Analisis Ekshaustif A Cyborg Manifesto: Telaah Pemikiran Donna Haraway tentang Teknologi, Sains, dan Feminisme Sosialis
I. Pendahuluan: Mitos Cyborg sebagai Strategi Politik Ironic
A Cyborg Manifesto (1985) yang ditulis oleh Donna Haraway bukan sekadar esai akademik, melainkan sebuah intervensi teoretis radikal yang menggunakan citra siborg—makhluk hibrida mesin dan organisme—sebagai mitos politik ironis untuk merevitalisasi feminisme sosialis di akhir abad ke-20. Analisis ini bertujuan untuk menguraikan secara mendalam struktur teoretis, kritik epistemologis, dan relevansi faktual dari karya seminal ini.
1.1. Konteks Genealogi dan Keharusan Blasphemy
Haraway menulis manifesto ini sebagai respons terhadap ajakan The Socialist Review pada tahun 1983 untuk merefleksikan masa depan feminisme sosialis, khususnya di tengah kemerosotan gerakan Kiri di Amerika Serikat dan kebangkitan konservatisme Reaganomics. Konteks geopolitik saat itu, termasuk ketegangan Perang Dingin, inisiatif pertahanan misil "Star Wars," dan protes anti-nuklir, menjadi latar belakang krusial bagi analisis Haraway tentang teknologi dan kekuasaan.
Haraway mendefinisikan esai ini sebagai upaya untuk membangun mitos politik ironis yang secara fundamental setia pada feminisme, sosialisme, dan materialisme. Pilihan kata 'ironis' dan 'mitos' menandakan penolakan Haraway terhadap klaim kebenaran universal dan narasi asal-usul yang utuh. Ironi adalah strategi retoris dan metode politik yang melibatkan penahanan kontradiksi—hal-hal yang tidak kompatibel—secara bersamaan, karena keduanya atau semuanya dianggap perlu dan benar, tanpa harus diselesaikan melalui dialektika menuju kesatuan yang lebih besar.
Lebih lanjut, Haraway mengadopsi sikap blasphemy (penistaan) di tengah tradisi evangelis sekuler-religius politik Amerika Serikat, termasuk dalam feminisme sosialis itu sendiri. Penistaan ini, yang membutuhkan keseriusan dalam mempertanyakan hal-hal yang dianggap sakral, berfungsi melindungi komunitas politik dari "mayoritas moral di dalam" yang menuntut kemurnian ideologis, namun tetap menegaskan kebutuhan akan komunitas. Penggunaan ironi ini secara sistematis mendiskreditkan epistemologi Barat yang mencari kepenuhan, kesatuan, atau standpoint yang tak tergoyahkan. Haraway melihat bahwa upaya untuk menemukan kesatuan esensial (misalnya, "pengalaman perempuan" universal) seringkali menyebabkan perpecahan yang tak berkesudahan di kalangan Kiri dan feminis pada era tersebut. Oleh karena itu, ironi, dengan merangkul parsialitas dan kontradiksi, menyediakan strategi untuk membangun koalisi tanpa mengasimilasi perbedaan, berbeda dengan model politik tradisional Marxis yang bergantung pada kesatuan kelas yang organik atau plot kesatuan yang hilang.
1.2. Definisi Cyborg dan Penolakan terhadap Kesatuan Organik
Di jantung iman ironis Haraway terletak citra siborg. Secara definisi, siborg (cyborg) adalah cybernetic organism—sebuah hibrida mesin dan organisme, yang merupakan makhluk fiksi sekaligus makhluk realitas sosial. Siborg adalah konstruksi politik terpenting, sebuah fiksi yang mengubah dunia.
Siborg berkomitmen kuat pada partiality, irony, intimacy, and perversity. Ia bersifat oposisional, utopis, dan sama sekali tanpa kepolosan. Hal paling krusial dari siborg adalah penolakannya terhadap narasi asal-usul yang mencari kembalinya kesatuan yang hilang, seperti mitos Taman Eden, kalender Oedipal, atau matriks reproduktif yang suci. Siborg tidak terbuat dari lumpur dan tidak bisa bermimpi kembali menjadi debu, ia juga tidak mengharapkan ayah penyelamatnya (seperti monster Frankenstein) untuk mengembalikannya ke taman melalui pasangan heteroseksual.
Penolakan terhadap "Taman Eden" ini merupakan penolakan langsung terhadap pemikiran esensialis yang mendasarkan identitas pada kemurnian, alam, atau biologi reproduktif. Siborg adalah "keturunan haram dari militerisme dan kapitalisme patriarkal", tetapi Haraway menyarankan bahwa potensi politiknya terletak pada ketidaksetiaannya terhadap asal-usul tersebut. Haraway mendorong feminisme untuk "menolak kembali ke tubuh yang suci," dan sebaliknya, mengakui bahwa tubuh kontemporer telah lama menjadi ruang teknologi—dimediasi oleh hormon, perangkat digital, atau praktik konsumsi media. Dengan demikian, siborg adalah figur posthuman radikal yang memungkinkan pemikiran ulang identitas yang melampaui kategori-kategori yang dipaksakan secara sosial.
II. Pembongkaran Dualisme Barat: Tiga Batasan Kritis
Haraway berpendapat bahwa kondisi siborg muncul karena runtuhnya tiga batasan mendasar dalam budaya ilmiah AS di akhir abad ke-20, yang secara fundamental menantang ontologi dan dualisme yang menopang pemikiran Barat (seperti alam/budaya, pikiran/tubuh, dan pria/wanita).
2.1. Batasan Pertama: Pembukaan Penuh antara Manusia dan Hewan
Batasan pertama yang sepenuhnya dilanggar adalah antara manusia dan hewan. Haraway mencatat bahwa benteng-benteng terakhir yang mengklaim keunikan manusia—seperti bahasa dan penggunaan alat—telah terkontaminasi atau dialihfungsikan.
Pembukaan batas ini secara radikal menantang humanisme, yang mendasarkan kekuasaannya pada klaim eksklusif atas 'keunikan' manusia. Jika batas antara Alam dan Budaya runtuh, konsekuensinya adalah hilangnya justifikasi untuk menganggap alam (termasuk tubuh perempuan atau hewan) sebagai sumber daya untuk apropriasi atau justifikasi ideologis. Dalam konteks politik, Haraway mencatat bahwa analisis ras kini diformulasikan dalam frekuensi parameter terkuantifikasi (seperti skor intelijen atau golongan darah), bukan lagi berdasarkan konsep irasional 'primitif' dan 'beradab'. Implikasinya, klaim feminis yang menggunakan 'Alam' atau 'kodrat wanita' sebagai sumber perlawanan (seperti ekofeminisme kultural) menjadi problematis karena masih bergantung pada dualisme yang sama yang digunakan untuk justifikasi dominasi.
2.2. Batasan Kedua: Fusi Cybernetic antara Organisme dan Mesin
Batasan kedua yang hilang adalah antara organisme (manusia atau hewan) dan mesin. Mesin pra-cybernetic masih dihantui oleh dualisme idealisme/materialisme; mereka dianggap hanya meniru impian manusia, bukan mandiri atau self-designing.
Namun, di era cybernetic, diferensiasi lama antara alami dan buatan (natural and artificial), pikiran dan tubuh (mind and body), serta berkembang sendiri (self-developing) dan dirancang eksternal (externally designed) telah menjadi sangat ambigu. Haraway mengamati bahwa mesin abad ke-20 tampak "menggelisahkan hidup" (disturbingly lively), sementara manusia (organisme) tampak "menakutkan lembam" (frighteningly inert).
Perubahan paling penting yang mendasari fusi ini adalah rekonseptualisasi organisme dan mesin sebagai coded texts (teks terkode). Informasi adalah dasar bagi struktur ini. Dengan menjadi kode, tubuh, identitas, dan mesin dapat didispersi, dihubungkan (interfaced), dan direkayasa secara digital. Meskipun Haraway mengakui bahwa 'tekstualisasi' ini membuka ruang bagi pemikiran postmodernis, ia harus berhati-hati untuk tidak jatuh ke dalam "pengabaian utopis" terhadap hubungan dominasi yang nyata, sebuah kritik umum dari Marxis dan feminis sosialis pada saat itu. Namun, kemampuan tubuh untuk dibaca dan ditulis ulang sebagai kode adalah prasyarat bagi sistem kekuasaan baru.
2.3. Batasan Ketiga: Dispersi Batas Fisik dan Non-Fisik
Batasan terakhir yang runtuh adalah antara fisik dan non-fisik, yang sering kali diterjemahkan sebagai pembagian antara ranah publik dan privat.
Cyborg hidup dalam polis teknologi baru, di mana revolusi hubungan sosial terjadi di oikos (rumah tangga). Rumah, tempat kerja, pasar, arena publik, dan bahkan tubuh itu sendiri—semua dapat didispersi dan dihubungkan dalam cara yang polimorf (polymorphous) dan hampir tak terbatas. Rusaknya batas publik/privat berarti bahwa eksploitasi dan kontrol kekuasaan tidak lagi terbatas pada pabrik (kerja publik) tetapi meluas ke ranah reproduksi, tubuh pribadi, dan komunikasi. Ketika tubuh menjadi titik sambungan (interface) yang dapat dibaca dan dikendalikan oleh informasi, feminisme harus memahami bahwa perlawanan tidak dapat didasarkan pada penarikan diri ke ranah privat yang 'murni'. Perjuangan harus dilakukan di tempat teknologi dan biopolitik bekerja.
Runtuhnya ketiga batasan ini menegaskan bahwa cyborg adalah entitas yang memungkinkan Haraway untuk secara produktif menantang dualisme seperti alam/budaya, pria/wanita, dan organisme/mesin.
Table 1: Analisis Tiga Batasan Kritis Haraway
III. Jaringan Kekuasaan Global: Informatika Dominasi (C3I)
Setelah menetapkan siborg sebagai realitas ontologis dan politik, Haraway menganalisis sistem kekuasaan yang muncul dari masyarakat cybernetic. Dia menyebut struktur ini sebagai Informatika Dominasi (Informatics of Domination).
3.1. Dari Kapitalisme Industrial ke Informatika Dominasi
Informatika Dominasi adalah sistem dunia yang mencirikan eksploitasi dan integrasi perempuan dan kelompok lain melalui produksi, reproduksi, dan komunikasi. Di bawah rezim ini, kekuasaan tidak lagi semata-mata bergantung pada model akumulasi kapitalis industrial lama yang berfokus pada pabrik, melainkan pada aliran data dan informasi.
Informasi dianggap sebagai elemen yang dapat dikuantifikasi (unit, dasar kesatuan) yang memungkinkan terjemahan universal. Kemampuan terjemahan universal ini pada gilirannya memfasilitasi instrumental power (kekuasaan instrumental), yang disebut sebagai komunikasi yang efektif. Namun, konsekuensi dominasi ini tidak universal; konsekuensinya sangat berbeda untuk orang yang berbeda, yang membuat gerakan oposisional internasional menjadi sulit untuk dibayangkan, meskipun esensial untuk kelangsungan hidup.
Pergeseran mendasar dalam sistem Informatika adalah bagaimana kekuasaan beroperasi. Rezim kekuasaan lama mengandalkan representasi (misalnya, identifikasi kelas yang jelas, statistik buruh). Sebaliknya, Informatika Dominasi bergantung pada simulasi. Simulasi beroperasi dalam realm of greatest boundary confusion (ranah kebingungan batas terbesar), di mana kenyataan diubah menjadi kode numerik murni (pure number, pure spirit). Dalam konteks ini, pemikiran kritis atau agensi bahkan dapat direduksi menjadi simulasi kesadaran.
3.2. C3I: Command-Control-Communication-Intelligence
Untuk memahami arsitektur kekuasaan yang terinformasi ini, Haraway menggunakan metafora militeristik: C3I (Command-Control-Communication-Intelligence). C3I adalah simbol yang digunakan militer AS untuk teori operasinya, yang mencerminkan bagaimana informasi dikumpulkan, diproses, dan digunakan untuk menjalankan perintah dan kendali dalam jaringan yang terdispersi.
Ancaman terbesar bagi kekuasaan instrumental C3I adalah gangguan komunikasi (interruption of communication). Ini berarti perlawanan yang efektif harus menargetkan jaringan dan kode, bukan hanya infrastruktur fisik tradisional.
Model C3I memberikan kerangka kerja yang sangat relevan untuk menganalisis pengawasan digital kontemporer. Dalam C3I, Intelligence (data/informasi) memberi makan Command dan Control. Jika data mentah yang membentuk Intelligence sudah bias—misalnya, kurang mewakili populasi tertentu—maka Command yang dieksekusi oleh sistem (misalnya, keputusan oleh kecerdasan buatan) akan secara inheren diskriminatif. Ketergantungan pada informasi terkode ini, bahkan ketika informasi itu cacat, memungkinkan kekuasaan menjadi lebih halus, tetapi konsekuensi materialnya tetap nyata.
3.3. Kritik Terhadap Determinisme Teknologi
Sangat penting untuk dicatat bahwa Haraway menolak interpretasi determinisme teknologi atau determinisme tekstual. Ia menolak pandangan sinis bahwa mesin akan menghancurkan 'manusia' atau bahwa 'teks' akan menghancurkan 'tindakan politik yang bermakna'.
Meskipun siborg adalah keturunan haram dari militerisme dan kapitalisme patriarkal, ia seringkali "sangat tidak setia pada asal-usulnya". Haraway menegaskan bahwa teknologi tidak netral; itu adalah medan politik yang dapat dinegosiasikan. Berbeda dengan narasi feminis radikal tertentu yang menganggap teknologi hanya sebagai alat kontrol laki-laki, Haraway melihat teknologi sebagai tempat di mana pembebasan feminis mungkin terletak. Teknologi membuka kemungkinan baru untuk melampaui batas-batas lama, dan siborg memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi dengan teknologi, bukan menjauh darinya, untuk menentang bentuk-bentuk dominasi.
IV. Politik Identitas Baru: Dari Esensialisme ke Afinitas
Salah satu kontribusi utama A Cyborg Manifesto adalah kritiknya terhadap feminisme yang didasarkan pada identitas esensial dan usulannya untuk jenis solidaritas politik baru.
4.1. Kritik Terhadap Feminisme Esensialis
Di era Haraway, beberapa teori feminis Amerika menonjol dengan classificatory gender essentialism, yaitu pandangan bahwa ada fitur sosial yang sama yang mendefinisikan "kewanitaan" atau "pengalaman perempuan" universal.
Haraway secara eksplisit menolak gagasan ini, dengan berargumen bahwa "tidak ada tentang menjadi 'perempuan' yang secara alami mengikat". Penolakan ini meluas ke kritik terhadap ekofeminisme kultural yang seringkali berjuang melawan patriarki menggunakan konstruksi modernis "perempuan-sebagai-alam" (Ibu Pertiwi). Dengan tetap menggunakan metafora alam/reproduksi, feminisme ini tanpa disadari bergantung pada dualisme yang justru ingin diruntuhkan oleh siborg. Sebaliknya, siborg merefigurasi feminisme ke dalam kode siber non-biologis.
Penolakan terhadap esensialisme reproduktif (matriks/kelahiran) adalah penolakan terhadap pemodelan politik berdasarkan 'keluarga organik' atau plot Oedipal yang mencari kesatuan yang utuh dan suci. Haraway menyarankan bahwa politik siborg mengadopsi model regenerasi—kemampuan untuk memperbaiki diri setelah cedera. Ini adalah visi politik yang memeluk identitas yang bersifat parsial, kontradiktif, dan terbuka secara permanen, namun tetap efektif dan setia pada tujuannya.
4.2. Koalisi Melalui Afinitas (Affinity)
Sejarah gerakan Kiri dan feminis di AS sering ditandai oleh perpecahan yang tak berkesudahan dalam pencarian kesatuan esensial yang baru. Haraway mengusulkan respons alternatif: koalisi yang didasarkan pada afinitas (affinity), bukan identitas.
Afinitas memungkinkan pembangunan "koneksi parsial, nyata" tanpa bergantung pada logika apropriasi, inkorporasi, atau identifikasi taksonomi. Afinitas adalah alat yang tidak hanya melemahkan justifikasi untuk patriarki, kolonialisme, humanisme, dan esensialisme, tetapi juga klaim apa pun untuk standpoint organik atau alami.
4.3. Kesadaran Oposisional (Oppositional Consciousness) Chela Sandoval
Untuk membumikan politik afinitas, Haraway menyoroti teori Oppositional Consciousness yang dikembangkan oleh Chela Sandoval. Teori ini lahir dari pertimbangan momen historis spesifik dalam pembentukan suara politik yang disebut women of color.
Perempuan kulit berwarna adalah subjek yang ditolak keanggotaan stabil dalam kategori sosial (ras, jenis kelamin, atau kelas). Mereka sering kali berada di dasar kaskade identitas negatif—misalnya, kategori 'wanita' seringkali meniadakan semua wanita non-kulit putih, dan kategori 'kulit hitam' meniadakan semua wanita kulit hitam. Sandoval berpendapat bahwa kondisi outsider ini memaksa pengembangan skills for reading webs of power—keterampilan membaca jaring-jaring kekuasaan. Identitas women of color adalah model cyborg identity, disintesis dari fusi identitas 'outsider'.
Identitas postmodernis yang politis ini dibangun dari otherness, difference, and specificity. Sandoval menekankan bahwa kesadaran oposisional adalah tentang lokasi yang kontradiktif dan kalender heterokronik, bukan tentang relativisme. Bagi Haraway, politik afinitas menuntut suatu epistemologi diferensiasi: kemampuan untuk mengetahui perbedaan (epistemology is about knowing the difference) —membedakan antara perbedaan yang merupakan kutub sistem dominasi sejarah dunia dan perbedaan yang bersifat politis dan konstruktif.
V. Manifestasi Faktual Kontemporer: Cyborg di Era AI dan Bioteknologi
Meskipun ditulis pada tahun 1985, kerangka Haraway sangat prediktif terhadap dinamika kekuasaan dan identitas di era kecerdasan buatan (AI), data besar, dan bioteknologi abad ke-21.
5.1. Studi Kasus I: Biopolitik, Regenerasi, dan Prostetik Canggih
Haraway telah mengidentifikasi bahwa kedokteran modern penuh dengan siborg—yakni kopling antara organisme dan mesin. Citra ini meluas ke studi kontemporer tentang "cyborgification" dalam konteks filsafat medis, yang meneliti interkoneksi kritis antara critical illness, gender fluidity, dan biopolitik.
Dalam biopolitik, diagnosis medis (sebagai informasi terorganisir) seringkali berfungsi sebagai label sosial, suatu cara untuk mengkuantifikasi, mengkategorikan, dan mengalienasi keadaan yang tidak sesuai dengan norma yang dibangun tentang tubuh yang 'sehat' atau 'normal'.
Kasus implan saraf (BCI), prostetik bionik, atau teknologi pengobatan yang mengubah tubuh (misalnya, terapi hormon) adalah manifestasi langsung fusi organisme-mesin. Dalam konteks ini, siborg adalah orang yang menolak untuk diperbaiki kembali ke dalam narasi tubuh yang 'sehat' atau gender biner yang utuh. Mereka menggunakan teknologi—yang seringkali berasal dari arsitektur militeristik—untuk menulis ulang atau meregenerasi tubuh yang telah dikodekan sebagai 'devian' atau 'sakit' oleh sistem medis. Hal ini mengimplementasikan gagasan Haraway bahwa teknologi dapat digunakan untuk reinscribe their identities against dominant forms of oppression, menciptakan identitas yang cair, mobile, dan didukung teknologi.
5.2. Studi Kasus II: Pengawasan Algoritma dan Bias dalam C3I Modern
Siborg kontemporer adalah operator telepon, buruh pabrik elektronik di Asia Tenggara, dan juga pengguna media sosial yang memodifikasi dirinya melalui algoritma dan filter wajah. Di era ini, kekuasaan beroperasi melalui risiko terkait data privacy, data security, dan algorithmic bias.
Aplikasi Faktual: Bias Algoritma dalam Teknologi Pengenalan Wajah (FRT):
Teknologi Pengenalan Wajah (FRT) yang digunakan oleh penegak hukum menjadi contoh sempurna bagaimana Informatics of Domination bekerja. FRT bertindak sebagai struktur Command dan Control yang bergantung pada Intelligence (data).
Analisis telah menunjukkan bahwa program FRT rentan terhadap bias ras dan gender. Studi menemukan bahwa algoritma FRT secara substansial lebih rentan kesalahan pada gambar wajah yang menggambarkan wanita dan individu berkulit gelap dibandingkan pria Kaukasia. Data menunjukkan bahwa tingkat kesalahan (error rate) untuk subjek pria kulit putih hanya sekitar 0.8%, sementara tingkat kesalahan untuk wanita berkulit gelap mencapai hingga 34.7%.
Bias ini berasal dari Intelligence yang cacat: data set pelatihan yang digunakan untuk membangun algoritma didominasi oleh subjek berkulit terang (79.6% dan 89.2%), yang mengkodekan tubuh-tubuh non-normatif (wanita berkulit gelap) dengan probabilitas kesalahan yang jauh lebih tinggi.
Kasus nyata seperti penahanan Robert Williams pada tahun 2020 di AS, yang dituduh secara keliru akibat program FRT yang bias rasial, menunjukkan konsekuensi material dari sistem ini. Kekuasaan yang terinformasi ini, yang Haraway rangkum sebagai C3I, menggunakan informasi (data) yang bias untuk melaksanakan instrumental power (pengawasan dan penyelidikan), menjadikan individu tertentu (terutama perempuan kulit berwarna) sebagai target yang secara inheren 'lebih rentan kesalahan' oleh sistem. Ini adalah manifestasi nyata bagaimana kaskade identitas negatif dapat dikodekan ke dalam teknologi.
Table 2: Informatika Dominasi (C3I) dan Manifestasi Kontemporer
VI. Kesimpulan dan Warisan Cyborg Haraway
6.1. Warisan dan Signifikansi Posthumanisme
A Cyborg Manifesto telah menjadi tonggak utama dalam teori feminis posthumanis dan Studi Sains dan Teknologi (STS). Signifikansi utamanya terletak pada penolakan pandangan bahwa teknologi hanyalah alat patriarki dan kapitalisme. Sebaliknya, Haraway mengubah teknologi menjadi medan perlawanan dan pembebasan.
Haraway menawarkan visi politik yang menuntut koneksi nyata (afinitas), yang beroperasi di tengah kontradiksi, tanpa harus tergelincir ke dalam sinisme, relativisme, atau pencarian kesatuan yang mustahil. Ia menunjukkan bahwa siborg bukanlah figur yang mencari utopia organik, melainkan figur yang menemukan kekuatan politik dalam hibriditas, parsialitas, dan ketidakbersalahan struktural.
6.2. Tantangan Politik Cyborg di Masa Depan
Survival politik di era informatika bergantung pada pemahaman radikal dan praktis tentang "siapa Cyborg itu". Jika Informatika Dominasi (C3I) beroperasi melalui pengkodean yang bias, perlawanan harus berupa kemampuan untuk membaca, mengganggu, dan menulis ulang kode tersebut.
Haraway mengapresiasi aktivisme yang mampu "membaca jaring-jaring kekuasaan siborg dengan sangat baik". Hal ini menggarisbawahi bahwa politik siborg bukan hanya soal menolak teknologi, tetapi menuntut literasi teknologi dan pemahaman kritis terhadap arsitektur dominasi yang berbasis informasi. Tantangan terbesar adalah mengelola kontradiksi dan parsialitas secara produktif, membangun koalisi efektif di tengah fragmentasi politik global, dan memastikan bahwa teknologi (fiksi dan realitas sosial) digunakan untuk membangun kemungkinan pembebasan, alih-alih hanya memperkuat sistem dominasi yang ada. Siborg, sebagai makhluk yang secara permanen parsial, menyediakan arketipe untuk perlawanan yang mampu melihat dari berbagai perspektif secara bersamaan.
Referensi:
26reads. (n.d.). A cyborg manifesto: The informatics of domination. Diakses 16 Desember 2025, dari https://www.26reads.com/library/83866-a-cyborg-manifesto/3
Feminism in India. (2025, April 8). “A cyborg manifesto”: The politics of cyborg and the feminist critique. Diakses 16 Desember 2025, dari https://feminisminindia.com/2025/04/08/a-cyborg-manifesto-the-politics-of-cyborg-and-the-feminist-critique/
Haraway, D. J. (1991). Simians, cyborgs, and women: The reinvention of nature. Routledge.
Haraway, D. J. (n.d.). A cyborg manifesto: Science, technology, and socialist-feminism in the late twentieth century. Diakses 16 Desember 2025, dari https://faculty.uca.edu/rnovy/Haraway--A%20Cyborg%20Manifesto.htm
Haraway, D. J. (n.d.). A cyborg manifesto: Science, technology, and socialist-feminism in the late twentieth century [PDF]. Simon Fraser University. Diakses 16 Desember 2025, dari https://www.sfu.ca/~decaste/OISE/page2/files/HarawayCyborg.pdf
Haraway, D. J. (n.d.). A cyborg manifesto [PDF]. University of Warwick. Diakses 16 Desember 2025, dari https://warwick.ac.uk/fac/arts/english/currentstudents/undergraduates/modules/fictionnownarrativemediaandtheoryinthe21stcentury/manifestly_haraway_----_a_cyborg_manifesto_science_technology_and_socialist-feminism_in_the_....pdf
Haraway, D. J. (n.d.). A cyborg manifesto [PDF]. University of Würzburg Graduate Schools. Diakses 16 Desember 2025, dari https://www.graduateschools.uni-wuerzburg.de/fileadmin/43030300/Heise-Materialien/haraway-cyborg_manifesto.pdf
Haraway, D. J. (n.d.). Donna Haraway – A cyborg manifesto. LOUIS Pressbooks. Diakses 16 Desember 2025, dari https://louis.pressbooks.pub/introphilosophy/chapter/reading-1-philosophy-of-science-and-technology/
Nafisah, A. (2020). Konstruksi identitas digital di kalangan Generasi Z selama pandemi COVID-19 (Studi kasus mahasiswa UIN Walisongo Semarang) [Skripsi, UIN Walisongo Semarang]. Diakses 16 Desember 2025, dari https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/16809/1/1604016051_Ainun-Nafisah_Full%20Skripsi%20-%20Inun%20Inuns.pdf
Nini Nora, H. (2025, Juni 25). Latar belakang manifesto cyborg. Diakses 16 Desember 2025, dari https://humanininora.wordpress.com/2025/06/25/latar-belakang-manifesto-cyborg/
Pohl, R. (n.d.). An analysis of Donna Haraway’s “A cyborg manifesto”. Taylor & Francis eBooks. Diakses 16 Desember 2025, dari https://www.taylorfrancis.com/books/mono/10.4324/9781912453269/analysis-donna-haraway-cyborg-manifesto-rebecca-pohl
ResearchGate. (n.d.). A manifesto for the cyborg body [PDF]. Diakses 16 Desember 2025, dari https://www.researchgate.net/publication/333176150_A_Manifesto_for_the_Cyborg_Body
Sennaar, K. (2018). Reducing algorithmic bias in AI [Video]. TEDxBrandeisU. Diakses 16 Desember 2025, dari https://www.youtube.com/watch?v=f7oro8hgNZg
Sorot: Jurnal Ilmu Komunikasi. (n.d.). Feminisme cyborg Donna Jeanne Haraway. Universitas Udayana. Diakses 16 Desember 2025, dari http://ojs.unud.ac.id/index.php/sorot/article/download/90198/45782/
U.S. National Library of Medicine. (n.d.). Biased face recognition technology used by government. Diakses 16 Desember 2025, dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8475322/
University of Princeton. (n.d.). Algorithmic bias in facial recognition technology on the basis of gender and skin tone. Diakses 16 Desember 2025, dari https://rrapp.spia.princeton.edu/algorithmic-bias-in-facial-recognition-technology-on-the-basis-of-gender-and-skin-tone/
Wikipedia. (n.d.). A cyborg manifesto. Diakses 16 Desember 2025, dari https://en.wikipedia.org/wiki/A_Cyborg_Manifesto
White, C. P. (2019). How algorithms spread human bias [Video]. TEDxOklahomaCity. Diakses 16 Desember 2025, dari https://www.youtube.com/watch?v=1z9KsNoAmFA



Post a Comment