Maskulinitas dalam Konstruksi Sosial dan Politik: Analisis Pemikiran Raewyn Connell

Table of Contents

Buku Masculinities karya Raewyn Connell
Buku Masculinities karya Raewyn Connell merupakan teks fundamental yang secara drastis mengubah lanskap studi gender dengan memperkenalkan paradigma maskulinitas jamak dan relasional. Tesis utama Connell adalah penolakan terhadap gagasan bahwa maskulinitas merupakan karakter tunggal atau esensi biologis yang tetap pada diri laki-laki. Sebaliknya, ia berargumen bahwa maskulinitas harus dipahami sebagai sebuah konfigurasi praktik sosial yang diorganisir dalam hubungan kekuasaan, produksi, dan emosi. Karya ini muncul sebagai kritik terhadap teori peran seks (sex role theory) yang dianggap terlalu menyederhanakan kompleksitas kehidupan laki-laki dan mengabaikan struktur ketidaksetaraan yang mendasar dalam masyarakat patriarki.

Landasan Epistemologis: Menggugat Ilmu Pengetahuan Maskulinitas Tradisional

Connell memulai analisisnya dengan melakukan tinjauan kritis terhadap sejarah upaya ilmiah dalam memahami identitas laki-laki, yang ia klasifikasikan ke dalam beberapa tradisi pengetahuan utama. Ia mengevaluasi psikoanalisis, ilmu sosial positivistik, dan teori peran seks untuk menunjukkan bagaimana masing-masing pendekatan tersebut memberikan kontribusi sekaligus memiliki kelemahan struktural dalam menjelaskan dinamika gender.

Kritik Terhadap Psikoanalisis dan Pengetahuan Klinis

Tradisi psikoanalitik, mulai dari Freud hingga teori arketipe, diakui oleh Connell karena kemampuannya mengungkap kontradiksi internal dalam pembentukan identitas pria. Konsep kompleksitas Oedipus, misalnya, memberikan wawasan tentang bagaimana identitas maskulin bukanlah sesuatu yang muncul secara alami, melainkan hasil dari perjuangan psikis yang penuh ketegangan. Namun, Connell mengkritik kecenderungan psikoanalisis yang sering kali menguniversalkan pengalaman psikis individu kelas menengah Barat ke dalam teori yang dianggap berlaku bagi seluruh umat manusia tanpa mempertimbangkan konteks sejarah dan sosial. Ia menolak gagasan tentang "maskulinitas sejati" atau arketipe yang tersembunyi di alam bawah sadar, karena hal ini sering kali berakhir pada bentuk esensialisme baru yang mengabaikan bagaimana struktur sosial membentuk psikis individu.

Kegagalan Teori Peran Seks dan Positivisme

Kritik paling tajam dalam bab awal buku ini ditujukan kepada teori peran seks yang mendominasi sosiologi tahun 1950-an hingga 1970-an. Teori ini mengasumsikan bahwa gender adalah sekumpulan ekspektasi sosial yang dipelajari oleh individu melalui proses sosialisasi, di mana laki-laki mengadopsi peran maskulin dan perempuan mengadopsi peran feminin. Connell mengidentifikasi beberapa cacat mendasar dalam pendekatan ini:
1. Kategorikalitas: Teori peran seks mereduksi gender menjadi dua kategori homogen yang saling terpisah, sehingga mengaburkan perbedaan internal di antara kelompok laki-laki itu sendiri, seperti perbedaan kelas, ras, dan seksualitas.
2. Ketidakjelasan Struktur: Pendekatan ini gagal menjelaskan mengapa "peran" tersebut ada dan bagaimana peran tersebut terkait dengan struktur kekuasaan dan eksploitasi ekonomi.
3. Ambivalensi Agensi: Teori ini sering kali menggambarkan individu sebagai penerima pasif dari norma sosial, tanpa memperhitungkan bagaimana manusia secara aktif mengkonstruksi, menolak, atau menegosiasikan identitas mereka.

Sebagai alternatif, Connell mengajukan pendekatan sosiologi baru yang memandang maskulinitas sebagai aspek dari struktur sosial yang lebih besar, yang ia sebut sebagai "tatanan gender" (gender order).

Teori Tubuh dan Praktik Refleksif-Tubuh

Salah satu inovasi teoretis paling signifikan dalam Masculinities adalah cara Connell menangani masalah tubuh. Ia menolak dualisme tajam antara biologi dan budaya. Bagi Connell, tubuh bukanlah mesin biologis yang menentukan perilaku, tetapi juga bukan sekadar lanskap pasif yang dicorat-coret oleh budaya. Ia memperkenalkan konsep "praktik refleksif-tubuh" (body-reflexive practices) untuk menjelaskan bagaimana tubuh terlibat secara aktif dalam kehidupan sosial.

Tubuh laki-laki sering kali menjadi instrumen sekaligus objek dalam praktik gender. Dalam olahraga, misalnya, tubuh tidak hanya menampilkan maskulinitas, tetapi praktik fisik tersebut membentuk kembali perasaan, kemampuan, dan identitas sosial laki-laki tersebut. Connell memberikan contoh studi kasus seorang juara olahraga selancar (surf sports champion) yang ia sebut sebagai "Iron Man". Melalui latihan keras dan kompetisi, tubuh atlet ini dikonstruksi menjadi simbol kekuatan hegemonik, namun pada saat yang sama, ia harus menghadapi kelelahan, cedera, dan keterbatasan fisik yang kontradiktif dengan citra kejantanan yang sempurna.

Buku Masculinities karya Raewyn Connell

Organisasi Sosial Maskulinitas: Struktur dan Hierarki

Connell berargumen bahwa untuk memahami maskulinitas, kita harus melihat bagaimana praktik-praktik tersebut diorganisir dalam tiga struktur relasi gender utama: kekuasaan (power), produksi (production), dan kateksis atau keterikatan emosional (cathexis). Dari interaksi struktur-struktur inilah muncul berbagai jenis maskulinitas yang berada dalam hubungan hierarkis.

Maskulinitas Hegemonik: Inti dari Kekuasaan Patriarki

Konsep paling terkenal dari Connell adalah maskulinitas hegemonik (hegemonic masculinity). Mengadaptasi konsep hegemoni dari Antonio Gramsci, Connell mendefinisikan ini sebagai konfigurasi praktik gender yang memberikan jawaban atas masalah legitimasi patriarki, yang menjamin posisi dominan laki-laki atas perempuan serta subordinasi terhadap kelompok laki-laki lain.

Hegemoni tidak selalu bekerja melalui kekerasan fisik, meskipun kekuatan fisik sering kali menjadi pendukung di latar belakang. Sebaliknya, ia bekerja melalui kepemimpinan budaya, persuasi, dan institusi seperti media, sekolah, dan hukum yang menormalisasi standar tertentu tentang apa artinya menjadi "laki-laki sejati". Karakteristik maskulinitas hegemonik di Barat modern sering kali mencakup heteroseksualitas wajib, stoikisme emosional, kompetisi agresif, dan penguasaan atas teknologi atau modal.

Hubungan Antar-Maskulinitas: Subordinasi, Komplisitas, dan Marginalisasi

Connell menekankan bahwa maskulinitas hegemonik hanya ada dalam relasinya dengan bentuk-bentuk maskulinitas non-hegemonik:
1. Subordinasi: Hubungan di mana bentuk maskulinitas tertentu secara aktif ditekan atau dianggap tidak sah. Contoh paling nyata adalah subordinasi laki-laki gay oleh laki-laki heteroseksual. Dalam tatanan ini, menjadi gay sering kali disamakan dengan menjadi "feminin," yang merupakan posisi terendah dalam hierarki patriarki.
2. Komplisitas: Mencakup mayoritas laki-laki yang mungkin tidak sepenuhnya memenuhi standar ideal maskulinitas hegemonik, tetapi mereka tidak menantangnya karena mereka tetap mendapatkan "dividen patriarki" (patriarchal dividend). Mereka menikmati keuntungan sistemik dari posisi laki-laki di masyarakat tanpa harus berada di baris depan praktik dominasi.
3. Marginalisasi: Merujuk pada bagaimana gender berinteraksi dengan struktur kelas dan ras. Laki-laki dari kelompok etnis minoritas mungkin menampilkan karakteristik fisik maskulin yang kuat, tetapi mereka tetap marjinal karena tidak memiliki akses ke kekuasaan institusional yang dimiliki oleh kelompok dominan.

Studi Empiris: Dinamika Maskulinitas dalam Proses Perubahan

Bagian tengah buku ini menyajikan empat studi riwayat hidup yang mendalam untuk menunjukkan bagaimana teori Connell bekerja dalam realitas sosial yang konkret. Melalui metode riwayat hidup, Connell dapat melihat bagaimana struktur sosial bersinggungan dengan pengalaman personal individu.

Live Fast and Die Young: Maskulinitas Protes Pemuda Marjinal

Studi kasus pertama meneliti pemuda pengangguran dari kelas pekerja di New South Wales, Australia. Dalam kondisi ketiadaan akses ke pasar kerja dan otoritas ekonomi, para pemuda ini membangun apa yang disebut Connell sebagai "maskulinitas protes" (protest masculinity). Ini adalah versi yang sangat ditekankan dan sering kali kasar dari maskulinitas hegemonik, yang dipertahankan sebagai praktik kolektif dalam lingkungan seperti geng atau klub motor. Mereka menggunakan kekerasan, pengambilan risiko ekstrem, dan hiper-heteroseksualitas untuk mengklaim kejantanan yang secara struktural dirampas dari mereka oleh sistem ekonomi.

A Whole New World: Laki-laki dalam Gerakan Progresif

Studi kedua berfokus pada laki-laki yang terlibat dalam gerakan lingkungan hidup dan feminisme. Kelompok ini mewakili upaya sadar untuk melakukan de-maskulinisasi atau mencari alternatif terhadap dominasi patriarki. Connell mengidentifikasi proses "distansi" (distancing), di mana laki-laki ini mulai melihat cara hidup tradisional mereka sebagai sesuatu yang merusak dan mencoba membangun relasi yang lebih setara dengan perempuan. Namun, proses ini tidak mudah; Connell mencatat adanya "momen pertikaian" (moment of contestation) di mana sisa-sisa seksisme lama masih sering muncul dalam praktik keseharian mereka, menunjukkan betapa dalamnya struktur gender tertanam dalam psikis.

A Very Straight Gay: Negosiasi Identitas dalam Komunitas Gay

Melalui wawancara dengan laki-laki gay di Sydney, Connell mengeksplorasi bagaimana maskulinitas tetap menjadi referensi penting bahkan bagi mereka yang berada di posisi tersubordinasi. Ia menemukan bahwa banyak laki-laki gay justru mengadopsi gaya "hiper-maskulin" (seperti gaya butch atau klon Castro Street) sebagai bentuk parodi sekaligus klaim atas ruang publik yang sebelumnya tertutup bagi mereka. Meskipun mereka tersubordinasi, keberadaan komunitas gay yang stabil menciptakan kemungkinan bagi pembangkangan gender yang permanen di masyarakat luas.

Men of Reason: Rasionalitas sebagai Instrumen Maskulinitas Modern

Kelompok terakhir yang dipelajari adalah para profesional kelas menengah ke atas, seperti manajer dan teknokrat. Bagi mereka, maskulinitas tidak dibangun di atas otot, melainkan di atas "nalar" dan objektivitas. Penguasaan terhadap teknologi, manajemen modal, dan pengambilan keputusan yang dingin dipandang sebagai penanda kejantanan yang lebih tinggi daripada kekerasan fisik. Namun, Connell menunjukkan bahwa "rasionalitas" ini sering kali bersifat bias gender dan digunakan untuk mengecualikan perempuan serta mempertahankan hierarki kekuasaan dalam organisasi modern.

Sejarah Maskulinitas: Dari Kolonialisme hingga Neoliberalisme

Connell berargumen bahwa maskulinitas bukanlah entitas transhistoris, melainkan produk dari sejarah spesifik. Konsep maskulinitas Barat modern mulai terbentuk sekitar abad ke-18 sebagai bagian dari ekspansi kolonial dan pertumbuhan kapitalisme global.

Sebelum abad ke-18, tatanan gender di Eropa didasarkan pada model "satu seks," di mana perempuan dianggap sebagai versi laki-laki yang kurang sempurna atau inferior, bukan sebagai lawan jenis yang berbeda secara esensial. Namun, dengan munculnya borjuasi dan ideologi "ruang terpisah," maskulinitas mulai didefinisikan sebagai antitesis dari feminitas. Maskulinitas hegemonik di era ini sangat terkait dengan peran sebagai kepala rumah tangga yang memiliki otoritas hukum atas istri dan anak-anaknya.

Ekspansi kolonial membawa model maskulinitas Barat ini ke seluruh dunia, sering kali dengan menghancurkan atau mensubordinasi tatanan gender lokal. Di era modern, kita melihat kemunculan "maskulinitas manajerial global" yang didorong oleh korporasi transnasional, di mana kekuasaan laki-laki diukur melalui penguasaan atas arus modal dan informasi di tingkat dunia.

Buku Masculinities karya Raewyn Connell

Politik Maskulinitas dan Gerakan Sosial

Buku ini juga memetakan berbagai strategi politik yang diadopsi oleh laki-laki dalam menanggapi tantangan dari gerakan feminisme:
1. Gerakan Terapi: Menekankan pada penyembuhan luka emosional laki-laki dan pemulihan hubungan dengan ayah. Connell mengkritik ini sebagai strategi yang terlalu inward-looking dan gagal menantang struktur kekuasaan patriarki.
2. Pertahanan Hegemoni: Dicontohkan oleh kelompok-kelompok seperti lobi senjata yang mengagungkan citra laki-laki sebagai pelindung yang tangguh dan menolak segala bentuk pembatasan terhadap otoritas laki-laki.
3. Politik Keluar (Exit Politics): Merujuk pada kelompok laki-laki pro-feminis yang secara aktif berusaha membongkar hak istimewa mereka sendiri dan bekerja untuk kesetaraan gender di semua level kehidupan.

Connell menyimpulkan bahwa tatanan gender saat ini sedang mengalami "kecenderungan krisis" (crisis tendencies). Krisis ini dipicu oleh runtuhnya legitimasi otoritas laki-laki di rumah tangga, perubahan struktur ekonomi yang mengancam peran pencari nafkah tradisional, dan bangkitnya kesadaran akan keberagaman seksualitas.

Revisi Konsep Tahun 2005: Menjawab Kritik Global

Sepuluh tahun setelah publikasi pertama, Connell melakukan refleksi mendalam terhadap teorinya. Bersama James Messerschmidt, ia merumuskan kembali beberapa aspek dari maskulinitas hegemonik untuk mengatasi kelemahan yang diidentifikasi oleh para sarjana lain.

Geografi Maskulinitas

Salah satu poin penting dalam revisi ini adalah perlunya membedakan antara tingkat lokal, regional, dan global dalam konstruksi maskulinitas.

  • Lokal: Terjadi dalam interaksi tatap muka, seperti di keluarga, sekolah, atau tempat kerja tertentu.
  • Regional: Dikonstruksi di tingkat negara atau masyarakat melalui media dan kebijakan publik.
  • Global: Terbentuk melalui arena internasional seperti politik dunia, media massa global, dan pasar finansial.

Peran Agensi Perempuan dan Dinamika Internal

Revisi 2005 juga menekankan bahwa perempuan memiliki peran aktif dalam membentuk hierarki maskulinitas. Hegemoni laki-laki sering kali didukung oleh bentuk-bentuk feminitas tertentu yang "ditekankan" (emphasized femininity), yang melengkapi dan memvalidasi posisi dominan laki-laki. Selain itu, Connell mengakui bahwa maskulinitas hegemonik bukanlah tipe karakter yang stabil, melainkan sebuah posisi yang selalu bisa diperebutkan dan mengandung kontradiksi internal.

Implementasi dan Contoh Faktual dalam Konteks Indonesia

Teori Connell memberikan alat analisis yang sangat kaya untuk memahami fenomena gender di Indonesia.

Maskulinitas Hegemonik di Indonesia

Di Indonesia, maskulinitas hegemonik sering kali berkelindan dengan nilai-nilai agama, status sosial-ekonomi, dan otoritas keluarga. Sosok laki-laki ideal sering kali digambarkan sebagai sosok yang kuat secara ekonomi (pencari nafkah), memiliki kemapanan spiritual, dan mampu menjaga kehormatan keluarga. Media massa di Indonesia memperkuat citra ini melalui iklan produk laki-laki (seperti kopi, rokok, dan kendaraan) yang menekankan kemandirian, keberanian, dan kesuksesan material.

Marjinalisasi dan Subordinasi dalam Masyarakat Lokal

Contoh marginalisasi dapat dilihat pada laki-laki dari kelas pekerja bawah atau etnis minoritas yang mungkin memiliki kekuatan fisik (maskulinitas tradisional), tetapi tidak memiliki akses ke kekuasaan politik atau modal yang menentukan hegemoni di tingkat nasional. Sementara itu, subordinasi terlihat jelas dalam perlakuan terhadap komunitas transgender (seperti Waria) atau laki-laki gay yang sering kali mengalami kekerasan simbolik maupun fisik karena dianggap menyimpang dari standar "laki-laki sejati" yang heteronormatif.

Dinamika di Dunia Digital dan Politik Modern

Penelitian terbaru menunjukkan bagaimana maskulinitas hegemonik kini beroperasi di ruang digital Indonesia dan global. Di media sosial, praktik "perundungan maskulin" sering kali menyasar laki-laki yang dianggap kurang tangguh atau tidak memenuhi standar keberanian tertentu. Dalam ranah politik, gaya kepemimpinan yang agresif dan suka memamerkan kekuatan sering kali digunakan untuk memobilisasi massa, mencerminkan kerinduan akan model maskulinitas hegemonik yang otoriter di tengah ketidakpastian zaman.

Buku Masculinities karya Raewyn Connell

Praktik dan Utopia: Masa Depan Gender

Dalam bab penutup, Connell membahas kemungkinan perubahan menuju masyarakat yang lebih egaliter. Ia mengusulkan strategi "de-gendering" atau penghapusan sifat gender dalam struktur sosial. Namun, ia juga mengakui tantangan besar dalam menghapus maskulinitas hegemonik tanpa kehilangan aspek-aspek positif dari budaya yang telah dibangun laki-laki selama berabad-abad.

Utopia yang ditawarkan Connell bukanlah sebuah dunia tanpa laki-laki atau tanpa maskulinitas, melainkan sebuah tatanan di mana praktik-praktik maskulin tidak lagi dihubungkan dengan dominasi, kekerasan, dan eksploitasi. Kunci dari transformasi ini terletak pada partisipasi aktif laki-laki sebagai "agen perubahan," bukan hanya sebagai penerima kebijakan kesetaraan gender. Perubahan ini memerlukan restrukturisasi mendalam pada level institusi (seperti tempat kerja dan negara) serta pada level praktik personal dan keterikatan emosional.

Karya Masculinities tetap relevan hingga hari ini karena kemampuannya untuk menjelaskan bahwa masalah gender bukanlah "masalah perempuan" semata, melainkan masalah struktur kekuasaan yang juga membelenggu dan merugikan laki-laki. Dengan memahami bahwa maskulinitas adalah sesuatu yang diciptakan melalui sejarah dan praktik sosial, kita memiliki harapan bahwa bentuk-bentuk maskulinitas yang lebih adil dan damai juga dapat diciptakan di masa depan.

Referensi:

Basdeo, S. (2013, September 6). Connell's theory of “hegemonic masculinity” and its contribution to the history of masculinities. Publishistory Blog. https://publishistory.wordpress.com/2013/09/06/connells-theory-of-hegemonic-masculinity-contribution-to-the-history-of-masculinities/

Budaya maskulinitas dan hambatan partisipasi perempuan dalam kepemimpinan masyarakat Kota Langsa. (n.d.). Sagoe Journal. https://journal.sagoeatjeh.or.id/index.php/cendikia/article/download/152/39

Challenging dominant representations of marginalized boys and men in critical studies on men and masculinities. (2020). Boyhood Studies, 13(2). https://www.berghahnjournals.com/view/journals/boyhood-studies/13/2/bhs130207.pdf

Complicit masculinity: Types, definition & examples. (n.d.). Study.com. https://study.com/academy/lesson/complicit-masculinity-definition-example.html

Connell, R. W. (1995). Masculinities (2nd ed.). University of California Press.

Connell, R. W. (2000). The men and the boys. University of California Press.

Connell, R. W. (2020). Masculinities (3rd ed.). Polity Press.

Connell, R. W. (n.d.). Masculinities. Raewyn Connell Official Website. http://www.raewynconnell.net/p/masculinities_20.html

Connell, R. W. (n.d.). A very straight gay: Masculinity, homosexual experience, and the dynamics of gender. XY Online. https://xyonline.net/sites/xyonline.net/files/Connell%2C%20A%20Very%20Straight%20Gay_0.pdf

Connell, R. W. (n.d.). Live fast and die young: The construction of masculinity among young working-class men. XY Online. http://xyonline.net/sites/xyonline.net/files/Connell%2C%20Live%20fast%20and%20die%20young_0.pdf

Connell, R. W., & Messerschmidt, J. W. (2005). Hegemonic masculinity: Rethinking the concept. Gender & Society, 19(6), 829–859.

Connell on gender roles and masculinity. (n.d.). New Learning Online. https://newlearningonline.com/new-learning/chapter-5/supproting-materials/connell-on-gender-roles-and-masculinity

Connell’s theory of masculinity: Its origins and influences on the study of gender. (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/232919359

Counter and complicit masculine discourse among men’s shed members. (2017). Men and Masculinities. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5675326/

Exploring the diverse forms of masculinities. (n.d.). https://pubadmin.institute/gender-sensitization/exploring-diverse-forms-of-masculinities

Griffin, B. (n.d.). Hegemonic masculinity as a historical problem. University of Cambridge Repository. https://www.repository.cam.ac.uk/bitstreams/0c7ef0e7-0fb5-4bf3-bea5-c028da66a4f8/download

Hegemonic masculinity. (n.d.). Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Hegemonic_masculinity

Hegemonic masculinity: Combining theory and practice in gender interventions. (2016). Culture, Health & Sexuality. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4706037/

Hegemonic masculinity: Wacana relasi gender dalam tinjauan psikologi sosial. (n.d.). https://jurnal.lp2msasbabel.ac.id/psc/article/download/867/242

Masculinities. (n.d.). Goodreads. https://www.goodreads.com/book/show/3369056

Masculinities. (n.d.). Google Books. https://books.google.com/books/about/Masculinities.html?id=44JHYPOy8aEC

Masculinities. (n.d.). Internet Archive. https://archive.org/details/masculinities0000conn

Masculinities (2nd ed.). (n.d.). Routledge. https://www.routledge.com/Masculinities/Connell/p/book/9781741145199

Power, masculinities, southern theory: An interview with Raewyn Connell about political sociology. (n.d.). Journal of Political Sociology. https://journalofpoliticalsociology.org/article/download/14227/16829/33031

Raewyn Connell and the making of masculinity studies in South Africa. (2020). Boyhood Studies, 13(2). https://www.berghahnjournals.com/view/journals/boyhood-studies/13/2/bhs130209.xml

Raewyn Connell definition. (n.d.). Fiveable. https://fiveable.me/key-terms/introduction-gender-studies/raewyn-connell

The social organization of masculinity. (n.d.). SAGE Publishing. https://us.sagepub.com/sites/default/files/upm-assets/90223_book_item_90223.pdf

What’s hegemonic about hegemonic masculinity? Legitimation and beyond. (2020). American Sociological Review. https://www.asanet.org/wp-content/uploads/attach/journals/dec20stfeature.pdf

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment