Dinamika Maskulinitas dalam Gerakan Ayah Mengambil Rapor 2025: Analisis Kritis Perspektif Gender Raewyn Connell
Fenomena sosiokultural yang terjadi pada bulan Desember 2025 di Indonesia, yang dikenal dengan Gerakan Ayah Mengambil Raport (GEMAR), merupakan sebuah titik balik signifikan dalam kebijakan negara terhadap manajemen peran gender di ranah domestik. Inisiatif yang diprakarsai oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melalui Surat Edaran Nomor 14 Tahun 2025 ini bertujuan untuk mengintervensi apa yang diidentifikasi sebagai krisis keterlibatan ayah atau fatherless di Indonesia. Namun, secara teoretis, gerakan ini bukan sekadar upaya administratif atau pedagogis untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Melalui kacamata sosiologi gender, khususnya kerangka kerja Raewyn Connell dalam bukunya Masculinities, gerakan ini dapat dipahami sebagai sebuah proyek rekayasa sosial yang berupaya merenegosiasi maskulinitas hegemonik yang telah lama mapan dalam masyarakat patriarki Indonesia.
Dalam konteks pengambilan raport semester ganjil tahun ajaran 2025/2026, negara secara aktif mengarahkan laki-laki untuk memasuki ruang-ruang yang secara historis didominasi oleh perempuan—ruang kelas, sekolah, dan dialog perkembangan emosional anak. Analisis ini akan membedah bagaimana kebijakan tersebut berinteraksi dengan struktur kekuasaan, pembagian kerja gender, dan pola emosional yang membentuk tatanan gender di Indonesia, serta mengevaluasi apakah gerakan ini merupakan transformasi struktural yang sejati atau sekadar performativitas maskulinitas baru yang dilegitimasi oleh negara.
Kerangka Teoretis: Maskulinitas Raewyn Connell dan Konstruksi Sosial
Untuk memahami gerakan GEMAR, sangat penting untuk meletakkan fondasi pada teori maskulinitas Raewyn Connell. Dalam pandangan Connell, maskulinitas bukanlah sebuah esensi biologis yang melekat pada tubuh laki-laki, melainkan sebuah konfigurasi praktik sosial yang dikonstruksi melalui hubungan kekuasaan, produksi, dan kataksis (emosi). Connell memperkenalkan konsep "tatanan gender" (gender order) untuk menggambarkan pola relasi gender pada tingkat makro di masyarakat, dan "rezim gender" (gender regime) untuk pola pada tingkat institusi, seperti sekolah atau tempat kerja.
Salah satu kontribusi utama Connell adalah tipologi maskulinitas yang bersifat plural dan hierarkis. Di puncak hierarki ini terdapat maskulinitas hegemonik, yaitu bentuk maskulinitas yang paling dihormati dan dianggap ideal dalam suatu masyarakat pada waktu tertentu. Bentuk ini melegitimasi dominasi laki-laki terhadap perempuan serta subordinasi terhadap kelompok laki-laki lainnya yang dianggap "kurang laki-laki". Di bawah maskulinitas hegemonik, terdapat maskulinitas komplisit, maskulinitas subordinat, dan maskulinitas marjinal.
Konteks Sosiopolitik Indonesia Desember 2025: Krisis Fatherless
Munculnya kebijakan GEMAR merupakan respons langsung terhadap data statistik yang mengkhawatirkan mengenai kualitas pengasuhan di Indonesia. Pada tahun 2025, Indonesia diidentifikasi sebagai salah satu negara dengan tingkat fatherless yang tinggi. Berdasarkan data Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK) tahun 2025, sekitar 25,8% keluarga yang memiliki anak di Indonesia mengalami kondisi kekurangan keterlibatan peran ayah, baik secara fisik maupun emosional.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, menegaskan bahwa krisis hubungan antara ayah dan anak ini berdampak pada sulitnya anak-anak menerima nasihat dan bimbingan, yang pada gilirannya mengancam visi Indonesia Emas 2045. Kehadiran ayah di sekolah saat pengambilan raport diposisikan sebagai "investasi masa depan" untuk membangun kedekatan emosional, meningkatkan rasa percaya diri anak, dan mengurangi risiko perilaku berisiko pada remaja.
Analisis Rezim Gender di Institusi Sekolah
Sekolah, sebagai sebuah institusi, memiliki rezim gender-nya sendiri. Selama puluhan tahun, ritual pengambilan raport di Indonesia telah mengukuhkan peran ibu sebagai penanggung jawab utama pendidikan anak di ranah domestik. Pemandangan ruang kelas yang didominasi oleh ibu-ibu yang berbincang dengan guru perempuan menciptakan normalisasi bahwa urusan "pengasuhan" adalah urusan perempuan.
Gerakan GEMAR 2025 yang mewajibkan—melalui imbauan kuat—ayah hadir di sekolah mulai Desember 2025, secara simbolis mengganggu rezim gender sekolah ini. Di beberapa wilayah seperti Kota Denpasar dan Kota Depok, perubahan visual ini mulai terlihat pada pembagian raport hari Jumat, 19 Desember 2025. Laki-laki yang biasanya berada di kantor kini hadir di ruang kelas, mengenal guru, dan memahami konteks belajar anak mereka.
Namun, kehadiran fisik ini tidak secara otomatis mengubah struktur kekuasaan. Connell (2005) mencatat bahwa dalam rezim gender sekolah, sering kali terjadi reproduksi peran gender melalui kurikulum tersembunyi. Jika ayah datang ke sekolah namun tetap mempertahankan sikap "pemberi instruksi" atau hanya datang demi formalitas administratif tanpa adanya dialog emosional yang mendalam dengan guru dan anak, maka maskulinitas hegemonik yang dominan hanya berpindah tempat dari rumah/kantor ke sekolah.
Maskulinitas Hegemonik dalam Transisi: Citra "Ayah Teladan"
Melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), pemerintah berusaha menciptakan model baru maskulinitas hegemonik. Model ini tidak lagi hanya menekankan pada kekuatan fisik atau kesuksesan finansial, tetapi pada keterlibatan afektif. Ayah diharapkan menjadi "keren" (cool dad) jika mereka mampu meluangkan waktu untuk hadir di momen penting anak.
Pergeseran ini menarik karena menunjukkan bagaimana maskulinitas hegemonik dapat beradaptasi dengan tuntutan zaman tanpa harus kehilangan posisinya sebagai yang "paling dihargai". Dengan mengadopsi elemen-elemen feminin—seperti pengasuhan dan perhatian emosional—laki-laki justru mendapatkan legitimasi moral tambahan. Mereka tidak hanya menguasai ranah publik, tetapi kini juga mengklaim otoritas moral di ranah domestik sebagai "ayah yang peduli".
Dividen Patriarki dalam Gerakan GEMAR
Laki-laki yang mengikuti gerakan ini tetap menikmati apa yang disebut Connell sebagai "dividen patriarki". Salah satu bentuk konkret dividen ini adalah pemberian dispensasi keterlambatan masuk kantor yang diatur dalam SE Nomor 14 Tahun 2025. Negara memberikan insentif bagi laki-laki untuk melakukan tugas pengasuhan, sebuah kemewahan yang jarang diberikan secara luas kepada ibu yang sering kali harus mengambil cuti pribadi atau izin sakit demi urusan sekolah anak.
Kritik Interseksionalitas: Kelas Sosial dan Marginalitas
Analisis Connell sangat menekankan bahwa maskulinitas tidak bisa dilepaskan dari faktor kelas dan geografi. Gerakan GEMAR Desember 2025 sangat kental dengan bias kelas menengah perkotaan. Para ayah yang bekerja di sektor formal, memiliki jabatan yang stabil, dan bekerja di lingkungan yang sadar akan kebijakan BKKBN akan jauh lebih mudah mendapatkan dispensasi.
Namun, bagi maskulinitas marjinal—laki-laki dari kelas pekerja bawah, buruh pabrik, atau pekerja sektor informal—hadir di sekolah pada hari kerja memiliki biaya peluang yang sangat tinggi. Di sektor informal, tidak ada "dispensasi"; absennya mereka berarti hilangnya pendapatan harian. Di sini, kebijakan negara justru berpotensi menciptakan lapisan baru subordinasi di antara laki-laki: ayah yang dianggap "teladan" adalah mereka yang memiliki kemapanan ekonomi untuk meluangkan waktu, sementara ayah yang berjuang mencari nafkah di jalanan berisiko tetap dicap sebagai ayah yang "tidak hadir" atau fatherless.
Isu Inklusivitas dan Stigma
Kritik tajam yang muncul di media sosial seperti X (Twitter) dan TikTok menyoroti ketidaksensitifan program ini terhadap anak-anak dari latar belakang keluarga non-normatif. Istilah "Gerakan Ayah Mengambil Raport" secara inheren mengasumsikan keberadaan figur ayah biologis dalam rumah tangga. Bagi anak-anak yatim, anak dari orang tua tunggal (ibu tunggal), atau anak yang ayahnya sedang merantau jauh/dalam penjara, gerakan ini dapat mempertegas rasa kehilangan dan isolasi sosial.
Warganet menyarankan agar terminologi yang digunakan lebih inklusif, seperti "Orang Tua" atau "Wali," untuk menghindari luka psikologis pada anak yang tidak memiliki ayah. Dari sudut pandang Connell, ini adalah contoh bagaimana maskulinitas hegemonik yang dipromosikan negara tetap bersifat heteronormatif dan memarginalkan bentuk-bentuk eksistensi keluarga lainnya.
Performativitas Gender dan Budaya Digital
Salah satu poin dalam SE Nomor 14 Tahun 2025 adalah anjuran untuk mengunggah foto atau video dokumentasi pengambilan raport ke media sosial menggunakan tagar #GATI dan #sekolahbersamaayah untuk mendapatkan apresiasi dari pemerintah. Hal ini memunculkan kekhawatiran mengenai "performativitas gender"—kondisi di mana tindakan dilakukan demi tontonan dan validasi publik daripada perubahan nilai yang substansial.
Connell berpendapat bahwa maskulinitas adalah sebuah "praktik". Jika praktik ini hanya terjadi setahun dua kali saat pembagian raport dan hanya demi kepentingan konten media sosial, maka transformasi yang diharapkan hanyalah di permukaan. Ada risiko bahwa ayah merasa sudah "menunaikan tugas pengasuhan" hanya dengan hadir di sekolah, sementara beban harian mengurus rumah tangga dan pendidikan anak tetap sepenuhnya berada di pundak ibu.
Transformasi Struktural vs. Ritual Performatif
Pertanyaan mendasar dalam analisis ini adalah: apakah GEMAR Desember 2025 menandakan perubahan tatanan gender yang berkelanjutan di Indonesia? Connell (2005) menekankan bahwa untuk mencapai keadilan gender, perubahan harus terjadi pada tiga tingkat: kekuasaan, produksi, dan emosi.
1. Kekuasaan: Meskipun ayah hadir di sekolah, struktur pengambilan keputusan dalam keluarga besar di Indonesia sering kali masih tetap patriarkal. Kehadiran ayah di sekolah bahkan bisa memperkuat otoritasnya karena kini ia memiliki pengetahuan langsung tentang sekolah yang sebelumnya hanya dimiliki ibu.
2. Produksi: Pembagian kerja domestik di Indonesia masih sangat timpang. Selama tidak ada kebijakan yang mendukung pembagian beban domestik harian (seperti cuti ayah yang lebih lama atau fasilitas pengasuhan di tempat kerja), gerakan setahun dua kali ini tidak akan mengubah realitas "beban ganda" bagi perempuan.
3. Emosi: Perubahan pada tingkat emosi memerlukan refleksi mendalam dan pemutusan rantai trauma antargenerasi. Gerakan GEMAR dapat menjadi pembuka pintu, namun tanpa konsistensi, ia hanya akan menjadi ritual kosong.
Penelitian terbaru oleh Haswar & Abidin (2024) menunjukkan adanya pergeseran pada ayah generasi milenial di perkotaan yang lebih terbuka terhadap keterlibatan emosional. Namun, mereka juga menemukan bahwa nilai-nilai tradisional masih sangat kuat membayangi konstruksi sosial mereka. Artinya, ada tegangan antara keinginan untuk menjadi "ayah baru" yang progresif dengan tekanan sosial untuk tetap menjadi "laki-laki sejati" yang tangguh dan jauh dari emosi.
Dampak pada Kesejahteraan Guru dan Dinamika Sekolah
Gerakan ini juga memberikan dampak pada figur guru di sekolah. Wakil Ketua DPRD Kota Bukittinggi, Benny Yusrial, memberikan kritik tajam bahwa di tengah gerakan-gerakan besar yang melibatkan orang tua, pemerintah sering kali melupakan kesejahteraan guru itu sendiri. Guru, yang mayoritas adalah perempuan dan banyak di antaranya masih berstatus honorer dengan gaji di bawah UMR, kini dibebankan tugas tambahan untuk memfasilitasi komunikasi khusus dengan para ayah yang mungkin memiliki gaya komunikasi yang berbeda dari ibu-ibu.
Dari perspektif gender, ini adalah bentuk ketidakadilan ekonomi: guru perempuan dibayar rendah untuk melakukan kerja-kerja emosional dan pedagogis yang kini harus melayani "performa" pengasuhan para ayah dari kelas menengah yang mendapatkan dispensasi kantor. Jika kehadiran ayah di sekolah justru membuat guru merasa tertekan atau terintimidasi oleh status sosial/gender para ayah, maka tujuan pendidikan untuk menciptakan ruang yang aman bagi anak justru akan terkompromi.
Menuju Maskulinitas Transformatif: Kesimpulan dan Rekomendasi
Analisis kritis terhadap Gerakan Ayah Mengambil Raport Desember 2025 menunjukkan bahwa inisiatif ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia adalah langkah berani negara untuk mendekonstruksi pemisahan ranah publik-privat yang sangat kaku dalam sejarah patriarki Indonesia. Di sisi lain, tanpa sensitivitas terhadap isu kelas, keberagaman struktur keluarga, dan keberlanjutan praktik, gerakan ini berisiko hanya menjadi kosmetik gender yang justru memperkuat posisi dominan laki-laki melalui label "ayah teladan".
Agar gerakan ini tidak sekadar menjadi ritual performatif Desemberan, diperlukan langkah-langkah strategis yang menyentuh akar struktural tatanan gender di Indonesia:
- Redefinisi Inklusivitas: Pemerintah harus mengubah terminologi gerakan menjadi lebih inklusif (misalnya "Gerakan Orang Tua Terlibat") untuk merangkul jutaan anak yatim dan keluarga orang tua tunggal, serta menghindari stigma bagi mereka yang tidak memiliki figur ayah.
- Perluasan Perlindungan Sektor Informal: Mekanisme dispensasi harus diperluas jangkauannya melalui insentif bagi perusahaan kecil atau mekanisme subsidi bagi pekerja informal agar partisipasi tidak hanya menjadi kemewahan kelas menengah.
- Integrasi Pengasuhan ke Identitas Laki-laki: Pendidikan tentang maskulinitas yang sehat dan pengasuhan yang setara harus diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah sejak dini (program Sebaya), sehingga laki-laki tidak merasa tugas domestik sebagai beban atau "bantuan" bagi istri, melainkan bagian dari identitas diri mereka.
- Penguatan Kesejahteraan Guru: Transformasi pengasuhan tidak boleh dilakukan di atas penderitaan guru honorer. Peningkatan kesejahteraan guru merupakan prasyarat mutlak bagi keberhasilan kolaborasi sekolah dan orang tua.
- Audit Dampak Jangka Panjang: Perlu ada penelitian sosiologis berkelanjutan untuk melihat apakah kehadiran ayah di sekolah pada Desember 2025 berkorelasi dengan perubahan pembagian kerja domestik harian di rumah, ataukah hanya berhenti pada unggahan di media sosial.
Pada akhirnya, gerakan GEMAR 2025 adalah sebuah pengakuan bahwa "menjadi laki-laki" di Indonesia sedang mengalami perubahan. Maskulinitas hegemonik yang hanya berfokus pada otoritas dan penyediaan materi sedang ditantang oleh realitas sosial yang membutuhkan kehadiran afeksi. Namun, tugas kita adalah memastikan bahwa dalam proses menjadi "ayah yang lebih baik," kita tidak menciptakan sistem baru yang justru memarginalkan mereka yang paling rentan dalam masyarakat kita. Sebagaimana ditekankan oleh Connell, keadilan gender hanya bisa dicapai jika kita berani membongkar bukan hanya peran kita, tetapi juga struktur kekuasaan yang mendukung ketimpangan tersebut. Gerakan Desember 2025 ini hanyalah langkah awal dari perjalanan panjang Indonesia menuju tatanan gender yang lebih manusiawi dan adil bagi semua.
Referensi:
APPIHI. (n.d.). Narasi “lelaki tidak bercerita” dalam sudut pandang maskulinitas hegemonik. Diakses 21 Desember 2025, dari https://journal.appihi.or.id/index.php/Aktivisme/article/download/1114/1266/5701
Badan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Nasional. (2025). Terbitkan SE ayah ambil rapor, Mendukbangga ungkap 25% anak alami fatherless. Diakses 21 Desember 2025, dari https://www.kemendukbangga.go.id/posts/795c7c3e-7d19-426b-9fc3-e70c331aa3dd-terbitkan-se-ayah-ambil-rapor-mendukbangga-ungkap-25-anak-alami-fatherless
Balipost. (2025). Ayah mengambil rapor, gerakan baru di Kota Denpasar. Diakses 21 Desember 2025, dari https://www.balipost.com/news/2025/12/19/514360/Ayah-Mengambil-Rapor,Gerakan-Baru...html
Bangsaonline. (2025). Terlambat masuk kantor gara-gara gerakan ambil rapor anak ke sekolah ternyata ada dispensasinya. Diakses 21 Desember 2025, dari https://www.bangsaonline.com/berita/156617/terlambat-masuk-kantor-gara-gara-gerakan-ambil-rapor-anak-ke-sekolah-ternyata-ada-dispensasinya
Connell, R. W., & Messerschmidt, J. W. (2005). Hegemonic masculinity: Rethinking the concept. Gender & Society. Diakses 21 Desember 2025, dari https://etnologia.uw.edu.pl/sites/default/files/hegemonic_masculinity_connell_and_messerschmidt.pdf
Detik.com. (2025a). Apa itu gerakan ayah mengambil rapor ke sekolah? Ada dispensasi telat ngantor. Diakses 21 Desember 2025, dari https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8265587/apa-itu-gerakan-ayah-mengambil-rapor-ke-sekolah-ada-dispensasi-telat-ngantor
Detik.com. (2025b). Gerakan ayah mengambil rapor dimulai Desember 2025, cek benefitnya di sini!. Diakses 21 Desember 2025, dari https://www.detik.com/sumut/berita/d-8267058/gerakan-ayah-mengambil-rapor-dimulai-desember-2025-cek-benefitnya-di-sini
DetikNews. (2025). Walkot Depok terbitkan SE imbau ayah ambil rapor anak ke sekolah. Diakses 21 Desember 2025, dari https://news.detik.com/berita/d-8265065/walkot-depok-terbitkan-se-imbau-ayah-ambil-rapor-anak-ke-sekolah
Drianus, O. (n.d.). Hegemonic masculinity: Wacana relasi gender dalam tinjauan psikologi sosial. IAIN Syaikh Abdurrahman. Diakses 21 Desember 2025, dari https://media.neliti.com/media/publications/301036-hegemonic-masculinity-wacana-relasi-gend-b49577c4.pdf
EBSCO. (n.d.). Hegemonic masculinity. Research Starters. Diakses 21 Desember 2025, dari https://www.ebsco.com/research-starters/political-science/hegemonic-masculinity
Emerald Publishing. (n.d.). Technology incubators as local gender regimes: Performing entrepreneurial masculinities. Diakses 21 Desember 2025, dari https://www.emerald.com/ijge/article/17/3-4/412/1250170
Gensain. (n.d.). Mahogany Journal de Social. Diakses 21 Desember 2025, dari https://gensain.com/index.php/mjds/article/download/204/162
Haibunda. (2025). Pemerintah luncurkan gerakan ayah mengambil rapor anak ke sekolah. Diakses 21 Desember 2025, dari https://www.haibunda.com/parenting/20251218105538-61-382604/pemerintah-luncurkan-gerakan-ayah-mengambil-rapor-anak-ke-sekolah
Infiniteens. (2025). GATI: Gerakan Ayah Teladan Indonesia, jawaban atas krisis fatherless di era Zilenial. Diakses 21 Desember 2025, dari https://infiniteens.id/gati-gerakan-ayah-teladan-indonesia-jawaban-atas-krisis-fatherless-di-era-zilenial/redaksi/
Kumparan. (2025). Gerakan ayah mengambil raport: Inisiasi, tujuan, dan maknanya. Diakses 21 Desember 2025, dari https://m.kumparan.com/kabar-harian/gerakan-ayah-mengambil-raport-inisiasi-tujuan-dan-maknanya-26Sogl3VNOQ
Media Indonesia. (2025). Terbitkan SE ayah ambil rapor, Mendukbangga ungkap 25% anak alami fatherless, Gubernur Kepri tindaklanjuti. Diakses 21 Desember 2025, dari https://mediaindonesia.com/humaniora/841939/terbitkan-se-ayah-ambil-rapor-mendukbangga-ungkap-25-anak-alami-fatherless-gubernur-kepri-tindaklanjuti
Medcom.id. (2025). Isi lengkap SE gerakan ayah mengambil rapor ke sekolah. Diakses 21 Desember 2025, dari https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/dN6yjAqK-isi-lengkap-se-gerakan-ayah-mengambil-rapor-ke-sekolah
PMC. (n.d.). Hegemonic masculinity: Combining theory and practice in gender interventions. Diakses 21 Desember 2025, dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4706037/
ResearchGate. (n.d.). Masculinity as an educational process in the reproduction of gender roles. Diakses 21 Desember 2025, dari https://www.researchgate.net/publication/392944047_Masculinity_as_an_Educational_Process_in_the_Reproduction_of_Gender_Roles
RM.id. (2025). Menteri Wihaji teken SE gerakan ayah ambil rapor, dispensasi ASN telat ngantor. Diakses 21 Desember 2025, dari https://rm.id/baca-berita/nasional/293969/menteri-wihaji-teken-se-gerakan-ayah-ambil-rapor-dispensasi-asn-telat-ngantor
RRI. (2025). Gerakan ayah mengambil rapor: Pro kontra implementasinya. Diakses 21 Desember 2025, dari https://rri.co.id/sumatera-barat/iptek/2053871/gerakan-ayah-mengambil-rapor-pro-kontra-implementasinya
Satelitnews. (2025). Gerakan ayah ambil rapor tuai banyak respons negatif di media sosial. Diakses 21 Desember 2025, dari https://www.satelitnews.com/150615/gerakan-ayah-ambil-rapor-tuai-banyak-respons-negatif-di-media-sosial-ini-sebabnya/
STORRE. (n.d.). Displaced masculinities: Young men navigating manhood, education and the climate crisis in urban Uganda. Diakses 21 Desember 2025, dari https://storre.stir.ac.uk/retrieve/1866a56d-4e08-4c11-be59-4e1e0e788a6b/Displaced%20masculinities%20%20young%20men%20navigating%20manhood%20%20education%20and%20the%20climate%20crisis%20in%20urban%20Uganda.pdf
The Sociology Guy. (2025). Connell’s concept of hegemonic masculinity explained. Diakses 21 Desember 2025, dari https://thesociologyguy.com/2025/08/25/connells-concept-of-hegemonic-masculinity-explained/
Tirto.id. (2025a). Gerakan ayah ambil rapor, adakah dispensasi telat masuk kantor? Diakses 21 Desember 2025, dari https://tirto.id/gerakan-ayah-ambil-rapor-adakah-dispensasi-telat-masuk-kantor-hn4s
Tirto.id. (2025b). Gerakan ayah mengambil rapor: Apakah wajib dan mengapa penting? Diakses 21 Desember 2025, dari https://tirto.id/gerakan-ayah-mengambil-rapor-apakah-wajib-mengapa-penting-hnXV
UGM. (2025). 15,9 juta anak tanpa pengasuhan ayah, psikolog UGM sebut dampak bagi proses pembelajaran dan tumbuh kembang anak. Diakses 21 Desember 2025, dari https://ugm.ac.id/id/berita/159-juta-anak-tanpa-pengasuhan-ayah-psikolog-ugm-sebut-dampak-bagi-proses-pembelajaran-tumbuh-kembang-anak/
Wikipedia. (n.d.). Hegemonic masculinity. Diakses 21 Desember 2025, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Hegemonic_masculinity
Warta Ekonomi. (2025). Gerakan ayah mengambil rapor anak ke sekolah (GEMAR) jadi investasi masa depan anak. Diakses 21 Desember 2025, dari https://wartaekonomi.co.id/read594462/gerakan-ayah-mengambil-rapor-anak-ke-sekolah-gemar-jadi-investasi-masa-depan-anak





Post a Comment