Analisis Mendalam Louis Althusser: Ideologi dan Aparatus Ideologis Negara dalam Kajian Marxis Modern

Table of Contents

Ulasan ini menyajikan uraian mendalam mengenai esai mani Louis Althusser (1918–1990), "Ideology and Ideological State Apparatuses (Notes Towards an Investigation)," yang terbit pada tahun 1970. Karya ini merupakan kontribusi fundamental terhadap teori negara Marxis dan kritik budaya, menantang interpretasi Marxisme yang cenderung humanistik dan ekonomistik.

I. Konteks Intelektual, Metodologi, dan Masalah Reproduksi

Analisis Althusser berakar pada Strukturalisme Marxis, yang berupaya menggeser fokus dari peran individu dalam sejarah menuju fungsi dan mekanisme struktur sosial dalam mempertahankan mode produksi kapitalis.

A. Louis Althusser dan Strukturalisme Marxis

Louis Althusser dikenal karena kritiknya yang tajam terhadap Marxisme Humanistik. Dalam kerangka ini, Althusser berpegangan pada konsep anti-humanisme teoretis, yang secara fundamental menolak gagasan bahwa sejarah adalah narasi tentang alienasi dan realisasi diri dari "esensi manusia" universal. Baginya, fokus pada subjektivitas, kebebasan, atau alienasi (sering dikaitkan dengan karya "Young Marx") secara metodologis bermasalah.

Berkaitan erat dengan penolakan humanisme, Althusser juga mengajukan kritik anti-historisisme. Ia menolak konsepsi teleologis, yaitu gagasan bahwa sejarah adalah proses yang linier, berkelanjutan, dan bergerak menuju tujuan yang telah ditentukan sebelumnya (seperti masyarakat tanpa kelas yang merupakan keniscayaan historis). Dalam pandangan Althusser, kelangsungan hidup suatu formasi sosial, khususnya kapitalisme, tidak terjadi secara otomatis atau alami. Sebaliknya, ia harus diperjuangkan dan direproduksi melalui kerja struktural aparatus suprastruktur. Inilah dorongan kausal utama Althusser untuk mengembangkan teori Aparatus Negara Ideologis (ISA) dan merevisi model Basis-Suprastruktur Marxis.

B. Prasyarat Material: Reproduksi Hubungan Produksi

Althusser memulai argumennya dengan menegaskan kembali tesis Marxis ortodoks bahwa setiap formasi sosial harus terus mereproduksi syarat-syarat produksinya agar dapat bertahan. Reproduksi ini mencakup dua aspek utama: reproduksi sarana produksi (alat, bahan baku) dan reproduksi tenaga kerja (kekuatan produktif).

Reproduksi tenaga kerja tidak hanya mencakup penyediaan upah agar pekerja dapat terus bekerja hari demi hari. Yang lebih penting, reproduksi ini memerlukan penanaman tidak hanya keterampilan yang beragam (know-how) dan pengetahuan teknis, tetapi juga kepatuhan ideologis. Tenaga kerja harus direproduksi "dalam bentuk dan di bawah bentuk subjeksi ideologis" terhadap ideologi penguasa. Ini memastikan bahwa semua agen sosial—produsen, eksploitator, represor, dan profesional ideologi—harus "tercelup" (steeped) dalam ideologi ini sehingga mereka dapat menjalankan tugas mereka "dengan hati-hati" atau "sepenuh hati".

Dengan demikian, Althusser berargumen bahwa reproduksi hubungan produksi (yaitu, hubungan eksploitasi kapitalis) tidak hanya bergantung pada pelatihan keterampilan, tetapi pada penanaman aturan perilaku yang baik, moralitas, kesadaran profesional, dan rasa hormat yang selaras dengan divisi kerja. Ideologi adalah unsur esensial yang melumasi roda eksploitasi ini, membuatnya tidak hanya efisien, tetapi juga tampak wajar dan etis di mata para subjek yang terlibat.

II. Aparatus Negara yang Diperluas: Distingsi RSA dan ISA

Untuk menjelaskan mekanisme reproduksi ideologis ini, Althusser memperluas teori negara Marxis klasik, yang cenderung berfokus hanya pada mekanisme represi, dengan memperkenalkan dualitas Aparatus Negara.

A. Aparatus Negara Represif (Repressive State Apparatus – RSA)

RSA terdiri dari institusi yang berfungsi terutama dengan kekerasan dan represi, baik fisik (kekerasan) maupun non-fisik (ancaman atau penahanan). RSA umumnya terpusat, tunggal, dan publik, mencakup Pemerintah, Administrasi, Polisi, Militer, Pengadilan, dan Penjara. Fungsi primer RSA adalah penegakan dominasi kelas melalui represi, sedangkan fungsi ideologisnya bersifat sekunder. RSA dapat dilihat sebagai jaring pengaman darurat (repression of last resort) yang digunakan ketika kontrol ideologis ISA gagal.

B. Aparatus Negara Ideologis (Ideological State Apparatus – ISA)

ISA, di sisi lain, beroperasi terutama dengan ideologi, menggunakan metode non-kekerasan untuk mencapai tujuan yang sama—yaitu, reproduksi hubungan produksi. Fungsi utamanya adalah penyebaran ideologi, dan fungsi represi atau kekerasan politiknya bersifat sekunder dan dilakukan secara terselubung atau simbolis (misalnya, pengucilan sosial atau penghinaan).

ISA bersifat beragam dan jamak. Meskipun banyak di antaranya tampaknya 'swasta' dan merupakan bagian dari 'masyarakat sipil' (seperti gereja atau keluarga), Althusser berpendapat bahwa status 'swasta' ini hanyalah tampilan, karena mereka berfungsi sebagai Aparatus Negara yang dipersatukan oleh kontrol ideologi penguasa.

Daftar ISA sangat luas, mencakup:
1. ISA Agama: Gereja atau sistem keagamaan.
2. ISA Pendidikan: Sistem sekolah publik dan swasta (institusi dominan dalam kapitalisme modern).
3. ISA Keluarga: Struktur keluarga dan perannya dalam reproduksi sosial.
4. ISA Hukum: Sistem hukum non-represif.
5. ISA Politik: Sistem politik, termasuk partai-partai.
6. ISA Serikat Buruh: Serikat pekerja.
7. ISA Komunikasi: Pers, radio, dan televisi.
8. ISA Budaya: Literatur, seni, olahraga, dan klub sosial.7

Dominasi ISA Pendidikan

Dalam formasi sosial kapitalis, ISA Pendidikan mengambil peran dominan, menggantikan peran yang sebelumnya dipegang oleh ISA Agama (Gereja) pada era pra-kapitalis. Sekolah berfungsi sebagai mekanisme vital untuk sosialisasi massa pekerja. Sekolah tidak hanya melatih siswa dengan keterampilan yang sesuai untuk pasar tenaga kerja, tetapi yang lebih penting, sekolah menanamkan ideologi di balik dalih 'kualitas membebaskan' pendidikan. Pendidikan mengajarkan aturan perilaku yang baik dan etos kerja yang diperlukan untuk menerima tempat mereka dalam divisi kerja yang ada, sehingga secara efektif menjamin reproduksi hubungan eksploitasi kapitalis.

Perbedaan fungsional antara RSA dan ISA menunjukkan pergeseran taktik kontrol kelas penguasa dari penindasan terbuka (RSA) menjadi penanaman kepatuhan 'sukarela' (ISA). ISA bekerja melalui penanaman keyakinan, yang lebih stabil dan mengurangi kebutuhan akan intervensi kekerasan, menghasilkan kepatuhan yang dirasakan sebagai kebebasan.

Perbandingan antara kedua aparatus negara tersebut dirangkum dalam tabel berikut:
Tabel 1: Perbandingan Aparatus Negara Represif (RSA) dan Ideologis (ISA)

Tabel Perbandingan Aparatus Negara Represif (RSA) dan Ideologis (ISA)

III. Teori Ideologi Althusser: Dua Tesis Fundamental

Althusser merumuskan teori ideologi yang radikal, yang menghubungkannya secara erat dengan praktik material dan menghilangkan ideologi dari ranah kesadaran murni.

A. Ideologi secara Umum dan Universalitasnya

Althusser membedakan antara teori ideologi secara umum dan teori ideologi tertentu. Ideologi tertentu (misalnya, ideologi agama, borjuis, atau nasionalis) memiliki sejarah dan terkait dengan perjuangan kelas tertentu.

Namun, ideologi secara umum adalah struktur abadi yang "tidak memiliki sejarah". Ini berarti ideologi adalah bentuk yang diperlukan bagi setiap masyarakat—bahkan masyarakat non-kelas di masa depan—untuk menghasilkan subjek yang dapat berfungsi secara sosial. Ideologi adalah representasi "imajiner" dari realitas non-historis.

Dalam pandangan ini, ideologi tidak pernah menyatakan dirinya sebagai ideologi ("ideology never says, ‘I am ideological’"). Seseorang hanya dapat menyadari bahwa ia berada dalam ideologi dengan mengambil posisi di luar ideologi, yaitu dalam posisi pengetahuan ilmiah (seperti Marxisme), yang merupakan pemahaman yang sulit dicapai oleh massa.

B. Tesis I: Ideologi Merepresentasikan Hubungan Imajiner Individu terhadap Kondisi Eksistensi Mereka yang Nyata

Althusser mengajukan Tesis I yang terkenal: "Ideologi merepresentasikan hubungan imajiner individu terhadap kondisi eksistensi mereka yang nyata".

Tesis ini menolak pandangan yang lebih sederhana bahwa ideologi adalah kebohongan yang sengaja diciptakan oleh kelas penguasa, atau bahwa ideologi adalah pantulan terdistorsi dari kondisi material yang nyata (seperti pandangan Marxisme awal yang menekankan alienasi material). Althusser berpendapat bahwa ideologi tidak merepresentasikan kondisi nyata (yaitu, hubungan produksi yang eksploitatif), tetapi hubungan individu terhadap kondisi nyata tersebut, dan hubungan ini bersifat imajiner.

Fungsi fundamental dari Tesis I adalah masking atau penutupan. Hubungan imajiner ini sangat penting untuk menyembunyikan pengaturan eksploitatif masyarakat kelas. Contohnya, ideologi kapitalis membuat seorang pekerja yang dieksploitasi melihat dirinya sebagai agen pasar yang 'bebas' dan 'bertanggung jawab' yang memilih untuk menjual tenaga kerjanya kepada 'kontraktor bebas'. Ideologi menyediakan "medium permanen delusi" yang diperlukan untuk kohesi sosial, karena ilusi kebebasan dan keadilan membuat subjek secara sukarela menerima subjeksi mereka.

C. Tesis II: Ideologi Memiliki Eksistensi Material

Tesis kedua adalah jawaban radikal Althusser terhadap idealisme subjektif: "Ideologi memiliki eksistensi material".

Tesis ini menolak pandangan bahwa ideologi hanya terdiri dari 'gagasan' yang tidak material di kepala individu. Sebaliknya, eksistensi material ideologi terwujud dalam tindakan material subjek, yang dimasukkan ke dalam praktik material yang diatur oleh ritual material, yang semuanya didefinisikan oleh aparatus ideologis material (ISA).

Dengan kata lain, keyakinan bukanlah hasil dari proses mental murni, tetapi hasil dari kepatuhan praktis yang dilakukan dalam sebuah institusi. Eksistensi ideologi terikat pada ritual seperti menghadiri misa, berlutut, mengucapkan doa, atau di lingkungan sekolah, ritual seperti duduk di bangku, menghadap guru, dan mencatat.

Althusser mengutip formula Pascal—"Berlututlah, gerakkan bibirmu dalam doa, dan kamu akan percaya"—sebagai demonstrasi bahwa ide (keyakinan) muncul dari ritual dan praktik fisik, sebuah inversi radikal dari cara kita memahami hubungan antara kesadaran dan tindakan. Ideologi berhasil tidak melalui ortodoksi intelektual, tetapi melalui kepatuhan praktis. Melalui praktik material ini, ISA memastikan bahwa subjek tidak perlu 'percaya' secara mendalam, tetapi hanya bertindak sesuai peran yang ditetapkan, yang pada gilirannya menghasilkan keyakinan yang diperlukan.

Dua tesis ini saling terkait: Tesis I menjelaskan mengapa subjek merasa bebas (hubungan imajiner), sementara Tesis II menjelaskan bagaimana subjek dikendalikan (melalui praktik material dalam ISA).

Tabel 2: Dua Tesis Louis Althusser tentang Ideologi

abel Dua Tesis Louis Althusser tentang Ideologi

IV. Interpelasi: Mekanisme Pembentukan Subjek

Interpelasi (penyapaan atau hailing) adalah proses spesifik di mana ideologi secara aktif membentuk individu menjadi subjek yang berfungsi di dalam struktur sosial. Interpelasi adalah mekanisme yang menghubungkan Tesis I dan Tesis II.

A. Mekanisme Penyapaan (Hailing) dan Subjeksi

Althusser menggunakan istilah "interpelasi" untuk menggambarkan operasi yang sangat spesifik di mana ideologi "menyapa atau menginterpelasi individu konkret sebagai subjek konkret". Proses ini "merekrut" semua individu dan "mengubah" mereka menjadi subjek melalui fungsi kategori subjek.

Ilustrasi paling terkenal adalah contoh penyapaan polisi di jalan:
Polisi berteriak: "Hei, kamu di sana!".
Tindakan individu yang berbalik dan merespons adalah tindakan pengakuan. Dengan merespons, individu tersebut secara inheren menerima peran dan identitas yang ditawarkan oleh sapaan ideologi—mereka mengakui diri mereka sebagai subjek (agen yang sadar, bertanggung jawab, dan memiliki identitas sosial) yang diakui oleh pihak berwenang.

Interpelasi menciptakan ilusi agensi. Individu percaya bahwa mereka merespons secara bebas dan sadar. Namun, interpelasi memiliki dua fungsi: pengakuan (recognition) dan kebalikannya, mis-pengakuan (misrecognition). Individu mengakui dirinya dalam panggilan ideologi (sebagai pelajar, pekerja, atau warga negara yang bertanggung jawab), tetapi mereka salah mengenali bahwa identitas dan "kebebasan" mereka adalah produk dari ideologi itu sendiri.

Meskipun individu merasa dapat menolak sapaan tertentu (misalnya, seorang pengemudi taksi dapat menolak seseorang yang ingin menumpang), mereka tidak menolak kategori ideologis yang mendasarinya (kategori 'pengemudi' atau 'penumpang'). Kepatuhan yang dihasilkan ISA adalah "sukarela," bekerja paling efektif ketika individu percaya bahwa nilai-nilai ini adalah milik mereka sendiri, mencerminkan cara hidup yang paling logis dan alami.

B. Konsep Always-Already Subject dan Determinisme Struktural

Althusser berpendapat bahwa individu secara struktural "selalu-sudah terinterpelasi" (always-already interpellated) sebagai subjek. Proses ini dimulai sejak lahir, bahkan sejak sebelum kelahiran, ketika ISA Keluarga memberikan nama dan menetapkan peran sosial berdasarkan ekspektasi ideologis.

Kategori subjek—yaitu, bentuk keberadaan historis setiap individu—sebenarnya sudah ada secara ideologis pra-sebelum individu konkret dilahirkan ke dalam masyarakat. Artinya, peran sosial sudah menunggu individu sejak awal, dan tugas ISA adalah mengisi peran tersebut dengan individu yang sesuai.

Dalam pandangan struktural ini, individu tidak sepenuhnya bebas bertindak sesuka mereka. Sebaliknya, tindakan material mereka sebagian besar "diperankan oleh sistem" dan "diresepkan sebelumnya oleh ISA". Ideologi tidak hanya membentuk gagasan, tetapi memastikan bahwa subjek bertindak sesuai peran yang dibuat oleh aparatus-aparatus yang kuat ini, bertindak layaknya "boneka" yang dikendalikan oleh sistem struktural.

V. Implikasi Teoretis dan Tinjauan Kritis

Esai "Ideology and Ideological State Apparatuses" telah menjadi salah satu dokumen paling berpengaruh dalam teori kritis kontemporer, mengubah cara pandang terhadap kekuasaan dan ideologi di berbagai disiplin ilmu.

A. Warisan dan Penerapan Lintas Disiplin

Dampak terbesar esai ini adalah menggeser analisis ideologi dari studi tentang "kesadaran palsu" menjadi studi tentang praktik material dan institusi.
1. Pengaruh dalam Studi Budaya dan Sastra: Teori ISA dan interpelasi menjadi dasar penting bagi Teori Historis Baru Amerika (melalui tokoh seperti Fredric Jameson) dan Kritik Materialis Kultural di Inggris. Konsep ini mendorong praktik kritis untuk mencari ideologi yang diperlukan namun tidak disadari (unconscious ideology) yang tertanam dalam karya sastra dan budaya.
2. Teori Reproduksi Sosial dan Gender: Teori Althusser sangat berharga untuk memahami bagaimana kelompok tertindas diberikan identitas sosial mereka. Pemikir feminis, seperti Lise Vogel dan Martha E. Gimenez, menggunakan inovasi Althusser untuk meninjau kembali kerja berbasis gender dalam ekonomi kapitalis, mengintegrasikan peran keluarga dan ISA lainnya dalam reproduksi sosial.
3. Filosofi dan Politik: Althusser mendorong pemikiran filosofis untuk mengakui bahwa semua konsep teoretis selalu ditandai oleh ideologi, menantang klaim kemurnian ilmiah mutlak. Fokusnya pada ISA juga berimplikasi politik: jika ISA borjuis menghasilkan subjek yang patuh pada kapitalisme, maka perjuangan revolusioner harus mencakup penggantian ISA borjuis dengan yang produktif bagi subjek komunis.

B. Kritik Utama terhadap Althusserianisme

Meskipun berpengaruh, esai Althusser menghadapi kritik substantif, terutama mengenai determinisme dan kurangnya agensi.
1. Determinisme Struktural dan Anti-Agensi: Kritik utama menyoroti kerangka Althusser yang sangat deterministik. Jika individu hanya berperan sebagai "boneka" yang tindakan materialnya ditentukan oleh ISA, maka potensi agensi dan resistensi revolusioner menjadi tidak jelas. Selain itu, Althusser berargumen bahwa setiap perjuangan yang terjadi di dalam ISA masih akan mengambil bentuk ideologis, sehingga potensi ISA sebagai situs perjuangan kelas yang efektif menjadi diragukan.
2. Pergeseran ke Kohesi Sosial: Kritikus seperti Alex Callinicos berpendapat bahwa desakan Althusser pada keniscayaan ideologi untuk semua masyarakat (Ideologi memiliki eksistensi abadi) mengubah Marxisme dari teori perjuangan kelas menjadi teori umum tentang kohesi sosial—mirip dengan sosiologi fungsionalis Émile Durkheim. Kebutuhan struktural akan ideologi yang abadi secara struktural memprioritaskan stabilitas sistem daripada kontradiksi internal yang menyebabkan keruntuhan.
3. Kekurangan Bukti Kausal Empiris: Beberapa akademisi mencatat bahwa esai ini sering berupa "pernyataan orakular" yang "berisi sedikit contoh yang dijelaskan secara samar," sehingga sulit untuk dikenali sebagai argumen kausal yang terstruktur dan dapat diuji secara empiris.

VI. Kesimpulan: Warisan Kontrol Struktural

Kontribusi utama Louis Althusser dalam "Ideology and Ideological State Apparatuses" terletak pada revisi radikalnya terhadap teori negara Marxis dan ideologi. Ia berhasil mendemonstrasikan bahwa kekuasaan kelas tidak hanya dipertahankan oleh kekerasan (melalui RSA), tetapi secara efektif dan lebih stabil dipertahankan melalui penyebaran ideologi di dalam berbagai Aparatus Negara Ideologis (ISA) yang tersebar luas, di mana institusi pendidikan memainkan peran kunci.

ISA menjamin reproduksi hubungan produksi dengan melaksanakan dua tesis ideologi: pertama, menciptakan hubungan imajiner (Tesis I) yang membuat subjek salah mengenali eksploitasi sebagai kebebasan yang dipilih secara sukarela; dan kedua, memastikan ideologi memiliki eksistensi material (Tesis II) melalui praktik dan ritual sehari-hari. Mekanisme sentral, interpelasi, secara terus-menerus mengubah individu menjadi subjek yang patuh, yang secara "sukarela" menginternalisasi identitas dan peran yang telah ditentukan.

Warisan Althusser adalah pengakuan bahwa kekuasaan kapitalis beroperasi paling efektif bukan dengan menahan subjek, tetapi dengan memproduksinya. Dengan berfokus pada fungsi struktural reproduksi, Althusser menawarkan kerangka kerja yang kuat untuk menganalisis bagaimana persetujuan dan kepatuhan dalam masyarakat modern diproduksi dan dipertahankan secara mendalam.

Referensi:

Althusser, L. (2001). Ideology and ideological state apparatuses (Notes towards an investigation). In Lenin and philosophy and other essays (pp. 85–126). New York, NY: Monthly Review Press. (Original work published 1970)

Althusser and the renewal of Marxist social theory. (n.d.). University of California Press E-Books Collection. Retrieved November 9, 2025, from https://publishing.cdlib.org/ucpressebooks/view?docId=ft3n39n8x3&chunk.id=d0e3184&toc.id=d0e2177&brand=ucpress

Althusser and ideological criticism of the arts. (n.d.). Swarthmore College Works. Retrieved November 9, 2025, from https://works.swarthmore.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1254&context=fac-philosophy

Althusser, L. (n.d.). Ideology and ideological state apparatuses by Louis Althusser 1969... Retrieved November 9, 2025, from https://www.marxists.org/reference/archive/althusser/1970/ideology.htm

Althusser-Ideology.pdf. (n.d.). Boston Graduate School of Psychoanalysis. Retrieved November 9, 2025, from https://bgsp.edu/app/uploads/2014/12/Althusser-Ideology.pdf

Althusser’s theory of ideology. (n.d.). International Socialist Review. Retrieved November 9, 2025, from https://isreview.org/issue/99/althussers-theory-ideology/index.html

Ideology and ideological state apparatuses. (n.d.). Wikipedia. Retrieved November 9, 2025, from https://en.wikipedia.org/wiki/Ideology_and_Ideological_State_Apparatuses

Ideology and ideological state apparatuses. (n.d.). Wikipedia excerpt. Retrieved November 9, 2025, from https://en.wikipedia.org/wiki/Ideology_and_Ideological_State_Apparatuses#:~:text=In%20practice%2C%20the%20RSA%20is,of%20political%20violence%20and%20repression

Ideology and ideological state apparatuses (ISA). (n.d.). Wikipedia excerpt. Retrieved November 9, 2025, from https://en.wikipedia.org/wiki/Ideology_and_Ideological_State_Apparatuses#:~:text=Ideological%20state%20apparatuses%20(ISA)%2C,sports%20clubs%20and%20the%20family

Ideology and ideological state apparatuses by Louis Althusser full text summary. (n.d.). A Little Sense. Retrieved November 9, 2025, from https://www.alittlesense.org/ideological-state-apparatuses-louis-althusser-summary

Introduction to Louis Althusser, Module on ISAs. (n.d.). Purdue University. Retrieved November 9, 2025, from https://www.cla.purdue.edu/english/Theory/marxism/modules/althusserISAs.html

Loneliness and language in Althusserian thought. (n.d.). University of Reading. Retrieved November 9, 2025, from https://www.reading.ac.uk/elal/-/media/project/uor-main/schools-departments/elal/lswp/lswp-8/elal_vol_8_soubieski.pdf?la=en&hash=2C94EFC2BD96E1071F49A15D735D1739

Louis Althusser. (n.d.). Stanford Encyclopedia of Philosophy. Retrieved November 9, 2025, from https://plato.stanford.edu/entries/althusser/

Louis Althusser. (n.d.). Wikiquote. Retrieved November 9, 2025, from https://en.wikiquote.org/wiki/Louis_Althusser

Notes on Althusser: Ideology and interpellation. (2017, January 27). Texts and Technology, University of Central Florida. Retrieved November 9, 2025, from https://cah.ucf.edu/textstech/2017/01/27/notes-on-althusser-ideology-and-interpellation/

Notes on interpellation. (n.d.). Longwood University. Retrieved November 9, 2025, from https://www.longwood.edu/staff/mcgeecw/notesoninterpellation.htm

Structural Marxism. (n.d.). Wikipedia. Retrieved November 9, 2025, from https://en.wikipedia.org/wiki/Structural_Marxism

Untitled page on ideology “in general.” (n.d.). Arasite.org. Retrieved November 9, 2025, from https://www.arasite.org/nalt2.htm#:~:text=Ideology%20%22in%20general%22%20%22has,non%2Dhistorical%20%22reality%22

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment