Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Aristoteles. Metafisika

Metafisika Aristoteles
Aristoteles
Nama metafisika
Nama metafisika tidak dipakai oleh Aristoteles sendiri. Sampai lama berselang, orang mengandaikan bahwa nama ini berasal dari Andronikos dan Rhodos, yang telah menerbitkan karya-karya Aristoteles sekitar tahun 40 SM. Andronikos memasang Metaphysica sesudah Physica. Orang berpikir bahwa itulah asal usul nama metafisika, sebab nama Yunani ta meta ta physica berarti hal-hal sesudah hal-hal fisis. Kalau memang demikian halnya, nama Metaphysica ditempatkan sesudah Physica dalam edisi Andronikos. Tetapi sejak kira-kira tahun 1950 pendirian ini tidak dapat dipertahankan lagi. Dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1951, sarjana Prancis yang bernama P. Moraux telah membuktikan bahwa nama metafisika lazim dipakai dalam kalangan mazhab Arsitotelian, sudah lama sebelum Andronikos. Oleh karenanya sudah nyata bahwa tidak mungkin nama ini berasal dari Andronikos.

P. Moraux menyangka, nama metafisika untuk pertama kalinya diberikan oleh Ariston dari keos yang menjadi kepala mazhab Arsitotelian sekitar tahun 226. Bahkan ada sarjana lain, H. Reiner namanya, yang memperkirakan bahwa nama ini sudah muncul pada generasi pertama sesudah Aristoteles. Bagaimanapun juga, yang pasti ialah bahwa nama metafisika sudah digunakan pada abad ke-3 SM dan mempunyai hubungan erat dengan mazhab Aristotelian. Tentang artinya dapat dikatakan bahwa istilah metafisika agaknya dipilih untuk menunjukkan bahwa bahannya harus dipelajari sesudah karya mengenai fisika, karena metafisika membahas aspek-aspek yang paling fundamental dari kenyataan, sedangkan fisika membicarakan aspek-aspek yang lebih gampang didekati.

Nama-nama lain
Aristoteles sendiri menggunakan beberapa nama untuk menunjukkan ilmu yang menjadi pokok pembicaraan dalam Metaphysica. Tetapi kesulitannya ialah bahwa nama-nama ini tidak selalu diterangkan oleh Arsitoteles dengan cara yang sama. Dapat ditanyakan, apakah Aristoteles memaksudkan hal yang sama dengan memakai nama-nama yang berlainan itu. Persoalan itu ramai didiskusikan dalam kalangan para ahli. Ada sarjana-sarjana yang mengatakan bahwa Aristoteles sendiri tidak konsekuen dalam keterangan-keterangan yang diberikannya tentang ilmu ini. Sarjana-sarjana lain mengikuti jejak W. jaeger dengan menegaskan bahwa nama-nama yang berlain-lainan ini menunjuk kepada suatu perkembangan dalam pemikiran Aristoteles. Akhirnya, ada ahli-ahli lagi yang menjelaskan bahwa nama-nama dan konsepsi-konsepsi itu dapat diperdamaikan tanpa kesulitan apa pun, asal ditafsirkan dengan tepat. Bagi kita tidak mungkin menyelami seluk beluknya. Di sini kami hanya menyebutkan nama-nama beserta keterangannya yang disajikan oleh Aristoteles.
a. Dalam buku I Aristoteles menamakan metafisika sebagai kebijaksanaan (Sophia). Ilmu pengetahuan selalu mencari prinsip-prinsip dan penyebab-penyebab. Karena kebijaksanaan merupakan ilmu yang tertinggi, maka ilmu ini akan mencari prinsip-prinsip yang paling fundamental dan penyebab-penyebab pertama. Prinsip-prinsip dan penyebab-penyebab itu adalah keempat penyebab yang sudah disebut dalam Physica. Aristoteles menyelidiki ajaran filsuf-filsuf yang mendahuluinya dan ia menyimpulkan bahwa mereka pun tidak mengenal penyebab lain daripada keempat penyebab tersebut.

b. Dalam buku IV Aristoteles mengatakan bahwa ada suatu ilmu yang bertugas mempelajari yang ada, sejauh ada (to on hei on; being as being atau being as such). Maksudnya tidak lain daripada metafisika, biarpun di sini ia tidak memberi nama khusus kepada ilmu ini. Mempelajari yang ada sejauh ada berarti menyelidiki kenyataan seluruhnya (jadi, objek yang paling luas) menurut aspek yang paling umum (yakni sejauh ada). Dengan itu metafisika berbeda dengan ilmu kedokteran umpamanya yang hanya mempelajari sebagian realitas saja (kesehatan tubuh). Metafisika juga berbeda dengan fisika dan matematika yang memang mempelajari seluruh kenyataan, tetapi hanya menurut aspek tertentu saja. Karena, fisika mempelajari gerak benda-benda dan matematika menyelidiki benda-benda menurut aspek kuantitas. Tetapi metafisika menelaah kenyataan seluruhnya sejauh yang ada merupakan sesuatu. Dengan lain perkataan, metafisika mempelajari kenyataan sebagai adaan (being). Karena sifatnya sama sekali umum, metafisika dalam arti ini boleh disebut ilmu yang tertinggi.

c. Dalam buku VI dikatakan bahwa ilmu yang tertinggi mempunyai objek yang paling luhur dan paling sempurna. Karena itu, kalau terdapat suatu substansi yang tak terubahkan dan abadi, maka ilmu yang menyelidiki substansi itu boleh dinamakan ilmu pertama atau filsafat pertama. Dengan suatu nama lain lagi ilmu ini sebagai theologia.

Kritik atas Plato
Di antara semua karya Aristoteles, terutama dalam Metaphysica terdapat kritik Aristoteles atas ajaran gurunya mengenai Ide-ide atau bentuk-bentuk. Bahkan buku XIII dan XIV seluruhnya diisi dengan diskusi yang terperinci tentang ajaran ini. Tetapi sering kali kita mengalami kesulitan untuk menangkap argumen-argumen Aristoteles, terlebih karena ia tidak memaksudkan ajaran Plato yang diuraikan dalam dialog-dialog melainkan ajaran lisan Plato yang dilanjutkan oleh murid-muridnya dalam Akademia pada waktu itu. Di sini kami menyebut dua argumen yang disajikan Aristoteles melawan ajaran mengenai Ide-ide.

Dalam satu argumen Aristoteles menjelaskan bahwa Plato dan murid-muridnya memperduakan realitas dengan cara berlebihan, karena tidak ada gunanya untuk menerima Bentuk-bentuk yang berdiri sendiri di samping banyak benda yang konkret. Pluralitas benda-benda tidak diartikan dengan menambah banyak hal lain (Ide-ide). Plato menyerupai seseorang—demikian katanya—yang tidak mampu berhitung dengan bilangan kecil dan karenanya menganggap lebih gampang berhitung dengan bilangan besar.

Suatu argumen lain menandaskan bahwa Ide atau Bentuk mau tidak mau bersifat individual dan tidak mungkin bersifat umum, sebagaimana dikehendaki Plato. Kalau bentuk manusia umpamanya memang berdiri sendiri, maka bentuk ini merupakan individu, sebagaimana juga individu konkret yang bernama Sokrates. Oleh karenanya, kita harus menerima manusia ketiga (tritos anthropos) yang merupakan contoh, baik bagi Bentuk manusia tadi maupun bagi individu Sokrates. Tetapi manusia yang ketiga ini bersifat individual pula, sehingga harus diterima contoh lain lagi dan seterusnya begitu sampai tak berhingga. Kesulitan ini tidak pernah dapat diatasi.

Aristoteles sendiri berpendirian bahwa setiap bentuk tertuju kepada materi dan tidak dapat dilepaskan dari padanya. Bentuk itu merupakan esensi suatu benda. Aristoteles menyetujui pendapat Plato bahwa ilmu pengetahuan berbicara tentang yang umum dan bukan tentang yang individual. Matematika umpamanya membahas bukan suatu segitiga tertentu, melainkan segitiga pada umumnya, terlepas dari sifat-sifat yang individual. Tetapi esensi itu (segitiga pada umumnya misalnya) tidak berdiri sendiri. Yang ada dalam kenyataan hanya benda-benda konkret saja. Tetapi rasio manusia mempunyai kemampuan untuk seakan-akan melepaskan esensi dari benda-benda konkret. Proses ini disebut abstraksi. Karena adanya proses abstraksi ini ilmu pengetahuan dimungkinkan, tanpa mengandaikan Ide-ide gaya Plato.

Yang ada mempunyai berbagai arti
Metafisika menyelidiki yang ada sejauh ada atau adaan sebagai adaan (being as being). Akan tetapi kata ada (atau adaan) dapat dipakai dengan bermacam-macam arti. Apakah metafisika memaksudkan semua arti itu? Atau kah barangkali ada satu arti istimewa, sehingga semua arti yang lain didasarkan pada arti itu? Untuk menjelaskan bahwa kata ada memang mempunyai banyak arti, marilah kita memandang contoh berikut ini. Kita dapat mengatakan bahwa Sokrates adalah seorang manusia, bahwa dia masih muda atau sudah tua usianya, bahwa ia duduk atau berdiri. Dengan semua tuturan ini kita menyatakan sesuatu yang ada, sesuatu yang real. Dengan semua tuturan ini kita menunjuk kepada suatu adaan. Tetapi caranya berlain-lainan. Semua tuturan itu merupakan putusan di mana Sokrates memainkan peranan subjek. Tetapi predikat-predikat dikenakan pada subjek ini atas berbagai cara dan menurut berbagai arti. Namun demikian, ada satu arti yang primer dan semua arti lain dapat dianggap sekunder karena tergantung pada arti primer itu.

Apakah menurut Aristoteles arti primer atau utama dari kata ada? Arti utama adalah substansi (bahasa Yunani: usia). Kata substansi berarti yang berdiri sendiri. Suatu hal merupakan substansi, jika hal itu dapat menerima keterangan-keterangan, sedangkan hal itu sendiri tidak dapat ditambah sebagai keterangan pada suatu hal lain. Di samping substansi-substansi terdapat lagi aksiden-aksiden (symbebekos) yaitu suatu hal yang tidak berdiri sendiri, tetapi hanya dapat dikenakan pada sesuatu yang lain yang berdiri sendiri. Aksiden-aksiden hanya bisa berada dalam suatu substansi dan tidak pernah lepas daripadanya. Warna merah misalnya tidak dapat berdiri sendiri, lepas dari suatu substansi. Kita tidak pernah bertemu dengan merah begitu saja, tetapi kita melihat suatu gambar merah, memakai topi merah dan sebagainya. Jadi, kata merah hanya dapat berfungsi sebagai keterangan yang dikenakan pada suatu substansi. Dalam contoh di atas tentang Sokrates, kata manusia dipakai sebagai substansi, tetapi muda, tua, duduk semua merupakan aksiden-aksiden yang dikenakan pada suatu substansi.

Menurut Aristoteles, terdapat sepuluh kategori (kategoriai). Maksudnya ialah bahwa ada sepuluh cara kata ada dapat digunakan. Di satu pihak kata ada dapat dipakai sebagai substansi. Di lain pihak ada Sembilan cara untuk memakai kata ada sebagai aksiden. Di antara sembilan aksiden itu yang paling penting ialah kualitas (misalnya kain yang berwarna merah), kuantitas (misalnya  sehelai kain tiga meter panjangnya atau tiga orang terpelajar), hubungan (misalnya x adalah anak dari y atau y adalah bapak dari x), tempat (misalnya di Athena), waktu (misalnya kemarin). Metafisika secara khusus menyelidiki yang ada sebagai substansi. Arti-arti kata ada yang lain hanya diselidiki dalam hubungannya dengan substansi.

Ajaran tentang Allah
Dalam penyelidikan Aristoteles tentang substansi, yang mendapat perhatian khusus adalah suatu pokok yang sudah dibicarakan pula dalam Physica, yaitu struktur bentuk materi dan aktus potensi. Buku VII, VIII dan IX  dari Metaphysica seluruhnya diisi dengan uraian-uraian mengenai struktur bentuk materi dan aktus potensi itu. Akan tetapi, karena kedua struktur ini sudah dibahas dengan panjang lebar ketika kita mempelajari ajaran Aristoteles mengenai gerak, maka di sini kita tidak usah mengulangi uraian itu. Seluk beluk lebih lanjut dari ajaran itu bagi maksud kita tidak begitu penting.

Tentang pandangan lain yang juga sudah disinggung dalam uraian kita mengenai ajaran Aristoteles dalam bidang fisika, di sini kami hendak menambah beberapa baris, karena pandangan ini juga menjadi pokok pembicaraan dalam Methaphysica. Yang kami maksudkan adalah ajaran Aristoteles tentang Allah sebagai Penggerak Pertama yang tidak digerakkan. Dalam Methaphysica pun Penggerak Pertama diterima untuk mengartikan gerak abadi yang terdapat di dunia. Menurut Aristoteles gerak dalam jagat raya tidak mempunyai permulaan maupun penghabisan. Karena setiap hal yang bergerak digerakkan oleh suatu hal lain, perlulah menerima satu Penggerak Pertama yang menyebabkan gerak itu tetapi ia sendiri tidak digerakkan. Dapat dimengerti bahwa Penggerak Pertama ini harus bersifat abadi, sebagaimana juga gerak yang disebabkan olehnya. Penggerak ini sama sekali terlepas dari materi, karena segalanya yang mempunyai materi, mempunyai potensi untuk bergerak. Allah sebagai Penggerak Pertama tidak mempunyai potensi apa pun juga. Allah harus dianggap sebagai Aktus Murni.

Apakah aktivitas Allah sebagai Aktus Murni? Buat Aristoteles, aktivitas itu tidak bisa lain daripada pemikiran saja. Karena Allah bersifat immaterial atau tak badani, Ia harus disamakan dengan kesadaran atau pemikiran. Dan aktivitasnya tidak bisa lain daripada berpikir saja, karena segala aktivitas jenis lain selalu menuntut juga ketergantungan (jadi, potensi). Aktus pemikiran selalu berlangsung terus dan tidak dapat berhenti, karena tidak mungkin berada dalam keadaan potensi saja. Apakah objek pemikiran itu? Objeknya adalah yang paling tinggi dan yang paling sempurna. Itulah sebabnya objek pemikiran itu adalah pemikiran ilahi sendiri. Aristoteles mengatakan: Allah adalah pemikiran yang memandang pemikiran (noesis neoseos; thought of thought). Dengan demikian Allah menikmati kebahagiaan sempurna dengan tiada henti-hentinya menjalankan aktivitas yang tertinggi yang diarahkan kepada objek yang tertinggi.

Pertanyaan berikut yang perlu dijawab ialah bagaimana Penggerak Pertama itu menyebabkan gerak yang terdapat dalam jagat raya? Bukan sebagai penyebab efisien, ujar Aristoteles. Alasannya bahwa penyebab efisien akan dipengaruhi oleh hasilnya dan karenanya akan mempunyai potensi. Allah menyebabkan sebagai penyebab final. Aristoteles sendiri mengungkapkan hal itu dengan suatu perkataan yang mashyur sekali: Ia menggerakkan karena dicintai (kinei de hos eromenon: He produces motion as being loved). Segala sesuatu yang ada mengejar Penggerak yang sempurna itu. Gerak dalam jagat raya sama saja dengan menuju Allah. Tetapi Allah sebagai Penggerak Pertama tidak mengenal atau mencintai sesuatu yang lain daripada dirinya sendiri. Karena, menurut Aristoteles, jika Allah mengenal dunia. Dia harus mempunyai potensi juga. Kalau begitu, Dia bukan lagi Aktus Murni.

Apakah pandangan Aristoteles tentang Allah itu boleh disebut monotheisme? Rupanya ya. Karena pada akhir buku XII, dalam kritiknya atas Speusippos, Aristoteles menegaskan bahwa hanya ada satu Penggerak yang tidak digerakkan. Namun demikian dalam karya-karya lain Aristoteles juga berbicara tentang Allah-Allah dengan memakai bentuk jamak. Tidak ada satu pertanda apa pun yang menyatakan bahwa ia menolak politheisme Yunani yang tradisional. Oleh karenanya tentang Aristoteles pun harus dikatakan hal yang sama yang sudah dikemukakan tentang filsuf-filsuf Yunani lain, yaitu bahwa masalah monoteisme dan politeisme sebenarnya tidak merupakan persoalan bagi seorang Yunani pada waktu itu. Masalah ini tidak muncul dalam perspektif pemikiran mereka. Tetapi dilain pihak harus dikatakan juga bahwa filsuf-filsuf Yunani menghidangkan pandangan tentang Allah yang semakin murni sifatnya. Perkembangan ini memuncak pada Aristoteles. Pendiriannya tentang Allah boleh dianggap benar-benar luhur. Selain uraian di atas tadi, perkataan berikut ini dapat menyatakan hal itu: Dari prinsip itu (=Penggerak Pertama) tergantunglah langit dan alam semesta. Pasti ada teks-teks lain lagi yang dapat dikutip, misalnya. Akan tetapi, kita harus menginsafi juga perbedaan antara pendapat Aristoteles tentang Allah dengan pandangan agama-agama besar seperti agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Sekalipun menurut Aristoteles segala sesuatu tergantung pada Allah, namun ia tidak mengakui Allah sebagai Khalik atau Pencipta. Buat Aristoteles, jagat raya berada sejak kekal dan hanya geraknya disebabkan oleh Allah (sebagai penyebab final). Jadi, harus disimpulkan bahwa menurut Aristoteles dunia tidak diciptakan. Dalam pandangan Aristoteles juga tidak ada tempat untuk penyelenggaraan Allah (God’s Providence). Dalam pikiran Aristoteles mustahillah bahwa Allah menyelenggarakan dunia, karena Ia tidak mengenal sesuatu pun di luar Dia. Dalam Abad Pertengahan filsuf-filsuf Kristen telah menafsirkan Aristoteles demikian rupa sehingga cocok dengan ajaran agama Kristen tentang Penciptaan dan Penyelenggaraan Tuhan. Tetapi harus diketahui bahwa itu bukan pendapat Aristoteles sendiri.


Ket. klik warna biru untuk link

Download di Sini


Sumber.

Bertens, K. 1999. Sejarah Filsafat Yunani. Kanisius. Yogyakarta

Baca Juga
1. Aristoteles. Biografi
2. Aristoteles. Karya-karya
3. Aristoteles. Politik
4. Aristoteles. Psikologi
5. Aristoteles. Etika
6. Aristoteles. Logika
7. Aristoteles. Fisika

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Aristoteles. Metafisika"