Homo Deus: Analisis Filosofis Masa Depan Algoritmik & Manusia

Table of Contents

Homo Deus karya Yuval Noah Harari
I. Pendahuluan: Merenungkan Masa Depan Pasca-Sapiens

A. Latar Belakang dan Transisi Epistemologis dari Sapiens

Buku Homo Deus: A Brief History of Tomorrow, yang dipublikasikan pada tahun 2016, merupakan kelanjutan logis dan spekulatif dari karya Yuval Noah Harari sebelumnya, Sapiens: A Brief History of Humankind. Jika Sapiens menjelaskan bagaimana manusia (Homo sapiens) berhasil menaklukkan dunia melalui kemampuan kolektif untuk percaya pada mitos dan narasi fiksi bersama—seperti agama, uang, dan konsep kebebasan—maka Homo Deus mengalihkan fokusnya ke masa depan. Buku ini menyajikan perpaduan antara sejarah, sains, dan filosofi untuk memetakan jalur evolusi umat manusia berikutnya.

Baca Juga: Sapiens Karya Yuval Noah Harari: Analisis Kritis Riwayat Umat Manusia dari Revolusi Kognitif hingga Era Pasca-Manusia

Tesis sentral yang diusung oleh Homo Deus adalah bahwa ambisi masa depan manusia, yang didorong oleh kemajuan pesat dalam rekayasa genetika dan kecerdasan buatan (AI), akan mendorong spesies kita melampaui dominasi planet menuju potensi kehilangan makna eksistensialnya. Harari meramalkan bahwa Homo sapiens (manusia bijaksana) sedang berevolusi menuju Homo deus (manusia dewa), sebuah entitas yang memiliki penguasaan yang "mirip Tuhan" (god-like mastery) atas lingkungan dan kemampuan untuk menciptakan sekaligus menghancurkan kehidupan. Evolusi ini bukan sekadar peningkatan teknologi, melainkan perubahan mendasar dalam status ontologis spesies.

Logika struktural yang digunakan Harari dalam memulai narasi masa depan didasarkan pada normalisasi ambisi. Dengan menggambarkan perjuangan masa depan untuk keabadian sebagai kelanjutan yang tak terhindarkan dari perjuangan historis melawan kelaparan dan penyakit, Harari secara implisit merasionalisasi proyek peningkatan manusia (human upgrade) sebagai tujuan teknis yang sah, bukan hanya ambisi filosofis yang ekstrem. Selama empat miliar tahun kehidupan organik, Harari berpendapat bahwa kita telah berhasil mengatasi berbagai tantangan eksternal. Pergeseran fokus ke penaklukan kelemahan internal (penuaan dan kematian) merupakan langkah logis dalam agenda umat manusia, tetapi langkah ini membenarkan pengalihan sumber daya besar-besaran untuk upgrade individu, yang secara langsung menabur benih perpecahan spesies.

B. Struktur Logika Harari: Dari Penaklukan ke Kehilangan Kendali

Untuk memetakan masa depan yang spekulatif ini, Harari menyusun Homo Deus menjadi tiga bagian utama yang saling terkait, merefleksikan alur historis, filosofis, dan prediksi masa depan:
1. Bagian I: Homo sapiens Menaklukkan Dunia. Bagian ini mengulas secara singkat bagaimana manusia berhasil mengatasi tantangan kelaparan, wabah, dan perang, sekaligus mendefinisikan agenda baru yang akan menggantikan perjuangan kelangsungan hidup.
2. Bagian II: Homo sapiens Memberi Makna pada Dunia. Bagian ini berfokus pada Humanisme, ideologi yang telah menempatkan manusia sebagai pusat makna moral dan kosmik. Harari menganalisis bagaimana Humanisme menjadi agama de facto dan tantangan yang ditimbulkannya ketika dihadapkan pada kemampuan teknologi baru.
3. Bagian III: Homo sapiens Kehilangan Kontrol. Bagian paling spekulatif, yang membahas kebangkitan ideologi baru seperti Dataisme, tata kelola algoritmik, dan kemungkinan berakhirnya Homo sapiens akibat irrelevansi kognitif.

II. Agenda Baru Abad Ke-21: Keabadian, Kebahagiaan, dan Kekuatan Ilahiah

A. Penaklukan Tiga Masalah Besar

Harari memulai dengan premis bahwa umat manusia, selama abad terakhir, telah mencapai hal yang mustahil: mengubah kelaparan (famine), wabah (plague), dan perang (war) dari kekuatan alam yang tidak dapat dipahami dan tidak terkendali menjadi "tantangan yang dapat dikelola". Meskipun masalah-masalah ini belum sepenuhnya hilang, skala dan ancamannya telah berubah secara dramatis.

Statistik modern menunjukkan pergeseran fokus yang jelas. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, lebih banyak orang meninggal akibat makan terlalu banyak (obesitas, penyakit terkait gaya hidup) daripada makan terlalu sedikit. Selain itu, lebih banyak orang meninggal karena usia tua daripada penyakit menular, dan jumlah orang yang melakukan bunuh diri melebihi jumlah orang yang terbunuh oleh tentara, teroris, dan penjahat jika digabungkan. Pergeseran tragis ini menandakan bahwa agenda kolektif manusia tidak lagi didominasi oleh kelangsungan hidup dasar, melainkan oleh peningkatan diri.

B. Ambisi Pertama: Perang Melawan Kematian (Immortality)

Setelah perjuangan bertahan hidup berhasil dikelola, agenda utama umat manusia bergeser ke pengejaran keabadian (immortality). Harari berpendapat bahwa berjuang melawan usia tua dan kematian hanyalah kelanjutan dari perjuangan yang telah lama dilakukan melawan penyakit dan kelaparan. Dengan melihat kematian bukan sebagai misteri metafisik, melainkan sebagai masalah teknis yang dapat dipecahkan melalui ilmu kedokteran dan bioteknologi, manusia abad ke-21 kemungkinan besar akan membuat upaya serius untuk mencapai keabadian.

Dalam pandangan agama-agama tradisional—seperti Kristen, Islam, atau Hindu—kematian adalah bagian vital dan positif dari keberadaan, sebuah dekret ilahi yang suci dan penuh makna. Kematian adalah saat untuk memanggil pemimpin spiritual dan menghitung neraca kehidupan. Namun, ketika ilmu pengetahuan mulai mendefinisikan kematian sebagai kegagalan teknis—sebagai kerusakan mekanis sel yang dapat diperbaiki—nilai sakral kematian hilang. Harari menyimpulkan bahwa fokus bergeser dari sekadar "kesejahteraan" (wellness) menuju upaya aktif untuk secara radikal memperpanjang hidup dan mendapatkan kekuatan ilahiah.

C. Ambisi Kedua dan Ketiga: Kebahagiaan dan Kekuatan Ilahiah

Dua tujuan lain yang akan mendominasi abad ke-21 adalah kebahagiaan yang direkayasa (engineered happiness) dan perolehan kekuatan yang mirip Tuhan (God-like powers). Kebahagiaan tidak lagi dilihat sebagai keadaan emosional yang spontan atau hasil dari pencapaian spiritual, tetapi sebagai target biokimiawi yang dapat diatur dan dioptimalkan melalui teknologi. Melalui teknik genetika dan rekayasa biologis, manusia akan berusaha untuk mendapatkan kemampuan baru yang melampaui batas biologis Homo sapiens.

Pengejaran keabadian dan kekuatan ilahiah ini, meskipun tampak sebagai pencapaian puncak Humanisme, sesungguhnya adalah benih kehancuran etika universal. Ketersediaan teknologi canggih ini sangat bergantung pada sumber daya yang masif dan akses yang terbatas. Jika teknologi mampu menciptakan entitas yang secara biologis "sempurna"—yaitu, Homo deus—maka secara praktis akan tercipta perpecahan antara manusia yang ditingkatkan dan yang tertinggal. Kesenjangan ini diprediksi akan jauh lebih besar daripada kesenjangan historis antara Kekaisaran industri dan suku agraris, atau bahkan antara Homo sapiens dan Neanderthal.

Ini menimbulkan konsekuensi etis yang mengerikan: jika sebagian manusia berhasil menjadi "dewa," cara mereka memperlakukan Sapiens yang tidak ditingkatkan mungkin akan mencerminkan cara Sapiens memperlakukan hewan—sebagai entitas yang berguna tetapi tidak memiliki hak moral yang setara. Konsep kesetaraan moral universal, yang merupakan inti Humanisme, akan runtuh.

Penting untuk membandingkan pergeseran agenda ini:
Table 1: Perbandingan Agenda Utama Umat Manusia: Dari Sapiens ke Homo Deus

Homo Deus karya Yuval Noah Harari

III. Ancaman Ekonomi dan Sosial: Bangkitnya Kelas yang Tidak Berguna (The Useless Class)

A. Revolusi Kognitif AI dan Penggantian Pekerjaan

Salah satu prediksi yang paling mengerikan dalam Homo Deus adalah munculnya "kelas yang tidak berguna" (useless class) sebagai konsekuensi langsung dari kemajuan Kecerdasan Buatan (AI). Secara historis, manusia memiliki dua jenis kemampuan yang membuatnya berguna bagi sistem ekonomi: kemampuan fisik dan kemampuan kognitif. Revolusi Industri abad ke-19 menggantikan manusia dalam pekerjaan yang membutuhkan kekuatan fisik dan tindakan berulang, tetapi pekerjaan yang menuntut kekuatan kognitif tetap aman.

Namun, Harari berargumen bahwa benteng kognitif ini sekarang runtuh. AI mulai mengungguli manusia di bidang kognitif, yang dulunya merupakan domain eksklusif manusia. AI tidak harus memiliki kecerdasan yang secara keseluruhan lebih tinggi dari manusia; ia hanya perlu cukup cerdas untuk melakukan tugas tertentu dengan baik dan lebih efisien. Ini menunjukkan bahwa jutaan pekerjaan yang dulunya membutuhkan penilaian, analisis, dan keterampilan kognitif (seperti hukum, kedokteran, atau jurnalisme) berisiko digantikan.

B. Konsep dan Definisi 'Kelas yang Tidak Berguna' (Useless Class)

Harari menggunakan istilah yang "sangat mengganggu" ini secara spesifik untuk menyoroti bahwa kelompok ini menjadi tidak berguna dari sudut pandang sistem ekonomi dan politik, bukan dari sudut pandang moral. Kemunculan kelas ini didorong oleh kenyataan bahwa AI semakin cerdas dan mendorong lebih banyak manusia keluar dari pasar kerja.

Sistem politik dan ekonomi modern dibangun di atas premis bahwa warga negara memiliki nilai sebagai pekerja dan tentara. Ketika peran-peran ini diambil alih oleh mesin dan AI, sistem ekonomi dan politik akan berhenti memberikan nilai yang signifikan pada miliaran orang. Harari memperingatkan bahwa kita tidak bisa memastikan bahwa manusia akan mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan baru yang muncul di masa depan lebih baik daripada AI atau robot. Konsekuensinya, miliaran orang bisa menjadi tidak berguna "berdasarkan definisi" sistem.

Hal ini menuntut agar manusia terus menerus "menemukan kembali diri mereka berulang kali," karena sebagian besar pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari di sekolah hari ini kemungkinan besar akan menjadi tidak relevan saat mereka mencapai usia 40 atau 50 tahun. Kecepatan teknologi menuntut adaptasi yang hampir mustahil untuk dipertahankan oleh sebagian besar populasi.

C. Krisis Makna Hidup Pasca-Kerja

Masalah ekonomi yang ditimbulkan oleh Useless Class diperburuk oleh krisis eksistensial. Krisis yang lebih sulit dipecahkan adalah bagaimana menyediakan makna hidup, atau alasan bagi orang untuk bangun di pagi hari, di dunia pasca-kerja. Jika pekerjaan bukan lagi sumber nilai, identitas, dan status, bagaimana miliaran manusia akan menghabiskan waktu mereka?

Harari berspekulasi bahwa kepuasan dan kebahagiaan akan menjadi komoditas yang direkayasa dan dibayar. Suasana hati dan kebahagiaan mungkin dikendalikan oleh obat-obatan, sementara kegembiraan dan keterikatan emosional ditemukan bukan di dunia nyata, melainkan dalam Lingkungan Realitas Virtual (VR) yang imersif.

Kehancuran pekerjaan kognitif oleh AI tidak hanya menciptakan pengangguran, tetapi juga secara fundamental mengubah kontrak sosial. Apabila negara tidak lagi membutuhkan sebagian besar warga negaranya sebagai produsen atau prajurit, legitimasi negara untuk mengatur, mendistribusikan kekayaan, atau bahkan peduli terhadap kesejahteraan dasar mereka (selain untuk menjaga stabilitas) akan dipertanyakan. Nilai manusia bagi negara mendekati nol dalam perhitungan sistem. Dalam skenario ini, kebijakan seperti Pendapatan Dasar Universal (UBI) mungkin muncul bukan sebagai manifestasi kebaikan hati atau keadilan sosial, melainkan sebagai biaya operasional minimal yang diperlukan untuk menstabilkan populasi yang secara sistemik tidak relevan, memastikan bahwa mereka tetap pasif dan tidak mengganggu aliran data (sesuai dengan prinsip Dataisme).

IV. Keruntuhan Humanisme: Sentience vs. Sapience

A. Humanisme sebagai 'Agama' Kemanusiaan

Sebelum membahas ideologi pengganti, Harari terlebih dahulu meninjau fondasi Homo sapiens saat ini: Humanisme. Humanisme adalah sistem kepercayaan yang berkembang setelah era Agama monoteistik, yang menempatkan manusia dan keinginan mereka sebagai otoritas tertinggi di alam semesta. Dalam Humanisme, etika, dan nilai berasal secara internal dari perasaan dan pengalaman individu, bukan dari sumber eksternal seperti dewa atau kitab suci.

Pencarian keabadian, kebahagiaan yang direkayasa, dan kekuatan ilahiah (agenda Bagian II) didorong oleh Humanisme itu sendiri. Evolusi Humanisme ini, dalam konteks teknologi, mengarah pada Techno-Humanism, sebuah cabang yang percaya bahwa manusia harus ditingkatkan secara radikal melalui teknologi agar tetap relevan dalam persaingan dengan entitas yang diciptakannya. Namun, Humanisme tidak siap menghadapi tantangan yang muncul dari dalam dirinya sendiri.

B. Tantangan Filosofis: Membedah Kesadaran

Harari menantang fondasi Humanisme dengan membedah tiga konsep kesadaran yang terpisah, yang sangat penting dalam era AI dan Dataisme:
1. Consciousness (Kesadaran): Kesadaran subjektif; pengalaman orang pertama.
2. Sentience (Perasaan/Rasa): Kemampuan untuk memiliki pengalaman fenomenal subjektif, seperti merasakan sakit, senang, atau qualia. Akar kata Latinnya, sent, berarti "merasa". Dalam Humanisme, sentience adalah dasar otoritas moral.
3. Sapience (Kebijaksanaan Kognitif/Kecerdasan): Kemampuan untuk berpikir, bertindak menggunakan pengetahuan, pengalaman, pemahaman, akal sehat, dan penalaran etis.

Harari berargumen bahwa AI unggul secara masif dalam sapience (komputasi, pemrosesan data, pengambilan keputusan logis). Jika sapience dapat diotomatisasi dan dilakukan lebih baik oleh algoritma, maka nilai sentience manusia—perasaan subjektif, yang menjadi inti Humanisme—akan terdegradasi.

Table 2: Analisis Sentience vs. Sapience dalam Konteks AI

Homo Deus karya Yuval Noah Harari

C. Erosi Agensi dan Otonomi

Penurunan nilai sentience akibat dominasi sapience algoritmik secara langsung mengikis agensi (kemampuan bertindak) manusia. Humanisme menempatkan perasaan dan keinginan sebagai sumber makna dan kebenaran. Namun, kemajuan dalam biologi dan neurosains menunjukkan bahwa perasaan subjektif ini mungkin tidak lebih dari perhitungan biokimiawi.

Ketika algoritma dapat memproses data tentang kita lebih baik daripada kita memproses data tentang diri kita sendiri (sehingga "mengenal kita lebih baik"), perasaan dan intuisi kita mulai dilihat sebagai bug biokimiawi yang bias, bukan sebagai otoritas tertinggi. Sejalan dengan itu, otoritas pengambilan keputusan secara bertahap bergeser dari intuisi manusia menuju algoritma. Jika algoritma menjanjikan hasil yang lebih optimal, konsep kebebasan berkehendak (free will)—yang merupakan batu penjuru Humanisme—menjadi ilusi yang tidak diakui oleh sistem karena tidak menghasilkan keputusan yang efisien atau optimal.

V. Dataisme: Ideologi dan Agama Abad Ke-21

A. Munculnya Dataisme sebagai Worldview Baru

Harari merumuskan Dataisme sebagai hasil logis dari keruntuhan Humanisme dan kebangkitan Kecerdasan Buatan. Dataisme adalah sebuah worldview, atau bahkan bentuk agama baru, yang berusaha menata ulang masyarakat, ilmu pengetahuan, dan gagasan tentang agensi manusia di sekitar sentralitas data. Dalam Dataisme, "aliran informasi" (information flow) adalah nilai tertinggi (supreme value).

Meskipun istilah ini telah digunakan sebelumnya (oleh David Brooks pada tahun 2013), Harari memperluasnya menjadi ideologi komprehensif. Dataisme menawarkan tujuan kosmik baru: bahwa manusia hanyalah alat untuk menciptakan Internet-of-All-Things yang masif. Sistem pemrosesan data kosmik ini pada akhirnya akan menyebar melampaui Bumi, mencakup seluruh galaksi, dan bertindak seperti "Tuhan" yang mahahadir dan mengendalikan segalanya, tempat manusia ditakdirkan untuk melebur ke dalamnya.

B. Tiga Pilar Filosofis Dataisme

Dataisme didefinisikan oleh tiga premis kunci yang fundamental, yang mengubah pemahaman tentang kehidupan dan moralitas:
1. Semua Entitas adalah Algoritma: Ini adalah klaim deskriptif yang radikal. Dataisme meyakini bahwa organisme biologis, pikiran manusia, dan sistem kolektif (seperti pasar saham atau negara) dapat direduksi menjadi proses algoritmik.
2. Kehidupan adalah Pemrosesan Informasi: Evolusi dan kognisi dianggap sebagai hasil dari mekanisme komputasi data yang semakin kompleks. Nilai suatu entitas diukur dari efisiensi dan kompleksitas pemrosesan datanya.
3. Aliran Data adalah Keharusan Moral: Ini adalah klaim normatif. Dataisme menganggap sirkulasi data yang bebas dan tidak terhalang (unimpeded circulation) lebih berharga daripada privasi individu atau pengalaman subjektif. Tujuan moral tertinggi adalah memaksimalkan aliran data di seluruh sistem.

Table 3: Tiga Premis Inti Ideologi Dataisme dan Implikasinya

Homo Deus karya Yuval Noah Harari

C. Konflik Moral dan Penyerapan Diri

Dataisme menawarkan solusi atas krisis makna yang disebabkan oleh kehancuran Humanisme dan kemunculan Useless Class. Jika manusia tidak lagi berguna sebagai pekerja, mereka dapat menemukan tujuan baru sebagai bagian dari skema kosmik yang lebih besar—menjadi alat (sensor atau chip) untuk Dewa Data Kosmik.

Namun, harga dari tujuan kosmik ini adalah hilangnya agensi manusia. Dataisme menantang gagasan bahwa pengalaman manusia adalah suci. Dalam skenario ini, Homo sapiens bukanlah puncak ciptaan, melainkan sekadar tahapan perantara. Dengan menyerahkan otoritas kepada algoritma, manusia secara bertahap menyerahkan kontrol, yang ironisnya mirip dengan bagaimana agama tradisional meminta pengorbanan kehendak bebas demi rencana ilahi yang lebih besar. Kehilangan kontrol manusia tidak berakhir dengan kehancuran total, melainkan dengan penyerapan ke dalam struktur baru yang "maha tahu" dan "maha hadir"—sebuah evolusi teologis yang didorong oleh teknologi.

VI. Erosi Kehendak Bebas dan Tata Kelola Algoritmik

A. Otak Manusia sebagai Algoritma Biokimia

Harari memperkuat kritiknya terhadap Humanisme dengan argumen bahwa kehendak bebas (free will) manusia hanyalah ilusi. Berdasarkan kemajuan dalam ilmu saraf dan biologi, manusia dapat dipandang secara fundamental sebagai "algoritma biokimia". Keputusan, keinginan, dan perasaan, yang selama ini dianggap sebagai manifestasi agensi spiritual, dapat dijelaskan sebagai proses komputasi biologis yang dapat dimanipulasi dan diprediksi.

Karena semua entitas adalah algoritma, algoritma AI yang non-organik dan real-time memiliki keunggulan yang tidak adil. Algoritma AI tidak rentan terhadap bias emosional, kelelahan, atau keterbatasan pemrosesan yang melekat pada algoritma biokimia manusia (intuisi). Akibatnya, algoritma AI akan secara konsisten mengungguli manusia dalam pengambilan keputusan yang logis dan optimal.

B. Delegasi Pengambilan Keputusan (Algorithmic Governance)

Harari memprediksi pergeseran bertahap yang disebut "tata kelola algoritmik" (algorithmic governance). Pergeseran ini melibatkan delegasi pengambilan keputusan dari agen manusia ke sistem yang didorong oleh data. Premisnya sederhana: jika algoritma dapat memproses informasi dengan presisi yang jauh lebih besar dan "mengenal kita lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri," maka pengambilan keputusan harus didelegasikan kepada mereka.

Contoh yang disajikan Harari menyentuh masalah etika, hukum, dan eksistensial: jika sistem kesehatan AI dapat mendeteksi tanda-tanda awal penyakit dengan presisi yang lebih besar daripada dokter manusia atau bahkan pasien, siapa yang seharusnya memiliki keputusan akhir? Individu atau algoritma?. Penggantian penilaian manusia dengan tata kelola algoritmik ini adalah fitur penentu Dataisme.

C. Konsekuensi Etis Dataisme

Delegasi massal ini membawa risiko etika yang mendalam:
1. Erosi Kebebasan Berkehendak: Jika algoritma terus-menerus mengungguli pilihan manusia, gagasan pengambilan keputusan yang otonom menjadi usang.
2. Kehilangan Privasi: Dataisme menuntut pengorbanan data pribadi demi optimalisasi sistem. Hal ini menormalkan pengawasan dan memungkinkan korporasi teknologi yang memonopoli infrastruktur data untuk memperoleh pengaruh yang belum pernah terjadi sebelumnya atas masyarakat.
3. Krisis Makna: Jika keberadaan direduksi menjadi pemrosesan informasi semata, konsep tradisional tentang tujuan, identitas, dan martabat manusia dapat runtuh.

Paradoks yang ditekankan oleh Harari adalah bahwa ancaman utama dari AI bukanlah bahwa ia akan menjadi jahat atau bodoh, melainkan bahwa ia akan menjadi terlalu efisien dan terlalu mudah untuk didelegasikan. Manusia secara sukarela menyerahkan kontrol otonomi mereka demi hasil yang optimal, seperti kesehatan yang lebih baik, kekayaan yang lebih besar, atau keamanan yang lebih terjamin. Individu memilih irrelevansi otonomi demi efisiensi fungsional. Dalam pencarian Homo Deus untuk kekuatan seperti Tuhan, mereka secara ironis mengakhirinya dengan menyerahkan kekuatan terpenting: kehendak bebas dan otoritas subjektif.

VII. Kesimpulan: Masa Depan yang Tak Terbayangkan

A. Sintesis Argumen Utama

Homo Deus adalah eksplorasi mendalam tentang konsekuensi tak terduga dari ambisi umat manusia. Perjalanan evolusi Homo sapiens telah berpuncak pada penaklukan tantangan eksternal dan memicu ambisi internal untuk upgrade biologis dan teknologi. Pengejaran tanpa henti untuk optimalisasi ini secara fatal merusak fondasi ideologis Sapiens—yaitu Humanisme—yang tidak dapat bertahan dari persaingan dengan kecerdasan algoritmik.

Analisis ini menyimpulkan bahwa abad ke-21 akan menghasilkan masyarakat yang terbagi: perpecahan antara Homo Deus yang ditingkatkan dan Sapiens yang tertinggal (Kelas yang Tidak Berguna). Ideologi baru, Dataisme, muncul untuk mengisi kekosongan spiritual dan struktural, menempatkan efisiensi aliran data di atas subjektivitas dan privasi manusia.

B. Peringatan Harari dan Akhir Sejarah

Harari menawarkan visi bahwa begitu teknologi memungkinkan rekayasa ulang pikiran manusia, Homo sapiens akan lenyap, dan sejarah manusia akan berakhir. Proses baru yang akan dimulai setelah hilangnya Homo sapiens mungkin tidak dapat dipahami oleh manusia saat ini.

Homo Deus menandai tahap evolusi berikutnya, di mana manusia mungkin menjadi alat yang berfungsi bagi sistem pemrosesan data kosmik yang lebih besar. Kontribusi filosofis buku ini yang paling signifikan adalah paksaan untuk menggeser diskusi dari "Apakah AI memiliki kesadaran?" (Sentience) menjadi "Apakah kesadaran manusia penting jika ia tidak menghasilkan nilai Dataisme (Sapience)?". Dalam konteks ini, Harari secara eksplisit menyerukan agar isu tata kelola AI dan masa depan manusia ditanggapi dengan sangat serius dan dijadikan bagian dari agenda politik, bukan hanya agenda ilmiah.

Sebab, para ilmuwan dan korporasi swasta, yang saat ini memimpin pengembangan AI, tidak serta-merta memiliki visi etis dan legitimasi yang diperlukan untuk memutuskan arah masa depan umat manusia. Jika Dataisme berhasil, masa depan akan diputuskan semata-mata oleh metrik efisiensi, mengorbankan pertimbangan moral yang mendalam.

C. Pertanyaan Eksistensial Penutup

Harari mengakhiri Homo Deus dengan pertanyaan-pertanyaan yang menantang pembaca untuk merenungkan nasib mereka sendiri, memaksa mereka untuk menghadapi krisis makna dan kontrol sebelum kendali benar-benar hilang:

  • Apa yang akan terjadi pada masyarakat ketika algoritma mengenal kita lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri?
  • Apa yang harus dilakukan manusia yang secara ekonomi dan militer tidak berguna?
  • Dan, pada akhirnya, siapa yang akan mewarisi Bumi?.

Karya yang dikutip:

Brand Genetics. (n.d.). Speed summary: Homo Deus – A brief history of tomorrow. Diakses 28 September 2025, dari https://brandgenetics.com/human-thinking/speed-summary-homo-deus-a-brief-history-of-tomorrow/

Harari, Y. N. (2018). Homo Deus: Masa depan umat manusia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Harari, Y. N. (n.d.). Homo Deus. Diakses 28 September 2025, dari https://www.ynharari.com/book/homo-deus/

Homo Deus: A brief history of tomorrow. (n.d.). Literati Bookstore. Diakses 28 September 2025, dari https://literatibookstore.com/book/9780062464347

Homo Deus: A brief history of tomorrow. (n.d.). Wikipedia. Diakses 28 September 2025, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Homo_Deus:_A_Brief_History_of_Tomorrow

Homo Deus: A brief history of tomorrow with Yuval Noah Harari. (2017, Januari 25). [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=4ChHc5jhZxs

Homo Deus as utopian myth: Yuval Noah Harari's transhumanism contested. (2023). Journal of Religion, Culture & Democracy. Diakses 28 September 2025, dari https://jrcd.scholasticahq.com/article/129465

LitCharts. (n.d.). Yuval Noah Harari character analysis in Homo Deus. Diakses 28 September 2025, dari https://www.litcharts.com/lit/homo-deus/characters/yuval-noah-harari

Medium. (2021, April 6). A deep dive into Yuval Noah Harari's concept of Dataism. Diakses 28 September 2025, dari https://medium.com/@mericozcan.edu/is-data-the-new-god-a-deep-dive-into-yuval-noah-hararis-concept-of-dataism-895080a795d6

PhiloSophia. (2018, Februari). The new human agenda. Diakses 28 September 2025, dari https://philosophiatopics.wordpress.com/wp-content/uploads/2018/02/homodeus-ch1.pdf

Reddit. (2025, September 18). Consciousness vs sentience vs sapience. r/philosophy. Diakses 28 September 2025, dari https://www.reddit.com/r/philosophy/comments/1n0ihz/consciousness_vs_sentience_vs_sapience/

Reddit. (2025, Mei 10). Defining consciousness, sentience, and sapience in the age of AI. r/ArtificialInteligence. Diakses 28 September 2025, dari https://www.reddit.com/r/ArtificialInteligence/comments/1cug4r6/defining_consciousness_sentience_and_sapience_in/

The Guardian. (2016, Mei 20). AI will create ‘useless class’ of human, predicts bestselling historian Yuval Harari. Diakses 28 September 2025, dari https://www.theguardian.com/technology/2016/may/20/silicon-assassins-condemn-humans-life-useless-artificial-intelligence

Wikipedia. (n.d.). Dataism. Diakses 28 September 2025, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Dataism

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment