Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Albert Ellis

Biografi Albert Ellis
Albert Ellis
Biografi Psikolog
Albert Ellis (1913-2007) adalah seorang psikolog Amerika yang pada tahun 1955 memperkenalkan rational emotive behavior therapy (terapi tindakan rasional emotif) atau biasa disingkat REBT. Ellis mendirikan sekaligus menjadi presiden pertama Albert Ellis Institute yang berbasis di New York. Ia sering disebut sebagai salah satu tokoh pencetus pergeseran paradigma revolusioner kognitif dalam psikoterapi sekaligus pencipta terapi perilaku kognitif. Berdasarkan survei pada tahun 1982, Ellis dianggap sebagai psikoterapis paling berpengaruh kedua di bawah Carl Rogers, tetapi melebihi Sigmund Freud.

Ellis yang berasal dari keluarga Yahudi lahir pada 27 September 1913 di Pittsburg, Pennsyvania, Amerika Serikat. Dia adalah anak tertua dari tiga bersaudara. Ayah Ellis berprofesi sebagai pengusaha yang sering melakukan perjalanan bisnis. Akibatnya, Ellis dan adik-adiknya kurang mendapatkan cukup kasih sayang. Sedangkan ibunya—sebagaimana dikatakan Ellis—adalah wanita egois dengan gangguan bipolar. Mirip dengan ayahnya, Ellis dan adik-adiknya tidak dekat secara emosional dengan sang ibu.

Karena kedua orang tuanya kurang perhatian, Ellis mengambil tanggung jawab untuk merawat saudara-saudaranya. Ia membelikan kebutuhan adik-adiknya dengan uang pribadi. Sehari-hari, ia membangunkan serta memakaikan baju adik-adiknya. Ketika depresi ekonomi parah melanda Amerika Serikat, Ellis dan adik-adiknya mencari pekerjaan untuk bertahan hidup.

Sejak masa kanak-kanak hingga remaja, Ellis sering menderita berbagai masalah kesehatan. Ia tercatat pernah mengalami sakit ginjal, tonsilitis (radang amandel), serta infeksi streptokokus. Adapun kelak di masa tuanya, Ellis menderita diabetes. Orang tuanya jarang menemani dan menghibur Ellis sehingga ia merasa sebagai anak sebatang kara. Menginjak usia remaja, Ellis masih takut berbicara di depan umum serta merasa malu apabila berhadapan dengan lawan jenis. Pada usia 19 tahun, demi mengusir penyakit psikis tersebut, Ellis memaksakan diri berbicara dengan 100 wanita di Bronx Botanical Gardens selama satu bulan. Melalui cara itu, ia dapat mengusir ketakutannya.

Ellis mendapat gelar Bachelor of Arts di bidang bisnis dari City College of New York Downtown pada tahun 1934. Sambil menjalani kuliah, ia memulai karier di bidang bisnis serta belajar menjadi penulis. Namun, bisnis Ellis bangkrut dan ia tidak berhasil menulis satu pun karya fiksi. Ia pun meninggalkan dunia bisnis dan beralih menulis karya nonfiksi. Ternyata, hasilnya cukup baik. Kemudian Ellis meneliti dan menulis tema seksualitas manusia. Dari sinilah ia memantapkan diri untuk mendalami dan berkarier di bidang psikologi klinis.

Pada tahun 1942, Ellis mengejar gelar Ph.D. dalam bidang psikologi klinis di Teachers College, Columbia University. Sembari kuliah, ia membuka praktik konseling psikoanalisis di tempat tinggalnya. Pada tahun 1946, Ellis menerbitkan artikel penelitiannya mengenai tes kepribadian. Setahun kemudian, ia berhasil menyelesaikan studi sekaligus berhak menyandang gelar Ph.D.

Ketika itu, Ellis percaya sepenuhnya bahwa psikoanalisis adalah bentuk terapi paling efektif. Ia benar-benar mengagumi sosok dan pemikiran Sigmund Freud. Selain itu, Ellis pun mulai mempelajari teori psikoanalisis Carl Jung dan bawah pengawasan Richard Huelsenbeck, yaitu seorang analis psikologi terkemuka. Ellis diangkat menjadi dosen di New York University, Rutgers University, serta Pittsburg State University.

Seiring berjalannya waktu, kepercayaan Ellis terhadap psikoanalisis secara bertahap runtuh. Sejak akhir dekade 1940-an dan seterusnya, Ellis beralih mengerjakan REBT (rational emotive behavioral therapy). Pada bulan Januari 1953, ia benar-benar meninggalkan psikoanalisis secara total. Pada tahun 1955, ia memformulasikan rational therapy (RT) atau terapi rasional. Di dalam RT, terapis berusaha membantu klien memahami—serta bertindak atas pemahaman bahwa—keyakinannya memberikan kontribusi terhadap penyakit emosional. Pendekatan baru ini menekankan kerja aktif untuk mengubah keyakinan dan perilaku yang merugikan klien dengan jalan menunjukkan sisi irasionalitas, kekalahan, serta kekakuan dirinya.

Pada periode 1954-1957, Ellis mengerjakan teori terapi perilaku kognitif. Teknik terapi baru ini menawarkan alternatif untuk mengobati masalah emosional dan perilaku klien, yakni terapis mesti membantu klien menyesuaikan pikiran dan perilakunya. Memasuki dekade 1960-an, metode Ellis tersebut semakin dikenal sehingga ia diundang ke berbagai perguruan tinggi untuk menyampaikan presentasi. Sebelumnya, pada tahun 1959, Ellis mendirikan lembaga nonprofit The Institute for rational Living. Pada tahun 1968, lembaga itu disewa oleh pemerintah kota New York sebagai tempat pelatihan dan klinik psikologi.

Ellis dianggap sebagai salah seorang pendiri revolusi seksual Amerika berkat karyanya dalam tema seks dan cinta. Pandangannya terhadap dua tema tersebut bersifat liberal. Menurut Ellis, pembatasan agama pada ekspresi seksual sering kali diperlukan. Namun, hal itu sebenarnya berbahaya bagi kesehatan emosional. Ellis juga dikenal karena memandang agama sering memberikan kontribusi besar terhadap tekanan psikologis. Dalam konteks homoseksualitas, meskipun dilarang oleh agama, bagi Ellis hal itu bukan termasuk penyakit psikis. Secara terang-terangan, Ellis menyatakan bahwa ateisme merupakan pendekatan paling sehat secara emosional untuk terus hidup. Karena pandangan humanisme nonteistik tersebut, pada tahun 1971 ia diberi gelar Humanis of the Year oleh American Humanist Association.

Ellis biasanya bekerja sedikitnya 16 jam sehari. Aktivitas hariannya termasuk menulis buku, mengunjungi klien, serta mengajar. Pada ulang tahunnya yang ke-90, ia menerima ucapan selamat dari tokoh-tokoh seperti George W. Bush, Charles Schumer, Hillary Clinton, Bill Clinton, Michael Bloomberg, serta Dalai Lama. Pada tahun 2004, Ellis sempat menderita usus yang serius. Namun, ia kembali bekerja setelah beberapa bulan menjalani perawatan. Pada tahun 2005, ia dibebaskan dari semua tugas formal. Setahun kemudian, Ellis didiagnosis menderita pneumonia. Ia harus menjalani perawatan setiap hari. Namun demikian, Ellis tidak pernah berhenti bekerja berkat dukungan istrinya, yaitu psikolog Australia bernama Debbie Joffe Ellis.

Ellis akhirnya meninggal pada 24 Juli 2007. Sepanjang hidupnya, Ellis telah menulis lebih dari 80 buku dan 1200 artikel, termasuk 800 karya ilmiah. Ia meninggal pada usia 93 tahun. Dalam pidatonya, mantan presiden American Psychology Association, Frank Farley memuji Ellis dengan berkata, Psikologi hanya ditempati oleh segelintir tokoh legendaris yang tidak hanya menaruh perhatian terhadap banyak disiplin, tetapi juga menerima pengakuan tinggi dari masyarakat. Albert Ellis adalah salah satu dari sedikit tokoh itu. Orisinalitas, ide-ide, dan kepribadian provokatifnya dikenal di dalam dan di luar ilmu psikologi. Dalam ranah psikoterapi, ia ibarat seorang raksasa.

Banyak mazhab psikologi dipengaruhi oleh karya Ellis. Teori terapi kognitif yang dirumuskan Aaron T. Beck serta perilaku rasional yang diciptakan oleh Maxie Clarence Maultsby Jr. adalah sedikit mazhab psikologi yang dipengaruhi pemikiran Ellis. Tidak hanya itu, karya-karya Ellis juga memengaruhi bidang ilmu lain, seperti pendidikan, politik, bisnis, dan filsafat.

Dalam sebuah survei yang dilakukan pada tahun 1982, rata-rata para psikolog klinis dan konselor di Amerika Serikat dan Kanada lebih dipengaruhi oleh Ellis daripada Freud. Di tahun itu pula dalam analisis jurnal psikologi yang diterbitkan di AS, Ellis disebut-sebut sebagai penulis yang paling banyak dikutip sejak tahun 1957. Pada pertengahan dekade 1990-an, Ellis menyempurnakan metode terapinya dengan nama rational emotive behavioral therapy (REBT) atau terapi tindakan rasional emotif.


Ket. klik warna biru untuk link


Sumber
Irawan, Eka Nova. 2015. Pemikiran Tokoh-tokoh Psikologi; dari Klasik sampai Modern. IrcisoD. Yogyakarta


Download

Baca Juga
Albert Ellis. Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT)
Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Albert Ellis"