Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bertrand Russell dan atomisme logis

atomisme logis Bertrand Russell
Bertrand Russell
Dalam karier filosofisnya yang amat panjang Russell sering kali mengubah pendirian-pendiriannya. Ia sendiri pernah berusaha untuk menelusuri tahap-tahap perkembangan dalam buku My Philosophical Development (1959). Dalam periode sebelum tahun 1914 perbedaan antara Moore dan Russell belum juga jelas. Kedua-duanya menyerang idealisme dengan memihak pada akal sehat (common sense), tetapi pada Russel sudah tampak tekanan lebih besar pada analisis logis. Misalnya, salah satu cara Moore maupun Russell mengkritik idealisme ialah membedakan antara struktur gramatikal dan struktur logis suatu kalimat.

Ada kalimat-kalimat yang mempunyai struktur gramatikal yang sama, padahal struktur logisnya berbeda, seperti umpamanya Lions are yellow dan Lions are real. Idealisme tidak memperhatikan perbedaan itu berdasarkan bahasa pergaulan yang biasa dan Russell memperhatikannya dengan merumuskan kedua kalimat itu dalam perumusan-perumusan logis yang berlain-lainan. Sesudah kira-kira tahun 1914 Russel menjauhkan diri dari cara berfilsafat Moore, meninggalkan common sense sebagai norma utama dalam filsafat dan merasa lebih tepat jika orang berfilsafat dalam hubungan erat dengan ilmu pengetahuan.

Karya Russell yang termasyur ditulis bersama A. Whitehead dan berjudul Principia mathematica (3 jilid:1910-1913). Karya ini merupakan buah hasil kerja keras selama sepuluh tahun dengan maksud merealisasikan program logisisme, berarti mengasalkan matematika kepada logika. Russell dan Whitehead memperlihatkan bahwa konsep-konsep matematika dapat dibuktikan dengan hanya menggunakan definisi-definisi dan prinsip-prinsip logis. Dalam hal ini mereka meneruskan dan menyempurnakan usaha-usaha yang telah dilakukan oleh ahli matematika Jerman D. Frege dan ahli matematika Italia G. Peno. Dalam jilid pertama dirancang suatu sistem logika yang baru menjadi dasar bagi logika simbolis yang modern (juga disebut logistik). Russell berpendapat bahwa logika baru ini dapat dimanfaatkan juga untuk memecahkan masalah-masalah filosofis.

Kami tidak akan berusaha melukiskan seluruh perkembangan pemikiran filosofis Russell yang simpang-siur itu. Di sini hanya dibahas teori-teorinya yang biasanya diberi nama atomisme logis. Alasan untuk memilih ajaran ini ialah bahwa atomisme logis merupakan suatu teori yang mendapat sambutan hangat dalam filsafat Inggris dan dapat dianggap sebagai semacam mata rantai dalam seluruh perkembangan pemikiran Inggris.

Atomisme logis diuraikan Russel dalam serangkaian ceramah yang kemudian dalam bentuk artikel dimuat dalam majalah Amerika The monist tahun 1918 dan 1919. Akhirnya artikel-artikel tersebut dikumpulkan dalam buku Logic and Knowledge. Essays 1901-1905 (1965). Tujuan teori ini ialah menelanjangi struktur hakiki bahasa dan dunia. Tujuan ini dicapai melalui jalan analisis. Jadi, seperti halnya Moore, dalam filsafat Russell pun analisis memainkan peranan penting dan karena itu ia turut mempengaruhi perkembangan filsafat Inggris ke arah filsafat analitis. Tetapi Russell tidak menganalisis pendapat-pendapat para filsuf-seperti dibuat Moore;-menurut dia filsafat bertugas menganalisis fakta-fakta. Filsafat harus melukiskan jenis-jenis fakta yang ada, katanya, seperti zoologi bertugas menentukan jenis-jenis binatang. Dengan fakta dimaksudkan ciri-ciri atau relasi-relasi yang dimiliki oleh benda-benda. Sudah nyata kiranya bahwa fakta-fakta tidak dapat bersifat benar atau salah. Yang dapat bersifat benar atau salah adalah proposisi-proposisi yang mengungkapkan fakta-fakta. Dengan perkataan lain proposisi merupakan simbol dan tidak merupakan sebagian dunia. 


Suatu proposisi terdiri dari kata-kata, yang menunjuk kepada data inderawi (sense-data) dan universalia (universals), yaitu ciri-ciri atau relasi-relasi. Sebagai contoh data inderawi dapat disebut putih dan sebagai contoh universalia berdiri di samping. Data inderawi ditunjukan dengan logical proper names (nama diri dan logis), seperti misalnya ini dan itu. Proposisi menurut bentuk yang paling sederhana adalah proposisi seperti x adalah y (inilah putih) atau xRY (ini berdiri di samping itu). Proposisi serupa disebutnya proposisi atomis (atomic proposition), karena sama sekali tidak memuat unsur-unsur majemuk. Suatu proposisi atomis mengungkapkan suatu fakta atomis. Dengan demikian Russell menyimpulkan bahwa bahasa sepadan dengan dunia. Tadi kita sudah lihat bahwa Russel dalam filsafatnya bermaksud mempelajari fakta-fakta. Di sini menjadi jelas bahwa, melalui bahasa ia menemukan fakta-fakta jenis mana yang ada. Menurut dia, bahasa melukiskan realitas. Tetapi yang dimaksudkan dengan bahasa bukannya bahasa yang biasa melainkan bahasa sempurna, sama sekali terlepas dari kedwiartian dan kekaburan, yaitu bahasa logis yang dirumuskan dalam Principia mathematica.

Dengan proposisi-proposisi atomis kita dapat membentuk suatu proposisi majemuk, misalnya dengan menggunakan kata dan atau atau. Yang dihasilkan ialah suatu proposisi molekular (molecular proposition). Tetapi tidak ada fakta molekular. Misalnya, proposisi molekuler inilah putih dan itulah merah menunjuk pada fakta-fakta atomis. Kebenaran atau ketidakbenaran suatu proposisi molekuler tergantung pada kebenaran atau ketidakbenaran proposisi-proposisi atomis yang terdapat di dalamnya. Jadi, fakta-fakta atomis menentukan benar tidaknya proposisi apapun juga (baik atomis maupun molekuler). Menurut peristilahan yang dipakai Russel sendiri: molecular proposition are turth functions of propositions.

Tetapi dengan melanjutkan teori ini secara konsekuen, terpaksa Russell harus mengatakan beberapa hal yang mengakibatkan diskusi-diskusi hebat dalam kalangan filsuf-filsuf Inggris. Pertama-tama Russell harus mengatakan bahwa juga terdapat fakta umum. Proposisi seperti semua orang akan mati tidak terdiri dari proposisi A akan mati, B akan mati, C akan mati, dan seterusnya. Yang membuat proposisi tadi menjadi benar bukan serangkaian fakta-fakta atomis, melainkan suatu fakta umum. Berikutnya, Russell harus menerima juga adanya fakta-fakta negatif, sebab itulah satu-satunya cara untuk menerangkan kebenaran atau ketidakbenaran proposisi-proposisi negatif. Seperti setiap proposisi yang lain, proposisi tidak ada kuda berkaki sepuluh hanya menjadi benar atau tidak benar berdasarkan suatu fakta. Dan akhirnya, ia mengakui adanya fakta-fakta khusus yang sepadan dengan proposisi John beranggapan bahwa bumi itu bundar. Kalau dipandang sepintas lalu, rupanya proposisi ini majemuk, tetapi pasti tidak merupakan proposisi molekuler dalam arti yang diterangkan tadi. Kebenaran proposisi John beranggapan bahwa bumi itu bundar tidak bertumpu pada benar tidaknya proposisi bumi itu datar. Jadi, proposisi semacam ini menunjuk kepada suatu fakta jenis tersendiri, yaitu dalam contoh tadi suatu kepercayaan atau--lebih umum--suatu fakta psikis (mental fact; kata Russell).

Di sini tidak mungkin menyelidiki percobaan-percobaan yang diadakan untuk meloloskan diri dari fakta-fakta serupa itu yang terpaksa harus diterima karena kesulitan-kesulitan tersebut. Selain Russell sendiri, L. Wittgenstein, F. Ramsey, dan J. Wisdom menyumbangkan pikiran dan usaha menyingkirkan fakta-fakta itu. Bagi kita yang penting ialah memperhatikan bagaimana Russell dan kawan-kawannya mengerti analisis, yaitu mencari fakta-fakta atomis.

Tidak dapat disangkal bahwa atomisme logis mengandung suatu metafisika, seperti diakui Russell sendiri. Alasannya ialah bahwa teori ini mau menjelaskan struktur hakiki dari bahasa dan dunia. Atau dengan perkataan lain, teori ini mau mengatakan bagaimana akhirnya halnya dengan realitas seluruhnya. Mengatakan bahwa dunia dapat diasalkan kepada fakta-fakta atomis, jelas sekali merupakan suatu pendapat metafisis. Dan kita sudah melihat bahwa pendapat Russel itu tidak berdasarkan pada data-data empiris, melainkan berasal dari suatu analisis mengenai bahasa. Jelas juga bahwa metafisika yang terdapat dalam teori Russell merupakan suatu pluralisme radikal, sama sekali bertentangan dengan monisme yang menandai idealisme, khususnya idealisme Bradley.

Akhirnya dapat disinyalir suatu kesulitan besar yang dihadapi oleh atomisme logis. Orang yang menarik perhatian pada kesulitan ini adalah Ludwig Wittgenstein dalam bukunya Tractatus logico-philosophicus. Jalan pemikirannya sebagai berikut. Atomisme logis menggunakan suatu kriterium untuk menentukan makna. Menurut mereka, suatu proposisi bermakna kalau dapat ditunjukkan suatu fakta atomis yang sepadan dengannya atau kalau suatu proposisi majemuk terdiri dari proposisi-proposisi atomis yang masing-masing sepadan dengan suatu fakta atomis. Akan tetapi sudah nyata kiranya bahwa proposisi-proposisi yang dirumuskan oleh atomisme logis sendiri tidak dapat disamakan dengan kedua jenis proposisi itu.

Tidak ada fakta atomis yang membuat proposisi-proposisi yang membentuk teori atomisme logis itu menjadi benar atau tidak benar. Akibatnya perlu disimpulkan bahwa proposisi-proposisi atomisme logis sendiri tidak bermakna! Wittgenstein- yang juga termasuk atomisme logis, biarpun dalam beberapa hal ia menyimpang dari anggapan Russell- tidak segan untuk menerima kesimpulan itu. Russell tidak memberikan pemecahan untuk kesulitan tersebut. Ketika kesulitan itu mulai dirasakan sebagai keberatan terhadap ajaran atomisme logis, perhatian Russell sudah pindah ke pokok-pokok lain.

Pada akhir uraian ini sekali lagi harus ditekankan bahwa apa yang dibicarakan di atas hanya suatu fase pendek saja dalam perkembangan filosofis Russell. Di antara buku-buku yang penting untuk pemikiran filosofis Russell di kemudian hari kami menyebut The Analysis of Mind (1921). The Analysis of Matter (1927;1954) dan Human Knowledge. Its Scope and Limts (1948). Ia menulis juga sebuah buku tentang sejarah filsafat berjudul A History of Western Philosophy (1945), buku Russell yang mengalami sukses besar dan diterjemahkan dalam banyak bahasa lain. Anak judul menjelaskan maksudnya dengan buku ini: Its connection with political and social circumstances from the earlist time to the present day. Russell ingin menguraikan sejarah filsafat dalam hubungan erat dengan sejarah politik dan kemasyarakatan. Namun demikian, pada umumnya ia tidak begitu berhasil dalam membeberkan kesatuan antara pemikiran filosofis dengan latar belakang politik dan sosialnya. Usahanya berhasil paling baik, jika ia membahas filsuf-filsuf yang dekat dengan pemikirannya sendiri, seperti Leibniz dan para empiris Inggris.


Ket. klik warna biru untuk link

Baca Juga
Bertrand Russell. Biografi

Download di Sini


Sumber
Bertens, Kees. 2002. Filsafat Barat Kontemporer: Inggris-Jerman. Jakarta. Gramedia.
Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Bertrand Russell dan atomisme logis"