Model Transaksional Stres Lazarus dan Folkman (1984): Analisis Teoretis dan Empiris
Model Transaksional Stres dan Koping (Transactional Model of Stress and Coping - TMSC) yang mereka usulkan menggeser fokus dari peristiwa itu sendiri menuju proses penilaian individu. Hal ini sejalan dengan "revolusi kognitif" yang terjadi pada era 1960-an, di mana para ilmuwan mulai mengakui bahwa apa yang terjadi di dalam "kotak hitam" pikiran manusia—yakni persepsi, interpretasi, dan evaluasi—adalah kunci untuk memahami perilaku kompleks. Melalui karya ini, stres tidak lagi didefinisikan sebagai variabel dependen (respons) atau variabel independen (stimulus), melainkan sebagai sebuah transaksi dinamis yang melibatkan hubungan timbal balik antara person dan environment.
Redefinisi Stres: Konsep Transaksi Individu-Lingkungan
Lazarus dan Folkman mendefinisikan stres psikologis sebagai hubungan tertentu antara individu dan lingkungan yang dinilai oleh individu tersebut sebagai sesuatu yang membebani atau melampaui sumber dayanya, sehingga membahayakan kesejahteraannya. Definisi ini mengandung tiga pilar utama yang membedakannya dari teori-teori sebelumnya. Pertama, stres adalah sebuah hubungan (relationship), yang berarti ia bukan merupakan karakteristik tetap dari seseorang maupun lingkungan itu sendiri. Kedua, terdapat proses penilaian (appraisal) yang bersifat subjektif, menjelaskan mengapa dua orang dapat bereaksi berbeda terhadap peristiwa yang sama. Ketiga, adanya evaluasi terhadap sumber daya (resources), di mana stres muncul ketika tuntutan dianggap lebih besar daripada kemampuan untuk mengatasinya.
Untuk memahami posisi teori transaksional ini, penting untuk membandingkannya dengan model-model stres tradisional yang mendahuluinya, seperti yang terlihat dalam tabel berikut:
Arsitektur Penilaian Kognitif: Primary, Secondary, dan Reappraisal
Inti dari karya Lazarus dan Folkman adalah konsep penilaian kognitif (cognitive appraisal), yaitu proses mengategorikan pertemuan dengan lingkungan berdasarkan signifikansinya bagi kesejahteraan individu. Proses ini tidak bersifat linear kaku, melainkan merupakan aktivitas mental yang sering kali terjadi secara simultan atau tumpang tindih.
Penilaian Primer (Primary Appraisal)
Dalam tahap penilaian primer, individu mengevaluasi apakah suatu peristiwa memiliki dampak bagi dirinya dengan mengajukan pertanyaan: "Apakah saya dalam bahaya atau mendapatkan manfaat?". Berdasarkan evaluasi ini, situasi dapat dikategorikan ke dalam tiga bentuk utama:
1. Tidak Relevan (Irrelevant): Pertemuan tersebut tidak memiliki implikasi terhadap tujuan, nilai, atau komitmen individu. Misalnya, mendengar berita tentang kemacetan di kota lain bagi seseorang yang tidak berencana bepergian.
2. Benign-Positif (Benign-Positive): Situasi dinilai sebagai sesuatu yang menguntungkan atau meningkatkan kesejahteraan. Hal ini memicu emosi positif seperti kegembiraan, ketenangan, atau kepuasan.
3. Stresful (Stressful): Jika situasi dianggap relevan dan menuntut, ia akan dikategorikan lebih lanjut menjadi salah satu dari tiga sub-tipe penilaian stres:
- Harm/Loss (Bahaya/Kehilangan): Kerusakan atau kerugian fisik maupun psikologis telah terjadi. Contohnya adalah cedera fisik, hilangnya harga diri karena kegagalan publik, atau kematian anggota keluarga.
- Threat (Ancaman): Antisipasi terhadap bahaya atau kerugian yang mungkin terjadi di masa depan. Meskipun kerugian belum terjadi, individu merasa cemas karena potensi dampak negatifnya.
- Challenge (Tantangan): Situasi dinilai memiliki potensi untuk keuntungan atau pertumbuhan pribadi, meskipun menuntut usaha keras. Berbeda dengan ancaman, tantangan memicu emosi positif seperti antusiasme dan kepercayaan diri.
Pembedaan antara ancaman dan tantangan sangat krusial. Lazarus dan Folkman mencatat bahwa ancaman dan tantangan bukanlah dua ujung dari satu kontinum, melainkan dapat terjadi secara bersamaan dalam satu peristiwa. Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang akan menghadapi ujian mungkin merasa terancam (takut gagal) sekaligus tertantang (semangat untuk membuktikan kemampuannya).
Penilaian Sekunder (Secondary Appraisal)
Setelah sebuah peristiwa dinilai sebagai sesuatu yang stresful, individu beralih ke penilaian sekunder, yang berfokus pada apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi situasi tersebut. Ini adalah evaluasi terhadap sumber daya koping dan pilihan respons yang tersedia. Penilaian sekunder menjawab pertanyaan: "Dapatkah saya mengatasi ini?".
Faktor-faktor yang dievaluasi dalam penilaian sekunder meliputi:
- Sumber daya fisik dan material: Ketersediaan uang, alat, kesehatan fisik, dan energi.
- Sumber daya psikologis: Kepercayaan pada kemampuan diri (self-efficacy), optimisme, dan ketenangan emosional.
- Sumber daya sosial: Akses terhadap dukungan emosional atau bantuan instrumental dari orang lain.
Interaksi antara penilaian primer dan sekunder menentukan derajat stres yang dialami. Jika individu menghadapi ancaman besar tetapi merasa memiliki sumber daya yang sangat memadai (penilaian sekunder tinggi), maka stres akan terminimalisir. Sebaliknya, tantangan kecil pun bisa menjadi sangat menekan jika individu merasa tidak memiliki kapasitas untuk meresponsnya.
Penilaian Ulang (Reappraisal)
Penilaian ulang adalah proses dinamis di mana individu terus-menerus mengevaluasi kembali persepsi mereka seiring dengan masuknya informasi baru atau setelah melakukan upaya koping. Ini adalah lingkaran umpan balik (feedback loop) yang memungkinkan fleksibilitas dalam respons stres. Melalui penilaian ulang, situasi yang awalnya dianggap sebagai ancaman bisa berubah menjadi tidak relevan (misalnya, lawan tanding yang ternyata tidak sekuat yang dibayangkan), atau sebaliknya, situasi yang dianggap aman tiba-tiba berubah menjadi mengancam.
Mekanisme Koping: Strategi Adaptasi dalam Transaksi Stres
Dalam kerangka Lazarus dan Folkman, koping didefinisikan sebagai upaya kognitif dan perilaku yang terus berubah untuk mengelola tuntutan eksternal dan/atau internal spesifik yang dinilai membebani atau melampaui sumber daya seseorang. Definisi ini menekankan tiga fitur utama: koping adalah sebuah proses (bukan sifat tetap), melibatkan usaha (effort), dan berfokus pada pengelolaan (management) daripada penguasaan mutlak.
Fungsi Utama Koping
Lazarus dan Folkman membagi koping ke dalam dua fungsi utama yang telah menjadi standar dalam literatur psikologi kesehatan:
1. Koping Berorientasi Masalah (Problem-Focused Coping): Upaya untuk mengubah atau mengelola sumber masalah yang menyebabkan stres. Strategi ini sangat mirip dengan proses pemecahan masalah yang mencakup identifikasi masalah, pengembangan solusi alternatif, penimbangan biaya dan manfaat, serta pengambilan tindakan langsung. Koping ini cenderung muncul ketika individu merasa memiliki kendali atas situasi. Contohnya meliputi perencanaan, manajemen waktu, dan mencari dukungan instrumental.
2. Koping Berorientasi Emosi (Emotion-Focused Coping): Upaya untuk mengatur respons emosional negatif yang ditimbulkan oleh stresor. Strategi ini lebih dominan digunakan ketika individu merasa bahwa situasi tersebut tidak dapat diubah atau berada di luar kendali mereka. Contohnya meliputi penilaian ulang secara positif (positive reappraisal), distraksi, meditasi, penyangkalan (denial), atau ventilasi perasaan kepada orang lain.
Meskipun secara teoritis terpisah, penelitian empiris oleh Lazarus dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa dalam kenyataannya, individu menggunakan campuran dari kedua strategi tersebut dalam hampir setiap pertemuan stresful. Sebuah studi terhadap 100 orang dewasa menunjukkan bahwa dalam 98% episode stres, partisipan menggunakan kombinasi koping berorientasi masalah dan emosi.
Delapan Sub-Kategori dalam "Ways of Coping"
Untuk mengoperasionalkan teori ini, dikembangkan kuesioner "Ways of Coping" yang mengidentifikasi delapan faktor spesifik dari perilaku koping manusia:
- Confrontive Coping: Tindakan agresif untuk mengubah situasi, sering kali dengan risiko tinggi.
- Distancing: Upaya kognitif untuk melepaskan diri atau meminimalkan beban emosional situasi.
- Self-Controlling: Upaya untuk menjaga regulasi diri atas perasaan dan tindakan.
- Seeking Social Support: Mencari bantuan informasi, bantuan nyata, atau simpati emosional.
- Accepting Responsibility: Mengakui peran diri sendiri dalam masalah dan berusaha memperbaikinya.
- Escape-Avoidance: Menggunakan angan-angan atau perilaku untuk melarikan diri dari realitas stresor.
- Planful Problem-Solving: Pendekatan analitis dan terencana untuk menyelesaikan masalah.
- Positive Reappraisal: Fokus pada pertumbuhan pribadi dan penemuan makna positif di balik kesulitan.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Penilaian: Person dan Situation
Lazarus dan Folkman menekankan bahwa penilaian stres bersifat transaksional karena dipengaruhi secara mendalam oleh faktor internal (orang) dan eksternal (situasi). Variabel-variabel ini menentukan "kerentanan" (vulnerability) seseorang terhadap stres psikologis.
Variabel Personal (Person Factors)
Faktor personal bertindak sebagai kacamata subjektif yang menentukan apa yang "dipertaruhkan" dalam suatu situasi.
- Komitmen dan Tujuan: Menentukan seberapa penting suatu kejadian bagi individu. Jika sebuah peristiwa mengancam komitmen inti (misalnya karier bagi seseorang yang gila kerja), stres yang dirasakan akan jauh lebih besar.
- Keyakinan (Beliefs): Mencakup keyakinan tentang kontrol pribadi dan keyakinan eksistensial lainnya. Keyakinan akan efikasi diri (self-efficacy) memengaruhi apakah seseorang menilai situasi sebagai tantangan atau ancaman.
- Nilai-Nilai: Standar moral dan preferensi pribadi yang memengaruhi penilaian tentang apakah suatu hasil dapat diterima atau tidak.
Variabel Situasional (Situation Factors)
Karakteristik dari lingkungan atau peristiwa itu sendiri yang memengaruhi penilaian kognitif:
- Kebaruan (Novelty): Situasi yang baru dan belum pernah dialami cenderung lebih sulit dinilai karena kurangnya kerangka referensi.
- Prediktabilitas (Predictability): Peristiwa yang tidak terduga umumnya lebih stresful karena mencegah individu untuk melakukan koping antisipatif.
- Ketidakpastian Peristiwa (Event Uncertainty): Ketidakjelasan mengenai apakah suatu peristiwa akan terjadi atau tidak dapat memicu ketegangan psikologis yang kronis.
- Faktor Temporal: Termasuk durasi (lama paparan), waktu kejadian (timing) dalam rentang hidup, dan ketidakpastian mengenai kapan stresor akan berakhir.
Bukti Empiris: Studi Kasus Ujian Mahasiswa (Folkman & Lazarus, 1985)
Salah satu aplikasi paling terkenal dari model ini adalah penelitian longitudinal terhadap mahasiswa universitas yang menghadapi ujian tengah semester. Studi ini mendokumentasikan bagaimana emosi dan penilaian berubah secara dramatis melalui tiga fase stres:
1. Tahap Antisipatif (2 Hari Sebelum Ujian): Mahasiswa melaporkan tingkat "Ancaman" (khawatir, takut) dan "Tantangan" (percaya diri, bersemangat) yang sangat tinggi. Sebanyak 94% partisipan merasakan emosi negatif dan positif secara bersamaan, menunjukkan kompleksitas penilaian manusia terhadap tantangan masa depan.
2. Tahap Menunggu (5 Hari Setelah Ujian): Fase ini dicirikan oleh ketidakpastian. Ujian telah selesai, sehingga ancaman performa hilang, tetapi ketakutan akan hasil tetap ada. Mahasiswa melaporkan campuran emosi dari semua kategori karena mereka mulai membayangkan hasil yang mungkin terjadi.
3. Tahap Hasil (2 Hari Setelah Nilai Diumumkan): Emosi bergeser menjadi penilaian hasil (outcome appraisal). Mereka yang mendapat nilai memuaskan merasakan "Manfaat" (sukacita, lega), sementara yang merasa gagal merasakan "Bahaya/Kerugian" (marah, sedih, kecewa).
Aplikasi dalam Kesehatan: Penyakit Kronis dan Gagal Jantung
Model Lazarus dan Folkman telah diterapkan secara luas dalam kedokteran perilaku untuk memahami adaptasi terhadap penyakit kronis. Sebagai contoh, dalam kasus pasien dengan gagal jantung (Heart Failure/HF), penilaian primer terhadap kondisi medis mereka menentukan perilaku koping dan hasil kesehatan jangka panjang:
- Pasien yang menilai penyakit mereka sebagai Bahaya/Kerugian (Harm/Loss) yang permanen cenderung mengadopsi koping emosional yang menghindar (avoidant).
- Kombinasi penilaian harm/loss dan koping menghindar terbukti secara signifikan memprediksi kelangsungan hidup bebas kejadian (event-free survival) yang lebih buruk dengan Hazard Ratio (HR) 0,53 (p = 0,05).
- Sebaliknya, penilaian sebagai Tantangan (Challenge) dikaitkan dengan keterlibatan tugas yang lebih baik dan reaktivitas kardiovaskular yang lebih adaptif, yang mendukung pemulihan fisiologis.
Pemahaman ini memungkinkan para profesional kesehatan untuk mendesain intervensi yang tidak hanya berfokus pada pengobatan fisik, tetapi juga pada perubahan kognitif—membantu pasien melakukan penilaian ulang terhadap kondisi mereka untuk memicu strategi koping yang lebih aktif dan problem-oriented.
Stres Harian: "Daily Hassles" vs "Major Life Events"
Lazarus dan Folkman memberikan kontribusi revolusioner dengan mengalihkan perhatian dari peristiwa kehidupan besar yang dramatis (seperti bencana atau kematian) menuju "gangguan harian" (daily hassles). Gangguan harian didefinisikan sebagai tuntutan harian yang mengiritasi, membuat frustrasi, dan menyusahkan, seperti terjebak macet, kehilangan kunci, atau ketegangan kecil dengan rekan kerja.
Penelitian mereka menunjukkan bahwa gangguan harian merupakan prediktor kesehatan fisik dan mental yang jauh lebih kuat daripada peristiwa hidup besar. Hal ini dikarenakan:
- Frekuensi: Gangguan harian terjadi terus-menerus dan memiliki efek akumulatif yang melemahkan sistem pertahanan tubuh.
- Hubungan dengan Penyakit: Studi oleh DeLongis dan rekan-rekan (1982) menemukan hubungan yang kuat antara intensitas gangguan harian dengan penyakit somatik.
- Makna Subjektif: Meskipun kecil, makna gangguan harian tetap bergantung pada penilaian individu; bagi seseorang dengan komitmen tinggi pada ketepatan waktu, keterlambatan bus (gangguan kecil) bisa dinilai sebagai ancaman serius terhadap harga diri profesionalnya.
Signifikansi Historis dan Warisan Teoretis
"Stress, Appraisal, and Coping" tidak hanya memengaruhi teori psikologi, tetapi juga membentuk landasan bagi banyak praktik profesional saat ini. Di bidang psikologi klinis, konsep penilaian kognitif membantu memperkuat kerangka kerja Terapi Kognitif Perilaku (CBT) yang dikembangkan oleh Aaron Beck. CBT bekerja dengan prinsip dasar yang sama: bahwa dengan mengubah penilaian atau pikiran otomatis seseorang terhadap stresor, kita dapat mengubah respons emosional dan perilakunya.
Dalam psikologi olahraga, model ini digunakan untuk membantu atlet mengelola kecemasan kompetisi. Atlet dilatih untuk melakukan penilaian ulang terhadap gejala fisik stres—seperti detak jantung cepat—sebagai tanda bahwa tubuh mereka sedang "siap bertempur" (tantangan) daripada tanda bahwa mereka akan gagal (ancaman).
Bahkan dalam bidang keberlanjutan (sustainability), model transaksional digunakan untuk memahami respons komunitas terhadap risiko lingkungan seperti perubahan iklim. Jika krisis iklim dinilai semata-mata sebagai ancaman yang tidak terkendali, masyarakat cenderung melakukan koping penghindaran. Namun, jika aksi iklim dibingkai sebagai sumber daya koping yang dapat diakses (tantangan), keterlibatan komunitas akan meningkat.
Kesimpulan: Integrasi Kognisi dan Emosi dalam Adaptasi Manusia
Secara keseluruhan, karya Richard S. Lazarus dan Susan Folkman memberikan kerangka kerja yang elegan dan mendalam untuk memahami dinamika stres manusia. Melalui teori transaksional, mereka berhasil menjembatani kesenjangan antara dunia mental internal dan realitas fisik eksternal. Stres bukan lagi sekadar beban yang harus dipikul, melainkan sebuah proses yang dapat dikelola melalui kekuatan kognisi.
Penekanan mereka pada penilaian kognitif—bahwa tidak ada peristiwa yang secara inheren stresful tanpa penilaian manusia—telah memberdayakan individu untuk mengambil peran aktif dalam kesejahteraan mereka sendiri. Dengan memahami mekanisme penilaian primer dan sekunder, serta memilih strategi koping yang sesuai dengan derajat kendali situasi, manusia dapat mengembangkan ketahanan (resilience) yang lebih besar dalam menghadapi badai kehidupan yang tak terelakkan. Warisan Lazarus dan Folkman terus hidup dalam setiap intervensi psikologis yang bertujuan mengubah persepsi manusia demi kehidupan yang lebih sehat dan bermakna.
Sitasi:
Academia.edu. (n.d.). Stress, appraisal, and coping [PDF]. Diakses Januari 27, 2026, dari https://www.academia.edu/39838289/STRESS_APPRAISAL_AND_COPING
Centre for Health and Coping Studies. (n.d.). Dynamics of a stressful encounter: Cognitive appraisal, coping, and encounter outcomes. Diakses Januari 27, 2026, dari https://delongis-psych.sites.olt.ubc.ca/files/2018/03/Dynamics-of-a-stressful-encounter.pdf
Explorable.com. (n.d.). Stress and cognitive appraisal – Lazarus and Folkman. Diakses Januari 27, 2026, dari https://explorable.com/stress-and-cognitive-appraisal
Frontiers in Psychology. (2019). The coping circumplex model: An integrative model of the structure of coping. Diakses Januari 27, 2026, dari https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2019.00694/full
Goodreads. (n.d.). Stress, appraisal, and coping by Richard S. Lazarus. Diakses Januari 27, 2026, dari https://www.goodreads.com/book/show/519388.Stress_Appraisal_and_Coping
Google Books. (n.d.). Stress, appraisal, and coping. Diakses Januari 27, 2026, dari https://books.google.com/books/about/Stress_Appraisal_and_Coping.html?id=i-ySQQuUpr8C
IB Psychology – Themantic Education. (2022). Emotion-focused vs. problem-focused coping strategies. Diakses Januari 27, 2026, dari https://www.themantic-education.com/ibpsych/2022/03/14/emotion-focused-vs-problem-focused-coping-strategies/
Lazarus, R. S., & Folkman, S. (2010). Stress, appraisal, and coping (Reprint ed.). Springer Publishing Company.
Lazarus and Folkman. (1984). Lazarus and Folkman 1984 [PDF]. Diakses Januari 27, 2026, dari https://mirante.sema.ce.gov.br/sites/HomePages/604389/mL9104/lazarus_and_folkman-1984.pdf
Lifestyle → Sustainability Directory. (n.d.). Transactional model of stress and coping. Diakses Januari 27, 2026, dari https://lifestyle.sustainability-directory.com/area/transactional-model-of-stress-and-coping/
Lumen Learning. (n.d.). Regulating stress | Introduction to psychology. Diakses Januari 27, 2026, dari https://courses.lumenlearning.com/waymaker-psychology/chapter/regulation-of-stress/
MDPI. (2024). Neuropsychological insights into coping strategies: Integrating theory and practice in clinical and therapeutic contexts. Diakses Januari 27, 2026, dari https://www.mdpi.com/2673-5318/5/1/5
NCBI Bookshelf. (n.d.). Coping mechanisms. Diakses Januari 27, 2026, dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559031/
NuMed Direct Primary Care. (n.d.). Understanding the transactional model of stress. Diakses Januari 27, 2026, dari https://numedprimarycare.com/understanding-the-transactional-model-of-stress/
Oxford Research Encyclopedias. (n.d.). Work, stress, coping, and stress management. Diakses Januari 27, 2026, dari https://oxfordre.com/psychology/display/10.1093/acrefore/9780190236557.001.0001/acrefore-9780190236557-e-30
Pennsylvania State University. (n.d.). Lazarus’ view of stress – Psychology of human emotion. Diakses Januari 27, 2026, dari https://psu.pb.unizin.org/psych425/chapter/lazarus-view-of-stress/
Psychology Fanatic. (n.d.). Stress and coping theory: Navigating life’s turbulent waters. Diakses Januari 27, 2026, dari https://psychologyfanatic.com/stress-and-coping-theory/
PubMed Central. (n.d.). Capitalizing on appraisal processes to improve affective responses. Diakses Januari 27, 2026, dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6550483/
PubMed Central. (n.d.). Dynamics of perceived stress, stress appraisal, and coping strategies in an evolving educational landscape. Diakses Januari 27, 2026, dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11274181/
PubMed Central. (n.d.). Problem-focused and emotion-focused coping options and loneliness. Diakses Januari 27, 2026, dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5549139/
PubMed Central. (n.d.). Stress and coping with discrimination and stigmatization. Diakses Januari 27, 2026, dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3110961/
PubMed Central. (n.d.). Stress, cognitive appraisal, coping, and event-free survival. Diakses Januari 27, 2026, dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5924439/
PubMed Central. (n.d.). A modified version of the transactional stress concept according to Lazarus and Folkman. Diakses Januari 27, 2026, dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7973375/
PubMed Central. (n.d.). A rank ordering and analysis of four cognitive-behavioral stress-management competencies. Diakses Januari 27, 2026, dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11333707/
Schaufeli, W. B. (n.d.). A micro-analytic exploration of the cognitive appraisal of daily stressful events at work. Diakses Januari 27, 2026, dari https://www.wilmarschaufeli.nl/publications/Schaufeli/062.pdf
Study.com. (n.d.). Stress appraisal theory by Richard Lazarus. Diakses Januari 27, 2026, dari https://study.com/academy/lesson/richard-lazaruss-theory-of-stress-appraisal.html
StudyPulse. (n.d.). Lazarus and Folkman’s transactional model of stress and coping. Diakses Januari 27, 2026, dari https://vce.studypulse.au/learn/PSY/transactional_model
Wikiversity. (2013). Transactional model of stress and coping. Diakses Januari 27, 2026, dari https://en.wikiversity.org/wiki/Motivation_and_emotion/Book/2013/Transactional_model_of_stress_and_coping
.png)



Post a Comment