Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Eksistensialisme Karl Jaspers

Jaspers adalah salah satu ikon dari jenis pemikiran yang disebut sebagai filsafat eksistensialisme. Eksistensialis adalah nama yang dipakai Jaspers sendiri sebagai judul salah satu bukunya Existenzphilosophie (1938). Existenzphilosophie terdiri dari tiga jilid : 1. Orientasi dalam dunia, 2. Penerangan eksistensi, 3. Metafisika
Eksistensialisme Karl Jaspers
Karl Jaspers
Orientasi dalam dunia
Jaspers membedakan filsafatnya dengan ilmu pengetahuan, sebab menurutnya ada dua cara untuk berorientasi dalam dunia, ilmu pengetahuan positif dan filsafat. Ilmu pengetahuan menyelidiki realitas menurut beberapa aspek tertentu. Tetapi ilmu pengetahuan tidak menghasilkan pengetahuan yang definitif. Ilmu pengetahuan akhirnya menjumpai pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan itu sendiri, seperti apakah ilmu pengetahuan? Apakah itu realitas? Apakah itu dunia? Di sini kita akan menjumpai bahwa orientasi ilmiah pada akhirnya akan mempersiapkan dan akan membangkitkan orientasi filosofis. Hasil ilmu pengetahuan dijalankan oleh semacam kesadaran umum. Dengan demikian ilmu pengetahuan memang menyajikan suatu kontrol efisien terhadap dogmatism dalam agama, politik atau filsafat, tetapi pada dasarnya ia hanya menghasilkan suatu pengetahuan yang dangkal, suatu mitologi yang dapat dijalankan.

Hal tersebut sama sekali tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan harus ditolak, hal tersebut hanya berarti bahwa ilmu pengetahuan harus dibedakan dengan filsafat. Dan suatu filsafat ilmiah atau ilmu fisafat bagi Jaspers merupakan kontradiksi. Filsafat bertolak dari pengalaman sebagai aku yang sama sekali unik. Filsafat tugasnya ialah menyelami, melukiskan, dan menganalisis pengalaman sebagai aku. Pengalaman tersebut merupakan satu-satunya dasar bagi ucapan-ucapan filsafat dan bagi pengetahuan kita tentang realitas. Namun, bukankah filsafat serupa itu merupakan suatu usaha yang mustahil, sebab pengalaman selalu bersifat individual, sedangkan filsafat tentu mau merumuskan sesuatu yang berlaku bagi umum? Jaspers menjawab bahwa biarpun dalam konsepsi filsafat itu suatu ontologi universal tidak mungkin, namun para individu dapat membandingkan satu sama lain pengalaman mereka sebagai aku. Filsafat ini mengakui semacam verifikasi intersubjektif.

Penerangan eksistensi
Bagian yang paling sentral dalam buku Existenzphilosophie tersebut adalah penerangan eksistensi. Dengan menerangi eksistensi, kita mencapai “aku” menurut intinya. Dengan menerangkan eksistensi si penanya seakan-akan dapat masuk pada dirinya sendiri. Semua cara pengenalan yang lain hanya membuat subjek menjadi objek belaka dan karena itu tidak pernah mencapai aku yang sebenarnya. Bagi Jaspers eksistensi adalah yang paling berharga dan paling otentik dalam diri manusia. Eksistensi adalah aku yang sebenarnya, yang bersifat unik dan sama sekali tidak objektif. Dengan tak henti-hentinya eksistensi itu terbuka bagi kemungkinan-kemungkinan baru. Biarpun pendekatan konseptual tidak sanggup mencapai eksistensi, namun eksistensi itu terbuka bagi pengalaman.

Eksistensi adalah penghayatan mengenai kebebasan total yang merupakan inti manusia. Eksistensi dapat dihayati, dapat diterangi melalui refleksi filosofis dan dapat dikomunikasikan dengan orang lain. Jaspers membedakan eksistensi dengan Dasein. Dasein adalah keberadaan empiris manusia sejauh mempunyai ciri-ciri tertentu dan dapat dilukiskan dari luar. Dasein dapat menjadi objek pendekatan teoritis. Mencampuradukkan eksistensi sebagai dasar otentik manusia dengan Dasein akan mengakibatkan materialisme. Sedangkan mengorbankan Dasein kepada eksistensi, akan berakhir dengan nihilisme. Jalan tengah antara dua ekstrim ini adalah suatu ketegangan tetap antara Dasein dan eksistensi yang tidak mungkin ditiadakan.

Manusia tidak pernah terlepas dari situasi-situasi tertentu. Hidup dan bertindak sebagai manusia berarti mengubah dan menciptakan situasi-situasi. Tetapi betapa pun besar perubahan-perubahan yang saya jalankan dengan aktivitas saya, selalu tinggal bahwa saya terikat pada situasi-situasi. Bahwa saya berada dalam situasi-situasi tidak bisa ditiadakan. Hal itu merupakan situasi batas (grenzsituation) kata Jaspers. Dengan situasi batas dimaksudkan situasi yang tidak bisa dihindari. Di sini eksistensi menemui batas yang tidak dapat dilewati. Batas berarti bahwa di belakangnya terdapat sesuatu, tetapi hal itu tidak terbuka bagi Dasein. Hanya eksistensi dapat mengalami situasi batas dan, yang lebih penting lagi, dengan mengalami situasi batas eksistensi dapat menghayati dirinya sendiri sebagai eksistensi. Situasi batas dianggap begitu hakiki oleh Jaspers sehingga ia mengatakan, Mengalami situasi batas dan bereksistensi adalah hal yang sama. Orang yang tidak hidup dengan cara eksistensial akan menghilangkan situasi batas, khususnya kematian, seperti akan kita lihat lagi. Ia akan menutup mata, sehingga ia tidak tahu menahu tentang situasi batas. Ia hanya akan memperhatikan situasi-situasi konkrit yang dapat ditangani dan dikuasai, supaya ia memperoleh keuntungan dengannya.

Dengan situasi batas dimaksudkan Jaspers secara konkrit pengalaman-pengalaman seperti, kematian, kesengsaraan, perjuangan, kebersalahan, ketergantungan pada nasib. Di antara semua situasi batas ini tentunya yang paling dramatis adalah kematian. Dengan mengetahui tentang kematian pada umumnya, belum ada situasi batas. Sebagai situasi batas kematian dialami secara eksistensial dan konkrit, kematian seorang tercinta atau kematian saya sendiri yang semakin mendekat. Kematian mengakibatkan rasa takut, tetapi juga menyempurnakan eksistensi, sebab kesadaran akan kematian serta merta mendesak saya untuk hidup otentik.

Kesadaran akan kematian yang tak terhindarkan akan memberi keberanian dan integritas. Oleh karenanya manusia memperoleh suatu pandangan otentik tentang hal-hal yang paling penting dalam hidup. Kesengsaraan yang terdapat dalam banyak bentuk, dapat dialami juga sebagai situasi batas. Dalam penderitaan dan kemalangan, lebih besar kemungkinan bahwa manusia akan mencapai eksistensi otentik daripada dalam kemakmuran dan kebahagiaan yang tak terancam. Dalam keadaan makmur yang berlimpah-limpah arti eksistensi sering kali tinggal tersembunyi. Kesengsaraan itu mentahirkan. Oleh karena itu kesengsaraan tidak jarang menjadi jalan menuju pengalaman tentang Transendensi. Kebersalahan (guilt) merupakan situasi batas yang lain lagi. Perbuatan-perbuatan saya mempunyai akibat-akibat yang tidak dimaksudkan dan tidak diketahui sebelumnya. Apa lagi, motif-motif bagi perbuatan-perbuatan saya tidak selalu jelas untuk orang lain maupun untuk saya sendiri dan sering dicampuri dengan motif-motif yang kurang ikhlas. Mau tidak mau saya bersalah, karena, berdasarkan kebebasan total pada saat yang menentukan, saya sanggup memilih cara lain. Manusia yang sungguh-sungguh bereksistensi tidak mengingkari kebersalahannya. Dengan menerima kebersalahannya ia menyatakan bahwa kebebasan kita menang atas nasib melulu.

Dengan itu kita sudah menyinggung kebebasan, suatu tema penting dalam filsafat Jaspers, seperti halnya dalam setiap eksistensialisme. Kebebasan berarti memilih, menyadari, mengidentifikasi diri dengan dirinya sendiri. Kebebasan adalah inti kehidupan manusia. Saya ada dalam arti kata yang sebenarnya sejauh saya memilih secara bebas. Dalam bidang kebebasan, Jaspers tidak seekstrim Sartre, karena ia lebih menggarisbawahi historisitas manusia, terlebih pilihan-pilihannya di waktu lampau. Tetapi di dalam batas-batas historisitas itu kebebasan saya bersifat total. Kebebasan dialami sebagai spotanitas dan aktivitas. Karena itu sikap melibatkan diri harus dianggap lebih hakiki bagi eksistensi daripada sikap teoretis. Sebetulnya, alasan utama untuk melakukan penerangan eksistensi tidak lain daripada mengerti dan belajar menggunakan kebebasan.

Hubungan manusia dengan sesama manusia merupakan tema lain yang diberi banyak perhatian dalam buku Jaspers. Penerangan eksistensi tidak dapat dicapai, kalau saya tidak rela membuka diri untuk orang lain. Eksistensi baru sampai terwujud, jika saya memberanikan diri secara radikal dan tanpa syarat menyerahkan diri kepada orang lain. Hal ini berlangsung dalam komunikasi, suatu pengertian yang memainkan peranan penting sekali dalam pemikiran Jaspers. Komunikasi hanya dapat berlangsung antara eksistensi dengan eksistensi. Ia melukiskan komunikasi yang sejati sebagai perasaan bahwa sudah dari kekal orang mengenal satu sama lain. Puncaknya terdapat dalam cinta. Seperti diakuinya sendiri, dengan begitu menekankan komunikasi Jaspers mengungkapkan suatu pengalaman pribadi, sebab komunikasi selalu menduduki tempat istimewa dalam hidupnya (komunikasi dengan orang tua, sahabat-sahabatnya , dan khususnya Ernest Mayer, teristimewa dengan istrinya Gerturd Mayer)

Metafisika
Berdasarkan orientasi dalam dunia sudah menjadi jelas bahwa dunia tidak merupakan Ada yang sebenarnya, bahwa Ada yang sebenarnya mengatasi segala realitas duniawi atau dengan kata lain bersifat transenden. Tetapi pengalaman ini hanya bersifat negatif, berarti pemikiran menghadapi tapal batas yang tidak mungkin di lewati. Apa yang hanya dialami secara negatif dalam orientasi saya dalam dunia, tampak secara positif dalam penerangan eksistensi. Dalam komunikasi yang sejati dan dalam situasi-situasi batas, saya mengalami Transendensi. Pengalaman eksistensial tentang Transendensi tidak dapat dirumuskan dengan memuaskan, karena Transendensi itu merupakan yang tak terperikan dan yang tak dapat dikenal. Karena kita tak sanggup memikirkan yang Transenden secara objektif (sebagai objek), kita hanya dapat berbicara tentang pengalaman mengenai Transendensi secara simbolis.

Eksistensi tidak mempunyai dasarnya dalam dirinya sendiri, tetapi dasarnya ialah transendensi. Baru karena hubungan dengan Transendensi, manusia menjadi eksistensi yang sungguh-sungguh. Yang dimaksudkan Jaspers dengan Transendensi dikenal dalam agama dengan nama Allah. Maka dari itu Jaspers dapat mengatakan juga: Setiap eksistensi secara langsung terarah kepada Allah.

Transendensi tidak berstatus objek dan tidak bisa dijadikan objek bagi pemikiran. Transendensi hanya bisa didekati melalui Chiffren, suatu istilah yang dipinjam Jaspers dari Pascal. Yang dimaksudkannya dengan Chiffren (Inggris:ciphers) ialah simbol-simbol atau tulisan sandi yang menunjuk kepada yang Transendensi. Tugas utama metafisika ialah membaca dan menginterpretasikan simbol-simbol itu. Simbol-simbol itu terdapat dalam banyak bentuk. Bisa terjadi secara mendadak dan spontan suatu data empiris menjadi simbol, misalnya, pemandangan alam yang sangat indah. Tetapi simbol-simbol itu terdapat juga dalam kesenian atau agama (mitos-mitos, dogma-dogma, diskusi-diskusi teologis). Jadi, menurut Jaspers dogma-dogma religius tidak boleh dimengerti secara harfiah, tetapi harus ditafsirkan secara simbolis. Dalam konteks ini dapat kita mengerti terjadinya diskusi antara Karl Jaspers dengan teolog protestan besar, Rudolf Bultmann, tentang masalah demitologisasi. Menurut Bultmann, agama Kristen harus dibersihkan dari segala unsur mistis, inilah satu-satunya cara untuk mencocokkan agama Kristen dengan zaman modern. Tetapi menurut Jaspers agama tidak dapat dilepaskan dari unsur-unsur mistisnya, karena mitologi harus dianggap hakiki bagi agama itu sendiri. Juga filsafat-filsafat spekulatif yang besar dipandang oleh Jaspers sebagai simbol-simbol, filsafat-filsafat ini merupakan usaha untuk membaca tulisan sandi (tentang Transendensi) dan akhirnya filsafat-filsafat itu sendiri menjadi tulisan sandi juga.

Dalam karangan-karangan sesudah filsafat, Jaspers mengemukakan pengertian das Umgreifende untuk melengkapi pemikirannya tentang Transendensi. Ini menjadi istilah kunci dalam metafisikanya. Kata das Umgreifende itu sukar untuk diterjemahkan dalam bahasa-bahasa lain. Dalam terjemahan Inggris umumnya dipakai the Encompassing, dalam bahasa Indonesia dapat kita pakai yang melingkupi. Kalau saya selaku filsuf berusaha berefleksi tentang Ada, selalu saya berkecenderungan menjadikan Ada suatu objek bagi saya sebagai subjek. Tetapi Ada tidak dapat dihadapkan kepada saya sebagai subjek, sebab saya sendiri (dan umat manusia seluruhnya) termasuk Ada itu. Untuk mempelajari Ada, kita harus mengatasi oposisi antara subjek dan objek itu dan kemungkinan itu disajikan, jika kita mengerti ada sebagai yang melingkupi. Ada dalam keseluruhannya tidak merupakan objek dan tidak merupakan subjek, Ada itu ialah yang Melingkupi. Dan ada oposisi lain lagi yang dapat dihindari dengan menggunakan konsep tersebut, yaitu oposisi antara Ada dan ketiadaan. Setiap subjek kita pikirkan sebagai berbeda dengan objek lain, sehingga jika kita mau memikirkan Ada pada umumnya, kita berkecenderungan untuk mempertentangkan dengan ketiadaan. Memikirkan sesuatu berarti melepaskannya dari yang Melingkupi. Tetapi yang Melingkupi memuat segala sesuatu, sehingga tidak dapat dipertentangkan dengan apa pun juga.

Menurut Jaspers, melalui jalan filosofis ini kita juga sanggup mengerti lebih baik arti mistik. Sejak ribuan tahun, di Timur maupun di Barat, para mistisi mengatakan bahwa manusia mampu mengatasi ketegangan antara subjek dan objek dengan kesatuan antara kedua-duanya, sehingga objektivitas lenyap, dan aku terlebur. Para mistisi menekankan juga bahwa pengalaman mereka itu tidak dapat dirumuskan. Bahasa kita memang selalu cenderung untuk mengobjektivikasikan.

Di sini tidak mungkin tidak mungkin membahas lebih terperinci pemikiran Jaspers tentang yang Melingkupi yang serba kaya dan serba sulit itu. Dari satu segi dapat dikatakan bahwa Allah dan dunia merupakan yang Melingkupi. Tetapi dari segi lain dapat dikatakan pula bahwa kita sendiri adalah yang Melingkupi.


Ket. klik warna biru untuk link

Download di Sini


Baca Juga
Karl Jaspers. Biografi

Sumber:
Bertens, K. Filsafat Barat Kontemporer, Prancis. 2001. Gramedia. Jakarta
Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Eksistensialisme Karl Jaspers"