Analisis Kritis Feminism without Borders: Dekolonisasi Teori dan Solidaritas dalam Feminisme Global Chandra Talpade Mohanty

Table of Contents

buku Chandra Talpade Mohanty, Feminism without Borders: Decolonizing Theory, Practicing Solidarity
Tulisan ini menyajikan analisis mendalam, rinci, dan lengkap terhadap karya Chandra Talpade Mohanty, Feminism without Borders: Decolonizing Theory, Practicing Solidarity (2003). Analisis mengeksplorasi kritik epistemologis Mohanty terhadap feminisme Barat hegemonik, kerangka materialis historisnya untuk demistifikasi kapitalisme global, dan perumusannya tentang solidaritas transnasional berbasis praktik politik yang akuntabel. Mohanty, seorang sarjana terkemuka dalam studi perempuan dan gender, menempatkan dirinya sebagai teoritikus berpengaruh dalam feminisme Dunia Ketiga dan transnasional, yang secara fundamental menantang universalisme etnosentris dalam wacana feminis.

I. Pendahuluan: Landasan Epistemologi Feminisme Transnasional

A. Latar Belakang Intelektual dan Posisi Kritis Mohanty

Chandra Talpade Mohanty menempatkan karyanya dalam narasi yang lebih luas mengenai feminisme dan anti-imperialisme yang berkembang selama dua dekade. Sebagai seorang sarjana-aktivis yang berakar di India dan bekerja di Amerika Serikat, karyanya secara konsisten memprovokasi perumusan mode analisis yang didirikan pada kritik epistemologis yang cermat. Buku ini, yang sebagian besar mengumpulkan esai-esai sebelumnya termasuk esai pentingnya "Under Western Eyes: Feminist Scholarship and Colonial Discourses," berupaya melampaui relativisme postmodernis.

Mohanty menganjurkan materialisme historis sebagai kerangka dasar, yang memvalidasi pengalaman perempuan marjinal—baik akademik maupun non-akademik—sebagai situs primer untuk menyingkap cara kerja kekuasaan. Tujuannya adalah untuk menghubungkan teori dan praktik, khususnya melalui advokasi "pengetahuan emansipatoris" dan "solidaritas feminis" yang bernuansa politis.

B. Proyek Ganda Feminisme Dunia Ketiga: Dekonstruksi dan Konstruksi

Inti tesis Mohanty, yang pertama kali diartikulasikan dalam esai klasiknya yang dicetak ulang dalam buku ini, adalah bahwa konstruksi intelektual dan politik "feminisme Dunia Ketiga" harus menangani dua proyek yang saling terkait secara simultan:
1. Kritik Internal terhadap Feminisme Hegemonik: Proyek dekonstruksi dan pembongkaran. Ini menargetkan feminisme "Barat" yang diasumsikan sebagai referen primer dalam teori dan praksis, menghasilkan "koherensi efek" tertentu meskipun adanya kompleksitas dan kontradiksi internal dalam feminisme Barat itu sendiri.
2. Perumusan Keprihatinan Otonom: Proyek pembangunan dan konstruksi. Ini melibatkan pengembangan strategi feminis yang secara geografis, historis, dan kultural berakar pada realitas lokal.

Mohanty menegaskan bahwa kegagalan menangani kedua tugas ini secara simultan berisiko meminggirkan atau mengghetokkan feminisme Dunia Ketiga dari wacana feminis arus utama. Mohanty secara spesifik menganalisis produksi "Wanita Dunia Ketiga" sebagai subjek tunggal yang monolitik dalam teks-teks feminis Barat. Ia mendefinisikan kolonisasi dalam konteks ini sebagai dominan bersifat diskursif, yaitu mode apropriasi dan kodifikasi pengetahuan tentang perempuan di Dunia Ketiga melalui penggunaan kategori analitik tertentu yang mengambil referensi dari kepentingan feminis yang diartikulasikan di Amerika Serikat dan Eropa Barat.

Hal yang mendalam dari pandangan Mohanty adalah bahwa dengan menempatkan Barat sebagai referen utama, teori feminis tersebut gagal melakukan perbandingan lintas-budaya dan analisis yang didasarkan pada sejarah dan lokasi sosial. Sebaliknya, mereka mengandalkan gagasan budaya yang ahistoris, sebuah bukti bahwa kritik Mohanty bukan hanya tentang bias interpretasi, tetapi tentang resistensi terhadap pemeliharaan struktur epistemologis kolonial yang memposisikan pengetahuan Barat sebagai standar universal sementara Dunia Ketiga direduksi menjadi data empiris yang terfragmentasi.

II. Dekolonisasi Feminisme: Kritik terhadap Pembentukan Subjek Monolitik

Bagian pertama buku ini berfokus pada kritik terhadap strategi tekstual yang digunakan oleh feminis Barat dalam studi lintas-budaya. Mohanty berargumen bahwa taktik diskursif ini secara efektif mereplikasi diskursus kolonial.

A. Taktik Diskursif dan Monolit "Wanita Dunia Ketiga"

Mohanty mengkritik bagaimana feminis Barat seringkali menciptakan citra monolitik "Wanita Dunia Ketiga" yang seolah-olah selalu dan di mana saja menjadi korban, terus-menerus tertindas oleh budaya patriarki "mereka". Kerangka analitik yang cacat ini didasarkan pada beberapa asumsi utama:
1. Asumsi Kategori Unitary (Wanita Pra-Sosial): Kritik utama Mohanty adalah asumsi bahwa kategori 'wanita' adalah formasi tunggal yang diskret, yang sudah terbentuk sebelum memasuki relasi dan institusi sosial, seperti keluarga. Pendekatan ini secara implisit berasumsi bahwa laki-laki dan perempuan sudah mapan sebagai subjek seksual-politik sebelum terlibat dalam hubungan sosial. Akibatnya, analisis mengenai dampak faktor-faktor seperti kolonialisme, organisasi tenaga kerja, dan struktur kekerabatan terhadap perempuan menjadi cacat, karena asumsi awal telah mendefinisikan perempuan sebagai kelompok homogen berdasarkan ketergantungan bersama yang berasal dari gender.
2. Generalisasi Deskriptif yang Tidak Kritis: Feminisme Barat yang hegemonik cenderung menggunakan generalisasi deskriptif dan contoh-contoh yang terpisah sebagai "bukti universalitas penindasan perempuan di semua masyarakat Dunia Ketiga". Mohanty mengidentifikasi enam klaim stereotip yang sering muncul dalam representasi ini, termasuk:

  • Korban Kekerasan Laki-laki Universal: Menggeneralisasi semua perempuan sebagai korban kekerasan, mengabaikan nuansa dan agensi perlawanan. Mohanty memberikan contoh praktik mutilasi kelamin perempuan, mencatat bahwa mendefinisikan semua perempuan Dunia Ketiga sebagai korban kekerasan laki-laki menciptakan gambaran yang memecah masyarakat menjadi laki-laki yang kuat dan perempuan yang lemah, sehingga menutupi kompleksitas yang ada.
  • Ketergantungan Universal: Representasi perempuan sebagai pihak yang bergantung secara ekonomi dan politik.
  • Korban Agama yang Seragam: Menganggap perempuan sebagai korban seragam dari agama fundamental, seperti Islam, tanpa mempertimbangkan bagaimana faktor-faktor agama, ideologi, dan ekonomi berpotongan dan memengaruhi pengalaman perempuan secara berbeda dan kompleks. Mohanty mencatat bahwa narasi ini mencabut perempuan dari kehadiran diri (self-presence) dan sejarah, sehingga menolak analisis perubahan.

B. Konsekuensi Epistemologis dan Agensi

Konsekuensi dari pendekatan analitik yang cacat ini sangat merusak. Hal ini mendistorsi pemahaman tentang berbagai jenis agensi perempuan Dunia Ketiga, khususnya bentuk-bentuk perlawanan yang mereka kembangkan, dan menghambat potensi aliansi feminis lintas budaya yang bermakna.

Secara bersamaan, dengan memaksakan status objek pada "saudara perempuan" mereka yang tertindas, feminis Barat mengonstitusikan diri mereka sebagai agen aktif sejarah—yang terbebaskan, teredukasi, dan bebas. Mohanty menegaskan bahwa kekuasaan yang dijalankan melalui konstruksi diskursif semacam itu mirip dengan kekuasaan yang dijalankan oleh diskursus kolonial Barat lainnya. Ini adalah panggilan untuk penghapusan batas-batas dalam diskusi dan perlawanan feminis, sambil menyoroti bagaimana norma-norma kultural Barat seringkali ditransplantasikan ke dalam analisis pengalaman perempuan non-kulit putih.

C. Basis Sosiopolitik untuk Feminisme Dunia Ketiga

Mohanty berpendapat bahwa feminisme Dunia Ketiga berbeda dari feminisme liberal karena menolak mengangkat gender sebagai satu-satunya poros kekuasaan. Sebaliknya, ia menegaskan pentingnya ras, kelas, seksualitas, dan kebangsaan yang berinterseksi dengan gender dalam membentuk kehidupan perempuan.

Mohanty mengalihkan fokus dari esensialisme biologis ke lokasi sosiopolitik: apa yang menyatukan kategori perempuan di seluruh dunia, terlepas dari sejarah dan keadaan mereka yang berbeda, adalah hubungan mereka dengan struktur kekuasaan dan dominasi. Oleh karena itu, kesamaan kepentingan di antara perempuan Dunia Ketiga tidak didasarkan pada biologi, warna kulit, atau geografi, tetapi pada sejarah bersama dan pengalaman perjuangan melawan dominasi rasis dan kolonial. Pergeseran dari esensi biologis ke posisi sosiopolitik ini adalah landasan yang memungkinkan Mohanty untuk beralih dari Solidaritas Identitas (sisterhood) ke Solidaritas Politik yang berbasis materialisme.

Tabel 1: Taktik Diskursif Feminis Barat dan Kritik Epistemologis Mohanty

Tabel 1: Taktik Diskursif Feminis Barat dan Kritik Epistemologis Mohanty

III. Demistifikasi Kapitalisme: Ideologi Kerja, Globalisasi, dan Studi Kasus Faktual

Bagian kedua buku ini berfokus pada demistifikasi kapitalisme, dengan menganalisis divisi kerja internasional (DKI) dalam konteks globalisasi. Mohanty menggunakan kerangka materialisme historis untuk menunjukkan bagaimana ideologi gender, ras, dan kasta secara instrumental digunakan oleh modal global untuk mengorganisir eksploitasi.

A. Konstruksi Ideologis Tenaga Kerja Perempuan Global

Mohanty menganalisis bagaimana kapitalisme global tidak hanya mengeksploitasi tenaga kerja perempuan tetapi secara aktif menggunakan dan merasialisasi ideologi gender dan kasta yang sudah ada untuk menciptakan kondisi kerja yang optimal bagi modal (upah rendah, atomisasi pekerja). Patriarki dalam konteks ini bukan hanya penindasan yang terpisah dari kapitalisme, tetapi merupakan instrumen ekonomi yang esensial.

Analisisnya menggunakan studi kasus yang beragam secara geografis untuk menunjukkan bagaimana ideologi spesifik ras dan kasta mengenai gender dan relasi familial secara konsisten mengonstruksi "pekerjaan perempuan" di berbagai lokasi.

1. Studi Kasus Pekerja Renda Narsapur, India

Mohanty merujuk pada studi Maria Mies mengenai pekerja renda di Narsapur untuk menunjukkan bagaimana analisis kontekstual yang berlapis dapat mengungkap signifikansi universal dari hal-hal yang partikular.

  • Eksploitasi melalui Ideologi "Ibu Rumah Tangga": Di Narsapur, pekerja renda didefinisikan secara ideologis sebagai "ibu rumah tangga non-pekerja" (non-working housewives) meskipun mereka terpusat dalam pasar dunia internasional yang eksploitatif. Ideologi ini, yang dibangun atas dasar organisasi patriarki dan kasta yang spesifik secara historis dan kultural, memungkinkan modal untuk mendefinisikan pekerjaan berbayar perempuan sebagai perpanjangan dari pekerjaan rumah tangga atau aktivitas waktu luang.
  • Implikasi: Penamaan ideologis ini menjaga upah tetap rendah dan membuat pekerja teratomisasi dan tidak terorganisir.
  • Agensi dan Perlawanan Faktual: Mohanty menekankan bahwa perempuan Narsapur bukan korban pasif dari proses produksi. Mereka menunjukkan resistensi laten dengan melawan, menantang, dan menumbangkan proses eksploitasi di berbagai titik, yang membuktikan kompleksitas realitas yang dijalani.

2. Studi Kasus Pekerja Global di Silicon Valley dan Midlands

Mohanty memperluas analisisnya ke sentra-sentra kapitalis di Barat, seperti Silicon Valley di Amerika Serikat dan Midlands di Inggris.

  • Konstruksi "Pekerja Tambahan": Di lokasi-lokasi ini, pekerja imigran atau perempuan Dunia Ketiga dalam industri elektronik dikategorikan secara ideologis sebagai "ibu, istri, dan pekerja tambahan" (supplementary workers). Sama seperti di Narsapur, ideologi ini menyebabkan banyak perempuan memahami identitas mereka sebagai pekerja berbayar sebagai sekunder dibandingkan dengan identitas mereka sebagai istri atau ibu.
  • Divisi Tenaga Kerja Internasional dan Rasialisme: Mohanty mendesak feminis untuk memperhatikan divisi kerja internasional yang telah berubah signifikan di era globalisasi, serta bentuk-bentuk kewarganegaraan yang dirasialkan (racialized forms of citizenship) yang diorganisir oleh negara sebagai respons terhadap migrasi tenaga kerja ke pusat-pusat "Barat".

Analisis kausalitas Mohanty secara jelas menunjukkan bahwa kapitalisme global secara aktif mensubsidi dirinya sendiri dengan memanfaatkan ideologi patriarkal dan kasta yang sudah ada. Ini adalah alat ekonomi esensial untuk mengamankan tenaga kerja yang rentan dan murah di seluruh dunia, menegaskan bahwa penindasan gender, ras, dan kelas tidak dapat dipisahkan.

Tabel 2: Studi Kasus Mohanty tentang Ideologi Tenaga Kerja dan Perlawanan

Tabel 2: Studi Kasus Mohanty tentang Ideologi Tenaga Kerja dan Perlawanan

B. Kritik terhadap Komodifikasi Pengetahuan dan Pedagogi Oposisional

Mohanty memperluas kritik terhadap kapitalisme ke domain produksi pengetahuan, menempatkan universitas sebagai situs perjuangan feminis. Ia mengidentifikasi tiga arah bermasalah dalam feminisme berbasis AS, salah satunya adalah pendalaman nilai-nilai konsumeris dan korporatis yang memicu kebangkitan feminisme neo-liberal yang hanya peduli dengan "kemajuan perempuan di tangga korporat dan negara-bangsa".
  • Ancaman Korporatisasi: Komodifikasi dan privatisasi produksi pengetahuan di institusi pendidikan tinggi mengancam gagasan kewarganegaraan yang demokratis, menggantikannya dengan bentuk-bentuk korporatis. Hal ini menciptakan keretakan yang didominasi kelas antara feminisme aktivis dan teori feminis berbasis universitas, yang rentan terhadap profesionalisme sempit dan pengejaran karier.
  • Pedagogi Oposisional: Untuk melawan ancaman ini, Mohanty menekankan perlunya penguatan pedagogi oposisional (oppositional pedagogies) dan pengetahuan. Praktik pedagogis ini bertujuan untuk memungkinkan mahasiswa melihat kompleksitas, singularitas, dan interkoneksi antara komunitas perempuan, sehingga kekuasaan, privilese, agensi, dan perbedaan pendapat dapat dibuat terlihat dan ditangani. Mohanty menekankan bahwa kuncinya bukan hanya pada pencatatan sejarah perjuangan, tetapi pada cara catatan tersebut dibaca, diterima, dan disebarluaskan, memfasilitasi penulisan dan pembicaraan oposisional lebih lanjut.

IV. Reorientasi Feminisme: Praktik Solidaritas Transnasional Anti-Kapitalis

Bagian akhir buku Mohanty berfokus pada perumusan praktik politik yang dapat mengatasi pembagian teoritis dan geografis. Mohanty kembali menegaskan perlunya membangun proyek politik bersama—sebuah praktik feminis transnasional anti-kapitalis.

A. Solidaritas Politik Melawan Sisterhood Universal

Mohanty dengan tegas menolak gagasan "sisterhood" (persaudaraan) universal yang tidak dipikirkan secara kritis. Ia mengkritik konsep persaudaraan yang diasumsikan homogen dan didasarkan pada penghapusan sejarah dan dampak imperialisme kontemporer.

Sebaliknya, Mohanty mendefinisikan solidaritas sebagai tujuan politik dan etis yang didasarkan pada mutualitas, akuntabilitas, dan pengakuan kepentingan bersama sebagai fondasi hubungan antar komunitas yang beragam. Solidaritas politik ini harus didirikan pada teorisasi kepentingan bersama, lokasi historis, dan identitas sosial pekerja perempuan di bawah kapitalisme global, yang dibingkai dalam kontegra perjuangan yang sama.

Solidaritas ini harus bersifat reflektif; ia menuntut dekonstruksi dan dekolonisasi feminisme, terutama feminisme kulit putih, yang berpotensi membuka jalan bagi "transformasi diri, rekonseptualisasi identitas, dan mobilisasi politik". Ini berarti politik feminis Barat tidak boleh mengabaikan kesadaran kolektif yang memperhatikan interseksionalitas—seks, gender, ras, kelas, kasta, dan etnisitas.

B. Metodologi Solidaritas: Analitik Kekuasaan dan Geografi Perbedaan

Untuk mencapai solidaritas politik transnasional, Mohanty mengusulkan kerangka kerja yang kritis dan antirasis, berlabuh dalam dekolonisasi dan kritik anti-kapitalis.
1. Analitik Kekuasaan (Analytics of Power): Ini adalah proses pemeriksaan kritis yang sistemik dan institusional. Analitik kekuasaan membantu memahami bagaimana kekuasaan beroperasi dalam konstitusi subjek yang dirasialkan dan bergender. Tujuannya adalah untuk menganalisis dan mengkritik perilaku, sikap, institusi, dan politik relasional dari sistem yang terjalin seperti seksisme, rasisme, dan heteroseksisme, untuk membuat kekuasaan, privilese, agensi, dan perbedaan pendapat menjadi terlihat.
2. Geografi Perbedaan (Geographies of Difference): Mohanty menekankan bahwa visi feminisme yang paling inklusif harus "memperhatikan batas-batas sambil belajar untuk melampauinya". Geografi perbedaan mengacu pada lokasi spasial yang spesifik secara historis dan kultural di mana garis patahan dan divisi (bangsa, ras, kelas, agama) termanifestasi. Mohanty mengadvokasi model studi feminis komparatif yang melawan logika kapitalisme akhir dengan menetapkan paradigma "perbedaan umum" (common differences) yang spesifik secara historis dan kultural sebagai dasar analisis dan solidaritas.

C. Keadilan Lintas Batas dan Praktik Faktual

Mohanty mendorong konseptualisasi keadilan dan kesetaraan dalam istilah lintas-batas (transborder terms). Analisis yang memperhatikan pengalaman sehari-hari dan mikro-politik perjuangan anti-kapitalis—seperti yang dilakukan oleh pekerja renda di Narsapur—dapat menerangi makro-politik restrukturisasi global, yang menunjukkan keterkaitan antara yang lokal dan universal.

Solidaritas ini terwujud dalam pengorganisasian yang spesifik konteks dan dibentuk secara politik, bukan hanya identifikasi emosional. Contoh praktik solidaritas transnasional muncul dalam bidang akademis dan aktivis. Karya teoritis-politis Mohanty, misalnya, telah berkontribusi pada pengembangan pemikiran perempuan adat di Meksiko yang mempertanyakan visi etnosentris feminisme akademik dan politik.

Di tengah gerakan anti-globalisasi, Mohanty melihat bahwa banyak perempuan aktif, tetapi aktivisme mereka belum dibingkai dalam konteks feminis yang terlihat. Ia mendesak feminisme untuk mengambil peran yang lebih terlihat dalam gerakan ini, mengingat dampak globalisasi yang paling berbahaya seringkali tertulis dalam kehidupan dan tubuh perempuan Dunia Ketiga.

V. Kesimpulan dan Warisan Kritis Mohanty

Feminism without Borders adalah seruan mendesak untuk reformasi epistemologis dan politik dalam feminisme. Mohanty berhasil menggeser fokus wacana feminis dari esensialisme identitas biologis ke materialisme historis dan lokasi sosiopolitik, menjadikannya kunci untuk memajukan praktik feminis transnasional yang antirasis dan anti-kapitalis.

A. Kontradiksi dan Kewaspadaan Solidaritas

Kontribusi Mohanty yang paling penting adalah bahwa feminisme harus terus-menerus melakukan kritik diri. Sebuah analisis struktural menunjukkan bahwa konsep "feminisme tanpa batas" adalah pedang bermata dua. Jika feminisme transnasional gagal mempertahankan kerangka kritik anti-kapitalis dan Analitik Kekuasaan yang ketat, ia berisiko dihidupkan kembali sebagai feminisme penjajah, yang berfungsi sebagai pembenaran diskursif bagi intervensi imperialis (misalnya, penggunaan retorika "pembebasan" perempuan di Afghanistan dan Irak untuk membenarkan perang).

Solidaritas yang dianjurkan oleh Mohanty menuntut akuntabilitas timbal balik dan kesadaran terus-menerus akan hierarki internal dan perbedaan di antara perempuan, menjadikannya praktik politik yang menantang dan reflektif.

B. Batasan Kritis

Meskipun Mohanty memberikan cetak biru untuk dekolonisasi teori, penting untuk dicatat bahwa para pengulas telah mengidentifikasi satu kelalaian serius: kurangnya keterlibatan substansial buku ini dengan kekhawatiran dan perjuangan perempuan adat di Amerika Serikat. Bagi banyak perempuan kulit berwarna, persimpangan ras dan kekuasaan harus dianalisis dalam konteks sejarah kolonisasi pemukim. Mengabaikan perjuangan perempuan Aborigin untuk penentuan nasib sendiri berisiko menghapus kehadiran mereka dan menutupi keterlibatan semua perempuan non-Aborigin dalam kolonisasi yang sedang berlangsung.

Secara keseluruhan, Mohanty menawarkan kerangka kerja yang tidak hanya mengkritik teks, tetapi juga menuntut perubahan dalam praktik politik dan pedagogi. Di era globalisasi, di mana eksploitasi kapitalis secara fundamental bergantung pada rasisasi dan genderisasi tenaga kerja, kerangka Mohanty tentang solidaritas politik adalah alat yang tak terpisahkan untuk analisis terintegrasi dan tindakan politik yang bertanggung jawab terhadap sistem dominasi yang kompleks.

Referensi:

Cambridge Core. (n.d.). Chandra Mohanty and the revaluing of “experience.” Hypatia. https://www.cambridge.org/core/journals/hypatia/article/chandra-mohanty-and-the-revaluing-of-experience/ABCDE7578A45080CF6964CB8BEFEF24E

Cambridge Core. (n.d.). Chandra Talpade Mohanty, Feminism without borders: Decolonizing theory, practicing solidarity. Hypatia. https://www.cambridge.org/core/journals/hypatia/article/chandra-talpade-mohanty-feminism-without-borders-decolonizing-theory-practicing-solidarity-durham-nc-duke-university-press-2003/3260F860DE409C2530D1DCAF0CB3542C

Decolonize All The Things. (2023, June 20). A review of Feminism without borders (Mohanty). https://decolonizeallthethings.com/2023/06/20/a-review-of-feminism-without-borders-mohanty/

DiVA Portal. (n.d.). Western NGOs representation of “Third World women.” https://www.diva-portal.org/smash/get/diva2:632032/fulltext01.pdf

DergiPark. (n.d.). Feminism without borders: Decolonizing theory, practicing solidarity. https://dergipark.org.tr/en/download/article-file/4044539

Hamtramck Free School. (2014). Feminism without borders: Decolonizing theory, practicing solidarity [PDF]. https://hamtramckfreeschool.files.wordpress.com/2014/05/mohanty-chandra-feminism-without-borders-decolonizing-theory-practicing-solidarity.pdf

H-Net. (n.d.). Global feminist solidarity and anti-capitalism: Towards an integration. https://www.h-net.org/reviews/showpdf.php?id=10752

Mohanty, C. T. (2003). Feminism without borders: Decolonizing theory, practicing solidarity. Duke University Press.

Mohanty, C. T. (n.d.). Feminist scholarship and colonial discourses. https://www.sfu.ca/~decaste/OISE/page2/files/MohantyWesternEyes.pdf

Mohanty, C. T. (n.d.). Under Western Eyes revisited: Feminist solidarity through anticapitalist struggles. University of Warwick. https://warwick.ac.uk/fac/arts/english/currentstudents/postgraduate/masters/modules/theoryfromthemargins/mohanty_under_western_eyes_revisted.pdf

Mohanty, C. T. (n.d.). Under Western Eyes revisited: Feminist solidarity through anticapitalist struggles. Kobe University. https://www2.kobe-u.ac.jp/~alexroni/IPD%202015%20readings/IPD%202015_5/Under%20western%20Eyes%20revisited.pdf

Oxford Research Encyclopedias. (n.d.). Chandra Talpade Mohanty and communication studies. https://oxfordre.com/communication/display/10.1093/acrefore/9780190228613.001.0001/acrefore-9780190228613-e-596

RUDN University Scientific Periodicals Portal. (n.d.). Challenging Eurocentric narratives: A postcolonial feminist analysis of the lives and experiences of Third World women. https://journals.rudn.ru/literary-criticism/article/view/35463

Signs: Journal of Women in Culture and Society. (2013). Transnational feminist crossings: On neoliberalism and radical critique, 38(4). https://www.journals.uchicago.edu/doi/10.1086/669576

Study.com. (n.d.). Under Western Eyes by Chandra Mohanty: Arguments & analysis. https://study.com/academy/lesson/summary-analysis-of-under-the-western-eyes-feminist-scholarship-colonial-discourses.html

University of Warwick. (n.d.). Feminism without borders: Decolonizing theory, practicing solidarity. https://warwick.ac.uk/fac/arts/english/currentstudents/postgraduate/masters/modules/theoryfromthemargins/feminism_without_borders.pdf

Wikipedia contributors. (n.d.). Chandra Talpade Mohanty. Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Chandra_Talpade_Mohanty

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment