Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jean Piaget. Faktor-faktor yang Menunjang Perkembangan Intelektual

Jean Piaget tentang Faktor-faktor yang Menunjang Perkembangan Intelektual
Faktor Perkembangan Intelektual Jean Piaget
Suatu pertanyaan yang diajukan mengenai tingkat perkembangan intelektual Piaget ialah: Apakah yang menyebabkan seseorang pindah dari tingkat yang satu ke tingkat yang lain? Berdasarkan hasil studinya yang bertahun-tahun, Piaget mengemukakan bahwa ada lima faktor yang mempengaruhi transisi ini. Kelima faktor itu ialah: kedewasaan (maturation), pengalaman fisik (physical experience), pengalaman logika-matematis (logical-mathematical experience), transmisi sosial (social transmission), dan proses keseimbangan (equilibration) atau proses pengaturan sendiri (self-regulation) (Phillips, 1981).

1. Kedewasaan
Perkembangan sistem saraf sentral, otak, koordinasi motorik, dan manifestasi fisik lainnya mempengaruhi perkembangan kognitif. Walaupun kedewasaan atau maturasi merupakan faktor penting dalam perkembangan intelektual, maturasi tidak cukup menerangkan perkembangan intelektual ini. Andaikata dapat, peranan guru sangat kecil dalam mempengaruhi perkembangan intelektual anak.

2. Pengalaman fisik
Interaksi dengan lingkungan fisik digunakan anak untuk mengabstraksi berbagai sifat fisik benda-benda. Bila seorang anak menjatuhkan sebuah benda dan menemukan bahwa benda itu pecah atau bila ia menempatkan benda itu dalam air, kemudian ia melihat bahwa benda itu terapung, ia sudah terlibat dalam proses abstraksi sederhana atau abstraksi empiris. Pengalaman ini disebut pengalaman fisik untuk membedakannya dengan pengalaman logika-matematika, tetapi secara paradoks pengalaman fisik ini selalu melibatkan asimilasi pada struktur-struktur logika-matematika. Pengalaman fisik ini meningkatkan kecepatan perkembangan anak sebab observasi benda-benda itu menolong timbulnya pikiran yang lebih kompleks.

3. Pengalaman logika-matematika
Bila seorang anak mengamati benda-benda, selain pengalaman fisik ada pula pengalaman lain yang diperoleh anak itu, yaitu waktu ia membangun atau mengonstruksi hubungan-hubungan antara objek-objek. Sebagai contoh misalnya, anak yang sedang menghitung beberapa kelereng yang dimilikinya dan ia menemukan sepuluh kelereng. Konsep sepuluh bukannya sifat kelereng-kelereng itu, melainkan suatu konstruksi lain yang serupa, yang disebut pengalaman logika-matematika, untuk membedakannya dari pengalaman fisik. Proses konstruksi biasanya disebut abstraksi reflektif. Piaget membuat perbedaan penting antara abstraksi reflektif dan abstraksi empiris. Dalam abstraksi empiris, anak memperhatikan sifat fisik tertentu suatu benda dan tidak mengindahkan hal-hal yang lain. Misalnya waktu ia mengabstrak warna suatu benda, ia sama sekali tidak memperhatikan sifat-sifat yang lain, seperti massa dan bahan dasar benda itu. Sebaliknya, abstraksi reflektif melibatkan pembentukan hubungan-hubungan antara benda-benda. Hubungan itu seperti konsep sepuluh yang telah dikemukakan di atas, tidak terdapat pada kelereng mana pun, atau di mana saja di alam nyata ini. Sepuluh itu hanya terdapat dalam kepala anak yang sedang menghitung kelereng-kelereng itu. Mungkin lebih baik digunakan istilah abstraksi konstruktif daripada istilah abstraksi reflektif sebab istilah itu menunjukkan bahwa abstraksi itu merupakan suatu konstruksi sungguh-sungguh oleh pikiran.

4. Transmisi sosial
Pengetahuan yang diperoleh anak dari pengalaman fisik diabstraksi dari benda-benda fisik. Dalam hal pengalaman logika-matematika, pengetahuan dikonstruksi dari tindakan-tindakan anak terhadap benda-benda itu. Dalam transmisi sosial, pengetahuan itu datang dari orang lain. Pengaruh bahasa, instruksi formal, dan membaca, begitu pula interaksi dengan teman-teman dan orang-orang dewasa termasuk faktor transmisi sosial dan memegang peranan dalam perkembangan intelektual anak.

5. Pengaturan sendiri
Pengaturan sendiri atau ekuilibrasi adalah kemampuan untuk mencapai kembali keseimbangan (equilibrium) selama periode ketidakseimbangan (disequilibrium). Ekuilibrasi merupakan suatu proses untuk mencapai tingkat-tingkat berfungsi kognitif yang lebih tinggi melalui asimilasi dan akomodasi, tingkat demi tingkat.


Ket. klik warna biru untuk link


Sumber
Dahar, Ratna Wilis. 2006. Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Erlangga. Jakarta


Download

Baca Juga
1. Jean Piaget. Biografi Psikolog
2. Jean Piaget. Teori Perkembangan Kognitif
3. Jean Piaget. Perkembangan Kognitif
4. Jean Piaget. Tahap-Tahap Perkembangan Kognitif
5. Jean Piaget. Tahap Pemikiran Pra-Operasional
6. Jean Piaget. Tahap Operasi Berpikir Konkret
7. Jean Piaget. Tahap Operasi Berpikir Formal
8. Empirisme, Rasionalisme, dan Teori Jean Piaget
9. Jean Piaget. Perkembangan Intelektual
10. Jean Piaget. Tingkat Perkembangan Intelektual
11. Jean Piaget. Pengetahuan Fisik, Logika-Matematika, dan Sosial
Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Jean Piaget. Faktor-faktor yang Menunjang Perkembangan Intelektual"