dari https://philosophybreak.com/articles/byung-chul-han-burnout-society-our-only-imperative-is-to-achieve/

Burn out society. (n.d.). Scribd. Diakses Januari 8, 2026, dari https://id.scribd.com/document/894303310/Burn-Out-Society

Goodreads. (n.d.). The burnout society. Diakses Januari 8, 2026, dari https://www.goodreads.com/book/show/25490360-the-burnout-society

Goodreads. (n.d.). The transparency society. Diakses Januari 8, 2026, dari https://www.goodreads.com/book/show/25490453

Han, B.-C. (2015). The burnout society (E. Butler, Trans.). Stanford University Press.

Han, B.-C. (n.d.). The agony of eros. ICNS. Diakses Januari 8, 2026, dari https://www.icns.es/en/news/byung_chul_han_the_agony_of_eros

Han, B.-C. (n.d.). The transparency society. Stanford University Press. Diakses Januari 8, 2026, dari https://www.sup.org/books/theory-and-philosophy/transparency-society

Han, B.-C. (n.d.). The transparency society: Preface. Stanford University Press. Diakses Januari 8, 2026, dari https://www.sup.org/books/theory-and-philosophy/transparency-society/excerpt/preface

Membaca liquid society dari perspektif burnout society. (n.d.). Media Jurnal STFT SP. Diakses Januari 8, 2026, dari https://journal.stfsp.ac.id/index.php/media/article/download/521/164/2060

Menyoal kerja layak dan adil dalam ekonomi gig di Indonesia. (n.d.). ResearchGate. Diakses Januari 8, 2026, dari https://www.researchgate.net/profile/Arif-Novianto/publication/356825520_Menyoal_Kerja_Layak_dan_Adil_dalam_Ekonomi_Gig_di_Indonesia.pdf

Müdigkeitsgesellschaft (The burnout society) by Byung-Chul Han [Review]. (2017, November 9). Tony’s Reading List. Diakses Januari 8, 2026, dari https://tonysreadinglist.wordpress.com/2017/11/09/mudigkeitsgesellschaft-the-burnout-society-by-byung-chul-han-review/

Resisting hustle culture has ancient roots. (2025, August 1). The Tyee. Diakses Januari 8, 2026, dari https://thetyee.ca/Culture/2025/08/01/Resisting-Hustle-Culture-Ancient-Roots/

Rudy C. Tarumingkeng. (n.d.). Filsuf-filsuf kontemporer [PDF]. Diakses Januari 8, 2026, dari https://rudyct.com/ab/Filsuf-Filsuf.Kontemporer.pdf

Systematic violence & the micro-physics of power. (n.d.). The Philosophy Hammer. Diakses Januari 8, 2026, dari https://www.philosophyhammer.com/text.php?id=234

Tag: The agony of eros. (n.d.). Finn Janning. Diakses Januari 8, 2026, dari https://finnjanning.com/tag/the-agony-of-eros/

The burnout society. (n.d.). Stanford University Press. Diakses Januari 8, 2026, dari https://www.sup.org/books/theory-and-philosophy/burnout-society

The burnout society by Byung-Chul Han. (n.d.). Boris Smus. Diakses Januari 8, 2026, dari https://smus.com/books/the-burnout-society-by-byung-chul-han/

The burnout society meets the substance: A visceral exploration of self-exploitation in neoliberalism. (n.d.). Medium. Diakses Januari 8, 2026, dari https://medium.com/@daoueshassen/the-burnout-society-meets-the-substance-a-visceral-exploration-of-self-exploitation-in-neoliberal-bb0fdff38a61

The limits of the burnout society critique. (n.d.). Church Life Journal. Diakses Januari 8, 2026, dari https://churchlifejournal.nd.edu/articles/the-limits-of-the-burnout-society-critique/

Thought-tinkering – The Korean German philosopher Byung-Chul Han. (n.d.). Aeon Essays. Diakses Januari 8, 2026, dari https://aeon.co/essays/thought-tinkering-the-korean-german-philosopher-byung-chul-han

Why you should read: Byung-Chul Han. (n.d.). Medium. Diakses Januari 8, 2026, dari https://machine-learning-made-simple.medium.com/why-you-should-read-byung-chul-han-c1fc1082efb5

[Notes] Burnout and attention: Han’s vision of modern society. (n.d.). Medium. Diakses Januari 8, 2026, dari https://medium.com/@TH.Writing/notes-byung-chul-hans-the-burnout-society-6a501b398e68

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment