Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jurgen Habermas. Speech Acts

Tahap Kedua:1970-1981
Dalam periode kedua Habermas mengembangkan sejumlah pemikiran penting yang kemudian nanti akan menjadi unsur-unsur yang penting dalam menciptakan sintesis besar dari karya utamanya diperiode ketiga yaitu periode tahun 1981. Di sini boleh disebut tiga unsur.

Speech Acts Jurgen Habermas
Jurgen Habermas
Pertama, teori perbuatan-tutur (speech acts) yang ia ambil alih dari filsafat bahasa anglo sakson dan diolah lebih lanjut oleh Habermas sendiri dan dijadikan sebagai dasar untuk segala usaha teoretisnya.

Kedua, berdasarkan analisisnya tentang perbuatan-tutur ia dapat mengembangkan suatu teori argumentasi yang memungkinkan dia menciptakan suatu pandangan luas tentang rasionalitas, di mana dapat disajikan suatu pendasaran rasional bagi pendirian-pendirian kognitif maupun normatif. Ketiga, ia menjadikan suatu teori evolusi sosial yang memungkinkan ia tetap berpegang pada paham kemajuan dibidang kemasyarakatan, tanpa terjerumus dalam optimisme sejarah yang sukar dipertahankan.

Teori Perbuatan-Tutur (speech act)
Salah satu keberatan Habermas terhadap pemikiran positivistis adalah bahwa mereka mengabaikan logika khusus dari proses-proses komunikatif. Di mana, dalam periode kedua ini Habermas berhasil mengerti dan secara rinci menganalisis struktur praksis komunikatif, dan khususnya pengandaian-pengandaian normatif yang berperanan di situ dengan memanfaatkan filsafat bahasa anglo sakson.

Demikian, dengan praksis komunikatif Habermas mengerti keseluruhan perbuatan manusia yang bertujuan mencapai persetujuan dengan orang lain dalam konteks kemasyarakatan. Praksis komunikatif ini harus dibedakan dari praksis instrumental (pekerjaan), contoh praksis instrumental ini misalnya bagaimana menciptakan hubungan paling cepat atau paling ekonomis antara dua kota. Praksis instrumental ini terkait dengan hukum-hukum teknis dan pemakaian instrumen-instrumen (peralatan) kerja. Praksis komunikatif juga harus dibedakan dengan praksis strategis. Yang disebut Habermas dengan praksis strategis ini memang berkaitan dengan orang lain sama dengan praksis komunikatif, tetapi bukan demi mencapai persetujuan (konsensus bersama) dengan mereka, melainkan demi terlaksananya suatu tujuan pribadi, bahkan kalau perlu melawan maksud atau keinginan orang lain.

Dengan kata lain, dalam praksis strategis orang berusaha untuk mempengaruhi keputusan-keputusan yang diambil orang lain. Dalam rangka praksis strategis ini pun Habermas membedakan lagi antara praksis strategis yang terbuka dan praksis strategis yang tersembunyi. Contoh dari praksis strategis yang terbuka misalnya persaingan antara pelaku-pelaku bisnis di pasaran yang sama. Sedangkan contoh dari praksis yang tersembunyi adalah memeras uang dari seseorang dengan jalan membohonginya.

Habermas menganalisis sifat khusus dari praksis komunikatif ini dengan memanfaatkan teori perbuatan-tutur (speech act) dari John Austin dan John Searle. Di mana inti pemikiran mereka adalah bahwa berbahasa atau berbicara harus dimengerti sebagai melakukan perbuatan-perbuatan yang tertentu, yaitu perbuatan-tutur. Setiap perbuatan-tutur terdiri atas dua bagian; bagian proposisional (konstantive utterance) yang menunjuk kepada fakta atau kenyataan tertentu dan bagian performatif (performative utterance), di mana si penutur menjelaskan bagaimana kenyataan harus dipahami oleh si pendengar.

Sebagai contoh dapat kita ambil kalimat saya melarang saudara merokok di ruangan ini. Bagian proporsional (konstantive) adalah merokok (menghisap rokok dari tembakau yang digulung dengan cara tertentu...). Bagian performatif adalah melarang (untuk merokok). Selain melarang, bagian performatif bisa memiliki banyak nuansa lagi, seperti menyatakan (saya menyatakan bahwa ada orang yang merokok di ruangan ini), bertanya, berjanji, memerintahkan dan sebagainya. Contoh yang lain seperti yang tertera di ruangan kantor atau ruangan lain terima kasih Anda tidak merokok di ruangan ini, performa dari kalimat tersebut bisa berbentuk perintah, larangan, pernyataan dari sebuah proporsional (konstanta) berupa fakta bahwa memang ada orang yang merokok di ruangan ini. Apakah kalimat tersebut sahih atau valid? kita bisa menganalisisnya lewat Austin ataupun Habermas, pertama kalimat tersebut tidak sah jikalau diucapkan oleh orang yang tidak memiliki kompetensi atau wewenang tertentu, misalnya tukang sapu, atau karyawan penghuni kantor atau ruangan tersebut, namun sah jikalau diucapkan oleh kepala sekolah ataupun wakasek sarana dan prasarana. Hal ini dikarenakan suatu perbuatan tutur adalah semacam mekanisme bahwa di mana si penutur menyampaikan sifat komunikatif dari perbuatan-tuturnya kepada si pendengar melalui klaim-klaim kesahihan (validity claims) yang terkandung dalam bagian performatifnya, yaitu klaim atas kebenaran (truth), ketepatan normatif (normative rightness), dan keikhlasan (truthfulness), bukan sekedar merasa berkuasa atau merasa bisa atau asal jeplak.

Klaim atas kebenaran harus diterima karena dengan setiap perbuatan-tutur si penutur bermaksud bahwa kenyataan yang ditunjukkannya dalam bagian proporsional (konstantive utterance) dari perbuatan-tuturnya sungguh-sungguh ada (misalnya, memang ada orang yang merokok). Di samping klaim atas kebenaran, bagian performatif dari perbuatan-tutur selalu terkait juga dengan suatu klaim atas ketepatan, yaitu klaim bahwa si penutur mempunyai hak normatif untuk mengeluarkan larangan dalam situasi yang tertentu, atau mengajukan pernyataan, berjanji dan lain sebagainya. Misalnya, guru berhak melarang muridnya untuk merokok, sedangkan tenaga kebersihan disekolah tidak mempunyai hak itu. Akhirnya, setiap perbuatan-tutur tidak boleh tidak pasti terkait dengan klaim keikhlasan, artinya klaim bahwa si penutur sungguh-sungguh memaksudkan apa yang dikatakannya. Ia tidak main sandiwara saja.

Yang paling penting bagi Habermas adalah klaim-klaim kesahihan ini pada prinsipnya dapat dikritik, artinya si pendengar dapat menolak klaim-klaim kebenaran, ketepatan, dan keikhlasan dari si penutur dan mengajukan klaimnya sendiri yang berbeda. Selama kedua belah pihak tetap mencari pengertian dan tidak beralih ke praksis strategis terbuka ataupun tersembunyi, mereka sempat menguji secara kritis klaim-klaim kesahihan dari orang lain, dan kalau mau mengemukakan pandangannya sendiri, ditunjang dengan alasan-alasan yang dianggap tepat. Jadi, klaim-klaim kesahihan tidak di ketengahkan dengan wewenang atau kekuasaan dan tidak perlu diterima secara buta.

Dan alasan-alasan yang kemukakan tentunya menunjuk pada argumen rasional dan kepada kemungkinan untuk dikritik serta diskusi. Dengan kata lain, Habermas berpendapat bahwa praksis komunikatif ditandai oleh struktur rasional yang internal. Persetujuan satu sama lain yang dihasilkan melalui praksis komunikatif, tidak bertumpu paksaan atau manipulasi, melainkan pada penerimaan suka rela karena klaim kesahihan yang selalu mungkin dikritik. Dengan kata lain, persetujuan itu bertumpu pada keyakinan-keyakinan rasional.

Di sini tentu saja timbul pertanyaan apa yang harus dimengerti dengan keyakinan-keyakinan rasional. Pertanyaan ini dijawab oleh Habermas dengan teori konsensusnya yang merupakan inti dari teorinya mengenai argumentasi.

Teori Argumentasi
Dalam filsafat ilmu dewasa ini diterima dengan agak umum bahwa penelitian empiris tidak menyajikan akses langsung kepada kenyataan itu sendiri, tetapi selalu terikat dengan pengandaian-pengandaian teoretis yang tidak mungkin diberi pendasaran empiris (kerangka teoretis dalam rangka merumuskan hipotesis). Jadi, pengandaian-pengandaian tersebut disetujui begitu saja. Sesuai dengan perkembangan dalam filsafat ilmu ini Habermas mengusulkan untuk menganalisis pernyataan tentang pengenalan yang benar secara umum dengan menyelidiki struktur proses-proses argumentasi. Menurutnya, yang dapat disebut benar adalah ucapan-ucapan yang diterima berdasarkan konsensus rasional di antara semua pihak yang bersangkutan. Suatu konsensus dapat disebut rasional, jika semua peserta diskusi dapat mengemukakan semua argumen yang relevan pada saat itu, sehingga pengandaian-pengandaian yang berperanan dalam diskusi tersebut dapat dikritik juga dan, kalau perlu, diubah atau malah diganti dengan alternatif, jika para peserta menginginkannya. Bila syarat ini dipenuhi dan terjadi konsensus antara para peserta, maka konsensus serupa itu dapat dianggap sebagai konsensus rasional, asalkan hanya bertumpu pada kekuatan argumen-argumen yang terbaik.

Lalu Habermas bertanya tentang syarat-syarat komunikatif yang harus dipenuhi, supaya kekuatan argumen-argumen terbaik dapat meyakinkan. Syarat-syarat itu dianalisisnya dalam apa yang disebut situasi percakapan ideal (the ideal speech situation). Situasi yang tidak terdistorsi sedikit pun ini terwujud jika :
Pertama, semua peserta mempunyai peluang yang sama untuk memulai suatu diskusi dan dalam diskusi itu mempunyai peluang yang sama untuk mengemukakan argumen-argumen dan mengkritik argumen-argumen peserta lain

Kedua, di antara peserta-peserta tidak ada perbedaan kekuasaan yang dapat menghindari bahwa argumen-argumen yang mungkin relevan sungguh-sungguh diajukan juga

Ketiga, semua peserta mengungkapkan pemikirannya dengan ikhlas, sehingga tidak mungkin terjadi yang satu memanipulasi yang lain tanpa disadarinya.

Jika sesuai dengan syarat-syarat ini terbentuk konsensus tentang kesahihan ucapan-ucapan tertentu beserta pengandaian-pengandaian yang terkandung di dalamnya, menurut Habermas konsensus seperti itu memiliki pendasaran rasional. Jadi, ucapan-ucapan betul-betul boleh disebut benar, bila di antara para peserta diskusi terdapat konsensus menurut syarat-syarat situasi percakapan ideal

Yang menarik dalam teori konsensus mengenai kebenaran ini adalah bahwa dengan demikian dimungkinkan juga konsensus normatif yang mempunyai dasar rasional. Sebab, tentang ucapan-ucapan mengenai norma berlaku hal yang sama. Jika tercapai konsensus tentang kesahihan ucapan-ucapan normatif dengan cara itu, maka konsensus itu dapat dianggap memiliki pendasaran rasional, karena bertumpu pada kekuatan argumen-argumen terbaik dan tidak didistorsi oleh hubungan-hubungan kekuasaan atau manipulasi terselubung.

Dengan demikian dari analisisnya mengenai perbuatan-perbuatan tutur dan dari teori konsensusnya mengenai kebenaran Habermas menyimpulkan bahwa dalam struktur komunikasi melalui bahasa itu sendiri sudah terkandung kemungkinan untuk mencapai hubungan-hubungan bebas kekuasaan dan simetris, artinya kedua belah pihak selalu sederajat. Komunikasi melalui bahasa menurut Habermas secara fundamental tertuju pada persetujuan yang suka rela, tidak manipulatif, dan tidak dipaksakan. Persetujuan itu merupakan kunci bagi klaim-klaim kesahihan yang diberlakukan oleh semua peserta bersangkutan (selama mereka tidak menempuh suatu jalan strategis). Sifat yang bebas, suka rela, dan tidak dipaksakan dari persetujuan tersebut pada akhirnya terjamin oleh kemungkinan untuk mengatakan tidak, untuk mengajukan kritik dan pendapat-pendapat yang berbeda. Tetapi pendapat-pendapat itu pun diajukan dengan disertai argumen-argumen dan dengan demikian terikat juga dengan persetujuan bebas, artinya persetujuan yang terbentuk menurut syarat-syarat simetri komunikatif.

Teori evolusi sosial
Unsur terakhir yang pantas disebut dari perkembangan pemikiran Habermas selama periode kedua adalah pembentukan suatu kerangka teoretis tentang evolusi masyarakat di mana ditinggalkan optimisme filsafat sejarah unilinear (berbentuk garis lurus) yang menandai tradisi Marxisme, tapi tetap dipertahankan paham kemajuan dalam konteks perkembangan masyarakat dan sejarah. Inti teori evolusi sosial ini adalah perbedaan antara dua macam proses belajar: di satu pihak proses-proses belajar teknis yang membawakan penguasaan alam lebih besar dan meningkatkan produktivitas kerja dan dilain pihak proses-proses belajar komunikatif yang menghasilkan perbaikan kualitas komunikatif dari relasi-relasi di antara manusia. Menurut Habermas kedua macam proses belajar ini ditandai oleh logika tersendiri, artinya kemajuan dalam penguasaan alam tidak secara otomatis membawakan kemajuan di bidang relasi-relasi komunikatif, dan sebaliknya. Lagi pula ia berpendapat bahwa kemajuan tidak timbul dengan mutlak perlu. Proses-proses belajar menyediakan suatu kemungkinan-kemungkinan fundametal yang bisa terhambat dengan berbagai cara, misalnya karena hasil-hasilnya hanya tersebar dalam lingkungan terbatas atau karena wawasan-wawasan baru menemui kendala yang tak teratasi dalam penerapan praktisnya.


Ket. klik warna biru untuk link

Download di Sini


Sumber.

Bertens, Kees. 2002. Filsafat Barat Kontemporer: Inggris-Jerman. Jakarta. Gramedia.

Baca Juga
1. Jurgen Habermas. Biografi dan Karya
2. Jurgen Habermas. Melanjutkan Proyek Modernitas Melalui Rasio Komunikatif
3. Jurgen Habermas. Kolonialisasi Dunia-Kehidupan
4. Jurgen Habermas. Kritik atas Patologi Modernitas
5. Jurgen Habermas. Diskursur Filosofis tentang Modernitas (Post-Modernitas)
6. Jurgen Habermas. Teori Praksis Komunikatif
7. Jurgen Habermas. Ilmu Pengetahuan dan Kepentingan Manusia 
8. Ilmu dan Teknologi sebagai Ideologi
9. Methodenstreit dalam Ilmu-Ilmu Sosial di Jerman
10. Mazhab Frankfurt
Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Jurgen Habermas. Speech Acts"