Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Teori Sosiologis Amerika. Perkembangan Teori Konflik

Teori Sosiologis Amerika Perkembangan Teori Konflik
Teori Sosiologi
Pendahulu lainnya bagi penyatuan sejati Marxisme dan teori sosiologis adalah pengembangan teori-konflik untuk menggantikan fungsionalisme struktural. Tidak lama setelah memegang posisi kepemimpinan di dalam teori sosiologis, fungsionalisme struktural segera mendapat serangan yang terus meningkat. Serangan-serangan datang dari banyak segi: fungsionalisme struktural dituduh secara politis konservatif, tidak mampu menangani perubahan sosial karena berfokus pada struktur-struktur yang statis, dan tidak mampu menganalisis konflik secara memadai.

Salah satu hasil dari berbagai kritik itu ialah munculnya usaha sejumlah sosiolog untuk mengatasi masalah-masalah fungsionalisme struktural dengan memadukan perhatian kepada struktur dengan perhatian kepada konflik. Usaha tersebut merupakan pengembangan teori konflik sebagai suatu alternatif bagi teori fungsionalisme struktural. Sayangnya, usaha itu sering terlihat tidak lebih dari bayangan terbalik fungsionalisme struktural yang memiliki sedikit integritas intelektual.

Usaha pertama yang patut diperhatikan adalah buku karya Lewis Coser (1956) mengenai fungsi-fungsi konflik sosial (Delaney, 2005a; Jaworsky, 1991). Karya tersebut mencoba menangani konflik sosial dari dalam kerangka pandangan dunia fungsional-struktural. Meskipun karya itu bermanfaat untuk melihat fungsi-fungsi konflik, ia lebih banyak mengandung studi konflik daripada analisis atas fungsi-fungsi positifnya.

Masalah terbesar dengan sebagian besar teori konflik ialah teori itu kekurangan hal yang paling dibutuhkan—dasar yang kuat di dalam teori Marxian. Bagaimanapun juga, teori Marxian berkembang dengan baik di luar sosiologi dan harus memberikan suatu landasan bagi pengembangan teori konflik sosiologis yang canggih. Perkecualian di sini ialah karya Ralf Dahrendorf (1929-2009).

Dahrendorf adalah seorang sarjana Eropa yang paham betul teori Marxian. Dia berusaha menancapkan teori konfliknya di dalam tradisi Marxian. Akan tetapi, pada akhirnya teori konfliknya tampak lebih mirip sebagai bayangan terbalik fungsionalisme struktural daripada sebagai teori konflik Marxian. Karya utama Dahrendorf, Class and Class Conflict in Industrial Society (1959), adalah bagian paling berpengaruh di dalam teori konflik, tetapi sebagian besar karena kedengaran begitu mirip dengan fungsionalisme struktural yang cocok dengan para sosiolog arus utama. Yakni, Dahrendorf bekerja pada level analisis yang sama dengan para fungsionalis struktural (struktur-struktur dan lembaga-lembaga) dan memerhatikan banyak isu yang sama. Dengan kata lain, fungsionalisme struktural dan teori konflik adalah bagian paradigma yang sama). Dahrendorf mengakui bahwa meskipun aspek-aspek sistem sosial dapat dicocokkan dengan agak rapi, tetap ada konflik dan ketegangan yang besar di antaranya.

Pada akhirnya, teori konflik harus dilihat tidak lebih dari perkembangan peralihan dalam sejarah teori sosiologi. Teori itu gagal karena tidak beranjak cukup jauh memasuki arah teori Marxian. Masih terlalu dini pada 1950-an dan 1960-an bagi sosiologi Amerika untuk menerima pendekatan Marxian yang lengkap. Akan tetapi, teori konflik sangat membantu dalam mempersiapkan panggung untuk permulaan penerimaan itu menjelang akhir 1960-an.


Ket. klik warna biru untuk link

Sumber.
Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi; Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.


Biografi, Pemikiran, dan Karya Tokoh Terkait
1. Lewis A. Coser
2. Ralf Dahrendorf

Baca Juga
Fungsionalisme Struktural

Download
Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Teori Sosiologis Amerika. Perkembangan Teori Konflik"