Analisis Komprehensif Buku Folk Devils and Moral Panics (1972) Karya Stanley Cohen: Teori, Konsep, dan Relevansi Kontemporer

Table of Contents

Laporan ini menyajikan uraian mendalam, rinci, dan kontekstual mengenai isi buku seminal sosiolog dan kriminolog Stanley Cohen, Folk Devils and Moral Panics: The Creation of the Mods and Rockers (1972). Karya ini, yang berawal dari penelitian Ph.D. Cohen di London School of Economics antara tahun 1967 dan 1969, merupakan fondasi penting bagi studi deviasi, kriminologi kritis, dan analisis media, menjelaskan bagaimana masyarakat bereaksi berlebihan terhadap ancaman yang dipersepsikan melalui mekanisme konstruksi sosial.

Inti dari buku ini adalah tesis bahwa reaksi sosial (audiens) terhadap deviasi jauh lebih signifikan daripada tindakan devian itu sendiri (aktor), suatu pergeseran fokus yang radikal dari kriminologi tradisional. Cohen secara brilian menunjukkan bahwa panik moral bukanlah reaksi irasional yang acak, melainkan proses sosial yang terstruktur yang berfungsi untuk mempertahankan tatanan moral dan menyingkap garis kesalahan kekuasaan dalam masyarakat.

I. Landasan Teori dan Konteks Sosiologis

1.1 Stanley Cohen dan Revolusi Criminologi Kritis: Pengaruh Mazhab Labeling

Folk Devils and Moral Panics dianggap sebagai karya klasik kriminologi kritis yang membangun fondasi Teori Labeling (Labeling Theory). Cohen ingin mempelajari reaksi sosial—bagaimana masyarakat memberikan label—daripada hanya mengamati perilaku aktor yang menyimpang. Pergeseran metodologis ini sangat penting: jika bentrokan yang ia amati pada tahun 1964 tidak secara fundamental berbeda dari perkelahian pemuda yang terjadi di masa lalu, maka intensitas reaksi pada tahun 1964 menunjukkan bahwa masalah utama terletak pada sistem kontrol sosial dan proses pelabelan, bukan pada subkultur itu sendiri.

Melalui lensa ini, Cohen berpendapat bahwa deviasi bukanlah kondisi yang hanya ditemukan tetapi secara aktif diproduksi oleh interaksi antara media, politik, dan institusi kontrol. Dengan memusatkan analisisnya pada bagaimana kekuasaan mendefinisikan apa yang dianggap "menyimpang," buku ini berfungsi sebagai kritik yang kuat terhadap struktur kekuasaan sosial yang menentukan tatanan moral.

1.2 Definisi Operasional: Apa Itu Kepanikan Moral dan Iblis Rakyat?

Cohen memperkenalkan dua konsep sentral yang telah menjadi kosakata standar dalam sosiologi: Kepanikan Moral (Moral Panic) dan Iblis Rakyat (Folk Devils).
Kepanikan Moral didefinisikan sebagai "suatu kondisi, episode, orang atau kelompok orang muncul dan menjadi didefinisikan sebagai ancaman terhadap nilai-nilai dan kepentingan masyarakat". Meskipun ketakutan publik mungkin berakar pada insiden nyata, karakteristik utama panik adalah bahwa ketakutan tersebut dilebih-lebihkan dan disensasionalisasikan jauh melampaui keseriusan atau cakupan ancaman yang sebenarnya. Kepanikan moral mengikuti pola yang dapat dikenali, melibatkan identifikasi Iblis Rakyat, amplifikasi oleh media, peningkatan kecemasan publik, dan respons kebijakan.

Iblis Rakyat adalah individu atau kelompok yang disalahkan atas ancaman tersebut. Mereka dilabeli sebagai "simbol yang terlihat dari penyimpangan dan kemerosotan moral" dan menjadi target tempat masyarakat memproyeksikan kecemasan kolektifnya. Iblis Rakyat sering kali dipilih dari populasi yang rentan atau terpinggirkan, seperti remaja, imigran, minoritas rasial/etnis, atau individu dengan gangguan penggunaan zat. Penekanan Cohen pada frasa "menjadi didefinisikan sebagai" (become defined as) sangat krusial, menunjukkan bahwa Kepanikan Moral adalah alat konstruksi realitas sosial yang sering digunakan untuk memperkuat atau mengintensifkan ketidaksetaraan yang sudah ada.

1.3 Akar Fungsionalis dan Konflik: Fungsi Kepanikan

Cohen menyajikan Kepanikan Moral sebagai proses sosial yang terstruktur yang mengungkapkan metode masyarakat dalam mempertahankan tatanan. Panik ini menjalankan dua fungsi sosiologis yang saling bertentangan: fungsionalis dan kritis/konflik.

Dimensi Durkheimian dan Fungsional

Dalam tradisi Emile Durkheim, panik moral berfungsi sebagai mekanisme penentuan batas (boundary-defining nature). Dengan memfokuskan perhatian pada musuh bersama (Iblis Rakyat), panik secara paradoks dapat memperkuat persatuan sosial (solidaritas) di antara mayoritas yang bersatu untuk mempertahankan nilai-nilai inti. Panik berfungsi untuk menyalurkan ketakutan yang difus dan menciptakan rasa ketertiban kolektif.

Dimensi Kritis dan Konflik (Diversi Ideologis)

Dari perspektif kriminologi kritis, panik juga memiliki fungsi ideologis yang lebih gelap. Mereka mengalihkan perhatian publik dari akar struktural masalah sosial yang kompleks, seperti kemiskinan, ketidaksetaraan, atau pergeseran kekuasaan yang mengganggu. Alih-alih melakukan debat rasional tentang penyebab struktural, fokus dialihkan ke "pelaku individu" (Mods/Rockers). Selain itu, Cohen mencatat aspek proyektif panik: masyarakat memproyeksikan konflik sosial dan psikis internal yang mendasarinya—seringkali berhubungan dengan transisi moral atau ekonomi—ke dalam bentuk Iblis Rakyat yang disimbolkan.

1.4 Latar Belakang Sosial Inggris 1960-an

Studi kasus Mods dan Rockers berakar kuat dalam konteks kekhawatiran yang lebih besar di Inggris pasca-perang. Lonjakan kemakmuran dan otonomi ekonomi di kalangan pemuda kelas pekerja memunculkan kekhawatiran di antara generasi yang lebih tua mengenai runtuhnya tatanan sosial dan moral tradisional.

Bentrokan di kota-kota tepi laut tahun 1964, khususnya di Clacton, Brighton, dan Margate, menjadi pemicu empiris yang sempurna. Subkultur ini menyediakan wadah yang dapat digunakan oleh tokoh otoritas dan media untuk menyuarakan kekhawatiran yang lebih luas tentang "keadaan bangsa" dan bahaya yang ditimbulkan oleh pemuda kontemporer. Kekhawatiran moral ini, yang berhubungan dengan transisi sosial/ekonomi, adalah sumber yang lebih dalam yang memicu ekspresi permukaan Kepanikan Moral itu sendiri.

II. Anatomi Kepanikan Moral: Mekanisme dan Komponen Struktural

2.1 Agen-Agen Konstruksi Sosial

Cohen mengidentifikasi empat kelompok agen utama yang berinteraksi untuk membangun Kepanikan Moral, mengartikulasikan proses yang menormalkan dan melegitimasi ketakutan yang berlebihan.
1. Media Massa: Berfungsi sebagai sarana utama untuk eksagerasi dan dramatisasi. Media menciptakan stereotip yang disederhanakan dan dilebih-lebihkan, memicu permusuhan publik dan tuntutan kontrol.
2. Pengusaha Moral (Moral Entrepreneurs): Individu dan kelompok—seperti editor, politisi, uskup, dan hakim—yang secara aktif menargetkan perilaku yang dianggap menyimpang. Mereka memposisikan diri sebagai "pembela moralitas" dan menuntut tindakan segera. Keterlibatan mereka memberikan validitas resmi pada narasi media yang sensasional. Misalnya, hakim yang menuntut hukuman berat memberikan bobot institusional, yang memaksa publik untuk menerima bahwa ancaman tersebut nyata dan serius.
3. Budaya Kontrol Sosial (Societal Control Culture): Lembaga-lembaga resmi yang memegang kekuasaan (polisi, pengadilan, pemerintah). Begitu ancaman didefinisikan, kekhawatiran diteruskan ke tingkat nasional, di mana langkah-langkah kontrol baru dilembagakan.
4. Publik (The Public): Masyarakat umum yang menanggapi pesan media dan otoritas. Meskipun publik awalnya mungkin skeptis terhadap laporan media yang terlalu dilebih-lebihkan, konsensus tentang ancaman akhirnya tercapai melalui pengulangan pesan dan validasi oleh figur otoritas.

Kehadiran media yang sensasional dan keberadaan kelompok luar yang marjinal yang cocok sebagai Iblis Rakyat adalah kondisi yang diperlukan untuk terjadinya panik. Analisis menunjukkan bahwa panik moral dapat muncul secara spontan dari kecemasan lokal atau dapat "direkayasa secara sengaja untuk keuntungan komersial atau politik".

2.2 Tahapan dan Kriteria Kepanikan Moral

Cohen memberikan kerangka kerja terstruktur di mana peristiwa kecil dapat berkembang menjadi krisis nasional melalui efek gabungan dari eksagerasi media, ketakutan publik, dan langkah-langkah kontrol resmi.

Tahapan Klasik Cohen

Tahapan Kepanikan Moral, sebagaimana diidentifikasi Cohen, meliputi:
1. Identifikasi Ancaman: Munculnya kondisi atau kelompok yang mengancam norma atau nilai sosial.
2. Eksagerasi Media: Media membesar-besarkan perilaku atau kelompok yang bertanggung jawab.
3. Kekhawatiran Publik: Kecemasan dan kemarahan moral di kalangan masyarakat.
4. Respons Otoritas: Polisi atau legislator merespons untuk "memulihkan ketertiban".
5. Penurunan Kekhawatiran: Perhatian sosial bergeser ke tempat lain.

Kriteria Kualitatif

Untuk mengidentifikasi secara sistematis apakah suatu peristiwa merupakan Kepanikan Moral, Goode dan Ben-Yehuda (1994, 2009) mengembangkan lima kriteria kualitatif yang didasarkan pada kerangka kerja Cohen:
1. Concern (Kekhawatiran): Keyakinan yang meluas bahwa perilaku atau kelompok tersebut berbahaya.
2. Hostility (Permusuhan): Peningkatan kemarahan, kebencian, dan moral outrage yang diarahkan pada Iblis Rakyat, seringkali difasilitasi oleh pelabelan menyimpang dan penggambaran media yang stereotip.
3. Consensus (Konsensus): Kesepakatan yang memadai dan luas bahwa ancaman itu nyata, serius, dan menuntut respons yang kuat.
4. Disproportionality (Ketidakproporsionalan): Reaksi dan kontrol sosial yang dilembagakan secara signifikan berlebihan dibandingkan dengan ancaman atau kerusakan aktual yang ditimbulkan. Kriteria ini adalah inti empiris yang membedakan Kepanikan Moral dari tanggapan yang wajar terhadap bahaya nyata.
5. Volatility (Volatilitas): Kepanikan moral cenderung muncul dengan cepat dan mereda seiring bergesernya perhatian publik.

lima kriteria kualitatif yang didasarkan pada kerangka kerja Cohen

III. Studi Kasus Utama: Penciptaan Mods dan Rockers

3.1 Profil Faktual Subkultur: Gaya Hidup dan Representasi

Mods dan Rockers adalah dua subkultur pemuda Inggris yang berbeda pada akhir 1950-an hingga pertengahan 1960-an. Perbedaan gaya dan filosofis mereka memicu rivalitas yang dieksploitasi oleh media.

  • Rockers: Subkultur ini berpusat pada sepeda motor, mengenakan jaket kulit hitam dan mendengarkan rock and roll awal (seperti Eddie Cochran dan Gene Vincent). Mereka mewakili citra pemberontak ala The Wild One tahun 1953.
  • Mods: Subkultur ini berfokus pada mode, mengenakan jas dan jaket parka, mengendarai skuter, dan mendengarkan musik modern seperti modern jazz, Motown, dan Ska. Mods mewakili aspirasi kelas pekerja yang semakin makmur dan urban.

Rivalitas ini, yang awalnya merupakan perebutan status dan gaya hidup, disederhanakan oleh media menjadi stereotip "affluent yob" (pemuda kaya yang kasar). Media mengaitkan kekerasan yang dipersepsikan dengan kemampuan finansial pemuda, memproyeksikan kecurigaan kelas menengah terhadap kelas pekerja muda yang baru kaya yang dianggap memiliki kecenderungan bawaan terhadap kekerasan yang tidak masuk akal (senseless violence).

3.2 Insiden Clacton dan Brighton 1964: Distorsi dan Realitas

Fokus empiris Cohen adalah bentrokan di kota-kota tepi laut tahun 1964. Bentrokan yang terjadi selama akhir pekan Paskah dan Whitsun sering dilabeli sebagai "kerusuhan" atau "pertempuran".

Namun, Cohen menemukan bahwa secara faktual, perkelahian ini tidak lebih parah atau berbeda dari perkelahian yang biasa terjadi di kalangan pemuda di tahun-tahun sebelumnya. Laporan dari otoritas lokal menguatkan hal ini; seorang Superintendent Polisi di Clacton melaporkan bahwa kota itu tenang dan banyak laporan media telah "dibesar-besarkan" (blown up) dan dibesar-besarkan. Meskipun demikian, respons kontrol sosial tetap tidak proporsional. Misalnya, langkah-langkah "remedial" yang diambil di Clacton termasuk melarang bingo di balai kota, sebuah tindakan yang menunjukkan bahwa otoritas bereaksi terhadap narasi panik yang dibangun secara sosial, bukan terhadap ancaman keamanan yang nyata.

3.3 Teknik Eksagerasi Media: Headline Sensasional

Media massa adalah katalis utama dalam pembentukan Kepanikan Moral ini. Mereka menggunakan serangkaian teknik untuk mendramatisasi peristiwa dan menciptakan konsensus publik yang bermusuhan:

  • Simbolisasi dan Karikatur: Media menciptakan citra yang jelas dan kaku, memperkuat stereotip tentang "affluent yob".
  • Distorsi dan Eksploitasi: Media tidak hanya melebih-lebihkan insiden yang ada, tetapi juga menggunakan atribusi palsu (spurious attribution). Contoh terkenal adalah memuat berita tentang kecelakaan yang tidak terkait, seperti tenggelamnya seorang pemuda, dengan judul yang sensasional seperti "Mod Dead in Sea". Ketika berita perkelahian yang nyata habis, mereka bahkan menggunakan subjudul "Kekerasan" meskipun artikel tersebut melaporkan tidak ada kekerasan yang terjadi.
  • Korelasi Palsu: Media mengaitkan Mods dan Rockers dengan isu-isu sosial yang lebih luas, seperti kehamilan remaja, penggunaan amfetamin, dan kerusakan moral, meskipun bukti keterkaitan sangat terbatas. Proses ini berhasil mengubah subkultur menjadi "iblis" universal, wadah proyektor di mana semua masalah dan kecemasan sosial di Inggris dapat dicurahkan.

serangkaian teknik untuk mendramatisasi peristiwa dan menciptakan konsensus publik yang bermusuhan

IV. Konsekuensi Kontrol Sosial: Spiral Amplifikasi Deviasi

4.1 Deviancy Amplification Spiral (DAS): Mekanisme Balik Kontrol

Konsep Deviancy Amplification Spiral (DAS), yang diperluas oleh Cohen, menjelaskan kontradiksi sentral Kepanikan Moral: upaya untuk menekan deviasi justru memperkuatnya. DAS adalah siklus yang terjadi ketika masyarakat, melalui pelabelan dan penghinaan, memarjinalkan kelompok, menyebabkan mereka terlibat dalam deviasi lebih lanjut, yang pada gilirannya mengintensifkan ketidaksetujuan sosial, sehingga melanggengkan siklus tersebut.

Dalam kasus Mods dan Rockers, liputan media yang dilebih-lebihkan meningkatkan ketakutan dan memicu kontrol polisi yang berlebihan. Kontrol yang lebih keras ini tidak menghilangkan deviasi; sebaliknya, kelompok Mods dan Rockers menafsirkan label negatif ini sebagai legitimasi atau bahkan meningkatkan daya tarik keanggotaan dan oposisi subkultural. Hal ini menyebabkan bentrokan berulang, membuktikan bahwa upaya kontrol itu sendiri secara paradoks "membuat" deviasi yang seharusnya mereka hapus.

4.2 Efek Looping dan Internalisasi Identitas

Proses pelabelan ini tidak hanya memengaruhi interaksi kelompok tersebut dengan otoritas tetapi juga memengaruhi identitas internal mereka, sebuah fenomena yang digambarkan sebagai looping effect.

Reaksi sosial berinteraksi dengan perilaku yang ditanggapi, menyebabkan transformasi perilaku tersebut. Cohen menunjukkan bahwa proses pelabelan memiliki efek pada mereka yang dilabeli. Begitu masyarakat mulai memperlakukan seseorang sebagai "kriminal" atau "iblis rakyat," individu tersebut dipaksa untuk menegosiasikan identitas pribadinya dengan peran stereotip yang dipaksakan oleh masyarakat. Akibatnya, Mods dan Rockers mulai "menghidupi" reputasi publik mereka yang baru, tampil sesuai dengan peran yang diberikan media. Internalisaasi peran yang dipaksakan ini dapat mengarah pada perubahan permanen pada konsep diri, di mana individu secara bertahap menerima peran dan identitas penyimpang.

V. Warisan dan Relevansi Kontemporer Teori Kepanikan Moral

5.1 Studi Kasus Lanjutan dan Relevansi Faktual

Folk Devils and Moral Panics telah memastikan konsep Kepanikan Moral menjadi alat analitis yang luas, menunjukkan bahwa panik baru muncul secara teratur di setiap generasi. Iblis Rakyat kontemporer telah mencakup teroris, imigran yang mencari suaka, pengguna narkoba, dan bahkan fenomena budaya tertentu.

Contoh Kasus "Video Nasties" (Inggris, 1980-an)

Kasus "Video Nasties" di Inggris memberikan contoh panik moral pasca-Cohen yang klasik. Media, dengan laporan yang sensasional dan menghasut, mengobarkan ketakutan akan konten video tertentu. Kepanikan ini secara langsung menghasilkan Video Recordings Act, salah satu sistem sensor film dan video terketat di Eropa. Panik ini menunjukkan bahwa isu yang dipermasalahkan (kekerasan dalam film) seringkali adalah isu proksi—pengganti yang aman untuk masalah sosial yang lebih besar. Media bahkan berusaha meningkatkan kemarahan dengan mengaitkan nasties dengan tokoh Iblis Rakyat lain, seperti serikat pekerja.

Relevansi Kontemporer

Relevansi panik moral tetap kuat di tengah polarisasi modern. Misalnya, di AS pada tahun 2021, muncul ketakutan luas bahwa Critical Race Theory (CRT) diajarkan di sekolah dasar, meskipun sedikit bukti empiris yang mendukung klaim tersebut di bawah tingkat pascasarjana. Ketakutan yang dibesar-besarkan ini direspons dengan upaya legislatif di beberapa negara bagian untuk melarang pengajaran konsep-konsep terkait. Hal ini menegaskan kembali bagaimana Kepanikan Moral sering digunakan sebagai strategi politik untuk membentuk kebijakan dan mengintensifkan kontrol, terutama yang menargetkan kelompok yang sudah rentan atau dimarjinalkan.

5.2 Kritik dan Perkembangan Teori Pasca-Cohen

Meskipun seminal, teori Cohen telah disempurnakan dan diperluas untuk menghadapi kompleksitas masyarakat modern.

Kritik terhadap Konsensus

Cohen berpendapat bahwa masyarakat Inggris merespons konflik Mods dan Rockers "dengan satu suara". Namun, panik moral kontemporer, terutama di tengah meningkatnya polarisasi media dan politik, jarang menunjukkan konsensus yang monolitik. Reaksi terhadap isu-isu seperti kekerasan senjata atau protes sosial sering kali terbagi secara ideologis. Hal ini menunjukkan bahwa konsensus sebagai kriteria moral panic mungkin tidak selalu tercapai di seluruh segmen masyarakat modern.

Teori Kepanikan Ganda (Dual Panic Theory)

Sebagai respons terhadap polarisasi ini, teori baru seperti Teori Kepanikan Ganda telah diusulkan untuk menjelaskan situasi di mana kepanikan moral dapat terjadi secara simultan di kubu yang berlawanan. Teori ini menantang asumsi Cohen bahwa panik selalu berorientasi pada penciptaan persatuan. Sebaliknya, panik dapat terjadi di kubu ideologis yang berbeda—misalnya, satu kelompok takut pada protes (sebagai ancaman anarkis), sementara kelompok lain takut pada represi negara (sebagai ancaman keadilan sosial). Perkembangan ini menunjukkan perlunya kerangka kerja yang lebih kompleks untuk menganalisis reaksi sosial di lingkungan yang terfragmentasi.

VI. Kesimpulan, Implikasi, dan Rekomendasi

6.1 Kontribusi Abadi Stanley Cohen

Folk Devils and Moral Panics berhasil menggeser fokus studi deviasi dari pertanyaan "mengapa mereka melakukan itu?" menjadi "mengapa kita bereaksi seperti ini?". Cohen menunjukkan bahwa kepanikan moral adalah proses yang terstruktur, bukan kegagalan sosiologis, yang berfungsi untuk menegaskan kembali tatanan moral masyarakat pada saat transisi atau kecemasan yang mendalam. Dengan menganalisis krisis Mods dan Rockers, Cohen menawarkan kerangka kerja yang abadi yang mengungkap bahwa deviasi secara aktif diproduksi melalui interaksi media dan kontrol sosial, dan bahwa panik moral pada dasarnya mengungkap garis kesalahan kekuasaan yang mendalam di masyarakat.

6.2 Implikasi Kritis dan Rekomendasi

Analisis kritis yang ditawarkan oleh Cohen memberikan implikasi penting bagi masyarakat dan pembuat kebijakan:
1. Mengidentifikasi Isu Proksi: Kepanikan moral sering berfungsi sebagai ekspresi permukaan dari gangguan yang lebih dalam dalam tatanan ekonomi, sosial, atau moral. Oleh karena itu, analis harus melihat Iblis Rakyat bukan sebagai akar masalah, melainkan sebagai simptom yang mengalihkan perhatian dari akar struktural konflik—seperti ketidaksetaraan dan pergeseran status.
2. Penerapan Filter Disproporsionalitas: Kriteria Ketidakproporsionalan (Disproportionality) harus digunakan sebagai filter kritis untuk membedakan antara ancaman yang nyata dan ketakutan yang direkayasa. Jika respons dan kontrol sosial jauh melampaui bahaya faktual (misalnya, reaksi keras terhadap perkelahian kecil), Kepanikan Moral sedang beroperasi.
3. Memutus Siklus Amplifikasi: Ketika kontrol sosial diterapkan secara tidak proporsional dan didorong oleh media yang sensasional, hasilnya adalah Spiral Amplifikasi Deviasi—kontrol secara ironis akan mengintensifkan dan melanggengkan deviasi yang coba mereka hapus. Untuk mencegah marginalisasi lebih lanjut terhadap kelompok yang rentan, para pengusaha moral dan otoritas harus menahan diri dari tanggapan yang didorong oleh moral outrage dan memprioritaskan debat rasional daripada respons yang didorong oleh ketakutan.

Referensi:

blog.britishnewspaperarchive.co.uk. (n.d.). Mods and Rockers clash. The British Newspaper Archive Blog. https://blog.britishnewspaperarchive.co.uk

ccjls.scholasticahq.com. (n.d.). New insight into moral panics. Criminology, Criminal Justice, Law & Society. https://ccjls.scholasticahq.com

Cohen, S. (2011). Folk devils and moral panics: The creation of the Mods and Rockers (Routledge Classics ed.). Routledge.

ebsco.com. (n.d.). Labeling theory (Research Starters). EBSCO. https://www.ebsco.com

en.wikipedia.org. (n.d.). Deviancy amplification spiral. Wikipedia. https://en.wikipedia.org

en.wikipedia.org. (n.d.). Moral panic. Wikipedia. https://en.wikipedia.org

en.wikipedia.org. (n.d.). Mods and rockers. Wikipedia. https://en.wikipedia.org

files.libcom.org. (n.d.). Folk-Devils.pdf. Libcom.org. https://files.libcom.org

grokipedia.com. (n.d.). Deviancy amplification spiral. Grokipedia. https://grokipedia.com

infodocks.files.wordpress.com. (n.d.). Folk devils and moral panics: The creation of the Mods and Rockers. https://infodocks.files.wordpress.com

journals.openedition.org. (n.d.). “Are we insane?” The “Video Nasty” moral panic. OpenEdition Journals. https://journals.openedition.org

naswpress.org. (n.d.). What is moral panic? NASW Press. https://naswpress.org

open.edu. (n.d.). Discovering disorder: Young people and delinquency – 3.4 Media and moral panics. OpenLearn – Open University. https://www.open.edu

oxfordre.com. (n.d.). Moral panics and folk devils. Oxford Research Encyclopedia of Criminology. https://oxfordre.com

researchgate.net. (n.d.). “Are we insane?” The “Video Nasty” moral panic. ResearchGate. https://www.researchgate.net

se4n.org. (n.d.). On the concept of moral panic. https://se4n.org

simplypsychology.org. (n.d.). Moral panic. Simply Psychology. https://simplypsychology.org

soztheo.com. (n.d.). Stanley Cohen – Folk Devils and Moral Panics (1972). SozTheo. https://soztheo.com

thebritishacademy.ac.uk. (n.d.). Moral panics: Then and now. The British Academy. https://thebritishacademy.ac.uk

waldenu.edu. (n.d.). Understanding moral panic and its role in social work. Walden University. https://waldenu.edu

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment