Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kunci Filsafat Mulla Shadra

Kunci Filsafat Mulla Shadra
Mulla Shadra
Untuk mencapai derajat hikmah muta’aliyyah sebagai ajaran poko Mulla Shadra, Shadra menawarkan empat hierarki kesempurnaan akal yang juga menggambarkan gerakan konstan-vertikal dalam skala wujud atau perubahan substantif menuju kesempurnaan pengetahuan, juga sebagai dasar pemikiran filosofisnya, yaitu sebagai berikut.
1. Perjalanan yang dimulai dari makhluk menuju hakikat kebenaran pencipta dengan melepas tabir kegelapan dan cahaya yang menghalangi seorang salik dan hakikat rohaninya. Dapat dikatakan pula suatu perjalanan dari maqam nafsu menuju maqam hati, dan dari maqam hati menuju maqam ruh dan dari maqam ruh menuju maqam terakhir al-maqshad at-aqsha dan pencapaian tertinggi yang disebut al-bahjat at-kubra. Pada umumnya, maqam manusia terdiri atas tiga hal ini. Apabila tabir-tabir tersebut telah terbuka, seorang salik akan menghadirkan maqam fana dan baqa di dalam dzat-Nya. Di sinilah terbuka rahasia-rahasia yang tersembunyi dan yang paling tersembunyi. Pada hierarki ini seorang salik hanya terpana melihat keagungan dan kebesaran Allah. Kesadaran akan kebesaran Tuhan muncul dan menyadari bahwa apa yang selain-Nya adalah nisbi dan sangat kecil. Inilah yang disebut dengan perjalanan dari makhluq menuju ma’rifat. Hierarki pertama ini juga mendeskripsikan prinsip umum; jauhar (substansi) dan aksiden, keduanya saling berkait.

2. Perjalanan ini dinamakan perjalanan yang berawal dari hakikat menuju hakikat dengan hakikat. Pada tingkatan ini, seorang salik menjadi seorang wali. Kewujudannya adalah benar, bukan keraguan. Ia mengawali perjalanannya dari maqam dzat menuju maqam kamalat dan hadir dalam kesempurnaan Tuhan. Ia mengetahui nama-nama-Nya, kecuali yang bukan kawasannya. Sifat dan tindakannya menjadi fana’ dalam dzat-Nya, sifat dan tindakan Tuhan. Ia mendengar dengan pendengaran Tuhan, melihat dengan penglihatan-Nya, berjalan dengan bantuan-Nya, dan bertindak dengan tindakan-Nya. Sirr menjadi ke-fana-an dzatnya, dapat juga akhir dari perjalanan pertama dan awal dari perjalanan kedua, khafa’ menjadi ter-fana’ dalam sifat dan tindakannya, bahkan fana dalam uluhiyyah-Nya, ikhtifa’ atau paling tersembunyi, terhapus oleh ke-fana’-an dua hal tadi, akhfa adalah fana’ dalam dua hal yang awal. Sampai di sini sampailah kepada dairat at-wilayah, berakhirlah perjalanan kedua.

Hieraki ini membawa seorang salik menyaksikan bahwa ilmu Allah, kuasa-Nya, hidup-Nya, dengar-Nya, lihat-Nya, kata-kata-Nya adalah bagian dari kesempurnaan sifatnya. Ini adalah taraf dari hakikat menuju hakikat dengan hakikat. Hierarki ini juga mengidentifikasi bukti dzat Tuhan dan melalui posisi dzat-Nya akan membuktikan sifat dan tindakan-Nya.

3. Dari hakikat kepada makhluq dengan hakikat. Pada perjalanan ini ke-fana’-annya berakhir dan mulailah ia kekal melalui kekekalan (baqa’) Tuhan. Ia menempuh perjalanan dengan hierarki jabarut, malakut, dan nasut. Ia melihat semua yang ada di alam ini secara esensial. Ia juga mengecap nikmat kenabian dan memperoleh ilmu alam ketuhanan melalui dzat, sifat, dan tindakan-Nya. Ia bukan nabi, tetapi mengikuti peraturan nabi dan mematuhi nabi. Sampai di sini perjalanan ketiga. Perjalanan ketiga ini menguatkan keyakinan salik terhadap pemeliharaan-Nya terhadap apa yang Dia ciptakan, tauhid dan kesatuan dalam perlakuan-Nya dan kesempurnaan-Nya. Kini semuanya menjadi nyata di mata seorang salik yang menikmati hierarki terendah hingga yang tertinggi dan berakhir di alam malakut dan jabarut. Tingkatan ketiga ini adalah pembuktian Shadra yang menjustifikasi adanya substansi atau jauhar yang bersifat ruhani dan jiwa individual.

4. Perjalanan ini adalah perjalanan dari makhluk menuju makhluk dengan hakikat. Ia meneliti makhluk, mengetahui sisi hitam dan putihnya, zahir dan batin-nya, di dunia ini dan di dunia yang akan datang, kebahagiaan dan siksaan, perhitungan dan mizan. Ia menyadari bahwa semuanya akan kembali kepada-Nya. Hieraki ini mengidentifikasi eksistensi jiwa dan apa yang akan dialaminya kelak di hari akhir. Kitab asfar adalah hierarki pengembaraan akal, kesempurnaannya adalah pencapaian hierarki keempat. Pengembaraan ini juga merekonstruksi akal agar terlepas dari ketidaksempurnaan, atau sebagai “katarsis” pemikiran menuju ketuhanan, dan kembali menuju kejadian dengan pandangan metafisikal.

Mulla Shadra bukan sekedar filsuf paling terkenal selama enam abad terakhir. Bagi sebagian orang, ia dianggap setara dengan Ibnu Sina dan Al-Farabi, bahkan melampaui keduanya. Meskipun menguasai semua mazhab filsafat pada zamannya (Peripatetik, Iluminasionisme, Teologi Islam dan ‘Irfan), ia tidak pernah secara total dipengaruhi semuanya dan meretas mazhab filsafatnya sendiri, yakni filsafat transenden (al-hikmah al-muta’aliyah). Ia mengkritik semua titik lemah yang disuguhkan oleh filsuf agung sebelumnya dan mencoba menyajikan sejumlah pemecahan filosofis atas masalah-masalah tersebut.

Hal itu terbukti bahwa Mulla Shadra sebagai seorang filsuf Muslim yang cukup produktif, kreatif, dan orisinal dengan karyanya yang begitu banyak, mencakup berbagai bidang pemikiran Islam yang ditulis, baik dengan bahasa Arab maupun Persia. Dari semua karyanya, Al-Hikmah Al-Muta’alliyah Fi Asfar Al-‘Aqliyah Al-Arba’ah adalah karyanya yang terbesar.

Pengaruh pemikirannya merambah ke berbagai belahan dunia Islam lainnya, seperti Iran, Irak, India, dan Pakistan. Bahkan, Al-Maududi menerjemahkan secara khusus kitab Al-Asfar Mulla Shadra. Terakhir, pemikir Islam yang concern terhadap filsafat Mulla Shadra adalah Fazlur Rahman dengan bukunya The Philosophy of Mulla Shadra.


Ket. klik warna biru untuk link
 
Sumber
Hasan, Mustofa. 2015. Sejarah Filsafat Islam; Genealogi dan Transmisi Filsafat Timur ke Barat. Pustaka Setia. Bandung
 

Download

Baca Juga
1. Mulla Shadra. Riwayat Hidup
2. Mulla Shadra. Karya Filsafat
3. Mulla Shadra. Pemikiran Filsafat
4. Mulla Shadra. Kebangkitan Jasmani
5. Mulla Shadra. Pemikiran Teologis 
6. Mulla Shadra. Dasar-Dasar Filsafat Hikmah
Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Kunci Filsafat Mulla Shadra"