Hegemoni, Tubuh, dan Reproduksi Sosial dalam Religion and Social Theory Karya Bryan S. Turner
Genealogi Intelektual dan Kegelisahan Teoretis
Pada awal diskursusnya, Turner menyatakan ketidakpuasan mendalam terhadap kondisi sosiologi agama pada akhir abad ke-20 yang ia anggap telah terisolasi dari arus utama teori sosial modern. Ia berargumen bahwa sosiologi agama seringkali terjebak dalam perdebatan usang antara fungsionalisme yang menekankan integrasi dan Marxisme yang menekankan ideologi penindasan, tanpa mampu menangkap dinamika perubahan budaya yang dibawa oleh strukturalisme, teori kritis, dan filsafat pascastrukturalisme. Baginya, agama bukan sekadar variabel tambahan dalam sosiologi, melainkan elemen kunci untuk memahami hakikat diri, tatanan sosial, dan keterbatasan rasionalitas manusia.
Tesis utama Turner berakar pada penggabungan pemikiran Max Weber mengenai rasionalisasi dan etika asketik dengan pemikiran Michel Foucault mengenai bio-politik dan disiplin tubuh. Turner mengusulkan bahwa untuk memahami agama secara sosiologis, kita harus melihat bagaimana institusi keagamaan mengatur keinginan manusia dan mengontrol populasi demi kelangsungan tatanan sosial dan ekonomi. Konsep "masyarakat somatik" (somatic society) yang ia kembangkan merujuk pada kondisi di mana masalah-masalah politik, sosial, dan personal diekspresikan melalui pengaturan tubuh manusia.
Dekonstruksi Teori Klasik: Antara Semen Sosial dan Candu Masyarakat
Dalam bab "Social Cement" (Semen Sosial) dan "Social Opium" (Candu Sosial), Turner melakukan evaluasi kritis terhadap warisan Durkheim dan Marx. Ia menantang asumsi bahwa agama selalu berfungsi sebagai perekat yang menyatukan masyarakat atau sekadar alat pembius bagi kelas pekerja.
Kritik terhadap Integrasi Durkheimian
Turner mempertanyakan tesis Durkheim yang menyatakan bahwa masyarakat membutuhkan konsensus nilai yang kuat melalui agama untuk bertahan hidup. Melalui tinjauan sejarah, Turner menunjukkan bahwa integrasi sosial seringkali lebih merupakan hasil dari interdependensi ekonomi dan "paksaan tumpul" dari hubungan produksi daripada kesepakatan moral. Dalam masyarakat feodal, misalnya, terdapat perbedaan mencolok antara agama elit (gereja resmi) dan agama rakyat (sihir, paganisme, dan folk religion). Petani seringkali tidak sepenuhnya terintegrasi secara ideologis ke dalam doktrin gereja, namun mereka tetap patuh karena ketergantungan ekonomi pada tuan tanah. Dengan demikian, agama berfungsi sebagai "semen" yang lebih efektif untuk menyatukan kelas penguasa sendiri daripada menyatukan seluruh strata masyarakat.
Reevaluasi Tesis Ideologi Dominan
Beranjak ke kritik terhadap Marxisme, Turner (bersama rekan-rekannya dalam The Dominant Ideology Thesis) berpendapat bahwa sosiolog seringkali melebih-lebihkan kemampuan kelas penguasa dalam memaksakan ideologi mereka kepada kelas bawah. Agama sebagai "candu" mengasumsikan bahwa kelas tertindas memiliki keyakinan yang sama dengan penindasnya, padahal bukti sejarah menunjukkan adanya resistensi budaya yang kuat. Turner mengusulkan bahwa fungsi utama agama dalam sejarah bukanlah untuk mengelabui rakyat jelata, melainkan untuk mengatur sistem pewarisan dan legitimasi kekuasaan di antara kaum elit. Agama memberikan kerangka hukum bagi hak primogenitur (pewarisan kepada anak sulung) yang krusial untuk mencegah fragmentasi lahan dan kekayaan keluarga bangsawan.
Agama sebagai Sistem Pertukaran dan Kontrol Sosial
Salah satu kontribusi paling orisinal dalam buku ini adalah analisis mengenai "Agama sebagai Pertukaran" (Religion as Exchange) dan "Agama sebagai Kontrol Sosial" (Religion as Social Control). Turner melihat adanya analogi antara transaksi ekonomi dan praktik keagamaan.
Logika Pertukaran Ilahi
Dalam banyak tradisi keagamaan, hubungan antara manusia dan Tuhan dipahami melalui logika timbal balik atau pertukaran. Manusia memberikan pengorbanan, doa, dan ketaatan asketik, sementara Tuhan memberikan keselamatan, berkah, atau perlindungan. Turner menganalisis bagaimana institusi agama mengelola "ekonomi keselamatan" ini melalui sistem jasa (merit), indulgensi, atau zakat yang memiliki dampak ekonomi nyata pada distribusi kekayaan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa agama bukan sekadar sistem makna, melainkan sistem manajemen risiko dan aset dalam menghadapi ketidakpastian hidup.
Mekanisme Kontrol Tubuh dan Keinginan
Turner berargumen bahwa masalah mendasar setiap tatanan sosial adalah bagaimana mengelola "tubuh" manusia agar sesuai dengan kebutuhan reproduksi sosial. Agama menjalankan kontrol ini melalui empat dimensi utama:
1. Reproduksi Populasi: Mengatur angka kelahiran melalui hukum pernikahan dan larangan kontrasepsi.
2. Pengaturan Keinginan: Mengontrol seksualitas manusia agar tetap berada dalam koridor keluarga inti yang sah, guna menjamin kepastian hak waris.
3. Disiplin Diri: Melatih individu untuk memiliki kontrol internal melalui praktik doa, puasa, dan pengakuan dosa.
4. Representasi Tubuh: Menetapkan norma-norma berpakaian dan tanda-tanda fisik (seperti sunat atau tato) untuk menandai identitas kelompok dan status sosial.
Factual example yang diangkat Turner adalah praktik pengakuan dosa (confessional) dalam Gereja Katolik. Praktik ini bukan hanya soal pembersihan jiwa, melainkan sebuah teknologi kekuasaan yang memaksa individu untuk memantau pikiran dan tubuh mereka sendiri, yang kemudian menjadi prototipe bagi praktik psikiatri dan medis modern.
Analisis Sejarah Komparatif: Feodalisme, Kapitalisme, dan Islam
Turner menerapkan kerangka teoretisnya untuk membandingkan perkembangan masyarakat Barat dan Timur, dengan fokus pada peran agama dalam transisi menuju modernitas.
Feodalisme dan Regulasi Patriarki
Dalam masyarakat feodal Eropa, Turner menunjukkan bahwa fokus utama agama adalah pemeliharaan garis keturunan dan kesatuan tanah. Gereja sangat menekankan larangan perceraian dan hubungan di luar nikah bukan hanya karena alasan moralitas murni, tetapi karena ketidakpastian keturunan akan mengancam sistem pewarisan tanah yang menjadi basis kekuasaan feodal. Patriarki di sini bukan sekadar dominasi pria, melainkan sistem kontrol ekonomi yang didukung oleh teologi keagamaan.
Kapitalisme dan Etika Protestan
Menganalisis tesis Weber, Turner melihat etika Protestan sebagai bentuk rasionalisasi asketisisme yang memindahkan kontrol tubuh dari biara ke dalam kehidupan sehari-hari (inner-worldly asceticism). Keberhasilan kapitalisme tidak hanya bergantung pada akumulasi modal, tetapi pada pembentukan subjek manusia yang disiplin, hemat, dan mampu menunda kenikmatan fisik demi investasi jangka panjang. Di sini, agama berfungsi untuk memproduksi "tubuh yang produktif" bagi mesin industri awal.
Islam, Orientalisme, dan Fundamentalisme
Turner memberikan perhatian besar pada Islam untuk mengoreksi bias Orientalisme dalam sosiologi klasik. Ia berargumen bahwa Islam sebenarnya sangat kompatibel dengan proyek modernisasi karena sifatnya yang rasional, legalistik, dan menekankan pada keteraturan sosial. Namun, Islam menghadapi tantangan unik dalam era postmodernitas. Turner melihat fundamentalisme Islam bukan sebagai kembalinya tradisi kuno, melainkan sebagai reaksi modern terhadap fragmentasi budaya global. Fundamentalisme berusaha mengklaim kembali kontrol atas "ruang kehidupan" (life-world) dan tubuh (khususnya tubuh perempuan melalui hijab) sebagai benteng terakhir melawan komodifikasi gaya hidup Barat.
Dinamika Sekularisasi: Dari Institusi ke Somatisasi
Turner menawarkan perspektif yang sangat berbeda mengenai sekularisasi. Alih-alih melihatnya sebagai akhir dari agama, ia melihatnya sebagai perubahan bentuk di mana kontrol sosial berpindah dari otoritas agama ke otoritas medis dan pasar.
Kedokteran sebagai "Agama Baru"
Turner berpendapat bahwa dalam masyarakat modern, profesi medis telah mengambil alih peran gereja dalam mendefinisikan apa yang "normal" dan "menyimpang" bagi tubuh manusia. Jika dulu dosa adalah penyebab penderitaan, kini penyakit dan gangguan mental menjadi kategori utama untuk mengatur perilaku manusia. Praktik medis berfungsi sebagai wacana moral yang memproduksi regulasi tubuh dalam skala massal, mulai dari diet hingga bedah plastik.
Konsumerisme dan Spiritualitas Intensitas Rendah
Sekularisasi juga berarti agama menjadi bagian dari pasar global. Turner mengamati munculnya "agama intensitas rendah" atau spiritualitas cair yang tidak lagi menuntut komitmen asketik yang keras, melainkan menawarkan pengalaman estetis dan kenyamanan psikologis. Fenomena seperti yoga sebagai gaya hidup, penggunaan simbol agama dalam fashion, atau munculnya "urban tribes" yang mengadopsi ritual sekuler merupakan bukti bahwa "yang sakral" tidak hilang, melainkan telah dide-ritualisasi dan dikomodifikasi. Hal ini seringkali berujung pada erosi fondasi komunal dari moralitas keagamaan tradisional, digantikan oleh individualisme ekspresif.
Globalisasi, Hak Asasi, dan Kebajikan Kosmopolitan
Dalam bagian akhir karyanya, Turner mengeksplorasi implikasi global dari teorinya. Ia menyoroti bahwa di dunia yang multikultural dan penuh konflik nilai, kita membutuhkan dasar baru bagi solidaritas sosial.
Kerentanan sebagai Dasar Hak Asasi
Turner mengusulkan bahwa kesadaran akan "kerentanan" (vulnerability) tubuh manusia adalah kategori universal yang dapat menyatukan umat manusia melampaui batas agama dan budaya. Karena setiap manusia memiliki tubuh yang bisa sakit, menderita, dan mati, maka perlindungan terhadap tubuh (hak asasi manusia) harus menjadi prioritas utama. Ini adalah bentuk "ontologi fondasional" yang ia tawarkan untuk melawan relativisme budaya yang ekstrem.
Kebajikan Kosmopolitan (Cosmopolitan Virtue)
Menghadapi tantangan fundamentalisme dan konflik global, Turner memperkenalkan konsep "kebajikan kosmopolitan". Kebajikan ini mencakup:
- Ironi: Kemampuan untuk mengakui bahwa keyakinan kita sendiri bersifat parsial dan mungkin tidak memiliki kebenaran mutlak.
- Refleksivitas: Kesadaran akan sejarah dan struktur yang membentuk identitas kita, sehingga kita tidak terjebak dalam fanatisme buta.
- Simpati dan Timbal Balik: Kepedulian terhadap kelangsungan budaya orang lain berdasarkan pengakuan akan kerentanan yang sama.
Turner berpendapat bahwa sosiologi agama di masa depan tidak boleh hanya mempelajari doktrin, tetapi harus mempelajari bagaimana "kewarganegaraan global" dan "agama global" dapat berinteraksi secara damai melalui institusi hukum internasional dan pengakuan atas martabat tubuh manusia.
Signifikansi Metodologis: Realisme Sosial dan Refleksivitas
Sepanjang analisisnya, Turner mempertahankan posisi "realisme sosial". Ia menolak pandangan postmodernisme ekstrem yang menganggap bahwa tidak ada realitas di luar teks atau konstruksi budaya. Baginya, sosiologi harus tetap berakar pada realitas empiris manusia sebagai makhluk jasmani yang hidup dalam struktur sosial yang nyata.
Metodologi Turner bersifat komparatif secara resolut, membandingkan Yudaisme, Kristen, dan Islam untuk menemukan pola-pola umum dalam manajemen reproduksi dan kontrol sosial. Ia menekankan pentingnya "konversi metodologis"—kemampuan sosiolog untuk memahami dunia batin penganut agama tanpa harus meninggalkan objektivitas ilmiah.
Kesimpulan: Agama dan Masa Depan "Yang Sosial"
Karya Religion and Social Theory karya Bryan S. Turner bukan hanya sebuah buku teks tentang sosiologi agama, melainkan sebuah manifesto teoretis yang mengembalikan agama ke pusat diskusi tentang tubuh, kekuasaan, dan modernitas. Turner berhasil menunjukkan bahwa:
1. Agama adalah mekanisme krusial bagi kontrol sosial atas keinginan manusia dan pengaturan sistem reproduksi ekonomi serta manusia.
2. Sekularisasi tidak berarti hilangnya kontrol atas tubuh, melainkan perpindahan kontrol tersebut ke tangan otoritas medis, biopolitik, dan pasar konsumen.
3. Di era global, pemahaman tentang kerentanan manusia dapat menjadi jembatan untuk dialog antar-agama dan pembentukan etika kosmopolitan yang berbasis pada hak asasi manusia.
Dengan mengintegrasikan sosiologi tubuh ke dalam sosiologi agama, Turner memberikan lensa yang tajam untuk melihat bagaimana konflik-konflik kontemporer—mulai dari perdebatan hijab hingga politik identitas—sebenarnya adalah perebutan kendali atas makna dan regulasi tubuh manusia dalam tatanan dunia yang terus berubah. Buku ini tetap relevan sebagai panduan bagi para akademisi untuk memahami dinamika antara yang sakral, yang sekuler, dan yang ragawi dalam masyarakat modern yang kompleks.
Referensi:
AbeBooks. (n.d.). The body and society (Bryan S. Turner). Diakses 5 Januari 2026, dari https://www.abebooks.com/9780631126232/Body-Society-Turner-Bryan-S-0631126236/plp
Australian Catholic University. (n.d.). Bryan Turner: Research profile. Diakses 5 Januari 2026, dari https://www.researchgate.net/profile/Bryan-Turner-4/5
Banerjee, P. (n.d.). Marxist dialectics of class and religion: A critical appraisal. Diakses 5 Januari 2026, dari https://www.thecho.in/files/Prasanta-Banerjee.pdf
Brill. (n.d.). Bryan S. Turner. Diakses 5 Januari 2026, dari https://brill.com/downloadpdf/book/9789004418530/B9789004418530_s010.pdf
Brill. (n.d.). Globalization and the future study of religion. Diakses 5 Januari 2026, dari https://brill.com/display/book/edcoll/9789047404125/BP000009.pdf
Brill. (n.d.). Religion, international relations and development cooperation. Diakses 5 Januari 2026, dari https://brill.com/downloadpdf/edcollbook/title/68735.pdf
Cambridge University Press. (n.d.). Religion and modern society. Diakses 5 Januari 2026, dari https://www.cambridge.org/core/books/religion-and-modern-society/47D33C89E62CB09796802F47D2E368BF
Cambridge University Press. (n.d.). Which way for the sociology of religion? A review article. Diakses 5 Januari 2026, dari https://www.cambridge.org/core/services/aop-cambridge-core/content/view/036A4D897D643C504D135DCBCF2E8CC2
CUNY Graduate Center. (n.d.). Bryan Turner. Diakses 5 Januari 2026, dari https://www.gc.cuny.edu/people/bryan-turner
Diritti Comparati. (n.d.). Bryan Turner’s review: Religion and modern society. Diakses 5 Januari 2026, dari https://www.diritticomparati.it/bryan-turners-review-religion-and-modern-society-citizenship-secularization-and-the-state-cambridge/
Global College. (n.d.). Regulating bodies: Essays in medical sociology. Diakses 5 Januari 2026, dari http://diglib.globalcollege.edu.et:8080/xmlui/bitstream/handle/123456789/182/REGULATING%20BODIES.pdf
Google Books. (n.d.). Religion and social theory. Diakses 5 Januari 2026, dari https://books.google.kg/books?id=txTXAAAAMAAJ
Hamzanwadi University Library. (n.d.). Religion, realism and social theory. Diakses 5 Januari 2026, dari https://digilib.hamzanwadi.ac.id/index.php?p=fstream-pdf&fid=2451&bid=10602
International Sociological Association. (n.d.). Newsletter. Diakses 5 Januari 2026, dari https://www.isa-sociology.org/uploads/imgen/1985-rc22newsletter-6-2010.pdf
Max Planck Society. (n.d.). Bryan Stanley Turner. Diakses 5 Januari 2026, dari https://www.mpg.de/9336517/Bryan-Turner
Perlego. (n.d.). The body and society (3rd ed.). Diakses 5 Januari 2026, dari https://www.perlego.com/book/860859/the-body-and-society-explorations-in-social-theory-pdf
ResearchGate. (n.d.). The body & society: Explorations in social theory. Diakses 5 Januari 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/292822082
SAGE Publications. (n.d.). Religion and social theory. Diakses 5 Januari 2026, dari https://uk.sagepub.com/en-gb/eur/religion-and-social-theory/book203571
SAGE Publications. (n.d.). Theory, Culture & Society. Diakses 5 Januari 2026, dari https://uk.sagepub.com/sites/default/files/tcs-catalogue_0.pdf
Scribd. (n.d.). Society and culture: Principles of scarcity and solidarity. Diakses 5 Januari 2026, dari https://www.scribd.com/document/479357633
Sociology Central. (n.d.). Marxist theories of religion. Diakses 5 Januari 2026, dari http://www.sociology.org.uk/notes/relmarx.pdf
Sociopedia. (n.d.). Turner, Bryan S. Diakses 5 Januari 2026, dari https://www.sociopedia.co/author/turner-bryan-s
Theory, Culture & Society. (n.d.). The body and social theory. Diakses 5 Januari 2026, dari https://www.gacbe.ac.in/images/E%20books/Body%20and%20Social%20Theory%20Theory,%20Culture%20&%20Society.pdf
Turner, B. S. (1991). Religion and social theory. SAGE Publications.
Turner, B. S. (2011). Religion and modern society: Citizenship, secularisation and the state. Cambridge University Press.
Turner, B. S. (n.d.). The sociology of Islam: Collected essays. Diakses 5 Januari 2026, dari https://api.pageplace.de/preview/DT0400.9781317015314_A26648842
VDOC.PUB. (n.d.). Religion and social theory. Diakses 5 Januari 2026, dari https://vdoc.pub/documents/religion-and-social-theory-7fid2f3r57m0
WordPress. (n.d.). Religion | SOC 331: Foundations of sociological theory. Diakses 5 Januari 2026, dari https://soc331.wordpress.com/tag/religion/
Zygon: Journal of Religion and Science. (n.d.). Reviews. Diakses 5 Januari 2026, dari https://www.zygonjournal.org/article/12517/galley/25411/download/



Post a Comment