Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mazhab Frankfurt. Theodor Wissenground Adorno (1903-1969)

Pemikir Jerman yang satu ini bergerak dalam wilayah ilmiah yang amat luas. Di antara filsuf-filsuf yang hidup di sekitar abad ke-20 mungkin tiada duanya yang menguasai begitu banyak bidang keahlian seperti Adorno. Namanya menjadi tersohor dalam hubungan dengan filsafat, sosiologi, psikologi, maupun musikologi. Dan terus-menerus ia menerobos tapal batas antara semua ilmu itu.
Salah satu ciri yang mencolok dalam pandangan filosofisnya ialah penolakannya terhadap pemikiran sistematis. Sepintas lalu suatu ciri yang mengherankan, jika kita mengetahui bahwa pemikirannya cukup dekat dengan filsafat Marx dan Hegel, sebab filsuf-filsuf ini—dan teristimewa yang terakhir—termasuk yang paling sistematis dalam sejarah filsafat modern. Tetapi pengaruh Marx dan Hegel terutama menyangkut isi filsafatnya (dialektika, tekanan pada relasi-relasi sosial, dan lain sebagainya) tetapi tidak begitu terasa dalam bentuknya. Dalam bentuk yang dipilihnya untuk filsafatnya ia lebih menyerupai Kierkegaard dan Nietzsche. Seperti mereka juga, Adorno lebih suka menulis fragmen-fragmen filosofis (anak judul buku Dialektika Pencerahan, yang ditulis bersama Horkheimer).

Tetapi perlu kita hati-hati dalam mengaitkan terlalu erat isi filsafat Adorno dengan filsafat Hegel dan Marx. Memang benar, secara global pemikiran Adorno dapat ditempatkan dalam tradisi marxisme dan idealism Jerman. Tetapi dengan mengkritik beberapa pemikiran yang sama sekali hakiki bagi idealism dan marxisme Adorno menempuh jalan sendiri. Barangkali yang paling penting ialah kritiknya atas identitas sebagai tema pokok idealism. Bagi idealism (dan sebenarnya juga bagi seluruh tradisi filsafat sejak Plato) berpikir ialah mengidentifikasikan. Bagi Hegel, filsafat bertugas mengidentifikasikan realitas dan pengertian. Sebaliknya, bagi Adorno tugas filsafat ialah menemukan kontradiksi, non-identitas. Kritik Adorno yang amat sulit ini tidak mungkin diuraikan lebih lanjut, tetapi barangkali sekarang sudah dapat diperkirakan kaitannya dengan penolakannya terhadap sistem yang disebutkan tadi.

Dalam bidang filsafat, karya Adorno yang terpenting ialah Dialektika Negatif yang oleh Adorno sendiri dalam kata pengantarnya disebut sebuah inti-sistem. Di bawah ini kami mencoba untuk menyingkatkan beberapa pemikiran dasar dari karya yang serba sulit ini. Bukunya berkisar pada suatu tema yang kerap kali menjadi pokok refleksi bagi Adorno (dan suatu tema yang kerap kali menjadi pokok refleksi bagi Adorno (dan Horkheimer juga), yaitu rasionalitas. Dalam hal ini ia ingin mempertahankan suatu ide dasar Aufklarung, yaitu emansipasi melalui jalan menambah rasionalitas. Hanya dengan kritik radikal atas pemikiran Masa Pencerahan, yang berkisar pada paham kemajuan (Inggris: progress), dapat ditentukan arti rasionalitas bagi zaman kita ini. Dengan lain perkataan, hanya dengan mencari sebab-sebab gagalnya emansipasi yang begitu dicita-citakan oleh teori-teori kemajuan dalam Masa Pencerahan dan sesudahnya, dapat kita buka perspektif baru bagi zaman kita sekarang.

Semua teori tentang kemajuan sejak Masa Pencerahan menafsirkan sejarah sebagai proses yang melibatkan manusia dan alam dalam pertentangan satu sama lain. Sejarah dipandang sebagai pembebasan manusia semakin mendalam dari cengkeraman alam. Perkembangan sejarah memperlihatkan proses diatasinya ketergantungan manusia pada alam. Sejauh bangsa manusia melepaskan diri dari ketergantungan itu ia menuju kebebasannya yang penuh. Justru karena itulah kemajuan sepanjang sejarah merupakan suatu emansipasi. Namun demikian, kemajuan tidak dapat dipikirkan terlepas dari kemunduran. Sebab, kemajuan tidak mungkin jika tidak ada sesuatu yang ditiadakan atau dihancurkan, yaitu alam dari mana manusia membebaskan diri. Maka dari itu suatu teori tentang kemajuan hanya mungkin sebagai teori dialektis, artinya teori di mana kemajuan hanya dimengerti sejauh kemunduran turut dimengerti. Inti dialektika ialah perlunya penguasaan. Manusia hanya dapat membebaskan diri dari alam dengan menaklukkan alam kepadanya. Mengatasi ketergantungan dari alam hanya dapat dicapai dengan penguasaan yang diorganisasikan.

Dalam analisis ini Adorno menggunakan beberapa gagasan Marx, tetapi khusus bagi Adorno ialah bahwa ia menyamakan prinsip penguasaan dengan prinsip rasionalitas. Dengan rasionalitasnya manusia menaklukkan bumi kepadanya. Hal ini dinamakan Adorno sebagai teknologi dan dengan istilah ini dimaksudkannya seluruh proses rasionalisasi, baik dalam sejarah filsafat dari Plato sampai dengan Hegel, maupun dalam ilmu pengetahuan yang bersifat teknologis dalam arti lebih sempit. Yang mahapenting bagi Adorno dalam konteks ini ialah bahwa dengan menaklukkan alam kepadanya manusia belum masuk dalam kebebasannya. Hal itu memang diharapkan oleh teori-teori kemajuan yang tradisional. Herbert Spencer, misalnya, masih berkeyakinan bahwa peperangan akan lenyap dari permukaan bumi dengan penyebaran ilmu pengetahuan serta teknik dan bertambahnya hubungan-hubungan perdagangan antara bangsa-bangsa.

Namun demikian, bertentangan dengan harapan tadi, yang terjadi ialah bahwa manusia ingin membebaskan diri dengan menguasai alam, pada zaman sekarang ini menjadi objek penguasaan itu. Daripada menghasilkan emansipasi manusia, ilmu pengetahuan dan teknik (atau dengan perkataan lain, seluruh proses penguasaan alam) membuat manusia menjadi objek. Manusia sebagai subjek yang menguasai, menjadi objek penguasaan sendiri. Ia yang mau membebaskan dirinya sendiri, pada kenyataannya diperbudak saja. Terdapatlah suatu pembalikan (Umschlag) subjek dan objek: dari subjek menjadi objek. Pembalikan ini merupakan problem pokok bagi Adorno. Bagaimana kita dapat mengerti bahwa manusia sebagai subjek yang membebaskan diri dengan menaklukkan alam, menjadi objek penguasaan alam yang dijalankan olehnya? Keadaan ini di mana kebebasan manusia sama sekali lenyap, oleh Adorno disebut negativitas total. Keadaan dunia sekarang ini sebagai negativitas total telah menampakkan diri dalam kamp-kamp konsentrasi dari abad keduapuluh. Sesudah Auschwitz orang tidak dapat lagi menganut optimism naif dari sekian banyak teori kemajuan, sebab periode ini tidak dapat dianggap sebagai sekedar selingan dalam kemajuan ke arah kebebasan atau suatu kemunduran untuk sementara, melainkan harus dipandang sebagai tidak lain daripada pembalikan kemajuan itu sendiri. Bagi Adorno, emansipasi—dimengerti sebagai pembebasan melalui penguasaan—berakhir dalam kamp-kamp konsentrasi waktu nazisme, artinya dalam industrial genocide yang dipraktekkan dalam abad ke-20. Dalam Auschwitz menampakan hakikat zaman kita ini. Atau dapat dikatakan juga, bagi Adorno Auschwitz mempunyai relevansi metafisis, yaitu memperlihatkan esensi sejarah sampai sekarang ini. Pada titik ini dalam jalan pemikiran Adorno timbul pertanyaan: bagaimana hasil ini dalam perkembangan emansipasi dapat dimengerti? Bagaimana pembalikan ini mungkin? Apakah yang mengakibatkan proses emansipasi dengan kemutlakan intern mengarah ke kejadian-kejadian itu? Adorno menjawab bahwa proses ini tidak mendapat dasarnya di luar sejarah, tetapi pada pokoknya seluruh proses ini adalah identik dengan sejarah sendiri. Adorno beranggapan bahwa seluruh sejarah sampai pada hari ini ditandai oleh suatu malapetaka permanen (a permanent catastrophe). Hal ini harus memperoleh dasarnya dalam awal mula sejarah. Pada permulaan sejarah sebagai malapetaka permanen terdapat suatu tindakan irrasional, yaitu kemampuan untuk menguasai alam secara total. Tetapi jika permulaan sejarah—dan dengan itu juga seluruh sejarah selanjutnya—bersifat irasional, maka dapat ditarik kesimpulan pula bahwa sejarah tidak mutlak perlu harus berlangsung seperti adanya (melawan Hegel). Adorno mengakui kemungkinan utopi, artinya kemungkinan timbulnya suatu masyarakat yang sama sekali lain daripada yang kita kenal dalam sejarah konkret. Tetapi serentak juga ia merasa sangat pesimistis terhadap kemungkinan untuk sekarang ini merealisasikan suatu masyarakat yang benar. Menurut Adorno, sekarang ini bukan saatnya untuk praksis. Untuk saat sekarang ini Adorno hanya melihat kemungkinan untuk membiarkan pikiran akan masyarakat benar menjadi matang dalam teori (teori tentang negativitas total). Penolakan Adorno terhadap aksi ini telah menjauhkan dia dari para mahasiswa aktivis.

Kedua sekarang kita hidup dalam negativitas total, kalau situasi kita sekarang ini (dan seluruh sejarah yang telah menuju ke situasi ini) secara fundamental salah, maka rasio sendiri tidak luput dari nasib ini. Karena itu rasio sendiri tidak sanggup memecahkan belenggu yang mengikatnya. Namun demikian, sudah nyata suatu kritik radikal hanya mungkin berdasarkan rasionalitas (yang membelenggu itu). Bagaimana caranya mendobrak penguasaan total itu? Menurut Adorno, hal itu hanya mungkin berdasarkan pengalaman tentang penderitaan. Penderitaan meloloskan diri dari penguasaan total dan akibatnya dapat menyadarkan serta mengatasi negativitas total. Adorno melukiskan penderitaan sebagai objektivitas yang menekan subjektivitas. Maksudnya bahwa penderitaan merupakan suatu hal yang bersifat paling subjektif (menyangkut subjek sebagai subjek), tetapi serentak juga melebihi subjek, karena ternyata disebabkan oleh fakta-fakta objektif. Objektivitas ini memungkinkan teori, termasuk juga filsafat Adorno dalam Dialektika Negatif. Jadi, filsafat tidak berasal dari suatu kebebasan otonom. Kebebasan filsafat, kata Adorno, tidak lain daripada kesanggupan untuk memberi suara kepada ketidakbebasan. Kiranya sudah jelas bahwa filsafat Adorno bersifat sungguh-sungguh pesimistis. Tetapi biarpun kemungkinan untuk mengubah situasi kita sekarang sangat tipis olehnya, filsafat harus berusaha terus. Usaha ini mempunyai arti etis, sebab nasional-sosialisme telah menampilkan suatu imperative kategoris baru bagi umat manusia: menyelenggarakan pemikiran dan aktivitas mereka demikian rupa sehingga Auschwitz tidak sampai terulang lagi. A new categorical imperative has been imposed by Hitler upon unfree mankind: to arrange their thoughts and actions so that Auschwitz will not repeat itself, so that nothing similar will happen.

Pada umumnya Adorno (dan Horkheimer) tidak bersikap simpatik terhadap filsafat Martin Heidegger. Bahkan Adorno menulis suatu buku, Yargon otensitas namanya, yang memberi kritik tajam atas apa yang disebutnya eksistensialisme Jerman, khususnya pemikiran Heidegger. Menurut dia, keberatan utama melawan Heidegger ialah bahwa filsafatnya berusaha menangani keadaan-keadaan dialektis dengan cara nondialektis. Namun demikian, tidak dapat disangkal juga adanya kemiripan yang mencolok antara kedua pemikir Jerman ini, terutama dalam cara mereka memandang sejarah dan menilai zaman kita sekarang. Biarpun pemikiran mereka berlangsung dalam konteks yang berlain-lainan, kesimpulan-kesimpulan kedua filsuf tersohor ini pada dasarnya tidak berbeda banyak. Heidegger juga berpendapat bahwa seluruh perkembangan sejarah menuju suatu penguasaan total (bandingkan pendapat Heidegger tentang hakikat teknik). Dan biarpun Adorno maupun Heidegger mempunyai pandangan yang pesimistis tentang situasi kita sekarang, kedua-duanya masih melihat suatu tugas bagi filsafat dalam mengatasi situasi yang suram itu. Menurut Heidegger filsafat dapat mempersiapkan suatu zaman baru, untuk mengganti zaman metafisika. Menurut Adorno filsafat dapat mempertahankan kemungkinan utopi, artinya suatu keadaan masyarakat yang sama sekali lain daripada sekarang.

Akhirnya sepatah kata tentang hubungan pemikiran Adorno dengan filsafat Marx. Menurut pendapat Adorno revolusi kaum proletar yang diramalkan Marx tidak jadi diwujudkan. Keterasingan manusia tidak sampai teratasi; sebaliknya, masyarakat dewasa ini telah kembali kepada keadaan barbarism. Di sini secara konkret dapat kita pikir akan kejadian kejadian sekitar nasionalisme sosialisme, tetapi serentak juga harus disebut keadaan dictator dan birokrasi represif yang menandai negara-negara komunis. Bersama dengan Marx, Adorno mengakui pentingnya teori dalam mengatasi ketidakberesan dalam masyarakat di mana kita hidup. Emansipasi hanya bias dicapai melalui jalan rasionalitas. Tentu saja, hal ini tidak mungkin lagi dengan cara naif seperti pernah dibayangkan oleh aliran Pencerahan.

Sejak abad ke-19 kita sudah tahu bahwa kesadaran (termasuk juga rasionalitasnya) ditentukan oleh faktor-faktor yang tidak disadari olehnya. Faktor-faktor itu adalah di satu pihak hukum-hukum eknonomis (ini memang menurut ajaran Marx) dan di lain pihak hal-ikhwal yang berasal dari nafsu-nafsu yang tidak dikuasai (dengan ini Adorno dan kawan-kawannya memberi tempat kepada ajaran Freud dalam rangka teori kritis). Tetapi yang dikritik Adorno mengenai pendapat Marx adalah anggapannya tentang sejarah sebagai suatu proses yang mutlak perlu dan rasional. Dalam hal ini Marx belum berhasil melepaskan diri dari idealism Hegel. Kalau sejarah merupakan suatu malapetaka permanen—seperti sudah kita lihat--, maka sia-sia saja orang akan mencari rasionalitas di dalamnya. Bagi Adorno, yang mendasari sejarah atas suatu perbuatan irasional, sejarah tidak berlangsung dengan cara mutlak perlu. Tetapi dapat dinyatakan bersama G. Rohrmoser apakah dialektika negative Adorno tidak merupakan dialektika yang betul-betul kurus sekali, kalau dibandingkan dengan Marx. Menurut ajaran Karl Marx, atas dasar ketidakcocokan antara sarana-sarana produksi dan hubungan-hubungan produksi dapat disimpulkan bagaimana wajahnya masyarakat nanti sesudah revolusi yang tak urung harus timbul, yaitu masyarakat tanpa kelas. Pada Adorno hanya disimpulkan perlunya perubahan, tetapi bagaimana terwujudnya perubahan itu tinggal abstrak sama sekali.


Ket. klik warna biru untuk link

Download di Sini


Sumber.

Bertens, K. 2002. Filsafat Barat Kontemporer; Inggris-Jerman. Gramedia. Jakarta.

Baca Juga
1. Theodor W. Adorno. Biografi dan Karya
2. Dialektika Pencerahan (Dialektika der Aufklarung)
3. Mazhab Frankfurt
Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani Cobalah Untuk Menjadi Orang Baik __Abraham Maslow

Post a Comment for "Mazhab Frankfurt. Theodor Wissenground Adorno (1903-1969)"