Genealogi Kekuasaan dan Hukuman: Analisis Kritis Buku Discipline and Punish Karya Michel Foucault
Ulasan ini menyajikan uraian mendalam, rinci, dan lengkap mengenai inti pemikiran Michel Foucault dalam karyanya yang berpengaruh, Discipline and Punish: The Birth of the Prison (1977). Karya ini, yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1975 dengan judul asli Surveiller et punir, bukanlah sekadar sejarah sistem penjara modern, melainkan analisis tentang bagaimana perubahan hubungan kekuasaan dan pengetahuan membentuk praktik hukuman, menghasilkan apa yang Foucault sebut sebagai "jiwa modern".
I. Metodologi Genealogis dan Tesis Transformasi Hukuman
A. Michel Foucault: Genealogi sebagai Kritik Sejarah
Foucault menggunakan karyanya ini untuk menyajikan sejarah korelatif tentang sistem pidana modern. Untuk mencapai hal ini, ia memperkenalkan kerangka metodologis yang disebut Genealogi. Istilah 'genealogi' dipinjam dari Genealogy of Morals karya Nietzsche, dan dimaksudkan untuk membangkitkan gagasan asal-usul yang kompleks, duniawi, dan "tidak mulia" (inglorious origins). Genealogi adalah upaya untuk mempertimbangkan asal-usul sistem pengetahuan dan mengungkap diskontinuitas serta jeda dalam wacana.
Berbeda dengan historiografi tradisional yang melihat perubahan sebagai kemajuan rasional yang tak terhindarkan, analisis genealogis Foucault menunjukkan bahwa sistem pemikiran dan praktik yang berlaku—seperti sistem penjara modern—adalah hasil dari belokan sejarah yang kontingen, bukan hasil dari tren logis progresif. Tujuannya adalah untuk menganalisis hukuman dalam konteks sosialnya, menunjukkan bagaimana pergeseran kekuasaan memengaruhi cara masyarakat menghukum.
Mikro-fisika Kekuatan dan Kekuatan/Pengetahuan
Foucault mengajukan konsep revolusioner tentang kekuasaan, menolak model Kekuasaan Berdaulat (Sovereign Power) yang terpusat dan hanya represif. Ia mendefinisikan kekuasaan melalui "mikro-fisika kekuasaan," melihatnya sebagai serangkaian rute dan senjata yang beroperasi dalam tubuh politik. Ini adalah jaringan taktis kekuasaan yang beroperasi secara ekonomis dan tidak terlihat, meresap hingga ke tingkat individu dalam masyarakat.
Dalam perspektif ini, Kekuatan dan Pengetahuan (Power/Knowledge) saling terkait secara inheren. Ilmu-ilmu kemanusiaan, termasuk konsep tentang jiwa, kepribadian, dan kesadaran, diciptakan oleh mekanisme kekuasaan ini dan pada gilirannya memperkuat kontrol disipliner. Pengetahuan tentang individu (seperti diagnosis psikologis atau kriminologis) berfungsi untuk memungkinkan kekuasaan bekerja secara individual dan permanen.
B. Tesis Sentral: Transisi dari Hukuman Tubuh ke Disiplin Jiwa
Tesis sentral Discipline and Punish adalah pelacakan pergeseran dramatis dalam sistem pidana Barat: dari penargetan tubuh kriminal melalui penyiksaan publik ke penargetan "jiwa" melalui disiplin dan kurungan. Foucault menyatakan bahwa fokus yang dulunya tertuju pada pembalasan terhadap tubuh harus digantikan oleh hukuman yang bertindak jauh di dalam hati, pikiran, kemauan, dan kecenderungan. Ini adalah pergeseran fokus hukuman dari kejahatan yang dilakukan (the crime itself) menjadi apa yang dikatakan kejahatan itu tentang orang yang melakukannya (the person committing it).
Karya ini bertujuan untuk mengungkapkan struktur tersembunyi yang mempertahankan sistem kontrol ini, alih-alih sekadar melancarkan kritik anti-penjara sederhana. Pergeseran ini menciptakan mekanisme kontrol yang mandiri. Begitu jiwa dibentuk dan diinternalisasi oleh norma-norma, tubuh secara otomatis menjadi patuh (docile). Foucault menyimpulkan dengan pernyataan yang kuat bahwa "jiwa adalah penjara bagi tubuh", yang berarti kontrol telah berpindah dari permukaan kulit (hukuman eksternal) ke kesadaran terdalam, menciptakan rezim kontrol yang berkelanjutan.
C. Kontras Dramatis Foucault: Damiens (1757) vs. Jadwal Mettray (1830)
Foucault memulai bukunya dengan kontras historis yang mengejutkan, membandingkan dua bentuk penalti yang terpisah kurang dari satu abad.
1. Eksekusi Robert-François Damiens (1757): Hukuman yang kacau dan penuh kekerasan terhadap Damiens, yang dihukum karena percobaan pembunuhan Raja Louis XV.
2. Jadwal Koloni Mettray (1830): Jadwal harian yang sangat teregimentasi untuk narapidana di koloni penjara Mettray.
Kontras ini secara instan menggambarkan kedalaman perubahan yang terjadi dalam sistem pidana Barat—dari kekerasan spektakuler yang menargetkan tubuh menjadi rezim kontrol yang terstruktur, halus, dan tertutup yang mengatur waktu dan ruang individu.
II. Rezim Kekuasaan Berdaulat (Kekuasaan Lama): Spektakel Penyiksaan
Bagian pertama buku ini berfokus pada analisis Foucault tentang Kekuasaan Berdaulat dan praktik hukuman pra-modern, yang ia sebut sebagai "Torture" atau Penyiksaan.
A. Hukuman sebagai Tanda Kekuasaan Raja
Sebelum abad ke-18, hukuman fisik atau hukuman mati adalah bentuk hukuman utama. Hukuman ini bersifat seremonial, ritualistik, dan selalu diarahkan pada tubuh narapidana. Kekuasaan berdaulat dicirikan sebagai kekuasaan yang terlihat dan eksternal, di mana raja menggunakan pertunjukan publik untuk mendemonstrasikan dominasi absolutnya.
Fungsi utama eksekusi publik adalah menegaskan kembali otoritas dan kekuasaan Raja, yang dianggap telah dilecehkan oleh tindakan kriminal tersebut. Dalam kosmologi juridico-politik ini, hukuman adalah pembalasan dan pertunjukan corporeal.
B. Detil Eksekusi Damiens: Kekejaman dan Kegagalan Kekuasaan
Foucault menghabiskan banyak waktu untuk menggambarkan secara eksak hukuman Damiens pada tahun 1757. Damiens dikenai berbagai siksaan yang luar biasa kejam: tangannya dibakar, dagingnya dicabut dengan penjepit baja yang dibuat khusus, dan luka-lukanya dilumuri dengan timah cair dan minyak mendidih.
Puncak hukuman adalah upaya pemotongan anggota tubuhnya oleh enam kuda. Eksekusi ini terbukti kacau (botched). Kuda-kuda gagal memisahkan anggota tubuhnya, dan algojo harus menggunakan pisau untuk memotong tendon Damiens. Eksekusi itu berlarut-larut, dan penderitaan Damiens yang panjang disaksikan oleh penonton yang terkejut.
C. Kritik terhadap Kekuatan Berdaulat: Inefisiensi dan Potensi Pemberontakan
Melalui kasus Damiens, Foucault menunjukkan keterbatasan Kekuasaan Berdaulat. Penyiksaan yang berlebihan dan proses yang kacau tidak hanya tidak efisien, tetapi juga berpotensi subversif. Ketika hukuman gagal mencapai tujuan pembalasannya secara mulus, penonton dapat bersimpati pada terpidana. Alih-alih memperkuat kekuasaan Raja, spektakel yang gagal dapat mengubah penonton menjadi potensi pemberontak, yang pada akhirnya melemahkan otoritas.
Kegagalan yang dipertontonkan di depan umum, seperti dalam kasus Damiens, berfungsi sebagai katalisator. Itu membuktikan kepada para pemegang kekuasaan bahwa Kekuasaan Berdaulat telah mencapai batas praktisnya. Untuk mempertahankan legitimasinya di era yang menuntut rasionalitas, kekuasaan harus bertransformasi dari kekerasan yang terlihat dan tidak efisien menjadi kontrol yang rasional, terukur, dan teradministrasi secara tertutup. Kekuasaan yang menerapkan penalti ini mengancam untuk menjadi sewenang-wenang seperti kejahatan itu sendiri, dan kekuasaan tidak lagi transparan bagi warga negara.
III. Reformasi dan Munculnya Mikro-fisika Kekuatan
Bagian kedua karya Foucault membahas gerakan reformasi penal yang muncul pada abad ke-18 dan bagaimana gerakan ini, tanpa disadari, menyiapkan panggung bagi kelahiran penjara.
A. Motif Sejati Reformasi Penal
Foucault menolak narasi bahwa reformasi sistem hukuman didorong oleh sentimen kemanusiaan. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa para reformis didorong oleh keinginan untuk membuat kekuasaan beroperasi lebih efisien. Tujuan utama adalah untuk merasionalisasi, mengukur, dan mengukur risiko kejahatan melalui sistem hukuman yang lebih ekonomis dan logis.
B. Pengalihan Target Hukuman: Kelahiran Jiwa Modern
Awalnya, para reformis mengusulkan "teater hukuman" baru, yang oleh Foucault disebut "Kota Penghukuman" (punitive city). Ini membayangkan sistem tanda dan representasi yang ditampilkan secara publik, di mana hukuman memiliki hubungan yang jelas dengan kejahatan dan berfungsi sebagai penghalang logis. Dalam model ini, kekuatan pidana didistribusikan di seluruh ruang sosial.
Namun, yang akhirnya menang adalah model "Institusi Koersif" (penjara). Institusi koersif ini berbeda dari kota penghukuman karena ia mengasumsikan tanggung jawab penuh atas tubuh dan waktu narapidana serta berupaya untuk mereformasinya secara individual.1 Untuk mencapai ini, fokus hukuman harus dialihkan.
Hukuman tidak lagi menyerang kejahatan itu sendiri, tetapi dialihkan ke "jiwa" terpidana—pikiran, kebiasaan, dan kecenderungannya. Pergeseran dari menargetkan tubuh ke menargetkan jiwa ini menandai kelahiran individu modern sebagai objek studi dan intervensi. Ilmu-ilmu kriminal muncul untuk memeriksa dan menilai narapidana, mengklasifikasikan mereka sebagai delinkuen.
C. Analisis Komparatif Rezim Kekuasaan
Perkembangan institusi koersif ini adalah prasyarat untuk munculnya disiplin, yang menyediakan teknologi kekuasaan yang lebih halus dan lebih efektif. Perbedaan mendasar antara kekuasaan lama dan kekuasaan yang muncul dapat diringkas sebagai berikut:
Table Perbandingan Regime Kekuasaan dan Hukuman (Abad Ke-18 vs. Modern)
IV. Anatomi Disiplin: Mekanisme Pembentukan Tubuh yang Patuh (Docile Bodies)
Bagian sentral dari Discipline and Punish menguraikan bagaimana teknologi yang disebut "disiplin" muncul pada abad ke-17 dan ke-18 dan menyebar ke seluruh institusi sosial, jauh sebelum penjara modern lahir.
A. Definisi Disiplin dan Produksi Tubuh
Disiplin didefinisikan sebagai serangkaian teknik koersif yang mengatur dan mengendalikan operasi tubuh individu. Ini dicapai dengan mengatur gerakan individu serta pengalaman mereka terhadap ruang dan waktu melalui perangkat seperti jadwal harian, latihan fisik, dan drill militer.
Melalui disiplin, individu-individu diciptakan dari sebuah massa. Foucault menunjukkan bagaimana teknik-teknik ini menghasilkan "tubuh yang patuh" (docile bodies): tubuh narapidana, tentara, pekerja, dan siswa yang dibuat lebih berguna (produktif) dan pada saat yang sama lebih mudah dikendalikan. Tubuh manusia dipecah, dianalisis secara rinci, dan disusun kembali secara maksimal efektif, seperti mesin yang fungsinya dapat dioptimalkan.
B. Institusi Disipliner (Laboratorium Kekuasaan)
Disiplin pertama kali berkembang dalam institusi yang membutuhkan pengelolaan massa, seperti militer, sekolah, pabrik, dan rumah sakit.
Di militer, misalnya, disiplin beroperasi berdasarkan prinsip pangkat, tempat, aturan, dan kontrol waktu, mengubah tubuh prajurit menjadi bagian dari mesin yang lebih besar—sebuah teknologi kekuasaan baru yang bertujuan untuk pelatihan. Di sekolah dan pabrik, lingkungan disipliner memastikan bahwa setiap orang berada di bawah pengawasan.
Apa yang baru pada abad ke-18 bukanlah setiap teknik disiplin secara individual, tetapi kombinasi teknik-teknik ini. Kekuatan disipliner menyebar beriringan dengan perkembangan teknologi lainnya. Penyebaran disiplin ini merupakan proses di mana hak-hak sipil dijamin, tetapi di balik itu, teknik-teknik kontrol baru disempurnakan.
C. Tiga Instrumen Kekuatan Disipliner (The Means of Correct Training)
Keberhasilan kekuatan disipliner bergantung pada tiga elemen utama: pengamatan hierarkis, penghakiman normalisasi, dan pemeriksaan.
1. Pengamatan Hierarkis (Hierarchical Observation)
Disiplin memaksa kepatuhan melalui mekanisme pengawasan atau "tatapan" (the gaze). Institusi disipliner sering kali dibangun sebagai "observatorium" yang memungkinkan pengawasan. Arsitektur ini, mirip kamp militer, sekolah, atau penjara, memungkinkan mekanisme kontrol. Kekuatan di sini bersifat koersif.
Sebagai contoh, dalam pelatihan militer, kamar-kamar mungkin memiliki jendela besar yang memungkinkan inspeksi sewaktu-waktu. Individu yang sedang dilatih, meskipun tidak diawasi sepanjang waktu, merasakan kemungkinan diawasi secara konstan. Hal ini menciptakan kontrol yang terus-menerus dan otomatis.
2. Penghakiman Normalisasi (Normalizing Judgment)
Kekuatan ini beroperasi berdasarkan aturan kenormalan, menggunakan cara-cara disiplin yang halus dan konsisten. Ini mencakup sanksi yang bersifat fisik, perampasan, atau penghinaan, yang membuat individu merasa harus mematuhi norma sosial subjektif.
Penghakiman normalisasi membagi individu menjadi kategori dan peringkat berdasarkan kepatuhan mereka terhadap aturan. Dengan cara ini, kenormalan menjadi keadaan yang diinginkan dan diukur. Individu dibandingkan terhadap norma, dan mereka yang menyimpang akan dikenakan disiplin lebih lanjut.
3. Pemeriksaan (The Examination)
Pemeriksaan adalah ritual yang menggabungkan pengamatan hierarkis dan penghakiman normalisasi. Pemeriksaan adalah sarana utama yang digunakan oleh hierarki pengawas untuk menilai, menguantifikasi, mengklasifikasikan, memberi penghargaan, dan menghukum.
Melalui pemeriksaan (misalnya, ujian sekolah, catatan medis rumah sakit, atau laporan kriminologi penjara), individu menjadi subjek yang didokumentasikan dan diperbaiki. Mereka dibandingkan dengan norma, diperingkat, diklasifikasikan, dan dipaksa untuk kembali ke kenormalan.
Ketiga instrumen ini bekerja sama untuk memastikan bahwa kekuatan beroperasi secara efisien pada tingkat yang paling mendasar:
Tiga Instrumen Utama Kekuatan Disipliner
V. Panoptisisme: Arsitektur Kekuasaan Tanpa Henti
Untuk menggambarkan diagram kekuatan disipliner yang sempurna, Foucault mendedikasikan analisis rinci tentang Panopticon, desain arsitektur penjara abad ke-18 yang diusulkan oleh Jeremy Bentham.
A. Panopticon Jeremy Bentham sebagai Diagram Kekuasaan
Panopticon, dengan menara pusatnya yang dikelilingi oleh sel-sel, memungkinkan satu pengawas untuk mengamati banyak narapidana tanpa narapidana tahu kapan tepatnya mereka sedang diawasi. Foucault menggunakan model ini sebagai metafora sentral untuk menjelaskan bagaimana disiplin berfungsi di masyarakat modern.
Prinsip utamanya adalah menciptakan "keadaan kesadaran dan visibilitas permanen yang memastikan berfungsinya kekuasaan secara otomatis". Kekuatan tidak perlu lagi menggunakan kekerasan atau represi secara konstan; ia bekerja melalui prospek pengawasan yang selalu ada.
B. Internalitas Kekuasaan dan Penyebarannya
Panopticon mengajarkan narapidana untuk mendisiplinkan diri sendiri (self-discipline). Prospek pengawasan yang berkelanjutan menghasilkan apa yang dikenal sebagai "chilling effect": perubahan perilaku yang dilakukan oleh individu yang sadar sedang diawasi agar sesuai dengan norma yang dirasakan. Kekuasaan diinternalisasi, menjadikannya model ekonomi kekuasaan yang unggul karena beroperasi dengan biaya minimal. Kekuatan panoptik bersifat produktif: ia tidak hanya menekan, tetapi juga membentuk dan mengoptimalkan individu yang dikontrol.
Panoptisisme mewakili modalitas kekuasaan yang menyebar melalui "jaringan hierarkis" (misalnya, hubungan guru-siswa, manajer-pekerja, perwira-tentara). Taktik-taktik ini beroperasi secara ekonomis dan tak terlihat untuk meningkatkan kedisiplinan dan kegunaan seluruh elemen dalam sistem sosial.
C. Diskusi Kontemporer: Panopticon Digital
Konsep Panopticon tetap sangat relevan, bahkan para akademisi berpendapat bahwa bentuk pengawasan modern "lebih valid daripada di masyarakat Barat abad ke-19 dan ke-20".
1. Panopticon Post-Modern: Pengawasan saat ini melampaui arsitektur fisik. Di era digital, platform media sosial, belanja daring, dan sistem berbasis AI menganalisis perilaku pengguna untuk memberikan konten yang disesuaikan (Pengawasan Personalisasi). Algoritma menganalisis dan mengklasifikasikan pengguna secara terus-menerus.
2. Ubiquitas dan Visibilitas: Teknologi modern, seperti pengenalan wajah dan geolokasi, memungkinkan pelacakan virtual setiap gerakan individu, mewujudkan impian Bentham untuk membuat identitas terlihat pada semua orang. Penerapan teknologi Panoptik yang efisien ini sering kali tidak netral; penelitian kontemporer menunjukkan bagaimana mekanisme pengamatan, penghakiman, dan normalisasi dapat memperkuat hierarki sosial dan rasial yang sudah ada melalui "pengawasan rasial" (racializing surveillance), menargetkan tubuh-tubuh tertentu secara lebih intensif.
VI. Penjara dan Fungsi Delinkuensi
Bagian akhir Discipline and Punish menganalisis penjara itu sendiri—institusi yang merupakan hasil logis yang tak terhindarkan dari penyebaran disiplin.
A. Penjara sebagai Institusi Total dan Sistem Carceral
Penjara adalah institusi "lengkap dan keras" (complete and austere institutions) yang mengisolasi individu, mengatur kegiatan mereka, dan mengamati perilaku secara intensif. Penjara adalah tempat di mana mekanisme disipliner (rumah sakit, bengkel kerja, sekolah) terintegrasi untuk mendisiplinkan "jiwa" narapidana.
Foucault memandang penjara sebagai bagian dari "sistem carceral" yang lebih luas—jaringan institusional yang melampaui tembok penjara dan menerapkan disiplin di seluruh masyarakat.
B. Tesis Kegagalan yang Disengaja (Failure as Success)
Foucault secara radikal menantang kritik konvensional bahwa penjara gagal karena tidak mengurangi tingkat kejahatan atau residivisme yang tinggi. Foucault berpendapat bahwa "kegagalan" penjara untuk mereformasi adalah manifestasi dari fungsi politik tersembunyi yang sukses. Penjara tidak bertujuan untuk menghilangkan kejahatan. Sebaliknya, ia berhasil dalam memisahkan bentuk-bentuk ilegalitas menjadi klasifikasi yang dapat diamati dan dikelola.
Kondisi penjara yang sebenarnya justru mendorong jaringan kriminal berkembang, yang mengutuk mantan narapidana pada residivisme dan pengawasan permanen (perpetual supervision) setelah pembebasan.
C. Produksi Kelas Delinkuen (The Delinquent)
Tujuan utama sistem carceral adalah reorganisasi pengetahuan tentang kejahatan, bukan penghapusan kejahatan. Proses ini menghasilkan kategori fungsional yang disebut "delinkuen" (delinquent).
1. Delinkuensi sebagai Solusi: Delinkuen bukanlah sekadar orang yang melanggar hukum tertentu, tetapi anggota sub-kelas yang keberadaannya menyiratkan ilegalitas dan kejahatan yang melekat. Mereka dikonseptualisasikan sebagai jenis manusia yang berbeda, yang "kriminal sebelum kejahatan".
2. Fungsi Politik dan Ekonomi: Dengan menciptakan sub-kelas delinkuen yang mudah diidentifikasi dan dikontrol, sistem carceral berhasil menyelesaikan konflik kekuasaan dengan mengisolasi elemen "abnormal" atau ilegal dalam masyarakat. Kelompok delinkuen menyediakan justifikasi yang berkelanjutan bagi keberadaan para profesional, ilmuwan, dan struktur yang mengelola pengetahuan tentang kejahatan (kriminologi).
Foucault dengan tegas menghubungkan sistem carceral dengan pengelolaan konflik kelas dan ekonomi abad ke-18 dan ke-19. Delinkuensi memastikan bahwa ilegalitas kelas bawah (misalnya, pencurian kecil) tetap terkendali dan terlihat, sementara bentuk ilegalitas kelas atas mungkin diatur melalui mekanisme lain.
D. Paradox Fungsional Penjara
Pandangan Foucault merangkum paradox penjara: ia berfungsi bukan melalui keberhasilannya dalam reformasi, tetapi melalui kegagalannya yang terstruktur, yang memungkinkannya mengelola ilegalitas dan memperluas kendali disipliner:
Paradox Kegagalan Penjara: Fungsi yang Diakui vs. Fungsi Tersembunyi
VII. Kesimpulan Kritis: Kritik dan Relevansi Warisan Foucault
Discipline and Punish telah memengaruhi disiplin ilmu mulai dari sosiologi, kriminologi, hingga teori politik, dengan menawarkan analisis transformatif tentang kekuasaan dan pengetahuan. Foucault berhasil mengalihkan fokus dari pertanyaan "mengapa kita menghukum?" menjadi "bagaimana hukuman berfungsi?" dalam konteks ekonomi politik dan sosial yang lebih luas. Karyanya dipandang sebagai "sejarah masa kini" (history of the present), dirancang untuk memicu kesadaran dan tindakan terhadap sistem kontrol.
A. Kritik Akademis Utama
Meskipun otoritasnya diakui secara luas, karya Foucault menghadapi beberapa kritik serius:
1. Determinisme dan Kehendak Bebas: Salah satu kelemahan yang sering ditunjukkan adalah bahwa Foucault gagal memperhitungkan peran kehendak bebas (free will). Penggambaran disiplin sebagai sistem yang hampir tak terhindarkan, efisien, dan meluas dikritik sebagai deterministik, yang berpotensi menghilangkan peran agensi individu.
2. Distorsi Sejarah: Beberapa kritikus berpendapat bahwa Foucault terkadang menyelewengkan data sejarah untuk mendukung tesisnya tentang kekuasaan dan kapitalisme.
3. Keterbatasan Konsep Kekuasaan: Pemahaman Foucault tentang kekuasaan dan penolakannya terhadap gagasan kebenaran objektif dikritik sebagai problematis dalam beberapa konteks teoretis.
B. Peran Resistensi dalam Matriks Kekuasaan
Penting untuk dicatat bahwa analisis Foucault tidak menyatakan bahwa kekuasaan itu total atau tidak dapat ditembus. Ia berpendapat bahwa resistensi adalah elemen yang diperlukan dalam berfungsinya kekuasaan dan merupakan sumber gangguan abadi. Ruang untuk perlawanan selalu ada. Keterlibatan Foucault sendiri dalam gerakan reformasi penjara Prancis (GIP) pada tahun 1970-an, yang bertujuan untuk membiarkan narapidana berbicara sendiri, adalah pasangan praktis yang menunjukkan komitmennya terhadap perlawanan.
C. Relevansi Kekuatan Disipliner dalam Masyarakat Kontemporer
Warisan Foucault tetap sangat relevan. Konsep-konsep seperti panoptisisme, pembentukan tubuh yang patuh, dan normalisasi dapat diterapkan secara langsung pada mekanisme kontrol modern:
1. Pengawasan Digital: Panopticon Digital mencakup pengawasan berbasis AI, media sosial, dan teknologi pengenalan wajah, di mana individu diklasifikasikan dan dinormalisasi melalui "jaringan hierarkis" tak terlihat di internet.
2. Biopolitik dan Tata Kelola (Governmentality): Teknik-teknik yang dipelajari Foucault dalam penjara kini diterapkan oleh negara modern untuk mengatur perilaku individu secara berkelanjutan—misalnya, melalui intervensi dalam kebijakan kesehatan, diet, dan kesehatan mental, dalam upaya untuk mengelola populasi di tingkat biologis dan sosial.
Secara keseluruhan, Discipline and Punish bukan hanya sejarah sistem penjara, tetapi studi tentang bagaimana "kekuatan tanpa kekejaman" (power without violence) membentuk realitas subjektif kita. Karya ini memberikan kerangka kerja yang kuat untuk mengkritik struktur kekuasaan kontemporer, menjadikan sistem kontrol di mana kita hidup lebih terlihat dan oleh karena itu, lebih terbuka untuk ditantang.
Referensi:
Cambridge University Press. (n.d.). Discipline (Chapter 21) - The Cambridge Foucault Lexicon. Retrieved November 10, 2025, from https://www.cambridge.org/core/books/cambridge-foucault-lexicon/discipline/838A447B67D2EC147B9466EEE0396803
Clary, J. (2015). Critique of Discipline and Punish [PDF]. ResearchGate. Retrieved November 10, 2025, from https://www.researchgate.net/profile/Joshua-Clary-2/publication/272745731_Critique_of_Discipline_and_Punish/links/54ecf0d70cf27fbfd771cf0e/Critique-of-Discipline-and-Punish.pdf
Critical review: Foucault on the prison. (n.d.). Columbia International Affairs Online (CIAO). Retrieved November 10, 2025, from https://ciaotest.cc.columbia.edu/olj/cr/cr_99sck01.html
Discipline and Punish - joyce rain anderson. (n.d.). Retrieved November 10, 2025, from https://www.joycerain.com/uploads/2/3/2/0/23207256/foucault_discipline_punish.pdf
Discipline and Punish - Wikipedia. (n.d.). Retrieved November 10, 2025, from https://en.wikipedia.org/wiki/Discipline_and_Punish
Discipline and Punish by Michel Foucault | Research Starters. (n.d.). EBSCO. Retrieved November 10, 2025, from https://www.ebsco.com/research-starters/literature-and-writing/discipline-and-punish-michel-foucault
Discipline and Punish Illegalities and Delinquency Summary & Analysis. (n.d.). SparkNotes. Retrieved November 10, 2025, from https://www.sparknotes.com/philosophy/disciplinepunish/section9/
Discipline and Punish Panopticism Summary & Analysis. (n.d.). SparkNotes. Retrieved November 10, 2025, from https://www.sparknotes.com/philosophy/disciplinepunish/section7/
Discipline and Punish The Body of the Condemned Summary & Analysis. (n.d.). SparkNotes. Retrieved November 10, 2025, from https://www.sparknotes.com/philosophy/disciplinepunish/section1/
Discipline and Punish The Means of Correct Training Summary & Analysis. (n.d.). SparkNotes. Retrieved November 10, 2025, from https://www.sparknotes.com/philosophy/disciplinepunish/section6/
Discipline and Punish: Foucault on the evolution of prisons. (n.d.). TheCollector. Retrieved November 10, 2025, from https://www.thecollector.com/michel-foucault-discipline-and-punish/
Foucault, M. (2020). Discipline and punish: The birth of the prison (A. Sheridan, Trans.). Penguin Classics. (Original work published 1975)
Foucault, M. (2024). Discipline and punish: The birth of the prison (A. Sheridan, Trans.). Oratio Valente. (Original work published 1975)
Full article: Revisiting Foucault’s panopticon: How does AI surveillance transform educational norms? (2025). Taylor & Francis Online. Retrieved November 10, 2025, from https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/01425692.2025.2501118
Interpreting Foucault: An evaluation of a Foucauldian critique of education. (2012). Scielo South Africa. Retrieved November 10, 2025, from https://scielo.org.za/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S0256-01002012000100009
Keelson-Maar, D. (n.d.). Regarding the pain of others? Cabinet Magazine. Retrieved November 10, 2025, from https://www.cabinetmagazine.org/issues/46/keelson-maar.php?issue=46&file=keelsonmaar
Michel Foucault - Stanford Encyclopedia of Philosophy. (n.d.). Stanford University. Retrieved November 10, 2025, from https://plato.stanford.edu/entries/foucault/
Michel Foucault, Discipline & Punish: The Birth of the Prison, trans. Alan Sheridan. (n.d.). SWOSU Digital Commons. Retrieved November 10, 2025, from https://dc.swosu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1090&context=qc
Michel Foucault meets Gary Becker: Criminality beyond Discipline and Punish. (n.d.). Loyola Marymount University Digital Commons. Retrieved November 10, 2025, from https://digitalcommons.lmu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1172&context=poli_fac
Self-overcoming in Foucault’s Discipline and Punish. (n.d.). UR Scholarship Repository. Retrieved November 10, 2025, from https://scholarship.richmond.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1014&context=philosophy-faculty-publications
Summary of Discipline and Punish: Birth of the Prison. (n.d.). Reddit (r/foucault). Retrieved November 10, 2025, from https://www.reddit.com/r/foucault/comments/sw5gil/summary_of_discipline_and_punish_birth_of_the/
The effects of virtual panopticism. (n.d.). FireScholars. Retrieved November 10, 2025, from https://firescholars.seu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1144&context=honors
The physics of power: Stories of panopticism at two levels of the school system. (n.d.). CUNY Academic Commons. Retrieved November 10, 2025, from https://traue.commons.gc.cuny.edu/the-physics-of-power-stories-of-panopticism-at-two-levels-of-the-school-system/
.png)



Post a Comment