Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Fasisme

Konsep fasisme atau facism adalah nama pengorganisasian pemerintahan dan masyarakat secara totaliter oleh kediktatoran partai tunggal yang sangat memiliki rasa nasionalis yang sempit, rasialis, militeristis, dan imperialis (Ebestein dan Fogelman, 1990:114). Di Eropa, Italia merupakan negara pertama yang menjadi fasis pada tahun 1922 di bawah pimpinan Benito Mussolini, menyusul Jerman tahun 1933 di bawah pimpinan Adolf Hitler, kemudian Spanyol tahun 1936 diinspirasi oleh ajaran-ajaran mikhael Bakunin.
Dilihat dari latar belakangnya, lahirnya fasisme tidak lepas dari tradisi otoriter yang mendominasi selama beberapa abad lamanya, sedangkan gerakan-gerakan demokrasi di negara itu menjadi rapuh. Sementara itu, sikap kepatuhan dan penyerahan diri rakyat kepada pemimpin demikian tinggi kepercayaannya. Dengan mudah penyelesaian para diktator totaliter ini adalah mengarahkan atau menyalurkan rasa permusuhan yang laten dari rakyat untuk melawan musuh-musuh yang nyata ataupun yang imajiner (Ebestein dan Fogelman, 1990:115).


Keunikan Fasisme pun terletak pada pertentangannya terhadap semua sektor politik yang ada, baik itu yang ada di sayap kanan, sayap kiri maupun tengah. Sifat antiliberal, antikomunis, ada pula yang sifatnya antisosialis yang sering disebut sebagai gerakan demokratis sosial, serta antikonservatif meskipun para pendukung gerakan fasis ini bersedia mengadakan persekutuan sementara dengan kelompok-kelompok lain, khususnya dengan sayap kanan. Keunikan lainnya adalah dalam gaya operasi organisnya. Mereka sangat mementingkan struktur estetis, simbol-simbol koreografi politik, dan berbagai aspek romantik dan mistis lainnya. Gerakan fasis selalu berusaha memanfaatkan mobilisasi massa, yang selanjutnya akan disokong oleh militerisasi hubungan-hubungan politik demi menciptakan suatu partai yang militan. Tidak seperti golongan radikal lainnya, kaum fasis memberi penilaian positif terhadap penggunaan kekerasan, mereka sangat mengagung-agungkan prinsip maskulinitas dan dominasi kaum pria. Meskipun mereka menghendaki adanya masyarakat yang serba egaliter, mereka tetap menganggap perlu adanya elite khusus yang berhak mengatur semua sektor kehidupan yang sepenuhnya berkuasa terhadap masyarakat. Dalam hal ini, kepemimpinan fasisme cenderung kepada kepemimpinan yang otoriter, kharismatik, dan bergaya personal (Payne, 2000: 347).


Ket. klik warna biru untuk link

Download

Sumber
Supardan, Dadang. 2008. Pengantar Ilmu Sosial; Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Bumi Aksara. Jakarta


Materi Sosiologi SMA
1. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 2. Modernisasi dan Globalisasi (KTSP)
2. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 2. Globalisasi dan Perubahan Komunitas Lokal (Kurikulum 2013)
3. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 2.1 Globalisasi dan Perubahan Komunitas Lokal (Kurikulum 2013)
4. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 2.2 Globalisasi dan Perubahan Komunitas Lokal (Kurikulum 2013)
5. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 2.3 Globalisasi dan Perubahan Komunitas Lokal (Kurikulum 2013)
6. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 2.1 Globalisasi dan Perubahan Komunitas Lokal (Kurikulum Revisi 2016)
7. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 2.2 Globalisasi dan Perubahan Komunitas Lokal (Kurikulum Revisi 2016)
8. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 2.3 Globalisasi dan Perubahan Komunitas Lokal (Kurikulum Revisi 2016)
9. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 2.4 Globalisasi dan Perubahan Komunitas Lokal (Kurikulum Revisi 2016)
10. Materi Ujian Nasional Kompetensi Globalisasi dan Dampaknya
Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani Cobalah Untuk Menjadi Orang Baik __Abraham Maslow

Post a Comment for "Fasisme"