Analisis ‘The Global City’ Saskia Sassen: Studi Kota Global New York, London, dan Tokyo

Table of Contents

Buku The Global City: New York, London, Tokyo karya Saskia Sassen
Tulisan ini menyajikan uraian mendalam, terperinci, dan komprehensif mengenai isi buku klasik Saskia Sassen, The Global City: New York, London, Tokyo, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1991. Analisis ini membedah pilar-pilar teoritis yang digunakan Sassen untuk mendefinisikan kota global, meninjau bukti empiris yang disajikan melalui studi kasus New York, London, dan Tokyo, serta mengevaluasi kritik akademik utama yang ditujukan pada kerangka kerjanya.

I. Pendahuluan: Reorientasi Teori Kota dalam Era Globalisasi

1.1. Latar Belakang Intelektual dan Pentingnya Karya Sassen

Publikasi The Global City muncul pada titik balik sejarah ekonomi global, di mana narasi dominan menekankan bahwa teknologi informasi (telematika) dan peningkatan mobilitas serta likuiditas modal akan menyebabkan "tempat tidak lagi penting" (place no longer matters). Sassen menolak determinisme teknologi ini. Sebaliknya, ia berargumen bahwa globalisasi ekonomi, yang ditandai oleh privatisasi, deregulasi, dan pembukaan ekonomi nasional terhadap perusahaan asing, justru menciptakan kebutuhan mendesak untuk sentralisasi fungsi manajemen dan kontrol di lokasi-lokasi fisik tertentu.

Signifikansi teoritis karya ini terletak pada posisinya yang menempatkan kota global bukan hanya sebagai korban atau hasil dari globalisasi, tetapi sebagai infrastruktur teritorial yang memungkinkan sistem ekonomi global beroperasi. Buku ini secara fundamental mengubah cara para akademisi berpikir tentang bagaimana kota membentuk dan dibentuk oleh globalisasi.

1.2. Tujuan Teoritis dan Metodologi Komparatif

Sassen memilih New York, London, dan Tokyo sebagai studi kasus kunci karena peran paralel dan strategis mereka sebagai pusat komando (command centers) bagi ekonomi global yang sedang terbentuk. Ketiga kota ini mengalami serangkaian perubahan masif dan paralel seiring proses integrasi ekonomi global.

Penting untuk dicatat bahwa Sassen secara eksplisit menggunakan istilah Kota Global (Global City) untuk membedakannya dari konsep historis Kota Dunia (World City). Perbedaan ini menekankan bahwa fungsi global kota-kota ini terkait erat dengan fase kontemporer globalisasi finansial dan berbasis layanan pasca-industrialisasi, bukan hanya sebagai pusat perdagangan yang sudah ada berabad-abad sebelumnya. Kerangka kerja Sassen memungkinkan analisis mendalam mengenai bagaimana dinamika global yang luas disaring dan diwujudkan melalui kekhususan tempat (spesifik lokal).

II. Kerangka Teoritis: Dinamika Sentralisasi dan Dispersal

2.1. Dinamika Spasial Globalisasi: Dualitas Dispersal dan Sentralisasi Fungsional

Teori Kota Global Sassen dibangun di atas pemahaman bahwa geografi globalisasi mengandung dua dinamika yang tampak kontradiktif namun saling melengkapi: dispersi dan sentralisasi.

Pertama, terjadi penyebaran geografis besar-besaran aktivitas ekonomi, terutama produksi dan perakitan, ke seluruh dunia (dispersal). Proses ini dimungkinkan oleh teknologi informasi dan logistik modern.

Kedua, integrasi aktivitas yang tersebar secara geografis tersebut memerlukan pertumbuhan dan pentingnya fungsi korporat pusat, seperti manajemen strategis, keuangan kompleks, dan koordinasi hukum lintas batas. Proses ini disebut sebagai sentralisasi fungsional.

Hubungan kausal di sini adalah bahwa ketika aktivitas produksi menyebar secara global, kompleksitas yang diperlukan untuk mengelola risiko, regulasi, dan operasi multinasional meningkat tajam. Fungsi kontrol ini menjadi sangat kompleks sehingga kantor pusat perusahaan global besar semakin sering mengalihdayakannya (outsourcing) atau membelinya dari firma layanan khusus tingkat lanjut (Advanced Producer Services – APS). Sentralisasi di kota global seperti New York, London, dan Tokyo, oleh karena itu, bukanlah sentralisasi produksi barang, melainkan sentralisasi produksi infrastruktur manajemen dan kontrol yang dibutuhkan oleh ekonomi global.

2.2. Kota Global sebagai Produsen Layanan, Bukan Hanya Lokasi Kantor Pusat

Sassen berpendapat bahwa kota global harus dipahami sebagai lebih dari sekadar lokasi markas besar perusahaan (HQ), yang merupakan fokus utama dalam teori kota dunia sebelumnya. Kota global adalah produsen layanan yang sangat terspesialisasi dan canggih yang memungkinkan perusahaan multinasional beroperasi melintasi batas-batas nasional.

Fokus analisis Sassen bergeser dari jumlah kantor pusat korporat (simbol kontrol) menuju kapasitas kota untuk menghasilkan layanan spesialisasi tinggi (keuangan, hukum, akuntansi, konsultasi) yang merupakan input yang diperlukan untuk operasi perusahaan multinasional.

III. Pilar Ekonomi: Konsentrasi Jasa Produsen Tingkat Lanjut (Advanced Producer Services - APS)

Pilar utama teori Kota Global adalah peran dominan Advanced Producer Services (APS) sebagai basis ekonomi baru yang menggantikan industri manufaktur.

3.1. Sifat dan Komposisi APS

APS mencakup sektor-sektor dengan spesialisasi tinggi yang bersifat input bagi operasi korporat dan pasar global, termasuk sektor keuangan, asuransi, real estat, layanan hukum korporat, akuntansi, dan konsultasi manajemen. Pertumbuhan sektor ini telah memicu de-industrialisasi di banyak kota utama, termasuk New York dan London, mengubah basis ekonomi mereka dari produksi barang menjadi produksi layanan.

3.2. Penjelasan Fenomena Outsourcing Fungsional Korporat

Firma-firma global, yang beroperasi dalam lingkungan pasar yang semakin kompleks dan teregulasi, membutuhkan spesialisasi yang mendalam di berbagai bidang, seperti hukum merger dan akuisisi internasional atau pengembangan derivatif keuangan yang kompleks. Menciptakan dan memelihara departemen internal yang besar untuk setiap fungsi spesialisasi ini menjadi tidak efisien bagi kantor pusat. Oleh karena itu, kantor pusat memilih untuk membeli layanan ini dari firma-firma APS yang sangat terspesialisasi dan berbasis di pusat-pusat kota. Keputusan ini meningkatkan permintaan agregat untuk APS di lokasi-lokasi strategis seperti New York, London, dan Tokyo.

3.3. Ekonomi Aglomerasi: Mengapa APS Memerlukan Kedekatan (Proximity)

Meskipun narasi teknologi menekankan bahwa layanan dapat diproduksi dan dikonsumsi dari jarak jauh, Sassen menunjukkan keterbatasan telematika dalam konteks layanan produsen tingkat lanjut. Layanan produsen, tidak seperti layanan konsumen yang bergantung pada kedekatan dengan pembeli, masih sangat diuntungkan dari kedekatan (proximity) dengan layanan lain, terutama ketika terdapat berbagai firma spesialis yang kompleks.

Layanan keuangan, hukum, dan konsultasi tingkat tinggi sangat bergantung pada pertukaran informasi yang cepat, interaksi tatap muka, dan pembangunan kepercayaan (trust). Interaksi ini menghasilkan ekonomi aglomerasi, di mana inovasi dan efisiensi meningkat melalui kepadatan fisik. Oleh karena itu, Sassen berargumen bahwa globalisasi, alih-alih menghilangkan pentingnya lokasi, justru memperkuat geografi yang berakar pada tempat (place-based, rooted geographies) dari kompleks APS. Teknologi memfasilitasi dispersi produksi (manufaktur), tetapi pada saat yang sama, ia meningkatkan kebutuhan akan aglomerasi kontrol, manajemen, dan inovasi di pusat-pusat komando global.

3.4. Ilustrasi Empiris dan Hipotesis Inti

Studi empiris Sassen tentang triad kota ini menunjukkan perubahan yang serentak dan masif, terutama dalam pertumbuhan eksponensial sektor keuangan, didorong oleh gelombang deregulasi dan liberalisasi pasar modal yang terjadi secara paralel di Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang.

Tabel 1 merangkum empat hipotesis inti yang menjadi dasar kerangka teori Kota Global Sassen:

Hipotesis Inti dalam Teori Kota Global Saskia Sassen

Hipotesis Inti dalam Teori Kota Global Saskia Sassen

IV. Dimensi Sosial: Polarisasi Tenaga Kerja dan Dualisasi Kota

Argumen Sassen melampaui analisis ekonomi murni, menunjukkan bahwa transformasi basis ekonomi di kota global secara struktural menghasilkan polarisasi sosial yang mendalam.

4.1. Struktur Pasar Tenaga Kerja yang Terdikotomisasi (Dualitas)

Globalisasi di kota-kota utama tidak menghasilkan peningkatan yang merata pada pekerjaan kelas menengah tradisional, melainkan menyebabkan dikotomisasi pasar tenaga kerja menjadi dua kutub yang terpisah:
1. Kutub Elite/Atas: Mencakup pekerjaan bergaji sangat tinggi, sangat terampil, yang berpartisipasi langsung dalam sirkuit pengambilan keputusan global (misalnya, bankir investasi, pengacara korporat).
2. Kutub Pendukung/Bawah: Mencakup pekerjaan bergaji rendah, berketerampilan rendah, yang berfungsi sebagai penopang sektor elite dan infrastruktur perkotaan (misalnya, petugas kebersihan, pengantar makanan, pelayan restoran mewah).

Dampak sektor layanan dan keuangan global terhadap struktur sosial sangat besar, meskipun secara statistik sektor ini mungkin hanya mencakup sekitar 15 persen dari total lapangan kerja di kota seperti New York, London, dan Tokyo.

4.2. Mekanisme Kebutuhan Tenaga Kerja Berpendapatan Rendah

Polarisasi ini didorong oleh dua mekanisme utama. Pertama, kehadiran sektor elite yang sangat makmur menciptakan permintaan turunan yang besar dan unik untuk layanan pribadi dan ritel mewah, yang cenderung intensif tenaga kerja. Kedua, terdapat kebutuhan untuk mempertahankan gaya hidup yang memungkinkan sektor elite fokus pada pekerjaan berorientasi global (misalnya, pengasuh anak, layanan kebersihan kantor dan rumah).

Sassen juga mengadopsi perspektif supply-side yang menekankan peran migrasi internasional. Pertumbuhan populasi migran di kota global telah memicu perluasan produsen skala kecil, seperti restoran atau toko ritel independen, yang dapat bersaing dengan rantai besar. Namun, karena persaingan ketat dan margin keuntungan yang sangat kecil, sektor ini terus mendorong permintaan untuk tenaga kerja yang lebih murah.

4.3. Materiitas Ekonomi Informasi dan Ketergantungan Struktural

Jika narasi dominan menekankan ekonomi informasi yang terlepas dari batasan fisik, analisis Sassen menunjukkan bahwa keberhasilan para pekerja yang sangat terampil (elite) bergantung pada dukungan material yang luas—seperti kebersihan kantor, keamanan gedung, dan layanan personal. Kebutuhan material ini harus dipenuhi oleh tenaga kerja manual dan lokal.

Hal ini menunjukkan bahwa ketimpangan sosial dan dualisasi tenaga kerja bukanlah sekadar fenomena sosial kebetulan, melainkan produk struktural dari konsentrasi APS di kota global. Ekonomi Kota Global sangat bergantung pada tenaga kerja manual berupah rendah. Kritikus memperingatkan agar analisis tidak direduksi menjadi sekadar "analisis yuppie ditambah kelas pelayan", namun Sassen menegaskan bahwa hubungan ketergantungan ini adalah fitur penting yang didefinisikan secara struktural dalam sistem global.

Tabel 2 mengilustrasikan dikotomi struktural ini dalam pasar tenaga kerja:

Contoh Dualisasi Pasar Tenaga Kerja di Kota Global (New York, London, Tokyo)

Contoh Dualisasi Pasar Tenaga Kerja di Kota Global (New York, London, Tokyo)

V. Kota Global dalam Geografi Baru Kekuatan Transnasional (Denasionalisasi)

Dalam perkembangannya, Sassen menempatkan teori Kota Global dalam konteks yang lebih luas tentang transformasi teritori dan politik yang ia sebut sebagai denasionalisasi.

5.1. Konsep Denasionalisasi Sassen: Transformasi Teritori Nasional

Globalisasi telah menyebabkan penataan ulang strategis teritori, atau penskalaan ulang wilayah strategis. Dengan adanya privatisasi, deregulasi, dan pembukaan ekonomi, terjadi pelemahan parsial unit nasional sebagai kerangka spasial eksklusif. Hal ini menciptakan kondisi bagi munculnya skala spasial strategis lainnya: sub-nasional (kota dan wilayah), lintas batas, dan supra-nasional (pasar digital global).

Sassen memperkenalkan konsep denasionalisasi sebagai hasil dari tertanamnya dinamika global di dalam teritori yang secara historis dikonstruksi sebagai nasional. Karena konteks nasional sangat terinstitusionalisasi dan 'tebal', penetrasi global memerlukan denasionalisasi parsial, spesifik, dan terspesialisasi dari komponen-komponen tertentu dari konteks nasional, seperti hukum dan regulasi pasar keuangan, untuk mengakomodasi aktor ekonomi non-nasional. Transformasi ini menunjukkan perubahan posisi negara, terutama jika pengamanan hak-hak baru bagi perusahaan asing melibatkan pelepasan sebagian komponen otoritas negara.

5.2. Kota Global sebagai Simpul Lintas Batas (Cross-Border Nodes)

Kota global berfungsi sebagai contoh paling nyata dari lokasi sub-nasional yang bertindak sebagai simpul di mana berbagai sirkuit global berpotongan. Dinamika global teritorialisasikan di lokasi-lokasi ini.

Pasar modal global, misalnya, tidak hanya dibentuk melalui pasar elektronik dengan jangkauan global, tetapi juga melalui kondisi yang tertanam secara lokal (locally embedded conditions) di lokasi sub-nasional, seperti infrastruktur fisik, sistem regulasi, dan sistem kepercayaan yang beroperasi di pusat-pusat keuangan New York atau London. Pertemuan berbagai sirkuit global di kota-kota ini adalah elemen kunci dalam memahami sifat multi-skala globalisasi.

5.3. Jaringan Transnasional Strategis dan Politik Skala Baru

Kerangka Sassen menekankan pembentukan dinamika lintas batas melalui mana kota-kota global dan kota global lainnya mulai membentuk jaringan transnasional strategis. Jaringan ini menciptakan geografi lintas batas yang terstruktur:
1. Geografi Hegemonik Lama yang Menguat: Peningkatan transaksi di antara pusat-pusat tradisional (misalnya, New York, Miami, Mexico City, dan São Paulo).
2. Geografi Baru: Artikulasi kota-kota yang sebelumnya kurang terhubung (misalnya, Shanghai yang kini terhubung dengan sirkuit lintas batas yang berkembang pesat).

Jika unit nasional melemah sebagai skala spasial dan politik eksklusif, maka lokasi politik dan agen perubahannya juga harus dicari di skala lain, khususnya skala sub-nasional/urban. Sassen menyebutnya "A Politics of Places on Global Circuits". Ini menyiratkan bahwa kota global bukan hanya entitas ekonomi, tetapi juga situs politik baru. Secara struktural, pekerja berketerampilan rendah (seringkali imigran) yang terpinggirkan dalam ekonomi justru memiliki potensi untuk menjadi agen politik baru dengan membentuk politik berbasis tempat yang terhubung secara transnasional, seperti gerakan hak imigran.

VI. Evaluasi Kritis dan Kontribusi Intelektual

Meskipun diakui sebagai karya klasik modern yang mendefinisikan kembali sosiologi urban dan studi globalisasi, teori Kota Global Sassen tidak luput dari kritik akademis, terutama terkait cakupan empiris dan bias geografisnya.

6.1. Kritik Metodologis: Fokus Sempit pada Sektor "Stylish" (Finance Bias)

Kritik utama ditujukan pada fokus yang terlalu sempit dan restriktif. Para teoritikus kota global, termasuk Sassen, dikritik karena memprioritaskan sektor ekonomi spesialisasi tertentu—yakni keuangan dan jasa produsen (APS)—yang disebut sebagai "stylish sectors".

Kritikus berpendapat bahwa melompat dari analisis ekonomi yang sangat terbatas ini menuju klaim mengenai kekuatan dan kategorisasi keseluruhan kota (Global City) menghasilkan klaim universal yang dipertanyakan. Hal ini mengabaikan sektor-sektor ekonomi lain yang sama pentingnya untuk integrasi global, seperti produksi industri berorientasi ekspor. Sebagai bukti, bahkan di New York, London, dan Tokyo, sektor jasa global yang berorientasi APS tidak menyumbang lebih dari 15 persen dari total tenaga kerja, menunjukkan bahwa cabang ekonomi lain tetap penting bagi ekonomi urban secara keseluruhan.

6.2. Kritik Geografis: Isu Eurosentrisme dan Marginalisasi Kota Global Selatan

Kritik signifikan lainnya menyangkut bias geografis, yang berpendapat bahwa model hierarkis yang dibangun berdasarkan konsentrasi APS cenderung meminggirkan kota-kota di Global Selatan. Di banyak kota di Selatan, bentuk integrasi ekonomi yang berfokus pada keuangan dan APS mungkin belum mapan, sehingga mengabaikan keragaman hasil pembangunan kota di luar triad utama.

Para akademisi berpendapat bahwa kota global triad (NY, L, T) digunakan sebagai "status yardstick" untuk mengukur potensi kota-kota lain untuk bergabung dengan "superleague". Hierarki pembangunan ini didasarkan pada pengalaman kota-kota Utara, yang secara efektif menganggap kota-kota yang tidak memiliki struktur APS serupa sebagai "secara struktural tidak relevan" atau "di luar peta" (off the map). Hal ini mencerminkan masalah epistemologis di mana kota-kota di luar Barat sering dinilai dengan standar yang telah ditentukan sebelumnya mengenai "kedudukan-kota" (city-ness) yang berasal dari model pembangunan di Utara.

6.3. Pembaharuan Teori dan Relevansi Abadi

Sebagai respons terhadap kritik ini, terutama yang berkaitan dengan bias sempit, kerangka teoritis Kota Global Sassen telah berevolusi. Dari triad awal, Sassen memperluas cakupan empirisnya, mencakup sekitar 40 kota pada tahun 2006 dan sekitar 70 kota di seluruh dunia pada tahun 2012.

Lebih penting lagi, kerangka teoritis tersebut telah berkembang menjadi konstruksi analitis yang memungkinkan pendeteksian dinamika global sebagaimana disaring melalui kekhasan lokal suatu tempat. Perluasan ini memungkinkan analisis kota-kota yang tidak berada di eselon teratas hierarki (seperti yang didominasi APS) namun masih merasakan dampak globalisasi, mengakomodasi keragaman hasil dan konteks lokal.

Terlepas dari kritik metodologis dan geografis, The Global City tetap menjadi karya yang sangat berpengaruh dan fundamental dalam ilmu sosial. Kontribusinya yang paling berharga adalah menyediakan lensa yang kuat untuk memahami bahwa ekonomi global, meskipun tampak tidak berwujud (immaterial) dan cair (liquid), tetap memiliki kebutuhan material dan teritorial untuk infrastruktur manajemen dan kontrolnya, yang berwujud dalam polarisasi sosial dan ruang kota yang mendalam.

VII. Kesimpulan dan Implikasi Kebijakan

The Global City: New York, London, Tokyo memberikan pemahaman yang sangat mendalam mengenai bagaimana globalisasi menata ulang ruang perkotaan dan hubungan kekuasaan. Sassen berhasil membongkar narasi yang terfokus pada determinisme teknologi, dan sebaliknya menunjukkan bahwa sentralitas kota-kota utama dalam ekonomi global didorong oleh kebutuhan akan aglomerasi Jasa Produsen Tingkat Lanjut. Kota global adalah situs materiil yang menghasilkan infrastruktur manajemen global dan mengalami polarisasi sosial yang mendalam sebagai produk struktural dari konsentrasi kekayaan dan kekuasaan.

Implikasi kebijakan yang mendasar dari analisis ini adalah pengakuan bahwa ketimpangan sosial (dualisasi tenaga kerja) di kota global bukanlah fenomena sampingan, melainkan hasil struktural dari fungsi ekonomi inti kota tersebut. Oleh karena itu, kebijakan urban harus secara eksplisit mengatasi ketidaksetaraan struktural ini, misalnya melalui intervensi upah, kebijakan perumahan yang melindungi populasi berpenghasilan rendah dari gentrifikasi, dan pengakuan politik terhadap pekerja informal dan migran sebagai agen penting yang menopang ekonomi global. Selain itu, dengan adanya konsep denasionalisasi, kebijakan kota harus mengelola peran kota sebagai simpul transnasional, mengakui bahwa banyak isu urban memiliki dimensi yang melampaui kerangka regulasi nasional.

Relevansi teori Sassen tetap abadi karena memberikan kerangka kerja untuk menganalisis bagaimana kekuatan global, terlepas dari pergeseran geopolitik dan kemajuan teknologi, harus menemukan tempat fisik untuk berakar dan beroperasi, membentuk kembali geografi perkotaan di sepanjang garis yang ditandai oleh sentralisasi fungsional dan fragmentasi sosial.

Referensi:

GLOBALIZATION, migration and global city hypothesis – Southern Public Administration Education Foundation. (n.d.). SPA Education Foundation. Diakses 19 November 2025, dari https://spaef.org/file.php?id=941

Globalization or denationalization? – Saskia Sassen. (n.d.). Saskia Sassen Official Website. Diakses 19 November 2025, dari https://www.saskiasassen.com/PDFs/publications/Globalization-or-Denationalization.pdf

Introduction (Chapter 1) - The global city debate reconsidered. (n.d.). Cambridge University Press. Diakses 19 November 2025, dari https://www.cambridge.org/core/books/global-city-debate-reconsidered/introduction/AB654FE5AD39A6E31085E95452296D4C

Sassen, S. (2001). The global city: New York, London, Tokyo (2nd ed.). Princeton University Press.

Saskia Sassen /// The global city: the de-nationalizing of time and space. (n.d.). Chto Delat. Diakses 19 November 2025, dari https://chtodelat.org/b8-newspapers/12-62/saskia-sassen-the-global-city-the-de-nationalizing-of-time-and-space/

Saskia Sassen and the sociology of globalization: A critical appraisal – William I. Robinson. (n.d.). Diakses 19 November 2025, dari https://robinson.faculty.soc.ucsb.edu/Assets/pdf/Saskia%20Sassen.pdf

The European city in the age of globalisation. (n.d.). OpenEdition Journals. Diakses 19 November 2025, dari https://journals.openedition.org/belgeo/6100?lang=de

The global city — Saskia Sassen. (2013, September 15). Understanding Society. Diakses 19 November 2025, dari https://undsoc.org/2013/09/15/the-global-city-saskia-sassen/

The global city: Introducing a concept – Columbia University. (2005). Diakses 19 November 2025, dari https://www.columbia.edu/~sjs2/PDFs/globalcity.introconcept.2005.pdf

The global city: New York, London, Tokyo – LSE Research Online. (n.d.). London School of Economics. Diakses 19 November 2025, dari https://eprints.lse.ac.uk/12857/

The global city: New York, London, Tokyo – Saskia Sassen – Google Books. (n.d.). Google Books. Diakses 19 November 2025, dari https://books.google.com/books/about/The_Global_City.html?id=JWo0EQAAQBAJ

The global City: New York, London, Tokyo. (n.d.). ResearchGate. Diakses 19 November 2025, dari https://www.researchgate.net/publication/30529997_The_global_City_New_York_London_Tokyo

Toward a critical understanding of the world/global city paradigm. (n.d.). Kennesaw State University Digital Commons. Diakses 19 November 2025, dari https://digitalcommons.kennesaw.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1145&context=jpps

Unpacking the advanced producer services complex in world cities: Charting professional networks, localization economies, and markets. (n.d.). ResearchGate. Diakses 19 November 2025, dari https://www.researchgate.net/publication/340128326_Unpacking_the_advanced_producer_services_complex_in_world_cities_Charting_professional_networks_localization_economies_and_markets

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment