Analisis Kritis Buku The Practice of Everyday Life Michel de Certeau: Strategi, Taktik, dan Praktik Keseharian

Table of Contents

Prolog: Kontekstualisasi Intelektual dan L'invention du quotidien

1.1. Latar Belakang Intelektual De Certeau dan Konteks Pascakrisis

The Practice of Everyday Life, yang awalnya diterbitkan dalam bahasa Prancis pada tahun 1980 dengan judul L'invention du quotidien. Vol. 1, Arts de faire (terjemahan bahasa Inggris oleh Steven Rendall pada tahun 1984), merupakan salah satu teks kunci dalam studi kehidupan sehari-hari dan teori budaya kritis. Karya ini adalah produk dari periode pergolakan dan pemikiran ulang intelektual di Prancis.


Michel de Certeau, yang dikenal sebagai seorang sejarawan, teoretikus sosial, dan seorang Yesuit, mengembangkan proyek ini dalam suasana pasca-pergerakan sosial Mei 1968. Peristiwa Mei '68 menunjukkan bahwa sementara kekuasaan formal dan struktural tampak rentan, mekanisme institusional yang mendasarinya tetap kokoh. Perhatian De Certeau kemudian beralih dari politik massa yang terbuka ke praktik-praktik tersembunyi dan sehari-hari yang menjadi lokasi perlawanan dan agensi yang kurang terpetakan.

Tujuan fundamental buku ini adalah untuk mengisi kekosongan metodologis dan filosofis dalam ilmu sosial. Ilmu sosial tradisional, menurut De Certeau, memiliki alat yang memadai untuk mempelajari tradisi, bahasa, simbol, dan struktur formal suatu budaya. Namun, ia sangat kekurangan sarana formal untuk menguji cara-cara di mana orang biasa "menggunakan kembali" atau "mengindividualisasi" elemen-elemen ini dalam situasi sehari-hari.

Kelalaian ini dianggap berbahaya karena dalam aktivitas penggunaan kembali (re-use) dan modifikasi itulah terdapat banyak peluang bagi orang biasa untuk menumbangkan ritual dan representasi yang dipaksakan oleh institusi. Dengan demikian, studi De Certeau tentang "seni melakukan" (arts de faire) secara eksplisit berupaya memberikan cara formal bagi ilmu sosial untuk merepresentasikan agensi yang tidak terpetakan atau tidak terhitung.

1.2. Struktur dan Arsitektur Argumentasi Buku

The Practice of Everyday Life terstruktur secara sistematis untuk membangun model teoretis yang koheren. Buku ini dibagi menjadi lima bagian utama (Parts), di mana Bagian I dan II menyediakan landasan teoretis dan kontekstualisasi, sementara Bagian III, IV, dan V menerapkan model tersebut pada praktik spesifik.

Tulisan ini mengadopsi kerangka analitis yang serupa, berfokus pada bab-bab kunci yang membedah praktik spasial, linguistik, dan filosofis. Bagian-bagian utama buku meliputi:

Table Kerangka Struktur The Practice of Everyday Life

Table Kerangka Struktur The Practice of Everyday Life

1.3. Kritik terhadap Krisis Representasi

Proyek De Certeau pada dasarnya adalah kritik terhadap Krisis Representasi dalam studi budaya dan ilmu sosial. De Certeau berpendapat bahwa jika ilmu sosial hanya berfokus pada strategi institusional—hukum, struktur kekuasaan, dan produk yang dihasilkan—maka secara struktural ilmu tersebut hanya mampu memproduksi gambaran orang yang 'non-kreator' dan 'pasif'. Kegagalan ini dibuktikan dengan penggunaan istilah "konsumen" (consumer), yang menyiratkan kepasifan total dan tunduk berat pada budaya yang diterima.

Ketika para teoretikus kontemporer (seperti Foucault) fokus pada bagaimana kekuasaan mendisiplinkan dan mengontrol, meskipun hal ini iluminatif, gambar yang dihasilkan cenderung menampilkan totalitas kontrol. De Certeau menyadari bahwa totalitas kekuasaan yang tampak ini mengabaikan agensi mikro yang beroperasi dalam celah dan sudut. Dengan mencari "seni melakukan" (arts de faire) atau praktik rutin seperti berjalan, berbicara, membaca, berdiam, dan memasak, De Certeau secara aktif berusaha menciptakan cara formal bagi ilmu sosial untuk merepresentasikan kreativitas dan perlawanan yang dilakukan oleh orang-orang biasa terhadap struktur-struktur represif ini.

Bagian I: Fondasi Konseptual – Strategi (Tempat) vs. Taktik (Waktu)

Inti dari argumen The Practice of Everyday Life adalah dikotomi yang berpengaruh antara strategi dan taktik. De Certeau mengembangkan model ini untuk menjelaskan bagaimana individu mengklaim kembali otonomi mereka dari kekuatan komersial, politik, dan budaya yang meresap.

2.1. Re-Definisi Subjek: Dari "Konsumen" ke "Pengguna" (User)

De Certeau secara eksplisit mengkritik dan menolak istilah "konsumen" karena dianggap sebagai salah tafsir yang berbahaya mengenai agensi individu. Istilah ini secara keliru menyiratkan bahwa masyarakat tunduk sepenuhnya pada budaya yang diterima dan pasif di hadapan produk yang dipasok oleh institusi.

Sebagai gantinya, De Certeau menawarkan istilah "user" (pengguna). Konsep "konsumsi" kemudian diperluas menjadi frasa "procedures of consumption" (prosedur konsumsi) yang selanjutnya berubah menjadi "tactics of consumption" (taktik konsumsi). Perubahan terminologi ini adalah fondasi filosofis yang memungkinkan studi mengenai cara-cara cerdik di mana orang biasa mengubah budaya massa, mulai dari objek utilitas hingga hukum dan bahasa, untuk menjadikannya milik mereka sendiri.

2.2. Prinsip Dasar Dikotomi Strategi dan Taktik

Dikotomi strategi dan taktik dipinjam dari terminologi perang (seperti yang digunakan oleh Clausewitz), tetapi De Certeau menerapkannya pada ranah sosial dan budaya untuk menganalisis peperangan semiotika sehari-hari.

Strategi (Strategy)

Strategi didefinisikan sebagai kerangka kerja menyeluruh dari institusi yang dominan, yang biasanya dipegang oleh "produsen". Strategi selalu beroperasi dari tempat yang proper—suatu tempat yang didefinisikan sebagai milik institusi itu sendiri. Dengan demikian, strategi berusaha mendisiplinkan, menghasilkan keuntungan, dan mengandalkan penguasaan ruang.7 Strategi berusaha memaksakan stabilitas dan mengorganisir totalitas, sering kali melalui mekanisme seperti peta, undang-undang, atau jadwal siaran.

Taktik (Tactic)

Taktik, sebaliknya, adalah tindakan individu yang inklusif dalam kegiatan sehari-hari, yang dilakukan oleh "yang lemah" atau pengguna. Taktik tidak memiliki tempat sendiri; ia beroperasi dalam ruang other—wilayah yang tidak dikuasai oleh subjek yang bertaktik. Taktik bergantung pada waktu, memanfaatkan momen kesempatan (kairos), momentum, dan improvisasi. Taktik adalah "cara-cara cerdik di mana yang lemah memanfaatkan yang kuat," mengganggu atau menyimpang dari konvensi yang ditentukan oleh strategi.

Table Perbandingan Utama: Strategi vs. Taktik

Table Perbandingan Utama: Strategi vs. Taktik

2.3. Konsumsi sebagai Produksi Sekunder (Secondary Production)

Jantung dari agensi pengguna yang dijelaskan De Certeau adalah konsep konsumsi sebagai "secondary production" (produksi sekunder). Produksi sekunder ini didefinisikan sebagai "produksi makna melalui penggunaan" (production of meaning through usage).

Pengguna melakukan proses poaching (menggunakan secara tidak sah atau mencuri) di wilayah orang lain, menggunakan aturan dan produk yang sudah ada dalam budaya dengan cara yang dipengaruhi, tetapi tidak pernah sepenuhnya ditentukan, oleh aturan dan produk tersebut. Taktik ini sering kali melibatkan bricolage (merakit dari apa yang tersedia) dan stratagem (siasat).

Contohnya dalam budaya massa, seperti serial televisi, strategi korporasi adalah untuk mendapatkan keuntungan dan memperkuat rezim kapitalis dengan mengharuskan pemirsa menonton iklan pada slot waktu yang dialokasikan. Namun, audiens menerapkan taktik yang menyimpang dari tujuan ini, seperti mengabaikan iklan, mengunduh konten secara ilegal melalui torrent, atau menciptakan fan art yang bersaing dengan merchandise resmi. Tindakan-tindakan ini adalah produksi sekunder: mereka tidak menciptakan konten dari nol, tetapi mereka mengubah, menafsirkan, dan menggunakan produk primer dengan cara yang subversif.

2.4. Dimensi Kekuatan dan Keterbatasan Taktik

Kekuatan taktik terletak pada mobilitas dan kemampuannya untuk berimprovisasi. Karena taktik terikat pada momentum dan peluang waktu, ia dapat mengganggu rencana strategis yang kaku.

Namun, penting untuk dipahami bahwa taktik adalah resistensi yang bersifat fragmen dan oportunistik. Keunggulannya adalah juga batasnya. Taktik tidak dapat menciptakan infrastruktur atau teks baru dari nol; ia selalu bergantung pada sumber daya dan teritori yang telah diciptakan oleh Strategi. Hubungan Strategi dan Taktik karenanya dipandang sebagai "oposisi namun resiprokal". Taktik bersifat parasit, namun vital, karena ia terus-menerus beroperasi dalam celah yang diciptakan atau diabaikan oleh strategi, mencegah hegemoni menjadi monolitik. Taktik adalah cara untuk menemukan kembali kehidupan di dalam struktur yang membatasi.

Bagian II: Praktik Spasial: Ruang Urban dan Keteraturan Modern (Part III)

Bagian III buku ini memfokuskan pada praktik spasial, terutama tentang bagaimana individu menghadapi dan menegosiasikan ruang yang diatur oleh strategi modern.

3.1. "Walking in the City" (Bab VII): Kritik Voyeuristik dan Totalitas

Bab "Walking in the City" adalah ilustrasi ikonik dari dikotomi Strategi/Taktik. De Certeau memulai dengan mengkritik kesenangan voyeuristik melihat kota dari sudut pandang atas, seperti dari puncak gedung pencakar langit (dulu dari World Trade Center di New York). Sudut pandang ini, yang dihubungkan dengan kekuasaan panoptik, mewakili Strategi: ia menciptakan ilusi totalitas, kontrol, dan koherensi. Dari atas, kota direduksi menjadi peta yang menggambarkan keseluruhan yang terpadu, yang merupakan narasi koheren yang menghilangkan subjek.

Sebaliknya, pejalan kaki yang bergerak di tingkat jalan beroperasi secara taktis. Gerakan mereka tidak pernah sepenuhnya ditentukan oleh rencana strategis badan-badan pengorganisasian (pemerintah atau perencana kota). Pejalan kaki menghasilkan "ruang" melalui gerakan yang didorong oleh momen dan peluang, sering mengambil jalan pintas atau jalur yang tidak dimaksudkan oleh perencana. Mereka secara harfiah "memburu" (poaching) di atas peta kota yang strategis. Rute pejalan kaki adalah narasi pribadi yang tidak koheren bagi orang luar, tetapi terinternalisasi dan dihidupi oleh subjek.

3.2. "Railway Navigation and Incarceration" (Bab VIII): Teknologi dan Disiplin

Bab ini menganalisis bagaimana teknologi modern, khususnya rel kereta api, mewujudkan strategi yang sangat terorganisir. Jalur rel dan gerbong kereta api adalah contoh bagaimana strategi modern memaksakan place (jalur yang ditentukan) dan menggantikan space (kebebasan bergerak). Kereta api menyediakan navigasi yang terstruktur, tetapi pada saat yang sama gerbong kereta mencerminkan keadaan "inkarserasi" atau penahanan, di mana kebebasan bergerak fisik penumpang sangat didisiplinkan.

Namun, taktik tetap ditemukan. Dalam ruang yang sangat didisiplinkan ini, perlawanan bergeser ke ranah internal—imajinasi. Navigasi kereta api (perjalanan) menjadi pertarungan antara kontrol fisik yang rasional dan kebebasan mental. De Certeau menunjukkan bahwa imajinasi penumpang, serta narasi yang diciptakan dalam konteks perjalanan yang diatur ini, menjadi taktik terakhir melawan mekanisme rasionalisasi modernitas.

3.3. Politik Peta dan Rute

Dikotomi Peta (Strategi) dan Rute (Taktik) menunjukkan bahwa kekuasaan selalu berusaha membekukan ruang menjadi representasi statis. Strategi, yang diwujudkan dalam peta, berupaya menghilangkan keacakan dan menjamin prediktabilitas.

Kritik De Certeau adalah politik: dengan menolak pandangan voyeuristik (kekuasaan), dia menegaskan pengetahuan yang terwujud (embodied knowledge) dari pejalan kaki, yang sering diabaikan dalam studi urban tradisional. Taktik adalah penolakan terhadap representasi statis tersebut, memilih pengalaman yang cair dan tidak terdokumentasi. Dalam konteks urban, taktik ini mengganggu strategi yang diprogram oleh perencana kota, sehingga otoritas gagal menerapkan kebijakan yang univokal. Taktik harian memungkinkan warga untuk memutarbalikkan celah antara "mode kolektif" dan "mode individual re-appropriasi" untuk tujuan khusus.

Bagian III: Praktik Linguistik: Teks, Narasi, dan Perburuan Makna (Part IV)

Bagian IV buku ini membahas bagaimana pengguna menerapkan taktik mereka terhadap bahasa dan teks, menunjukkan bahwa poaching tidak hanya terjadi di ruang fisik, tetapi juga di ruang diskursif.

4.1. "Reading as Poaching" (Bab XII): Agensi Pembaca

Bab ini membalikkan pandangan bahwa tindakan membaca adalah praktik pasif. De Certeau mendefinisikan pembaca sebagai 'poacher' (pemburu gelap/pencuri) di lahan teks sastra. Pembaca adalah pengembara yang mencuri makna dari teks, bergerak "seperti nomaden memburu jalan mereka melintasi ladang yang tidak mereka tulis".

Teks (atau "land of the text") adalah wilayah penulis atau institusi yang menerbitkan dan mengatur penggunaannya (Strategi). Tindakan membaca adalah taktik perlawanan di mana pembaca memilih, melompati, atau menafsirkan teks untuk tujuan pribadinya. Ini adalah bukti nyata dari produksi makna melalui penggunaan. Sebagai contoh, regulasi terhadap penggunaan literatur tertentu di sekolah atau universitas, seperti Jane Eyre, adalah strategi yang menentukan penggunaan yang "tepat". Namun, interpretasi pribadi dan pembentukan makna yang menyimpang oleh pembaca adalah taktik yang melanggar batas otorisasi tersebut, menunjukkan bahwa kontrol hegemoni atas makna selalu tidak sempurna.

4.2. Ekonomi Skriptural dan Narasi Keseharian

De Certeau membedakan antara Strategi yang dilembagakan dalam tulisan dan Taktik yang ditemukan dalam komunikasi lisan.
Ekonomi Skriptural (The Scriptural Economy), yang dibahas dalam Bab X, mewakili strategi: upaya institusional untuk mendisiplinkan pengetahuan, mengamankan identitas, dan membangun sejarah yang koheren melalui arsip, dokumen tertulis, dan literatur yang diatur.

Sebagai tandingan, Kutipan Suara (Quotations of Voices) dan narasi lisan berfungsi sebagai taktik yang lebih cair dan efemeral. Narasi lisan atau story time memungkinkan negosiasi makna yang konstan di antara pengguna, beroperasi di luar kendali strategi formal yang tertulis dan terarsip. De Certeau menunjukkan bahwa bahasa sehari-hari adalah lokasi agensi, bukan sekadar transmisi pasif.

4.3. Semiotika Perlawanan

Konsep poaching berfungsi sebagai metafora kunci yang menyatukan argumen De Certeau di berbagai domain. Poaching mengaitkan konsumsi budaya (teks, media, objek) dengan praktik spasial (berjalan). Hal ini memperkuat tesis bahwa baik ruang fisik maupun tekstual adalah wilayah yang diperebutkan di mana yang lemah selalu mencari celah untuk menegaskan otonomi.

Dengan menganggap pembaca sebagai poacher dan konsumsi sebagai produksi sekunder, De Certeau menyediakan kerangka untuk menganalisis praktik seperti penciptaan fan art dari serial televisi. Meskipun serial TV diproduksi oleh korporasi dominan sebagai strategi untuk keuntungan, audiens dapat mengambil elemen-elemennya dan menggunakannya untuk produksi mereka sendiri (misalnya, menjual fan art di platform daring), yang merupakan taktik yang menyimpang dari rantai distribusi resmi dan mengganggu otoritas diskursif.

Bagian IV: Aplikasi Faktual dan Studi Kasus Subalternitas

Model De Certeau tentang Strategi/Taktik telah menjadi alat analisis fundamental dalam studi budaya, media, dan subalternitas, terutama dalam konteks teknologi modern dan migrasi.

5.1. Taktik Teknologi dan Media Digital

Di era digital, perbedaan antara strategi dan taktik menjadi semakin jelas. Strategi (korporasi media) mendefinisikan waktu siaran dan distribusi produk. Taktik pengguna digital sering kali memanfaatkan aspek temporal dan spasial teknologi untuk menumbangkan strategi ini.

Perang Gerilya Digital: Penggunaan torrent atau streaming ilegal, di mana pengguna secara aktif merekam, mengunggah, dan berbagi serial televisi (misalnya, Game of Thrones menjadi acara yang paling banyak dibajak dalam sejarah), adalah contoh utama "perang gerilya semiotika" di dunia digital. Tindakan ini melanggar aturan kapitalisme dan hukum hak cipta, mengalihkan keuntungan dari produsen.

Taktik digital ini beroperasi dengan memanfaatkan penundaan (delay) dan penyimpanan (storage). Dengan menyimpan konten atau menunda konsumsi dari jadwal yang dialokasikan, pengguna menginterupsi ritme dan rencana distribusi strategis yang didiktekan oleh korporasi. Selain itu, meskipun teknologi sering dirancang untuk kecepatan dan efisiensi (seperti jalur drive-through dalam layanan makanan cepat saji), pengguna selalu mencari modus operandi mereka sendiri, memodifikasi penggunaan produk agar sesuai dengan kebutuhan personal.

5.2. Resistensi Taktis Kelompok Subaltern (Kasus Diaspora)

Model De Certeau sangat berharga untuk menganalisis resistensi non-kekerasan dan tersembunyi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok subaltern. Sebuah studi kasus yang relevan adalah penelitian yang berfokus pada komunitas migran, seperti orang Turki yang tinggal di Jerman.

Penguatan Otonomi Budaya: Penelitian ini menunjukkan bagaimana konsep Strategi/Taktik dapat diterapkan untuk menganalisis praktik harian seperti makan, berbicara, dan berbelanja sebagai bentuk resistensi budaya terhadap mekanisme kekuasaan dan aparatusnya. Strategi dominan (Negara atau masyarakat penerima) mungkin memaksakan narasi integrasi atau asimilasi. Namun, kelompok subaltern menggunakan praktik harian mereka sebagai perisai budaya, yaitu Taktik.

Resistensi Linguistik/Kultural: Salah satu contoh spesifik adalah komedi dan kabaret Turki-Jerman. Para komedian seperti Kaya Yanar dan Bülent Ceylan menggunakan humor dan taktik linguistik untuk secara publik "membalikkan pertanyaan integrasi". Ketika praktik ini diartikulasikan secara publik, Taktik ini mengganggu otoritas diskursif strategi integrasi, menunjukkan bahwa kehidupan sehari-hari adalah lokasi agensi politik non-parlementer.

5.3. Agensi Politik Keseharian

Aplikasi faktual ini menggeser pemahaman tentang praktik De Certeau dari ranah individual murni ke ranah politik mikro. Taktik bukan hanya urusan pribadi; mereka adalah mekanisme penting bagi kelompok yang termarginalisasi untuk menegaskan identitas dan otonomi mereka di tengah strategi dominan.

Taktik keseharian mewujudkan politik agensi yang tidak terstruktur. Dengan melakukan praktik konsumsi dan modifikasi, pengguna melakukan tindakan yang tidak terhitung oleh statistik formal, tetapi yang memungkinkan mereka untuk mengikis dan mendistorsi strategi utama kekuasaan. Ini menunjukkan bahwa kekuasaan tidak pernah bersifat monolitik atau tertutup rapat; strategi, meskipun mendominasi ruang, secara inheren rentan terhadap keacakan dan momentum temporal yang dimanfaatkan oleh Taktik.

Bagian V: Dialog Kritis dan Warisan Intelektual De Certeau (Part II)

De Certeau secara eksplisit menempatkan karyanya dalam dialog kritis dengan para pemikir kontemporer lain, seperti Michel Foucault dan Pierre Bourdieu.

6.1. De Certeau dan Foucault: Antidiscipline of Tactics

Dalam Bagian II buku ini, De Certeau membahas pemikiran Foucault dan Bourdieu. Meskipun De Certeau mengakui pentingnya analisis Foucault terhadap mekanisme kekuasaan dan disiplin (bagaimana kekuasaan bekerja pada tubuh dan ruang), ia merasa bahwa fokus Foucault cenderung menghasilkan gambaran totalitas kontrol.

Sebagai respons, De Certeau mengembangkan apa yang disebut sebagai "antidiscipline of tactics". Jika Foucault berfokus pada yang dominan (mekanisme disiplin), De Certeau secara eksplisit berfokus pada yang resisten (cara-cara yang lemah memanfaatkan sistem tersebut). De Certeau mengakui adanya "kandang" yang diciptakan Foucault (struktur disipliner modern) tetapi mencari rute pelarian dan modifikasi yang diciptakan oleh penghuninya. Ini adalah eksplorasi mendalam tentang "perlawanan kreatif" yang dilakukan oleh orang-orang biasa terhadap struktur yang ada.

6.2. Kritik Terhadap Binary Strategy/Tactic

Meskipun model Strategi/Taktik sangat berpengaruh, ia telah memicu kritik mengenai kekakuan dikotomi biner yang digunakan (seperti ideal vs. nyata, voyeur-god vs. praktisi, mekanisme kekuasaan terbuka vs. terselubung).

Namun, De Certeau sendiri menekankan bahwa hubungan kekuasaan dan resistensi adalah "oposisi namun resiprokal". Taktik hanya dapat berfungsi sebagai penyesuaian atau pergeseran yang dioperasikan dalam ruang orang lain; ia tidak dapat beroperasi secara independen. Hal ini menimbulkan keterbatasan inheren: Taktik tidak menawarkan revolusi struktural, tetapi kepuasan sementara (pleasure) yang ditemukan dalam penggunaan yang menyimpang. Ini adalah agensi yang tertanam, selalu bekerja dalam keterbatasan. Meskipun demikian, hubungan resiprokal ini penting, karena menunjukkan bahwa strategi akan selalu menghadapi kegagalan implementasi kebijakan yang univokal akibat celah yang dieksploitasi oleh taktik.

6.3. Sifat Keteraturan dan Keacakan

Kontribusi De Certeau yang paling mendalam terletak pada pengakuan bahwa rasionalitas modern (Strategi) berupaya menghilangkan keacakan dan menjamin prediktabilitas melalui penguasaan ruang dan waktu. Namun, Taktik (kreativitas keseharian, stratagem, bricolage) adalah pemunculan keacakan yang tak terhindarkan.

De Certeau menyajikan bahwa Strategi menandai kemenangan stabilitas place atas perubahan temporal. Sebaliknya, Taktik memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh waktu (time), bergerak dalam teritori di luar kendalinya. Dengan demikian, warisan De Certeau adalah menyediakan kerangka untuk menganalisis keindahan efemeral, improvisasi, dan keacakan yang dilakukan oleh subjek yang bergerak, mengingatkan bahwa sistem rasional, meskipun mendominasi, tidak pernah sepenuhnya mandiri atau sempurna.

Epilog: Warisan dan Relevansi Abadi The Practice of Everyday Life

The Practice of Everyday Life karya Michel de Certeau adalah karya seminal yang berhasil mengubah cara ilmu sosial memandang agensi orang biasa. De Certeau berhasil menyediakan model teoretis yang memungkinkan studi formal terhadap praktik yang sebelumnya dianggap remeh atau pasif.

7.1. Relevansi Kontemporer dalam Studi Urbanisme dan Digital

Karya De Certeau terus menjadi dasar dalam studi budaya kritis, geografi, dan studi media. Dalam urbanisme, kritik De Certeau terhadap pandangan voyeuristik telah memperkuat fokus pada pengalaman embodied di tingkat jalan. Di ranah digital, konsep poaching dan secondary production sangat relevan untuk menganalisis fenomena kontemporer seperti remix culture, penciptaan meme, dan praktik digital lainnya yang mengindividualisasikan dan mengubah konten massal. Pengguna media digital terus-menerus menumbangkan strategi distribusi komersial melalui taktik pembajakan, modding, dan fan fiction, memvalidasi argumen De Certeau bahwa konsumsi adalah bentuk produksi.

7.2. Restorasi Agensi Biasa

Pada akhirnya, kontribusi terbesar De Certeau adalah restorasi agensi biasa. Dia menawarkan cara untuk melihat orang biasa bukan sebagai korban pasif struktur besar atau sebagai "konsumen" yang dicuci otaknya. Sebaliknya, mereka adalah ahli taktik, seniman tersembunyi (non-artists yang sebenarnya adalah arts de faire), dan poachers cerdik yang terus-menerus menemukan kembali kehidupan sehari-hari—L'invention du quotidien—di tengah strategi yang membatasi.

Melalui dikotomi strategi dan taktik, De Certeau telah memberikan bahasa yang diperlukan untuk menganalisis bagaimana kebebasan dan kreativitas bertahan dalam kondisi keteraturan yang paling ketat, membuktikan bahwa meskipun kekuasaan mendominasi tempat, yang lemah selalu mengklaim kembali waktunya.

Referensi:

A Critique of Michel de Certeau's “Walking in the City” to Locate Elements Concerning Dichotomy of Power and Resistance. (2025, Desember 9). Journal PPW. Diakses dari https://journalppw.com/index.php/jpsp/article/download/11458/7431/13603

ArtsEverywhere. (2025, Desember 9). Reading as poaching. https://www.artseverywhere.ca/reading-poaching-2/

brújula. (2025, Desember 9). What is “Popular” About Mass Culture?: Santiago en 100 Palabras and Chilean National Literature. https://brujula.ucdavis.edu/sites/g/files/dgvnsk13236/files/media/documents/83-102_vol8_enfoques_griffin.pdf

Cairn.info. (2025, Desember 9). De Certeau, the everyday and the place of humour. https://shs.cairn.info/revue-histoire-des-sciences-humaines-2010-2-page-75?lang=fr

Certeau, M. de. (1984). The practice of everyday life (S. Rendall, Trans.). University of California Press.

Christian Hubert Studio. (2025, Desember 9). Strategy / tactics. https://www.christianhubert.com/writing/strategy-tactics

DiVA Portal. (2025, Desember 9). Defining moments: A cultural biography of Jane Eyre – Philip Grey. http://www.diva-portal.org/smash/get/diva2%3A142955/FULLTEXT01.pdf

Goldsmiths, University of London. (2025, Desember 9). Poaching in the textual enclosure: Nineteenth-century literary fandoms, at the intersection of gender and space. https://www.gold.ac.uk/glits-e/back-issues/poaching-in-the-textual-enclosure/

Lennon, J. (2004). Ridin’ the rails: The place of the passenger and the space of the hobo. Americana. Diakses Desember 9, 2025, dari https://www.americanpopularculture.com/journal/articles/fall_2004/lennon.htm

MDPI. (2025, Desember 9). Populism as new wine in old bottles in the context of Germany: “Symbolic violence” as collective habitus that devalues the human capital of Turks. https://www.mdpi.com/2075-4698/12/2/45

Midnight Media Musings. (2025, Desember 9). Michel de Certeau’s model of tactics and strategies through the example of television series. https://midnightmediamusings.wordpress.com/2014/08/06/michel-de-certeaus-model-of-tactics-and-strategies-through-the-example-of-television-series/

Monoskop. (2025, Desember 9). Michel de Certeau – The practice of everyday life. https://monoskop.org/images/2/2a/De_Certeau_Michel_The_Practice_of_Everyday_Life.pdf

OCW UPJ. (2025, Desember 9). Walking in the city. https://ocw.upj.ac.id/files/Slide-ARR513-ARR513-Slide-09.pdf

ResearchGate. (2025, Desember 9). Tactics in daily life practices and different forms of resistance: The case of Turks in Germany. https://www.researchgate.net/publication/274770198_Tactics_in_Daily_Life_Practices_and_Different_Forms_of_Resistance_The_Case_of_Turks_in_Germany

Scribd. (2025, Desember 9). Teknokultur: Menautkan teknologi dan budaya. https://id.scribd.com/document/635663045/Teknokultur-Menautkan-Teknologi-dan-Buda

University of California Press. (2025, Desember 9). The practice of everyday life – Paper. https://www.ucpress.edu/books/the-practice-of-everyday-life/paper

Wikipedia. (2025, Desember 9). The practice of everyday life. https://en.wikipedia.org/wiki/The_Practice_of_Everyday_Life

YouTube. (2025, Desember 9). Michel de Certeau on strategy and tactic [Video]. https://www.youtube.com/watch?v=D5d0DjeM9Cc&pp=0gcJCfwAo7VqN5tD

Project MUSE. (2025, Desember 9). (Review). https://muse.jhu.edu/article/826690/summary

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment