Al-Ḥisbah fī al-Islām Karya Ibn Taymiyyah: Analisis Keadilan Sosio-Ekonomi dalam Islam

Table of Contents
Al-Ḥisbah fī al-Islām Karya Ibn Taymiyyah
Kitab Al-Ḥisbah fī al-Islām merupakan salah satu risalah paling fundamental dalam khazanah intelektual Islam yang membahas mengenai pengawasan pasar, etika publik, dan tanggung jawab kenegaraan. Ditulis oleh Syaikh al-Islam Ibn Taymiyyah pada masa Dinasti Mamluk, karya ini bukan sekadar panduan administratif, melainkan sebuah manifesto teologis yang menghubungkan antara ketaatan spiritual dengan integritas muamalah. Ibn Taymiyyah merumuskan institusi hisbah sebagai mekanisme operasional dari prinsip al-amr bi al-ma'ruf wa al-nahy 'an al-munkar (memerintahkan kebajikan dan mencegah kemungkaran), yang ia yakini sebagai pilar penyangga peradaban yang stabil dan adil. Melalui teks ini, Ibn Taymiyyah menguraikan bagaimana negara harus hadir sebagai penjamin keadilan tanpa mematikan inisiatif individu, sebuah pemikiran yang mendahului banyak teori ekonomi modern mengenai kegagalan pasar dan intervensi pemerintah.

Baca Juga: As-Siyasah ash-Shar’iyyah Karya Ibnu Taimiyah: Analisis Politik Hukum Islam dan Keadilan Negara

Landasan Filosofis dan Teologis Institusi Hisbah

Secara etimologis, kata hisbah berasal dari akar kata hasaba yang memiliki spektrum makna yang luas, mulai dari menghitung, menimbang, hingga mengharapkan pahala dari Allah SWT di akhirat. Ibn Taymiyyah memandang hisbah sebagai disiplin ilmu yang lahir dari epistemologi dan tasawwur (gambaran dunia) Islam, di mana setiap tindakan manusia di ruang publik memiliki konsekuensi eskatologis. Baginya, tujuan utama dari implementasi hisbah adalah untuk mendapatkan keridaan Allah dengan cara membentuk masyarakat yang memiliki disiplin moral tinggi dan mampu menjauhkan diri dari praktik-praktik menyimpang yang mengundang murka Tuhan.

Visi Ibn Taymiyyah mengenai hisbah melampaui sekadar regulasi teknis. Ia menegaskan bahwa Allah memerintahkan umat manusia di seluruh wilayah untuk bersatu dalam menaati hukum-Nya dan menjauhi larangan-Nya demi kesejahteraan di dunia dan akhirat. Institusi ini menjadi jembatan antara dimensi hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia), memastikan bahwa kebutuhan spiritual dan fisik manusia terpenuhi secara seimbang. Dengan demikian, hisbah berfungsi sebagai wasilah bagi tugas para Nabi dan Rasul dalam menyampaikan hukum-hukum Allah di muka bumi.

Al-Ḥisbah fī al-Islām Karya Ibn Taymiyyah

Struktur Organisasi dan Kualifikasi Muhtasib

Dalam kerangka administrasi publik Islam yang digambarkan Ibn Taymiyyah, pelaksana fungsi hisbah disebut sebagai muhtasib. Ibn Taymiyyah membedakan antara kewajiban individu untuk melakukan amar ma'ruf nahi munkar secara sukarela (mutatawwi') dengan kewajiban resmi yang diemban oleh pejabat negara. Seorang muhtasib adalah pejabat yang memiliki otoritas hukum untuk mengawasi perilaku masyarakat di pasar dan ruang publik, serta memiliki kewenangan untuk menjatuhkan sanksi ta'zir kepada pelanggar. Jabatan ini dipandang sebagai bagian integral dari sistem peradilan Islam yang memiliki kaitan erat dengan lembaga qada' (pengadilan), mazalim (biro pengaduan), dan shurtah (kepolisian).

Ibn Taymiyyah memberikan penekanan khusus pada kualifikasi seorang muhtasib. Karena tugasnya bersentuhan langsung dengan kepentingan dan keinginan manusia yang sering kali bertentangan, seorang muhtasib harus memiliki ketetapan hati yang kuat dan pemahaman fiqih yang mendalam. Kriteria utama yang harus dimiliki meliputi sifat amanah (dapat dipercaya), 'adl (adil), bijaksana dalam mengambil keputusan, serta ketaatan yang teguh kepada prinsip-prinsip syariat. Tanpa kualifikasi ini, lembaga hisbah berisiko jatuh ke dalam praktik otoritarianisme atau penyalahgunaan kekuasaan yang justru merusak kemaslahatan publik.

Perbedaan Peran: Muhtasib vs Hakim dan Sukarelawan

Perbedaan Peran: Muhtasib vs Hakim dan Sukarelawan
Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa seorang muhtasib memiliki staf atau pegawai yang membantunya menjalankan tugas di berbagai sektor, mulai dari pengawasan timbangan hingga pemeliharaan kebersihan kota. Otoritas ini diperlukan karena penegakan kebenaran sering kali memerlukan kekuatan fisik (hand) jika nasihat lisan (tongue) tidak lagi efektif untuk menghentikan kemungkaran yang sistemik.

Mekanisme Pasar dan Teori Harga yang Adil (Tsaman al-Mitsl)

Salah satu bagian yang paling sering dikutip dari karya Ibn Taymiyyah adalah analisisnya mengenai mekanisme pasar. Ia secara jernih mengidentifikasi bahwa harga di pasar ditentukan oleh interaksi antara kekuatan penawaran (supply) dan permintaan (demand). Ibn Taymiyyah berargumen bahwa naik turunnya harga tidak selalu merupakan hasil dari kezaliman pedagang; kenaikan harga bisa terjadi secara alami akibat penurunan produksi lokal, berkurangnya pasokan barang impor, atau peningkatan jumlah penduduk yang menaikkan permintaan.

Ibn Taymiyyah memperkenalkan konsep "harga yang setara" (tsaman al-mitsl) atau "kompensasi yang adil" ('iwad al-mitsl) sebagai standar dalam transaksi. Harga yang adil adalah harga yang berlaku di pasar ketika masyarakat menjual barang mereka secara sukarela tanpa adanya unsur manipulasi atau tekanan. Keadilan dalam harga ini berakar pada prinsip La Dharar—yakni tidak boleh ada pihak yang dirugikan atau disakiti, baik itu pembeli maupun penjual.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan dan Penawaran

Ibn Taymiyyah memerinci variabel-variabel yang menyebabkan perubahan harga dalam pasar bebas:
1. Keinginan Masyarakat (Al-Raghbah): Selera dan kebutuhan penduduk terhadap barang tertentu yang dapat berubah-ubah. Semakin tinggi keinginan masyarakat terhadap suatu barang sementara jumlahnya tetap, maka harga akan naik.
2. Kelangkaan Barang (Al-Matlub): Ketersediaan stok barang di pasar. Barang yang langka (scarce) secara otomatis akan memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan barang yang melimpah.
3. Kualitas Alat Tukar: Nilai mata uang yang digunakan dalam transaksi. Jika pembayaran dilakukan dengan mata uang yang jarang beredar atau memiliki nilai intrinsik yang tidak stabil, harga barang akan menyesuaikan.
4. Kondisi Transaksi: Harga dapat bervariasi tergantung pada kredibilitas pihak yang terlibat. Misalnya, harga untuk pembeli yang kaya dan dikenal jujur dalam membayar mungkin lebih rendah daripada harga untuk pembeli yang sering menunda pembayaran atau sedang bangkrut.
5. Biaya Produksi dan Distribusi: Modal yang dikeluarkan oleh produsen serta kelancaran impor barang dari wilayah lain sangat memengaruhi penawaran total di pasar.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan dan Penawaran
Ibn Taymiyyah menegaskan bahwa intervensi harga (tas'ir) oleh pemerintah hanya diperbolehkan jika terjadi kegagalan pasar yang disebabkan oleh praktik curang seperti penimbunan (ihtikar) atau kolusi pedagang untuk menaikkan harga di atas normal. Tanpa adanya kondisi luar biasa tersebut, pematokan harga dianggap sebagai pemaksaan yang tidak sah (ikrah bi ghairi haq) dan tindakan zalim terhadap hak pedagang untuk mendapatkan keuntungan yang wajar.

Keadilan dalam Upah dan Kompensasi

Selain harga barang, Ibn Taymiyyah juga menerapkan prinsip keadilan pada pasar tenaga kerja melalui konsep "upah yang setara" (ujrah al-mitsl). Ia berargumen bahwa upah buruh harus ditentukan berdasarkan tingkat yang berlaku secara umum di pasar tenaga kerja, dengan definisi kualitas dan kuantitas pekerjaan yang jelas untuk menghindari eksploitasi dan spekulasi. Ibn Taymiyyah sangat menekankan pentingnya memberikan upah yang memungkinkan pekerja untuk hidup secara layak dan bermartabat.

Dalam kasus terjadi kerusakan pada harta benda atau cidera fisik, Ibn Taymiyyah merinci mekanisme kompensasi yang adil. Jika seseorang bertanggung jawab atas kerusakan milik orang lain atau kerugian pada jiwa (nufus), ia wajib membayar ganti rugi yang setara dengan nilai kerusakan tersebut di tempat dan waktu kejadian. Prinsip ini menunjukkan bahwa hisbah tidak hanya mengawasi perdagangan yang sedang berlangsung, tetapi juga memastikan pemulihan hak-hak yang terlanggar melalui sistem ganti rugi yang objektif.

Larangan Praktik Perdagangan yang Merusak (Malpraktik Ekonomi)

Ibn Taymiyyah menggunakan kitab Al-Ḥisbah untuk menyatakan perang terhadap segala bentuk kecurangan dalam muamalah yang ia sebut sebagai jalan yang batil. Fokus utama muhtasib adalah memberantas penipuan (tadlis) yang mengaburkan nilai asli suatu barang dan merugikan konsumen.

Jenis-Jenis Kecurangan yang Diawasi Muhtasib

1. Penimbunan (Ihtikar): Menahan barang-barang kebutuhan pokok masyarakat agar terjadi kelangkaan sehingga harga meningkat drastis. Ibn Taymiyyah memandang ini sebagai bentuk kezaliman sosial yang mengancam kesejahteraan umum.
2. Permintaan Semu (Najash): Melakukan rekayasa permintaan melalui kerja sama antara penjual dengan pihak ketiga yang berpura-pura menawar barang dengan harga tinggi. Tindakan ini merusak transparansi pasar dan menipu pembeli asli.
3. Penipuan Kualitas dan Kuantitas (Tadlis):

  • Tadlis Kuantitas: Mengurangi timbangan atau ukuran dari yang seharusnya. Ibn Taymiyyah sangat tegas dalam pengawasan alat ukur dan timbangan (UTTP), merujuk pada kehancuran kaum Nabi Syu'aib akibat kecurangan ini.
  • Tadlis Kualitas: Menyembunyikan cacat barang atau memperlihatkan bagian barang yang bagus di atas sementara bagian yang busuk disembunyikan di bawah. Ibn Taymiyyah mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang memasukkan tangannya ke tumpukan padi basah dan menegur penjualnya karena tidak meletakkan bagian yang basah di atas agar pembeli dapat melihatnya.

4. Spekulasi Berlebih (Gharar): Melakukan transaksi atas barang yang tidak pasti kualitas, kuantitas, atau keberadaannya, seperti menjual buah yang belum matang di pohon (sistem ijon) atau anak ternak yang masih dalam kandungan.
5. Riba dan Keuntungan yang Tidak Sah: Melarang segala bentuk tambahan dalam pinjaman atau pertukaran barang ribawi yang tidak sepadan, yang dianggap sebagai cara memakan harta sesama secara batil.

Jenis-Jenis Kecurangan yang Diawasi Muhtasib

Hak Milik Pribadi dan Batas-Batas Kekuasaan Negara

Ibn Taymiyyah merumuskan teori kepemilikan yang sangat berimbang. Ia mengakui hak individu untuk memiliki, menggunakan, dan mewariskan harta benda sebagai otoritas sah menurut syariah. Namun, hak milik ini bukan tanpa batas. Penggunaan hak milik pribadi dibatasi oleh kepentingan sosial dan kewajiban moral.

Menurut Ibn Taymiyyah, negara memiliki hak untuk melakukan intervensi terhadap properti pribadi jika hal itu diperlukan demi kemaslahatan umat yang lebih besar (public interest). Misalnya, jika ada sekelompok orang yang menguasai sumber daya air atau energi dan menolak membaginya kepada masyarakat dalam kondisi darurat, maka pemerintah wajib mengambil alih pengelolaan sumber daya tersebut atau memaksa pemiliknya untuk menjualnya dengan harga yang adil.

Ibn Taymiyyah juga menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara kolektif. Kekayaan alam seperti padang rumput, hutan, air, dan mineral dipandang sebagai milik bersama umat yang berada di bawah pengawasan negara untuk memastikan distribusi yang merata dan mencegah monopoli oleh segelintir elit ekonomi. Pemikiran ini bertujuan untuk mencegah konsentrasi kekayaan pada satu kelompok tertentu yang dapat memicu ketimpangan sosial dan ketidakstabilan politik.

Moralitas Publik dan Standar Pelayanan Kota

Lingkup hisbah dalam pandangan Ibn Taymiyyah tidak terbatas pada ekonomi saja. Sebagai institusi penjaga moralitas publik, muhtasib memiliki tanggung jawab administratif untuk memastikan kehidupan perkotaan berjalan dengan tertib dan islami.

Beberapa tanggung jawab muhtasib di luar urusan pasar meliputi:
1. Pengawasan Ibadah Publik: Memastikan pelaksanaan shalat lima waktu dan shalat Jumat dilakukan secara tertib, serta menegur mereka yang secara sengaja mengabaikan kewajiban agama yang bersifat dzahir.
2. Pemeliharaan Infrastruktur: Mengawasi kebersihan jalan, memastikan saluran air berfungsi dengan baik, serta melarang pembangunan yang menghalangi jalan umum atau membahayakan pejalan kaki.
3. Kesejahteraan Hewan: Ibn Taymiyyah menekankan bahwa muhtasib harus menghukum pemilik hewan yang memberikan beban di luar batas kemampuan hewan tersebut. Hal ini merujuk pada tindakan Khalifah Umar bin Khattab yang sangat peduli pada perlindungan hewan sebagai bagian dari rahmat bagi alam semesta.
4. Standar Profesi: Mengawasi kualitas pekerjaan para pengrajin, dokter, guru, dan tukang bangunan untuk memastikan mereka bekerja sesuai standar keahlian dan tidak menipu masyarakat yang menggunakan jasa mereka.
5. Ketertiban Umum: Melarang praktik perjudian, konsumsi alkohol di ruang publik, serta segala bentuk perilaku asusila yang dapat merusak tatanan sosial masyarakat.

Moralitas Publik dan Standar Pelayanan Kota

Peran Negara dalam Penanggulangan Kemiskinan

Ibn Taymiyyah dalam Al-Ḥisbah juga menyinggung tanggung jawab strategis negara untuk mengatasi kemiskinan dan ketimpangan. Ia berargumen bahwa kemaslahatan manusia tidak mungkin terwujud tanpa adanya sistem pertukaran yang adil, tetapi sistem tersebut harus didukung oleh jaminan sosial bagi mereka yang tidak mampu.

Negara berkewajiban untuk mengelola zakat secara transparan dan mendistribusikannya secara adil kepada mereka yang membutuhkan. Lebih jauh lagi, Ibn Taymiyyah melihat bahwa dalam kondisi di mana kebutuhan pokok masyarakat tidak terpenuhi melalui mekanisme pasar sukarela, negara harus mengambil alih kendali produksi atau distribusi untuk memastikan setiap warga negara dapat memenuhi kebutuhan minimumnya. Visi Ibn Taymiyyah adalah menciptakan kemandirian ekonomi di mana individu tidak bergantung pada orang lain, namun negara tetap hadir sebagai pelindung terakhir (safety net).

Relevansi Kitab Al-Hisbah Terhadap Ekonomi Syariah Modern

Meskipun ditulis berabad-abad yang lalu, pemikiran Ibn Taymiyyah dalam Al-Ḥisbah fī al-Islām tetap sangat relevan dan menjadi inspirasi bagi pengembangan ekonomi syariah kontemporer. Konsep "harga yang adil" dan pencegahan monopoli yang ia tawarkan kini diimplementasikan dalam berbagai bentuk regulasi pasar modern, seperti undang-undang anti-monopoli dan badan perlindungan konsumen.

Integrasi nilai-nilai hisbah ke dalam institusi modern dapat membantu mengatasi tantangan seperti korupsi, penipuan keuangan, dan ketidakadilan distributif. Dalam konteks pemasaran syariah, prinsip kejujuran (integrity) dan transparansi yang ditekankan Ibn Taymiyyah menjadi standar emas bagi pelaku bisnis untuk membangun kepercayaan jangka panjang dengan pelanggan. Pemikiran Ibn Taymiyyah memberikan landasan bahwa keberhasilan ekonomi suatu bangsa tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan PDB, tetapi dari sejauh mana keadilan dan moralitas tegak di tengah masyarakat.

Kesimpulan: Hisbah sebagai Fondasi Keadilan Peradaban

Secara keseluruhan, Al-Ḥisbah fī al-Islām karya Ibn Taymiyyah adalah sebuah mahakarya yang mendefinisikan ulang peran moralitas dalam tata kelola publik dan ekonomi. Ibn Taymiyyah berhasil membuktikan bahwa antara wahyu ilahi dan akal sehat dalam mengatur pasar tidak terdapat kontradiksi. Keadilan adalah "orang tua moral" dari seluruh kerangka ekonominya, yang bertujuan untuk melindungi masyarakat dari segala bentuk eksploitasi.

Institusi hisbah melalui peran muhtasib menjadi manifestasi nyata dari kehadiran negara sebagai pengayom masyarakat, penegak kejujuran, dan penjaga keteraturan sosial. Dengan menekankan keseimbangan antara hak individu dan tanggung jawab sosial, Ibn Taymiyyah menawarkan model pembangunan manusia yang utuh—yang makmur secara material namun tetap teguh dalam prinsip-prinsip spiritual. Pesan abadi dari kitab ini adalah bahwa peradaban yang besar hanya bisa tegak jika kejujuran di pasar, keadilan dalam upah, dan integritas dalam pelayanan publik menjadi nafas utama dari kehidupan bernegara. Pelajaran dari Al-Ḥisbah tetap menjadi kompas yang sangat berharga bagi upaya rekonstruksi tatanan dunia yang lebih adil dan bermartabat di masa kini dan masa depan.

Sitasi:

106 analisis kecurangan dalam takaran dan timbangan oleh pedagang ditinjau dari fiqih riba. (n.d.). Neliti. Retrieved January 16, 2026, from https://media.neliti.com/media/publications/288216-analisis-kecurangan-dalam-takaran-dan-ti-5977cd7a.pdf

Al-Hisbah: Lembaga pengawas pasar Islam. (n.d.). Scribd. Retrieved January 16, 2026, from https://id.scribd.com/document/633540376/al-hisbah

Analisis konsep keadilan ekonomi dalam pemikiran Ibnu Taimiyah. (n.d.). Retrieved January 16, 2026, from https://prin.or.id/index.php/JURRIE/article/download/5750/4335

Analisis kerangka regulasi model shariah governance lembaga keuangan syariah di Indonesia. (n.d.). ResearchGate. Retrieved January 16, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/293683440

Analisis kecurangan dalam takaran dan timbangan oleh pedagang ditinjau dari fiqih riba (studi kasus di Pasar Bandar Kediri). (n.d.). ResearchGate. Retrieved January 16, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/335115791

Ayat dan hadist tentang takaran dan timbangan. (n.d.). Retrieved January 16, 2026, from https://www.e-journal.staiyapistakalar.ac.id/index.php/DahzainNur/article/download/108/78/498

BAB II landasan teoritis Al-Hisbah. (n.d.). Repository UIN Suska Riau. Retrieved January 16, 2026, from https://repository.uin-suska.ac.id/18454/7/7.%202018163TES_BAB%20II.pdf

BAB III kriteria yang digunakan Ibnu Taimiyah dalam menetapkan harga. (n.d.). Repository IAIN Parepare. Retrieved January 16, 2026, from https://repository.iainpare.ac.id/id/eprint/3086/6/17.2400.057%20BAB%203.pdf

BAB VI Al-Hisbah. (n.d.). Repository UIN SATU. Retrieved January 16, 2026, from http://repo.uinsatu.ac.id/20596/9/BAB%20VI.pdf

Economic thought of Ibn al-Qayyim (1292–1350). (n.d.). Munich Personal RePEc Archive. Retrieved January 16, 2026, from https://mpra.ub.uni-muenchen.de/41369/1/economic_thought_of_ibn_al-qayyim.pdf

Government intervention in determining prices according to Ibn Taimiyah’s. (n.d.). Journal of Universitas Airlangga. Retrieved January 16, 2026, from https://e-journal.unair.ac.id/AIJIEF/article/download/20821/pdf/78562

Government intervention in determining prices according to Ibn Taimiyah’s. (n.d.). ResearchGate. Retrieved January 16, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/343066925

Hisbah: A vibrant Islamic legal tool for socio-political orderliness. (n.d.). Manupatra. Retrieved January 16, 2026, from http://docs.manupatra.in/newsline/articles/Upload/DC807106-BCBC-4797-B4AC-0D8685D63D9E.pdf

Ibn Taymiyya. (n.d.). Stanford Encyclopedia of Philosophy. Retrieved January 16, 2026, from https://plato.stanford.edu/entries/ibn-taymiyya/

Ibn Taymiyya. (n.d.). Wikipedia. Retrieved January 16, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/Ibn_Taymiyya

Ibn Taymiyyah, T. al-D. (1998). Al-ḥisbah fī al-islām. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Ibn Taymiyyah – Public duties in Islam: The institution of the hisba. (n.d.). Scribd. Retrieved January 16, 2026, from https://www.scribd.com/document/623864558

Islamic economics. (n.d.). Wikipedia. Retrieved January 16, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/Islamic_economics

Islamic law and the politics and economics of development according to Ibn Taymiyyah’s thought. (n.d.). Retrieved January 16, 2026, from https://kwpublications.com/papers_submitted/16377

Konsep regulasi pasar Ibnu Taimiyah dalam kebijakan sosial di era bisnis modern. (n.d.). Retrieved January 16, 2026, from https://rumahjurnal.or.id/index.php/BANSI/article/download/1226/617/5967

Ketentuan hukum Islam tentang at-tas‘ir al-jabari. (n.d.). Journal IAIN Manado. Retrieved January 16, 2026, from https://journal.iain-manado.ac.id/index.php/JIS/article/viewFile/169/144

Moderating role of hisbah institution on the relationship of religiosity and Islamic culture to Islamic work ethics in Nigeria. (n.d.). CORE. Retrieved January 16, 2026, from https://core.ac.uk/download/pdf/83553549.pdf

Muhtasib. (n.d.). Wikipedia. Retrieved January 16, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/Muhtasib

Pemikiran ekonomi Islam Ibnu Taimiyah. (n.d.). Jurnal IAIN Parepare. Retrieved January 16, 2026, from https://ejurnal.iainpare.ac.id/index.php/banco/article/download/2597/1014/

Pemikiran Ibnu Taimiyah dalam harga, pasar dan hak milik. (n.d.). Retrieved January 16, 2026, from https://ejournal.stebisigm.ac.id/esha/article/download/207/179/

Pemikiran Ibnu Taimiyah tentang al-hisbah serta relevansinya terhadap lembaga pengawas pasar tradisional. (n.d.). Repository IAIN Manado. Retrieved January 16, 2026, from https://repository.iain-manado.ac.id/1826/1/Skripsi%20BRIAN%20AJI%20NUGROHO.pdf

Peran lembaga hisbah dalam perlindungan harga komoditi sebagai upaya mitigasi korupsi di Indonesia. (n.d.). Retrieved January 16, 2026, from https://j-innovative.org/index.php/Innovative/article/download/7923/5522/12868

Principles of economic Ibn Taymiyyah (moral analysis). (n.d.). Neliti. Retrieved January 16, 2026, from https://media.neliti.com/media/publications/227666-principles-of-economic-ibn-taymiyyah-mor-898b8de0.pdf

The concept of al-hisbah in upholding public morals. (n.d.). ResearchGate. Retrieved January 16, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/395803414

The development of institution of ḥisbah and its role in the administration of markets in Islamic civilizations. (n.d.). NUML. Retrieved January 16, 2026, from https://numl.edu.pk/journals/subjects/159906938705

The elements of halal, hisbah and integrity in the Islamic-based development institutions. (n.d.). Index Copernicus. Retrieved January 16, 2026, from https://journals.indexcopernicus.com/api/file/viewByFileId/607793

The fundamentals of hisbah strategic in developing of human civilization. (n.d.). Allied Business Academies. Retrieved January 16, 2026, from https://www.abacademies.org/articles/the-fundamentals-of-hisbah-strategic-in-developing-of-human-civilization-7919.html

Wilayat al-hisbah: A means to achieve justice and maintain high ethical standards in societies. (n.d.). Richtmann Publishing. Retrieved January 16, 2026, from https://www.richtmann.org/journal/index.php/mjss/article/download/7069/6772/27344

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment