Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hasan Hanafi. Esensi Islam

Esensi Islam Hasan Hanafi
Hasan Hanafi
Meskipun Islam salah satu agama yang ada di dunia, istilah agama tidak sepenuhnya cocok bagi Islam. Dalam hampir semua kamus, istilah agama mengacu pada area pengetahuan tentang supernatural, magis, ritual, kepercayaan, dogma dan institusi (seperti dalam Islam shalat, zakat, puasa, pent.). Semua komponen dalam definisi ini lebih berkaitan dengan agama-agama manusia (popular religions) secara umum, tetapi semua itu sama sekali tidak relevan dengan esensi agama Islam. Definisi tersebut mungkin lebih memiliki kaitan dengan data agama tertentu dari Yahudi-Kristen atau agama asli orang Asia, atau beberapa agama Afrika, kepercayaan yang ada di Amerika dan Australia. Agama-agama ini merupakan data untuk analisis mata kuliah sejarah agama dan kajian perkembangan agama dalam sejarah. Agama-agama ini secara kasat mata dihadirkan oleh sejarah agama dan sosiologi agama, yang keduanya sekarang melebur ke dalam antropologi.
 
Istilah yang paling tepat untuk Islam adalah Etika, Kemanusiaan dan ilmu sosial atau ideologi. Islam benar-benar merupakan deskripsi seorang manusia dalam masyarakat, kebutuhan primernya, komitmen moralnya dan aksi sosialnya. Islam juga dapat dilihat sebagai sebuah sistem ide yang muncul dari pengalaman sejarah yang panjang, yakni munculnya wahyu dalam sejarah, disahkan dalam realitas dan disesuaikan kembali selaras dengan kemampuan manusia. Dikarenakan tidak ada masyarakat yang hadir tanpa pendelegasian kekuasaan, yakni negara, Islam menghadirkan dirinya sebagai teori sosial politik bagi masyarakat atau ideologi politik bagi negara. Itulah mengapa sistem keyakinan dalam Islam merupakan sebuah sistem nilai. Keyakinannya tidak berlandaskan pada fakta sejarah namun benar-benar merupakan kitab undang-undang perilaku (code of behavior). Keunggulannya bukan datang dari fakta material atau institusi-institusi agama yang ia miliki namun pada fondasinya bagi kehidupan manusia. Itulah mengapa Islam lebih mudah diperbandingkan dengan sosialisme, kapitalisme, marxisme, nasionalisme, liberalisme dan demokrasi populer daripada dengan agama-agama yang lain dalam pengertiannya yang biasa. Islam dapat dipahami dan dikaji oleh semua manusia tanpa melihat latar belakang afiliasi agama mereka.

Esensi agama Islam merupakan basis bagi sifat universal yang dimilikinya, dan ini merupakan basis bagi etika global Islam. Islam hanya merupakan sebuah tahap final dari perjalanan wahyu dalam sejarah, mulai dari Adam sampai Isa. Esensi dari wahyu sudah dideklarasikan dalam Islam, yakni transendensi Tuhan, yang diimplementasikan dalam sejarah oleh pengalaman manusia. Semua tahap pewahyuan yang terdahulu memiliki tujuan yang sama yakni “membebaskan kesadaran manusia dari semua penindasan manusia, sosial dan alam agar mampu menemukan transendensi Tuhan, yakni bergabungnya semua umat manusia salam Satu Prinsip Universal. Tahap yang terjadi berturut-turut hanya berbeda pada tataran skema, bahasa, dan penerapannya. Citra Tuhan sebagai suatu kekuatan yang melebihi segalanya (super-natural) dimaksudkan untuk membebaskan semua masyarakat tertindas dari kesewenang-wenangan absolut seperti Fir’aun. Dengan demikian, kesatuan wahyu, meskipun berbeda fase sejarahnya, meletakkan landasan bagi adanya kesatuan esensi dan tujuan Islam, meski masing-masing fase memiliki perbedaan citra, persepsi, dan ritual sebagai bentuk-bentuk aksinya. Meski begitu, Islam adalah satu-satunya agama yang mengakui semua wahyu yang terdahulu seperti wahyu atas Yahudi dan Kristen. Wahyu agama Yahudi berhenti tidak lama sebelum Kristen, dan ia membantah pewahyuan dalam Kristen dan Islam. Wahyu Kristen berhenti tidak lama setelah Isa al-Masih, dan ia pun membantah pewahyuan dalam Islam. Islam tidak membantah tahap-tahap pewahyuan sebelumnya. Bahkan agama-agama natural, yang tidak berakar pada wahyu Ibrahim, juga merupakan bagian dari wahyu universal, sebab tidak ada masyarakat yang hadir tanpa mendapatkan wahyu. Oleh karena itu hanya Islam yang membawa wahyu universal. Dengan Islam, pengakuan akan masa lalu akhirnya melahirkan hubungan timbal balik pada masa kini dan bersama-sama menuju masa depan.

Wahyu dalam Islam merupakan keputusan akal (dictum of reason). Ia bukan anti-rasional, irasional atau super-rasional. Akal merupakan elemen yang paling umum dimiliki oleh semua manusia. Akal mampu menganalisis hal-hal yang rumit, menguraikannya ke dalam beberapa hal yang sederhana. Manusia dapat berkomunikasi dengan orang lain menuju pada pemahaman yang bersifat umum dan bahkan kesepakatan yang umum. Hal ini dikarenakan akal bersifat umum di antara semua manusia dan akal mampu mendapatkan norma umum dan universal. Aksioma (pernyataan yang dapat diterima tanpa pembuktian, pent.) juga merupakan dictum of reason, persis seperti nilai yang mampu memerintah perilaku. Bukti rasional, subjek, kebaikan alami, dan objek adalah cukup.

Wahyu dalam Islam juga merupakan keputusan alam (dictum of natural). Islam merupakan agama natural (religio Naturalis) yang lebih baik dibanding dengan agama yang sejenis (par Exellence). Islam tidak membebankan peraturan eksternal apa pun yang membebani alam dan tidak mengecilkan resistensi dan kreativitas kekuatan-kekuatan alam. Alam menikmati kecocokan tertentu, tidak hanya dalam hal fisik yang berkaitan dengan hukum alam tapi juga etika yang berkaitan dengan norma-norma perilaku manusia. Tidak diragukan lagi, sifat dasar manusia berkembang. Meski demikian, Islam mengandung elemen yang permanen, sebuah rangkaian kesatuan (continuum) sepanjang sejarah. Antara yang dianggap manusia primitif dan manusia beradab ada perubahan dan juga kontinuitas, ada perbedaan dan juga identitas. Etika Global dan solidaritas Kemanusiaan mempresentasikan elemen yang terus berlanjut dalam sifat dasar manusia, sebuah struktur permanen yang mengungkapkan dirinya dalam dan sepanjang proses perkembangan.

Akhirnya, Islam sejak kelahirannya memberikan identitas yang komplit di antara individu, komunitas dan interkomunitas, dan di antara kepentingan besar dan kesejahteraan umum. Inisiatif dan kreativitas individu didorong oleh Islam. Komitmen dan tuntutan sosial dipelihara secara serentak. Interkomunitas, kesetaraan dan kerja sama di antara masyarakat juga ditegaskan oleh Islam. Kesatuan antara individu, komunitas dan interkomunitas merupakan gambaran dari Prinsip Universal yang menyatukan semua komunitas dalam satu kemanusiaan. Kesatuan dalam kebhinekaan, identitas dan perbedaan keduanya adalah dua kutub dari realitas yang sama.


Ket. klik warna biru untuk link


Sumber
Hasan Hanafi. 2007. Islam dan Humanisme; Aktualisasi Humanisme Islam di Tengah Krisis Humanisme Universal. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
 


Download

Baca Juga
1. Hasan Hanafi. Sekilas Biografi Pemikiran dan Karya
2. Hasan Hanafi. Pemikiran dan Karya
3. Hasan Hanafi. Islam sebagai Sebuah Prinsip Universal: Transendensi
4. Hasan Hanafi. Islam sebagai Sebuah Kode Etik Universal: Perilaku yang Baik
5. Hasan Hanafi. Islam sebagai Sebuah Aksi yang Menyatu bagi Kelangsungan Hidup Manusia 
Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Hasan Hanafi. Esensi Islam"