Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Emmanuel Levinas

Biografi Emmanuel Levinas
Emmanuel Levinas
Emmanuel Levinas lahir pada tahun 1906 di Kaunas, Lithuania, dalam keluarga keturunan Yahudi. Lithuania pada waktu itu termasuk Rusia di bawah pemerintahan Tsar dan merupakan daerah di mana agama Yahudi dan studi Talmud berakar kuat. Bahasa Rusia adalah bahasa ibu baginya. Levinas sendiri bercerita bahwa ia dibesarkan dengan Alkitab Ibrani dan pengarang-pengarang klasik Rusia, Tolstoi, dan Puschkin. Beberapa tahun lamanya ia disekolahkan di daerah Ukraina di mana ia menyaksikan peristiwa-peristiwa sekitar revolusi Rusia (1917), tetapi ia menyelesaikan sekolah menengah di tempat asalnya, Kaunas.

Tahun 1923 ia mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di Universitas Strasbourg di Prancis. Ia merasa sangat terkesan karena suasana intelektual dan kultural di sana. Tentang Prancis dikatakanya: Orang dapat melekat diri pada bangsa ini dengan hati dan budi sama seperti karena asal-usul. Tahun 1930 ia memperoleh kewarganegaraan Prancis. Sebagai pengarang ia menulis bahasa Prancis yang baik dan bermutu, sehingga para pembaca tidak mengira lagi bahwa filsuf Prancis ini sebenarnya berasal dari luar negeri.

Tahun 1928/29 selama dua semester ia belajar pada Husserl di Freburg-im-Breisgau dan sempat menyaksikan juga sukses besar Heidegger sebagai profesor muda, yang menggantikan Husserl pada akhir musim dingin 1928/29. Tahun 1929 ia menulis artikel panjang tentang buku Husserl yang dikenal sebagai Ideen I. Pada tahun yang sama ia menerjemahkan karya Husserl yang berjudul Cartesianische Meditationen (Meditasi-meditasi gaya Descartes) ke dalam bahasa Prancis. Ia menyelesaikan studinya pada Universitas Sorbonne di Paris dengan disertasi La theorie de I’intuition dans la phenomenologie de Husserl (1930) (Teori tentang Intuisi dan fenomenologi Husserl). Karena karangan-karangan tersebut ia berjasa dalam memperkenalkan fenomenologi Husserl di Prancis. Di antara para sahabatnya yang pantas disebut Jean Wahl, profesor Sorbonne dan keturunan Yahudi, dan pengarang serta kritikus sastra yang bernama Maurice Blanchot. Pada waktu itu pula ia mengikuti pertemuan-pertemuan antara filsuf-filsuf muda yang diselenggarakan oleh Gabriel Marcel setiap Sabtu sore.

Menjelang Perang Dunia II Levinas dipanggil masuk ketentaraan Prancis dan dari tahun 1940 sampai akhir perang ia tinggal di Jerman sebagai tahanan perang, antara lain dalam kamp nr. 1492 yang dikhususkan bagi tahanan-tahanan perang keturunan Yahudi. Pengalaman di tahanan itu, bersama dengan semua kejadian sekitar Nazisme, khususnya pembantaian massal terhadap jutaan orang Yahudi (termasuk sanak saudaranya di Lithuania) meninggalkan luka-luka pedas dalam jiwa Levinas, seperti halnya dengan sekian banyak orang Yahudi lain yang sempat selamat sesudah Perang Dunia II. Pada waktu itu Yesaya 53 menjadi kenyataan, kata levinas. Dalam karangan-karangannya kerap kali ia mengingatkan pada pengalaman pahit itu. Buku kecil De I’existence a I’existants (1947) (dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai Existence and existents), sebagian besar ditulis dalam tahanan. Dalam buku kecil ini sudah tampak pikiran-pikiran original yang akan dikembangkan di kemudian hari. Tidak kalah penting adalah serangkaian ceramah yang dengan judul Le temps et I’autre (Waktu dan Yang lain) diterbitkan oleh Jean Wahl dalam suatu publikasi kolektif.

Seusai perang, Levinas menjadi direktur Ecole normale Israelite orientale yang mendidik guru-guru bahasa Prancis bagi sekolah-sekolah Yahudi di kawasan Laut Tengah. Baru pada waktu itu ia mulai memperdalam pengetahuannya tentang Talmud dan memberikan ceramah-ceramah tentang penafsiran Talmud kepada himpunan sarjana-sarjana Yahudi di Prancis. Uraian-uraian tentang Talmud itu telah dikumpulkan dalam beberapa buku. Karangan-karangan kecil tentang agama dan kebudayaan Yahudi dikumpulkan dalam buku Difficile liberte (1963) (Kebebasan penuh kesukaran); pada tahun 1976 terbit edisi kedua dengan berbagai perubahan dan tambahan.

Kendati segala kesibukan ini perhatiannya akan filsafat tidak berkurang. Sejak 1947 ia memberi ceramah-ceramah pada Institut Filsafat yang didirikan oleh Jean Wahl dan mengajar filsafat di suatu pusat pembinaan Yahudi yang dipimpin oleh dia sendiri. Pada tahun 1949 ia mengumpulkan sejumlah artikel dalam buku berjudul En decouvrant I’existence avec Husserl et Heidegger (Menemukan eksistensi bersama Husserl dan Heidegger); pada tahun 1967 buku ini diterbitkan kembali dengan tambahan beberapa artikel baru. Pada tahun 1961 terbit bukunya Totalite et infini (Totalitas dan Tak Berhingga) yang secara umum disambut sebagai karya filosofis yang sangat original dan segera mengakibatkan nama Levinas mulai dikenal pada taraf internasional. Berdasarkan buku ini ia memperoleh gelar doktor negara; karangan-karangannya sebelum Totalitas dan tak berhingga diterima sebagai tesis tambahan. Pada tahun yang sama—jadi, ketika sudah 55 tahun usianya—ia diangkat sebagai profesor di Poitiers. Tahun 1967 ia dipanggil ke Paris untuk menjadi profesor di Universitas Paris X di Nanterre. Tahun 1973 ia diangkat menjadi profesor di Sorbonne sampai masa pensiunnya (1976).

Pada tahun 1972 Levinas menerbitkan lagi Huamanisme de I’autre homme (Humanisme manusia lain), kumpulan sejumlah artikel yang ditulis antara tahun 1964 dan 1970. Karyanya yang paling penting sesudah Totalitas dan tak berhingga adalah Autrement qu’etre ou au-dela de I’essence (1974) (Lain daripada Ada atau di Seberang Esensi). Buku ini dipersembahkan kepada kenalan-kenalan di antara enam juta orang Yahudi yang dibunuh oleh nasional-sosialisme. Suatu buku yang mengumpulkan berbagai studi tentang sahabatnya sejak si Strasbourg, Blanchot, terbit dengan judul Sur Maurice Blanchot (1975) (Tentang Maurice Blanchot). Dan buku Noms propres (1976) (Nama-nama Diri) menyajikan sejumlah karangan kecil tentang filsuf-filsuf, pengarang-pengarang dan penyair-penyair yang dikagumi Levinas. Buku De Dieu qui vient a I’idee (1982) (Tentang Allah yang sampai pada pikiran) mengumpulkan berbagai artikel yang menyangkut masalah ketuhanan. Akhirnya buku kecil Ethique et infini (1982) (Etika dan Tak Berhingga) berisikan sepuluh wawancara dengan Philippe Nemo yang pernah disiarkan oleh Radio Prancis dan memberi suatu tinjauan umum tentang pemikiran Levinas dalam bentuk agak populer.

Emmanuel Levinas meninggal dunia pada tanggal 25 Desember 1995.


Ket. klik warna biru untuk link


Sumber
Bertens. K. 2001. Filsafat Barat Kontemporer; Prancis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta


Download

Baca Juga
1. Emmanuel Levinas. Pemikiran Filosofis
2. Emmanuel Levinas. Metafisika tentang "Yang Lain"
Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Emmanuel Levinas"