Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Edmund Husserl dan Fenomenologi

Selaku pendiri aliran fenomenologi, Husserl telah mempengaruhi filsafat kontemporer secara amat mendalam. Fenomenologi sekarang dikenal agak umum dan terutama menjadi populer sekitar tahun 50-an. Orang yang merasa tertarik oleh deskripsi-deskripsi fenomenologis yang konkret dan hidup-hidup seperti diberikan oleh beberapa fenomenolog kemudian hari, khususnya di Prancis (misalnya J.-P. Sartre, M. Merleu Ponty, P. Ricour, dan psikolog Belanda F. Buytendijk), akan merasa kecewa bila menghadapi karya-karya pendiri fenomenologi sendiri. Gaya bahasanya kering dan yang dibahas dalam filsafatnya terutama pokok-pokok abstrak dan formal. Husserl memang memaksudkan fenomenologi sebagai suatu disiplin filosofis yang akan melukiskan segala bidang pengalaman manusia, tetapi ia sendiri memusatkan perhatian dan tenaganya pada pendasaran disiplin baru ini.
Menurut Husserl, Prinsip segala prinsip ialah bahwa hanya intuisi langsung (dengan tidak menggunakan perantara apa pun juga) dapat dipakai sebagai kriterium terakhir di bidang filsafat. Hanya apa yang secara langsung diberikan kepada kita dalam pengalaman dapat dianggap benar dan dapat dianggap benar sejauh diberikan. Dari situ Husserl menyimpulkan bahwa kesadaran harus menjadi dasar filsafat. Alasannya ialah bahwa hanya kesadaran secara langsung diberikan kepada saya selaku subjek, seperti yang akan kita lihat lagi.

Sudah nyata kiranya bahwa dengan itu Husserl mendekati usaha filosofis yang dilancarkan Descartes dan memang ia sendiri menyadari afinitas itu. Tetapi berbeda dengan pemikiran Descartes, filsafat Husserl mengalami perkembangan terus menerus sampai akhir hidupnya. Sekali mendapat titik tolaknya, filsafat Descartes berjalan terus seakan dengan gerak garis lurus. Sedangkan Husserl dengan tidak kenal lelah menggali semakin dalam untuk mencari pendasaran terakhir bagi kesadaran dan realitas. Husserl pernah mengatakan bahwa ia adalah ein ewige Anfanger, seorang pemula abadi. Jika ia terbentur pada kesulitan baru, ia tidak membuang pemikirannya sebelumnya, itulah sebabnya antara lain mengapa filsafat Husserl begitu sulit untuk diuraikan, apalagi kalau dalam bentuk singkat.


Dalam sebuah artikel terkenal yang telah disebut di atas, Husserl merumuskan cita-citanya mau mendasari filsafat sebagai suatu ilmu yang rigorus (rigorous science) dan kepada ilmu ini ia beri nama fenomenologi. Fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phainomenon). Jadi, seperti yang sudah tersirat dalam namanya, fenomenologi mempelajari apa yang tampak atau apa yang menampakkan diri atau fenomena. Tetapi dengan itu dimaksudkan Husserl sesuatu yang pada waktu itu sama sekali baru. Fenomena sekali-kali tidak boleh dimengerti dalam arti Kant menggunakan kata itu (dan memang itulah arti yang dikenal pada waktu Husserl mulai mengembangkan fenomenologinya). Menurut Kant, kita manusia hanya mengenal fenomenon dan bukan numenon, kita hanya mengenal feomena-fenomena (Erschinungen) dan bukan realitas itu sendiri (das ding an sich). Bagi Kant (dan juga empirisme Inggris), yang tampak bagi kita ialah semacam tirai yang menyelubungi realitas di belakangnya. Kita hanya mengenal pengalaman batin kita sendiri yang—entah bagaimana—diakibatkan oleh realitas di luar yang tetap tinggal suatu x yang tidak kita kenal. Melihat warna merah, misalnya, tak lain dan tak bukan adalah pencerapan (sensation)—jadi, pengalaman batin—yang diakibatkan oleh sesuatu di luar. Bagi Kant, fenomena adalah sesuatu yang menunjuk pada realitas, yang tidak dikenal in se (pada dirinya). 


Dalam perspektif ini kesadaran dianggap tertutup dan terisolir dari realitas. Seperti akan diterangkan lagi, seluruh konsepsi Kant ini dilatarbelakangi filsafat Descartes (cogito tertutup). Yang dimaksud Husserl fenomena adalah sesuatu yang sama sekali lain. Bagi Husserl, fenomena ialah realitas sendiri yang tampak. Bagi dia, tidak ada selubung atau tirai yang memisahkan kita dari realitas; realitas itu sendiri tampak bagi kita. Dengan demikian dapat kita mengerti semboyan yang dipilih Husserl bagi filsafatnya, yaitu Zuruck zu den Sachen Selbst (kembalilah pada benda-benda sendiri). Dengan pandangan tentang fenomena ini Husserl mengadakan semacam revolusi dalam filsafat Barat. Dalam filsafat Barat sejak Descartes, kesadaran selalu dimengerti sebagai kesadaran tertutup atau cogito tertutup; artinya, kesadaran mengenal diri sendiri dan hanya melalui jalan itu mengenal realitas. Misalnya, saya mengenal pencerapan-pencerapan (sensations) saya dan melalui jalan itu saya mengenal realitas. 

Husserl berpendapat bahwa kesadaran menurut kodratnya terarah pada realitas. Kesadaran selalu berarti kesadaran akan... sesuatu. Atau menurut istilah yang dipakai Husserl, kesadaran menurut kodratnya bersifat intensional; intensionalitas adalah struktur hakiki kesadaran. Dan justru karena kesadaran ditandai dengan intensionalitas, fenomena harus dimengerti sebagai apa yang menampakkan diri. Mengatakan kesadaran bersifat intensional sebetulnya sama artinya dengan mengatakan realitas menampakkan diri. Dua ucapan ini seakan merupakan dua sisi dari uang logam yang sama. Intensionalitas dan fenomena adalah korelatif. Korelasi ini berlaku bagi kesadaran dan realitas pada umumnya, tetapi juga bagi berbagai aktus kesadaran dan berbagai bentuk realitas, misalnya pengalaman estetis—objek estetis (karya kesenian). 

Sampai sekarang kami sudah membahas dua istilah pokok dalam filsafat Husserl, yaitu fenomena dan intensionalitas. Istilah lain lagi yang sering dipakai Husserl dan berkaitan erat dengan kedua istilah tadi ialah konstitusi (Inggris: contitution). Dengan konstitusi dimaksudkan proses tampaknya fenomena-fenomena kepada kesadaran. Fenomena-fenomena mengkonstitusi diri dalam kesadaran, kata Husserl. Dan karena adanya korelasi antara kesadaran dan realitas yang disebut tadi, dapat dikatakan juga bahwa konstitusi adalah aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya realitas. Husserl mengatakan bahwa dunia real dikonstitusi oleh kesadaran. Hal itu sama sekali tidak berarti bahwa kesadaran mengadakan atau menyebabkan dunia beserta pembedaan-pembedaan yang terdapat di dalamnya, melainkan hanyalah bahwa kesadaran harus hadir pada dunia supaya penampakan dunia dapat berlangsung. Tidak ada kebenaran-pada-dirinya, lepas dari kesadaran. Kebenaran hanya mungkin dalam korelasi dengan kesadaran. Dan karena yang disebut realitas itu tidak lain daripada dunia sejauh dianggap benar, maka realitas harus dikonstitusi oleh kesadaran. Konstitusi ini berlangsung dalam proses penampakan yang dialami oleh dunia ketika menjadi fenomena bagi kesadaran intensional.

Untuk sekedar menjelaskan maksud Husserl dengan konstitusi (terutama konstitusi aktif atau konstitusi sebagai aktus kesadaran), kita dapat memandang sebentar proses persepsi. Saya melihat suatu gunung umpamanya. Tetapi sebetulnya yang saya lihat selalu suatu perspektif dari gunung: saya melihat gunung itu dari sebelah timur atau utara atau dari atas, dan seterusnya. Tetapi bagi persepsi, objek telah dikonstitusi. Tetapi hal yang sejenis berlaku untuk setiap aktus kesadaran, juga untuk aktus-aktus intelektual. Misalnya saya memikirkan dalil Phytagoras. Hal itu dapat saya ulangi terus menerus dan setiap kali memandang dalil Phytagoras yang sama. Hal itu hanya mungkin karena suatu konstitusi oleh kesadaran.

Pada akhir hidupnya Husserl semakin mementingkan dimensi historis dalam kesadaran dan dalam realitas. Suatu fenomena tidak pernah merupakan sesuatu yang statis; arti suatu fenomena bergantung pada sejarahnya. Ini berlaku bagi sejarah pribadi manusia maupun bagi sejarah umat manusia sebagai keseluruhan. Alat misalnya, bagi kita dalam zaman komputer tampak lain sekali daripada dalam zaman batu dulu. Dan juga kesadaran sendiri mengalami suatu perkembangan: sejarah kita selalu hadir dalam cara kita menghadapi realitas. Karena itu konstitusi dalam filsafat terakhir dimengerti sebagai konstitusi genetis: proses yang mengakibatkan suatu fenomena menjadi real dalam kesadaran adalah suatu proses historis. Dalam pengertian kita tentang masyarakat, misalnya, terdapat semacam endapan historis, artinya semua arti masyarakat dulu terdapat di dalamnya (keadaan suku, terbentuknya kota, aristokrasi, monarki, demokrasi, dan seterusnya). Tidak mungkin menerangkan cara masyarakat tampak bagi kita sekarang tanpa menyelidiki perkembangannya. Contoh lain lagi: fisika klasik dari Newton perlu diketahui untuk mengerti teori kuantum; dan ilmu ukur Euklidis diandaikan oleh ilmu ukur non-Euklidis (dan tidak sebaliknya).

Dalam suatu uraian tentang Husserl tidak boleh tidak harus dibicarakan juga tentang pokok ajaran yang kemudian banyak dipersoalkan, yaitu pendiriannya tentang reduksi fenomenologis atau reduksi transendental, oleh Husserl sendiri juga disebut epokhe (kata Yunani yang dipinjam dari filsafat Hellensistis). Kebanyakan murid Husserl tidak menerima reduksi ini, tetapi untuk Husserl reduksi merupakan batu sendi seluruh filsafatnya. Apakah yang dimaksud dengan reduksi? Dalam hidup yang biasa selalu kita condong untuk mengandaikan bahwa dunia sungguh-sungguh ada sebagaimana diamati dan dijumpai. Dengan diam-diam kita percaya pada adanya dunia. Sikap ini oleh Husserl disebut sikap natural (natural anttitude). Untuk memulai fenomenologi, menurut Husserl kita harus mengubah sikap ini. Kita harus menghentikan—atau lebih tepat mempertangguhkan—kepercayaan kita pada dunia real. Kita harus menaruh adanya dunia real di antara kurung. Kiranya sudah kentaralah kemiripan jalan pikiran ini dengan metode Descartes. Namun demikian, reduksi Husserl ini tidak boleh disamakan dengan kesangsian metodis Descartes. Reduksi tidak merupakan suatu kesangsian terhadap dunia, melainkan semacam netralisasi: ada tidaknya dunia real tidak mempunyai peranan lagi. Bagi Descartes kesangsian berarti: mungkin dunia ada ada, mungkin tidak. Bagi Husserl reduksi berarti: ada tidaknya dunia real tidak relevan: persoalan ini dapat disisihkan tanpa merugikan. Dengan mempraktekan reduksi ini kita masuk sikap fenomenologis.

Apa sebabnya reduksi ini harus dilakukan? Dan apakah keuntungan yang dibawa oleh reduksi ini? Kita sudah tahu, Husserl mencita-citakan fenomenologi sebagai ilmu rigorus. Suatu ilmu rigorus tidak boleh mengandung keraguan, ketidakpastian atau kedwiartian apa pun juga. Ucapan-ucapan yang dikemukakan dalam suatu ilmu rigorus harus harus bersifat apodiktis (tidak mengizinkan keraguan) dan absolut (tidak mengizinkan perkembangan dan perubahan lebih lanjut). Nah, kriteria rigorus tidak pernah dapat dipenuhi dalam ucapan-ucapan kita tentang dunia real. Suatu benda material tidak pernah diberikan kepada kita secara apodiktis dan absolut. Cara realitas material tampaknya bagi saya bersifat demikian rupa, sehingga tidak dapat dikemukakan pernyataan-pernyataan apodiktis dan absolut tentangnya. Karena alasan-alasan itu fenomenologi sebagai ilmu rigorus harus mulai dengan mempraktekan reduksi transendental.

Jika kita menempatkan realitas material antara tanda kurung dengan mempraktekan reduksi transendental tersebut, apakah yang tinggal untuk mendasari fenomenologi sebagai ilmu regorus? Ataukah harus kita meninggalkan saja seluruh usaha kita? Husserl berpendapat bahwa yang tinggal adalah kesadaran atau subjektivitas. Kesadaran tidak berkeluasan dalam ruang. Kesadaran tampak bagi saya secara total dan langsung. Karena itu menjadi mungkin mengemukakan pertanyaan-pertanyaan apodiktis dan absolut tentangnya. Adanya kesadaran juga struktur kesadaran dapat dinyatakan secara absolut. Jadi, kesadaran harus dipilih sebagai dasar bagi fenomenologi sebagai ilmu rigorus. Tetapi, kalau begitu, apa yang terjadi dengan dunia real? Apakah itu berarti bahwa fenomenologi sama sekali tidak dapat berbicara tentang dunia? Tidak. Janganlah kita lupa apa yang sudah dikatakan tentang intensionalitas kesadaran yang begitu dipentingkan Husserl. 


Reduksi justru menyingkirkan kesadaran sebagai—menurut kodratnya—terarah pada dunia, sebagai intensional. Dengan demikian dunia mendapat tempatnya lagi dalam fenomenologi. Kita tidak berbicara lagi tentang dunia dengan cara naif, seakan-akan dunia sama sekali tidak berkaitan dengan kesadaran, seperti dibuat dalam sikap natural. Tetapi dalam sikap fenomenologis kita menemui dunia sebagai korelat bagi kesadaran, dunia sebagai fenomena. Demikianlah fenomenologi toh dapat mempelajari dunia dan merumuskan ucapan-ucapan apodiktis dan absolut tentangnya. Dunia toh dapat diberi tempat dalam fenomenologi sebagai ilmu rigorus. Dalam fenomenologi kita tidak bertolak belakang dengan dunia; sebaliknya, realitas material ditemui dalam suatu perspektif baru, yaitu sebagai korelat bagi kesadaran.

Dalam periode terakhir hidupnya, Husserl akan mengatakan bahwa yang paling penting dalam reduksi bukannya menaruh dunia sendiri antara kurung, melainkan terutama setiap interpretasi atau teori tentang dunia. Ia juga semakin menekankan aspek positif dari reduksi: reduksi bukan saja berarti berpaling dari dunia seperti dimengerti dalam sikap natural, melainkan juga terutama berpaling kepada... sesuatu, yaitu kesadaran atau ego transendental. Sehingga pada Husserl yang tua semakin tampak ciri-ciri idealistis. 


Ket. klik warna biru untuk link

Download di Sini


Sumber

Bertens, K. Filsafat Barat Kontemporer; Inggris-Jerman. Gramedia. Jakarta

Baca Juga
1. Edmund Husserl. Biografi
2. Husserl, Schutz, dan Fenomenologi
Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani Cobalah Untuk Menjadi Orang Baik __Abraham Maslow

Post a Comment for "Edmund Husserl dan Fenomenologi"